Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruTen

Author: Nona Romes

Genre : Romance dan Sedikit Humor

Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie

Chapter 4

Rapat telah berakhir. Semua anggota tim bersorak ria dalam hati. Mereka tidak terlalu ingin menampakkan kebahagiaan di depan Kakashi maupun Naruto. Mereka sudah tahu bagaimana sifat Naruto yang tidak ingin berpuas diri. Akan memalukan nanti jika apa yang mereka kerjakan tidak sesuai ekspetasi. Misalnya saja kemungkinan rating rendah atau program mereka tidak disukai oleh penonton. Begitu kata Naruto. Ia juga berkata 'jangan suka berpuas diri karena akan membawa kita pada kesombongan. Kalau kita sombong, orang-orang di sekitar kita akan muak dan tidak ingin bekerja sama lagi dengan kita. Semua kerja keras kita tidak mungkin selalu di atas angin, pasti ada saatnya nanti kita mengalami penurunan rating atau sebagainya. Jadi untuk mempersiapkan kemungkinan buruk, mulailah dengan sikap tidak berpuas diri'. Kata-kata Naruto bisa membuat siapa saja menyetujui perkataannya. Makanya banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan suka padanya bukan artian 'tertarik' ya.

Setelah berbincang sebentar dengan Kakashi, bosnya. Naruto menuju ke ruang tim produksi sendirian. Kakashi menyuruhnya menyerahkan sendiri naskah dan rundown untuk nanti dieksekusi. Tentu saja Naruto bergegas, karena ia bersemangat sekali hari ini.

"Hei dimana bosmu?" Tanyanya pada salah satu kru produksi.

"Sepertinya sedang pergi" Jawab yang ditanya.

"Kalau begitu apa Temari ada?" Tanya Naruto lagi.

"Ah dia tadi di studio kau pergi ke sana saja bila ada perlu. Baiklah aku permisi ya" Ucap lawan bicaranya. Naruto kemudian mengangguk.

"Ya. Silahkan" Kemudian Naruto menuju studio yang biasa ia dan Temari bertemu. Kebetulan ia melihat Temari sedang berbincang dengan seseorang. 'kebetulan sekali' batin Naruto.

"Konnichiwa~" salam Naruto sambil membungkuk kepada kedua orang di depannya.

"Ah konnichiwa Naruto" Balas Temari.

"Bagaimana apa sudah beres?" Tanya orang yang di sebelah Temari to the point pada Naruto.

"Tentu saja sesuai jadwal. Ini" Jawab Naruto dengan menyerahkan Naskah yang sedari tadi ia pegang. Ternyata yang di sebelah Temari adalah Neji, produser utama yang akan melakukan tugasnya mengeksekusi ide Naruto dan teman-teman. Sedangkan Temari adalah teman satu angkatannya yang juga bekerja di Rins TV sebagai asisten produser.

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu" Dengan menenteng Naskah yang dia ambil dari Naruto, Neji kemudian bergegas pergi.

"Sibuk sekali sepertinya" ucap Naruto kepada Temari.

"Yah seperti yang kau lihat" Kata Temari sambil memandang Neji yang sudah pergi.

"Kau tidak ikut?" Tanya Naruto.

"Tidak. Dia menyuruhku untuk standby di sini. Kau mau masuk melihat-lihat?" Ajak Temari.

"Tidak ah. Aku masih ada urusan. Kalau begitu sampai jumpa" pamit Naruto.

"Baiklah. Sampai jumpa" balasnya. Naruto kemudian meninggalkan Temari yang berada di depan studio setelah itu berbelok ke kiri menuju ruangannya. Temari masih berada disana sambil bengong, setelah Naruto hilang dari pandangannya seseorang datang membuyarkan lamunannya.

"Hei! Itu tadi Naruto ya? Wah masih di tim kreatif?" Tanya Karin penasaran.

