Disclaimer: Star Trek bukan milik saya. Tapi ff ini milik saya dan asli pemikiran saya.

WARNING: Non-slash mpreg, abal, gak mutu, typos, dan kemungkinan OOC.

A/N: Buat nebus 'dosa' hiatus saya yang blm sempat kebayar di chapter kemarin, saya persembahkan/bahasamu nak/ chapter ini yang sedikit lebih panjang dari chapter2 sebelumnya.
Selamat membaca ^^


Chapter 9

.

Kapten Jim Kirk, Komandan Spock, serta Letnan Nyota Uhura tengah mengantri di messhall untuk mengambil makan malam mereka. Tadinya Jim dan Nyota sudah mengomel, memaksa Spock agar duduk diam saja di mejanya dan membiarkan mereka yang membawakannya makanan. Tapi Spock bergeming dari antriannya, membuat Jim kesal dan menatapnya datar. Sebagian besar kru yang ikut mengantri juga memintanya untuk duduk saja, tapi mereka menyerah ketika Spock bersikeras menolak mereka dengan gaya bicara ala Vulcannya. Spock juga menolak tawaran agar ia langsung maju tanpa perlu mengantri—lagi-lagi dengan gaya Vulcannya. Sikapnya yang seperti itu membuat Nyota mendelik diam-diam saat Spock tak sengaja menatapnya.

Jim hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan sang Vulcan pada krunya. Kenapa Tuan Telinga Lancip ini keras kepala sekali, gerundelnya.

Spock tengah meminum susunya ketika Leonard McCoy menghampiri mejanya, mengomentari betapa lahap ia makan. Jim dan Nyota mengiyakan, kemudian mereka bertiga mulai berbicara bagaimana lahap dan bersemangat Spock saat ia makan akhir-akhir ini. Mereka terkikik geli, seakan lupa ada Spock di sana. Spock tentunya hanya bisa diam mendengar tiga manusia di depannya. Ketimbang meladeni ia lebih memilih mengusap perutnya, menyapa bayi mungilnya yang tengah sibuk memutar tubuh.

Nyota bercerita kalau beberapa minggu sebelumnya ia membawakan makan malam untuk Spock ke kabinnya. Atas permintaan si empunya kabin dia menunggui sang komandan menghabiskan makanannya. Berbincang dari topik satu ke topik yang lain. Dari rumput laut goreng yang baru dikirim lagi oleh ayah Nyota, sampai berdebat dimana kiranya cryo tube Khan dan para krunya ditempatkan. Perdebatan mereka diakhiri tanpa repot-repot memikirkan apakah yang mereka perdebatkan benar atau tidak. Bahkan Spock tidak mempermasalahkan logikanya, malah ia sangat menikmati pertengkaran sengit yang terasa santai itu, membiarkan pembicaraan mereka mengalir apa adanya.

Mereka bertiga kembali mengobrol. Sesekali salah satu dari mereka melirik Spock, memastikan tidak ada darah mengalir dari hidung Vulcan setengah manusia yang tengah mengandung itu. Obrolan mereka otomatis berakhir ketika Spock tanpa sadar menguap lebar. Jim sempat terkikik melihat wajah Spock yang berusaha menahan malu ketika dia sadar tengah diperhatikan.

"Easy, man. Tidak setiap hari juga kau menguap seperti ini, kan? Santai saja." Canda Jim geli, berusaha agar tidak terdengar mengolok—lagi pula Jim memang tidak bermaksud begitu. Tapi jika dia sedang apes, bisa-bisa emosi Spock yang naik-turun kumat begitu saja dan sang Vulcan akan merasa tersinggung, mengganggap Jim sudah mengoloknya. Dan Jim hapal betul, Spock yang sedang mood swing akan sulit melupakan kejadian apapun yang menyinggung hatinya. Tak ia sangka punya teman yang sedang hamil bisa begitu merepotkan.

Leonard McCoy sudah berpisah dengan mereka dalam perjalanan menuju kabin masing-masing. Dokter itu mengatakan ia harus mengecek beberapa hal di sickbay sebelum bisa membenamkan wajahnya ke bantal—agaknya itulah yang Leonard lakukan tiap mau mengakhiri shift-nya. Pria berambut cokelat itu juga mengingatkan Spock agar komandan itu datang ke sickbay esok harinya untuk pemeriksaan rutin. Jim dan Nyota otomatis membuat catatan batin untuk mengingatkan Spock kalau saja besok dia lupa dengan jadwalnya—meski mereka tahu bahwa Spock nyaris tak pernah lupa maupun absen dari pemeriksaan rutinnya.

Jadwal pemeriksaan rutin Spock mulai diperbanyak karena ia sudah memasuki trimester ketiga, tepatnya di minggu ke-31. Semakin dekat dengan hari persalinan, makin banyak juga yang harus dipersiapkan. Beberapa waktu lalu Leonard mengatakan pada Vulcan berwajah datar itu kalau ia akan mengajarinya beberapa cara dasar untuk mengurus bayi. Spock sempat bengong sebelum—mau tidak mau—mengiyakan sang Dokter.

.

.

