Enchanted
by: Odeee_
[Kookv - Romance - Married life - Sho-ai]
.
.
.
.
Jungkook's pov.
Las Vegas, 12 September 2021.
"Kau hanya tau untuk bermain game, kawan kau tidak akan mendapatkan pasangan."
"Aku tidak tertarik."
"Baiklah, tidak ada yang lebih menarik daripada gamemu bukan."
Jungkook mengabaikannya, kembali fokus pada layar komputer di depannya.
Seorang pria berambut ikal datang dengan kantung plastik penuh makanan dan minuman, dia meletakkannya di atas meja, dengan antusias berkata, "Kawan, kau tidak akan percaya pada apa yang aku lihat!"
"Apa itu?" Pria berambut pirang di sebelah Jungkook terlihat sangat tertarik.
"Saat ini di depan ruang 10, ada seseorang dengan wajah yang tampak seperti komputer grafik!" Dia berkata dengan semangat menggebu-gebu, "Kalian harus melihatnya, dia benar-benar terlihat seperti dia keluar dari komputer."
"Kau bercanda?"
"Aku serius! Pergi dan lihatlah!"
Pria berambut ikal itu memimpin jalan untuk temannya, tetapi Jungkook terlihat tidak tertarik. Dia bersikap seolah tidak mendengar apapun dan tetap melanjutkan gamenya.
Setelah 10 menit dalam ketenangan, kedua orang itu kembali dengan terus menerus mengatakan tentang pria yang keluar dari komputer.
"Jungkook kau harus melihat ini, dia terlihat seperti karakter game yang kau mainkan."
"Aku sibuk."
"Lihatlah sebentar saja, aku berhasil mengambil fotonya."
Jungkook berdecak, dia menekan tombol pause pada gamenya. "Berikan."
Pria berambut pirang dengan senang memberikan ponselnya padanya.
Jungkook menatap foto itu untuk waktu yang lama sebelum mengembalikannya, dia kembali memulai gamenya dan tidak mengatakan apapun.
.
.
.
"Oppa, ibu tidak akan mengijinkanku menikah sebelum kau menikah."
"Mengapa kau ingin menikah?"
Jun Ah menatap kakaknya dengan tidak percaya, "Tentu saja karena aku mencintainya dan ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya."
"Baiklah."
"Apanya yang baik?" Jun Ah tampak seperti akan menangis, "Oppa, aku tidak akan bisa menikah."
Malam itu Jungkook tidak bermain game dengan baik, dia kehilangan konsentrasinya memikirkan apa yang dikatakan adiknya.
Menikah?
Mengapa harus menikah?
Bukankah itu merepotkan?
.
.
.
"Lihat, lihat itu dia!"
Jungkook melihat ke arah yang ditunjuk oleh temannya. Itu adalah seseorang yang sebelumnya berada di ponsel temannya, seseorang yang dikatakan keluar dari komputer.
"Bukankah dia sangat tampan, apakah dia orang Korea?"
Jungkook memperhatikannya sebelum mengangguk, "Sepertinya orang Korea."
"Kalian orang Korea mengapa begitu tampan."
Sore itu setelah dia menyelesaikan kuiahnya, dia kembali melihat orang Korea itu di depan kampusnya.
Dia terlihat sedang berbicara dengan satpam dengan cukup dekat, dia bahkan tertawa.
Semakin dia memperhatikannya, semakin dia menyadari jika apa yang dikatakan oleh temannya itu benar.
Orang itu terlihat seperti karakter game yang dia mainkan.
Malam harinya, saat dia mulai bermain game dia memperhatikan karakter yang dia gunakan cukup lama.
Dia bermain sangat baik, tidak membiarkan karakter yang dia mainkan menerima satu tembakan.
.
.
.
Satu bulan setelah keluhan pertamanya, Jun Ah kembali mengeluhkan tentang pernikahan. Mengatakan betapa dia sangat ingin menikahi kekasihnya, jika dia ingin terikat bersama kekasihnya dalam ikatan yang sah secara agama.
