Disclaimer: Star Trek itu milik Gene Roddenberry, bukan milik saya. Tapi Spock milik saya. *digebukin*

WARNING: Non-Slash Mpreg, cerita gak bisa diterima akal sehat, abal, dan OOC.


Chapter 5

.

Ia tengah duduk tegak di teras rumahnya—teras rumah orang tuanya di Vulcan, dengan rasa nyaman luar biasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Amanda Grayson, ibunya, berdiri memandang langit cerah di balik pagar kayu tak jauh dari dirinya. Wanita itu nampak tenang, kedamaian tercetak jelas di wajah cantiknya yang seakan kebal akan usia.

"Mother?" Bisik Spock pada dirinya sendiri.

Seakan mendengar bisikan Spock, Amanda menghampiri putranya, duduk di sebelahnya. "Kau membuat keputusan yang tepat, nak." Ucap Amanda beberapa saat kemudian. "Oh Spock, kalimat apa lagi yang harus kuucapkan untuk mengutarakan betapa bangganya aku padamu?" Ia menatap Spock lekat-lekat, seakan ingin mengunci perhatian pria berambut hitam itu dengan tatapannya dan tak akan ia lepaskan lagi.

"Keputusan apa, Mother?" Tanya Spock bingung. Lalu ia merasakan lengkupan hangat membangunkan syaraf di kulit perutnya.

"Apa lagi kalau bukan ini?" Jawab Amanda disertai senyuman manis khasnya.

Spock menunduk, melihat tangan ibundanya yang mengelus lembut perutnya. Ia baru sadar kalau ukuran perutnya sudah cukup besar, layaknya kandungan usia sekitar 5 sampai 6 bulan.

Spock mengerutkan dahi, seingatnya ia baru menginjak usia 16 minggu.

Ia juga baru sadar kalau ada sehlat peliharaannya yang mendengkur nyaman di atas pahanya.

Aneh sekali.

Saat Spock kecil, I-Chaya, sehlatnya, sudah tua. Tubuhnya gemuk dan jauh lebih besar dari Vulcan dewasa. Bahkan I-Chaya sudah dikubur di halaman rumah saat umurnya 7 tahun karena sehlat itu mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Spock dari seekor le-matya, hewan buas Vulcan.

Tapi apa yang dilihatnya membuatnya seakan ada di pusaran, pusaran yang berpusat pada keinginan terbesarnya. Keinginan terbesar yang tidak akan pernah ia rasakan. Jangankan untuk merasakan, untuk merabanya saja terlalu mustahil. I-Chaya dipangkuannya masih berupa anak sehlat. Kecil, dengan bulu cokelat muda yang nampak halus dan bersih. Gigi taring kirinya masih sempurna, tidak patah—atau mungkin terpotong—seperti yang Spock ingat selama ini. Ia terlihat seperti seekor tribble raksasa, tertidur lelap dengan posisi melingkar.

Menggemaskan.

"Spock,"

"Yes, Mother?"

"I love you so much, dear."

Spock terdiam sesaat, teringat percakapannya dengan Kuvak beberapa waktu lalu. Bahwa Kuvak menyesal ia tidak sempat mengatakan kalau ia sayang ibunya sebelum sang ibu hanyut ke dalam black hole. Spock tidak ingin melakukan hal yang sama, kesalahan yang sama. Setidaknya ia ingin ibunya tahu bahwa ia bahagia berada di sisinya.

"I… love you too." Cicitnya kemudian.

Amanda baru menarik napas untuk membalas ketika suara retakan tanah memasuki gendang telinga Spock. Entah bagaimana langit cerah Vulcan berubah menjadi gelap dalam sekejap. Spock refleks mencari bagian tanah yang retak, dibarengi dengan ibunya yang beranjak berdiri. Spock menatap ibunya, kilat panik dari tatapannya terbaca jelas oleh Amanda saat suara retakan kembali terdengar. Sang Vulcan berdiri, agak terkejut karena ukuran perut buncitnya seakan menekannya kembali untuk duduk. I-Chaya sudah menghilang, mungkin sehlat kecil itu sudah melompat turun tanpa Spock sadari atau memang benar-benar menghilang.