"Hhmm kau benar. coba saja dia menerima tawaran itu dulu. Pasti sekarang sudah jadi executive produser paling tidak produserlah! Ah dia memang bodoh!" rutuk Temari.

"Kira-kira apa alasannya menolak ya? Padahal sayang sekali kan. Kesempatan tidak datang dua kali" kata orang di sebelah Temari.

"Entahlah aku tidak mengerti jalan pikirannya. Sudahlah ayo kembali bekerja" Temari dan Karin kemudian masuk ke dalam studio meninggalkan tanda tanya besar bagi pembaca.

.

.

Tenten melangkah keluar meninggalkan Hinata sendirian di kantor. Tenten hendak mengajak gadis itu makan siang di restoran yang biasa mereka berdua kunjungi tetapi di tolak dengan alasan "Sudah sarapan jadi tidak lapar". Tenten sih mengerti karena biasanya Hinata selalu berdiet dan berbohong kalau ia tidak lapar. Tenten memaksa tapi Hinata tetap tidak mau. Alhasil hanya Tenten sendiri yang keluar tepat jam 12 siang.

Tenten sampai di depan restoran kali ini ia membawa mobil. Karena mobil Mira e:S nya sudah selesai diperbaiki, jadi ia tidak perlu repot-repot berdesakan di kantin kantor. Ia kemudian masuk ke dalam restoran tersebut menuju sebelah kanan dekat dengan pintu masuk. Jadi saat ada yang datang otomatis Tenten dapat melihat dengan jelas wajah orang-orang yang masuk. Bukannya Tenten terobsesi dengan wajah-wajah orang, tidak. Hanya saja ia senang melihat wajah-wajah baru yang ia temui atau sekedar melihat. Daripada ia terus-terusan melihat orang-orang kantor atau Hinata, kalau Hinata sih tidak masalah, tapi ada wajah seseorang yang sangat tidak ingin dia lihat. Tebak saja sendiri siapa. Bosan juga kan?

Tenten kemudian mengangkat tangan pada pelayan yang kebetulan melihatnya. Pelayan restoran tersebut menghampiri Tenten bersiap mecatat pesanan pelanggan di hadapannya.

"Donkatsu satu porsi dan air putih seperti biasa. Terima kasih" ucap Tenten langsung tanpa melihat menu.

"Baiklah mohon tunggu sebentar" Pelayan itu membungkuk kemudian pergi untuk mempersiapkan makanan Tenten. Restoran ini tidak terlalu besar tapi memiliki dua lantai. Biasanya Tenten dan Hinata akan naik ke lantai dua tapi kali ini tidak, karena Hinata tidak bersamanya ia jadi malas naik. Interiornya sederhana dan tidak aneh-aneh. Seperti restoran biasa yang menyajikan donkatsu kesukaannya. Rasanya pun enak. Selain donkatsu banyak sajian makanan yang dapat dipilih termasuk ramen dan lain-lain bila suka.

Tenten kemudian iseng melihat-lihat menu sambil sesekali menatap keluar jendela besar di sampingnya. Kemudian ia melihat seseorang yang tidak asing di seberang sana sedang berjalan dengan pakaian lengkap dan rapi. Tenten sedikit terkejut karena orang itu adalah Sasuke si penyiar berita sekaligus sahabat Naruto. Sasuke berjalan lurus ke arah restoran sendirian.

"Mudahan hariku tidak buruk" ucap Tenten lebih tepatnya kepada diri sendiri. Tenten pura-pura membaca menu. Tidak berniat mengangkat wajahnya sedikitpun atau sekedar penasaran pria tersebut sudah masuk ke dalam restoran atau belum. Ia hanya tidak ingin Sasuke melihat dirinya. Nanti harinya sial lagi, tentu saja dia tidak mau berurusan dengan orang-orang di dekat Naruto.