Malam setelah Spock menyudahi shift-nya dan pergi ke sickbay untuk pemeriksaan rutin. Jim dan Nyota, yang menemani Spock ke sickbay, mengekori sang Vulcan hingga ia kembali ke kabinnya—entah bagaimana kali ini Leonard juga berakhir ikut mengekorinya. Mereka baru beberapa detik memasuki turbolift ketika komunikator milik Spock berbunyi.

"Scott pada Komandan Spock,"

"Spock di sini," Sahut Spock.

"Komandan, ada kiriman untukmu. Jika kau tidak keberatan datang, aku menunggumu di transporter. Kuharap ini tidak terlalu larut untukmu." Scotty melanjutkan. Agak ragu ia menyampaikan, khawatir pria berambut hitam itu tengah beristirahat di kabinnya.

"Tidak masalah, Mr. Scott. Aku akan segera ke sana. Spock out," Spock meletakkan kembali komunikator di dalam sakunya.

"Ada kiriman apa, Spock?" Tanya Jim.

"Kita akan cari tahu, Jim."

Setibanya Spock di transporter, Scotty bergegas mendekatinya. "Benar aku tidak mengganggumu, Mr. Spock? Kau tidak sedang tidur di kabinmu saat aku menghubungimu, bukan?" Tanyanya cemas.

"Tidak, Mr. Scott. Aku baru saja kembali dari sickbay saat kau menghubungiku." Ucap Spock. Wajah tenangnya meyakinkan Scotty agar dia tidak perlu terlalu memikirkannya.

"Syukurlah kalau begitu," Scotty tersenyum lebar. "Ah ya, Mr. Spock. Soal kiriman," Scotty melangkah ke ruang transporter. "Kertas ini ada di atas kirimannya." Spock menerima secarik kertas yang diberikan Scotty padanya. Secara singkat kertas itu bertuliskan,

'Komandan Spock, maafkan aku baru sempat mengirim barang yang kau butuhkan. Sebetulnya aku tidak terlalu sibuk, hanya saja aku agak bingung memilihkan mana yang kiranya pas untuk kukirimkan padamu. Aku sudah menyiapkan persediaan yang cukup. Semua yang akan dibutuhkan untuk bayimu sudah siap seluruhnya. Aku harap kau suka dengan yang kupilihkan. Omong-omong, Corvi juga ikut memilihkan beberapa setel baju bayinya. Duta Besar Spock juga membantuku, sekali lagi biarkan aku mengucapkan terima kasih untuknya jika kau menghubunginya. Jika kau butuh bantuan lagi, jangan ragu untuk menghubungiku, Komandan. Aku harap persalinanmu nanti berjalan lancar.
Oriont Mahigan.'

Ternyata kiriman Oriont, pikir Spock. Ia memandangi beberapa tumpuk persediaan bayi di ruang transporter yang kini telah siap dipindah. Jujur saja, Spock hampir lupa telah meminta bantuan ini pada Oriont.

"Perlengkapan bayi, huh?" Kata Nyota.

Spock mengangguk. "Benar, Nyota."

"Aku akan membawakannya bersama Bones. Kau dan Spock tunggulah di kabin." Ucap Jim pada Nyota. "Spock, barang-barang ini akan ditaruh di kabinmu, kan?" Jim memastikan. Spock mengangguk sebagai jawaban. Sebelum ia sempat bicara, Jim melanjutkan, "Pergilah bersama Uhura. Kalau perlu kau tidur saja, kau pasti sangat lelah. Serahkan ini padaku dan Bones."

Spock terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pada Jim dan Leonard. Bersama Nyota ia meninggalkan ruang transporter. Sang komandan enggan membantah kaptennya, jujur ia tidak bisa mengelak kalau ia sangat kelelahan—sekalipun ia tidak ingin merepotkan Jim maupun Leonard.

Sementara itu Leonard hanya pasrah membantu Jim membawakan perlengkapannya. Tak biasanya ia tidak protes pada Jim yang seenak jidat menyeretnya tanpa persetujuan. Hitung-hitung membantu Spock yang faktanya—meski agak sulit mengakuinya—ada di peringkat teratas prioritas bahkan pada angkutan umum sekalipun. Diiringi desahan napas tanpa komentar, bersama Jim ia melangkahkan kakinya sembari mendorong pendorong yang berisikan barang-barang milik Spock—bayinya Spock. Seketika ia berpikir, kenapa juga barang-barang ini tidak dipindahkan langsung ke kabin Spock menggunakan transporter? Tapi nampaknya Leonard Horatio McCoy sedang malas memperdebatkan apapun pada Jim—atau pada siapapun yang ada di depan wajahnya.

.