Jungkook mendengarkan dosen di kelasnya dengan pikiran penuh akan keluhan adiknya. Dia tidak bisa melupakan wajah adiknya yang terlihat akan menangis setiap kali dia mengatakan ingin menikah.
"Kawan, aku tau kau pintar tetapi bukankah ini mata kuliah yang penting?" Temannya berbisik di sebelahnya, "Kita akan melakukan penelitian beberapa bulan lagi."
"Adikku ingin menikah."
"Oke, terus?"
"Aku harus menikah sebelum dia menikah, atau ibu tidak akan membiarkan dia menikah."
"What? Dari jaman apa ibumu lahir?"
"Ahem."
Dosen dengan kacamata tipis dipodium mulai memperhatikan mereka.
.
.
.
Malam itu, Jungkook tidak bisa memainkan gamenya dengan benar. Dia hanya menatap kosong ke arah karakter gamenya.
Getaran ponselnya saat itu menghentikan lamunannya yang panjang.
Sean [Kawan pergi dan lihat pada forum diskusi Melon, seseorang baru saja memposting tentang hal yang kau alami.]
Jungkook tidak membalas pesannya dan segera membuka forum yang dikatakan temannya.
Apa yang harus aku lakukan?! Ibuku akan mencari seseorang untuk menikahiku!
Dia memberikan balasan pada postingan yang dikirim oleh akun bernama Potato Chips, dan dalam waktu 10 menit dia mendapat pesan pribadi dari Potato Chips.
Anonim [Menikahlah denganku.]
Potatochips [Apakah kau sudah memikirkannya dengan baik? Apakah kau sungguh akan menikahiku?]
Anonim [Ya, aku serius.]
Mereka setuju melakukan pernikahan status, dan akan bertemu besok.
.
.
.
Jungkook mengangkat tangannya dengan perasaan sedikit kesal. Ada banyak sekali orang yang menatap ke arahnya, tapi orang bernama Kim Taehyung tidak juga menghampirinya.
"Halo tuan muda, saya adalah pengantin anda."
Jungkook menoleh pada suara itu, dia tercengang untuk beberapa saat.
Orang ini... dia adalah orang yang keluar dari komputer itu. Orang yang terlihat mirip dengan karakter game yang dia mainkan.
"Kau... Kim Taehyung?"
Orang itu mengangguk, dia memiliki senyum yang bagus. Rambutnya bergerak dengan lembut saat dia menggerakkan kepalanya.
"Kita menikah sekarang?"
.
.
.
Saat itu Taehyung membawanya ke rumahnya untuk bertemu dengan orangtuanya. Sepanjang perjalanan dia tidak banyak berbicara, terlihat cukup canggung. Dia hanya menunduk membaca sesuatu seperti komik di ponselnya.
Jungkook meliriknya beberapa kali, dia beberapa kali melihatnya sebelumnya, tetapi tidak dengan jarak yang begitu dekat.
Apa yang akan dikatakan temannya jika dia mengetahui ini?
Taehyung memperkenalkannya pada ibunya, mereka terlihat mirip, bahkan cara mereka berbicara terdengar sama.
"Aku telah memperhatikan putra anda sejak 2014."
Dia tidak sepenuhnya berbohong, dia memang memperhatikannya sebelumnya.
Taehyung setuju untuk datang ke rumahnya, dia terlihat gugup. Dalam perjalanan menuju rumahnya, dia tidak lagi membaca komik di ponselnya, tetapi menatap lurus pada jalan seolah tengah mengukurnya di dalam kepalanya.
"Ibu, dia adalah Kim Taehyung, kekasihku. Aku akan menikahinya."
Jungkook meliriknya, dia terlihat gugup, itu membuatnya terlihat lucu.
Saat itu dia mendengarkan percakapan Taehyung dan adiknya bersama ibunya. Ibunya menahannya untuk masuk dan mendengarkan lebih banyak.
