Enchanted
*
by: Odeee_
*
[Kookv - Romance - Married life - Sho-ai]
.
.
.
.
"Semangat semuanya! Satu bulan lagi pasti akan berlalu!"
"Berjuang!"
Mereka kembali melanjutkan penelitian pada data yang menumpuk setelah menyemangati diri mereka sendiri.
Malam itu, setelah sampai di apartemen Jungkook kembali menjadi dirinya sendiri setelah menjadi dingin selama perjalanan kembali.
Dia memeluknya, menciumnya dan tidur diatas tempat tidur yang sama seperti biasanya. Tetapi Taehyung merasakan jika Jungkook sedang memikirkan banyak hal, dia beberapa kali terdiam seolah larut dalam pikirannya.
"Taehyung-ssi, apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada, hanya berpikir jika tiramisu dipasang hari ini, apakah mereka akan menyisakan satu untukku."
Seokjin cukup tercengang dengan jawaban yang tidak pernah dia harapkan, "Hanya karena tiramisu?"
"Aku telah menunggunya selama 2 hari."
"Kau bisa menggunakan jasa gofood."
"Temanku berjanji akan mendapatkannya untukku."
Taehyung meraih ponselnya, dia menekan sandi untuk membukanya dan mengirim pesan untuk Jungkook.
Taehyung [Jam 10 tiramisu.]
Dia memasukkan kembali ponselnya setelah menekan tombol kirim.
Tidak lama setelahnya ponselnya bergetar dengan balasan pesan dari Jungkook.
Jungkook [Oke.]
Taehyung [Kau bermain game?]
Jungkook [Mhm.]
Taehyung [Semoga kau tidak melupakannya.]
Jungkook [Aku memasang alarm.]
Taehyung mengangkat sudut bibirnya saat dia membaca pesan itu. Jungkook dan kebiasaannya memasang alarm, itu terlihat agak lucu.
.
.
.
Tepat pukul 9.30 alarm yang dia atur sebelumnya mulai berdering.
Jungkook berada dalam saat-saat menegangkan dalam permainannya, dia akan mati dengan sekali tembakan jika tidak segera menambah darah.
Tetapi saat alarm itu berbunyi, dia membiarkan dirinya tertembak dan mati.
Dia mematikan laptopnya, meraih jaketnya dan segera meninggalkan apartemen.
Di dalam toko kue orang-orang telah memenuhi antrian. Dia meraba sakunya tapi tidak menemukan yang dia cari.
"Damn! Aku meninggalkan ponselku."
Dia mengintip ke arah lemari kaca tempat tiramisu di pasangan, tidak banyak yang tersisa tetapi barisan orang di depan melebihi jumlah kue yang terpasang.
Dia menggigit bibirnya dengan gugup, bagaimana jika mereka yang berbaris ini ingin mendapatkan tiramisu? Maka dia tidak akan mendapat bagian.
Jungkook ragu-ragu untuk waktu yang lama sebelum mengetuk bahu orang di depannya, dia berkata dengan rasa bersalah, "Hi, maaf bisakah aku memotong antrian? Istriku sedang hamil dan dia menginginkan tiramisu, aku khawatir aku tidak mendapat bagian."
"Oh, astaga kau suami yang baik, silakan buat istrimu senang."
Orang-orang yang berbaris di depannya mulai menoleh, mereka tertawa melihat Jungkook dengan wajah panik dan malu sedang menunduk beberapa kali untuk meminta maaf dan berterimakasih.
Orang-orang menyerahkan barisannya hingga dia menjadi orang dengan barisan pertama.
"Ah, terimakasih banyak, sungguh terimakasih banyak."
Bahkan setelah mencapai pintu dia masih ingin menunduk pada mereka untuk berterimakasih.
Jungkook meletakkan kotak kuenya di kursi samping kemudi, dia bahkan selalu meliriknya untuk memastikan jika kue itu tidak akan jatuh.
Dia berhenti disebuah toko konsol game, untuk mendapatkan konsol game yang baru.
Setiap kali dia melewati seseorang di dalam toko, mereka akan tersenyum melihatnya.
Seorang pria berbadan besar yang tengah melihat-lihat konsol game sedang membawa kotak kue berwarna coklat ditangannya.
Dia tidak ingin meninggalkan kue itu di mobilnya, berpikir jika itu akan meleleh jika dia meninggalkannya disana. Pada akhirnya, dia selalu membawanya kemanapun dia pergi.
