Gomen aku baru bisa update sekarang TT
Sore berlalu, Boboiboy dan Fang masih terlarut dalam pembicaraan, sampai matahari tenggelam di ujung langit. Boboiboy menjelaskan rencana selanjutnya dalam penyerangan kerajaan Ying, mencari desa-desa yang kemungkinan bersekutu dengan kerajaan Ying dan menjelaskan strateginya untuk setiap pasukan. Fang mendengarkan dengan seksama, tidak menyela, dia akan berbicara ketika di butuhkah—menjelaskan kekurangan dan memberikan strateginya.
Hal lain yang dapat Fang simpulkan adalah Boboiboy memiliki sikap bersahabat. Dia selalu tersenyum dan bersikap ramah, memberikan aura positif di sekitarnya. Hal yang sangat berbeda jika di bandingkan dengan Ratunya. Tetapi Boboiboy mengambil peran nya sebagai Raja dengan baik, dengan umurnya yang sangat muda dia dapat mengumpulkan banyak orang untuk berjuang bersama dalam merebut Valetta... begitu pun Fang.
Mungkin itu sebabnya, Fang cukup merasa senang dalam diskusi kali ini. Boboiboy kembali memeriksa peta dan catatan dengan serius, kadang mencoret kertas jika di perlukan, alis hitamnya menukik tajam tenggelam dalam konsentrasi.
Pengetahuan Boboiboy tentang Valetta sangat mengesankan; dia tahu tentang persebaran jenis tanah dan bagaimana hal itu akan memengaruhi kuda-kuda dalam berjalan, atau tempat yang baik untuk mendapatkan makanan dan air.
Boboiboy makan malam dengan pasukannya, seperti kebiasaannya. Dia terganggu ketika sudut matanya menangkap pria berambut ungu duduk sendirian dan tidak berbicara pada siapa pun.
Orang-orang yang berada di sekitar Boboiboy mencoba mengajaknya berbicara atau memberikan lelucon, yang hanya dia tanggapi datar. Gopal yang berada di dekatnya memperhatikan sikap Boboiboy yang tidak seperti biasanya. Setelah itu Boboiboy pergi ke salah satu api unggun sudut kamp, menghangatkan tangannya dengan panas sambil menatap cahaya oranye di depannya. Bertanya-tanya kenapa dia begitu memikirkan Fang.
"Anda seperti bukan diri Anda sendiri, Yang Mulia."
Boboiboy mendongak dari api dan melihat Gopal berdiri dengan tangan terlipat. "Ada hal yang mengganggu, Yang Mulia?"
Sang Raja mendengus. "Apa begitu terlihat?"
"Tidak semuanya." Gopal duduk di sebatang kayu yang tersedia, dan Boboiboy hanya diam saat Gopal sibuk mencari posisi yang membuatnya nyaman. Gopal lebih tinggi, dan gemuk dari Boboiboy, juga umur mereka yang berbeda setahun, Boboiboy sudah menganggap Gopal sebagai seorang Kakak yang melindunginya. Dia menaruh seluruh kepercayaannya kepada Gopal dan itulah yang membuatnya tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. "Apa ini karena para prajurit baru?" Boboiboy diam dan Gopal melanjutkan. "Maksudku pemuda berambut ungu tadi, dia menarik."
"Kurasa." Jawab Boboiboy.
"Aku belum pernah melihat gaya bertarung seperti itu, pemuda itu jelas sudah terlatih. Apakah Anda pikir dia semacam pembunuh bayaran?"
Boboiboy melirik. "Kau berpikir dia datang untuk membunuhku?"
"Tidak, dia belum membunuh Anda sampai sekarang."
Boboiboy terkekeh. "Senangnya, kamu perhatian sekali Gopal."
Gopal hanya diam dan tidak membalas ejekannya. "Ada yang aneh tentang pemuda itu." Gopal menaruh tangannya di atas lutut, dan Boboiboy diam memperhatikan sikap Gopal yang sangat serius. Ada sesuatu yang jelas mengganggu benak sang Jendral.