"Ya, dan dia juga sangat... tampan."
Tampan? Dia mengatakan aku tampan?
Ibunya mengejukatnya dengan muncul tiba-tiba, Taehyung menunduk dengan telinga memerah.
Jungkook berusaha untuk menekan bibirnya agar tidak tersenyum.
Dia mendekatinya, ingin membebaskannya dari rasa gugup dan malunya. Tetapi Jun Ah dan ibunya menahannya.
Dia ragu-ragu untuk beberapa saat, jantungnya berdetak sangat cepat seolah itu akan melompat keluar saat dia memberanikan dirinya untuk menekan sebuah ciuman dibibirnya.
Lembut dan lembut.
Jadi seperti itu rasanya mencium seseorang?
Jantungnya masih berdetak sangat cepat.
Dia masih dalam keadaan gugup dihatinya, kembali membayangkan saat dia menatap ke dalam matanya sebelum menciumnya. Taehyung terlihat terkejut.
Dia mungkin masih terkejut sampai saat ini.
Wajahnya mengkerut sepanjang perjalanan, apakah dia merasa keberatan dengan ciumannya?
Atau apakah ibu dan Jun Ah mengatakan sesuatu yang menyinggungnya.
"Kau telah mencuri ciuman pertamaku, jangan berpikir untuk membatalkan pernikahan!"
Jungkook menghela napas, merasa lega saat dia mendengar jawabannya.
Dia kembali dikejutkan ketika Taehyung mengatakan tentang ciuman perpisahan.
Dia menatap ke dalam matanya, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dia khawatir Taehyung akan mendengarnya.
Mungkin karena dia terlalu memikirkannya, dia membuat Taehyung kesal sehingga Taehyung mulai menggigit bibirnya. Dia merasakan gigitan demi gigitan, sampai akhirnya dia tidak tahan dan membalas untuk menciumnya.
Tidak buruk.
.
.
.
"Oppa, aku tidak percaya kau benar-benar membawa seseorang untuk kau nikahi."
Jun Ah datang ke kamarnya untuk membahas pernikahannya yang tiba-tiba.
"Tetapi saat aku melihatmu menciumnya, aku percaya jika kau benar-benar tertarik padanya."
Jungkook menoleh dengan alis terangkat.
"Kau bahkan tidak akan memakan makanan yang tidak kau sukai meskipun kau terpaksa, kau akan segera memuntahkannya dan wajahmu akan berubah kesal." Jun Ah menatap ke arah kakaknya, dia tersenyum saat dia melanjutkan, "Tetapi kau tampak baik-baik saja saat mencium Taehyung, telingamu bahkan memerah."
Jungkook kembali menatap komputernya untuk melanjutkan gamenya.
"Dan Taehyung memerah seperti tomat saat kau pergi."
.
.
.
"Saudara Jeon Jungkook, apakah kau bersedia mencintai pasanganmu, setia dan jujur kepadanya? Menemaninya dalam keadaan sehat dan sakitnya? Tidak pernah melayangkan tangan atau berucap kasar padanya? Menghargainya sebagai pasanganmu sampai ajal menjemput?"
"Saya bersedia."
30 Oktober 2021 mereka akhirnya sah menjadi sepasang pengantin.
Dia membawa Taehyung ke dalam rumah pribadinya. Hanya ada mereka berdua dirumah itu.
Dia membiarkan Taehyung menempati area Selatan rumahnya.
Setiap pagi, dia akan melihat Taehyung pergi dengan terburu-buru, terkadang dia pergi sambil menyanyi, kadang dia pergi sambil menghapal materi presentasi, dan terkadang dia pergi sambil menguap.
Dia merasa mereka tidak cukup dekat untuk saling menyapa, meskipun keduanya telah menikah, mereka telah kembali menjalani kehidupan masing-masing.
Jungkook mengingat jika terakhir kali dia melihat Taehyung keluar di fakultas seni, dia mungkin ada disana.