Jim Kirk merenggangkan tubuhnya usai merapikan alat yang diperlukan untuk merakit boks bayi. Matanya menyapu sekeliling kabin dan berhenti pada ranjang yang berada di belakangnya. Tanpa sadar dia memandangi Spock yang sudah tertidur lelap di ranjang, bergelung di balik selimut dengan tangan menelengkup perutnya. Dari ratusan wajah Vulcan yang pernah ia lihat, wajah tertidur sahabatnya itu adalah satu-satunya yang tidak terlihat menyebalkan. Alih-alih menyebalkan, wajah tertidurnya terlihat tenang dan damai tanpa ada sedikitpun bayang-bayang logika ala Vulcan. Yah, tunggu saja sampai dia bangun, Jim. Nanti wajahnya akan kembali terlihat menyebalkan seperti Vulcan pada biasanya, sambil terkekeh Jim menggeleng kepalanya pelan.

"Kembalilah ke kabinmu, Kirk. Kau pasti lelah setelah memasang boks bayinya." Ucap Nyota yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Jim mengangguk singkat. "Bagaimana denganmu, Uhura?"

"Spock memintaku menemaninya. Sekarang pergilah agar aku bisa leluasa memasang alas untuk tidur."

"Kenapa kau tidak tidur saja di sebelahnya?"

Nyota terkikik, "Aku tidak ingin menendang perutnya, bisa repot nanti."

Jim melongo mendengarnya. "Kau tidak serius soal itu, kan?"

"Well, tidak juga. Tapi buat apa aku bohong?" Nyota tertawa ketika Jim menatapnya dengan tatapan 'yang benar saja?'. "Sungguh Kirk, kembali dan tidurlah di kabinmu."

"Baiklah, baiklah." Dengan senyuman Jim mengucapkan selamat malam dan meninggalkan kabin.

.

Spock membuka mata dan tanpa sadar mengacak-acak rambutnya. Rasa kantuk yang masih menguasai membuatnya kembali menutup mata, pelan sekali. Hingga sesuatu membuatnya terlonjak kecil dan kesadaran mulai menyeruak memasuki raganya.

Spock masih berbaring di ranjangnya. Dia baru sadar kalau ia selalu kembali ke kabinnya dalam keadaan kelelahan—ada kalanya ia sangat kelelahan sehingga tubuhnya langsung ambruk begitu saja di ranjang. Spock perlu mengingatkan dirinya agar berhati-hati ketika menghempaskan tubuhnya kuat-kuat ke ranjang, khawatir tanpa sadar dia menghempaskan tubuh bagian depannya terlebih dahulu. Entah apa yang harus dia laporkan pada Dewan New Vulcan kalau sesuatu yang tidak-tidak terjadi pada anaknya hanya karena ia kelewat ceroboh. Spock takkan pernah memaafkan dirinya jika itu sampai terjadi.

Bahkan menghempaskan tubuhmu terlalu sering adalah tindakan ceroboh, Spock. Kau bisa membahayakan anakmu, pria itu menghela napas. Tangannya perlahan mengelus perutnya. Maafkan ayahmu yang ceroboh ini, Little One. Tendang saja organ dalamku kuat-kuat kalau aku melakukan hal ceroboh lagi. Sebenarnya Spock paling jengkel kalau anaknya menendang-nendang ke arah dalam, rasanya seperti dicapit kepiting yang ada di dalam perutnya. Kemudian Vulcan berambut hitam itu merentangkan tangannya seraya menatap langit-langit. Ia bergeming selama beberapa menit.

"Kau sudah bangun rupanya, Spock." Suara itu sontak mengalihkan pandangan si pemilik nama.

Spock yang masih berada pada posisinya tidak menjawab, ia hanya diam hingga pemilik suara itu muncul dari balik tembok. Seperti yang diduganya, itu Nyota.

"Kenapa menatapku seperti itu?" Ia melangkah beberapa kaki mendekati Spock. "Apa kau mimpi buruk?" Spock menggeleng pelan, kemudian mengubah posisi menjadi duduk. "Aku akan membawakan sarapanmu kemari." Nyota menghilang dari pandangan Spock—melangkah ke ruang depan—dan kembali dengan nampan di tangannya. Dia menyodorkan nampan itu pada Spock dan berkata, "Pegang ini, akan kuambilkan meja kecilmu." Kemudian meletakkan meja kecil di ranjang sehingga Spock bisa makan di situ.

"Makanlah,"

Spock memandang makanannya yang sudah dipindahkan ke meja kecil oleh Nyota. Dia terdiam sesaat hingga beralih menatap Letnan wanita di hadapannya, mengedipkan kedua matanya sekali. "Bagaimana denganmu?" Suaranya entah mengapa terdengar serak.

Nyota mengangguk, "Aku akan mengambilnya di ruang depan." Dia mengambil sandwichnya dan duduk di ranjang, di depan meja kecil Spock.

"Supnya sengaja kubawakan yang tidak pedas," Katanya ketika Spock telah menghabiskan apelnya.

Spock mengangguk dan menyesap sup plomeek-nya. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali ia memakan masakan khas Vulcan itu. Ia tidak memakannya lantaran pada akhir trimester pertama sampai pertengahan trimester kedua, ia tidak tahan dengan aroma sup itu. Aroma sup itu entah bagaimana membuatnya mual—meskipun sup plomeek bukan satu-satunya makanan yang tidak dapat ditolerir hidung Spock kala itu. Syukurlah sekarang ia bisa memakannya. Kalau tidak, ia akan merasa bersalah pada Nyota yang sudah membawakan sup itu untuk sarapannya.

