Disclaimer: Star Trek bukan milik saya. Kalau milik saya, ff ini sudah saya jadiin canon. /kabur/
WARNING: Non-slash mpreg, abal, gak mutu, dan kemungkinan OOC.
Enjoy the last chapter (^-^)/
Chapter 11
.
"Uhura— dia membuka matanya!"
"Ya Tuhan, lihat matanya."
"Hei, Little Wee. Ini uncle Jim. Ohh, lihat mata kecilmu, eh?"
"Oh tidak, dia akan menangis."
"Be- benarkah?"
"Menjauh darinya, Kirk. Kau membuatnya takut."
"Tapi aku tidak melakukan apapun,"
Suara-suara itu terdengar samar. Udara yang terasa menggigit sama sekali tidak membantu mempertajam pendengarannya. Pikirannya belum bisa fokus, meski begitu ia mencoba berkonsentrasi pada suara-suara itu.
Spock berhasil membuka kelopak matanya yang terasa amat berat. Ia menunggu hingga penglihatannya fokus sebelum mencoba mengenali suasana di sekitarnya. Dia terbaring di sebuah ruangan, di sampingnya ada bangku dan meja kecil. Aroma khas sickbay menyengat hidungnya, membuatnya bergenyit dan menahan napasnya untuk beberapa saat. Ketika ia menggerakkan tangan, ia merasakan sesuatu menempel di sana. Barangkali dipasangkan IV tube.
Spock mencoba menggerakkan tubuh. Tubuhnya terasa agak aneh dan sakit, terutama di bagian abdomen ke bawah. Meski begitu tubuhnya terasa ringan—jauh lebih ringan dari yang dia ingat. Ia memutuskan untuk diam dan kembali mendengarkan suara-suara yang tak jauh darinya. Kini ia tahu itu adalah suara Nyota dan Jim. Tampaknya mereka sedang membicarakan—
"Spock!" Nyota setengah berlari menghampiri ranjang Spock. Senyumnya mengembang begitu tatapannya bertemu dengan sang Vulcan. Nyota menahan kuat-kuat dorongan untuk memeluknya.
"Bones, Spock sudah bangun!" Jim memanggil Leonard sebelum beralih ke Spock, "Hey, Man. Selamat datang kembali." Kapten muda itu memamerkan senyumnya.
Tak lama kemudian Leonard bergabung dengan mereka. Sesaat memeriksa bioscreen, mengecek seberapa stabil kondisi Spock. "Hei, Spock. Bagaimana perasaanmu?"
"Baik, Dokter." Sahut Spock pelan.
Spock menerima gelas berisi air yang disodorkan Jim setelah pria pirang itu membantunya untuk duduk. Dia bersyukur tubuhnya cukup kuat dengan posisi itu di samping rasa menyengat di abdomennya.
"Jangan bergerak terlalu sering, oke?" Kata Leonard.
Spock mengangguk kecil. "Apa terjadi sesuatu, Dokter? Tubuhku terasa lebih sakit dari yang kukira. Apa itu wajar setelah melahirkan?"
"Kami menjalankan operasi pengangkatan rahim padamu." Kata Leonard. "Aku memutuskan untuk melakukannya karena rahimmu adalah salah satu alasan kuat yang membuat kondisimu memburuk. Dan seakan tak cukup, itu juga membuat jantungmu berhenti."
"Jantungku berhenti?" Spock terkejut.
Leonard mengangguk, "For about 25 minutes, yes. Tadinya aku tak yakin itu berasal dari rahimmu, namun aku teringat itu bisa terjadi pada Vulcan. Setelah berhasil mengembalikan detak jantungmu, kami menunggu dan memastikan kondisimu cukup stabil untuk dioperasi. Untunglah kau cukup stabil, dan kami langsung mengoperasimu. Begitu operasi selesai, kondisimu berangsur-angsur membaik. Dan sekarang, di sinilah kau berada."
Spock mengangguk paham.
"Operasi itulah yang menambah rasa sakitmu. Tapi tenang, Vulcan akan lebih cepat pulih dari operasi pengangkatan rahim ketimbang manusia." Tambah Leonard. "Jadi, jangan khawatir. Kau akan baik-baik saja."
Spock mengangguk, untuk sesaat dia menolehkan kepala ke sekitarnya. "...dimana bayiku?" Tanyanya kemudian.
"Di situ," Nyota menunjuk inkubator yang tak jauh dari mereka. Spock bergeming, heran mengapa ia tidak sadar inkubator itu ada di sana.
"Bolehkah... aku menggendongnya?"
Nyota memandang Leonard, memintanya menjawab.
"Kenapa tidak?" Dokter itu memutar bola matanya ketika menyerahkan bayi mungil di tangannya pada Spock, seakan mengatakan 'Tentu saja boleh, Tuan Hobgoblin.' sembari terkikik kecil dalam hati.
Vulcan itu membawa si bayi ke dalam dekapannya, Spock baru sadar kalau dia terasa sangat ringan, dan hangat. Dia mengayun dan menepuk-nepuk lembut kala bayinya menggeliat kecil.
Suasana hening untuk beberapa saat. Jim, Leonard, dan Nyota tampak terpaku pada interaksi ayah dan anak di hadapan mereka. Pemandangan langka dimana Vulcan menatap teduh pada bayi mereka. Nyota rasanya ingin memekik gemas melihatnya.
