Terima kasih untuk teman-teman yang udah mau mampir dan bertahan ngelihat chapter 3 ini. Hehe semoga ga bosan ya dengan alur ceritanya. Ngomong-ngomong aku bakalan update dan publish cerita ini dengan waktu yang tidak menentu karena kalau sudah jadi, pada saat itu juga aku akan langsung publish. Maaf ya kalo ceritanya juga mudah ditebak. Hehe enjoy ajalah pokoknya. Tapi balas review dulu..
@rizuuki-Big ini udah dilanjut kok. Tunggu terus kelanjutannya yaa.. hehe thanks dah review
@KanAncur hehe OOC yah Sasukenya. Sayangnya bukan wkwk di chapter ini diceritain kok tapi versi Tenten yaa dan ditunggu terus kelanjutannya. Thank you..
Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruTen
Author: Nona Romes
Genre : Romance dan Sedikit Humor
Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Lambat, Newbie
Chapter 3
Di sinilah aku masih dengan posisi yang sama dipinggir jalan samping mobilku. Untung saja ini tidak di tengah jalan. Kalau iya sudah pasti terdengar klakson dimana mana.
De..buk! De..buk! De..buk! De..buk! De..buk!
Aku hanya diam menerima pukulan tas dari wanita ini. Sakit sih tidak, malunya itu loh. Ditatap banyak orang tanpa menghentikan gadis di depanku ini. Sakura juga sama, hanya terbengong di dalam mobil melihat kejadian mengenaskan ini. Beberapa orang mengeluarkan handpohone mulai memotret atau memvideo kami. Cekrek! Aku tersadar dan dengan cepat menahan tangan gadis ini.
"Tenten berhenti! Aku sudah sangat kesakitan sekarang" bohongku pura-pura meringis.
"Lepaskan tanganku bodoh! Kau selalu cari masalah ya denganku? Tidak cukup apah yang tadi malam? Dan sekarang kau ingin menabrakku? Lepaskan!" Tenten berontak. Aku masih memegang tangannya, mencengkram dengan sangat kuat. Dia makin berontak. Aku kemudian menoleh ke para penonton. Tepatnya seorang remaja yang merekam kami menggunakan hpnya.
"Hey anak muda. Bisa kau berhenti merekam dan menghapusnya? Aku akan memberikan uang jajan untukmu jika kau berhenti sekarang" pemuda itu refleks memasukkan hpnya ke dalam kantong celana. Aku menatap beberapa yang lain, yang masih memamerkan hp mereka kepadaku. Otomatis mereka menurunkan hpnya dan mulai membubarkan diri. Pemuda yang tadi juga ikut, entah ia lupa akan ucapanku atau malu menerima kata-kataku yang tadi ingin memberikan uang jajan kepadanya, padahal aku serius. Aku hanya tidak ingin berlama-lama menjadi tontonan apalagi jika potret atau video kami tersebar dan menjadi viral. Tidak lucu kan kalau ada berita 'Seorang Pria yang bekerja di stasiun TV terkenal A ditimpuki tas pasrah oleh seorang wanita yang bekerja di stasiun TV terkenal B' oh tentu saja aku tidak mau. Harga diriku akan terluka, karena aku tidak mau kalah juga dari wanita ini walau aku sangat hebat sekalipun dari dirinya.
Setelah semua orang pergi dan tinggal kami berdua serta Sakura yang berada di dalam mobil, aku menarik tangannya, menyeretnya ke dalam mobil. Ia kaget begitupun Sakura. Dengan kekuatan besarku aku berhasil memasukkannya ke dalam mobil di kursi penumpang belakang. Memasangkan sabuk pengaman dengan kasar padanya. Siapa suruh dia tidak bisa diam. Buru-buru aku menutup pintu, membuka pintu kemudi dan segera menguncinya.
"Baka! Apa sih yang kau lakukan? Keluarkan aku dari siniiii!!" omel Tenten dari arah belakang.
Sakura menelan ludah. Karena baru kali ini ia melihat wanita yang sebaya dengannya marah-marah.
"Diam dan ikut saja aku" tegasku.