"Ku pikir kau tidak khawatir." Boboiboy bertanya.
"Aku tidak mengatakan itu." Jawab Gopal.
Mereka terdiam selama beberapa menit, dan keduanya membuka mulut di saat bersamaan. Kedua pria itu tertawa dan Boboiboy bertanya. "Ayo, apa yang ingin kamu katakan Gopal?"
"Hanya saja perekrutan hari ini berhasil." Jawabnya. "Kita harus bersiap untuk bergerak dalam tiga hari ke depan. Dengan kekuatan pasukan yang besar, kita akan bergerak menyerang Ying. Strateginya belum berubah, kan?"
Boboiboy merasakan sedikit panas di telinganya, memikirkan perubahan kecil yang Fang sarankan. Mencakup rute mereka juga langkah-langkah yang lebih tepat. "Tidak banyak." Katanya, berusaha menggunakan nada tidak peduli. "Hanya hal kecil yang berubah, aku bisa menjelaskan padamu besok."
Boboiboy mencoba melirik pada Gopal. Dan menelan ludah gugup saat dia melihat raut bingung di wajah Gopal. Tapi sebelum Gopal akan menjawab, sosok Fang yang berjalan ke arah mereka menarik perhatian Gopal dan dia langsung berdiri.
Fang terlihat sangat marah, kilatan di matanya membuat jantung Boboiboy berdebar. "Boboiboy." Katanya tanpa basa-basi. "Ada sekelompok perampok menuju ke sini, dan—"
"Kurang ajar!" Teriak Gopal dan bergerak cepat ke arah Fang. "Kau beraninya berbicara dengan Yang Mulia dengan cara seperti itu!"
Fang mendongakkan wajahnya untuk menatap Gopal yang menjulang tinggi di hadapannya. Fang menatap tajam padanya dan Boboiboy harus menahan tangan Gopal sebelum pukulan di mulai. "Tidak apa-apa." Katanya pada Jendral. Dan kemudian berbalik pada Fang. "Tapi mungkin kau seharusnya lebih menunjukkan kehormatan padaku."
Sejenak Boboiboy melihat tatapan gelap dan berbahaya melintas di wajah Fang. Sekali lagi, gagasan bahwa ada sesuatu hal aneh tentang Fang muncul di benaknya, tetapi Boboiboy mencoba menepisnya. "Baik." Bentak Fang. "Ada sekelompok perampok di daerah luar, Tuan. Penjaga Anda pingsan karena mereka. Jika Anda tidak melakukan sesuatu, Anda akan segera menemukan perampok itu di dalam kamp Anda."
"Di dalam sini terdapat tiga ribu orang prajurit." Gopal memotong. "Ini bisa di jadikan latihan."
"Tiga ribu orang." Bisik Fang. "Dan berapa banyak yang benar-benar siap untuk bertarung?" Fang memberi tatapan merendah kepada Jendral sebelum kembali ke Raja. "Mereka juga berhasil menyembunyikan diri dari pengintai Anda. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyusup; lalu membakar kamp dan memulai pertarungan dengan prajurit yang masih terjaga, kemudian mencuri kuda-kuda dan persediaan kita."
Boboiboy menatapnya dari dekat. "Bagaimana kamu tahu semua itu?"
Dia melihat Fang mengetatkan rahangnya, nafasnya terlihat susah saat dia menelan ludah. "Aku ahli dalam mengumpulkan informasi." Katanya sebagai jawaban. "Aku akan pergi untuk melihat berapa banyak mereka dan mencari tahu tentang persenjataan mereka, dan Anda bisa membuat keputusan dengan informasi tersebut."
Fang berbalik untuk pergi dan Boboiboy bergegas mengikuti. "Tunggu! Aku akan ikut!"