Ketika si bayi membuka mata dan menatap padanya, Spock merasa seakan waktu terhenti.
Itu adalah mata terindah yang pernah dilihatnya. Manik mungil dengan tatapan dalam, tengah melihatnya dengan mimik penasaran. Mata putranya berwarna cokelat—seperti miliknya. Dengan warna hijau yang terpercik di mata kirinya, mencoba berbaur bersama warna cokelat yang mendominasi. Heterochromia parsial, pikir Spock.
Tanpa sadar senyumnya mengembang. Ia mengecup dahi bayinya lembut—untuk kesekian kalinya bersumpah akan menjaga mahkluk mungil di tangannya apapun yang terjadi.
"Jadi siapa namanya, Spock?" Tanya Nyota.
Spock mendongak sekilas ke arah Nyota, kemudian menatap lekat bayinya sebelum menjawab lembut, "Steven. Steven Sarek Spock."
Ya, Sarek. Ia merasa nama ayahnya patut ditambahkan untuk nama tengah putranya.
"Dan nama Vulcannya?"
"Soven, seperti yang kau sarankan saat itu."
"Steven, eh? Dapat dari mana, Spock? Dari nama asli Captain America yang kita tonton tempo hari? Atau Steve Trevor? Atau Steve Jobs? Atau... Steve Aoki?" Canda Jim. Kepalanya dipenuhi figur terkenal dengan nama depan tersebut.
"Dari Steven Rogers, Jim."
Jim bergenyit heran separuh geli. Ini diluar ekspektasinya. Ia kira Spock menamakan bayinya dari penemu terkenal asal bumi seperti Stephen Hawking atau yang sejenisnya. "Kau serius, Spock?" Ya Tuhan, dia sungguh menamakan anaknya dari tokoh fiksi?
Spock mengangguk kalem. "Ya. Selain itu Steven memiliki arti 'yang diberi mahkota'. Aku harap ia jadi orang yang dihormati—seperti Steven Rogers."
Jim mengangguk, "Dia akan jadi bocah yang kuat, Spock. Dia akan jadi kuat seperti Steve Rogers."
"Joanna akan sangat girang kalau tahu dia punya adik baru. Terlebih adik laki-laki," Gumam Leonard.
Spock tak dapat mengalihkan pandangan teduhnya dari Steven. Putra kecilnya.
Spock tak pernah membayangkan dirinya punya seorang anak, tak pernah sekalipun—apalagi sampai ia yang melahirkannya. Terlebih ketika ia mendengar dirinya-yang-lebih-tua mengatakan kalau dia tidak menikah ataupun memiliki anak. Sejak itu pikiran akan dirinya menimang anak dan punya keluarga kecil semakin terbang tinggi entah kemana, di samping kejadian yang memusnahkan planet tempat kelahirannya. Tapi di sinilah ia sekarang, merasa menjadi Vulcan paling bahagia di seluruh alam semesta. Menggendong bayi kecil yang telah ia lahirkan.
Steven sudah kembali menutup matanya, kini ia terlelap nyaman di pelukan ayahnya. Tampak diam dan tak lagi bergerak kecil seperti sebelumnya.
Tampak damai.
Nyatanya, wajah kecilnya adalah wajah terdamai yang pernah Spock lihat.
Wajah putra mungilnya.
Putra Dua Dunia / Child of Two Worlds,
FIN
A/N: uwaaahhh saya minta maaf yang sebesar-besarnya sudah mengulangi hal yang sama—hiatus hampir setahun orz. Kelas 12 itu sibuk banget, apapun harus disiapin. Belum lagi persaipan masuk univ /nangis dipojokan/
Chapter 11 sebetulnya sudah jadi dari entah berapa minggu lalu, mau saya upload pas epilognya sudah kelar ditulis, tapi apa daya epilognya gak kelar-kelar karna saya buntu dan malah muncul ide buat fandom lain T.T
Saya janji bakal update Epilognya, karna menurut saya chapter terakhir ini masih banyak plot-holenya(?)—dan yang paling ngeselin, pendek banget.
Tapi saya gak bisa janji bisa update dalam waktu dekat, karna saya lagi fokus ke fanfic oneshot Daredevil orz. Tolong maafkan saya :"
Dan maaf kalau nama anaknya Spock barang kali tidak sesuai ekspetasi reader sekalian, nama anaknya sudah saya tetepin sejak saya buat chapter pertama, jadi kalaupun saya berniat ganti, saya sudah terlanjur terbiasa sama nama "Steven Sarek Spock" maupun "Soven" orz.
Saya mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya untuk reader sekalian, karna tanpa review, fav, dan follow kalian, saya gak akan sampai sejauh ini nulis Putra Dua Dunia. Gak terasa sudah 3 tahun saya berkutat dengan fanfic abal ini. Dari saya lulus SMP, hingga sekarang sudah lulus SMA. Terima kasih sudah sabar karna saya banyakan hiatusnya daripada update orz
Terima kasih banyak untuk kalian ^^
Terima kasih buat Fujiwara Kyosuke16 yang sudah fav & YummaUchirus2 yang sudah fav&follow!
Balasan buat angelinamalya465: Trims sudah nyempatin review! Iya nih, chap 10 memang saya buat sbg chapter selingan, jadinya dibuat pendek hehehe.. Makasih sudah suka fanfic ini, review untuk chapter ini saya tunggu ya :D
