"Spock, ada apa? Spock?" Pekik Jim panik.
"Spock?"
Vulcan itu mengedip sekali, mengedip lagi, lalu menatap manik biru milik Jim. Jim hanya bisa memberikan wajah panik yang berangsur-angsur pudar seiring makin rileksnya tatapan Spock.
"Tidak apa, Jim." Ucap Spock kalem, menenangkan teman baiknya. Meski dia sekuat tenaga menyembunyikan sisa rasa terkejutnya.
"A- ada apa?"
"Janin— er, barang kali sekarang sudah dapat disebut bayi," Spock menyahut lambat.
Jim menyambar cepat, "Kenapa bayinya?"
"Bayinya menendang,"
-—-
Disclaimer: Star Trek bukan milik saya. Saya cuma iseng nyomot tokoh2nya buat ff ini. Kalau Star Trek punya saya— bakbukduar *diamuk massa*
Warning: Non-slash mpreg, OOC, abal, ga jelas, dan typos
-—-
Chapter 7
.
"Hah, apa?"
"Kau tidak dengar, Bones? Spock akan melahirkan!"
Pavel Andreievich Chekov berdiri mematung di tempatnya berdiri. Ia mengedip, dan waktu berlalu amat cepat setelah ia membuka mata.
Manik hijau nan indah itu memperhatikan kehebohan di depan wajahnya. Jim Kirk, Kaptennya—yang panik setengah mati—tengah membopong Perwira Utamanya menuju sickbay bersama Hikaru Sulu, diikuti Leonard McCoy di belakangnya. Lengan kanan Spock berada di tengkuk sang pilot, sedang tangannya yang lain menelengkup perutnya yang menggembung—Pavel yakin ia sempat melihat Spock meremasnya. Kapten Kirk melingkarkan satu lengannya di torso Spock, menahan agar Vulcan itu tidak limbung. Ketiga wajah itu tampaknya sudah kedapatan pasokan darah berlebihan karena wajah Kapten Kirk dan Sulu begitu merah, begitu juga Spock yang wajahnya kehijauan menahan sakit.
Mengapa pula mereka tidak menggunakan tandu, tunjuk dan salahkan saja Kapten Kirk yang lebih memilih membopong Spock dengan alasan dengan begitu sang Vulcan bisa lebih cepat ditempatkan di sickbay. Tentunya Dr. McCoy menggerundel mendengar kemauan kapten pirang satu itu.
"Argh," Spock melepas erangannya lagi, yang membuat Pavel meringis dalam hati dan membuat Kirk serta Sulu makin panik.
Dua kru anjungan itu berhasil membawa Spock ke dalam sickbay. "Dengan aman dan damai," Begitu yang dikatakan Kapten Kirk ketika Uhura datang tergopoh-gopoh dan menanyainya perihal Perwira Sains itu.
Pavel masih berdiri di tempatnya sebelum Sulu meninju pelan lengannya dan menyeretnya ke ruang tunggu—dilengkapi dua pintu yang salah satunya menghubungkan ruangan itu dengan sickbay, menunggu hingga persalinan usai bersama Kapten Kirk, sedang Uhura diizinkan masuk oleh Dr. McCoy. Menurut yang Pavel dengar disela-sela diamnya, Dr. McCoy mengusir Kirk dari sickbay dengan teriakan khasnya. Itulah alasan kenapa Kapten Kirk—yang tak lain sahabat Spock dan sekiranya pantas untuk berada di dalam—tengah bersamanya saat ini sembari menggeram kesal dalam hati.
Tak ada satupun dari tiga orang itu yang bicara. Sesekali terdengar erangan teredam dari dalam, bahkan Pavel sempat mendengar pekikan yang terdengar serak. Lelaki itu menatap lantai yang putih kusam, dan ia sendiripun tidak mengerti apa yang ia pikirkan. Pavel menoleh, terlihatlah wajah Kaptennya yang masih merah dan berkeringat. Tatapan pria bermarga Kirk itu tampak kosong sekaligus tegang.
Pavel tahu, persahabatan tak terputus Kapten Kirk dan Mr. Spock diawali dengan kebencian dan ketidakpercayaan, hingga keadaan memaksa masing-masing dari keduanya untuk bangkit dan bekerja sama. Dan pada akhirnya sampailah pada titik di mana keduanya nyaris tak terpisahkan, bagai api dengan asapnya, bumi dengan tanahnya, lautan dengan karangnya. Jika satu dari keduanya menghilang, maka satu yang lain tak akan lengkap, bisa saja hancur dan dampaknya merambat ke insan di luar keduanya. Di mana ada Kirk, di sanalah kau akan menemukan Spock,
Mungkin.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Setelah Mr. Spock melahirkan anaknya.