Tanah yang dipijaknya kembali menambah retakannya. Makin banyak, makin bertambah, makin besar.

Bum!

Sebuah tebing berlapis pasir runtuh di kejauhan.

Krak!

"Ayo lari, Mother!" Pekik Spock, menyambar tangan ibunya. Retakan makin merambat dan nyaris menyentuh kaki wanita itu.

Sungguh, Spock tidak peduli lagi dengan bagaimana wajahnya terlihat, bagaimana mudahnya ia larut ke dalam kepanikan. Dia hanya ingin satu: membawa Amanda bersamanya hidup-hidup. Tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya—membiarkan ibunya bersatu dengan reruntuhan dan satu-satunya yang ia lakukan hanyalah berteriak dalam keputusasaan di lubuk hatinya.

Amanda bergeming. Wanita itu menatap putranya dengan ekspresi sulit ditebak, bahkan untuk Spock—yang Vulcan dan mahir membaca emosi manusia lewat mata—sekalipun.

"Mother, now!" Spock menarik tangan ibunya lagi, kali ini lebih kencang. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi ia panik sekali. Bahkan suaranya bergetar. "Mother, please!" Ia memohon, tapi ibunya tetap tidak bergerak, masih menatapnya dengan tatapan yang sama.

"Mother!" Ia menggoyangkan tangan ibunya.

Amanda bergeming.

Wanita itu menarik tangannya yang digenggam Spock—Spock heran bagaimana ibunya dengan mudah lepas dari cengkramannya.

Lalu dia tersenyum.

"Aku menyayangimu, Spock." Katanya, sebelum sepetak tanah yang dipijaknya membawanya turun mendekat ke inti Vulcan.

"Mother!"

"Mother…?!"

"Spock,"

"Mother…"

"Spock, hei."

"No, Mother…"

"Spock!"

.

"Mothe—"

Spock duduk terbangun dan tertegun begitu menyadari dimana ia berada.

Jim tiba-tiba muncul di depannya. "Spock! Kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir.

Spock mengerjapkan matanya, "Apa yang terjadi, Jim?"

"Kau tidak apa-apa?"

Vulcan itu mengangguk kecil, "Ya. Apa yang terjadi?"

"Kau… mengigau."

"Aku bermimpi?"

"Ya, mungkin. Kau ingat kau mimpi apa?"

Spock berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Ya," Bisiknya pelan sekali.

Ia duduk di rumah orang tuanya di Vulcan, I-Chaya yang masih kecil, tanah retak Vulcan, dan ibunya yang ikut runtuh bersama tanah.

Mimpi itu masih segar dan ia barusan berhasil menaruhnya di bagian memori jangka panjang.

Oh, sial.

"Spock?"

"Aku hanya bermimpi. Jangan khawatir, Jim."

"Kau yakin?"

Spock mengangguk.

Jim bergumam, "Tapi setahuku Vulcan tidak bermimpi." Lalu dia mengangkat bahu, "Baiklah kalau begitu. Aku sudah siapkan sarapan, kau mau makan sekarang bersamaku?"

"Ya." Kata Spock sambil beranjak dari tempat tidur.

Kemarin pagi Jim meminta Spock datang ke apartemennya untuk membicarakan suatu hal, banyak hal, termasuk Enterprise yang sudah selesai masa perbaikannya. Pemimpin Teknisi mereka, Montgomery Scott, bangga sekali bisa memperbaiki kerusakan parah kapal itu dalam waktu 4 minggu. Perbaikan dan perakitan shuttle baru juga sudah selesai. Rencananya, minggu ini Jim akan berpidato untuk penghormatan anggota yang gugur sekaligus mengumumkan bahwa USS Enterprise akan segera menjalankan misi lima tahunnya. Jim senang sekali bisa ikut serta dalam misi itu.

