Sepatah Dua Patah Kata Dari Author :
Hai teman-teman salam kenal yaa~
Maaf di chapter 1 singkat banget, aku gatau bakal sesingkat itu ternyata. Aku usahakan di chapter ini lebih panjang Oke?
Oya ini adalah debut pertama aku di fanfiction walaupun nanti pasti jarang update lagi, tapi aku akan berusaha menyelesaikan cerita ini. Cerita ini sebenarnya udah pernah aku publish di blog aku, cuman ya itu menggantung dan aku baru bisa gunain fanfiction sekarang. Aku bukan seorang penulis, dan hanya menjadi readers di fanfiction gara-gara suka banget sama Tenten dan aku mau belajar membuat cerita untuk Tentenku Tersayang. Akhir kata, terima kasih sudah mampir di cerita ini. Selamat membaca…
Balas Review dulu tapi yaa..
@KanAncur Ah makasih. Pasti dilanjut kok thank you review pertamanya yaa hehe~
@Kokonoe201 Aku juga. Iya rencananya kalo ceritanya udah tamat mau langsung up di wattpad tapi masih rencana lo yaa masih fokus selesain cerita di sini dulu. Thank you reviewnya. Ditunggu terus ya kelanjutan fic ini hehe~
Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing : NaruTen
Author : Nona Romes
Genre : Romance dan Sedikit Humor
Warning : Typo, OOC, crack pairing, newbie
Chapter 2
"Naruto?" Aku memandangya tidak percaya. Mataku mulai berkaca-kaca dan badanku semakin gemetaran. Naruto, orang yang aku kenal selama 7 tahun dan selama ini pula menjadi sainganku, ternyata seorang pembunuh? Aku sungguh tidak menyangka. Aku yang selama ini berada di dekatnya, yah walau tidak sering, bahkan tidak menyadari gelagat dari seorang pembunuh! Dia yang ku kenal menyebalkan ternyata lebih mengerikan dari yang bisa kubayangkan. Tidak! Jangan-jangan setelah ini aku yang akan menjadi korban selanjutnya? Aku tidak mauu~ inginku berteriak tapi suara ku tercekat. Dengan terhuyung-huyung aku mencoba berdiri dan tanpa ku sadari aku mulai lemas. Kakiku tidak dapat menopang berat tubuhku hingga aku kembali terjatuh dan bisa kurasakan tangan besar yang dingin dan lengket mencengkam lengan ku.
"Tenten? Tenten?? Jangan pingsan kumohon! Ten!!" dapat ku dengar Naruto memanggil namaku sambil menahan berat tubuhku. Dan aku melihat dari mata batin, Naruto sepertinya khawatir padaku atau dia khawatir karena aku mengetahui semuanya dan aku menjadi saksi atas kekejiannya membunuh sahabatnya sendiri? Aku tidak tahu apakah setelah ini aku juga akan dibunuh, pantas saja kemarin malam dia diam-diam membuntutiku. Setidaknya jika aku terbunuh, aku sudah merusak masa depannya kemarin, maksudku melukainya, mungkin saja. Mataku perlahan-lahan tertutup dan setelah itu aku mulai tidak sadarkan diri.
Normal POV
Di sebuah apartemen yang tidak terlalu luas tapi sangat lumayan bagi orang yang tinggal sendirian, percekcokan sedang terjadi antara dua orang pria sebaya walau pria yang satunya hanya santai-santai saja seperti tidak ada yang terjadi. Duduk di meja makan setelah mandi sambil melihat temannya mondar-mandir, membuat pikiran pemuda berambut raven tersebut melayang ingin ke alam mimpi tapi tertahan karena sebuah percekcokan. Di bagian ruang tamu, lebih tepatnya di atas sofa tergeletaklah seorang wanita yang masih tidak sadarkan diri dari pingsannya.
"Ini semua gara-gara kau teme!" omel Naruto kepada sahabatnya, Sasuke. Orang yang di sebut teme hanya menanggapi dengan santai sambil membuka tutup botol air mineral lalu meminumnya.
