Enchanted

*

by: Odeee_

*

[Kookv - Romance - Married life - Sho-ai]

.

.

.

.

Taehyung masih tidak mempercayai matanya saat jam 2 pagi Jungkook berdiri tepat di depan pintu apartemennya dengan sebuah koper dan ransel besar dipunggungnya.

"Hei."

"Hei."

Matanya terlihat lelah, dengan bibir yang tampak bergetar kedinginan.

"Masuklah."

"Thanks."

Jungkook meletakkan kopernya di sebelahnya saat dia segera menjatuhkan dirinya di atas sofa.

Taehyung masih menatapnya dengan tidak percaya, saat ini jam 2 pagi di dalam apartemennya yang sunyi tiba-tiba ada seseorang yang tengah bersandar dengan mata tertutup. Dan dia adalah suaminya.

"Kau ingin coklat hangat?"

"Yes, please."

Dia membuat coklat panas dengan sesekali mengintip ke arah orang yang tengah bersandar di sofa, sampai Jungkook membuka matanya untuk menatapnya.

"Perlu bantuan?"

"Tidak." Taehyung mengaduk coklat panasnya dengan sedikit gugup, "Selesai."

Jungkook segera meminum coklat panas itu setelah di berikan oleh Taehyung. Dia meniupnya beberapa kali sebelum menyesapnya.

"Terimakasih, ini enak."

"Well.." Taehyung bersandar di sofa saat matanya memberi isyarat pada koper yang dia bawa, dia berkata, "Tidak ada keripik kentang?"

"Oh! wait."

Jungkook meraih ransel yang dia bawa sebelum mengeluarkan sekantung keripik kentang dan melemparkannya ke arah Taehyung.

"Waow... aku hanya bercanda dan kau sungguh membawanya."

Tidak hanya itu, dia bahkan mengeluarkan beberapa bungkus kotak yang diikat dengan pita, dia menunjuk kotak-kotak itu satu persatu, "Itu adalah hadiah dari ibu dan ayahku, dan itu adalah Jun Ah, yang berwarna kuning dari ibumu, ayahmu berwarna ungu dan... hijau adalah dariku."

Taehyung meraih kado-kado itu dengan gembira, "Aishh, kalian sangat manis."

Tetapi detik berikutnya dia mulai terdiam, "Tunggu, aku... tidak menyiapkan apapun untukmu... kau tau, kau terlalu... mendadak."

Jungkook mengangkat bahunya dengan santai sebelum kembali bersandar, "Tidak masalah."

Taehyung kembali berwajah senang, dia memilih dari beberapa kotak itu untuk dia buka. Dia melirik kotak berwarna hijau dan melirik ke arah Jungkook, "Karena hanya ada kau dari semua pemberi hadiah ini, maka aku akan membuka milikmu sekarang."

Jungkook tidak mengatakan apapun, tetapi menggigit bibirnya saat dia menatap Taehyung yang mulai membuka pita pengikat kotak itu.

"Baiklah, kira-kira apa yang akan diberikan oleh suamiku..." Taehyung terdiam setelah dia membuka kotaknya, dia melirik Jungkook yang terlihat seperti menahan tawa, "Keripik kentang?"

Saat dia mengatakannya dia melihat Jungkook mulai tertawa.

Taehyung mendecakkan lidahnya, tetapi masih membuka bungkus keripik kentang itu. Dia mengambil potong demi potong dan memakannya saat dia menyaksikan Jungkook yang masih tertawa.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat Jungkook tertawa, bahkan jarinya lebih banyak dari jumlah dia melihat Jungkook tersenyum.

Dia terus menerus memasukkan keripik kentang pemberian Jungkook ke dalam mulutnya saat dia menyaksikan fenomena langka itu, Jungkook yang tertawa.

Jungkook mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya, itu adalah sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita merah. Dia meletakkannya di atas meja tepat di depan Taehyung, "Ini adalah hadiah dariku."

Taehyung mulai mengangkat sudut bibirnya, "Jadi bukan keripik kentang?"

Jungkook menggeleng dengan lembut, "Keripik kentang adalah suatu keharusan."

Taehyung tidak bisa menahan senyumnya untuk mengembang, dia bahkan tertawa kecil saat dia meletakkan keripik kentangnya untuk mengambil kotak kecil itu.