Apakah ia akan selamat? Atau apakah hanya anaknya yang selamat?
Atau apakah keduanya selamat, membawa kegembiraan di lantai Enterprise untuk beberapa tahun kedepan atau apakah keduanya tidak selamat dan memenuhi hati tiap kru Enterprise dengan pasir hitam?
Erangan Kapten Kirk menyadarkan Pavel dari lamunannya. Kirk menghela napas keras-keras setelahnya. Pavel menatap lurus pria itu, mengantarkan kalimat-kalimat menenangkan untuknya.
"Komandan Spock dan bayinya akan baik-baik saja, Kapten. Kau harus percaya itu." Kapten mudanya tersenyum mendengar betapa kental aksen Rusia dalam ucapannya. Wajah Kirk begitu lelah ketika pandangannya bertumbuk dengan Pavel.
"Aku percaya itu, Chekov." Desahnya. "Aku sudah lewati ini bersama Uhura, membantu Spock agar semua terasa meluncur begitu saja. Aku senang dia bersedia kami tolong dan aku senang... dia bisa membuka diri untuk kami, bahkan untuk para kru. Aku senang dia meringankan kami dengan itu, yang artinya dia juga membantu dirinya sendiri. Dan aku..."
Detik berikutnya Pavel berada di ruangan yang nampaknya seperti,
"Sickbay," Bisik Pavel sehingga hanya dia yang dapat mendengar suaranya. Ia duduk di pojok ruangan dengan Sulu di samping kirinya. Dahinya berkerut begitu udara dingin secara tiba-tiba menusuk tajam kulitnya. Pavel menatap sekeliling, melihat Kapten Kirk, Uhura, dan Dr. McCoy tengah berdiri mengelilingi sebuah ranjang di seberang sana. Ekspresi mereka begitu tegang. "S- Sulu?" Panggil Pavel.
"Sudah kubilang berapa kali untuk memanggilku Hikaru, Pavel?" Sahut pria keturunan Asia timur itu tanpa mengalihkan pandangan muramnya dari lantai.
Dahi Pavel berkerut lagi, belakangan ini ia memang memanggil Sulu dengan nama depannya. Tapi kenapa ia kembali memanggil pria itu dengan nama belakangnya? "Maaf, Hikaru." Gumamnya. "Hikaru, apa yang terjadi?"
Hikaru menatap Pavel heran. Ia tidak ingin merespon kalau saja tatapan tanda tanya Pavel tidak kunjung menghilang. "Ada apa denganmu?" Sahut Hikaru ogah-ogahan.
"Maksudmu?"
"Jangan bercanda disaat seperti ini, Pavel. Aku tidak suka, sumpah. Seriuslah sedikit."
Pavel makin mengerutkan dahinya, "Hikaru, aku benar-benar tidak tahu."
"Serius sedikit, kubilang." Hikaru membalas dingin.
Pavel menggeleng, "Aku tidak tahu apa yang terjadi,"
Hikaru memandangi rekannya tak percaya. Heran, kesal, dan gemas bercampur menjadi satu dalam ekspresi dinginnya itu. Heran mengapa Pavel bisa-bisanya terkena amnesia mendadak, kesal karena Pavel seolah mengerjainya, gemas karena mimik tanda tanya Pavel yang polos tak kunjung hilang dari wajah kemerahannya yang kentara menahan dingin udara sekitar.
"Apa sesuatu terjadi pada Mr. Spock?"
Hikaru menghela napas, "Ya,"
Pavel terkejut, "Sesuatu terjadi pada Mr. Spock?" Ia sebisa mungkin menjaga suaranya agar tetap kecil. Beruntung, ia berhasil. "Atau sesuatu terjadi pada bayinya?"
"Ya, dan tidak."
"Apa yang terjadi pada Mr. Spock, Hikaru?"
Lama sebelum Hikaru menjawab amat pelan sambil memandangi mata Pavel, "Dia tidak bisa bertahan." Sambil menggeleng suram.
Berita itu nampaknya sudah menjalar di seluruh penjuru Enterprise. Pavel bertaruh bahkan tribble di sickbay pun kedapatan beritanya. Baru beberapa jam yang lalu Perwira Utama milik kapal luar angkasa berseri NCC-1701 ini dinyatakan tiada. Menyisakan luka mendalam bagi Kapten Kirk dan Uhura yang menyambut pernyataan itu dengan tangisan pilu. Tak ketinggalan dengan kru lain yang juga merasakan kehilangan. Mereka begitu terkejut ketika pimpinan dari masing-masing bagian kapal menyampaikan berita duka. Tiap pimpinan juga menyampaikan bahwa anak yang dilahirkan Mr. Spock lahir dengan selamat. Meski begitu pimpinan mereka tidak diberi tahu jenis kelaminnya, membuat para kru bertanya-tanya apakah bayinya laki-laki atau perempuan.