"Perasaan, aku tidak berbuat sesuatu yang salah" jawab Sasuke sekenanya.
"Aku tadikan tidak menyuruhmu untuk tidur di dalam lift seperti itu. Lagian kau tadi seperti orang yang habis terbunuh tahu tidak?" Naruto yang memang hiperaktif, melangkah kesana kemari sambil mengomeli sahabat semata wayangnya ini.
"Maafkan aku. Bukankah ini semua idemu? Aku sangat mengantuk tadi. Kau tahu kan ini sudah sangat larut malam. Jam segini orang-orang pada tidur. Jangan buat aku menjadi aneh seperti ini ya. Ini sungguh bukan sifatku!" jelas Sasuke yang sepertinya menyadari bahwa dia sangat OOC di sini.
"Aku kan hanya ingin buat dia terkejut bukannya membuat dia pingsan seperti ini. Ini malah keluar dari rencana kita sebelumnya" Sasuke yang bosan melihat Naruto sedari tadi hanya mengomel saja, memutuskan untuk pergi.
"Hn. Sudahlah aku mau pergi" Ucap Sasuke.
"Eh, mau pergi ke mana kau teme?" Tanya Naruto.
"Tentu saja pergi tidur! Aku menumpang ya?" Tanpa ijin, Sasuke dengan ekspresinya yang datar dan tidak tahu malu kemudian menuju kamar Naruto. Naruto hanya geleng-geleng DJ melihat tingkah sahabatnya yang seperti itu.
Naruto kemudian duduk melantai di samping Tenten, mengusapkan sedikit minyak kayu putih dibawah hidung gadis itu berharap segera sadar. Sudah 30 menit berlalu sejak kejadian di depan pintu lift tadi. Semula, Naruto memang berniat mengerjai Tenten, awalnya ingin menakut-nakuti tetapi rencana berubah setelah Naruto menyadari bagaimana sifat Tenten, ia pun mengurungkan niat dan mengganti rencana yaitu menimpuk Tenten dengan beberapa bungkus darah dan tentu saja itu bukan darah sungguhan. Itu adalah property yang Naruto ambil dari acara komedi. Karena sudah tidak terpakai lagi, maka Naruto mengambilnya. Secara diam-diam tentunya. Agar aksinya ini berjalan mulus, dia meminta Sasuke untuk membantu menjalankan aksi yang gila ini. Sampai akhirnya, Sasuke yang sudah berada beberapa menit di dalam lift memegang tiga sampai empat kantung berisi darah palsu itu, tidak sengaja tertidur lalu menjatuhkan beberapa kantung tadi dan baju putihnya pun terkena. Dan di situlah dia, mirip seseorang yang sedang terbunuh dan tanpa dia sadari bahwa ada orang yang melihat dan sangat ketakutan atas ketidaksengajaannya itu. Naruto yang datang dari arah belakang Tenten, memang sengaja menaruh cairan darah palsu di tangannya agar mengenai Tenten. Tapi dia tidak menyangka bahwa Tenten seterkejut itu hingga pingsan. Barulah ia sadar setelah dia melihat sahabatnya sendiri tergeletak tanpa dosa seperti orang mati saja.
Naruto senyum-senyum sendiri mengingatnya. Apalagi melihat ekspresi pingsan or tidur? Tenten sekarang yang membuat ia merasa gemas sendiri dibuatnya. Ia tahu setiap kali di dekat atau melihat Tenten, gadis itu tidak pernah setenang ini apalagi melihatnya tidur? Di depan mata pula. 'Sungguh beruntung' batin Naruto. Tanpa sadar tangan Naruto bergerak. Mengelus rambut Tenten dan kemudian beralih menyentuh pipinya. Saat lagi asyik-asyiknya mengelus pipi Tenten tiba-tiba,
"Pembunuuuuuuuuuuuuuhhhh!!" mata Tenten terbelalak dan dengan nyaringnya Tenten berteriak, lalu tangannya refleks menonjok Naruto tapi ia sadar pukulannya terlalu lemah kemudian beralih menjambak rambut Naruto tidak lupa sumpah serapah yang ia lontarkan dari mulutnya.