Jungkook menghubungi temannya di fakultas seni, berkata ingin mengajaknya bermain game. Dia mendatanginya dengan harapan akan bertemu dengan Taehyung.
Dia tidak pernah bisa menyapanya dirumah, lalu bagaimana jika mereka bertemu diluar?
"Kau..."
Jungkook memang berharap untuk bertemu dengannya, tetapi masih cukup terkejut saat benar-benar melihatnya.
Dia melihat Taehyung melirik ke arah temannya, ekspresinya sedikit kaku saat dia melihatnya menepuk bahunya.
Mengapa dia seperti itu?
"Dia, adalah temanku."
Dia tidak tau kenapa dia harus menjelaskan, tetapi merasa ingin menjelaskan.
.
.
.
Setelah saat itu dia tidak lagi bertemu dengannya diluar rumah, tetapi selalu melihatnya melewatinya di dalam rumah.
Jungkook tidak tau apakah Taehyung menyadari keberadaannya dan sengaja mengabaikannya, atau dia tidak melihatnya. Jungkook memilih untuk tetap memperhatikan.
Sampai saat pernikahan Jun Ah, dia akhirnya datang untuk menemuinya.
Mereka mencoba jas bersama, Jungkook tidak mengerti soal penampilan, dia melihat Taehyung selalu menggunakan pakaian yang menarik dan dia menyerahkan hal-hal seperti memilih jas padanya.
Jungkook merasa dia tidak cocok memakai jas, pakaian formal membuatnya terlihat konyol. Tetapi Taehyung mengatakan jika dia terlihat sangat cocok dengan jas.
Sementara Taehyung terlihat menarik dengan apapun yang dia gunakan.
Dia benar-benar keluar dari komputer.
Saat itu dia tidak tau apakah dia merasa terganggu atau merasa berterimakasih saat dia melihat Jun Ah di dalam restoran yang akan mereka kunjungi.
Dia menarik Taehyung ke dalam pelukannya, ragu-ragu sebelum memberikan kecupan di pelipisnya.
Ini bukan kali pertama dia menciumnya, tetapi pelukan ini adalah yang pertama mereka lakukan. Dia tidak menyangka jika Taehyung akan mengaitkan tangannya dilehernya dan mengecup dagunya.
Dia terlihat sangat menggoda.
.
.
.
Dalam pernikahan Jun Ah, dia melihat Taehyung sedang berbicara dengan orang lain.
Bagaimana dia seharusnya bereaksi sebagai orang asing?
Bukankah itu bukan urusannya?
Tetapi dia merasa sedikit kesal.
Apakah seperti ini dia akan melihatnya saat suatu hari nanti, ketika Taehyung menginginkan perceraian dan melakukan pernikahan sesungguhya dengan orang yang dia cintai?
.
.
.
Dia tidak banyak bertemu dengannya, tidak banyak berbicara dengannya, tetapi Taehyung akan meninggalkan rumahnya, meninggalkannya untuk tiga bulan.
Bukankah seharusnya tidak masalah?
Lagipula mereka tidak melakukan interaksi apapun meski mereka berada di bawah atap yang sama.
Lalu mengapa terasa tidak nyaman saat melihatnya berdiri di bandara dengan koper ditangannya, dan bersiap untuk pergi?
Sebelum menikah dengannya dia selalu tinggal sendiri dirumahnya, hanya dengan dua bulan melihat orang lain dirumahnya terasa sangat berbeda.
Taehyung berbalik, dia terdiam menatap ke arahnya.
Apa yang dia pikirkan?
Apakah dia ingin mengatakan sesuatu?
Mengapa dia terlihat murung? Apa yang membuatnya murung?
Jungkook tidak tahan melihatnya, dia berlari ke arahnya untuk memeluknya.
"Jaga dirimu."
Dan jangan sakit.
Taehyung membalas pelukannya, sangat erat seolah dia ingin menyampaikan sesuatu.
