Disclaimer: ff ini murni ide saya, tapi Star Trek bukan milik saya. Saya cuma minjam karakter Star Trek buat ff aneh bin ajaib ini.
Warning: Non-slash mpreg, kemungkinan OOC, abal, ga jelas, dan typos
Chapter 8
.
"Kau tahu, planet di bawah sana benar-benar keren." Ucap Jim Kirk antusias. "Aku kira planet itu membosankan, tapi ternyata kau akan disuguhi hamparan pantai dengan air sebening kaca ketika kau sudah melewati hutan. Penduduk di sana sangat ramah. Pemimpin Lofgna—daerah tempatku mendarat—mempersilahkan kami untuk mampir ke rumahnya. Bahkan ia membiarkan kami menikmati balkon yang berada di atas tebing dan itu mengarah langsung ke pantai. Sangat indah! Yah, mirip dengan planet Risa, hanya saja di sana lebih sepi."
"Apa besok kita ada kunjungan lagi ke sana?" Tanya Nyota Uhura.
"Kau ingin ke bawah sana, Uhura?"
"Bukan untukku sebenarnya. Dia," Mata cokelat wanita itu menunjuk Spock—yang entah bagaimana caranya bisa memandangi planet biru di bawah sana tanpa berkedip sepanjang pembicaraan mereka. "Kupikir baik untuk Spock menghirup udara segar di bawah sana. Dia butuh menjernihkan pikiran, Kapten."
"Uh-huh, bukan kapten, tapi Jim atau Kirk. Kita sedang diluar jam kerja." Sanggah Jim.
"Kurasa Spock butuh liburan dan udara segar, Kirk." Balas Nyota dengan penekanan yang dipaksakan di akhir kalimat. "Spock sudah hampir dua bulan tidak menghirup udara segar yang cukup—sejak pertama kali kita menjalankan misi ini. Hanya sesekali saja dia turun ke permukaan dan itu juga hanya sebentar. Dan aku mulai khawatir gravitasi buatan di Enterprise perlahan bisa mengacaukan sesuatu di dalam tubuhnya—karena sepertinya itu terjadi juga padaku. Aku mulai sulit tidur, kau tahu."
"Well, kau benar dan itu ide bagus. Bagaimana menurutmu, Spock?" Jim menepuk pundak sahabat Vulcannya.
"'Bagaimana menurutmu' apa, Jim?" Spock menaikkan satu alisnya.
"Kita akan liburan di Lofgna, mau tidak?" Tanya Jim bersemangat.
"Aku tidak keberatan."
Jim mengangguk-angguk, "Kru utama akan liburan di Lofgna sehari semalam. Setelah itu kita lanjutkan lagi perjalan kita."
.
"Terasa sangat tenang, bukan?"
Suara lembut itu datang dari belakang Spock, membuat sang Vulcan menoleh. Disana berdiri Nyota Uhura dengan senyumnya. "Halo, Nyota." Sapa Spock.
"Apa kau menikmatinya?" Tanya letnan wanita itu.
"Aku menikmatinya." Sahut Spock, tersenyum simpul. Ia tidak menyadari seringai tipis yang Nyota lempar ketika ia—yang untuk kesekian kalinya—menampakkan sisi manusianya.
Nyota menghampiri Spock yang berdiri di sudut balkon. "Si kecil sedang apa?"
"Menendang, seperti biasa." Tatapannya berubah lembut begitu tangannya meraih perutnya. "Tampaknya bayinya suka suasana di sini." Lanjutnya lagi sebelum Nyota membuka mulut. "Kurasa dia suka temperaturnya... udaranya. Entah bagaimana meski ia sangat aktif, ketika sampai di sini, tendangannya menjadi lebih lembut."
Nyota merespon dengan senyum lebar, menyiratkan ketertarikan-tak-berujung khasnya akan Spock kecil di dalam rahim komandan itu.
