Disclaimer: Star Trek bukan punya saya. Tapi punya Gene Roddenberry Dan J. J. Abrams untuk versi barunya. Saya gak ngambil keuntungan sepeserpun dari fanfiction abal ini.
Tapi OC dan cerita ini asli punya saya dan asli pemikiran saya.
WARNING: Non-slash mpreg, cerita maksain, aneh gak mutu, abal, dan mungkin OOC.
Dua scene terakhir saya ambil dari film.
Chapter 3
.
"Dengan kata lain, Spock, kau hamil. Kau sedang mengandung penggabungan bibit-bibit itu."
Perkataan Prime Spock membuat dirinya-yang-lebih-muda seakan ditendang keluar Enterprise lalu terhisap black hole, menghilang untuk selamanya. Untuk sementara waktu mereka diatmosferkan oleh ketegangan nan hening. Ini adalah salah satu cabang kemungkinan yang terpikir oleh Spock.
"Ka- kapan kalian menyisipkan hasil penggabungan itu ke dalam tubuhku?" Spock bersikap setenang mungkin.
Prime Spock menatap Sarek. "Tiga bulan yang lalu, saat kau mengunjungi New Vulcan untuk membantu pembangunan yang masih berlangsung. Aku menyuntikkan hasil penggabungan bibitnya saat kau sedang tertidur." Jawab Sarek.
Tiga bulan… dua belas sampai tiga belas minggu… tepat seperti yang dikatakan Dr. McCoy.
"Spock, kau pasti sudah merasakan gejalanya, bukan begitu?" Tanya Prime Spock.
"Yes." Seakan mendukung jawabannya, kepala Spock berdenyut saat itu juga. "And a few minutes ago I just found out my pregnancy."
"Kau sudah mengeceknya? Dengan siapa?"
"Dengan Dr. McCoy. Dia yang menyuruhku untuk datang ke sickbay untuk diperiksa."
"Jadi sebenarnya kau sudah tahu kau sedang mengandung?"
"Ya. Pada awalnya aku tidak percaya karena itu tidak logis; aku tidak dalam masa pon farr dan tidak melakukan mating dengan siapapun—aku bahkan belum pernah melakukannya. Tapi setelah kalian memberitahuku soal program ini, aku percaya."
Hening sesaat.
"Spock, kau adalah setengah Vulcan setengah manusia. Begitu juga kandidat unggul yang satunya." Kata Sarek.
Lalu muncul foto seorang gadis di layar. Rambut lurusnya berwarna hitam, matanya hijau, kulit putih pucat, dan yang paling mencuri perhatian Spock; telinga dan alisnya nampak seperti manusia pada umumnya. Gadis itu punya tatapan yang dalam, dengan potongan rambut pendek. Wajahnya terlihat manis dari senyum tipisnya.
Prime Spock melanjutkan, "Ia salah satu lulusan dan pengajar terbaik di Vulcan Science Academy. Seperti yang Mr. Sarek katakan, dia Vulcan setengah manusia, seperti kita. Namanya Eve Kuvak. Pintar, disiplin, tegas. Ia lahir tahun bintang 2232 di Raal, ibunya Vulcan bernama T'Via dan ayahnya manusia bernama Yaeger Harold. Nama belakang 'Kuvak'-nya berasal dari nama kakek Vulcannya."
"Tujuan bibit-bibit kalian dipersatukan selain untuk membentuk individu yang lebih unggul, juga ada kemungkinan 50% dia akan terlahir dengan gen Vulcan sepenuhnya." Ucap Sarek.
Spock memperhatikan foto Eve Kuvak. Gadis itu terlihat seperti orang yang baik—terhitung dari bagaimana riasan tipis dan sederhana dari wajahnya, juga betapa manis wajah kecilnya. "Jadi, apa hal logis yang perlu kulakukan, father?" Tanya Spock.