"Ten…?" Tenten sedikit meringis kemudian mengangkat kepalanya perlahan dan tersenyum palsu. Belum sampai sedetik ia tersenyum, ia sudah dikejutkan dengan orang di hadapannya ini. Matanya auto melotot, mulutnya menganga menandakan ia sangat jijik sekali dengan orang ini. Ia segera sadar.

"Naruto???" Kaget Tenten. Entah sudah sesering apa Tenten memanggil nama Naruto dengan nada melengking atau nada terkejut.

"Konnichiwa Nona Cepol Dua. Boleh aku duduk di sini?" Tanya Naruto dengan senyuman khasnya.

Tenten menghembus-hembuskan nafasnya tapi tetap diam dengan wajah yang sebentar lagi akan meledak, bukan karena malu tapi karena marah. Naruto cuek dan tetap duduk. Kemudian pelayan datang bermaksud mencatat pesanan Naruto.

"Ramen dan air putih saja" ucap Naruto cepat. Pelayan tersebut bergegas ke belakang untuk menyiapkan makanan Naruto. Tak lama kemudian pelayan lain datang membawa sepiring donkatsu pesanan Tenten dan meletakkannya di hadapan Tenten.

"Pesanan anda" ucap pelayan tersebut singkat. Merasa diabaikan oleh pemilik donkatsu, pelayan tersebut pun pergi tanpa ucapan terima kasih.

"Jangan menatapku terus. Pesananmu tuh nanti dingin" Kata Naruto yang membuat selera makan Tenten hilang.

Kreeyoook…

Tenten lupa sebenarnya ia sangat lapar. Walaupun nafsu Tenten hilang karena ada Naruto, ia tidak ingin suara perutnya nanti berbunyi saat bekerja. Akan memalukan bagi seorang Tenten. Dan ia pasti diolok-olok Hinata selama beberapa hari. Ia tidak ingin malu, terpaksa ia menatap donkatsu dan bersiap memakannya.

'Aaah aku lupa minta dipotongkan. Sialaaaan..' batin Tenten kesal. Ia kemudian menatap makanannya beberapa detik dengan wajah bingung dan tidak tahu harus apa.

"Sini biar aku potongkan" Kata Naruto kemudian dengan sigap mengambil donkatsu di hadapan Tenten. Tenten cengo' lagi haruskah dia menahan piring yang Naruto pegang atau haruskah dia membiarkan Naruto melakukan 'itu' untuk Tenten. Ia memilih opsi kedua. Selain tidak ingin kelaparan, ia juga menghindari gencatan senjata dengan Naruto. Ia capek jika harus berkelahi di restoran yang tenang ini. Bisa-bisa moodnya hancur dan berimbas pada pekerjaannya.

Pesanan Naruto datang dengan 1 botol besar air dingin serta 2 gelas kosong. Tenten juga sudah menyantap sedikit donkatsu yang dipotong Naruto.

"Terima kasih makanannya. Itadakimasu" ucap Naruto senang.

Slurp slurp…

Tenten melihat Naruto yang sangat lahap memakan ramen di hadapannya.

Slurp slurp..

Tenten menyuap donkatsu ke mulutnya sendiri sambil terus melihat orang di hadapannya itu. 'Hmm enak sekali. Apa Naruto suka ramen?'

'Eh? Ada apa sih dengan diriku? Kenapa tiba-tiba peduli dengan kesukaannya?' batin Tenten.

Tenten melahap donkatsu lagi dengan terus menatap Naruto.

Slurp slurp sluuuurp…

'Kok lucu sih lihat Naruto makan selahap ini? Kkkk' batin Tenten lagi tapi sedikit menahan senyum kali ini. Naruto menghentikan acara seruput mienya.

"Kenapa kau terus menatapku? Apa ada kuah ramen di sekitar mulutku?" Naruto kemudian menjilati bibir atas dan bawahnya sendiri secara merata, seperti permainan lidah. Mengecap-ngecapkan bibirnya, siapa tahu dengan begitu kuah ramen yang tersisa dimulutnya hilang.