Keluarga mereka sedang menonton, bisakah dia menjadikan mereka alasan untuk menciumnya?
Dia tidak tau mengapa dia merasa emosional dengan pelukan Taehyung, tiba-tiba merasakan dorongan untuk menciumnya.
Taehyung membalas ciumannya, sangat lembut dan berhati-hati.
Hatinya berdebar lagi.
.
.
.
Taehyung telah pergi selama beberapa hari, tetapi dia tidak mengirim satupun pesan untuknya.
Jungkook tidak ingin mengganggunya, lagipula mereka tidak pernah bertukar pesan sebelumnya. Taehyung mungkin tidak nyaman jika dia mengirim pesan untuknya.
Jungkook tidak tahan dengan ke kosongan rumahnya, ini tidak pernah begitu kosong sebelumnya.
Dia menginap dirumah orangtuanya selama beberapa hari.
Ibu dan Jun Ah mungkin mengkhawatirkannya, tetapi apa yang bisa dia lakukan. Dia hanya tidak tahan dengan ke kosongan rumahnya, dan pergi ke rumah orangtuanya untuk memastikan dia tidak sendiri.
Jun Ah mengatakan jika ibunya tidak tahan lagi, dia pergi ke kampusnya untuk mengirim Jungkook ke Korea dan bertemu dengan istrinya.
Jungkook menatap ponselnya untuk waktu yang lama, menimbang-nimbang apakah harus memberitau Taehyung atau tidak.
Taehyung mungkin sedang tidak ingin diganggu.
Jungkook terbang ke Korea dengan perasaan gugup yang terus menempel padanya bahkan sampai dia tiba di Korea.
Dia mendengar seseorang mengatakan tidak ada hotel yang tersisa di malam Natal.
Jungkook memeriksa ponselnya, dia tidak memperhatikan sebelumnya, sehingga dia tidak melihat sebuah pesan dari Taehyung.
Taehyung [Hi, Merry Christmas.]
Jungkook menatap pesan itu untuk waktu yang lama sebelum membalasnya.
.
.
.
Dia hanya tidak melihatnya selama kurang dari sebulan, tetapi dia merasa jika dia tidak melihatnya untuk waktu yang lama.
Saat dia melihatnya membuka pintu, dia merasakan perasaan yang tak terkatakan.
Taehyung mengatakan untuk menetap di apartemennya, Jungkook tidak akan menolak.
Ibu Kim sebelumnya memberitau Taehyung tanggal ulang tahunnya, dia memasang alarm untuk mengucapkan selamat dan memberikan hadiah yang telah dia siapkan sebelumnya.
Dia tidak tau apakah dia berhalusinasi atau tidak, tetapi Taehyung terlihat sangat gugup dengan ujung telinga memerah. Dia bahkan tidak berani menatap matanya.
Manis sekali.
Jungkook telah menahan dirinya untuk waktu yang lama, saat dia menatap ke dalam matanya dia merasakan dorongan untuk menciumnya, memeluknya dan menekannya dibawahnya.
Dia tidak akan melakukan apapun jika Taehyung menolaknya, tetapi Taehyung mengangguk padanya. Membiarkan dirinya menciumnya lagi, memeluknya dan menekannya.
Dia merasakan seperti aliran darahnya mengamuk di dalam dirinya, itu memanas hingga terasa akan meneteskan api.
Jantungnya berdebar dengan sangat cepat seolah itu akan meledak. Perasaan meluap-luap itu terasa seperti akan melahapnya dalam kenikmatan.
Saat dia ingin menggerakkan tangannya dikulitnya, tiba-tiba dia mengingat jika Taehyung harus melakukan penelitian besok pagi. Begitu juga dirinya.
.
.
.
Sejak saat itu hubungannya dan Taehyung menjadi begitu dekat, dia sangat menikmati berada di dekatnya. Memeluknya dan menciumnya, bahkan melihatnya terlelap dalam pelukannya.
