Terharu banget fic ini bisa dapet tanggapan positif dan semangat dari kalian~
Dan aku bakal tetep semangat dan berusaha buat namatin fic ini kok!
"Bisa kah kau ikut dengan ku? Aku ingin berbicara empat mata dengan mu, Fang."
Kulit Fang terasa panas sehabis pertarungan dan tidak nyaman karena keringat, dia pun mengangguk. Mengikuti Boboiboy melewati lapangan tempat berlatih dan menuju bangunan di tengah perkemahan. Boboiboy sesekali akan membalas sapaan dari para prajurit yang di lewatinya, dan berhenti sekali hanya untuk mengagumi seekor kuda yang sedang di bawa oleh seorang prajurit.
Tidak lama setelah itu mereka memasuki bangunan terbesar di perkemahan tersebut, tetapi tidak sebesar istana milik Ying.
"Lewat sini." Kata Boboiboy, memimpin Fang menaiki tangga. Memasuki sebuah ruangan, lalu dia segera menyalakan lampu dan mata Fang menjelajah di sekitar ruangan tersebut. Ini jelas kamar sang Raja, tetapi sekali lagi tidak semewah seperti kamar pribadi Ying. Perapian kecil menyala dengan panci berisi air di atasnya, kasur sederhana dan beberapa bantal. Ada karpet besar di lantai, dua kursi di meja kecil, dan meja lainnya dengan peta besar dan kertas di atasnya.
Ini adalah kesempatan sempurna untuk membunuh Boboiboy. Sebelumnya Boboiboy sudah mengembalikan pedangnya di tempat pelatihan. Dan tanpa senjata Fang akan dengan mudah untuk menebas kepalanya. Saat Fang berbalik untuk melakukannya, langkahnya terhenti saat Boboiboy sedang melepaskan pakaiannya dan melemparkannya ke atas bangku. Boboiboy menuangkan air ke dalam baskom, lalu membasuh wajahnya beberapa kali. Fang memperhatikan dengan agak terpesona ketika tetesan-tetesan air mengalir di lehernya dan terjun bebas ke lengan dan tubuh lainnya. Kembali membasuh, Boboiboy membasahi rambut cokelatnya yang berantakan dan merapihkan nya dengan jari-jari tangannya.
Matanya memandang Fang saat dia masih sibuk membasuh tangannya. "kau bisa menaruh pedang mu, Fang." Dia terkekeh.
Fang menelan ludah dan mengangguk. Dia seharusnya membunuh sang Raja—tetapi perasaan lain seakan menahannya, dan dia pikir mungkin itu hanya perasaan kehati-hatian. Lagi pula apapun yang berhubungan dengan Ochobot harus di tangani dengan hati-hati, ucapnya pada diri sendiri. Jadi saat Boboiboy mendekat ke meja, Fang memasukkan senjatanya. Dan meletakkan di sisinya.
"apa kau juga mau mencuci muka?" Boboiboy bertanya, menunjuk ke arah baskom tadi. "ada air bersih di sana, lalu kita bisa minum. Aku ingin mendengar lebih banyak tentang mu."
Boboiboy mulai menuangkan anggur, dan Fang pun berlalu untuk membasuh wajah dan tangannya. Airnya terasa hangat tapi menyegarkan, dan Fang merasa lebih segar dari pada sebelumnya. Boboiboy memberi isyarat pada nya untuk duduk di sebuah kursi dan memberikannya secangkir anggur.
Fang duduk dan mengambil cangkir itu. Minuman itu kental dan beraroma, membantu menenangkan sarafnya. Keheningan aneh terjadi, diam tapi tidak canggung. Saat Fang meletakkan kembali gelasnya ke atas meja itu menimbulkan bunyi 'Tak' pelan.
"Kau berasal dari mana, Fang?"
Iris nya bertemu dengan hazel milik Boboiboy. "Valetta."
"Baiklah." Boboiboy memiringkan wajahnya. "apa yang sebenarnya kamu rencanakan?"
"Sudah ku bilang, aku sedang mencari seseorang." Jawab Fang datar.