Tenten menelan ludah. Entah kenapa ia tidak berkomentar tentang kelakuan pria di hadapannya ini. Ia menatap intens Naruto yang masih berkutat dengan aktivitasnya. Tidak ada sumpah serapah yang keluar dari mulutnya seperti biasa atau sekedar berkata 'menjijikkan' kepada Naruto. Naruto selesai mengelap-elap mulutnya. Ia balik menatap Tenten yang bengong menatap dirinya. Tenten mengerjap ngerjapkan matanya. Ia sepenuhnya sadar apa yang telah dilakukan, buru-buru ia berdiri dan menuju kasir siap membayar tanpa menghabiskan dulu donkatsu yang masih tersisa. Naruto bingung juga buru-buru ia memakan ramen yang tersisa di hadapannya dan meminum kuahnya, setelah itu Naruto mengejar Tenten. Padahal rencananya Naruto akan sekalian membayar makanan milik Tenten tapi tidak sempat, keburu Tenten yang membayar makanan miliknya sendiri. Terpaksa Naruto hanya membayar tagihan ramen miliknya dan setelah itu mengejar Tenten yang sudah berada di luar. Tenten cepat-cepat membuka pintu kemudi tapi ditahan oleh Naruto.

"Kau kenapa lagi sih cepol?" Tanya Naruto heran. Tenten kesal.

"Aku sudah selesai. Dan ingin kembali ke kantor. Kau uruslah urusanmu sendiri oke?" Tegas Tenten. Tenten membuka pintu mobil dan ingin masuk ke dalam. Lagi-lagi Naruto menahan.

"Tunggulah di sini sebentar. Aku mohon!" pinta Naruto yang kemudian berlari ke mobilnya tidak jauh dari mobil Tenten tapi di arah sebaliknya. Tenten bingung tapi tetap menunggu. Naruto kembali membawa sesuatu di tangannya, kemudian menyerahkannya pada Tenten.

"Apa ini?" Tenten menerima barang tersebut dan ia lihat dengan seksama. Ia bolak-balikkan barang itu dan membukanya, melihat isi di dalamnya. Sepertinya barang ini familiar pikir Tenten.

"Kau lupa? Bukankah kau yang meminjamkan tempat pulpen beserta isi-isinya itu kepadaku? Karena aku selalu meminjam pensil atau pulpen kepadamu. Kau akhirnya kesal dan besoknya saat aku bertanya lagi padamu kau memberi ini. Kau bilang saat kita lulus jangan lupa kembalikan yang lainnya padamu. Dan jangan hilangkan itu. Ingat?" Tenten mengingat sedikit demi sedikit apa yang dijelaskan Naruto tadi.

"Aaah.. benarkah? Tapi aku tidak ingat berkata untuk mengembalikan ini padaku." Bantah Tenten.

"Kau kan orangnya cuek cepoooool!!" Jelas Naruto sambil memencet-mencet 1 cepol Tenten. Tenten mau marah tapi tangan Naruto terlanjur lepas dari cepolan tersebut.

"Ya sudah kalau begitu apa ada yang lain? Aku mau ke kantor nih sudah lewat jam makan siang" Kata Tenten cepat.

"Yah tidak ada sih" Kata Naruto pasrah sambil tangannya menggaruk garuk belakang kepala padahal tidak gatal.

"Ya sudah. Aku pergi" Tenten kemudian masuk ke dalam mobil membawa tempat pulpen yang diberikan Naruto tadi dan berlalu pergi meninggalkan Naruto sendiri.

"Padahal kan aku ingin berlama-lama dengannya. Dasar nona cepol dua tidak peka dari dulu ckck" dengan kepalanya ia geleng-gelengkan.