Kali ini Jungkook menatapnya dengan senyuman dibibirnya saat dia mulai membuka pita pengikat kotak itu.

Itu adalah sepasang gelang tangan berwarna hitam dengan ukiran cantik berbentuk angka 30.

30 adalah tanggal pernikahan mereka.

Taehyung menatap sepasang gelang itu dengan perasaan yang tak terkatakan. Saat itu dia mendengar Jungkook berkata, "Jun Ah mengatakan pasangan biasanya memiliki barang-barang couple, jadi... aku membeli satu."

Taehyung mengambil kedua gelang di dalam kotak itu, dia menatapnya beberapa saat sebelum menyerahkan salah satunya pada Jungkook, "Milikmu."

"Mhm."

Dia memasang gelang itu di tangan kirinya, seolah gelang itu diciptakan untuknya, itu terlihat sangat cantik ditangannya.

Dia melihat Jungkook juga tengah memasang gelang itu di tangan kirinya, dia menatap pada gelang ditangannya kemudian menatap ke arah Taehyung.

"Kau... ahem." Taehyung mengatur napasnya untuk menutupi rasa gugupnya sebelum melanjutkan, "Kau belum memberitahu aku tentang kedatanganmu yang tiba-tiba."

"Ah, aku akan melakukan penelitian disini."

"What??"

Jungkook menyesap kembali coklat panasnya sebelum melanjutkan, "Ibuku mendatangi kampusku untuk mengubah tempat penelitianku, dan... aku disini."

"Ghost, mengapa tidak kau cegah?"

"Aku tidak memiliki alasan untuk menolak, lagipula... istriku ada disini."

Melihat Taehyung terdiam, Jungkook kembali menjelaskan, "Kau ada disini, jika aku menolak untuk datang maka mereka akan curiga."

Taehyung mengangguk dengan linglung, "Itu benar."

Dia kembali terdiam sebelum tiba-tiba membulatkan matanya, "Gosh! Apakah aku merusak rencanamu untuk pergi ke New Zealand?"

"Mengapa itu salahmu?" Jungkook menatap ke arahnya terlihat bersungguh-sungguh, "Tidak masalah dimanapun aku melakukan penelitian, aku bisa pergi ke New Zealand kapan-kapan."

Taehyung tidak tau mengapa dia memalingkan tatapannya, tetapi saat Jungkook menatapnya dengan eskpresi seperti itu dia merasa tidak tahan untuk terus menatapnya.

"Kau tidurlah dikamar, aku akan tidur disofa."

"Tidak, aku yang akan tidur disofa."

Taehyung bangkit dan menyeret koper milik Jungkook ke kamarnya, "Kau pergi mandi dan istirahatlah malam ini dikamar, besok kau bisa mengambil sofa."

Jungkook menghela napas dan dengan patuh mengikutinya.

.

.

.

Hari setelah natal merupakan hari libur, tidak ada mahasiswa yang datang ke kampus, hanya ada para peneliti di setiap fakultas.

Dikampusnya kali ini, fakultas seni dan bisnis dibangun berdampingan. Saat dia berdiri di balkon gedung fakultasnya, dia bisa melihat gedung fakultas bisnis.

"Aku mendengar dia juga berasal dari Las Vegas, apakah kau mengenalnya?"

Di depan mereka, seorang mahasiswa terlihat tengah melakukan beberapa obrolan dengan seorang profesor. Mahasiswa itu mengeluarkan berkas-berkas dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada profesor didepannya, dia menunduk padanya sebelum profesor itu meninggalkannya.

"Las Vegas sangat luas."

Taehyung melihat Jungkook berbalik dan masuk ke dalam salah satu ruangan.

"Tapi aku mendengar dia dari kampus yang sama denganmu."

"Ada ribuan orang dikampusku."

Taehyung berbalik ke dalam ruangannya dan kembali melanjutkan penelitian pada data-data yang dia perlukan.

Beberapa jam setelah dia menyelesaikan penelitiannya, dia mendapat pesan dari Jungkook.

Jungkook [Makan malam diluar atau dirumah?]

Taehyung [Kau tau cara memasak?]

Jungkook [Yah, tidak terlalu bagus.]

Taehyung [Aku akan menunggumu di depan fakultasku, kita harus membeli bahan.]

.

.

.

