Disclaimer: Sepanjang sejarah manusia, bocah ingusan macam saya belom pernah memiliki Star Trek dan mengambil keuntungan atas itu. Star Trek itu punya Gene Roddenberry. Dan J. J. Abrams untuk versi barunya.
WARNING: non-slash Mpreg, aneh, abal, dan mungkin OOC.
Chapter 2
.
"Dan masa pon farr-ku tidak terjadi tahun ini."
Leonard termangu. Dua menit kemudian dia berkata, "Tapi Spock, pusing, tidak nafsu makan, muntah-muntah, dan—hell—wajah pucatmu itu? Itu semua membuatnya jelas bahwa kau sedang hamil. Dan aku yakin hasil pemindaian ini bukan kesalahan teknis."
Spock terdiam. Ia sebelumnya memang sudah mengetahui bahwa ia termasuk Vulcan laki-laki yang bisa mengandung.
Tapi bagaimana bisa? Ia bahkan tidak memasuki masa pon farr tahun ini. Organ reproduksinya memang tetap memproduksi, tapi jika tidak didorong dengan pon farr, kecil kemungkinan bagi Vulcan yang belum menikah untuk melakukan mating. Terlebih jika Spock melakukan mating dengan laki-laki. Bisa-bisa Spock bukan lagi dianggap anak oleh ayahnya, Sarek, kalau begitu caranya. Walaupun—entah sejak kapan—Spock merasa seperti tidak punya ayah. Dan merasa yatim-piatu sejak ibunya meninggal. Ia bahkan hampir menganggap bahwa dirinya-yang-lebih-tua lah sosok ayahnya yang sebenarnya. Dimana pria itu jauh lebih sering bicara padanya ketimbang Sarek sendiri sejak Vulcan musnah.
"Spock?" Panggil Leonard karena Vulcan di depannya tidak kunjung menyahut.
"Dokter," Spock menghela napas. "Ini pasti kesalahan teknis dan aku mungkin mengidap penyakit lain yang memang sulit dideteksi. Mari kita berpikir secara logika saja. Selama hidupku aku belum pernah melakukan mating—dalam masa pon farr sekalipun. Aku bertahan hidup dari pon farr karena aku melakukan meditasi intensif. Kurasa tidak perlu kujelaskan lagi padamu tindakan apa saja yang harus dilakukan Vulcan pria saat masa pon farr—" Leonard mengangguk cepat. "Dan terakhir kali aku dalam masa pon farr adalah dua tahun lalu. Jadi tidak mungkin—"
"Spock, hormon yang kau hasilkan cukup untuk membuktikan kau hamil 12 sampai 13 minggu." Potong Leonard yang sebelumnya kembali melirik ke tablet hasil pemindaian.
"Dr. McCoy, aku tahu aku bisa mengandung. But this case is illogical!"
"Spock, ini sudah masuk logika! Kita sudah punya bukti kuat kalau kau sedang hamil."
Hening.
.
.
Spock memasuki anjungan setelah mendapatkan izin dari Kapten Kirk. "Hey, Mr. Spock, bagaimana hasilnya?" Tanya Jim. Tatapannya mengunci pada Spock yang lenggang-kangkung ke komputer kerjanya. Vulcan itu sepertinya tidak berniat menjawab. Beberapa detik kemudian Jim mendekati temannya. "Hey. Spock."
"Ya, Kapten?" Spock menyahut tanpa mengalihkan pandangannya ke Jim—yang berdiri di samping kanannya. Tapi tatapannya malah bertemu dengan Nyota—yang ada di kirinya—ketika ia mengutak-atik konsol yang berada di kirinya. Letnan wanita yang menekuni bidang xenolinguistic itu terus menatapnya, yang ia balas dengan satu alis ditautkan. Nyota langsung menghela napas gemas separuh kesal.