Normal POV
Naruto melaju ke arah jalan dekat apartemen mereka. Sebelum apartemen, ia berhenti di depan sebuah klinik. Ia turun dari mobil, membukakan pintu untuk Tenten serta seatbelt yang masih melilit gadis itu. Tenten cengo'. Belum pernah ia melihat Naruto bersikap seekstrim ini pada dirinya. Kalau Sakura sudah biasa. Karena sedari kecil, saat Sakura terluka Naruto selalu sigap membantunya. Membelikan plester atau mengelap tangan dan kaki Sakura yang kotor saat terjatuh. Tapi ada sedikit rasa iri pada diri Sakura. Bagaimana tidak? Naruto dengan tabah menghadapi pukulan serta cacian dari gadis yang tidak ia kenal ini.
"Ayoo aku bantu." Naruto mengulurkan tangannya.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri! Lagian ini hanya lecet kecil pada tangan pula. Dan aku sudah terlambat bekerja semua ini gara-gara kamuuuuuu!!!" Teriak Tenten pada Naruto.
"Kau kira aku tidak terlambat nona? Aku juga harus bekerja. Dan mukaku merah ini gara-gara siapa?" Balas Naruto.
"Siapa suruh kau menabrakku dan ingin membunuhku!" ucap Tenten tak mau kalah.
"Itu tidak disengaja dan aku tidak menabrakmu, hampir oke?. Lagian kalau jalan liat kanan kiri dong!" Balas Naruto telak.
"Aaargh bodo amatlah! Aku tidak mau dengar lagi" Kata Tenten sambil berlalu pergi diikuti Naruto yang masih terus berceloteh.
"Mereka kelihatan dekat sekali" Ucap Sakura yang menunggu di dalam mobil. Menatap Naruto dan Tenten yang berjalan cepat menuju pintu klinik seketika itu juga ia merasa terabaikan oleh Naruto.
.
.
Di dalam klinik masih saja mereka bertengkar. Sampai-sampai perawat yang sedang membalut kedua tangan Tenten dengan kain kasa menggelengkan kepala. Entah apa yang ada di dalam pikirannya melihat dua orang ini yang terus saja bertengkar. Yang satu bersumpah serapah, yang satunya lagi tidak mau mengalah. Kombinasi yang pas.
"Ingat ya! Aku masih sangat dendam terhadapmu!!" ucap Tenten setelah mengambil obat. Tentu saja hanya obat antiseptik penyembuh luka beserta kapas dan lain-lain. Tenten melanjutkan, "Walau kau membawaku ke sini aku tidak tersentuh sama sekali. Tapi aku juga bukan wanita yang tidak tahu berterima kasih. Jadi, arigatou nee" Tenten membungkukkan badannya sedikit kemudian melengos pergi.
"Tunggu! Biar ku antar" tahan Naruto. Tenten otomatis berhenti. Naruto kemudian berjalan melewati Tenten, berbalik dan berhenti tepat di hadapan Tenten. Tenten kaget. Ia merasa ada hembusan angin yang melewatinya dan Naruto saat Naruto menatap kedua mata hazel Tenten, begitupun Tenten yang menatap mata biru laut Naruto.
"Aku tidak bisa membiarkan seorang gadis terluka berjalan sendirian. Aku akan bertanggung jawab terhadapmu dan,
maafkan aku"
Deg..
Tiba-tiba saja jantung Tenten terasa berhenti berdetak. Apa sekarang ia akan terkena serangan jantung? Tentu saja tidak. Berganti dengan serangan panas menjalari wajahnya. 'what the…' batin Tenten sambil menundukkan kepala dan memegang kedua pipinya, tentu saja yang ia rasakan hanya perih pada kedua tangannya, mukanya berubah masam. Naruto sadar akan tingkah Tenten dan tersenyum lebar.
"Jadi, ayo!" ucap Naruto menghentikan rasa aneh pada jantung Tenten. Tenten hanya mengangguk dan mengekori Naruto seperti anak ayam yang mengekori induknya.
.
.
Terlihat Sakura masih setia menunggu. Melihat kedua orang itu keluar dari klinik dengan diam membisu, membuat Sakura membatin, 'sepertinya sudah berbaikan'
"Gomen Sakura. Lama ya?" Tanya Naruto.
"Tidak apa-apa kok. Apa kita pulang sekarang?" Tanya Sakura balik.
"Yeah. Aku akan mengantarmu pulang setelah itu aku akan langsung berangkat kerja bersama nona cepol dua ini" aneh mendengar panggilan yang dilontarkan Naruto, Sakura bergumam
"Hah??"