Dia tidak pernah merasa begitu hidup dan berwarna.
Dia sangat menyukai perasaan itu dan tidak ingin melepaskannya.
Tetapi dia harus meninggalkan Taehyung lagi, tiga hari yang terasa seperti tiga tahun.
Meskipun mereka menjadi sangat dekat, mereka tidak pernah bertukar pesan atau panggilan.
Jungkook menatap ponselnya dalam diam, menimbang apakah harus menghubunginga atau tidak.
Apakah Taehyung akan merasa terganggu?
Meskipun hanya dengan satu pesan?
Dia hanya ingin tau apa yang dia lakukan saat ini.
Pada akhirnya dia menghilangkan keinginannya untuk mengirim pesan. Dia memilih untuk mengubur dirinya dalam penelitiannya dan segera kembali untuk bertemu dengannya.
Tetapi begitu dia sampai di apartemen, orang yang sangat ingin dia lihat tidak ditemukan dimanapun.
Dia tidak menahan lagi dan mengirim pesan, tetapi tidak ada balasan darinya.
Apakah seharusnya dia tidak mengirim pesan?
Dia tidak menyadari berapa lama dia tertidur sampai dia merasakan sentuhan lembut diwajahnya, sentuhan itu sangat ringan dan lembut seolah disentuh oleh bulu.
Jungkook tidak harus membuka matanya untuk mengetahui siapa pemilik tangan itu. Dia menariknya ke dalam pelukannya, merasakan kehangatan dan kenyamanan yang telah dia nantikan.
.
.
.
Dia berusaha cukup keras, tetapi dia gagal.
Dia tidak lagi bisa menahan perasaan kesal dihatinya saat dia melihat Taehyung menemui orang lain didepannya.
Bukankah mereka menjadi sangat dekat sekarang? Mengapa dia masih begitu dekat dengan orang lain?
Tetapi ketika dia menatap ke dalam matanya dia tidak bisa melakukan apapun.
Dia terlihat senang, itu cukup.
.
.
.
Jungkook merasa jika dia tengah dipermainkan.
Dia terlihat konyol membawa kotak kue pesanan Taehyung, saat orang yang memesan kue tengah tertawa bersama orang lain.
Dia merasa sangat marah meskipun dia telah mendengar penjelasan dari Taehyung.
Mengapa dia begitu marah? Dan mengapa dia memarahi Taehyung.
Dia tidak tahan melihatnya menahan tangisannya, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika dia membuat Taehyung menangis.
Dia tidak dalam pikiran yang baik, dan memilih untuk pergi.
Dia tidak bisa melupakan bagaimana Taehyung terlihat sebelumnya, seolah dengan guncangan sedikit saja akan menumpahkan air matanya.
Mengapa dia mengatakannya?
Mengapa dia membuatnya menangis?
Dia menyukainya, dia ingin melihatnya tersenyum, tertawa, tetapi dia membuatnya menangis.
Jungkook menunggunya untuk waktu yang lama, sampai akhirnya dia mendengar suara pintu yang terbuka.
Dia berlari dan meraihnya ke dalam pelukannya.
Taehyung tidak marah padanya, bahkan tidak ada kekesalan didalam suaranya.
"Aku menyukaimu."
Jungkook merasa seluruh tubuhnya membeku.
Taehyung menyukainya?
Dia bertanya untuk memastikannya, tetapi jawaban Taehyung masih sama.
Dia sangat senang, seperti kembang api meledak di atas kepalanya.
Dia menariknya ke dalam pelukannya, dan tidak akan melepaskannya lagi.
Dia adalah istrinya, orang yang dia nikahi sah secara agama.
Dia akan selalu mencintainya, setia dan jujur kepadanya. Menemaninya dalam keadaan sehat dan sakitnya. Tidak pernah melayangkan tangan atau berucap kasar padanya. Menghargainya sebagai pasangan sampai ajal menjemput, seperti janji pernikahan mereka.