"Spock, wajahmu terlihat pucat. Tidak biasanya," Kata-kata Jim sontak membuat tangan sibuk Spock terhenti di udara. "Apa yang salah denganmu, pal? Katakan padaku,"
Spock tetap diam, melanjutkan kegiatannya lagi beberapa detik kemudian. Jim dan Nyota memutar bola mata nyaris di saat yang bersamaan. Jim menghela napas lelah. "Spock,"
"Ya, Kapten?" Spock menjawab dengan kalimat yang sama dan dengan nada yang sama pula.
"Kau perlu istirahat," Tidak ada sahutan dari sang Vulcan. "Spock." Jim menaikan nada suaranya satu oktaf.
Spock akhirnya menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Jim. "Ya?" Katanya.
"Kau perlu istirahat, oke?" Jim masih menggunakan nada yang sama.
"Istirahatlah sampai pukul 11 lewat 30. Lalu kembalilah ke sini. Aku perlu bicara padamu dan Bones soal John Harrison." Suaranya memelan separuh memohon, memberi isyarat pada Spock untuk tidak membantah.
Spock menoleh ke Nyota. Nyota mengangguk kecil, mengiyakan saran Jim. Spock menoleh kembali ke Jim.
"Itu perintah, Komandan Spock." Jim mempertegas.
"Baiklah, Kapten." Ia berdiri. "Meminta izin meninggalkan anjungan,"
"Izin diberikan, Mr. Spock."
.
.
Spock tengah berbaring di ranjang kabinnya, mencoba untuk tidur barang setengah jam. Jim benar—dan Spock mengakuinya—bahwa ia memang harus istirahat, atau setidaknya hanya sekedar duduk tanpa harus menyentuh layar di sana-sini dan pusing-pusing melakukan hitungan untuk memperoleh data yang harus dilaporkan. Spock membuka matanya kembali, teringat dengan kejadian di sickbay bersama Dr. McCoy. Matanya menatap lurus ke langit-langit kabin. Dua kemungkinan soal penyakitnya, kesalahan teknis atau memang fakta.
Berpikir soal fakta, salah satu yang terbesit di pikiran Spock adalah ia telah melakukan mating dengan seseorang—entah manusia atau Vulcan—tanpa dia sadari atau tanpa dia ingat. Tapi nampaknya hal itu mustahil, atau dalam bahasa Vulcan disebut 'tidak logis'. Mungkin bisa saja menjadi 'logis' jika ia dalam masa pon farr. Tapi nyatanya tidak begitu. Jadi, mari lupakan cabang kemungkinan yang satu ini.
Cabang kemungkinan yang lain adalah—
Bip, bip.
"Spock,"
Spock tertegun dengan suara yang didengarnya. Suara yang familiar.
Ia duduk di pinggir ranjang dan menoleh ke dinding untuk melihat sosok yang muncul dalam layar hologram. Orang itu sudah renta—tetapi masih gagah dan tegap—dengan latar tanah cokelat muda berpasir dan pegunungan gersang terhampar di belakangnya.
Vulcan setengah manusia itu terkejut—walau tidak menampakkannya. "Father?" Spock menyadari bahwa ia berpikir sang ayah bukanlah kemungkinan nomor satu orang yang menghubunginya. Itu membuatnya merasa sedikit bersalah.
"Salam, son."
"Salam, father."
"Ada sesuatu yang harus kuberitahu. Sesuatu yang logis yang harus diberitahu dan dibicarakan." Seperti biasanya, Sarek berbicara dengan mimik dan nada serius pada Spock. Tanpa adanya gelombang pembicaraan santai. Ataupun keakraban.
"Apa itu, father?" Sang putra menyahut.
"Ini tentang ras kita, ras Vulcan." Jeda sejenak. "Seperti yang kau ketahui, jumlah Vulcan yang tersisa di alam semesta hanya 1500 jiwa." Tersirat kesedihan dalam nada bicara Sarek.
Spock mengangguk, merasakan kesedihan yang sama.
"Pertama, aku minta maaf, karena aku baru sempat memberitahumu sekarang."