Dulu saat ia kecil, ibunya sering kali memasakkan sup plomeek untuk sarapan sebelum pergi ke sekolah. Spock tidak akan beranjak dari mejanya kalau sup plomeek-nya belum habis, sekalipun ayahnya mengatakan ia akan terlambat ke sekolah. Sup plomeek adalah satu dari sekian banyak hal yang mengingatkan Spock akan mendiang ibunya—beserta planet Vulcan barangkali.

Dia baru sadar ada boks bayi di sudut kamarnya, ia menelan supnya sebelum bertanya, "Apa Jim dan Dr. McCoy yang merakitkan boks bayinya?"

"Aye. Dr. McCoy dipanggil ke sickbay saat boksnya hampir selesai. Untungnya Kirk bisa menangani sisanya. Aku sudah mengecek boksnya sebelum aku tidur, bagusnya Kirk dan McCoy merakitnya persis seperti dalam petunjuk. Perlengkapan yang lain juga sudah kurapikan selagi mereka merakit boks."

Spock tersenyum kecil. "Terima kasih, Nyota. Atas bantuanmu dan juga sup plomeek-nya." Atas segalanya.

Sambil menggigit sandwichnya Nyota membalas dengan anggukan mantap, tersenyum manis. "Tadi malam kau sempat mimisan. Hanya di satu lubang dan tidak berdarah terlalu banyak. Tenang, aku tidak kerepotan." Nyota tertawa kecil. "McCoy masih ada di sini dan ia bilang kau tidak apa-apa. Yah, aku percaya padanya karena mimisan itu bahkan tidak mengganggu tidurmu. Kau pasti sangat lelah, Spock."

Spock memandang ke bawah di mana tangannya memegang gelas susunya. "Aku harap aku tahu kenapa aku sangat lelah, Nyota. Aku hanya bekerja di anjungan seperti biasa, bahkan Jim mengurangi jam kerjaku. Tapi itu saja membuatku kelelahan di malam hari." Ucapnya.

"Spock, tidak apa-apa. Itu wajar. Tubuhmu memang terasa berbeda saat hamil. Toh, rasa lelah bisa membawamu tidur lebih cepat, bukan?"

"Untungnya begitu,"

"Dan tidur lebih cepat berarti tidak merasakan kram dan pegal-pegal lebih lama." Seringai Nyota.

"Nyota, aku sempat terbangun tengah malam. Aku melihatmu tidur di lantai. Kenapa kau tidak tidur di sampingku saja?" Tanya Spock beberapa saat kemudian.

Nyota mengangkat bahu, "Aku tidak mau menendang perutmu,"

"Tapi se—"

"Kau ingat aku pernah cerita kalau aku kadang kali menjatuhkan barang dari tempat tidurku, kan? Itu karena aku menendang apapun yang terjangkau kakiku saat tidur." Dia mendengus, "Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkan kebiasaan itu. Dan aku tidak mau bayimu jadi sasaran empuk tendanganku."

Dia bergumam, "Aku bisa dibombardir oleh para kru yang sudah tidak sabar ingin menggendong bayimu. Karena aku termasuk ke dalamnya, aku juga akan membombardir diriku sendiri." Nyota membayangkan suasana saat para kru itu tahu kalau sesuatu yang buruk terjadi pada si bayi karena dirinya. Belum lagi ia harus berurusan dengan wajah jutek Leonard McCoy yang menuntut penjelasan—dokter itu bahkan tidak sadar dirinya bertingkah layaknya induk ayam pada pasien Vulcannya yang tengah hamil.

Spock hanya diam melihat Nyota yang kembali menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri.

.

.

Sambil berdiri di depan kaca, Spock memasang kembali nasal kanulnya seusai memakai seragam Starfleetnya. Ia melangkah keluar kabin menuju anjungan, menarik tabung oksigen kecilnya dengan kalem. Balas menyapa pada kru yang berpapasan dengannya. Ia duduk di kursinya setelah mengucapkan selamat siang pada kru di anjungan yang membalasnya dengan riang. Kapten Kirk sedang tidak ada di anjungan ketika ia datang. Bersama Sulu dan tiga kru lain ia mendarat di permukaan planet kelabu yang ditinggali ras dengan sebutan Pherolian. Chekov—yang duduk di bangku kapten sebagai kapten pengganti—menyimak dengan serius perkembangan yang dipaparkan Kirk maupun Sulu tentang planet serta kehidupan masyarakat yang mereka temui. Sembari ikut menyimak, Spock memindai populasi Pherolian.

Ketika itulah ia merasakan sakit pada abdomennya. Nyota sontak menengokkan kepalanya ketika mendengar Spock memekik kecil. Dengan mata terpejam menahan sakit, Vulcan itu memegang perutnya yang terasa tegang. Nyota mematung hingga akhirnya Spock membuka mata dan mengangkat tangan dari perutnya. Spock perlahan mendongak dan tatapan mereka bertemu.

"Kau tidak apa-apa?" Nyota tidak repot-repot menyembunyikan rasa cemasnya.