Taehyung tidak tau apa yang harus dia siapkan untuk memasak, lagipula dia tidak pernah memasak.

Dia menyerahkan urusan belanja pada Jungkook, dia hanya akan mendorong troli belanja sementara Jungkook memilih dan memasukkannya ke dalam troli.

Saat dia memikirkannya, dia merasa jika mereka terlihat seperti pasangan sungguhan. Meskipun Jungkook bertugas untuk memilih bahan, dia selalu bertanya apakah Taehyung menyukainya atau tidak.

Mereka tiba dirumah satu jam sebelum makan malam. Saat Jungkook mulai memasak di dapur, Taehyung membersihkan apartemennya sebelum pergi membersihkan dirinya sendiri.

Dia datang dengan handuk kecil dikepalanya, "Apakah kau sudah selesai?"

Jungkook terlihat sedang mencicipi masakan yang dia buat, "Selesai, hanya perlu memindahkan ke mangkuk."

"Aku akan melakukannya, kau pergi mandi."

"Baiklah, terimakasih."

"Terimakasih kembali."

Kemampuan memasak Jungkook tidak bisa dikatakan sangat bagus, tetapi dia memasak dengan baik. Setidaknya jauh lebih baik dari Taehyung.

Mereka menyelesaikan makan malam sangat larut. Jungkook menyalakan tv sementara Taehyung tengah mencuci piring.

"Tidak ada satupun anime."

Taehyung nyaris tertawa, "Kau tidak menemukannya di tv, itu ada dibeberapa aplikasi dan juga youtube."

"Kau ingin menontonnya di youtube?"

Taehyung mengeringkan tangannya dengan tissu sebelum dengan setoples keripik kentang menghampiri Jungkook yang tengah kebingungan.

"Mengapa kau memilih anime? Apakah kau juga wibu?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku jarang menonton film, jadi aku mencari anime untukmu."

"Jika kau tidak ingin menonton, maka jangan menonton." Taehyung mengulurkan toples ditangannya, tapi ditolak olehnya, "Apakah kau bermain game?"

"Ya, aku selalu bermain game."

"Jadi itu alasanmu tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun?"

Jungkook meliriknya dengan sudut bibir terangkat, "Begitulah."

"Aku mengerti perasaan itu." Taehyung meletakkan toples keripik kentangnya saat dia berkata dengan antusias, "Saat kita melakukan hal yang kita sukai, maka kita akan melupakan dunia!"

"Dan lupa waktu."

"Kau benar!" Taehyung tertawa dengan senang, "Aku tidak percaya ini, kau juga mengalami hal yang sama!"

Taehyung adalah orang yang ceria, Jungkook melihatnya tertawa beberapa kali. Tetapi ini adalah pertama kalinya dia melihat binar ketertarikan di dalam matanya. Mereka tidak berada dalam ketertarikan yang sama, tetapi mereka mengalami hal yang serupa.

Saat itu dering ponsel Jungkook membuat Taehyung terdiam. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, saat layar itu menyala Taehyung dengan spontan menatap ke arahnya.

"Ah, itu."

Jungkook mengambil ponselnya, dia mematikannya sebelum meletakkannya kembali di atas meja.

Dia mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya, itu adalah sebuah kotak kecil berwarna hitam.

"Happy birthday."

Dia menyerahkan kotak kecil itu pada Taehyung saat dia mengatakannya.

Sementara Taehyung masih terdiam, di layar ponsel Jungkook sebelumnya terlihat sebuah alarm dengan catatan 'Ulang tahun Taehyung' yang mungkin Jungkook atur untuk memberikan selamat padanya tepat jam 12.00.

Taehyung tidak tau mengapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, itu membuatnya gugup hanya dengan melihat Jungkook yang duduk disampingnya. Bahkan setelah pernikahan dan beberapa kali ciuman yang mereka lakukan, dia tidak pernah merasa gugup hingga membuatnya merasa malu untuk menatap wajahnya.

Dia menerima hadiah itu dari tangannya, berusaha mendapatkan kembali ketenangannya saat dia berkata, "T-tidak ada kue ulang tahun?"

"Ah! tunggu." Jungkook bangkit dari sofa dengan terburu-buru, "Aku memilikinya."

Taehyung melihatnya berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan kantung plastik berwarna hitam, itu adalah kantung plastik yang sebelumnya dia bilang adalah sayuran.

