Enchanted

*

by: Odeee_

*

[Kookv - Romance - Married life - Sho-ai]

.

.

.

"Jun Ah, maaf aku tidak membantu apapun dalam persiapan pernikahanmu."

Gadis itu tertawa dengan manis, seorang pria berambut pirang duduk di sebelahnya tengah menatapnya dengan lembut, "Tidak masalah, kakakku mengatakan kau sangat sibuk mempersiapkan penelitianmu."

Taehyung tersentak beberapa saat, sebelum dengan cepat kembali mengatur wajahnya, "Yah, itu benar, aku akan mulai melakukan penelitian 1 minggu lagi."

"Dimana kau akan melakukan penelitian?"

"Aku memilih Korea."

Dia merasakan Jungkook menatapnya, tetapi dia mengabaikannya. Jungkook mungkin terkejut terutama dia tidak tau apapun tentang ini.

Jun Ah terlihat sedikit kecewa, dengan sedih berkata, "Sangat jauh, berapa lama kau akan melakukan penelitian?"

"Itu 3 bulan."

"Lalu kalian akan menjadi pasangan LDR." Jun Ah terlihat semakin murung, dia berkata, "Kakakku akan melakukan penelitian di New Zealand, kenapa kalian tidak memilih Negara yang sama?"

Kali ini Taehyung tidak bisa menahan rasa terkejutnya, dia nyaris memuntahkan minumannya.

Jungkook tidak bereaksi apapun sampai dia merasakan tatapan Jun Ah, dia segera mengambil tissu untuknya dan menepuk pelan punggungnya, "Kau baik-baik saja?"

Taehyung mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat berhenti, "Aku baik-baik saja."

Apa yang membuatnya terkejut? Lagipula pernikahan mereka hanya status.

.

.

.

Dalam perjalanan pulang keduanya terdiam untuk waktu yang lama, seolah tengah tenggelam ke dalam pikiran masing-masing. Jungkook dengan pikirannya yang tidak dapat dia tebak dan Taehyung dengan pikirannya sendiri.

"Aku benar-benar tidak tau apapun tentangmu."

Jungkook meliriknya, "Kau ingin tau sesuatu?"

"Well, bisakah aku?"

"Aku akan menjawab apapun yang bisa ku jawab."

Itu artinya dia memiliki batasan.

Taehyung mengangkat sudut bibirnya dengan kaku, "Di kampus mana kau kuliah?"

"Kampus yang sama denganmu."

Taehyung tidak bisa menahan tawanya, dia tertawa dengan masam seolah tengah menertawakan keadaan mereka, "Aku bahkan tidak tau kita berada di kampus yang sama."

"Aku mengambil jurusan bisnis, fakultasku berada cukup jauh dari fakultasmu itu hal yang wajar untuk tidak pernah bertemu."

"Yah, sangat sangat wajar." Taehyung menatap ke arah jalanan di sebelahnya saat dia berkata, "Kita bahkan berada di bawah atap yang sama tetapi tidak pernah bertemu."

Jungkook melirik ke arahnya, suaranya cukup tenang saat dia berkata, "Aku melihatmu setiap hari."

"What??" Taehyung menoleh dengan dahi berkerut, "Bagaimana mungkin?"

"Kau pergi setiap jam 8 pagi di hari senin sampai rabu, lalu di hari kamis dan jumat kau meninggalkan rumah disore hari, setiap hari sabtu dan minggu kau hanya akan tinggal dirumah."

Taehyung membulatkan matanya, dia sangat tercengang dengan apa yang dia dengar. Faktanya apa yang dikatakan Jungkook adalah benar adanya.

"Bagaimana kau tau?"

"Kita berada dirumah yang sama bukan?"

"Aku tau." Taehyung mengerutkan alisnya semakin dalam, "Maksudku adalah aku tidak pernah melihatmu tetapi kau melihatku, bagaimana itu terjadi?"

"Aku berada dibelakangmu, kau hanya tidak menoleh."

Taehyung, "..."

.

.

.