Seorang pria yang juga tengah melihat konsol game berbicara padanya, "Apakah itu tiramisu dari toko kue Vinath?"
Jungkook mengangguk, "Mhm."
"Itu sangat enak dan sangat laris." Pria itu berkata seolah tengah menahan tawanya, "Istriku sangat menyukainya, tetapi dia selalu kehabisan."
"Antriannya sangat panjang."
"Benar." Pria itu terdengar mengeluh, "Tiramisu sangat enak jika ditambah saus karamel."
Jungkook akhirnya menoleh ke arahnya, "Dimana kau mendapatkan saus karamel?"
"Bukankah toko kue itu juga menjualnya?"
"Terimakasih."
Jungkook meletakkan konsol game yang dia pegang sebelumnya sebelum bergegas pergi.
"Hei, kau tidak akan membelinya? Ini edisi terbatas!"
"Lain kali!"
Jungkook membawa mobilnya kembali menuju toko kue sebelumnya. Taehyung tidak mengatakan tentang saus karamel, tetapi dia mungkin akan menyukainya.
Saat dia tiba ditoko kue, tidak ada lagi barisan panjang sebelumnya yang memenuhi toko. Dia kembali membawa kotak kuenya.
Tetapi sebelum dia berhasil mencapai pintu toko itu, dia melihat Taehyung bersama seorang gadis di dalam toko itu tengah duduk didekat dinding kaca dengan segelas minuman dan sepotong kue berwarna merah.
Itu adalah gadis yang sebelumnya mereka temui di kedai jjajangmyeon. Gadis penggemar Demon Slayer.
Taehyung terlihat tertawa beberapa kali, dia bahkan melupakan kue di atas mejanya untuk terus berbicara dengan gadis itu.
Dia memperhatikan mereka cukup lama sampai Taehyung menyadari keberadaannya dari balik dinding kaca.
Dia melihat Taehyung melambaikan tangannya ke arahnya.
Jungkook memalsukan senyumnya saat dia mengangguk padanya.
Mengapa dia merasa sangat kesal?
Taehyung adalah istrinya, mereka telah menikah secara sah. Tetapi mereka sepakat untuk menjalani pernikahan status, tidak mengikat satu sama lain.
Dengan siapapun Taehyung bertemu bukanlah urusannya, dia hanya menjadi suaminya di dalam sebuah tulisan di buku pernikahan mereka.
Taehyung memiliki hak untuk berhubungan dengan siapapun, melakukan apapun yang dia mau.
Tetapi mengapa dia masih merasa sangat kesal melihatnya bersama orang lain?
Bukankah hubungan seperti ini yang mereka kesepakati sebelumnya.
Dia melihat Taehyung meninggalkan gadis itu dan berlari ke arah pintu keluar.
"Hei!"
"Hei."
Taehyung melihat kotak kue ditangan Jungkook, dia merasa sangat senang, "Kau mendapatkannya!"
"Mhm."
Taehyung merasakan ada yang berbeda dengan Jungkook, dia menghapus senyum dibibirnya saat dia berkata, "Ada yang salah?"
"Tidak."
"Lalu... untuk apa kau kembali?"
"Saus karamel."
"Ah..." Taehyung kembali tersenyum saat dia mendengarnya, dia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya, "Lihat, aku sudah mendapatkannya."
Jungkook melirik kotak kecil berwarna karamel ditangannya kemudian mengangguk, "Kalau begitu aku akan pergi."
Sebelum dia berbalik Taehyung meraih tangannya, "Ada apa denganmu?"
"Tidak ada masalah."
Taehyung masih tidak melepaskan tangannya saat dia berkata, "Kau pikir aku tidak akan merasakan perubahan emosimu?"
"Apa maksudmu?"
"Jungkook, aku telah mengenalmu selama hampir setengah tahun sekarang, kau tidak memiliki banyak ekspresi diwajahmu, tetapi itu terlihat sangat jelas."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi aku baik-baik saja."
Taehyung mulai merasa sedikit kesal tetapi masih berbicara dengan tenang, "Mengapa kau selalu begitu tertutup? Kau bisa memberitahuku."
Jungkook mengerutkan alisnya, suaranya sedikit meninggi saat dia berkata, "Memangnya apa yang kau tau? Kau pikir 5 bulan cukup untukmu mengenalku?"
Taehyung, "..."
"Bukankah kau selalu lebih memilih seseorang yang mengerti tentang kesukaanmu daripada aku?"
Taehyung mengerutkan dahinya dengan bingung, "Apa yang kau katakan?"
