Disclaimer: Star Trek bukan punya saya, tapi punya Gene Roddenberry.
Kalau Star Trek punya saya, saya transfomasi Zachary Quinto jadi alien hamil di Star Trek Beyond. Beneran deh. Sayangnya dunia masih waras, jadi Star Trek gak dibebankan ke tangan saya._.v

Warning: Non-slash Mpreg, OOC, cerita gaje dan gak masuk logikanya Spock dan Sarek dan Surak dan Soval dan Tuvok dan T'Pring dan T'Pol dan Bones McCoy… Eh— Eh apa yang terakhir…?


Chapter 6

.

Nyota Uhura memerhatikan layar di depannya dengan mimik serius. Ia memang masih marah dengan sang komandan, tapi apa yang dilihatnya membuatnya benar-benar kagum.

Ultrasonography. Begitu kepanjangannya. Leonard sengaja memilih teknologi kuno itu ketimbang teknologi zaman sekarang yang punya efek radiasi mematikan buat janin dan ibu yang meng— err… orang yang mengandungnya. Lagipula Spock setuju-setuju saja diperiksa menggunakan teknologi kuno, dia tidak akan pernah ambil pusing soal itu. Toh, dia tetap bisa melihat perkembangan janinnya dan hasilnya bisa dicetak.

Ini hari ketiga dalam misi lima tahun Enterprise. Seluruh kru sudah mengetahui kondisi Spock. Sang Perwira Utama dengan kalemnya mengumumkan lewat siaran-di-seluruh-kapal saat itu. Sebagian dari mereka ada yang kagum—kebanyakan dari kalangan perempuan, ada pula yang mengerutkan dahi. Jim pastinya harus siap kapan saja untuk melotot pada kru yang menatap sahabatnya dengan mimik aneh.

Enak saja menatap Spock dengan tatapan seperti itu, pikir Jim.

Barusan ia hampir meninju salah seorang kru yang lewat di depan sickbay dan menatap Spock dengan tatapan 'yang-benar-saja-dia-hamil'. Untung saja Leonard sudah menyeret Jim masuk dan buru-buru menutup pintu.

Pemeriksaan selesai. Hasilnya masih sama dengan 4 minggu lalu, janin sehat dan tumbuh sesuai usia kandungan.

"Nyota, bisakah aku bicara padamu?" Spock mengekor di belakang sang Letnan seusai pemeriksaan untuk kembali ke anjungan.

"Kau memilih tidak melakukannya sama sekali sebelum ini,"

"Nyota, biarkan aku bicara padamu."

"Baik, bicaralah. Sekarang."

"Bukan hal yang logis untuk bicara secara pribadi di lorong ini, Nyota. Bukankah itu biasa dilakukan di tempat yang lebih bersifat privasi?"

Nyota memutar bola matanya. "Jadi kau mau di mana?"

"Tidakkah kau keberatan ke kabinku?"

.

.

Seminggu sebelumnya…

Suara keramaian malam yang terasa sunyi menyelimutinya. Spock menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara di sekelilingnya.

Ia barusan pulang dari tugasnya sebagai instruktur akademi, dan ia merasa sangat lelah. Spock hanya ingin satu: tidur. Lalu mempertimbangkan ikut serta atau tidaknya dia dalam misi lima tahun Enterprise di keesokan harinya. Meski tadi sudah berbaring dan mencoba merubah posisinya, ia tetap tidak bisa tidur.

Spock mendudukkan dirinya di bangku balkon, menyesap sesekali susu kedelai hangat—yang barusan ia ambil dari dalam apartemen—yang digenggam kedua tangannya. Barang kali, setelah stok susu kedelainya habis, ia harus mencoba untuk minum susu hamil. Tak apalah bertentangan dengan prinsipnya yang seorang vegan. Ia minum susu sapi semata-mata untuk pertumbuhan bayinya.

Spock menoleh ketika mendengar suara 'bip' yang berasal dari dalam apartemen. Ia masuk ke dalam dan melihat siapa yang menghubunginya. Deretan huruf terran bertuliskan 'Duta Besar Spock' tertera di sana. Ia meletakkan gelas susu kedelainya dan menerima panggilan.

"Selamat malam, Spock."

"Malam, Mr. Spock."

Pria renta di seberang sana tersenyum tipis pada Spock, nampak lega dirinya-yang-lebih-muda terlihat baik-baik saja. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya memastikan.

"Aku baik-baik saja. Tidak ada masalah,"

Prime Spock mengangguk, "Apa kau sudah makan?"

"Belum."

Terdengar helaan napas dari seberang sana, "Makanlah setelah kita selesai." Katanya.

"Baiklah."

"Kau tampak lelah."

"Ya."

Mendengar jawaban singkat dari dirinya-yang-lebih-muda, Prime Spock tahu ada yang salah padanya. "Spock, apa ada yang mengganggumu?"

"Aku hanya memikirkan tentang misi lima tahun Enterprise." Spock menjawab tanpa ragu.

"Ada apa? Apa ada masalah?"