Jungkook kembali membawa kantung plastik itu dan meletakkannya di atas meja. Dengan hati-hati dia membuka ikatan kantung itu, terdapat sebuah kotak berukuran sedang berwarna coklat.

"Damn!" Dia tiba-tiba berseru.

Taehyung menatapnya dengan panik, "Ada apa?"

"Aku lupa membeli lilin."

Taehyung membeku untuk beberapa saat sebelum mulai tertawa, dia bahkan tertawa terbahak-bahak.

Jungkook yang mendengar tawanya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

Saat Jungkook membuka penutup kotak, Taehyung tertawa semakin keras. Itu adalah kue berwarna cream dengan miniatur 3 kentang memenuhi diatas kue.

"Kau benar-benar menambahkan kentang." Dia bahkan menekan perutnya saat dia tertawa.

Jungkook kembali tertawa, "Kentang itu terbuat dari coklat."

"Haruskah aku meniup kentang-kentang itu sebagai pengganti lilin?"

"Wait!"

Jungkook kembali berlari ke arah dapur, dia mengambil sebuah korek api dan menyalakannya sebelum mengulurkannya pada Taehyung, "Tiuplah."

Taehyung terkekeh melihatnya memegang korek api yang menyala, dia berkata, "Aku harus membuat permohonan."

"Baiklah tunggu." Jungkook meniup korek api itu dan menyalakan yang baru, "Cepatlah atau tanganku akan terbakar."

Taehyung segera menutup matanya untuk mengutarakan permohonannya, dia berdoa di dalam hatinya: Terimakasih, ini adalah ulang tahun terbaikku! Aku tidak akan meminta banyak hal lagi karena aku telah meminta pada hari Natal, hanya buatlah orang di depanku selalu bahagia dan tidak pernah sakit.

Dia membuka matanya dan segera meniup korek api ditangan Jungkook.

"Happy birthday!"

"Thanks."

Taehyung meraih hadiah pemberian Jungkook saat dia berkata, "Aku akan membuka hadiahku."

"Mhm."

Dia membuka hadiah itu dengan tatapan Jungkook yang terus menerus mengarah padanya, itu membuatnya kembali gugup hingga tangannya sedikit gemetar saat dia membuka penutup kotak itu.

Taehyung membulatkan matanya tercengang menatap hadiah di dalam kotak, dia menatap Jungkook dengan tidak percaya, "Kalung ini.. aku melihatnya sebelumnya, ini sangat mahal!"

Itu adalah kalung berwarna perak dengan miniatur daun clover kecil yang juga berwarna perak. Taehyung melihat kalung itu saat dia dan Jungkook memilih cincin pernikahan mereka.

"Goodness!" Taehyung menggenggam kalung itu ditangannya, tanpa sadar melompat dan memeluk orang di depannya, "Thank you so much!"

Jungkook mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman yang lembut saat dia mulai membalas pelukannya, "Happy birthday."

Taehyung melepaskan pelukannya dan menyerahkan kalung itu padanya, "Tolong pakaikan untukku sekarang."

"Baiklah, baiklah."

Jungkook membuka kaitan kalung itu, dia tidak menyuruh Taehyung untuk membalik badannya tetapi segera melingkarkan kalung itu pada lehernya. Dia terlihat seperti akan memeluknya saat dia mengintip dibalik kepalanya untuk mengaitkan kembali kalung itu.

Sementara diposisinya saat ini Taehyung mulai menahan napas, dia merasa jika dia bernapas itu akan menyentuh leher Jungkook didepannya.

"Selesai."

Setelah Jungkook kembali menjauhkan badannya, Taehyung menunduk untuk menatap kalung yang menggantung dilehernya. Dia meraih daun clover perak berukuran kecil itu, perasaan yang tidak bisa dia katakan menyebar dihatinya.

"Terimakasih Jungkook, sungguh."

"Tidak masalah."

"Bisakah kau mengatakan hal lain?"

"Happy birthday."

"Oh, ayolah." Taehyung mulai tidak bisa menahan tawanya lagi, dia berkata di sela tawanya, "Kau benar-benar tidak banyak bicara."

"Yah, aku hanya tau cara bermain game."