"Oh ya, Spock." Spock menoleh pada Nyota dan menatap maniknya. "Sudah terpikir nama untuk bayimu?" Tanyanya. Ia penasaran juga nama apa yang akan diberikan Spock pada bayi mungilnya nanti, karena Spock cenderung tertutup soal bayinya, bahkan pada Nyota sekalipun. Nyota bertaruh ia tidak akan tahu selagi ia tidak bertanya pada Spock seputar bayinya. Ia ingin tahu apakah Spock akan menamakan bayinya berdasarkan nama Vulcan atau nama manusia.
Spock mengelus lembut abdomennya, "Belum." Sahutnya.
Spock dibuat terkejut ketika bayinya menendang perutnya keras—seakan kesal dengan ayahnya yang belum menyiapkan nama untuknya.
"Sudah minggu ke-23 dan kau belum memikirkannya sama sekali?"
"Aku sudah terpikir akan memberikan nama depanku sebagai nama belakangnya, seandainya jika ayahku dan Duta Besar Spock mengizinkanku memberinya nama Terran."
"Kau berniat memberikannya nama manusia?"
Spock mengangguk, "Jika mereka mengizinkan." Ia melanjutkan, "Kalaupun mereka memberiku izin, aku akan tetap memberi bayinya nama Vulcan untuk database Dewan New Vulcan. Ketika di New Vulcan, ia akan dipanggil dengan nama Vulcannya."
Nyota mengangguk-angguk. "Jadi kau belum menetapkan namanya?"
"Belum," Vulcan itu menggeleng.
"Nama Vulcannya juga belum?"
"Belum."
"Omong-omong kau belum mengatakan padaku bayimu laki-laki atau perempuan."
"Aku sendiri belum tahu," Ucap Spock, menatap lurus ke laut lepas Lofgna yang jernih. Laut itu terlihat begitu indah ketika dilihat dari atas balkon. "Aku belum bertanya pada Dr. McCoy. Aku yakin dia sudah tahu jenis kelamin bayinya, tapi dia mungkin tidak memberitahuku karena aku tidak menanyakannya."
"Kau tidak penasaran dengan jenis kelamin bayimu? Aku sangat penasaran, kau tahu."
"Aku juga bertanya-tanya apakah bayinya laki-laki atau perempuan, Nyota."
"Lalu kenapa kau tidak menanyakannya pada Dr. McCoy?"
"Aku tidak tahu— Aku hanya tidak ingin menanyakannya. Aku tidak ingin tahu apa jenis kelaminnya, meski aku bertanya-tanya di benakku." Ucapan Spock yang berbelit itu membuat Nyota terkekeh.
"Kau lebih suka kalau bayimu laki-laki atau perempuan, Spock?"
"Selama bayinya lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat, baik laki-laki atau perempuan, aku tidak akan masalah." Spock mengambil napas dan menghelanya pelan. "Aku akan sangat bahagia dan merasa beruntung bisa melahirkannya."
"Jika kau ingin tahu jenis kelamin bayinya, tanyakan saja pada Dr. McCoy. Tapi kau tidak perlu memberitahukannya padaku." Lanjutnya beberapa saat kemudian.
Nyota tertawa, "Spock, bilang saja kalau kau ingin kejutan."
"Maksudmu, Nyota?"
"Layaknya kejutan; meski kau penasaran, kau tidak ingin tahu apakah bayimu laki-laki atau perempuan sampai dia lahir—dan di saat itulah kau akan tahu."
"Aku ingin tahu, tapi—"
"Iya, aku mengerti maksudmu." Letnan itu terkikik geli. Nyota tak menyangka komandan di hadapannya ini ternyata punya sisi semanis itu. Ia bahkan ingin kejutan di hari kelahiran bayinya.
"Kau tahu, Nyota?" Ucap Spock setelah kikikan Nyota mereda.
"Apa?"
"Belum lama ini aku pernah bermimpi—" Ia berhenti untuk melihat mata Nyota. "Well, bayiku kembar tiga."
"APA?" Mata Nyota terbelalak tak percaya, bibirnya separuh menyeringai. "Woah, benarkah? Aku harap itu benar-benar terjadi! Itu akan sangat keren, Spock!"
Pekikan wanita itu, secara tak disangka, membuat Spock merinding di sekujur tulang belakangnya.