"Oh maafkan aku. Aku lupa memperkenalkan kalian. Sakura, dia Tenten temanku…"
"Lebih tepatnya musuh!" gumam Tenten yang bisa didengar oleh Sakura dan Naruto. Naruto hanya mendengus lalu melanjutkan. "Tenten, ini temanku Sakura. Kalian seumuran looh" mendengar kata 'teman' dari mulut Naruto membuat hatinya sedikit sakit. 'Bukan kah kita bersahat dari kecil, dan kau dulu……' batin Sakura dalam hati sambil ia tundukkan kepala dan memejamkan mata beberapa detik.
"Salam kenal" Ucap Tenten dingin.
"Salam kenal" Balas Sakura dengan senyum padahal sedih. Mereka bertiga kemudian diam. Berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Sakura yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berhenti tadi. Sakura turun, tidak lupa ia berterima kasih kepada Naruto, dan mengatakan sampai jumpa kepada Tenten. Tinggallah hanya Naruto dan Tenten yang berada di dalam mobil masih dengan posisi yang sama. Naruto mendadak berhenti. Tenten auto merengut dan menatap orang di depannya dengan tajam.
"Apa kau tidak ingin pindah ke depan?" Tanya Naruto.
"Aku mohon! Jalankan saja mobil ini. Aku ingin segera sampai di kantorku" kata Tenten.
"Benarkah? Apakah kau sudah sarapan?" Tanya Naruto dengan antusias.
"Ini sudah jam 9 aku mohon. Aku sudah terlambat!" ucap Tenten dengan nada kesal.
"Tapi aku lapar sekarang. Aku akan mentraktirmu deh. Sekaligus sebagai permintaan maafku untuk yang tadi malam dan itu" ia menujuk tangan Tenten yang saat ini ada dipangkuan gadis tersebut.
"Yah kau mulai lagi. Padahal aku sudah hampir lupa. Atas kejadian yang tadi malam. Kau tahu kan aku sangat membencimu jadi untuk apa aku harus meladenimu sekarang. Tunggu! Apa ini strategimu untuk menghancurkan ideku?" Tanya Tenten dengan nada yang meninggi.
"Hey! Aku tidak serendah dan sebrengsek itu. Menghancurkan idemu? Tentu saja aku bisa. Tapi aku tidak mau. Aku kan lebih hebat darimu" ucap Naruto dengan sombong.
"Aah Terserah! Jalan sajalaaah aku malas membuang waktuku bersama kamu"
"Oke kau menang. Tunggu saja saat rating variety ku nanti naik. Siapkan saja mental dan fisikmu" ucap Naruto dengan suara baritonenya yang misterius. Tenten diam seribu bahasa memandangi laki-laki di depannya dengan heran 'untuk apa ia membawa-bawa fisikku segala' batin Tenten. Naruto sedang fokus menyetir jadi ia tidak dapat melihat tatapan Tenten. Tenten kemudian bersandar dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia tidak mau berkata-kata lagi. Ia sungguh lelah dan ingin tiba di kantor secepat yang ia bisa.
.
.
"Terima kasih" ucap Tenten ketus kepada Naruto setelah mereka berdua keluar dari mobil.
"Bisakah kau lembut sedikit? Kau kan wanita" Terang Naruto.
"Sayangnya aku hanya bersikap lembut kepada orang baik!" Jawab Tenten tanpa melihat Naruto.
"Jadi maksudmu aku orang jahat begitu?" Cecar Naruto.
"Wah kau mulai lagi ya? Sudah cukup oke? Sekarang kau bisa pergi. Aku kan sudah berterima kasih tadi jadi silahkan pergi" Terang Tenten sambil tangannya bergerak seperti seorang penyambut tamu yang mempersilahkan tamunya untuk masuk, tapi ini berbeda, Tenten bermaksud untuk mengusir secara halus pria di depannya ini.
"Baiklah kalo begituuuu~ aku pergi." ucap Naruto sambil mengacak-acak rambut Tenten dengan sengaja lalu tersenyum "Sampai jumpa lagi cepol" kata Naruto yang kemudian berjalan menuju kemudi dan berlalu pergi.
"Apa-apaan sih kau ini" gumam Tenten sambil punggung tangannya mengusap-usap rambut yang habis Naruto pegang.
.
.