Atmosfer anjungan terasa berbeda karena berita kehilangan ini, tambahan Kapten Kirk menuruti ucapan Dr. McCoy untuk absen sampai besok. Ketidakhadiran ketiga kru anjugan itu kelihatannya memang berdampak sekali. Pavel hanya dapat memandang ke luar kaca, menyibukkan diri dengan garis-garis cahaya yang timbul ketika kapal memasuki kecepatan warp. Entah bagaimana, setelah sekian tahun tak ia pedulikan, garis-garis itu secara mendadak menarik perhatiannya.
"Pavel?"
"Pavel."
"Pavel Chekov!"
Pavel terkesiap, mencari sumber suara yang memanggil namanya. "Y- ya, Kapten?"
"Fokuslah." Ujar sang kapten pengganti, Hikaru Sulu.
"Maaf," Dia menunduk tak enak hati, mengalihkan tatapan ke layar navigasi.
"Beritahu aku jarak planet kelas M terdekat, Pavel."
"Ada planet kelas M dalam jarak waktu 2 menit, sir."
"Ensign Candore, bersiap untuk mengorbit di sana." Perintah Hikaru.
"Siap, Kapten." Ucap Candore.
Kapten Kirk memberi saran pada Hikaru untuk mengorbit di planet kelas M atau kelas D terdekat. Hikaru mengiyakan, beranggapan lebih baik berhenti dari kecepatan warp dengan pikiran sang kapten yang tengah kalut. Bagaimanapun Hikaru bukan kapten, jika sesuatu terjadi saat kapal dalam kondisi berpindah, baik dalam kecepatan warp maupun tidak—yang mana resiko terjadinya kendala lebih besar, ia tahu Kapten Kirk akan langsung turun tangan apapun alasannya. Ia tidak ingin mengganggu kaptennya dan merasa bersalah hanya karena berani ambil resiko.
"Tiba dalam tiga... dua... satu,"
Garis-garis cahaya menghilang dari kaca, digantikan oleh bola hijau super besar. Pavel hampir berdiri dari duduknya, saking kagum. Pertama kali dalam hidupnya ia melihat langsung planet sehijau di bawah sana. Ingin rasanya ia memijak planet itu dan menghirup masuk sebanyak mungkin udara segar ke dalam paru-parunya. Bayangkan betapa segar di sana, bisiknya. Sulit sekali ia melepas tatapan dari pemandangan indah itu.
Suara gemuruh logam menggema di seluruh anjungan. Pavel dengan cepat menoleh, mempertajam pendengarannya kalau-kalau itu hanya halusinasi. Sesaat kemudian suara gemuruh itu terdengar lagi. Mata lelaki itu membulat ketika dirasakannya lantai Enterprise mulai kehilangan keseimbangan. Belum sempat ia berpegangan pada benda di sekitarnya, tubuhnya sudah merosot dan meluncur ke sisi kanan anjungan yang dalam hitungan detik miring sekian puluh derajat dari posisi awal.
Pavel dapat melihat kepanikan dalam tiap wajah kru yang ia lihat.
.
Bruk!
"Arrh..." Dia meringis ketika merasakan dinginnya lantai, tubuhnya pun terasa ngilu. Perlahan ia membuka mata, menyapu apapun yang bisa ia lihat di kegelapan.
Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada Enterprise?, pikirnya. Ia heran mengapa suasana begitu sunyi, bertanya apakah telinganya baik-baik saja.
"Oi, apa yang kau lakukan di situ, bocah?"
Pavel menoleh ke asal suara—syukurlah telinganya tidak apa-apa. Dengan cahaya remang dibantu rasa kantuk yang masih menguasai, ia melihat pria bermata gelap tengah memandanginya.
"Hikaru?" Gumamnya serak.
"Kenapa kau ada di lantai, Pavel? Kau jatuh dari tempat tidur?"
"Jatuh...?"
Tunggu— tempat tidur? Tempat tidur katanya?
Pavel terkesiap, memutar kepala menatap sekeliling. Mulailah ia sadar di mana ia berada; kabinnya bersama Hikaru.
"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" Tanya Hikaru. Dia menyalakan lampu—yang membuat Pavel menyipitkan mata—dan berjongkok di samping teman sekamarnya. "Kau gila, jatuh dari tempatmu pasti sakit. Suara jatuhmu lumayan keras sampai buat aku bangun." Pilot itu meringis ngilu, membayangkan bagaimana rasanya jatuh dari tempat tidur tingkat dua langsung ke lantai.
Itu hanya mimpi?, batin Pavel linglung. Mengubah posisi menjadi duduk.