Di persimpangan jalan menuju Kantor Tenten di dalam mobil,

'Naruto, Naruto semakin aneh! Bisa-bisanya ia memegang cepol ku seperti itu. Dan ini untuk apa ia kembalikan? Aku saja sudah lupa. Atau apa aku yang aneh ya? Di restoran tadi? Aaaah aku bersikap aneh!'batin Tenten yang masih menyetir menuju kantornya.

"Aku pasti sudah gila" Rutuk Tenten pada dirinya sendiri. "Apa besok aku buka saja cepol ini ya?" kata Tenten sambil menyentuh cepol sebelah kanannya.

.

.

Tenten sampai di kantor dan menuju ruang kerjanya. Ia tidak melihat Hinata di sana 'kemana lagi dia?' batin Tenten 'tadi aku ajak pergi tidak mau heh' kemudian duduk di kursinya. Tenten mengklik mouse dua kali membuka komputernya yang terkunci dan mengarahkan kursornya kembali melanjutkan kegiatan tadi pagi yaitu membuat laporan pemenang kuis QQQ show, program yang lain. Karena program yang baru yang akan menjadi penentu menang atau tidaknya dia dari Naruto, sudah beres dan tinggal di produksi minggu depan tentunya sesuai jadwal. Ia masih berkutat di depan komputernya hingga Hinata datang.

"Eh dari mana kau?" Tanya Tenten dari tempat duduknya.

"Ooh? Pergi tadi sebentar hehe" jawab Hinata.

"Oh ya kau sudah mengecek schedule artis yang akan kita pakai kan? Jangan sampai waktu kita syuting bentrokan dengan jadwal mereka" Tanya Tenten lagi sambil masih sibuk menatap layar komputernya.

"Tenang saja. Aku sudah cek semua dan tidak ada yang tidak bisa minggu depan. Mereka semua akan hadir" Jawab Hinata cepat. Kiba tiba-tiba datang dengan menepuk pundak Tenten yang otomatis mengejutkannya.

"Heii!!" Ucapnya.

"Aaargh kau mengagetkankuu~" Ucap Tenten kemudian menoleh dengan wajah kesal ke arah Kiba.

"Kibaaa Bakaaa!! Kau ini mengagetkannya tau! Mau kupukul kau?" Ancam Hinata dari kursinya. Kiba hanya bergidik ngeri di samping Tenten.

"Gomen gomen. Kau dipanggil bos tuh!" Kata Kiba.

"Aku? Ada apa memangnya?" Tanya Tenten Penasaran.

"Tidak tahu. Pergi saja sana" Suruh Kiba kemudian pergi ke meja Hinata. Tenten segera bangkit berdiri untuk menuju ruang direktur.

"Eh baka, ada apa?" Tanya Hinata. Kiba hanya mengangkat kedua bahunya.

"Entahlah" Jawabnya singkat.

.

.

Tenten tiba di depan pintu ruang bosnya. Di depan pintu bertuliskan "Direktur Kreatif, Rock Lee"

Tok.Tok..

"Masuk" Jawab Lee dari dalam sana. Tenten kemudian masuk dan mendapati Lee tidak sendirian. Ada produser sekaligus teman Lee juga datang, duduk berhadapan.

"Silahkan duduk Tenten-chan" Perintah Lee. Kemudian Tenten duduk di sebelah produser yang bernama Akimichi Chouji, yang sedang mengunyah sesuatu dari tadi tidak lupa menyesap kopi di hadapannya juga.

"Jadi begini Tenten-chan. Orang di hadapanku ini kan sebentar lagi akan cuti, secara tiba-tiba pula. Jadi dia tidak bisa menghandle program kita. Nah orang atas meminta rekomendasi secepatnya pengganti Chouji. Karena ku pikir daripada repot-repot meminta produser lain, mending aku mempromosikanmu menjadi asisten produser untuk menghandle acara ini. Bagaimana?" Tanya Lee.

"A-apa?? A-aku jadi produser?? Eh maksudku asisten produser??" Tanya Tenten entah mengapa terbata-bata.