Spock sempat bengong melihat lawan bicaranya. "Nyota, reaksimu membuatku merinding." Ucap sang Vulcan sejujur-jujurnya.
Letnan itu tertawa. "Tapi Spock, membayangkan akan ada tiga Spock mini di Enterprise untuk empat tahun kedepan? Tidak ada hal yang aku sukai melebihi itu."
Spock tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Lorong Enterprise akan ramai dengan tawa menggemaskan dan langkah kecil mereka. Apalagi kalau satu atau dua dari mereka punya telinga runcing sepertimu, pasti mereka akan tambah menggemaskan! Ya Tuhan, kini aku benar-benar berharap kau sedang mengandung tiga bayi!"
Spock memerhatikan mata wanita di hadapannya dalam. Senyuman atas apa yang diucapkan Nyota begitu tulus—entah bagaimana Spock dapat merasakannya. Ketertarikan Nyota akan anak-anak terasa begitu jelas, jernih layaknya kaca.
Mereka kembali berbincang hingga dua jam lamanya. Nyota kemudian kembali ke kamarnya karena lelah dan ingin menikmati kamarnya yang hangat sambil melihat hamparan pantai. Sayangnya setengah jam kemudian langit mulai gelap dan hujan rintik mulai turun.
Spock masih berada di balkon kamarnya, menikmati aroma khas hujan. "Nak, ini yang namanya hujan." Vulcan itu bergumam pada bayinya, sambil tangannya menjulur menadah rintik hujan. "Iya, memang mirip shower saat mandi, tapi air hujan datang dari titik air yang mengalami koalensi dan menjadi awan yang semakin kelabu. Hingga titik-titik itu tertarik gravitasi—" Spock berhenti, menyadari apa yang barusan diucapkannya. Ia menggeleng kepala dan nyaris terkekeh. Spock, rasanya ini bukan saat yang tepat menceritakan proses hujan pada bayimu, katanya pada dirinya sendiri.
Ia lalu berpikir, bisa saja pembicaraan semacam inilah yang membuat Nyota dan Jim meringis gemas kala ia bicara panjang lebar. Yah, ia bermaksud agar lawan bicaranya dapat mengerti secara keseluruhan apa yang dibicarakannya. Tapi nampaknya manusia cenderung lebih suka pembicaraan yang langsung ke intinya.
Spock melanjutkan, "Dulu saat Papa masih kecil, Papa suka sekali hujan. Papa tinggal di planet Vulcan yang kering—terlebih daerah yang kutinggali punya curah hujan yang terhitung cukup rendah. Sebelum I-Chaya mati, Papa berlarian bersamanya selagi hujan. Kini Vulcan sudah digantikan dengan New Vulcan. Vulcan hancur satu tahun sebelum ada kamu." Dia mengeringkan tangannya sebelum meletakkannya di perut. "Maafkan Papa belum menemukan nama yang akan diberikan untukmu. Papa berjanji akan mempersiapkan namamu dalam waktu dekat. Papa hanya belum tahu nama seperti apa yang akan diberikan untuk kamu."
.
.
"Ada saran apa yang akan kita tonton untuk kali ini?" Tanya Jim Kirk.
"Kapten, kurasa kau tidak perlu membawaku ke sini."
"Ayolah, Spock. Bayimu butuh hiburan."
"Tetapi, Kapten—"
Jim tak menghiraukan Spock, "Kesempatan yang lalu kita menonton pertandingan Brazil dengan Italia di final piala dunia— er, aku lupa itu yang tahun berapa."
"Kurasa tahun 1970, Kapten." Celetuk Sulu.
"Yep, terima kasih Mr. Sulu. Ada saran? Er... barang kali film action? Atau... superhero?"
"James Bond? Emm... Superman? Aquaman? Oh, Kapten, Avengers!" Pekik Chekov.
"Baiklah, Avengers."
Segera setelah Jim memutarkan film dan mematikan lampu, para kru merapat dengan pandangan mata yang tertuju pada layar lebar. Jim, Spock, Uhura, Chekov, Scotty, dan tiga orang kru lainnya duduk di tempat yang lebih tinggi.