"Semuanya terserah padamu, Spock. Jika kau berkenan, tugasmu adalah mengandungnya dan melahirkannya." Jawab Sarek. "Setelah itu, jika kau mau, kau bisa menyerahkannya pada Dewan New Vulcan untuk diasuh sampai cukup umur untuk mandiri."
"It would be unwise." Bisik Spock.
"Yes, it is." Sahut Sarek. "But still logical."
Spock terdiam. Kali ini pikirannya melayang ke usia kandungannya. Tiga bulan. Yang berarti ia sedang hamil saat pergi ke planet Nibiru, saat ia meledakkan alat fusi dingin di leher gunung berapi yang nyaris memuntahkan lavanya—tiba-tiba Spock teringat ia muntah beberapa saat yang lalu. Ia sudah mati jika Kirk tidak memutuskan untuk meresikokan keselamatan awak Enterprise dan melanggar peraturan untuk menyelamatkannya. Dan Spock tadinya bersikeras untuk membiarkan dirinya mati. Membiarkan janin di tubuhnya mati.
Ia hampir membunuh anaknya sendiri. Anak tak bersalah yang tumbuh di dalam rahimnya.
Seketika Spock diselimuti rasa bersalah.
Ia merasa berhutang pada janin di kandungannya karena nyaris membunuhnya.
Lama mereka terdiam, Sarek dan Prime Spock dengan sabar menunggu keputusan Spock. Mereka sadar bahwa ini bukanlah hal yang mudah untuknya.
"Bagaimana jika aku tidak menginginkannya, father?" Entah apa maksud dari kalimatnya. Spock bahkan sempat berpikir kalimat itu tak seharusnya ia katakan.
"Semua ada di tanganmu, Spock."
"Apa Eve Kuvak akan ambil bagian dalam hidupnya?"
"Itu keputusan kalian masing-masing. Tetapi secara logika kau lebih pantas untuk memutuskan, karena kaulah yang akan melahirkannya—jika kau berkenan."
"Jika Eve Kuvak tidak ambil bagian, janin ini akan tumbuh hanya dengan satu orang tua. Dia punya hak untuk tumbuh bersama kedua orang tuanya. Tapi jika aku menuntut Eve Kuvak untuk ambil bagian, secara logika Kuvak akan kehilangan sekitar 83,8% kehidupan lamanya."
Hening sesaat. Lalu Sarek berkata, "Jadi, apa keputusanmu, son?"
Spock menarik napas dan menghelanya pelan sekali. Tangannya tanpa sadar sudah menyentuh perutnya. "Aku akan mempertahankannya. Aku akan melahirkannya, merawatnya hingga besar." Spock memutuskan. Demi bangsa Vulcan, demi menebus hutangnya pada janin di kandungannya. Ia akan melakukannya. Walau hanya seorang diri.
"Pilihan bagus, Spock, my son. Anak dari gabungan bibit Putra Dua Dunia ada di dalam dirimu. Jagalah ia baik-baik. Aku mewakili para Dewan New Vulcan dan seluruh bangsa Vulcan di alam semesta; terima kasih, Spock." Ujar Sarek. Kilat matanya membentuk senyuman dan rasa bangga berkobar di balik wajah datarnya. Spock juga dapat melihat Prime Spock tersenyum padanya.
"Live long and prosper." Dua Vulcan tua itu memberikan Vulcan Salute pada pemuda berbaju biru jauh di seberang sana.
Spock mengangguk, tangan kirinya memberikan Vulcan Salute. Sementara tangan satunya—masih belum ia sadari—tetap berada di perutnya.
.
.
Klik!
Leonard McCoy menjentikkan jarinya di depan wajah Spock, membuat sang Vulcan mengerjap beberapa kali. "HA! Apa kubilang. Kau benar-benar hamil!" Dokter itu tertawa keras penuh kemenangan. Spock baru saja menceritakan pada Leonard semua yang terjadi di kabinnya.