"Aku tidak apa-apa," Spock mengangguk kecil, mengisyaratkan agar Nyota tenang.

"Apa makin sering terjadi?" Spock mengangguk lagi. "Kalau begitu bisa saja dia minta lahir dalam waktu dekat, Spock."

Nyota menelusuri wajah Spock yang telihat pucat seperti minggu-minggu belakangan ini. Dibalik bajunya yang kebesaran dan perut buncitnya, Nyota tahu kalau torso komandan itu kian hari kian kurus. Dia berani bertaruh setidaknya ada satu kru yang menyadari betapa kurus pergelangan tangannya, hanya dengan membandingkannya dengan diameter lengan panjang bajunya yang terlihat kontras. Terlepas dari ukuran baju itu sendiri.

"Tapi Dr. McCoy bilang jadwalnya ada di minggu ke-36." Kata Spock, "Masih ada tiga minggu lebih lima hari dari sekarang."

"Itu hanya perkiraan, Spock. Kalau bayimu mau lahir sekarang, maka kau akan melahirkan detik ini juga." Bulu kuduk Spock berdiri mendengar kalimat terakhir Nyota. Karena ia tak kunjung menyahut, mereka sama-sama diam sambil saling tatap. Hingga keduanya memutuskan untuk melanjutkan apa yang mereka lakukan sebelumnya.

"Mr. Chekov, apa Mr. Spock sudah ada di anjungan?" Tanya Kapten Kirk melalui komunikatornya.

"Sudah, Kapten." Balas Chekov.

"Spock, you have the conn." Ucap Kirk. "Kau bisa kembali ke kursimu, Mr. Chekov."

"Aye, Kapten." Chekov beranjak dari kursi kapten, berbalik dan tersenyum pada Spock. Spock membalasnya dengan anggukan kecil dan menggantikan posisi Chekov.

"Hey Spock, kau sudah duduk di bangkuku?" Suara Jim yang tiba-tiba membuat Spock nyaris terlonjak.

"Sudah, Kapten." Sahut Spock kalem.

"Kami akan terus berada di sini hingga beberapa jam kedepan. Nampaknya kami betah," Jim terkekeh disertai suara persetujuan Sulu yang berada di belakangnya. "Di sini sangat sejuk, walau daerah ini terhitung dataran rendah."

Sulu melanjutkan, "Aku dan Letnan Leif menemukan hewan lokal beberapa saat yang lalu. Kami dapat gambarnya," Kemudian, di layar, muncul gambar sebuah koloni kecil hewan lokal yang dimaksud Sulu. "Mereka terlihat seperti perpaduan kijang dan harimau, tubuh mereka sebesar kuda." Hewan itu memiliki loreng dan cakar layaknya harimau, tapi moncongnya persis seperti kijang. Postur hewan itu tegap dan gagah dengan tiga pasang kaki. Cakarnya mencuat dari masing-masing jari yang berjumlah empat dan memiliki selaput tipis.

"Tadinya aku dan Sulu ingin menaikinya. Tapi sepertinya kau—selaku kapten pengganti—tidak akan mengizinkan, Spock." Celetuk Jim jahil. Sebagian kru tertawa kecil mendengar gurauan kapten mereka yang satu itu.

"Aku tidak melihat alasan yang mengharuskan kalian menaiki hewan lokal itu, Kapten." Kata Spock datar.

Spock baru membuka mulut ketika Jim berkata, "Aku tahu, Spock. Aku tidak akan menaiki hewan itu." Dia bergumam, "Akupun tidak tahu apakah hewan itu akan membiarkan kami hidup jika kami mendekatinya."

.

.

Vulcan setengah manusia itu memandangi garis cahaya yang berada di luar kaca. Memandangnya begitu serius hingga tidak mendengar suara di sekitarnya. Tiga hari berlalu sejak mereka menemukan planet yang dihuni Pherolian. Leonard mengatakan pada Jim kalau jam kerja Spock harus dikurangi lagi—menjadi hanya 5 jam sehari, kurang dari separuh jam kerjanya sebelum kehamilannya sudah mencapai pertengahan. Spock, suka atau tidak, harus menurut pada sang dokter. Ia harus rela jam kerjanya berangsur-angsur semakin berkurang. Jika Spock ingin jujur, ia sangat menikmati bekerja sebagai perwira sains di anjungan, bahkan lebih dari instruktur kadet di akademi Starfleet. Ia akan bertemu banyak wajah dan kepribadian sebagai instruktur kadet, tapi ia akan dibuat pusing oleh kadet yang tidak bisa diatur—terlebih Spock tidak bisa marah pada mereka.

Ia penasaran apakah Jim termasuk yang tidak bisa diatur saat masih seorang kadet. Sepertinya ya, mengingat pertemuan pertamanya dengan Jim disebabkan kecurangannya dalam Kobayashi Maru. Belum lagi Jim yang mengudara tanpa izin di dalam Enterprise dan masuk begitu saja ke anjungan. Dan ya, jangan lupa ia juga mendepak Spock dari kursi kaptennya. Dulu, sempat terbesit dalam pikirannya kesalahan besar apa yang dilakukannya sehingga bisa bertemu seorang Jim Kirk.