"itu mungkin benar. Tapi tidak seluruhnya." Boboiboy mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh sikunya di atas meja. "siapa kau sebenarnya? Kamu bukan orang biasa, itu jelas. Gaya bertarung mu sangat terlatih, kekuatanmu sangat kuat, aku tidak pernah bertarung sampai seperti itu sebelumnya."
Pernyataan sang Raja cukup mengejutkan, dan alis Fang terangkat sebagai balasan. "Itu apa yang aku pikirkan. Apa kau seorang mata-mata?" Fang diam tidak menanggapi, Boboiboy melanjutkan. "Apa kau seorang pembunuh bayaran?"
Lagi-lagi Boboiboy hampir menyentuh kebenaran. "Lalu? Jika pun iya apa ini akan membuat perbedaan?" Fang bertanya, berharap bisa mengubah topik pembicaraan.
"Jika itu memang benar. Kau bisa membahayakan orang-orangku." Boboiboy mengambil gelasnya, tetapi sebelum meminumnya dia kembali meletakkan gelasnya dengan perlahan. "Apa kau tahu tentang Ratu Ying?"
"Sebenarnya aku sudah bertemu dengannya." Jawab Fang.
Fang tetap menatap mata cokelat itu, mencoba melihat reaksinya. Boboiboy diam, wajah bersahabatnya menghilang di gantikan dengan tatapan tajam. "Jadi, kau tahu jika aku mencoba... merebut takhtanya. Apa dia yang mengirimmu ke sini?"
Fang mengangkat dagunya. "Aku tidak menerima perintah dari Ying."
Itu kebenaran dan Fang merasa lega dengan hal itu. Boboiboy mengangguk. "Lalu, apa kau mau menjadi anggota pasukan ku? Apa kau mau membantuku membebaskan Valetta dari kekuasaannya?"
"Kenapa kau ingin melakukan itu?" Fang bertanya penasaran. "Apa yang Ying lakukan sangat buruk?"
"Tidak ada, sebenarnya." Kata Boboiboy sambil tertawa kecil. "Dia tidak begitu kejam seperti Raja kebanyakan dan dia cukup peduli pada rakyatnya. Tapi dia mendapatkan takhta itu dengan cara tak terhormat. Banyak yang mengatakan, jika dia sangatlah kuat. Dan orang sepertinya tidak pantas untuk di percayai memimpin kerajaan. Hanya mereka perwakilan Tuhan yang dapat di percaya. Dia lebih tepat di sebut Iblis."
Fang mengerutkan kening. Penjelasan yang di berikan oleh Boboiboy bertentangan dengan apa yang ia dapatkan dari Ying. Fang bertanya-tanya seberapa besar pengaruh Ochobot padanya. "Kau menyembah Tuhan?" Fang bertanya.
"Aku mengabdikan hidup ku pada-Nya." Jawabnya. "Aku menghargai siang dan malam. Dingin dan panas. Kematian dan kehidupan. Aku percaya pada kebaikan."
"Lalu perang?" Ucap Fang menantang. "Apa kau percaya itu juga?"
"Aku benci perang." Boboiboy menghela nafas, pandangannya mengarah ke bawah. "Jika ada cara damai untuk menyelesaikan ini pasti ku lakukan. Tapi Ying tidak akan membiarkan itu, jadi aku harus merebutnya bahkan jika itu dengan kekerasan."
Boboiboy mengambil gelasnya dan menegaknya dalam waktu lama. "Apa yang membuat mu percaya bisa mengambil takhtanya?" Tanya Fang.
Boboiboy tersenyum lagi saat dia meletakkan gelasnya. Fang bertanya-tanya apa ada orang yang begitu sering tersenyum sebanyak ini seperti Boboiboy. "Aku berhasil menguasai kekuatan Elemental." Ucapnya pelan.
Mendengar hal tersebut mengirimkan sengatan kecil pada Fang. Dia mengingat perkataan Ying jika sang Raja berhasil menguasai kekuatan Elemental nya perang tidak bisa di hindari. Tanpa sadar telapak tangan Fang menyentuh gagang pedang di sisinya. "Kekuatan Elemental." Ucapnya pelan.