"Dasar brengsek! Penjahat! Pembunuh! Mati kauuuu.." semakin Naruto mengaduh kesakitan, semakin pula Tenten kuat-kuat menjambak dan menarik-narik rambut Naruto.
"Aaaaww, aaaarrgh, sakit bodoh! Apa yang kau lakukan? Baka!" Naruto berusaha melepaskan tangan Tenten dari rambutnya tapi sepertinya sia-sia karena kekuatan Tenten tiba-tiba datang. Naruto saja sebagai laki-laki kalah kuat.
"Ada apa ini? Mana pembunuhnya?" Sasuke yang tiba-tiba muncul dari kamar Naruto membawa tongkat bisbolnya dengan panik. Bersiap mengayunkannya persis seperti seorang batter yang siap memukul bola.
"Hantuuuu~uu~u...!!??" Tenten yang tidak bisa lepas dari keterkejutannya lagi akhirnya menghentikan acara jambak rambutnya kepada Naruto dan kini Naruto bisa bernafas lega. Tenten bertanya tanya apakah di hadapannya ini benar hantu atau bukan. Jika hantu, mana mungkin ia bisa menggenggam tongkat itu, karena Ibunya pernah berkata 'anakku janganlah takut kepada hantu karena ia tidak bisa menyakitimu' 'Bagaimana Kaa-san tahu dia tidak akan menyakitiku?' Tanya Tenten dengan polosnya ala anak umur 6 tahun. 'karena hantu tidak dapat kita lihat kecuali kamu mempunyai bakat tertentu yang disebut Indigo. Ia juga tidak dapat menyentuh bahkan memegang barang sekalipun karena mereka tembus pandang' 'Aah seperti itu Kaa-san lalu Indigo itu apa? Oya kalau tembus pandang?...' dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang Tenten tanyakan pada saat itu. Kembali pada saat ini, Tenten mengerjapkan matanya beberapa kali. Orang yang rambut pirangnya berada di genggaman Tenten meringis.
"Hei, tenanglah. Lepaskan dulu tanganmu ini dari rambutku oke? Nanti akan aku jelaskan semuanya" Tenten perlahan melepaskan tangannya. Tanpa sepatah kata apapun ia mau saja menuruti perkataan Naruto sambil matanya tidak lepas dari sosok yang ia sebut sebagai hantu tadi.
"Sudahlah, jangan menatap Sasuke seperti itu. Dia itu bukan hantu" Terang Naruto kepada Tenten yang masih saja diam dan bengong menatap Sasuke.
"Benar, walaupun aku hantu aku akan menjadi hantu yang sangat tampan. Benar kan Tenten-san?" ucap Sasuke dengan sangat pede. Setelah Sasuke berkata demikian, Tenten mulai sadar dan kembali terduduk lemas di atas sofa.
"Teme, ambilkan dia minum. Aku akan menjelaskan padanya" perintah Naruto.
"Enak saja kau memerintahku, dasar dobe!" Sasuke yang tidak terima diperintah tetap mengambil minum yang diminta oleh Naruto. Naruto kemudian duduk dan mulai menjelaskan kepada Tenten.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Naruto memulai.
"Jelaskan saja padaku bodoh. Tidak usah basa-basi segala!" Naruto kemudian menjelaskan dari awal sampai akhir kejadian yang sebenarnya terjadi. Sasuke juga ada di situ mendengarkan, walau masih dalam mode mengantuk.
"Maafkan kami Ten, ku kira kau tidak akan pingsan seperti tadi. Ini semua juga karena aku ingin mencoba rencana yang akan kami buat untuk variety show terbaru kami"
"Apa? Jadi maksud mu aku adalah bahan percobaan begitu? Kurang ajar!" Tenten kemudian dengan mata melotot berdiri menatap kedua laki-laki yang sedang berhadapan dengannya ini. Kedua laki-laki itu hanya menunduk karena takut. Berhembus kabar bahwa jika Tenten marah, semua yang ada di dekatnya akan hancur, bahkan direktur pun pernah ia lawan dan apa yang terjadi? Direktur tidak berkutik.