Tidak melakukan apapun diluar jam tidurnya membuatnya bosan. Apa lagi jika ia tidak bisa mengisinya bersama teman-temannya lantaran mereka masih harus memenuhi shift mereka. Biasanya pada jam itu Spock menghabiskan waktunya di kabin sambil membaca, membaca apapun yang dapat dicerna pemikiran Vulcannya.

Panggilan Nyota menarik kembali Spock pada suasana di sekitarnya. Ia berbalik menghadap Nyota. "Apa yang sedang kau pikirkan? Serius sekali," Ucap wanita berkulit gelap itu.

Spock menyahut, "Bukan apa-apa."

"Atau, apa kau sedang memikirkan nama untuk bayimu?" Ucapan Nyota membuat Spock mematung.

"Aku memikirkan itu beberapa waktu lalu. Tapi hingga saat ini belum ada nama yang cocok." Spock mengangkat bahunya sambil menggeleng.

Spock menambahkan, "Mungkin nama yang berwalan S."

"Vulcan atau manusia?"

"Keduanya, barang kali."

Nyota memikirkan nama yang berawalan S seperti yang dikatakan Spock. "Sronn, Skonn, Sopek, Soran, Suvok, Surak, Skaht, S'Lar, Soven. Untuk Vulcan. Mungkin ada yang kau suka?" Dia menatap Spock.

"Soven," Dengan mengucapkan 'e' seperti mengucapkan 'sebelas', terdengar kalem, pikir Spock.

"Mungkin Sovena jika dia perempuan, eh, Spock?" Nyota tertawa kecil.

"Aku tidak tahu," Spock menggeleng tidak yakin, tersenyum singkat dengan candaan Nyota. Mereka terdiam sesaat.

"Spock, lepaskan nasal kanulmu." Suara Nyota terdengar tegang. Ia pergi dan kembali dengan membawa beberapa lembar tisu. "Lepaskan nasal kanulnya, Spock." Desaknya. Spock melepaskan nasal kanulnya dengan hati-hati.

Ia mengerti alasan Nyota menyuruhnya membuka nasal kanul ketika dia melihat bercak darah hijau menempel disana. Ia mimisan lagi. Spock buru-buru menutup hidungnya. Ia membiarkan Nyota membersihkan darah dari nasal kanul dan area sekitar lubang hidungnya. Untung saja darahnya belum terlalu menempel, jadi Nyota dengan mudah membersihkannya. Nyota terdiam selagi Spock berusaha bernapas lewat mulutnya. Ia memandangi wajah pucatnya, dan membantunya memasangkan kembali selangnya ketika pendarahannya berhenti. Spock bisa kekurangan oksigen kalau tidak mengenakan nasal kanulnya. Jika sudah begitu, sang komandan bisa sesak napas dan pandangannya akan mengabur.

Nyota ingat saat kejadian itu terjadi pada Spock, tepatnya minggu lalu. Dia, Kirk, Chekov, dan Spock sedang ada di dalam turbolift untuk kembali ke anjungan. Nyota menyadari wajah tegang Spock, tangannya mencengkram kuat dinding turbolift. Nyota memanggil-manggil namanya, tapi Spock tidak membalas meski tatapan mereka saling bertemu. Lama-kelamaan napas Spock makin terengah, nampak susah payah mengontrolnya. Tangannya sudah berpindah ke perutnya, tatapan matanya menyiratkan kecemasan akan bayinya. Di lain sisi Jim Kirk menghubungi sickbay agar mereka bersiap dengan kedatangan Spock. Nyota dapat mendengar suara Dr. McCoy yang meminta mereka agar membantu Spock untuk tenang.

Awalnya Spock panik lantaran bayinya mendadak menendang keras tanpa henti. Namun saat ia memengang perutnya, ia tidak merasakannya menegang. Spock sepenuhnya sadar kalau apa yang dirasakannya bukanlah kontraksi persalinan. Melainkan dadanya yang semakin terasa sesak, dan ia kesulitan bernapas. Pandangannya mengabur dan berputar-putar. Ia tidak bisa berkonsentrasi dengan keadaan di sekitarnya.

Mereka sampai di sickbay, merebahkan Spock yang napasnya semakin pendek. Leonard McCoy cepat-cepat memindai tubuh pasiennya. Ia mengatakan kalau Spock kekurangan oksigen. Sambil berkata begitu ia memakaikan Spock masker oksigen dan napas Spock, setelah beberapa menit, kembali normal—begitu juga dengan penglihatannya. Nyota menghela napas lega, awalnya ia mengira Spock akan melahirkan lebih awal.

Sejak hari itulah Spock memakai nasal kanul dan membawa tabung oksigen kemanapun. Sejak memakai itu, meski masih terlihat pucat, wajahnya terlihat lebih hidup. Setidaknya begitulah yang dikatakan para kru soal komandan Vulcan itu.

.

.

Spock melenguh ketika merasakan kontraksi pada abdomennya. Jim—yang sedang celingak-celinguk memandang sekitar—membeku begitu melihat sahabatnya, dan memutuskan untuk menghampirinya.