"Permintaan maaf diterima,"
"Kami, para Dewan New Vulcan—termasuk dirimu yang lebih tua—mengadakan pertemuan untuk membahas populasi Vulcan yang tersisa di alam semesta, dan cara mengatasinya agar terhindar dari kepunahan—" Sarek menoleh ke sampingnya yang samar-samar terdengar sapaan 'Mr. Sarek'.
"Mr. Spock." Sarek membalas sapaan orang itu—yang tak lain adalah Prime Spock.
"Jika boleh aku bertanya, siapa yang kau hubungi, Mr. Sarek?" Suara Prime Spock terdengar semakin jelas. Sebelum Sarek sempat menjawab, Prime Spock sudah muncul di layar. "Oh, halo, Mr. Spock." Sapanya hangat pada Spock.
"Mr. Spock," Sahut Spock sembari mengangguk, menyuratkan kehangatan yang sama. Wajahnya memang datar, tapi ekor matanya memperlihatkan ia tengah menahan senyum gelinya. Ada saja yang diperbuat dirinya yang lebih tua itu. Menyela pembicaraan orang lain? Yah, walau dia menyela pembicaraan ayahnya dan dirinya yang lebih muda, tapi tetap saja namanya menyela.
Setelah itu Prime Spock membisikan sesuatu pada Sarek, yang tidak bisa didengar oleh Spock. Beberapa detik dua Vulcan renta itu saling berbisik, sampai akhirnya mereka kembali menghadap layar dan menatap Spock.
"Spock," Kata Sarek. "Untuk mencengah kepunahan, kami berunding dan mendapatkan banyak cara logis untuk itu. Tapi kami mengambil satu program logis yang paling efektif dan paling cepat untuk menambah populasi. Untuk menjalankan program itu kami mengumpulkan data Vulcan-Vulcan muda terbaik, yang berhasil selamat tentunya, yang cukup matang untuk dipersatukan bibitnya dan membentuk individu baru yang lebih baik. Sayangnya, kami hanya menemukan kurang dari 130 Vulcan muda terbaik. Dan setelah kami pertimbangkan lagi, hanya ada 27 pasang kandidat yang lulus standar—untuk tahun ini. Yang terdiri dari 27 Vulcan wanita dan 27 Vulcan pria."
"Kau adalah satu dari dua kandidat terunggul untuk saat ini. Kami memutuskan untuk mempersatukan bibit kalian. Tapi, kami baru mengetahui kalau kondisi tubuh kandidat satunya tidak memungkinkan untuk mengandung—sampai dua tahun kedepan." Prime Spock melanjutkan. "Setelah kembali melewati perundingan, para Dewan memutuskan untuk tetap menggabungkan bibitmu dengan bibit dari kandidat unggul satunya."
"Dan dikarenakan tubuh kandidat satunya tidak memungkinkan, kami memutuskan kau lah yang menyimpan hasil pembuahan—karena tubuhmu memang mampu."
"Dengan kata lain, Spock, kau hamil. Kau sedang mengandung penggabungan bibit-bibit itu."
TBC...
A/N: Oke, saya seenak jidat-Spock-yg-berponi(?) bgt ya, yg di filmnya bangsa Vulcan selamet 10.000 orang, saya bikin 8.500 nya jadi korban juga. *di nerve pinch Spock sampe kiamat* Sengaja sih, biar lebih dramatis dan kesannya Vulcan bener2 di ambang kepunahan, *ketawa Tribble(?)*
Oiya, di chapter 1 kan ada peraturan 'jam makan dua gelombang', ya. Itu saya karang sendiri hehe
Dan saya minta maaf yang seeebesar-besarnya kalo masih ada yang kurang, seperti alur terkesan maksa, konflik gak masuk logika (ini Spock yg bilang. *glare Spockie*), typo bertebaran, dan seterusnya dan seterusnya.
Balasan buat Loony: ini udah lanjut, thanks sudah mampir dan review! Aku yg nanya kok hihi. Non-slash itu, di ceritanya gak pake pairing seme/uke alias gak boyxboy alias gak yaoi. Bulan puasa emang penuh berkah! *loh* /dor/ Jgn lupa review lagi ya! XP
Review please ;)
