Disclaimer: Fanfic ini milik saya dan asli pemikiran saya. Tapi Star Trek milik Gene Roddenberry dan J. J. Abrams untuk versi barunya (dan jangan lupa milik sutradara Justin Lin yg memimpin Star Trek Beyond yg rilis tahun depan! YEY I'M SO EXCITED!) Saya gak ambil keuntungan sepeserpun dari fanfic aneh bin abal ini.

WARNING: Non-slash mpreg, abal, gak mutu, dan OOC.


Chapter 4

.

Spock meringis ketika suara alarm memasuki telinganya. Ia baru bisa tidur tiga jam yang lalu, setelah pulang dari acara berbincang panjang lebar bersama Jim, Nyota, dan Leonard di rumah sakit. Tepat kemarin pagi menjelang siang, Jim siuman setelah dua minggu lamanya terbaring koma.

Hampir seluruh kru utama Enterprise menjenguknya, termasuk Spock. Bahkan ia adalah kru Enterprise yang pertama kali menjenguk sang kapten dan menyaksikan langsung—bersama Leonard—Jim membuka mata untuk pertama kali sejak dua minggu terakhir. Bagaimana tidak, tiap hari Spock selalu menyempatkan untuk datang menjenguk teman baiknya itu di sela-sela kesibukannya sebagai instruktur kadet Starfleet dan tugasnya yang lain.

Ia mematikan alarm dan diam beberapa detik untuk mengumpulkan nyawa, lalu Spock mengubah posisinya menjadi duduk.

Biasanya ia tidur larut malam dan bangun setidaknya satu jam sebelum alarm berbunyi. Tapi akhir-akhir ini dia lebih sering dibangunkan alarm dan ia langsung tidur beberapa menit setelah pulang dari akademi Starfleet. Efek kandungan, pikir Spock.

Bicara soal kandungan, Spock berencana memberitahu Jim soal kehamilannya hari ini, di rumah sakit. Jim belum diperbolehkan pulang oleh Leonard, tentu saja. Dokter itu bersikeras Jim baru diperbolehkan pulang setelah kondisinya tetap stabil dan tidak ada kendala apapun selama seminggu.

Spock menghela napas. Ia memandangi tembok apartemennya beberapa saat, sampai tatapannya menangkap foto kecil yang berada di meja. Sang Vulcan beranjak dan tangannya meraih foto itu. Tatapannya melunak ketika ia memandangnya.

Foto tersebut berwarna hitam putih. Foto pertama tes ultrasound-nya, dua minggu lalu. Leonard McCoy memberikannya dua hari setelah Vegeance menghantam San Francisco dan menghancurkan sebagian gedung akademi—yang perbaikannya udah hampir selesai sekarang. Kondisi janin di rahimnya sehat. Meski sedikit lebih kecil dari yang Leonard kira, si janin masih dapat dikatakan tumbuh sesuai usia kandungan. Leonard bilang janinnya sekarang sebesar empat jari tangan, lebih kecil beberapa milimeter.

Spock menyalakan motor anti-gravitasinya, bersiap untuk ke rumah sakit. Hari ini hari minggu, jadi dia bisa seharian penuh berada di sana—semoga saja ia tidak diusir Leonard untuk melakukan kegiatan lain selain seharian di sana. Meski ini hari libur, ia tetap mengenakan seragam Starfleet abu-abunya jika berpergian ke tempat yang masih berbau akademi. Entah apa alasannya.

Beberapa saat lalu Prime Spock menghubunginya, menanyakan kabarnya. Spock mengatakan ia baik-baik saja, rasa mual dan pusing sudah menghilang sejak empat hari lalu. Ia juga bilang kalau nafsu makannya mulai kembali dan tubuhnya sudah terasa seperti biasanya. Ia mengatakan pada dirinya yang lebih tua, kalau hari ini ia ingin memberitahu Jim soal kondisinya. Karena ia berpikir Jim berhak tahu soal kondisi perwira utamanya. Prime Spock mengiyakan, lalu menanyakan kabar kapten Enterprise itu.

Jim sedang menyuap supnya ketika Spock muncul dari balik pintu. Di ruangan itu juga ada Leonard, yang sedang mencatat perkembangan sang kapten di sudut ruangan.

"Hey, Spock." Sapa Jim.

"Selamat pagi, Jim. Bagaimana keadaanmu?"

"Baik. Dan supnya, just made my day."

Spock mengangkat satu alisnya.

"Artinya, supnya enak." Leonard menyahut saat ia melihat wajah Spock.

"Aku tahu, Dokter." Ujar Spock kalem, yang memancing dengusan keras Leonard yang diiringi gumaman semacam 'kalau begitu kenapa alismu naik satu, god damn Vulcan.'