Fang menatap ke belakang bersamaan dengan Gopal yang memprotes. "Yang Mulia! Anda tidak bisa pergi sendiri. Para perampok itu bisa berbahaya, biarkan aku—"
"Aku tidak sendirian. Aku akan bersama Fang." Dia bersikeras. "Aku perlu mempelajari ini secara langsung. Ini hanya untuk mencari informasi, tidak ada perkelahian. Kamu tinggal di sini dan memanggil para prajurit untuk bersiap. Aku percaya kau akan mengatur semuanya sampai aku kembali."
Boboiboy berucap dengan penuh otoritas, tidak ingin di bantah. Gopal pun tidak punya pilihan selain mengangguk pada perintah tersebut. Dia berbalik dan melangkah menuju tempat kuda-kuda itu di simpan, mencoba menutupi senyum saat dia melihat ekspresi Fang. Dia tampak hampir terkesan, atau paling tidak terkejut, dengan perintah Raja.
"Apa yang kamu lihat?" Boboiboy bertanya.
Fang mengatupkan bibirnya pelan, perlahan dia mencoba mengintip di kegelapan. "Lima puluh." Katanya pelan. "Mereka hanya berdiri saja. Sepertinya tidak terlihat pemimpinnya, jadi mereka mungkin sedang menunggu sesuatu."
Fang menyudutkan sisi matanya untuk melihat Boboiboy yang mengangguk, dan kembali melihat ke depan. Tidak mungkin bagi seorang manusia untuk melihat di kegelapan—terlebih jika perampok yang sedang mereka intai berjarak dua mil jauhnya—ini menarik bagi Raja untuk mencobanya. "Kau memiliki mata yang tajam." Katanya, menyeringai pada Fang. "Aku tidak bisa melihat apa pun dalam gelap."
Fang berdeham, pujian membuatnya tidak nyaman. "Kita harus kembali." Katanya. "Masih ada banyak waktu sebelum mereka akan menyerang kamp."
"Tidak." Jawab Boboiboy. "Tidak, sampai kita tahu siapa pemimpinnya."
Ucapan tersebut terdengar mutlak dia atas kekuasaannya sebagai Raja. "Tidak masalah siapa pemimpinnya." Ucap Fang. "Yang terpenting adalah jumlah mereka, dan kita sudah tahu."
"Apakah kamu hanya peduli dengan strategi Fang? Lagi pula, ada lebih banyak hal dalam hidup dari pada bergantung pada peluang."
Fang memberikan tatapan aneh, tetapi lengkungan di bibir Boboiboy mengatakan padanya jika Raja sedang menggodanya. Fang membuka mulutnya untuk membalas tentang pentingnya informasi dan bahwa hidup tidak akan penting tanpa hal tersebut sebelum dia kembali menutup mulutnya. Sudah lama sejak Fang berada di sekitar seseorang yang memiliki jiwa muda, jika di ingat Fang selalu mendengar ceramah dari penatua yang jarang bisa dia bantah.
Jadi Fang berbalik untuk pergi dan mengabaikannya. Membiarkan Boboiboy menunggu pemimpin itu. Lagi pula ini akan mempermudah Fang, jika Raja mati terbunuh urusannya akan selesai.
Sebuah panah meluncur tiba-tiba, sebelum Fang menyadarinya benda tersebut sudah menyerempet pipinya. Bersamaan dengan Fang yang mencoba menghindar, dia mendengar Boboiboy berteriak padanya. Boboiboy menarik pedangnya saat lebih banyak anak panah terbang ke arah mereka.
"Keluar!" Teriak Boboiboy pada sekeliling. Fang terdiam di tempatnya, alisnya mengernyit saat menemukan sumber serangan.
"Boboiboy." Desisnya. "Naiki kudamu dan pergi dari sini."
"Tidak!" Boboiboy memandangnya, resah dan geram. "Aku tidak akan meninggalkanmu."
Fang mengepalkan tangannya. "Aku bisa menangani ini sendiri." Katanya. "Pergilah dan—"
"Tidak! aku tidak akan pergi."