Tenten POV
Aku menghempaskan badan ke kursi kantor miliku. Aku urung melakukan apapun dan hanya berdiam diri saja. Sesaat setelah itu aku menghembuskan nafas dengan berat. Aku heran, beberapa hari belakangan ini Naruto sangat baik dan perhatian kepadaku. Seperti saat mobil mogok dan kebetulan Naruto lewat kemudian dengan sigap menelepon mobil derek, memberikan tumpangan pulang, atau pada saat aku pulang larut malam, ia seperti sengaja menunggu ku yang sukses membuat aku mengira dia seorang penguntit. Aku bahkan tidak tahu alasannya pada malam itu dia bisa berada di belakangku jam segitu. Masa' sih dia berjalan jalan? Atau baru pulang kerja? Tidak mungkin! Dilihat dari pakaiannya yang santai tentu saja ia sudah pulang kerja pada saat itu. Aku juga bahkan tidak repot-repot untuk bertanya karena sifatku memang seperti ini, tidak kepo. Makanya temanku hanya sedikit. Aku juga bingung dengan tatapannya yang menyebalkan menurutku sekaligus membuat siapa saja terhipnotis. Tentu saja aku tidak! Ingat, aku tidak ingin jatuh ke dalam hal-hal yang seperti itu. Dia juga dengan berani mengajakku makan atau mengacak-acak rambutku seperti tadi. Dulu dia tidak seakrab ini denganku. Usil sih iya, tapi tidak sampai membuatku harus menendang atau memukul-mukul dirinya. Dia dulu juga kadang menyapaku setiap kami tanpa sengaja bertemu, karena apartemen kami bersebelahan. Dulu aku bertemu pertama kali dengannya saat kami mengambil mata kuliah yang sama. Ia duluan yang mengajakku mengobrol. Mungkin ia kasihan melihat aku selalu sendirian. Tentu saja aku welcome tapi terlihat tidak antusias, biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Dua tahun aku mengambil mata kuliah yang sama dengan Naruto, dua tahun itupula kami mengenal tanpa ada hal-hal yang menurutku luar biasa antara diriku dan dirinya. Setelah lulus kuliah, aku pindah dari Jepang ke Korea untuk melanjutkan kuliah S2 dan aku tidak pernah lagi melihat atau mendengar kabar tentangnya. Aku saja kaget 2 tahun lalu dia tiba-tiba muncul lagi di hadapanku setelah hampir 3 tahun tidak pernah melihatnya. Tapi setelah itu ia terkesan cuek, aku sih biasa saja karena status kami ya hanya seorang kenalan. Fix tidak lebih.
"Woyyy Ten!!" Hinata mengagetkanku. Aku hampir terjatuh dari kursi kalau saja ia tidak menahan kursi ini. "Melamun aja sih? Gak kerjaaaaa??" sindirnya padaku. Aku kemudian memperlihatkan kedua tanganku yang terlilit perban. Hinata kaget.
"Astaga! Kok bisaa??" ada sedikit kekhawatiran di raut wajah Hinata. Aku kenalkan yah. Dia ini sahabatku satu-satunya. Kami bekerja di tempat yang sama. Dia seniorku sebenarnya, tapi karena Hinata kelewat baik, ia mengakrabkan diri agar kami bisa berteman, dan dia berhasil. Makanya aku tidak terlalu hormat padanya seperti harus memanggil dia senpai toh kami juga seumuran. Dia ini lebih galak dariku, mungkin karena aku bersahabat dengannya sifatnya sedikit demi sedikit tertular padaku.
"Katakan siapa yang membuatmu terluka seperti ini?? Akan aku hajar dia sampai tulang-tulangnya hancurrr!!" gertak Hinata dengan kedua tangannya mengepal di depan dada. Aku menjawab lebih tepatnya bertanya dengan santai.