Enterprise kehilangan keseimbangan, planet hijau, kepergian Mr. Spock... itu semua hanya mimpi?
Hanya mimpi?, ia menatap Hikaru, seakan menanyakan hal itu.
Yang ditatap mengernyitkan dahi, "Apa?"
"Hikaru...?"
"Ya?"
"Enterprise baik-baik saja, kan?"
"Er... menurutmu?" Balasnya, "Kau mimpi apa, Pavel?"
"Mr. Spock juga baik-baik saja, kan?" Pavel tak mempedulikan pertanyaan Hikaru.
"Sejauh yang kutahu; yeah. Apa yang kau mimpikan?"
Pavel menguap alih-alih menjawab.
"Baiklah, sebaiknya kita kembali tidur," Gumam Hikaru sebelum Pavel sempat membuka mulut lagi. "Kau tidur di tempatku, biar aku yang di atas."
"Em? Tapi Hi—"
"Pavel, kau mau jatuh lagi? Aku yakin setidaknya ada satu bagian di tubuhmu yang lebam. Kau di tempatku saja, oke?"
"Baiklah,"
.
.
Vulcan berambut hitam pekat itu mengetuk-ngetuk jari telunjuk pada gelas susunya, dagu menempel pada meja, sedangkan tangan kiri menelengkup perutnya. Sejak tadi bayinya tidak mau diam, berguling dan menendang di tiap sisi abdomennya. Mata komandan itu terasa berat, hampir tertidur kalau saja tidak dikagetkan oleh tendangan bayinya yang lebih keras dari sebelumnya. Dia menghela napas kecil, mengangkat kepala sambil mengusap melingkar perutnya. Nak, tolong diam, batinnya lembut, berharap bayinya bisa lebih tenang dengan usapannya.
Pintu kabinnya berbunyi, membuat pandangan Spock beralih ke sana. "Masuk," Katanya.
"Hei," Nyota Uhura masuk ke dalam. Senyuman terukir di wajahnya yang bebas make up. "Kukira kau sedang tidur."
"Aku tidak bisa tidur."
"Ini, aku bawakan rumput laut goreng. Mungkin saja kau ingin cemilan." Senyuman Nyota melebar ketika ia menunjukkan bungkus besar rumput laut goreng yang ia maksud.
"Kenapa kau bawakan itu?"
"Spock, jangan pura-pura. Aku bisa lihat ini jadi makanan kesukaan barumu saat kau mencobanya beberapa hari yang lalu. Lain kali aku akan minta ayahku untuk mengirim ke sini lebih banyak. Terima kasih sekali pada Mr. Scott yang berhasil menciptakan transwarp. Aku tidak bisa membayangkan bertahun-tahun tidak makan rumput laut ini karena kehabisan stok." Wanita itu terkikik, menyerahkan rumput lautnya pada Spock.
"Terima kasih, Nyota."
"Langsung makan saja, aku tahu kau mau itu. Wajah Vulcan-mu tidak bisa bohong kalau soal rumput laut."
Spock membuka bungkusannya. Dia sudah menghabiskan potongan pertamanya ketika Nyota duduk di sebelahnya.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Baik,"
"Dan si kecil? Sedang apa dia di dalam sana?"
"Bayinya tidak mau diam sejak shift-ku selesai."
"Dia sering begitu?"
"Ya,"
"Saat sedang tugaspun dia sering tidak mau diam?"
"Ya, meski begitu gerakannya tidak mengganggu. Dia lebih sering berganti posisi; memutar tubuh dan berbalik. Baru kali ini bayinya menendang-nendang seaktif ini."
Nyota mengangguk-angguk. "Bolehkah?" Tanyanya, dengan tangan menyodor beberapa inci menghampiri perut Spock.
"Tentu,"
Tangan Letnan itu disambut tendangan kecil nan kuat dari si bayi begitu telapaknya menyentuh perut sang komandan. Senyumnya mengembang, "Halo, ini aku lagi." Kikiknya. "Hei, Papamu tidak bisa tidur karena gerakanmu, tahu. Lebih pelanlah sedikit, biarkan Papamu tidur."
Si bayi tampaknya enggan menurut. Nyota tidak merasakan tendangannya memelan, melainkan tendangannya makin kuat dengan jeda lebih pendek.
"Kamu semangat sekali, ya." Nyota melepas tawanya.
Sementara di lain sisi, Spock menatap wanita itu dengan tatapan teduh.
TBC...
Thanks buat Amtrs7227 yg sudah follow dan viow87 yg sudah fav & follow! *bow*
Saya minta maaf kalau masih ada yg typo
dan entah kenapa Spock munculnya sedikit di chap ini. *ditimpuk Spock pake phasers*
Akhir kata, Riview please :)