"Kalian di kepung!" Sebuah suara berteriak, menarik Fang untuk menatap sekeliling. Ada sepuluh orang yang mengepung mereka, dan empat puluh sisanya bergegas ke arah mereka. Jika dia tidak bertindak cepat, Boboiboy akan dalam bahaya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Teriak salah seorang dari mereka. "Jatuhkan senjata kalian dan serahkan barang berharga lainnya. Kalian masuk tanpa izin di wilayah kami."
Sebelum Fang membuka mulut untuk menjawab, Boboiboy menyelanya terlebih dahulu. "Aku adalah Raja Valetta, Boboiboy dan penguasa mutlak wilayah ini. Letakkan senjata kalian dan menyerahlah."
Dalam hati, Fang hanya bisa mengutuk. Kenapa Boboiboy mau repot-repot memberi tahu siapa mereka? Fang sudah menebak, benar saja para perampok tersebut mulai tertawa. "Dia hanya seorang bocah." Ucap salah seorang. "Tapi jika dia benar seorang Raja, mari kita lihat apa yang akan dia lakukan."
"Bersiap!" Teriak seorang, dia seperti pemimpin di antara mereka.
Selepas itu, para perampok itu bergerak secara bersamaan, Fang bersiap-siap. Kekuatan kegelapannya tidak ia gunakan untuk sekarang. Pedangnya mahir menari di udara, menusuk, menebas, tidak memperdulikan pukulan yang mengenai tubuhnya atau darah mengalir dari tubuhnya. Manusia tidak bisa membunuh Iblis, jadi Fang hanya menganggap ini hanyalah permain kecil. Lagi pula jika para perampok itu mati, Fang bisa mempermainkan mereka di Dunia Bawah.
Saat Fang berbalik untuk melihat apa kah Raja masih hidup, dia sedikit terkejut saat Boboiboy tidak hanya baik-baik saja, dia menang. Wajah Raja terlihat seperti pembunuh, yang membuat Fang terpaku sejenak. Mata coklat itu berkedip menampilkan iris gelap saat dia menebas senjatanya, membunuh para perampok tanpa ragu atau takut. Fang telah melihat begitu banyak kematian setiap harinya, tetapi saat dia melihat sang Raja membunuh orang tanpa ragu, cukup membuatnya terkejut.
Pertarungan berakhir dengan menyisakan selusin perampok. Mereka mungkin tidak terampil dalam berkelahi dan secara perlahan mundur dengan gugup, menatap satu sama lain. Boboiboy mengacungkan pedangnya dan menatap tajam ke arah mereka. "Kalian punya pilihan, jadi pilihlah dengan baik." Katanya. "Bergabunglah dengan pasukanku dan aku akan mengampuni kalian. Atau, aku akan memberikan kalian kematian yang cepat."
Mereka saling melirik dan Fang menatap mereka yang masing-masing mulai bersujud untuk Raja. Dia melihat jika bahu Boboiboy sudah mulai santai, tapi nadanya tetap berwibawa. "Serahkan senjata kalian terlebih dahulu. Lalu pergi ke arah timur sejauh tiga mil. Kalian akan menemukan pasukanku di sana. Tunggu aku kembali."
Para perampok berdiri dan menuju ke timur setelah menjatuhkan senjata mereka di kaki Raja. Begitu mereka pergi, hutan kembali menjadi sunyi, dan Boboiboy kembali terlihat tenang. Matanya melirik Fang dari balik bahunya sambil menyarungkan pedang di sampingnya. "Tunggu sebentar." Boboiboy tersenyum padanya.
Iblis itu tidak menjawab, matanya tetap mengawasi saat Boboiboy berjalan, berhenti sebentar di setiap mayat perampok. Dia berdiri dan menatap sedih, membungkuk sesekali untuk menutup mata mayat itu, atau hanya untuk meletakkan tangan mereka di atas perut. Setelah selesai, dia menarik pedangnya dan menancapkannya pada tanah, lalu berlutut.