"Hey, aku baru sadar kalau wajahmu tidak sepucat waktu itu, Spockie." Celetuk Jim.

Spock mengerti apa yang Jim maksud dengan 'waktu itu'—malam saat Jim menyuruhnya istirahat di kabin. Tapi dia diam saja.

"Kau belum mengatakan padaku apa yang terjadi padamu saat itu, Spock."

Yang bersangkutan hanya mengangguk. Dan Jim tidak melihat kalau sang Vulcan berniat menceritakan.

"Apa yang Bones katakan padamu?"

Spock menatap Leonard yang berada di sudut ruangan.

Mereka memandang satu sama lain beberapa saat. Lalu Leonard melempar tatapan 'Man, itu urusanmu mau memberitahunya atau tidak. Kenapa malah melihatku?' dan kembali ke pekerjaannya beberapa detik kemudian, berusaha menghindar dari tatapan Spock yang membuatnya tidak nyaman.

Tatapan komandan itu beralih kembali ke Jim.

"Well, sesulit itu mengatakannya, eh?" Jim beralih ke Leonard. "Bones, sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Perwira Utamaku, kan?"

"Tidak, Jim." Mulut Spock tanpa sadar berucap sebelum Leonard sempat membuka mulutnya. Detik berikutnya ia berpikir apakah 'pria-belum-menikah yang hamil' termasuk sesuatu yang buruk atau tidak. Tapi ia terlebih dahulu sadar apa yang Jim maksud dengan 'sesuatu yang buruk'.

"Lalu apa, Spock? Apa yang Bones katakan padamu? Bilang saja padaku, kawan, ayolah." Cerocos Jim tidak sabar.

Agak ragu Spock menyahut kecil, "Aku hamil, Jim."

"Hah?"

"Aku hamil."

"Apa?"

"Aku hamil."

"Itu bukan anakku, kan?"

Leonard melongo mendengarnya. "What the hell, Jim! Kau gila?"

Seorang James Tiberius Kirk memang sudah banyak—ehem—meniduri wanita. Tapi ia tahu betul Jim tidak akan meniduri teman baiknya sendiri. Apa lagi teman baiknya itu pria. Oh, Leonard tahu Jim masih suka wanita. Sekali lagi, wanita, bukan pria. Sang dokter sempat bergidik membayangkan jika kaptennya juga suka pria.

"Tentu saja bukan." Spock membalas dengan kalem.

"Spock, kau laki-laki!"

"Ya, memang, Jim."

"Laki-laki tidak hamil!"

"Manusia laki-laki tidak, tapi sebagian kecil Vulcan laki-laki bisa hamil."

"Dan kau setengah manusia, Spock! Oh, dunia sud—" Jim menepuk lututnya dan tersadar, "Hey, jadi hubunganmu dengan Uhura selama ini apa?"

Spock menaikkan alisnya.

"Kalau kau—" Jim menghela napasnya dengan keras. Lupakan, raungnya dalam hati. "Siapa ayahnya, Spock?"

"Aku ayahnya,"

Jim berhenti sejenak, melongo. Lalu memberikan tatapan 'Bukan itu yang kumaksud, bloody Pointy Eared'.

"Siapa ayahnya yang lain?" Katanya disertai desahan napas gemas.

"Dia tidak punya 'ayahnya yang lain'. Aku adalah satu-satunya ayah dari anakku. Dan Jim, aku ingin menjelaskan padamu bagaimana aku bisa hamil."

Jim memasang wajah heran, "Jangan bilang kau di—"

"Damn you, Jim! Dengarkan saja dia!"

Pekikan milik Leonard McCoy—bagusnya—membuat Jim Kirk langsung bungkam.

.

.

Memberitahu Jim, sudah.

Memberitahu Nyota, belum.

Bagaimana cara yang tepat untuk memberitahu Letnan wanita itu?

Rasanya kepalanya mau meledak. Hancur berkeping-keping, terbakar sinar mentari, dan menghilang dari penglihatan untuk selamanya. Berterbangan menjadi abu dan bersatu dengan debu.

How poetic, begitu kata Dr. McCoy setahun lalu.

Spock terkekeh mengingat wajah sang dokter—dengan gaya sarkastis khasnya—ketika mengatakan itu.

Detik selanjutnya ia tertegun.

Vulcan tidak terkekeh. Vulcan semestinya tidak terkekeh, Spock, pikirnya.

Jika ada efek kehamilan yang tidak Spock sukai, maka inilah yang berada di daftar teratasnya. Sulit mengendalikan emosi seakan membuat benteng image Vulcannya runtuh begitu saja. Terlebih saat detik-detik menjelang kematian Jim. Ia membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, mempertontonkannya pada Scotty dan Nyota. Dan—ya ampun—ia bahkan membiarkan Scotty melihat air mata meluncur melewati pipinya.