Pagi itu di sebuah gereja, 12 Desember 2021 jam 10.30 Jeon Jun Ah dan Michele Bruist telah menjadi pasangan suami istri yang sah.

Keluarga milik Taehyung juga turut hadir di dalam pernikahan mereka. Ayah dan Ibunya tidak pernah melepaskan Jungkook, mereka terus menerus menempelinya untuk mewawancarainya.

Sementara Taehyung tengah mencoba beberapa kue basah dengan segelas wine ditangannya. Dia menatap lurus pada pasangan yang baru saja menikah, keduanya terlihat sangat bahagia, saling mencintai dan saling menjaga. Terlihat seperti bagaimana pernikahan itu seharusnya.

Taehyung tidak pernah menginginkan pernikahan dalam hidupnya, dia tidak ingin terikat dengan siapapun dan mengganggu hidupnya. Tetapi dia menyukai melihat orang lain menikah, menyukai melihat orang lain bahagia dengan pasangan mereka dan hidup bersama selamanya.

Saat ini secara agama dia telah memiliki suami, tetapi disisi lain dia juga tidak memiliki suami. Nama mereka tertulis dalam buku pernikahan, tetapi tulisan hanyalah tulisan. Mereka memilih untuk mengabaikan itu dan menjalani hidup mereka layaknya orang asing.

Dia sangat menikmati apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini, tetapi jauh di dalam hatinya dia merasa ada yang mengganjal, seolah sesuatu tidak berjalan pada jalannya.

"Kenapa kau menghela napas begitu panjang?"

Taehyung tidak menyadari seseorang berada di sampingnya sampai dia mendengar suaranya, itu adalah Gabriel, kakak dari suami Jun Ah.

"Aku hanya berpikir makanan-makanan ini sangat lezat untuk diabaikan."

Pria bermata biru itu tertawa dengan renyah, "Kau bisa menghabiskannya."

"Maka aku akan mengembang."

"Kau akan tetap terlihat cantik meskipun kau mengembang."

Taehyung mengerutkan alisnya, menoleh dengan wajah berkerut, "Bukankah pemilihan katamu salah?"

Gabriel tertawa melihat reaksinya, dia terlihat cukup senang, "Maaf, sepertinya aku menyinggungmu, tetapi kau memiliki wajah yang tampan dan juga cantik, aku hanya memilih salah satu untuk dikatakan."

"Well, suamiku sering berkata begitu."

Gabriel tersenyum dengan canggung, "Apakah itu Jeon Jungkook?"

Taehyung mengangguk dengan bangga, "Mhm, pria paling tampan di ruangan ini."

"Yah, aku akui dia memang tampan." Gabriel menatap ke arah Jungkook yang tengah berada di antara kedua orangtua Taehyung, "Dia sangat cocok dengan setelan jasnya."

Taehyung mengikuti pandangannya, dia berkata dengan lembut, "Aku yang memilih itu untuknya."

Seolah merasakan tatapannya tertuju padanya, Jungkook menoleh ke arah mereka, menatap lurus ke arah Taehyung.

Taehyung mengangkat gelas winenya padanya, dia mengangkat salah satu alisnya dengan seringainya.

"Dia akan datang."

Tepat setelah Gabriel mengatakannya, Jungkook terlihat berpamitan dengan kedua orangtua Taehyung dan segera berbalik ke arah mereka.

"Baiklah aku harus pergi, aku tidak ingin menjadi pengganggu diantara pasangan romantis seperti kalian." Dia berkata setengah tertawa seolah tengah melontarkan candaan.

Tepat setelah Jungkook berada di depannya, dia berkata dengan bingung, "Kau memanggilku?"

Taehyung menaikkan sudut bibirnya, menggodanya, "Apakah aku terlihat seperti memanggilmu?"

"Kau tidak?"

"Karena kau sudah datang maka tetaplah disini, istrimu baru saja ingin direbut oleh seseorang."

Jungkook menaikkan alisnya saat dia bertanya dengan tidak percaya, "Benarkah?"

Taehyung menatapnya dengan geli, "Reaksi macam apa itu, Tuan Jeon?"