"Semoga Tuhan mendengar doa ku." Boboiboy memulai. "Sertai lah jiwa-jiwa mereka saat pengadilan di Dunia Bawah, semoga mereka dapat menghadapi penghakiman bukan karena perbuatan mereka, tetapi karena hati nurani mereka. Mereka adalah orang-orang baik, dan saya percaya itu benar. semoga mereka di berikan kedamaian Firdaus. Amin."
Boboiboy terdiam untuk sesaat, dan Fang hanya bisa menggigit lidah. Dia menghembuskan nafas kasar ketika Raja berdiri, dan sekali lagi niat membunuhnya ia tahan. "Aku benci membunuh." Desis Boboiboy.
"Tapi kau terlihat seperti sudah ahli dalam hal itu." Sindir Fang. Dia sebenarnya terkejut, dengan cara manusia itu membunuh seakan itu hal biasa dan lebih lagi ketika dia berdoa untuk orang yang sudah dia bunuh. Benar-benar Konyol! "Mereka mungkin orang baik, tetapi mereka telah berdosa." Lanjutnya. "Dan kau juga telah membunuh mereka karena kejahatan mereka."
Dia mengharapkan Boboiboy goyah sedikit pada tuduhan, tetapi sebaliknya Boboiboy membalas sindirannya. "Itu adalah takdir. Walaupun aku percaya takdir mereka bisa lebih baik dari ini." Jawabnya. "Dan aku juga akan menghadapi Dunia Bawah sama seperti lainnya. Untuk mengadili dosa- dosaku."
Fang mendengus pelan. "Ku pikir kau hanya percaya pada konsep Tuhan. Dan bukannya neraka surga."
"Percaya tidak percaya." Fang sedikit terkejut pada tanggapan tersebut. Boboiboy tersenyum padanya dan melihat sekeliling sambil menghela nafas. "Kita harus memakamkan mereka dengan layak. Jika tidak, jiwa mereka tidak akan di terima Dunia Bawah."
Pernyataan yang konyol. Dari mana manusia-manusia itu membuat peraturan?
"Aku akan membereskannya." Kata Fang, dan Boboiboy memandangnya dengan heran, "Kau harus menemui perampok tadi sebelum Gopal membunuh mereka di perkemahan."
Raja memandangnya untuk waktu lama, dan kemudian mengangguk. "Baiklah, jika kamu mau. Sampai jumpa di kamp." Dia berjalan menuju kuda dan menaikinya, bergerak dengan hati-hati melalui sisa-sisa pertarungan.
"Apa kau akan kembali?" Boboiboy bertanya. "Ada yang ingin ku berbicara dengan mu." Fang mengangguk setelah lama diam. Dan Boboiboy pergi setelahnya. Iblis berdiri sendirian di tumpukan mayat, dan dia bertanya-tanya apakah jiwa mereka telah sampai di ruang tahta, apakah Sang Ratu telah mengirim mereka ke surga atau neraka. Fang sedikit ragu jika jiwa mereka bisa di terima di surga, mungkin neraka untuk sebagian besar. Dan tentu Fang akan menemukan mereka di sana nanti.
Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, jadi Fang menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya. Tangannya bergerak, dari sana dia mengeluarkan api, bergerak ke permukaan tanah. Nyala api dengan cepat menyebar dan membakar mayat-mayat itu, Fang diam mengawasi saat perlahan-lahan pakaian dan daging berubah jadi abu. Tidak masalah dengan apa yang terjadi pada tubuh; begitu seseorang mati, jiwanya akan pergi untuk perjalanannya di Dunia Bawah. Tapi ini penting bagi Boboiboy, jadi dia menunggu lebih lama, memastikan tidak ada yang tersisa.
.
.
TBC
.
.
.
Maap guys Gopal nya ooc banget :v