Memalukan.

Ia sudah mempermalukan dirinya, mencoreng nama keluarga S'chn T'gai karena luapan emosinya. Ia telah gagal dalam memegang teguh warisan leluhurnya. Gagal dalam mengesampingkan emosi dan rasa.

Sambil menghadap langit-langit kamar, Spock, di atas ranjangnya, menutup mata dan menghela napas. Lapar, bisiknya dalam hati, berbarengan dengan desir perutnya yang minta diisi. Hari memang sudah malam, apa lagi tadi siang Spock makan lebih awal.

Setelah menengok lemari pendingin dan menunggu makanan dan susu kedelainya dipanaskan di microwave, Spock melahapnya. Dengan… rakus. Satu-satunya kata yang cocok dengan cara makan sang Vulcan yang bagai kelaparan sebulan penuh. Sepiring makanan tanpa unsur hewani itu habis dalam waktu kurang dari 5 menit.

Bip, bip.

Beranjak ke kursi kerjanya dan tanpa melihat lagi siapa yang menghubunginya, Spock menekan tombol untuk menerima panggilan.

Dan dia hampir memperlihatkan wajah kagetnya saat melihat gadis yang ada di layar.

"Commander Spock, Greetings."

Spock masih diam. Mata cokelatnya memperhatikan wanita di layar dengan hati-hati, memastikan ia tidak salah lihat. Ia mengedip, dan wajah wanita di layar tidak berubah. Ia tidak salah lihat. Rambut hitam, senyum tipis yang terlihat tulus dari ekor mata hijaunya, garis alis manusianya yang tegas, dan seragam Starfleet kelabu dengan pangkat ensign.

"Greetings, Ms. Kuvak."

Hening.

"Apa kabarmu, Komandan Spock?" Suara Eve yang agak bergetar memecah keheningan.

"Baik, Ensign." Hanya itu sahutan Spock. Begitu kaku, lantaran ia terlalu shock dengan siapa lawan bicaranya sekarang. Itu Kuvak. Itu ibu dari anakmu, gumamnya.

Setelah melewati keheningan canggung selama beberapa menit dan pembicaraan basa-basi—yang didominasi oleh Eve, mereka mulai membicarakan hal lain. Kali ini lebih santai dan bersifat personal. Entah bagaimana Spock dengan nyamannya terbawa arus santai yang dihantarkan oleh Eve.

"Kau ada di mana saat Vulcan musnah, Ensign Kuvak?"

"Aku ada di Bumi, dan boleh dibilang aku bersyukur tidak berada di Vulcan saat itu." Jeda tiga detik sebelum dia menggeleng. "Maafkan orang bodoh ini, Mr. Spock. Maaf aku lancang."

"Itu logis untuk bersyukur atas keselamatanmu,"

Eve tersenyum tipis. "Aku memang ada di akademi saat itu. Entah kenapa aku tidak ditugaskan di Hanggar Satu untuk meluncur ke Vulcan. Padahal aku menyaksikanmu beradu dengan Kirk saat itu." Jelasnya disertai tawa kecil. "Cukup terlambat memang, mengingat aku baru bergabung dengan akademi dua tahun lalu. Meski terlambat untuk bergabung, ayahku mendukungku sepenuhnya karena itulah yang ia inginkan dariku. Tapi tidak dengan mendiang ibuku. Beliau ingin aku tetap menjadi pengajar di Vulcan Science Academy tanpa perlu menyandang pangkat dalam bidang militer." Ia menunduk. "Dan aku menyesal tidak bersikeras membawanya ke Bumi bersamaku dan ayahku. Ibu kita bernasib sama, Komandan. Jatuh ke dalam tanah kelahiran kita, hilang dilahap black hole untuk selamanya."

"Kita sama tidak berdayanya, Ms. Kuvak. Kita tidak bisa melakukan apapun."

"Kuharap aku bisa memutar waktu untuk menyelamatkannya. Aku belum mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya, setidaknya untuk saat itu."

"Kenapa kau memilih Vulcan Science Academy, Kuvak?"

"Itu keinginan ibuku. Sejak aku kecil beliau bercita-cita agar aku bisa belajar di sana."

"Apa itu berarti kau mengikuti Kolinahr sampai akhir?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah lulus dari Kolinahr. Mereka bilang aku punya kekurangan—seperti apa yang mereka katakan sebelum aku tetap memutuskan bergabung dengan Vulcan Science Academy. Seakan labrakan teman-teman masa kecilku tidak cukup menyayat, mereka—para dewan dan menteri—mengatakan bahwa darah manusiaku adalah kekurangannya."

Spock mengangguk kecil. "Mereka mengatakan hal yang sama padaku."