"Haruskah aku ikut serta, Mr. Spock? Kau tahu, aku sedang mengandung."

"Tanyakan itu pada dirimu sendiri, apa kau ingin ikut serta?"

"Aku ingin."

"Tentu saja. Kau perwira utama Enterprise."

"Tetapi, itu berarti aku akan melahirkan di sana. Aku tidak ingin… merepotkan kru yang lain. Dan juga, kapal luar angkasa bukan tempat untuk mengasuh bayi."

"Spock," Prime Spock menarik napas, "Aku yakin dirimu sendiri tahu, di sanalah kau ingin berada, di sanalah teman-temanmu berada. Dari tempat asalku, aku tahu kru Enterprise akan membantuku dengan tangan terbuka. Dan aku yakin begitu juga di sini. Soal mengasuh bayi, mereka pasti tidak akan keberatan. Uhura dan Sulu suka anak-anak, mereka akan membantumu. Kuyakin kru lain juga akan menyusul jika mereka sudah melihat bayimu." Dia terkekeh. Prime Spock sendiri memang tidak punya pengalaman menimang anak, tapi entah bagaimana ia tahu kalimat terakhirnya itu bisa saja terjadi.

Prime Spock menambahkan, "Pergilah, karena kau tahu kau memang seharusnya di sana. Lakukan tugasmu sebagai perwira utama dan perwira sains di Enterprise."

Hening sesaat.

"Aku sempat berpikir aku akan berhenti dari Starfleet untuk membesarkan janin ini."

Prime Spock tidak terkejut, "Tidak, kau tidak akan melakukan itu. Starfleet adalah keinginanmu. Meski itu bukan ambisimu, tapi itulah keinginanmu."

"Jika aku ikut misi lima tahun, kurasa aku butuh bantuan Mr. Mahigan."

"Ah, dia orang yang pernah kau bicarakan itu, yang kau bantu untuk menepis tuduhan atas hal yang tidak pernah dilakukannya?"

"Benar. Dia dijebak, hingga akhirnya dituduh oleh si pelaku itu sendiri. Sangat tidak bertanggung jawab." Spock mendesah.

"Syukurlah kau membantunya, saat itu anaknya masih setahun, bukan?"

"Ya. Istrinya pun sudah tiada."

"Dia pasti sangat terbebani." Prime Spock mengangguk, "Baiklah jika itu yang kau inginkan dari Mr. Mahigan, aku akan menolongnya dalam membantumu."

"Terima kasih, Mr. Spock."

.

.

"Jim?"

"Hey, Spock."

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku bawakan susu," Kapten pirang itu nyengir, menunjukkan nampan berisi segelas susu putih—yang terlihat masih panas—dan sepiring roti selai kacang.

Spock, yang menyandar di pintu kabin, hanya menatapnya datar.

"Nyota yang memintaku. Tadinya dia yang ingin ke sini, tapi Chekov butuh bantuannya."

Spock masih diam.

Jim menyodorkan nampan di tangannya, "Ini. Tidak enak kalau sudah dingin."

Spock menerimanya, "Terima kasih, Jim. Kau ingin masuk?" Spock mundur, mempersilahkan Jim.

Jim menggeleng. "Tidak, aku sudah janji sarapan bersama Carol. Omong-omong itu susu hamil,"

"Sudah kuduga."

"Susu sapi."

"Ya."

"Tapi… Vulcan itu vegetarian, kan?"

"Betul."

"Tidak apa-apa kau minum itu?"

Spock mengangguk, "Jika untuk pertumbuhan janinnya, tidak ada masalah."

"Oke kalau begitu. Ingat, ke anjungan jam 11 tepat. Kurang dari itu, aku sendiri yang akan menyeretmu kembali ke sini. Kau dengar?"

"Ya, Jim."

Jim tadinya sudah mengangkat kakinya hendak pergi, tapi ia berhenti ketika melihat mata Spock sekali lagi. "Hey, bud, kau tidak tidur?" Tanyanya khawatir.

"Tentu aku tidur."

Jim menggeram kecil, "Kau tahu maksud pertanyaanku, Spock."

"Apa yang kau maksudkan, Jim?"

Jim memutar bola matanya. Bertanya dalam hati bagaimana caranya ia bisa punya teman yang melelahkan macam Spock.

Kapten itu menepuk pundak sahabatnya, "Aku mau kau tidur setelah sarapan," Ia menunjuk Spock, memicingkan matanya. "Sebelas tepat, oke?" Jim menepuk lagi dua kali.

Tanpa menunggu jawaban dari Spock, Jim nyelonong pergi.

"Baik, Jim." Cicit Spock sebelum menutup pintu kabin.