"Yakin kau mau menghajarnya untukku?" Hinata mengangguk. Aku menuju mejanya, dia auto mengikuti dengan bingung. Setelah itu aku menunjuk sebuah foto yang terpatri di dinding sekat pemisahnya. Aku menunjuk wajah Naruto seorang, karena foto itu diambil bersama beberapa orang termasuk aku dan Hinata. "Ini orangnya. Please bunuh dia untukku~" dengan nada pura-pura memohon. Hinata cengo' buru-buru dia menenangkan aku "Hahaa~ kan bisa diselesaikan secara baik-baik. Ayo duduk dulu" Hinata menggiring ku menuju tempat duduk milik ku, aku sudah menduga akan seperti ini. Aku beritahu, Hinata ini menyukai Naruto. Setiap nama Naruto disebut, ia selalu lemah. Padahal jika laki-laki lain menggodanya atau menggodaku, ia selalu siap mencerca. Banyak laki-laki yang dengan berani menyatakan cinta, tapi ia tolak mentah-mentah dengan alasan sudah memiliki tambatan hati. Padahal ia jomblo sama sepertiku. Sifatnya yang galak ini malah mengundang pria untuk berbondong-bondong menyatakan cinta. Sikapnya sangat berbanding terbalik saat bertemu Naruto. Makanya ia selalu ingin menginap di rumahku karena tahu bahwa kami tinggal di satu gedung yang sama, bersebelahan pula. Selain wajahnya yang di atas rata-rata bodynya juga aduhay. Tidak mungkin ia tidak bisa memikat Naruto. Ini hanya masalah waktu. Aku tidak masalah jika Hinata berpacaran dengan Naruto selama ia berbuat baik pada Hinata, terbukti ia tidak pernah menjahili Hinata, selalu tersenyum ramah pada Hinata maupun gadis-gadis lainnya yang kami kenal. Tapi tidak padaku, ia memang sering tersenyum, tapi senyuman jahil.
"Jadi apa masalahnya?" Tanya Hinata pelan.
"Aku menyeberangi jalan, melihat tali sepatuku lepas aku buru-buru mengikatnya. Tidak tahu mengapa dan dia datang dari mana hampir menabrakku! Padahal kan lampu merah. Aku tentu saja terkejut dan tangan ini jadi korbannya. Kalau saja si bodoh itu tidak mengerim mungkin saja aku tidak duduk di sini!" Jelasku dengan kesal.
"Ooooh seperti itu~ Hmm kalau begitu suruh dia mentraktirmu makan" suruh Hinata. Tentu saja aku tidak menyetujuinya. Naruto ajak saja aku tolak.
"Kok kau gitu sih?" Tanya ku tidak terima kemudian melanjutkan. "Bukannya membelaku kau malah baik-baikin dia. Coba saja kalau laki-laki lain yang melakukan ini padaku kau pasti minta tebusan uang melebihi biaya pengobatan ini. Ahh kesaaal!!" Rutuk ku.
"Astaga Tenten! Aku nggak membela dia. Sadarlah, Mana bisa aku meminta tebusan uang pada calon suamiku itu. Kau kan sudah punya uang banyak. Lagian minta traktir saja biar aku bisa ikut yah?" mohon Hinata dengan mata berbinar binar.
"Seriuslah sedikit! Aku sedang terluka jangan buat aku tambah terluka dengan makan bersama dia. Aku nggak sudi!" ucapku kesal. "Sudah ah jangan membicarakan dia lagi aku muak. Shikamaru mana?" Tanyaku kemudian.
"Ya sudah deeh" ucap Hinata sok sedih. "Lagi keluar. Kau mau tetap bekerja? Nggak mau istirahat? Nanti aku yang ijinkan ke bos"
"Tidak ah! Aku mau ikut rapat dan merampungkan kerjaan dengan Shikamaru biar cepat beres" kata ku.
"Baiklah kalau kau merasa baik-baik saja" ucap Hinata kemudian pergi menuju mejanya. Aku juga langsung mempersiapkan dokumen-dokumen untuk rapat walau kedua tangan ini masih sedikit terasa perih.
End Tenten POV
.
.
Naruto melirik jam tangannya. Pagi ini ia harus segera berangkat kerja karena mereka akan rapat 40 menit lagi. Karena terlambat bangun, Naruto tidak pakai mandi dan hanya buru-buru mencuci muka dan menyikat gigi. Tidak lupa memoles sedikit skincare. Tidak banyak, hanya toner dan pelembab wajah. Kalau lagi senggang kadang-kadang pakai body lotion juga. Ini merupakan aktivitas rutin agar wajahnya tidak kusam dan berjerawat serta masalah-masalah lainnya. Bukan hal yang tabu bagi para lelaki di jepang untuk merawat diri. Karena semakin dewasa dirimu, semakin kamu peduli dengan penampilan, apalagi bagi seseorang yang jomblo. Pantas saja mukanya bersih dan kencang walau tidak terlalu putih tapi tetap terlihat tampan dengan warna kulit muda kecoklatan.