Mereka berbincang sampai malam, hingga akhirnya Jim memutuskan agar Spock menginap saja di apartemennya. Khawatir sesuatu terjadi pada Vulcan itu karena keluar rumah tengah malam. Jika Jim tidak ingat kondisi teman baiknya yang sedang mengandung, ia akan cuek-cuek saja membiarkan Spock berkeliaran di malam hari. Spock dugem pun akan kubiarkan, pikirnya.

"Spock,"

"Ya, Jim?"

"Kau benar tidak apa-apa, kan?"

"Aku tidak apa-apa,"

"Apa yang terjadi dalam mimpimu? Kenapa kau memanggil-manggil ibumu?"

Sang Vulcan terdiam, memandangi piring saladnya yang hampir kosong. Nafsu makannya jadi agak berkurang ketika ia mengingat mimpinya. "Aku tidak biasanya bermimpi, Jim. Aku bahkan… tidak pernah bermimpi dalam beberapa tahun terakhir. Ini… aneh," Ucapnya pelan.

"Kau setengah manusia, ingat itu."

"Tentu aku ingat, hanya saja…" Ia menggangkat bahu. "Sepertinya kandunganku yang membuatku bermimpi. Seperti apa yang dikatakan Dr. McCoy, kehamilanku akan membuatku sulit mengendalikan emosi. Kami dapat mengatur dan menimbun emosi, itu sebabnya kami tidak bermimpi. Kehamilanku membuatku—"

"Oke Spock, aku bertanya apa yang kau mimpikan, bukan untuk dapat kuliah gratis tentang Vulcan yang tidak bermimpi. Lagi pula aku sudah tahu," Jim mendengus.

"Itu mimpi buruk, Jim. Itulah intinya,"

"Kau tidak mau memberitahuku kenapa kau memanggil-manggil ibumu?"

Spock hanya diam.

"Sepertinya tidak. Baiklah kalau itu yang kau mau, aku tidak memaksa."

"Kau bohong," Cicit Spock.

Jim mengangkat bahu, "Nah, itu kau tahu."

"Dia jatuh," Sahutnya kecil. "Lalu di sana ada I-Chaya."

"I-Chaya?"

"Sehlat."

"Sehlat?"

"Hewan di Vulcan yang mirip beruang, berekor singa, memiliki taring sepanjang 6 inci."

"Itu hewan peliharaanmu atau apa?"

"I-Chaya sebenarnya milik ayahku,"

"Tapi dia peliharaanmu?"

"Semacam itu,"

Spock bercerita lagi. Menjabarkan bagaimana ibunya terjatuh, dan rasa putus asanya.

"Aku tahu itu hanya mimpi. Namun Vulcan sangat jarang bermimpi, membuatku tidak bisa melupakannya begitu saja. Terlebih setelah apa yang terjadi." Katanya lirih.

"Kau tahu, Spock. Kadang aku juga bermimpi tentang ayahku. Pernah suatu hari saat aku kecil, aku memimpikannya bermain baseball bersamaku di halaman rumah. Aku sangat menikmati mimpi itu, dan ketika aku terbangun, aku menangis. Marah kenapa mimpi itu berakhir." Dia memainkan sisa saus di piringnya. "Kuharap aku diberi kesempatan untuk menyapanya. Sekali saja. Lalu mengatakan padanya aku sudah menjadi kapten kapal terbaru di armada."

"Aku yakin dia bangga padamu."

"Ya, itu yang kupikirkan."

"Jim,"

"Ya?"

"Apa kau berpikir kalau keputusan yang kuambil tepat?"

"Keputusan apa?"