"Bagaimana seharusnya aku bereaksi?"

Taehyung meneguk winenya saat dia berkata dengan tenang, "Lupakan, lagipula kau tidak benar-benar memiliki istri."

Tanpa diduga Jungkook memiliki hal yang mengejutkan untuk dia katakan, "Apakah kau berencana untuk bercerai?"

Taehyung nyaris tersedak, "Apa yang kau katakan?"

"Well, pernikahan kita hanya status, suatu saat jika kau menemukan orang yang ingin kau nikahi maka kita harus bercerai."

Taehyung mengerutkan aslinya, dia tidak percaya Jungkook akan mengatakan hal-hal seperti ini. Bukankah mereka setuju untuk menikah karena mereka tidak ingin melakukan pernikahan sebenarnya?

"Bagaimana denganmu?"

"Aku tidak tertarik untuk menjalin hubungan atau menikahi siapapun."

"Aku juga."

.

.

.

Setelah apa yang Jungkook katakan dimobil saat itu, Taehyung mulai melihat Jungkook setiap hari di dalam rumahnya.

Setiap kali dia menoleh ke belakang dia akan menemukan Jungkook ada disana.

Dia akan melihatnya memberi makan ikan atau membersihkan aquarium. Terkadang dia akan melihatnya dengan pakaian olahraga dan keringat yang membasahinya. Terkadang dia akan melihatnya memanggang roti.

Seperti saat ini, dia menemukan Jungkook tengah membawa semangkuk bubur ditangannya sedang berjalan ke arah meja makan.

"Hai." Taehyung menyapanya.

"Hai."

Jungkook meletakkan mangkuknya diatas meja dan memberi isyarat padanya, "Sarapan?"

"Hanya bubur?"

"Ada roti dan selai kacang dikulkas."

"Tidak ada keripik kentang?"

Jungkook terlihat seperti akan tertawa saat dia berkata, "Maaf, tidak ada yang seperti itu."

"Well, lagipula kau tidak menyukainya." Taehyung melambaikan tangan padanya, "Aku akan pergi."

"Be carefull."

"Thanks."

.

.

.

"Terimakasih prof."

"Selamat berjuang dengan penelitianmu Mr. Jeon Taehyung, saya akan menantikan hasil yang luar biasa."

"Terimakasih prof, saya akan berjuang!"

Taehyung mengepak berkas-berkas yang dia perlukan untuk penelitiannya, dia bahkan membawa beberapa buku modul.

Besok malam dia akan meninggalkan Las Vegas selama 3 bulan untuk melakukan penelitian di Korea.

Taehyung mengirimkan pesan pada Jungkook saat dia dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya.

Taehyung [Hi, aku akan mengunjungi orangtuaku.]

Jungkook [Kau akan menginap?]

Taehyung [Sepertinya.]

Jungkook [Haruskah aku datang?]

Taehyung [Untuk apa? lol]

Jungkook [Orangtuamu mungkin menyuruhku untuk datang.]

Taehyung [Aku akan mengurusnya.]

Jungkook [Baiklah.]

Taehyung tidak lagi membalas pesannya, tetapi sebelum dia memasukkan ponselnya itu bergetar lagi.

Jungkook [Kapan keberangkatanmu?]

Taehyung [Besok malam.]

Jungkook [Kau sudah mengepak barangmu?]

Taehyung [Aku akan melakukannya besok, tidak banyak yang akan aku bawa.]

Jungkook [Aku akan menjemputmu besok dirumah orangtuamu?]

Taehyung [Yes, please. Jam 11.]

Jungkook [Oke.]

Taehyung [Thanks.]

Jungkook [Anytime.]

.

.

.

'Menantuku bisakah kau datang? Taehyungmu sedang mabuk, Ibu dan ayah harus menjemput nenek Taehyung, dia ingin melihat cucunya sebelum berangkat besok.'

Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh mertuanya, Ibunya Taehyung.

Jungkook sampai di tengah malam, saat itu Ibu dan ayah Kim telah bersiap untuk pergi.