"Dengar ya?..." Naruto dan Sasuke serempak menengadahkan kepala, lalu Tenten melanjutkan "Kalian pikir aku bisa dipermainkan seperti ini? Lihat saja, siapa yang akan pingsan nanti jika Rating acaraku lebih bagus dari variety kampungan kalian itu. Cih, jangan harap kalian akan menang. Jika kalian sampai bermain-main dengan ku seperti ini lagi, kalian akan mati!" Ancam Tenten dengan beringasnya. Bukannya takut, Naruto malah menyeringai dan menatap balik Tenten. Yang ditatap auto merinding.
"Baiklah!" Naruto berdiri, lalu mengulurkan tangannya.
"Kalau begitu, buatlah sesuatu yang hebat. Jika kau sudah bisa melampauiku aku akan datang dan melihat apa yang akan kau minta dariku. Deal?" Setelah Naruto berkata demikian, Tenten dengan yakin dan teguh menjawab,
"Deal!" tanpa menjabat tangan Naruto Tenten kemudian melengos dari hadapannya bergegas pergi. Kemudian ia balik lagi.
"Di-dimana tas dan jaketku?" Ternyata barang yang Tenten bawa sedari tadi tertinggal. Betapa malunya ia sekarang harus berbalik dan bertanya lagi. Ternyata Tenten kurang fokus.
"Itu!" Dengan senyum tertahan, Naruto menunjukkan arah barang Tenten yang tertinggal di atas meja makan. Kemudian Tenten dengan muka semerah tomat favorit Sasuke, mengambilnya lalu berbalik menuju pintu keluar.
"Tenten-san!" panggil Sasuke menghentikan langkah Tenten. Tenten terpaksa menoleh,
"Ambil ini!" Sasuke melemparkan botol a*ua kepada Tenten dan Tenten hampir saja tidak berhasil menangkapnya. Dengan wajah bingung bin butuh penjelasan Tenten menatap Sasuke
"Minumlah biar kau fokus" Tenten yang tadi memang sempat kegeeran karena Sasuke memanggilnya, tiba-tiba langsung memasang wajah masam.
"Sahabat memang sama-sama bejat!" Gumam Tenten, "Baiklah, arrigatou Sa su ke-san" Ucap Tenten dengan penekanan di setiap penggal nama Sasuke. Tentenpun meninggalkan apartemen Naruto kemudian menuju ke apartemennya yang memang bersebelahan.
"Apa-apaan sih kau, teme!" Protes Naruto.
"Heee" Sasuke hanya menanggapi dengan senyum 5 jari.
.
.
Tenten masuk ke dalam apartemennya, menutup pintu kemudian melihat dirinya yang sangat-sangat kotor dan menjijikkan (tolong jangan salah paham, maksudnya pakaian serta tubuhnya yang terkena darah palsu tadi) "Aaaah sialan!! Aku harus mandi" kata Tenten sambil melenggang ke kamar mandi.
"hangatnya~" Tenten berendam dengan kondisi kaki selonjor dan kepala bersandar pada bathtub. Tenten bersyukur ia masih bisa menikmati hangatnya berendam pada malam hari. Lucu juga, padahal 1 jam yang lalu ia terserang ketakutan akan Naruto yang ia pikir seorang pembunuh. Brengsek! Batinnya. Padahal ia ingin pulang dengan Tenang karena habis lembur. Dokumen yang ia cari entah hilang kemana, ditambah ia harus pulang melewati jalan yang sangat sepi seorang diri, jalan kaki pula. Sungguh hebat hari Tenten atau ini yang dinamakan kesialan?