Setelah itu rambutnya juga ia rapikan. Sarapanpun tidak karena ia pikir sarapan bisa menyusul belakangan. Tadi saat Naruto masih terlelap, ibunya tiba-tiba menelepon dan menyuruhnya untuk ke rumah. Lagi. Tentu saja Naruto asal mengiyakan dan cepat menutup telepon karena ia terlambat bangun. Naruto ingat, kemarin ia lupa menanyakan tentang maksud dan tujuan ibunya memanggil ke rumah. Paling menyuruh dia untuk ikut biro perjodohan lagi atau kencan buta dengan anak dari kerabatnya. Selalu seperti itu saat ia mengetahui anak semata wayangnya belum memiliki kekasih dari dulu. Naruto terlalu fokus terhadap karirnya sehingga ia lupa untuk berkencan, pikir ibunya. Naruto juga menduga-duga bahwa karena Sakura datang, ibunya lalu menghubungi secepat kilat dirinya. 'ah sudahlah aku tidak mau kencan buta lagi' batin Naruto. Ia kemudian menghentikan mobil, mengambil handphonenya yang sedari tadi menganggur dan mengetikkan sesuatu.
Ibu aku tidak mau kencan buta lagi. Berhenti menjodohkanku kalau tidak aku akan meminta pertolongan tou-san kali ini. Aku akan punya pacar saat ibu berhenti memikirkan 'memiliki seorang menantu dan cucu'.Aku sayang ibu.=
Send
Setelah mengirim sms kepada ibunya, ia kemudian menelepon seseorang. "Moshi moshi" Jawab orang di seberang telepon.
"Turunlah! Aku sudah sampai di depan rumahmu teme!" ternyata sedari tadi Naruto berhenti di depan apartemen Sasuke. Ternyata Sasuke menumpang mobil Naruto karena ia sendiri malas membawa mobil dan sekali-sekali ingin menjadi penumpang.
"Jadi hari ini rapat terakhir ya?" Tanya Sasuke.
"Hm, akhirnya." Jawab Naruto singkat.
"Kapan tayangnya?" Tanya Sasuke lagi
"Mungkin minggu depan sudah bisa tayang" Jawab Naruto kemudian melanjutkan, "Aku sudah tidak sabar mengalahkan gadis cepol dua itu hehe" Naruto tersenyum licik kemudian.
"Aku harap kali ini dia yang menang dobe!" kata Sasuke mengejek.
"Tidak akan!" Jawab Naruto dengan tegas. "Tumben kau cepat sekali ke kantor? Bukannya jadwal siaranmu siang nanti?" kali ini Naruto gantian bertanya.
"Aku ada urusan." Jawab Sasuke sekenanya.
"Urusan dengan pacarmu itu ya teme? Kkkk" goda Naruto.
"Diam saja kau dobe!" ucap Sasuke sambil tersipu malu.
.
.
Naruto bergegas menuju ruang rapat, karena rapat akan dimulai 10 menit lagi. Ia tidak mau terlambat dan di marahi bos lagi kali ini. Ia tidak mau menghancurkan kerja kerasnya karena kesalahan kecil saja. Ia tidak mau taruhannya gagal dan akhirnya wanita itu yang menang. Big no! batin Naruto. Akhirnya Naruto sampai di ruang rapat. Baru beberapa orang yang datang. Hanya ada dia, serta Sai dan Ino yang sedang mendiskusikan sesuatu sepertinya. Kebetulan ia sendiri adalah ketua tim dan sering terlambat pula, makanya kali ini direktur kreatifnya akan datang melihat kerampungan naskah dan rundown dari ide yang dihasilkan Naruto beserta timnya.
Naruto melirik jam. 5 menit lagi batin Naruto. 'Apakah kali ini aku yang akan memarahi Kakashi?' kata Naruto di dalam hati.
Ddrrtt.Ddrrttt..
Ponsel Naruto yang berada dalam kantong bergetar. Naruto mengambilnya dan membuka layarnya.
Ibu memang bermaksud begitu kemarin. Tapi hari ini maksudnya lain. Ibu tahu kau sibuk jadi datanglah sehabis bekerja. Kalau bisa menginap yaa?=
Setelah membaca balasan dari ibunya Naruto mengembalikan ponsel itu ke dalam kantong celananya.
"Ada apa lagi sih?" gumam Naruto penasaran. Setelah itu bosnya, Kakashi datang beserta anggota yang lain di belakang.
"Jadi mari kita mulai rapatnya. Naruto!" Panggil Kakashi mempersilahkan Naruto untuk memimpin rapat.
To Be Continue..