"Yang hijau itu Hulk, nama aslinya Banner. Di sampingnya yang menggunakan baju besi, itu Iron Man, Tony Stark. Lalu yang mengendarai motor itu Captain America. Kalau tidak salah nama lengkapnya Steven Rogers, tapi dia dipanggil Steve." Sang Kapten menjelaskan pada Spock dan Uhura tanpa mengalihkan tatapan dari layar di depannya. "Mr. Chekov, penjelasanku tidak salah, bukan?"
"Tentu, Kapten. Kau ahlinya." Tawa Chekov.
"Aku masih kalah denganmu, kau punya ratusan komik superhero di PADD-mu dan masih kau simpan. Sedangkan aku? Hanya hobi kecil di masa kecil." Ucapnya.
"Kalian berisik sekali," Canda Scotty yang membuat Jim dan Chekov tertawa kecil, sebelum akhirnya kembali mengalihkan mata mereka pada layar.
Sebagian kru meninggalkan Ruang Serbaguna ketika film yang diputar selesai, sedangkan sebagian yang lain memilih tetap di sana. Mereka terbagi lagi, ada yang bermain catur 3D, bermain kartu, sampai berbincang membentuk lingkaran. Ruang Serbaguna juga kerap kali digunakan sebagai ruang tidur oleh para kru yang bosan tidur di kabin mereka. Kapten Kirk yang mengusulkan itu. Barangkali para kru butuh suasana baru selain kabin mereka untuk tidur—yang isinya akan itu-itu saja termasuk teman satu kabin selama lima tahun. Maka dari itu Ruang Serbaguna yang luas dibagi menjadi dua. Tiga-per-lima bagian digunakan untuk ruang tidur, dan sisanya digunakan untuk kegiatan seperti sekarang ini.
Jim Kirk, Nyota Uhura, Spock, Hikaru Sulu, Pavel Chekov, serta Leonard McCoy yang membuat lingkaran tengah tertawa terpingkal-pingkal—minus Spock tentunya—setelah Sulu menceritakan suatu kejadian bodoh ketika ia dan Chekov masih berada di akademi. Chekov sempat mengumpat kecil pada Sulu sebelum akhirnya ikut tertawa.
Ketika tawa mereka reda, giliran Nyota yang bercerita. "Saat di akademi, Spock adalah instrukturku. Kesan pertamaku padanya cukup buruk. Ada satu hari yang benar-benar memaksaku untuk mendatangi apartemennya untuk belajar pengucapan dalam bahasa Vulcan. Aku tak punya pilihan lain selain datang langsung ke apartemennya. Saat aku sudah sampai dan menekan bel, ternyata Spock sedang ada di Vulcan." Para kru sontak tertawa.
Jim yang berada di sebelah Spock tertawa sembari menepuk-nepuk punggung Spock. Tapi tawanya langsung berhenti ketika ia melihat darah hijau mengalir perlahan dari salah satu lubang hidung sahabatnya.
"Spock, kau mimisan!" Pekiknya. Kru lain seketika berhenti tertawa, melihat Spock untuk memastikan apa yang kapten mereka katakan benar. "Tutup hidungmu, Spock!"
Spock menyeka hidungnya. Benar saja, di jarinya menempel darah hijau segar. Segera ia menutup hidungnya seperti apa yang Jim katakan.
Tanpa bicara lagi Leonard menyambar kotak P3K terdekat. Ia meminta Spock untuk menyandarkan tubuhnya selagi Leonard memeriksanya.
"Apa bayimu menendang lebih dari biasanya? Seperti... tendangan panik?" Tanya Leonard.
"Tidak, tendangannya sedang pelan sekarang."
Sang dokter mengangguk. Ia meletakkan jari di pergelangan tangan Spock, memeriksa denyutnya, "Cobalah bernapas dengan tenang dan perlahan lewat mulut." Entah bagaimana ia melupakan trikorder yang selalu ada di kantung celananya dan melakukan pemeriksaan secara manual. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir Leonard melakukan ini.