"Apa aku harus balas dendam ke brengsek sialan itu?" Tenten menggeleng "emm tidakk! Ini bukan sifatku membalas dendam. Tapi ini kan Naruto, Naruto!!" Tenten frustasi ia sungguh kesal sekarang. Ia membasuh basuh mukanya dengan kasar. "ahh! Bodo amat lah yang penting aku harus fokus untuk meningkatkan rating saja! Daripada meladeni Naruto. Pokoknya aku harus menang kali ini. Harus!" Tenten melanjutkan mandinya segera, agar ia bisa cepat tidur dan kembali bekerja besok. Tenten bertekad menjalankan misinya untuk mengalahkan acara baru Naruto agar ia tidak seenaknya menjahili Tenten lagi. 'Sesuatu yang hebat euh? Kita lihat saja nanti!' batin Tenten.
.
.
Ddrrrt Ddrrtt Drrrttt
Suara getar handphone membangunkan Naruto dari tidurnya "Aaargh leher ku~" dapat Naruto rasakan otot bahu dan lehernya yang tegang. Masih dalam posisi berbaring, Naruto meraih handphonenya yang ada di meja samping tempat tidurnya. Tanpa babibu lagi Naruto menjawab dengan mata tertutup tanpa melihat dulu siapa si penelepon "Moshi moshi" "Narutooooooo!! Bangun anak nakal! Cepat datang ke rumah sebelum kau bekerja. Kapan perlu sekarang!!" Hampir saja Naruto terlonjak kaget kalau saja ia tidak sadar bahwa lehernya sedang sakit sekarang. Naruto melihat layar hpnya dan yang tertera di sana adalah nama seorang penyihir yaitu Joan of Arc dan tentu saja ada embel-embel mother di sana. Ternyata yang menelponnya adalah ibu semata wayangnya.
"Aah~ ibu kenapa aku harus datang sepagi ini?" tanyanya malas. "Bangun saja sekarang dan bersiap-siap! Kalau kau sampai datang terlambat ibu mu ini tidak akan segan……" belum sempat ibunya melanjutkan kata-kata sudah terpotong oleh omongan Naruto "aah~ iya baiklah baiklah ibuku tersayang. Aku akan datang secepatnya. Tolong siapkan sarapan yang enak karena anakmu ini sangatlah lapar. Baiklah kalau begitu aku tutup dulu. Jaa nee"
tuut tuut tuut
"Anak iniiiii! Berani-beraninya dia menutup teleponku!! Aku belum selesai berbicara baka!"
Orang di hadapan Joan Of Arc Mother yang bernama asli Kushina Uzumaki hanya melihat dan bergidik ngeri sambil menyeruput kopi buatan Kushina. "Aku berangkat dulu ya~ sampaikan salamku untuk Naruto" Kata sang kepala keluarga, Minato. Kali ini Minato dicuekin, batinnya kabur saja daripada aku yang kena. Seperti nama belakangnya Kushina sibuk memaki maki anak tunggalnya tersebut yang bisa dibilang sangat bandel diusianya yang sekarang. Dulu saat Naruto lahir, kushina berharap Naruto akan menjadi anak yang berbakti seperti dirinya. Berharap Naruto tidak nakal-nakal amat seperti ayahnya. Tapi ujung-ujungnya Naruto dari kecil sampai dewasa tidak berubah kebandelannya. Tapi Kushina masih bersyukur karena walaupun Naruto anak tunggal, ia tidak berulah misalnya saja menghamili seorang gadis atau tidak sukses seperti sekarang. Nilai akademik Naruto juga tidak terlalu tinggi. Bagi Kushina dia itu sangat bodoh tapi sangat sangat berbakat. Buktinya ia dapat membuat sebuah program meraih rating tertinggi, memiliki bisnis sendiri, apartemen sendiri. Bukannya Kushina sombong, tidak! Siapa sih ibu di dunia ini yang tidak senang dan bahagia jika putera semata wayangnya sukses? Tentu saja tidak ada. Begitupun Kushina yang sangat bangga dan bahagia terhadap Naruto. Tapi satu hal yang Kushina tidak sukai adalah di usia Naruto yang ke 25 tahun ini dia masih saja jomblo. Setiap ditanya sedang dengan siapa selalu saja Naruto menjawab dengan Sasuke, atau jika Naruto sedang liburan dan ibunya iseng bertanya apakah dengan wanita, tentu saja Naruto membantah dan hanya berkata 'dengan Sasuke'. Hmm ibunya jadi curiga kalau anaknya * tapi terbantahkan saat Naruto kegep oleh ibunya sedang menonton * tentu saja anaknya normal.