"Spock?" Panggilnya. Nyota seketika menoleh ketika mendengar suara sang kapten yang terasa tak jauh darinya. Jim meletakkan tangannya di bahu Spock. Sekali lagi ia memanggil, "Hey, Spock."

"Ya, Kapten?" Ucap Spock beberapa saat kemudian.

"Kau tidak apa-apa?"

"Hanya kontraksi,"

"Braxton Hicks?"

Spock baru saja akan mengangguk saat dirasakannya sensasi asing pada tubuh bagian bawahnya. Bahunya terasa melemas ketika memikirkan apa yang kiranya menyebabkan sensasi asing itu.

Dia menelan ludah dengan gugup, mempersiapkan dirinya dengan keadaan terburuk. Jantungnya berdegup cepat ketika perlahan ia menundukkan kepala, mengecek apa yang menyebabkan sensasi asing itu. Ia tak kuasa menahan pekikan tajam napasnya ketika melihat cairan membasahi celananya di area selangkangan. Spock membeku saat itu juga.

Air ketubannya pecah.

.

"WHAT THE HELL, BONES?! Aku sahabatnya dan kau tidak memperbolehkanku berada di sampingnya saat dia melahirkan?"

"Tidak. Kau tidak akan membantu."

Jim bengong mendengar ucapan Leonard padanya. Singkat, padat, dan jelas.

Jelas—

Jelas-jelas dokter itu tidak memperbolehkannya masuk ke dalam sickbay. Bahkan hanya untuk sekedar berada di samping Spock yang sedang dalam persalinan.

"BONES!"

"Pergilah, Jim."

"Tapi, Bones—"

"Kembalilah ke anjungan dan aku akan mengabarimu saat semuanya sudah selesai,"

"Bones, tapi aku—"

"Jim." Leonard menghela napas lelah. Nada bicara yang ia ucapkan ketika ia tak ingin satu orangpun membantahnya.

"Dammit, Bones! Aku kapten di sini dan perwira utamaku akan melahirkan!"

"Maka dari itu—" Leonard meletakkan kedua tangannya pada bahu Jim, "—kembalilah ke anjungan—" Dia memutar tubuh Jim membelakanginya, "—dan jangan kembali sampai kukabarkan." Dan mendorong tubuh Jim menjauh dari sickbay.

Sebelum Jim sempat melayangkan protesnya lagi, Leonard sudah menghilang diikuti suara pintu sickbay yang ditutup.

.

"Sedikit lagi, Spock. Bahunya sudah keluar." Kata Leonard. "Good job, Man."

"Dokter, aku tidak sanggup lagi." Spock kepayahan mengatur napasnya. Sekujur tubuhnya gemetar menahan rasa perih.

"Spock, kau bisa." Bisik Nyota.

"Tidak, Nyota. Aku tidak bis— GAAARRRRHHH!"

Nyota memejamkan matanya ketika Spock—yang untuk kesekian kalinya—meremas tangannya. Spock tidak mencengkramnya terlalu kuat, memang. Tapi erangan dan teriakan Spock lah yang justru membuatnya meringis ngilu.

Spock pasti sangat lelah merasakan kontraksi selama 15 jam. "Sejak kita makan malam di messhall, kemarin." Begitu yang Spock tuturkan ketika Leonard menanyakannya sejak kapan ia merasakan kontraksinya. Leonard setengah histeris ketika mengetahuinya. Ia nyaris menyemprot Spock kalau saja ia tidak ingat orang yang sedang ia ajak bicara ini sedang masuk dalam masa persalinan. Dan ya, diapun tidak sadar kalau itu kontraksi yang akan membawanya ke proses melahirkan dalam waktu dekat.

"Leonard, aku tidak bisa—" Spock menjatuhkan kepalanya ke bantal. Peluh menghujani pelipisnya hingga mengalir ke leher. Ia memohon pada Leonard dengan segenap hatinya; ia tak sanggup lagi. Tubuh bagian selatannya terasa seperti disulut api yang tak kunjung padam.

"Spock, satu dorongan lagi. Aku janji padamu." Bisik Leonard.

"Spock?" Dokter itu agak meninggikan suaranya agar perhatian Spock sepenuhnya tertuju padanya. "Hanya satu saja. Aku janji padamu, kawan."

Sambil terengah, Spock kembali mengangkat kepalanya. Dia menatap Leonard yang berada diantara kedua kakinya, memastikan apa yang dikatakan dokter itu benar.

"Ya, Spock. Satu kali dorongan kuat dan kau bisa memeluk bayimu." Tanpa sadar Leonard tersenyum, berharap itu dapat memberi Spock kekuatan walau hanya sedikit.

Spock mengangguk. Ia mendorong kuat-kuat ketika kontraksi berikutnya datang.

Komandan itu terkulai lemas, diikuti suara isak tangis bayi yang memenuhi ruangan.

"It's a boy!" Leonard tertawa lepas melihat bayi mungil di tangannya. Dia memotong tali pusarnya dan membersihkan si bayi dengan air hangat.