Boboiboy mengangguk, ekspresinya menjadi serius. "Mereka ku dapatkan dari Bola Kuasa. Dengan Ketujuh Elemental yang ku miliki itu akan menyelamatkan Valetta dari kegelapan."
Menyelamatkan dari kegelapan, itu kalimat yang sama yang di katakan Ying padanya. Jika Manusia di depannya tidak berniat membawa dunia pada kegelapan, lalu apa yang dia lakukan di sini?
Fang berdiri, dia harus bertemu dengan Ying dan meminta penjelasan lebih darinya. Fang berjalan menuju pintu, tapi Boboiboy memanggilnya dan berlari menuju Fang, menghalangi jalannya. "Kau mau pergi ke mana, Fang?" Boboiboy bertanya dengan ekspresi bingung.
"Aku harus pergi." Kata Fang, bergerak melewati Boboiboy.
Boboiboy mencoba menghalanginya lagi. "Ku mohon, kau tetap di sini. Aku tidak tahu apa aku membuat kesalahan, tapi..." napas Boboiboy sedikit terengah-engah, bola matanya menatap Fang ragu. Tangannya menyisir rambut coklat itu, dan untuk sesaat Fang bertanya-tanya seperti apa rasanya.
Mata Fang berkedip dan Boboiboy melanjutkan. "Aku tahu urusanmu sepertinya sudah selesai di sini. Kau tidak di sini untuk membunuh ku, itu karena kau bisa saja membunuh ku dari tadi, tapi kau tidak melakukannya." Boboiboy tersenyum kecil. "Jadi apa kau bisa bergabung dengan ku? Keterampilanmu dalam berpedang sangat bagus, aku bisa mengangkat mu menjadi pemimpin pasukan. Atau menjadikanmu perwira, dan memimpin beberapa pasuk—"
"Tidak." Fang mendorong Boboiboy yang menghalangi nya lalu kembali berjalan menuju pintu. Dan menggeram frustrasi saat Boboiboy sekali lagi menghentikannya. Tangan Boboiboy sengaja menahan gagang pintu dan bersender di sana. Mereka saling melotot. "Aku tidak tertarik." Kata Fang.
"Biarkan aku membuat kesepakatan." Ucap Boboiboy. "Kau akan bergabung dengan pasukanku dan menjadikanmu kapten. Kau dengan Gopal akan melatih prajuritku dan membantuku dalam strategi. Dan sebagai balasannya, aku akan membantumu menemukan siapa yang kau cari."
Untuk sesaat Fang bingung, dan teringat jika itu adalah alasan yang dia berikan pada Boboiboy. Fang membuka mulutnya untuk kembali menolak, tetapi Boboiboy berkata. "Aku kenal dengan seseorang yang sangat kuat. Kau bisa mengatakannya sebagai penyihir. Dan aku jamin dia bisa membantu mu menemukan orang yang kau cari."
Ochobot. Pasti dia yang di bicarakan oleh Boboiboy. Seketika benak Fang penuh dengan rasa kebencian. Dan tiba-tiba selintas ide gila muncul di benaknya; Jika Fang berada di dekat Boboiboy, itu pasti akan membuatnya bertemu dengan Ochobot. Dia menebak jika dia bertanya pada Ying itu tidak akan menghasilkan apapun. Jika Boboiboy memang benar adalah orang penting bagi Ochobot, ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi Fang untuk membalaskan dendamnya.
"Baik." Kata Fang. "Aku akan tetap berada di sini. Tetapi hanya selama itu berguna bagiku."
Boboiboy tertawa, menggelengkan kepalanya pelan. "Tentu saja! Sekarang ayo kita bicarakan tentang rencanaku untuk penyerangan selanjutnya. Aku yakin dengan mata cermat mu, kau bisa menemukan kekurangan dalam strategi ku."
Fang berjalan kembali ke meja, sang Raja kembali menuangkan anggur lebih banyak pada gelas mereka dan menata kertas-kertas yang berantakan. Fang memperhatikan dengan perasaan bimbang, tidak yakin dengan apakah tindakannya sudah tepat. Tetapi akhirnya memutuskan untuk membiarkannya seperti ini, setidaknya untuk saat ini.
Moga pembaca kagak keburu lumutan karena kelamaan nunggu nih fic update T_T