Beberapa menit kemudian dia berkata, "Aku tidak melihat ada gangguan lain." Ia kemudian mengarahkan senter kecil pada mata Spock. "Meski kau epistaksis dan mata kirimu menghijau; kau baik-baik saja, Spock."
"Sungguh?" Tanya Nyota khawatir.
"Yap, mata hijaunya sama seperti mata merah pada manusia. Warna hijau itu ya... dari warna darahnya." Leonard menjelaskan. "Apa darahnya sudah berhenti, Spock?"
"Aku yakin demikian, Dokter."
"Kalau begitu kau boleh melepas jarimu." Leonard memasukkan kembali senter kecil ke dalam kotak P3K, menyerahkan selembar tisu basah pada Spock untuk membersihkan darah. "Kurasa sekarang sudah waktunya pemeriksaan rutinmu, Spock. Sebaiknya kau kuperiksa lebih lanjut di sickbay."
"Baiklah, Dokter." Sahut Spock.
"Aku ikut." Ucap Nyota.
"Aku juga." Ikut Jim.
.
.
Nyota Uhura, Letnan wanita yang begitu pemberani. Sangat menawan namun juga mematikan, dengan lidah xenolinguistic-nya yang lihai berbahasa.
Ya, Jim Kirk memandangnya demikian. Tidak, bukan sebagai pria, melainkan sebagai rekan dan pemimpin. Ia tidak tahu harus bagaimana jika ia memandang Nyota Uhura dari sudut pandang seorang pria. Bisa-bisa tatapan membunuh Spock akan ia pandang sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa membayangkan digentayangi sikap protektif Vulcan—atau setengah Vulcan—yang mengawasinya 24 jam sehari demi menjauhkannya dari apa yang mereka miliki. Membayangkannya saja sudah membuat Jim bergidik ngeri. Rasanya sudah lebih dari cukup ia punya sahabat seorang Vulcan yang menyebalkan, tidak perlu ditambah lagi dengan tatapan mematikan milik ras satu itu.
Berdiri memandang langit-langit observation dome, di sanalah Uhura berada. Melihat ke luar angkasa dengan bintang di sana-sini. Hari ini mereka berhenti sejenak dari warp, memarkirkan kapal pada space station kecil yang menawarkan fasilitas menggiurkan. Entah bagaimana bisa-bisanya Starfleet menempatkan space station kecil berkualitas tinggi di nebula yang jaraknya berhari-hari—dengan warp—dari planet federasi terdekat.
Jim kemudian mendatangi Nyota dan berbincang dengannya. Cukup lama mereka berbincang sampai beberapa kali beralih topik.
"Uhura, apa kau sudah melihat wajah ibu dari bayinya Spock?" Tanya Jim.
"Eve Kuvak? Sudah." Jawab Nyota. "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga sudah." Sahut sang kapten, "Dia manis,"
Nyota menyipitkan matanya pada Jim.
"Kenapa?"
"Menurutmu?" Tanya Nyota sarkastis. "Dia setahun lebih tua darimu, Kirk. Aku ragu dia akan tertarik denganmu. Dan dia tampak seperti perempuan baik-baik, jadi... kau harus mundur sebelum dia terpaksa menembakkan phasers-nya padamu." Katanya geli.
"Siapa yang tidak tertarik dengan Kapten yang setahun lebih muda?" Ucap Jim yang membuat Nyota memutar bola mata tanpa berpikir dua kali. Ada-ada saja kapten mereka yang satu ini.
"Kau tidak serius, kan?"
"Aku tidak serius," Jim terkekeh kecil. Jeda beberapa saat sebelum Jim melanjutkan, "Duta Besar Spock menghubungiku kemarin."
"Oh ya?"
Jim mengangguk. "Dia menanyakan seberapa jauh yang sudah kita jelajah, apakah kita mendapat kesulitan. Lalu seberapa banyak ras yang sudah kita kunjungi, apakah mereka semua ramah. Dan dia bertanya sudahkah aku melakukan hal ceroboh." Jim tersenyum kecil. "Dia menanyakan kabar kita—kru Enterprise. Dia juga membicarakan Spock."