Eve tertawa getir, "Setelah lulus sekolah menengah, aku sudah gatal ingin pindah ke Bumi. Aku tidak tahan menerima ejekan teman-temanku. Sebanyak apapun kita mencoba berbaur dengan Vulcan, selama kita punya darah manusia yang mengalir… sulit bagi kita untuk dirangkul dengan sepenuh hati oleh mereka."

Dia melanjutkan disertai helaan napas, "Jika bukan demi ibuku, aku sudah bergabung dengan Starfleet sejak awal. Menyandang pangkat kapten, memiliki sebuah kapal luar angkasa yang luar biasa besar, atau setidaknya jadi pemimpin teknisi, bercumbu dengan mesin warp." Dia tersenyum membayangkannya. "Dan bersosialisasi dengan bangsaku sendiri. Bangsa yang mendominasi tubuhku luar dalam. Ironis, aku lahir di Vulcan, dibesarkan di Vulcan, sekolah di Vulcan, dididik untuk menjadi Vulcan. Tapi darah merah manusia masih mengalir dalam diriku, siapapun dan apapun tidak bisa berbohong. Teman sekolahku dan bahkan tubuhku sendiri mengecamku, mengingatkanku bahwa aku seorang manusia yang tak semestinya berpijak dan menggali jati diri di tanah gersang Vulcan. Aku tahu aku tidak semestinya berada di sana, di sana bukan tempatku untuk berpulang. Tapi aku tidak ingin melihat kekecewaan di balik kilat mata ibuku. Aku sayang dia, tidak peduli hanya empat jari mengancung untuk menghitung seberapa banyak dia pernah tersenyum untuk putrinya—sepanjang memoriku mengingat."

Spock menatap lantai, terbayang sosok ibunya. Bentuk wajah, mata cokelat yang cemerlang, dan senyum manis yang tak pernah sirna dari ingatannya. Rasanya baru kemarin Amanda mengatakan bahwa ia akan selalu mendukung keputusan apapun yang dipilih putra semata wayangnya. Bahwa Spock akan selalu punya seorang ibu yang bangga terhadapnya. Bangga akan semua jalan yang dipilihnya.

Hati kecilnya juga yakin bahwa keputusan yang ia pilih mengenai bibit di rahimnya akan tetap membuat ibunya bangga. Ia harap begitu.

"Oh ya, Mr. Spock, apa kau sudah melakukan pemeriksaan untuk janinmu?" Pertanyaan Eve menghentikan lamunannya yang sudah berlangsung selama 3 menit.

Spock mengangguk, "Ya. Dr. McCoy mengatakan bahwa janinnya sehat,"

"Syukurlah kalau begitu." Eve ikut mengangguk, antusias. "Jaga dia baik-baik, Commander." Gadis manis bermata hijau itu tersenyum simpul.

Mengangguk lagi, lalu Spock mengatakan dengan mantap, "Tentu saja, Ensign Kuvak."

.

.

Hari ini hari Rabu, meski begitu Spock tidak ditugaskan di akademi hari ini. Jadi ia memilih berkeliling dan melihat-lihat perbaikan Enterprise yang kemajuannya makin membaik tiap minggunya. Bersama Dr. McCoy—yang sedang rehat sejenak dari aktivitasnya—ia berkeliling di sekitar kargo. Selang beberapa menit kemudian, mereka bertemu dengan Scotty.

"Sore, Komandan, Dokter." Sapanya, mengangguk pada dua pria di hadapannya.

"Sore, Mr. Scott." Balas Spock mewakili.

"Bagaimana keadaan Jim, Dokter? Kuharap ia tidak mengalami kendala apapun."

"Permohonanmu terkabulkan, the damn Captain is fine. Kondisinya makin membaik sejak empat hari lalu. Tadi pagi aku memperbolehkannya untuk berkeliling di daerah sekitar ruangannya dengan kursi roda. Jangan berikan aku tatapan seperti itu, Spock. Kau tahu sendiri aku tidak membiarkan si ceroboh itu berkeliaran tanpa ada yang mengawasi."

"Mr. Scott, berapa lama lagi sampai Enterprise benar-benar bisa digunakan kembali?" Tanya Spock.

"Prediksinya sepuluh sampai dua belas hari lagi kapal ini dapat digunakan secara maksimal, Mr. Spock. Kami sudah memperbarui mesin di beberapa titik, terutama inti warp—yang memang menjadi pusat energi Enterprise."

Spock mengangguk singkat sebagai jawaban.

TBC...


Sekali lagi saya minta maaf kalau masih ada yang kurang dari fanfic ini.

Balesan buat Loony: Ini sudah lanjuut, selamat menikmati hehehhh… maaf apdetnya lama… ;) review lagi yah! Yang panjang! Biar saya tambah semangat! *nyengir ayam* *ditabok*

Review please… ;)