Ting Tong
Tanpa sadar ternyata yang ditunggu tunggu sudah datang. 'cepat juga' batin Kushina. Kushina menanggalkan celemeknya dan buru-buru menuju pintu depan.
"Eh, ternyata kau Sakura" kaget Kushina karena ia pikir yang datang adalah Naruto.
"Selamat pagi Oba-chan" sapa Sakura dengan ceria.
"Masuklah. Wah aku tidak menyangka kau akan datang. Kapan kau tiba di jepang?" Sakura masuk dengan senang hati sambil menggandeng tangan Kushina.
"Aku sedang jogging disekitar sini dan berpikir kenapa aku tidak mampir saja sekalian menyapa kalian. Kemarin aku datang dan belum sempat berjalan jalan di Jepang apalagi mengunjungi Oba-chan. Aku sangat kangen sekali" Jawab Sakura dan auto memeluk Kushina, Kushina balas memeluk dengan senang hati karena ia juga kangen dan sudah lama sekali tidak bertemu semenjak Sakura pergi meninggalkan Jepang untuk menimba ilmu di London. Saat Sakura pulang tiap tahunpun ia tidak pernah bertemu, Kushina tidak tahu mengapa. Sakura kemudian melepas pelukannya. Mereka berduapun duduk di ruang keluarga.
"Oh ya Oba-chan dimana Naruto? Apa ia masih tidur?" Tanya Sakura
"Apa kau tidak tahu bahwa Naruto sudah pindah 2 tahun lalu ke apartemen?" Kushina balik bertanya kemudian melanjutkan karena melihat wajah Sakura yang bingung "Dia pindah pada saat kau melanjutkan magang di London. Aku juga bingung kenapa secara tiba-tiba ia ingin pindah. Padahal aku dan ayahnya sangat kesepian tanpanya" kenang Kushina.
'Apa karena aku?' batin Sakura. Tiba-tiba saja dari arah pintu depan terdengar suara baritone khas Naruto.
"Ibuuuu~ dimana kau??" Tanya Naruto. Ibunya kemudian bergegas menuju depan. Sakura mendadak deg-degan. Tapi masih terlihat tenang dengan posisinya duduk di sofa ruang keluarga. Ia menunggu Naruto datang dan melihat bagaimana reaksi lelaki itu saat tahu Sakura juga datang.
"Bisa tidak kau tenang sedikit baka! Kita ada tamu" Pukul Kushina tepat di kepala Naruto "oke-oke bu, memang siapa sih yang datang sepagi ini ke rumah kita? Apa ibu mau menjodohkan ku lagi seperti terakhir kali? Aku lelah Ibu pergi kencan buta terus!!" Omel Naruto sambil mengacak-acak rambutnya. Ibunya hanya melihat dengan tatapan jijik melihat tingkah anaknya seperti 20 tahun lalu "sudahlah, kau ikut saja ke ruang tengah" "apa?? Tumben sekali mengajak tamu ke ruang tengah??" Ibunya tidak menjawab. Naruto hanya mengikutinya dari belakang.
Naruto tertegun melihat orang dihadapannya berdiri memandanginya juga. Dengan rambut pinknya yang sudah terlihat lebih panjang. Terakhir kali, rambut itu ia pangkas seleher seperti potongan laki-laki meninggalkan beberapa helai panjang didepannya tetapi tetap terlihat feminin dan cantik.
"Hei! jangan diam saja. Duduk dan mengobrollah aku akan menyiapkan sarapan untuk kita" ucap Kushina dengan bahagia. Jackpot sekali hari ini walau sempat kesal dengan Naruto pagi ini, tapi Sakura datang membawa kebahagiaan bagi Kushina, ditambah pertemuan mereka yang seperti di rencanakan oleh Tuhan. 'Oh kami-sama' batin Kushina penuh harap.