"Maaf nak, kami harus mengganggumu tengah malam." Ibu Kim memiliki rasa bersalah diwajahnya saat dia berkata, "Nenek Taehyung sangat cerewet, dia mengatakan tidak ikut mengantar cucunya tetapi baru saja dia menangis ingin ikut, kami harus menjemputnya segera atau dia akan terus menangis."

"Tidak masalah ibu."

"Oh, kau menantu yang baik." Ibu Kim datang untuk memberikannya pelukan singkat sebelum melepaskannya kembali, "Ayah mertuamu membuat Taehyungmu minum terlalu banyak, dia sedang tertidur dikamarnya tetapi dia kadang terbangun."

"Baik Ibu, kau dan ayah berhati-hatilah berkendara."

Dia masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil mereka menghilang dari pandangannya.

Kamar Taehyung ada di lantai 2, saat dia melihatnya Taehyung terlihat tertidur nyenyak. Dia bahkan memiliki selimut menutupinya hingga leher.

Jungkook memperhatikannya cukup lama sebelum meninggalkannya ke lantai bawah.

Dia baru saja sampai diujung tangga saat Taehyung berteriak memanggil Ibunya. Jungkook menghela napas dan kembali menaiki tangga.

"Ibu... kepalaku sakit." Dia mengeluh dengan mata tertutup.

Jungkook mendekatinya, dia menahan tangan Taehyung yang berusaha meremas rambutnya, "Berapa banyak yang kau minum?"

"Hanya 2... tunggu, ibu mengapa suaramu berbeda?"

Taehyung memaksakan matanya untuk terbuka, dia melihat bayangan laki-laki dikamarnya yang gelap dan segera menampar tangan yang sebelumnya memijat kepalanya.

"Siapa kau?" Dia menyipitkan matanya mencoba melihat lebih jelas, "Ayah?"

"Aku bukan ayahmu."

"Lalu siapa kau?!"

"Ini aku, Jungkook."

Dia terlihat mengerutkan dahinya di dalam kegelapan, "Siapa itu Jungkook?"

Jungkook, "..."

"Pergi!" Taehyung mengambil bantal dan melemparkan padanya dengan keras, "Kau ingin mencuri dirumahku? Enyahlah! Aku akan membunuhmu!"

Jungkook mengambil bantal yang jatuh di lantai, dia berusaha menenangkan, "Aku Jungkook... suamimu."

"Suamiku?"

Sementara Jungkook mencoba untuk menyalakan lampu dia mendengar Taehyung bergumam, "Suamiku? Tuan poker face?"

Jungkook, "..."

Setelah itu suara tamparan keras pada saklar dan nyala terang tiba-tiba lampu kamarnya mengejutkan Taehyung. Dia bahkan nyaris melompat dari tempat tidurnya.

"Apa... Apa yang terjadi?" Dia berkata dengan bingung.

Jungkook menghela napas sebelum menghampirinya, "Tidak ada yang terjadi."

Taehyung menarik selimut hingga mencapai hidungnya, dia bergumam, "Dimana ibuku?"

"Menjemput nenekmu."

"Siapa nenekku?"

"Bagaimana aku tau? Lagipula nenekmu tidak datang saat pernikahan kita."

Jungkook sekali lagi menghela napas, dia baru saja akan meletakkan pantatnya diatas kasur tepat di depan Taehyung, saat dia kembali mendorongnya menjauh.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku. Akan. Memijat. Kepalamu. Oke?"

Taehyung segera menyerahkan kepalanya, dia bahkan menutup matanya. Jungkook kembali menghela napas dan mengambil posisi didekatnya saat dia mulai memijat kepalanya.

"Nenekku akan datang?"

"Mhm."

"Kalau begitu aku harus menunggunya didepan!"

Taehyung baru saja akan bangkit saat Jungkook menekan kepalanya untuk kembali duduk, "Nenekmu akan datang besok, diam dan tenanglah disini."

"Baiklah."

Setelah beberapa saat dalam ketenangan dia mendengar Taehyung kembali bergumam, "Apakah kau memiliki keripik kentang?"