"Keputusanku mempertahankan… janin ini,"

Jim mengagguk, "Kurasa ya. Kau menunjukkan pada mereka bahwa kau bijak." Sahutnya. "Bahwa kau juga salah satu dari mereka dengan tetap mempertahankan bayimu. Dan juga… kau akan membuatku menjadi paman. So I'm glad you're keeping my nephew—or niece." Cowok pirang itu nyengir.

Spock mengangguk kecil, tidak mengatakan apa-apa.

.

.

"Letnan Spock?"

"Mr. Mahigan,"

"God, Apa kabarmu, Mr. Spock?"

"Baik. Bagaimana denganmu, Mr. Mahigan?" Spock menyambut jabatan tangan Mr. Mahigan dan masuk ke dalam setelah pria itu mempersilahkannya.

"Baik juga. Tolong panggil aku Oriont seperti dulu. Oh ya, kau masih di Starfleet?"

"Ya, tentu."

"Dengar-dengar ada kapal yang dapat misi 5 tahun, apa itu benar? Itu misi terlama yang pernah kudengar, Letnan!"

"It is… commander, Oriont."

"Commander? No way! Kau naik pangkat secepat itu, Mr. Spock? Wah, kau hebat." Komentar Oriont antusias. "Apa kau mau teh?"

"Tidak, terima kasih. Jangan buatkan aku apa-apa, Oriont."

"Mungkin segelas a—"

"Tidak, tidak usah. Sungguh,"

"Benar tidak usah, Mr. Spock?"

"Ya, Oriont. Tidak usah." Spock meyakinkan. "Bagaimana kabar Corvi?"

"Corvi? Yah, he's doing great, Mr. Spock."

"Dia pasti sudah besar,"

"Kau benar, dia sedang pergi ke museum bersama adikku—bibinya. Dia senang sekali bisa pergi ke sana. Omong-omong dimana kau tinggal?"

"Masih di daerah yang sama, San Francisco. Hanya saja aku pindah apartemen."

Oriont mengangguk-angguk.

Jeda sejenak sebelum Spock mengatakan, "Oriont, aku ingin langsung saja." Dia menatap mata amber milik pria bernama lengkap Oriont Mahigan itu lekat. "Aku minta maaf, tapi aku butuh bantuanmu."

"Tak perlu minta maaf. Sudah kuminta padamu untuk memberitahuku jika kau butuh apa-apa." Oriont menyahut cepat. Ia tahu sekali bahwa para Vulcan tidak suka meminta bantuan selama mereka masih mampu melakukan. Jadi ia berpikir Spock sangat membutuhkan bantuannya. "Apa itu, Mr. Spock? Katakanlah, tentu aku akan memenuhinya sebisaku."

.

.

"Captain on the bridge!" Seru sang navigator, Pavel Chekov, dengan aksen Rusia-nya yang khas.

Setelah menagih laporan kondisi inti warp pada Scotty, Jim beralih ke teman lamanya, "Ayolah, Bones! Ini akan sangat menyenangkan!" Katanya riang sambil berlalu, tidak ingin mendengar geraman dokter itu—Jim berlalu ke samping Hikaru Sulu dan memerintahkan sang pilot untuk memasuki kecepatan warp. Ia sudah hapal betul Leonard akan menggerutu pada apapun yang ia katakan saat ini. Ia tahu temannya itu benci berada di luar angkasa, apalagi berada di luar angkasa selama lima tahun penuh.

Yah, mereka baru saja memulai 'lima tahun' itu.

Toh, ini bukan salah Jim. Demi menghindari mantan istrinya, Leonard sendiri yang memilih bergabung dengan Starfleet alih-alih menjadi dokter di rumah sakit biasa, di manapun itu. Jadilah ia ditugaskan untuk melaksanakan 'misi 5 tahun' pertama dalam sejarah Starfleet. Mau tidak mau, sebenci apapun dia dengan luar angkasa. Lagipula pria bernama tengah Horatio itu akan membuntuti Jim kemanapun ia pergi.