"Terima kasih Oba-chan" Sakura tersenyum kemudian duduk begitupula Naruto dengan ekspresi 'tidak tahu harus apa'. Ibunya? Tentu saja melengos ke dapur dengan tersenyum ceria.
"Hai Naruto. Apa kabar?" Sapa Sakura setenang mungkin.
"Tentu saja sangat baik" Jawab Naruto tak kalah tenang. Walau dalam hatinya wow setelah ini pasti awkward. Setelah itu mereka dua diam membisu menunggu salah satu mungkin ingin bertanya. Tapi nihil keduanya tetap diam. Ternyata Naruto benar keadaan sekarang sangatlah canggung berbanding terbalik saat sebelum Sakura terbang ke London atau saat ia bersama dengan Tenten. Eits kok ada Tenten? Sabar Tenten belum saatnya muncul kembali.
Sakura dengan berani memulai pembicaraan.
"Kata ibumu, kau pindah ya?" Tanya Sakura.
"Yah seperti yang kau lihat" Ucap Naruto dengan datar.
"Kenapa? Apa kau tidak kasihan melihat orangtuamu tinggal sendirian?" Tanya Sakura lagi.
"Tentu saja aku kasihan jika aku tidak segera pindah dari sini!" Tegas Naruto. Sakura masih penasaran.
"Kenapa?" Tanya Sakura selembut mungkin agar orang yang ditanya tidak bosan dan mengamuk mendengar pertanyaan yang betubi dari dirinya.
"Tentu saja jika aku tidak pindah dari sini, ayah dan ibuku tidak akan bisa memberikanku seorang adik. Jika tidak ada adik maka aku akan terjebak di sini selamanya. Tentu saja aku tidak mau"
"Bakaaa!!!" Teriak Kushina yang tiba-tiba saja sudah mencatok kepala Naruto bertubi-tubi. Melihat ini, membuat Sakura tertawa cekikikan. Hal yang sudah lama sekali dia tidak lihat. Dan dia sanagat merindukannya.
.
.
"Terima Kasih Oba-chan sarapannya. Aku akan datang lagi membawa oleh-olehnya" Kata Sakura.
"Ah terima kasih Sakura kau tidak perlu repot-repot. Yang pasti rumah ini selalu terbuka untukmu kau bisa datang kapan saja" Ucap Kushina dengan bahagia. "Naruto kau antar Sakura dengan selamat. Awas saja kau meninggalkan dia di depan situ saat aku tidak melihat" Ucap Kushina dengan tegas kepada Naruto.
"Ibu kau tidak usah khawatir. Anakmu ini bukan pria yang tidak bertanggung jawab. Baiklah aku pergi. Terima kasih sarapannya ibu" Naruto dengan cuek meninggalkan ibunya yang masih berdiri di depan pintu bersama Sakura. Sakura kemudian buru-buru pamit tidak lupa Kushina memberikan pelukan hangat kepada gadis itu.
"Baiklah hati-hati ya" kata Kushina kemudian melepaskan pelukannya.
"Aku pergi Oba-chan sampai jumpa lagi" Sakura kemudian berlari kecil mengejar Naruto.
Naruto POV
Di sinilah kami berdua. Di dalam mobil Lexus RX ku menuju rumahnya yang sebenarnya melewati apartemenku. Rencananya setelah dari rumah Ibu aku langsung saja ke tempat kerja tapi Kami-sama berkehendak lain. Terpaksa aku harus memutar arah kembali ke jalan apartemenku. Aku tidak mau mendengar omelan ibu yang sangat membuat ku sedikit frustasi, dan tolong jangan lupakan tindakannya yang suka main tangan terhadapku.