"Aku mematikan gameku dan berlari kesini untuk mendapatkan kue pesananmu. Sementara kau disini, bersama orang itu." Jungkook menurunkan suaranya saat dia melihat ke dalam mata Taehyung yang terlihat seperti akan meneteskan air mata, "Mengapa kau seperti ini? Meskipun pernikahan kita hanya... kau setidaknya sedikit menghargai aku."
"Aku... aku menghubungimu." Taehyung merasakan suaranya bergetar dia mengatur napasnya sebelum melanjutkan, "Kau tidak menjawab pesan dan panggilanku, aku pikir... aku pikir kau melupakannya, jadi aku datang sendiri, aku tidak tau jika kau sudah..."
Jungkook tidak mengatakan apapun dan hanya menatapnya saat dia mendengarkan penjelasan Taehyung.
"Dia ada disini saat aku datang, aku hanya... menghampirinya sebentar."
Jungkook menyerahkan kotak kue ditangannya pada Taehyung saat dia berkata, "Ambillah."
Taehyung menerima kue itu dengan kepala menunduk.
Saat dia menyadarinya, Jungkook telah pergi.
.
.
.
"Taehyung kau menangis?" Seokjin tidak bisa menahan tawanya saat dia melihat Taehyung meneteskan air mata sambil memakan kue tiramisu, "Apakah kau sangat menyukai tiramisu sampai membuatmu menangis?"
Taehyung kembali memasukkan suapan demi suapan kue ke dalam mulutnya saat air matanya terus menetes.
"Apakah itu benar-benar enak?" Seokjin menarik kursi untuk duduk di depannya, "Biarkan aku mencobanya."
"Tidak!" Taehyung menarik kuenya dan menyembunyikannya dengan lengannya, "Ini... adalah pemberian... suamiku."
"Baiklah, baiklah, aku tidak akan... APA???" Seokjin terlihat sangat terkejut hingga nyaris terdorong ke belakang, "Suami... SUAMI??"
Taehyung mengangguk dengan air mata yang masih menetes, "Mhm."
"O-oke, lalu mengapa kau menangis?"
Seokjin tidak terlalu memikirkannya, lagipula Taehyung berasal dari Las Vegas, pernikahan sesama jenis mungkin bukan lagi hal yang mengejutkan disana.
"Dia marah padaku."
"Mengapa dia marah padamu?"
Taehyung menggeleng dengan isak tangisnya, "Aku tidak tau... dia memarahiku karena aku... menyuruhnya membeli tiramisu, tapi dia melihatku ditoko itu bersama temanku."
"Jadi dia adalah orang yang kau hubungi sebelumnya? Orang yang kau sebut teman menyebalkan penggila game?"
"Mhm."
"Jadi dia akhirnya mendapatkan kue untukmu?"
"Mhm."
"Lalu dia marah padamu karena dia melihatmu disana bersama temanmu?"
"Mhm."
"Bisakah kau berhenti makan?" Seokjin tidak tahan melihatnya menangis sambil memakan kue, "Pilihlah antara makan atau menangis, jangan lakukan keduanya, kau terlihat konyol."
Taehyung mengusap air matanya sebelum kembali memakan kuenya.
"Jadi kau memilih untuk makan?" Seokjin mengatupkan bibirnya dengan tidak percaya.
Dia tiba-tiba menyimpulkan dan berkata, "Suamimu cemburu."
"Huh?" Taehyung bahkan menjatuhkan sendok ditangannya.
"Dan juga merasa tidak dihargai."
Taehyung tidak memungut sendoknya tetapi mulai mendengarkan dengan baik.
"Kau mengatakan dia sedang bermain game sebelumnya?" Setelah mendapat anggukan dari Taehyung, dia kembali melanjutkan, "Dia rela meninggalkan gamenya untuk sebuah kue tiramisu untuk istrinya, tapi apa yang dia dapat? Dia menemukan istrinya bersama dengan orang lain."
"Jika dia cemburu... itu artinya dia menyukaiku?"
Seokjin mengerutkan dahinya cukup tercengang, "Tentu saja, mengapa dia menikahimu jika dia tidak menyukaimu?"
"Itu... kami dijodohkan."
"Jadi kalian menikah karena terpaksa?"
"Mhm."
"Kalian tidak saling menyukai?"
Taehyung tampak memikirkannya sebelum dia menggeleng, "Aku tidak tau."
"Kau menyukainya."
"Huh?"