Taehyung perlahan menghentikan tawanya saat dia merasakan tatapan Jungkook yang mengarah padanya, dia menggodanya, "Apakah aku terlihat cantik lagi bagimu? Kau menatap cukup lama."

Jungkook tidak menyangkalnya, "Mhm, kau terlihat cantik."

"Kau ini... orang yang selalu berterus terang." Taehyung mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman lembut.

"Kau terlihat seperti seseorang yang keluar dari komputer."

"Hentikan." Taehyung tertawa dengan geli, dia berkata, "Kau juga terlihat tampan, sungguh."

Keduanya menatap ke dalam mata masing-masing seolah menunjukkan bahwa apapun yang keduanya katakan sebelumnya adalah kebenaran.

Sampai beberapa saat tidak ada lagi senyuman dibibir mereka berdua, mereka menatap satu sama lain untuk waktu yang lama dalam diam.

Pada akhirnya Taehyung tidak bisa menahannya, dia mengalihkan pandangannya lebih dulu, "Ah, kue... kuenya..."

Saat itu tiba-tiba Jungkook meraih wajahnya untuk kembali menatapnya, Taehyung cukup terkejut tetapi masih menatap ke dalam matanya dalam diam, dengan napas yang mulai tidak teratur.

Dia melihat Jungkook perlahan mengikis jarak diantara keduanya hingga wajah keduanya hanya dipisahkan oleh jarak setipis kertas.

Dia berbisik, "Tae, apakah tidak apa-apa?"

Taehyung menatap ke dalam matanya dalam diam sebelum mengangguk, "Mhm."

Jungkook mulai menghapus sisa jarak diantara mereka dan menciumnya, mengulurkan tangannya untuk mengamankan pinggangnya. Mereka menghisap dan menggigit bibir masing-masing beberapa saat sebelum melepaskan.

Napas Jungkook terasa hangat dan ringan, ciuman lembutnya yang lembut mendarat di sisi wajahnya, di bawah matanya, ujung hidung, sudut bibirnya sebelum kembali berlama dibibirnya.

Taehyung yang biasanya tidak terlalu peduli dengan apapun dan melupakan apapun, saat ini dia tiba-tiba mengingat semua hal yang telah dia lalui bersama Jungkook.

Mereka bertemu, memperkenalkan pada keluarga masing-masing, mereka menikah, pernikahan yang sah. Mereka juga berpelukan, berciuman, dan tidur di dalam pelukan masing-masing.

Setelah dia mengingatnya lagi, Jungkook selalu memperlakukannya dengan baik setiap kali mereka bersama.

Mereka tidak terlihat seperti pasangan sungguhan, mereka mengasingkan diri masing-masing, tetapi saat dia bersama Jungkook, orang ini selalu memperlakukannya seperti bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya.

Ini ciuman nyata pertama mereka. Itu bukan lagi suatu keharusan yang harus mereka lakukan untuk menyenangkan keluarga, atau hanya formalitas, tapi ciuman berat yang menyalakan api di dalam diri mereka berdua.

Taehyung melepaskan ikatan bibir mereka, dia menatap Jungkook dengan mata sedikit merah bergetar dan napas yang memburu.

Dia mengusap matanya dengan lembut sebelum menekan sebuah ciuman lembutnya disana, perlahan ciuman jatuh ke pipinya dan dagunya. Dia merasakan napas Jungkook yang semakin tidak teratur.

Saat ciuman Taehyung turun ke sudut bibirnya, Jungkook tidak lagi menahannya. Dia mendorongnya hingga Taehyung berbaring dibawahnya, dia menatapnya seolah meminta ijinnya sebelum kembali menciumnya.

Dia menyampirkan lengannya kebelakang leher Jungkook, bermain-main dengan rambutnya yang lembut.

Setelah beberapa saat dia mendengar Jungkook menggumamkan sesuatu sebelum terjatuh dan mengubur wajahnya dileher Taehyung.

Taehyung mendengarnya mulai bernapas dengan teratur, dan gumaman dari Jungkook mulai terdengar dengan jelas, "Damn, penelitian besok pagi."

Taehyung tidak bisa menahan tawanya, dia melingkarkan tangannya untuk memeluk Jungkook yang berada diatasnya, "Ini sudah lewat tengah malam, kau tidak bisa menyebutnya besok lagi. Itu hanya menjadi beberapa jam lagi."