"Dokter, pelankan suaramu." Kata Spock datar.
"Maaf, Spock." Leonard cengengesan, menyibak gorden untuk melihat apakah ada perawat yang mendengar mereka. Sepertinya tidak ada. Kalau sampai ada yang berani menguping akan aku pecat mereka. And I'll kick their ass, batin Leonard. "Kau benar-benar memutuskan untuk mempertahankan bayimu?" Tanya Leonard dengan suara yang lebih kecil, seperti yang diminta Spock.
"Ya,"
"Wah, kau gila. Tidak— maksudku, aku yang akan gila." Leonard geleng-geleng kepala, menyadari bahwa kehamilan Spock akan menjadi tanggung jawabnya—sebagai dokter di Enterprise yang mengurusi Kapten dan Perwira Utama—dan satu paket dengan proses persalinannya. Yah, ia adalah potongan tulang yang tinggal menunggu waktu untuk jadi gila. Spock, perwira utama Enterprise yang tak lain seorang pria, akan melahirkan dan punya bayi mungil. Leonard cuma berharap bayi itu tidak tumbuh menjadi Vulcan monoton seperti ayahnya. Beserta leluhurnya terdahulu.
"Nah, Spock, untuk mengurangi rasa mual, usahakan untuk makan sedikit tapi sering. Contohnya makan biskuit sedikit-sedikit saat sedang beraktivitas." Leonard menyarankan. "Kau juga akan merasa agak sulit mengendalikan emosi, tapi menurut informasi yang kuperoleh, itu hanya terjadi di trimester awal sampai pertengahan trimester dua—well, tidak menutup kemungkinan akan terjadi untuk selanjutnya hingga bayimu lahir. Lalu penurunan kondisi tubuh akan terjadi seiring makin dekatnya waktu persalinan. Dengan kata lain, kau akan semakin lemah. Dan di saat puncaknya, kau dan bayimu akan sangat rentan dengan… yah, kau tahulah."
"Dokter, boleh aku minta sesuatu?" Tanya Spock, masih dengan gaya kalemnya.
"Apa, Spock?"
"Can you keep this case from the others—" Jeda dua detik. "—please?"
"Vulcan juga menyimpan rahasia, eh?" Leonard terkekeh. "Ya, tentu saja, Mr. Spock. Aku penjaga rahasia yang cukup ahli. Kau pikir siapa yang menjaga semua rahasia Kapten Kirk kita?"
Spock mengangguk, "Terima kasih, Dr. McCoy."
"Dan jangan khawatir, kau, sebagai Perwira Utama di Enterprise, adalah tanggung jawabku. Jadi jika kau butuh bantuan, panggil saja aku. Aku akan datang secepat kilat," Leonard tersenyum, menepuk pundak sang Vulcan.
Lalu Leonard melakukan pemeriksaan pada Spock.
"Kau bisa lihat, itu kakinya." Leonard menunjuk layar. "Masih belum begitu jelas memang, mengingat usianya masih 3 bulan."
Spock mengangguk, memperhatikan layar hitam putih di sampingnya.
Setelah beberapa menit mereka berbincang—walau sebenarnya Spock lebih banyak mengangguk sementara Leonard bicara panjang lebar—Leonard menyudahi pemeriksaan. Ia memberikan handuk kertas pada Spock. Spock menyeka jel yang membalut perutnya, sementara Leonard membereskan mesin ultrasound.
Suara komunikator yang berbunyi mengalihkan perhatian komandan dan dokter itu. "Kapten Kirk kepada Dr. McCoy."
Leonard mengambil komunikator dan mendekatkannya ke wajah, "Ya, Kapten?" Sahut sang dokter.
"Bones, bawa Spock bersamamu kemari. Dia ada di kabinnya. Aku harus bicara pada kalian. Ini soal John Harrison,"
"Aye, Jim." Leonard mengalihkan tatapannya ke Spock. "Tampaknya aku tak perlu pergi ke kabinmu, Mr. Spock." Dokter itu nyengir. "Ayo,"
.