Aku masih tidak percaya tiba-tiba sepagi ini bertemu dengan Sakura. Saat dia pulang sebelumnya pun kami tidak pernah bertemu. Sebenarnya aku masih penasaran mengapa dia tidak pernah memberitahuku akan ke London. Bukankah kami bersahabat dari dulu? Bayangkan saja aku sudah bersamanya sejak dalam kandungan, ah lebih tepatnya saat kami kecil. Ibuku dan ibunya bersahabat cukup lama, hamil bersamaan, walau dia duluan sih yang lahir. Aku lebih muda 6 bulan darinya, tapi sejak kecil kami selalu bersama. Bersekolah juga di sekolah yang sama. Kecuali pada saat kami kuliah di Jepang terpaksa harus terpisah kampus karena aku tertarik pada broadcasting dan dia tentu saja karena kepintaran dan cita-citanya menjadi seorang dokter. Dengan kepintaran yang yang seperti itu, aku yakin ia sudah menjadi dokter sekarang setelah menyelesaikan magang di London tentunya.
Dua tahun lalu tiba-tiba saja aku tidak dapat menghubunginya. Aku sangat bingung jadi aku putuskan untuk langsung ke rumahnya. Aku terkejut ketika Ibunya memberitahu bahwa ia telah berangkat ke London, ibunya sama terkejut karena aku tidak mengetahui tentang rencananya ke London. Ada apa ini? Batinku dalam hati. Aku pikir mungkin nanti ia akan menghubungiku, tapi jika tidak aku yang akan menghubunginya duluan dan meminta nomornya di luar negeri kepada teman atau orangtuanya. Setelah itu, aku disibukan dengan pekerjaan dan kepindahanku yang mendadak sehingga aku lupa untuk menghubunginya, toh dia juga tidak pernah menghubungiku. Jadi, aku sibuk dengan duniaku dan mungkin dia juga seperti itu, aku maklum. Terlebih aku menemukan kesenangan saat tanpa sengaja bertemu lagi dengan gadis itu, gadis cepol dua yang 7 tahun lalu telah menggetarkan hatiku. Memikirkannya membuat aku tersenyum. Tanpaku sadari ternyata ada yang diam-diam menatapku dari tadi.
"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Sakura
Aku malu ketahuan seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri. Kemudian buru-buru aku sok cool "Aku hanya memikirkan sesuatu yang lucu" aku menoleh kearah Sakura dapatku lihat Sakura tersenyum tapi aku tidak tahu mengapa. Yang jelas setelah aku memberikan jawaban, ia yang tadi menatapku setelah aku balik menatap dia tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke depan. Seperti tidak ingin melihatku saja. Aku masih menatapnya dengan bingung.
"Awasss!!" Teriak Sakura sambil tangan kecilnya menutup kepala takut-takut ada benturan keras. Aku segera mengerim setelah ia berteriak. Aku bertanya padanya dengan panik.
"Apa kau tidak apa-apa?" ia kemudian mengangguk. Setelah itu aku buru-buru keluar melihat apa yang terjadi. Takut kalau aku menabrak seseorang hingga mati. Salahku yang tidak melihat lampu telah menyala merah saat ada seseorang berjalan santai di garis penyebrangan. Saat aku ingin menghampiri, ku lihat orang itu memantung sambil terduduk kaget tepat di depan mobilku. Orang itu dengan posisi yang masih sama sedikit menoleh ke arahku. Aku terkejut, dia tak kalah terkejut. Orang-orang berkerumun ingin menghampirinya tapi dia terlanjur berdiri. Aku ingin menolong tapi aku masih kaget bercampur takut jadi aku diam saja di tempat. Dia berjalan dengan gagah berani ke arahku, tas yang dia pegang ditangan kanan, kini tangan kirinya juga ikut memegang tas itu. Dengan ala-ala ninja yang biasa aku tonton di Youtube, ia melompat ke arahku sambil tangannya yang memegang tas ia angkat ke arahku juga. Tidak lupa sumpah serapah yang ia keluarkan seperti biasa.
"Matiiiii kauu Narutoooooo!!!!" Aku hanya pasrah menunggu ajal tiba.
To Be Continue..