Jim melangkah ke tengah anjungan setelah menyapa Carol Marcus, perwira sainsnya yang baru, juga satu-satunya perwira sainsnya yang ikut misi 5 tahun Enterprise.

Setidaknya itulah yang ia tahu sebelum ia menoleh ke kanan dan mendapati Spock—dengan wajah berseri yang dipendam—berdiri di sana. Seperti biasa, ia mengenakan kaus Starfleet birunya.

"Spock?" Pekik Jim kaget.

"Kapten," Sahut Spock enteng.

"Apa yang kau lakukan di sini, hah?" Pekiknya lagi, kali ini mengundang perhatian seluruh kru anjungan karena suaranya yang kelewat mengganggu. Leonard yang sedang berada di sebelah Chekov juga ikut menoleh dan kaget setengah mati ketika mendapati Spock berada di anjungan.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku yakin aku berdiri di sini untuk melaksanakan misi 5 tahun Enterprise, Kapten." Sang Vulcan melangkah mendekati kaptennya.

"Wha— What the hell?" Jim berbisik mengucapkannya. "Spock, kau tidak seharusnya berada di sini!"

"Aku di sini untuk menjalankan tugasku sebagai perwira utama dan perwira sains di Enterprise. Mengapa aku tidak seharusnya berada di sini? Bukankah itu benar jika aku bagian dari keluarga Enterprise?"

"Tentu saja kau bagian dari keluarga. Tapi Spock," Jim menghela napas keras-keras dan melanjutkan. "Kau sedang hamil, Man!"

Desah kaget terdengar di seluruh anjungan yang tiba-tiba saja menjadi sunyi setelah teriakan Jim.

Nyota adalah satu-satunya yang tidak menyembunyikan pekikan kagetnya, "Apa?!"

"Ya Tuhan, aku malah mengumumkannya," Desis Jim lebih kepada dirinya sendiri, meski Spock dapat mendengarnya.

Spock diam sesaat sebelum berujar, "Kapten, kupikir ini adalah tanggung jawabku untuk ikut serta dalam misi 5 tahun, sekalipun aku sedang mengandung." Suaranya terlampau kecil, sehingga hanya Jim—yang berdiri tepat di depannya—yang dapat mendengarnya dengan jelas.

"Spock, kapal luar angkasa sama sekali bukan tempat yang tepat untuk membesarkan bayi!" Sahut Jim pelan, tapi dapat terdengar cukup jelas—bahkan oleh para kru lain yang makin mengundang rasa penasaran mereka.

Jim memijat dahinya yang terasa berkedut keras. "Uhura, buka saluran untuk menyiarkan audio dan visual ke seluruh kapal." Perintahnya.

"Dengan hormat, Kapten. Tapi aku yakin aku berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Tukas sang Letnan. Ia sudah menjalin hubungan bersama Spock lebih dari setahun, jadi ia beranggapan dirinya pantas dan berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Vulcan itu.

"Spock akan menjelaskannya, Letnan. Maka dari itu buka salurannya."

"Kapten, aku—"

"Kau akan menjelaskannya, Mr. Spock. Simpan kata-katamu untuk mengumumkan kepada para kru bagaimana kondisimu sekarang ini." Ucap Jim. Bahkan ucapannya terasa bisa membelah apapun yang berada di anjungan saking tajamnya.

"Saluran dibuka, Kapten. Stand by,"

"Silahkan, Mr. Spock. Aku tidak akan meminta lagi. Jadi jelaskan pada seluruh kru tetang kondisimu."

TBC...


A/N: THANKS buat zenTH90 yang udah fav plus follow,
juga buat elleinadk yang udah follow (makasih udh follow 2 fanfic gajeku hihi) !

Saya minta maaf kalo masih ada yang kurang dari FF ini,
terutama typo yang merajalela dan ceritanya yang gak jelas

Akhir kata, Review please :)