"Selamat Spock, bayi laki-laki yang sehat." Leonard menyerahkan sang bayi pada Spock yang masih terengah.

Spock menerimanya, membawa sang bayi ke dalam dekapannya dengan hati-hati.

Spock memperhatikan bayinya, menatap kelopak matanya yang tertutup rapat. Ia menelusuri wajah sang bayi. Telinga kecilnya tidak runcing, sangat manusia, ia terlihat begitu merah dengan bercak darah hijau yang masih menempel. Rambutnya hitam pekat seperti milik ayahnya.

Spock menatap bayinya lekat, seakan si bayi adalah hal paling menakjubkan yang pernah ia lihat.

Ini anaknya.

Ini putranya.

Ini adalah apa yang ditunggunya.

Ini, bayi ini, putranya, adalah insan mungil yang telah hidup di dalam dirinya selama 9 bulan—Well, untuk kasus Spock 9 bulan kurang dua minggu.

Ia mengecup lembut dahi putra kecilnya.

"Greetings, Little One." Bisiknya. Tak bisa ia sembunyikan senyum lebarnya. Ia merasa bahagia, sangat bahagia. Lebih bahagia dari apapun yang pernah ia rasakan. "Namaku Spock, aku adalah ayahmu." Ia menghirup aroma wajah bayinya. Harum, seakan aroma amis dari darah hijaunya terbang entah kemana. "Selamat datang, nak. Papa akan selalu menjagamu." Ia dekap lebih erat sang bayi.

Tak lama kemudian Leonard menepuk bahu Spock. Kemudian ia mengulurkan tangannya, mengambil sang bayi dari dekapan Spock dengan lembut. "Kau harus istirahat, Man. Kami akan lakukan beberapa tes untuk bayimu. Tenang saja, kami tidak akan menyakitinya." Ia tersenyum hangat.

Spock mengangguk kecil, meski sebenarnya tidak rela Leonard membawa bayinya. Ia mengawasi Leonard yang membawa putra kecilnya ke ruangan lain—yang sepertinya terlihat lebih hangat.

Dia merebahkan tubuhnya, mencoba untuk rileks sepeninggal Leonard. Jauh di dalam hatinya ia tidak bisa berhenti tersenyum. Ia terlampau senang bayinya telah lahir.

Lalu matanya terasa amat berat, rasa lelah mulai merasuki tubuhnya kembali. Ia menutup mata, membiarkan rasa kantuk menelan kesadarannya.

Dan,

Biiiiiiippp

Suara bising mesin chardiograph itu berasal dari samping ranjangnya.

Saat itu juga telinga Leonard menangkap teriakan panik dari Nyota.

Jantung Spock berhenti berdetak.

TBC...


_- BONUS -_

"Hei, Little Wee." Jim menyapa bayi mungil di dalam inkubator itu. Benar kata Leonard, dia mirip sekali dengan Spock. Uhura juga bilang kalau dia adalah versi manusia dari ayahnya.

Telinga yang tidak lancip, dan Jim yakin kalau alisnya sudah sepenuhnya tumbuh, alis itu akan terbentuk layaknya alis manusia. Rambutnya masih tipis, tapi sudah terlihat jelas berwarna hitam seperti Spock. Sekujur tubuhnya berwarna merah, merah sekali. Meski begitu Leonard mengatakan ia punya jantung yang terletak di samping lambung, layaknya Vulcan. Tulangnya juga lebih tebal, itulah yang membuatnya lebih berat dengan ukurannya yang kecil sekali. Sangat kecil, nyaris menyentuh ukuran bayi manusia yang lahir prematur 7 bulan. Leonard kini paham itulah penyebab ukuran perut hamil Spock yang terhitung kecil.

Barusan Spock mini itu menangis keras saat menjalani pemeriksaan, tapi akhirnya Leonard berhasil membuatnya diam. Entah dengan teknik apa, Jim tidak punya keinginan untuk bertanya.

Jim menyentuh pipi bayi kecil itu dengan sangat hati-hati, takut sentuhannya melukai makhluk rapuh yang tengah terlelap itu.

"Welcome aboard, Little Spockie." Bisiknya pelan sekali, "Dan jangan khawatir, Papamu pasti akan kembali mendekapmu. Aku janji, little dear." Lirihnya.


A/N: Saya bakal re-upload ff yang dulu sempet saya hapus seminggu setelah ffnya saya upload. Udah saya edit2 sih sedikit. Temanya gak jauh2 dari dari fanfic ini, non-slash mpreg. Judulnya Ad Perpetuam. Buat yang tau Doctor Who khususnya Ninth Doctor, jangan lupa di cek dan R&R fanficnya ya! Hehehe...

Balasan buat camomileas: Waaah thanks sudah nyempetin fav, follow, & review! Ini sudah saya lanjut dan yak, anaknya Spock sudah lahir! Yey! Hihiii ketipu ya sama mimpi Chekov? XD tapi sekali lagi saya bikin Spock mati tuh... jgn ngedown lagi ya *dicincang* Saya tunggu review buat chapter ini ya!

Akhir kata, Review please :^)