Minggu kedua misi lima tahun Enterprise, pukul 7 pagi. Spock mendudukkan diri di bangku, menggigit rotinya. Entah bagaimana, tiba-tiba ia merasa lapar sekali. Baguslah Jim mengantarkan sarapan, jadi dia tidak perlu lagi ke tempat makan. Sang Kapten memutuskan membatasi jam kerja Spock mulai kemarin, mengingat sahabatnya itu sudah terbilang memasuki separuh masa kehamilannya. Para kru anjungan bersikap begitu proktektif pada Spock. Beberapa jam sekali, ada saja yang menanyakan keadaan sang Komandan. Kadang bertanya apakah ia ingin dibawakan sesuatu. Spock pastinya berterima kasih pada mereka—meski berpikir apa yang mereka lakukan sama sekali tidak perlu—walau pada akhirnya ia tidak pernah meminta apapun untuk dibawakan.

Benar apa yang dikatakan dirinya-yang-lebih-tua, kru Enterprise akan membantunya.

.

.

Lorong-lorong yang ia lewati begitu sepi. Tentu saja, para kru yang bertugas di pagi hari masih terlelap. Spock hanya sesekali melihat kru shift malam melewati lorong. Enterprise, kapal yang berisi ratusan awak, terasa sangat sunyi dari hiruk-pikuk. Jam 5 pagi, di bumi pun matahari belum terlihat, fajar masih menghiasi langit San Francisco. Spock hanya ditemani suara hembusan napas berat miliknya. Setidaknya, itulah yang menemaninya selain bunyi-bunyian lain yang berasal dari dinding lorong. Keringat mulai bercucuran dari pelipisnya. Langkahnya melambat seiring napasnya yang makin pendek.

Sambil menarik napas dalam, Spock menyandarkan tubuh. Istirahat sebentar, dua menit. Mengatur napas agar setidaknya mendekati semula. Vulcan itu menyeka keringat dengan punggung tangan dan melanjutkan jogging. Sudah melewati satu putaran, dan ia sangat lelah. Bahkan keringatnya mengalir lebih banyak, kaus bagian belakangnya sudah lepek dan hanya tersisa beberapa bagian saja yang masih kering.

Kali ini Spock mengurangi kecepatan menjadi berjalan. Ia melihat lagi dua orang kru shift malam yang melintas di lorong. Kabin milik Kapten Kirk ada di samping kanannya sekarang. Nampaknya pria mata biru itu masih memeluk bantalnya, atau—

"Oh, hey, Spockie." Tak biasanya Jim bangun pagi-pagi setelah selesai tugas tengah malam. Ia mengenakan celana training ungu gelap ditemani kaus hitam Starfleet, berdiri di ambang pintu kabin. Wajahnya dihiasi senyuman lebar.

Kapten itu lalu gabung berjogging dengan Perwira Utamanya. Mereka berbincang-bincang, menyusuri lorong.

"Kenapa kau tidak ke gym saja? Kau bisa pakai treadmill. Tadinya aku juga ingin ke sana, lalu kita kebetulan bertemu, kupikir lebih baik jogging bersamamu. Untuk mengawasimu juga, sih." Ucap Jim, menyamakan posisinya dengan Spock yang melambat.

"Aku juga ingin ke gym, tetapi kulihat lorong masih sangat sepi. Jadi kuputuskan untuk jogging di sini."

"Sudah berapa menit kau olah raga?"

"54 menit."

Jim berdecak, "Itu cukup untuk satu putaran—sambil berjalan, termasuk istirahat."

"Kau benar."

"Kau masih kuat, kan? Jangan terlalu dipaksakan. Ingat kondisimu, eh?"

"Aku masih sanggup, Jim."

"Jika kau sudah lelah, berhentilah. Jangan hiraukan aku, aku bisa ke gym ketika kau selesai, oke?"

Spock mengangguk.

"Bones mengatakan padaku kau akan semakin lemah seiring makin dekatnya dengan persalinan,"

"Jim, aku masih di awal trimester kedua."

"Tetap saja aku khawatir, Kawan." Dia menyikut pelan lengan Spock. "Minggu ke 19, kau sudah separuhnya." Jim menggeleng kecil, "Tak kusangka kau bisa melewatinya. Jujur saja, aku tidak bisa bayangkan jika aku ada di posisimu."

Vulcan itu diam saja.

"Oh ya, bukankah seharusnya kau sudah merasakan tendangan bayimu?" Tanya Jim.

"Seharusnya begitu,"

"Mungkin bayimu masih malu-malu." Kekeh Jim, yang tidak diberi respon oleh Spock.

Jim menoleh heran ketika napas Spock mendadak menyentak. Sang Komandan berdiri mematung, tangan kanannya berada di atas perutnya. Ia bahkan tidak repot-repot menyembunyikan wajah terkejutnya.

"Spock?"

Yang dipanggil tidak menyahut, masih menatap lurus kedepan dengan ekspresi kaget.

"Spock, ada apa? Spock?" Pekik Jim panik.

TBC...


Makasih buat Axerleoulus Xenon Xelvarixion yg sudah fav!

Balasan buat zenTH90: uwaaah makasih yaaa, ini sudah lanjut! saya tunggu reviewnya lg okee

Balasan buat sheila: uuuhhh padahal idenya abal gini XD ini udah saya lanjutt. review buat chap ini jgn lupa yaa

Review please^^