"Kau tidak akan bingung jika kau tidak menyukainya."
Taehyung menggigit bibirnya saat dia memikirkannya.
Apakah dia menyukainya?
Dia merasa nyaman saat berada di dekatnya, merasa tenang saat dia memeluknya, dan merasa berdebar saat dia menciumnya.
Dan saat Jungkook tidak berada disampingnya, dia tanpa sadar selalu menunggu kabar darinya, memeriksa ponselnya setiap saat, berharap sebuah pesan datang darinya.
Ketika dia melihatnya tertawa dia ingin mengusap kepalanya, saat dia menatap matanya dia ingin menciumnya. Dan saat dia melihat wajah murungnya dia ingin memeluknya, mengatakan bahwa aku disini, bersamamu.
Dia tidak pernah merasakan perasaan seperti itu pada siapapun, tapi pada Jungkook... dia menemukan dirinya menjadi berbeda.
Taehyung menatap kosong pada sisa kue tiramisu didepannya, "Gosh, sepertinya aku sangat menyukainya."
"Tentu saja, dia adalah suamimu, orang yang kau lihat setiap hari dan menghabiskan waktu bersamamu."
.
.
.
Taehyung menyelesaikan penelitiannya lebih lama dari biasanya, dia akan menyelesaikannya lebih awal dari targetnya. Itu mungkin akan selesai dalam satu minggu.
Dia membawa sebungkus jjajangmyeon untuk Jungkook ditangannya. Dia tidak tau banyak tentang Jungkook, tetapi sebelumnya dia terlihat sangat menikmati jjajangmyeonnya.
Taehyung menekan angka demi angka untuk membuka pintu apartemennya, sampai akhirnya itu terbuka.
Dia mendorong pintu terbuka saat tangannya tiba-tiba ditarik, dengan sangat cepat dia telah berada di pelukan Jungkook.
Dia mendengar Jungkook bergumam di telinganya, "Maafkan aku."
Taehyung masih dalam keadaan tercengang, saat dia mendengar Jungkook bergumam sekali lagi, "Sungguh, maafkan aku."
Taehyung meraba-raba lemari sepatu disampingnya untuk meletakkan jjajangmyeonnya sebelum membalas pelukan Jungkook.
"Aku juga minta maaf."
"Tidak, ini salahku, aku membentakmu saat kau tidak tau apapun."
Taehyung mengusap-usap punggungnya untuk membuatnya lebih tenang.
Jungkook mengubur wajahnya dileher Taehyung saat dia menggumamkan, "Aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain, aku kesal."
"Aku tidak bisa membayangkan kau bersama orang lain, itu membuatku marah." Suaranya terdengar bergetar saat dia berkata, "Kau... kau adalah istriku, tidak bisakah kau hanya bersamaku?"
Taehyung membawa tangannya untuk mengusap rambutnya, "Aku bersamamu."
"Aku tau pernikahan kita hanya pernikahan status, tapi... aku tidak bisa membayangkan kau akan mencintai orang lain dan bersama orang lain."
"Aku tidak akan bersama orang lain."
"Maafkan aku... kita telah membuat kesepakatan, kau tidak ingin menjalin hubungan dan terikat, tapi aku... aku menyukaimu, aku menginginkan pernikahan kita menjadi pernikahan yang sesungguhnya."
"Aku juga menyukaimu dan aku juga menginginkan pernikahan kita menjadi pernikahan sesungguhnya."
Taehyung merasakan tubuh yang dia peluk mulai menegang.
Jungkook mengangkat kepalanya untuk menatap Taehyung, "Kau menyukaiku?"
"Aku menyukaimu."
"Kau... kau tidak akan mencintai orang lain dan bersama dengannya?"
"Aku memiliki suami yang baik, aku tidak membutuhkan orang lain lagi." Taehyung mengangkat sudut bibirnya saat dia mengusap wajah di depannya, "Memilikimu satu sudah cukup, aku akan membiarkanku mengganggu waktuku menonton anime tapi tidak dengan orang lain."
"Aku juga akan membiarkanmu mengangguku bermain game, hanya kau."
Taehyung tidak bisa menahan tawanya saat dia mendengarnya. Jungkook mengecup ujung bibirnya saat dia tertawa.
Dia tidak pernah berpikir pernikahan status yang mereka mulai akan berakhir menjadi pernikahan sungguhan.
Dia tidak lagi membenci pernikahan. Dia tidak lagi menganggapnya merepotkan.
"I Love you."
"I Love you too."