"Tidak."

"Mengapa kau tidak memilikinya?"

"Aku tidak memakannya."

"Tapi aku memakannya."

"Kau bisa mendapatkannya sendiri."

Taehyung tidak membuka matanya, tapi bibirnya sedikit bergetar, "Tapi kau adalah suamiku... kau harus membawa keripik kentang."

Jungkook meliriknya dan mencoba mengalah, "Aku akan membelinya besok."

"Tapi aku menginginkannya sekarang."

"Saat ini tengah malam."

"Masih ada beberapa toko 24 jam."

Sekali lagi Jungkook hanya menghela napas, tidak ada gunanya berdebat dengan orang mabuk. Terutama dia bersiap akan menangis kapan saja dan ibunya sedang tidak ada, maka itu akan merepotkan.

"Baiklah, aku akan pergi tunggulah disini."

Taehyung segera membuka matanya, dengan antusias berkata, "Aku ikut!"

"Kau sedang mabuk."

"Siapa yang mabuk?"

"Kau."

"Aku tidak mabuk!"

Jungkook menunjuk ke arah lantai kosong di tengah kamarnya, "Cobalah berdiri disana."

"Oke!"

Taehyung baru saja turun dari tempat tidur dan dia segera terjatuh di lantai, dia bergumam, "Gempa bumi? Apakah gempa bumi?"

"Tidak ada gempa bumi."

"Tidak, ini gempa bumi." Dia mencoba untuk berdiri tetapi jatuh kembali, "Lihat, lihat ini gempa bumi!"

Jungkook bangkit dan berdiri di depannya dengan tenang, "Lihat, tidak ada gempa bumi."

"Bagaimana mungkin?"

"Kau mabuk."

"Benarkah?"

"Ya, jadi tinggallah disini, aku akan mendapatkan keripik kentang untukmu."

"Tidak, biarkan aku ikut."

"Kau bahkan tidak bisa berdiri."

"Gendong, kau bisa menggendongku."

Jungkook, "..."

Pada akhirnya Jungkook masih mengalah dan bersedia membawanya dipunggungnya. Tetapi setelah mereka mencapai ujung tangga dia mendengar Taehyung bernapas dengan teratur dan menempel di bahunya tanpa beban.

Jungkook menghela napas untuk kesekian kalinya, dia kembali menaiki tangga, dengan sabar meletakkan Taehyung kembali di atas tempat tidurnya.

Taehyung tiba-tiba bergumam, "Punggungku sakit, bisakah kau memijatnya untukku?"

"Bukankah aku yang harus mendapat pijatan?" Jungkook menatapnya dengan tidak percaya, "Aku baru saja membawamu menaiki dan menuruni tangga."

"Punggungku sakit duduk terlalu lama di kampus untuk persiapan penelitianku, dan aku bahkan tidak mendapatkan keripik kentang selama hampir satu minggu, dan kau tidak mau memijatku." Dia terdengar seperti akan menangis.

Jungkook menatapnya dengan tidak percaya, menghela napas berkali-kali sebelum akhirnya berkata, "Allright, aku akan memijatmu."

Taehyung dengan senang membalik badannya, memberikan punggungnya untuk Jungkook.

Setelah bermenit-menit Jungkook mulai merasa matanya seberat 2 ton, dia bahkan hampir terjatuh. Tetapi tangannya tidak berhenti bergerak untuk memijat. Sementara Taehyung tidak lagi menimbulkan keluhan selain suara napas teraturnya.

"Gosh!"

Jungkook tidak lagi bisa menahan rasa mengantuknya, dengan hati-hati membaringkan dirinya di sebelah Taehyung agar tidak membangunkannya.

Tetapi sepertinya dia terbangun.

Taehyung berbalik untuk mengulurkan tangannya dan memeluk pinggangnya, dia bergumam, "Kau adalah suami terbaik."

Jungkook menunduk menatapnya, "Benarkah?"

"Mhm, istriku kelak pasti akan sangat senang."

Jungkook, "..."