"Spock?" Tanya Nyota yang dibalas anggukan Jim. "Apa yang dia katakan?"
"Begitulah," Dia menarik napas. "Dia meminta tolong agar kita menjaga Spock, agar kita selalu ada di sampingnya, apapun yang terjadi. Duta Besar Spock mengatakan ini adalah hal yang sulit bahkan untuk Spock sekalipun. Ya, aku sangat mengerti. Meski Spock sama sekali tidak menunjukkannya—sekecil apapun. Ini hal yang berat untuknya. Dia hamil, tak tahu banyak apa yang harus ia lakukan setelahnya. Spock punya kau dan aku. Tapi Duta Besar Spock mengatakan ada saatnya dia akan merasa sendirian, sangat sendirian. Dia meminta kita agar memahami Spock, memahami apa yang Spock butuhkan sekalipun ia tidak memintanya."
Nyota tidak menjawab—tak tahu harus merespon apa, ia hanya memandangi sang kapten sambil mengangguk beberapa kali.
"Kita sahabatnya, Uhura—well, kau pacarnya." Jim terkekeh.
"Aku hanya berharap dia bisa lebih terbuka." Kata Nyota. "Dia terlalu diam. Seperti yang dikatakan Duta Besar Spock, dia tidak meminta ketika dia membutuhkan sesuatu. Aku yakin Spock pernah ngidam," Nyota tertawa kecil diikuti Jim, "Dan aku yakin Spock berusaha untuk memenuhi ngidamnya dengan usahanya sendiri. Aku pernah dengar dari orang-orang, ngidam itu rasanya seperti kulit yang gatal dan mereka akan meminta seseorang untuk memenuhinya apapun yang terjadi. Sementara Spock memenuhinya tanpa meminta bantuan siapapun."
Kemudian mereka memandang lurus keluar observation dome. Nampak nebula kebiruan di sana, yang mengingatkan mereka pada seragam Starfleet biru kebesaran yang selalu Spock pakai beberapa bulan terakhir ini. Katanya ia tidak nyaman kalau memakai baju yang terlalu ketat di area abdomennya yang berkembang makin besar, agak sesak rasanya. Kadang ia pun mengenakan kemeja saat bertugas di anjungan. Wajar saja, kehamilan Spock minggu ini sudah memasuki bulan ketujuh lebih seminggu.
Sekarang ini Spock sedikitnya mimisan sekali dalam seminggu—sejak pertama kali mimisan di minggu ke-27 usai menonton film di Ruang Serbaguna. Nyota dan Jim tentunya selalu siap siaga. Mengawasi Spock bak elang tiap beberapa menit sekali, memastikan sang Vulcan baik-baik saja tanpa darah mengalir dari hidungnya. Mereka sudah diingatkan oleh Dr. McCoy bahwa Spock akan sering muncul gejala-gejala semacam itu seiring makin dekat dengan waktu persalinan.
TBC...
A/N: *bangkit dr alam kubur* Yak, Saya balik update setelah nyaris setahun hiatus! Hohohoho *dilemparin enterprise* Maaf dan maaf saya hiatus ga pake bilang-bilang lagi orz. Adakah yg nungguin ff ini? \gakada\okesip\ orz
Dan yak, saya mutusin buat nge ganti (nama) OC saya. Buat yg bingung \ga ada yg bingung\, Steve Kuvak yg cowo saya ganti jadi cewe yg namanya Eve Kuvak. Terus Mr. Karim saya ganti namanya jadi Oriont Mahigan. Anaknya pun namanya saya ganti jadi Corvi. Hohoho *dibakar*
Saya juga ngedit bbrp part. Tp cerita keseluruhan gak berubah kok, masih sama.
Trims buat Kee89 yg sudah fav & follow!
Balasan buat Amtrs7227: wih makasiiihhh, terharu saya bacanya :'D *dijitak*
Balasan buat zenTH90: Ciee ketipu mimpinya chekov XD ini udh lanjut! Maaf apdetnya lama hehe..
Review please :)