.
Khan. Makhluk sialan itu malah melompat dari ketinggian 30 meter di atas tanah.
"Bisa kita beam dia?" Tanya Spock, suaranya bergetar.
"Terlalu banyak kerusakan, sir. Aku tidak bisa mendapatkan sinyalnya." Sahutan Pavel Chekov membuat kaki Spock terasa lemas. "Tapi mungkin anda bisa dipindahkan ke sana, sir."
Spock sontak menoleh dan menatap manik mata Nyota yang masih menyimpan sedikit air mata di pelupuknya. "Go get him," Letnan wanita itu memberi perintah pada komandannya.
Tanpa berpikir lagi Spock berlari ke ruang transporter, menggenggam erat pistol di tangan kanannya. Dua yang ia rasakan: kemarahan dan dendam. Dendam yang dalam. Dendam akan Khan. Dendam akan orang yang bertanggung jawab atas kematian teman baiknya, satu-satunya teman baiknya. Dendam yang begitu kelam.
Darah hijaunya terasa mendidih begitu kakinya memijak tanah, ketika tatapannya bertemu dengan targetnya. Gejolak itu makin menjadi saat ia berlari, langkah demi langkah seakan menambah produksi hormon yang mendorongnya untuk membunuh Khan. Mencabik habis Khan jika perlu.
Ia berlari sekuat tenaga. Tapi tampaknya Khan jauh lebih cepat. Atau mungkin karena kandungannya yang membuatnya lambat?
Ah, persetan dengan kandungannya. Spock bahkan tidak ingat lagi bahwa ada nyawa lain yang ia resikokan dalam pengejaran ini. Ia bisa mati kapan saja. Tertabrak kendaraan yang lewat, atau saat ia menghadapi Khan.
Spock hanya ingin satu hal. Membunuh Khan untuk membalas kematian Jim.
Hanya itu.
Dan dia dibutakan karenanya.
Dia dibutakan dari nyawa yang hidup di dalam tubuhnya.
.
"McCoy pada Anjungan. Siapa yang mengejar Khan?" Dokter itu bertanya pada siapa pun yang mendengarnya.
"Spock, Dokter." Nyota menjawab.
"Baikla— Tunggu, apa kau bilang? Spock?"
"Ya,"
"Spock?! Kau gila, hah?! Apa yang membuatmu membiarkannya turun ke sana?! He's bloody preg—" Leonard menghentikan kalimatnya sebelum terlambat. "—Shit! Damn you, Spock!" Umpatnya keras-keras. "Enterprise kepada Spock. Spock?" Tidak ada jawaban. "Spock!" Leonard menggeram.
"McCoy kepada anjungan. Aku tidak bisa menghubungi Spock. Aku butuh Khan hidup-hidup. Bawa si brengsek itu kemari sekarang juga! Kurasa aku bisa menyelamatkan Kirk."
TBC...
A/N: Oke, pertama, KENAPA author aneh ini pake nulis dua scene terakhir itu? Gak penting bgt ya (walaupun semua ff ini isinya gak penting juga. Gak penting. Iya, gak penting) Jadi dipersilahkan buat abaikan dua scene terakhir itu.
kedua, karena saya udah terlanjur nulis 'Prime Spock' di chapter dua (yang seharusnya ditulis 'Spock Prime') jadi di chapter ini dan yang seterusnya saya tulis 'Prime Spock' juga. Biar sama. Sama-sama salah. *nyengir Klingon*
Saya minta maaf banget kalau masih ada yang kurang di ff ini.
Balasan buat Loony: Makasih udah review lagi! Iya, Spock bakal ngelahirin. Bayangin Chekov atau Sulu gendong bayi itu.. unyuness overload, haha. Reviewnya jangan lupa ya! :D
Akhir kata, review please :)