"Ya. Kalau tidak menemukan pengganti Chouji terpaksa ia tidak bisa minta cuti. Tenten-chan bantulah dia" ucap Lee memohon. Chouji hanya mengangguk angguk saja.

"Tapi aku kan seorang anggota tim kreatif. Kenapa tidak suruh Hinata dan Kiba saja yang lebih pengalaman dibanding aku? Atau Shikamaru yang jelas-jelas berotak encer. Aku juga baru satu tahun di sini."

"Tidak bisa Tenten-chan. Aku sudah menugaskan mereka yang lain. Lagipula sebagian besar variety show baru ini idemu dan kau lebih banyak mengetahui seluk beluknya. Jadi mudah untuk kita memproduksinya. Kau juga cerdas kok, tak kalah dari yang lain" Jelas Lee. Chouji masih mengangkuk-angguk tanda setuju.

"Ta-tapi aku kan. Belum berpengalaman." Ucap Tenten sambil menundukkan kepalanya.

"Nah inilah waktunya kau mencari pengalaman dan mengembangkan bakatmu. Siapa tahu kau langsung diangkat menjadi produser. Ayolah terima saja Tenten-chan" Ucap Lee memohon.

"Ba-baiklah kalau begitu aku akan menerimanya" dengan wajah lesu Tenten menerima. Kedua orang yang bersamanya saat ini tersenyum lega.

"Nah kalau begitu mulai besok kau akan pindah ke tim produksi. Hari ini kau selesaikan tugas yang ada atau menyerahkan tugas itu ke anggota tim kreatif jika tidak bisa selesai hari ini" Jelas Lee.

"Baiklah" Ucap Tenten singkat.

"Apa aku boleh pergi sekarang?" Tanya Tenten.

"Silahkan dan terima kasih Tenten-chan" kata Lee dengan tersenyum.

"Yoroshiku onegaishimasu (mohon bantuannya)" ucap Chouji sambil membungkukkan badannya.

"Aah iya" balas Tenten membungkukkan badan kemudian berjalan keluar. Tenten kembali ke ruangan Tim Kreatif. Duduk di kursinya sambil menghembuskan nafas dalam-dalam dan melamun.

'apa aku bisa? Aaah seharusnya aku ngotot untuk menolak. Aku takut menghancurkan acaranya dan ratingnya? Aah pusssinggg. Aku takut kalaaah. Tapi benar sih kata pak direktur. Ini bisa jadi pengalaman buatku' curhat Tenten dalam hati.

"Eh Ten! Kenapa?" Tanya Hinata penasaran dari meja sebelah.

"Aaaah nanti aku cerita! Aku mau lanjutin ini dulu" ucap Tenten kesal pada teman semata wayangnya tersebut kemudian melanjutkan tugas-tugasnya. Ia tidak mau membebankan teman-temannya di tim kreatif karena ia akan pindah tugas tapi tugasnya sendiri belum selesai, ia agak khawatir juga. 'mungkin aku harus lembur lagi' batin Tenten.

.

.

Sore ini sepulang bekerja Naruto akan ke rumah orangtuanya. Ia tidak tahu ada apa lagi kali ini hingga disuruh menginap. Tapi Naruto menuruti saja kata-kata ibunya daripada ia dicap anak durhaka. Ia tidak mau.

"Dobe! Mau kemana?" panggil Sasuke melihat Naruto menuju parkiran.

"Ah, kau teme.Sudah selesai siaran?" Tanya Naruto

"Sudah dong! Ini mau pulang" Jawab Sasuke.

"Maaf ya tidak bisa mengantarmu. Aku mau ke rumah orangtuaku"

"Tidak apa apa dobe. Ada apa lagi kali ini?" Tanya Sasuke.

"Tidak tahu. Palingan disuruh kencan buta lagi sama anak temannya ibu" jawab Naruto sekenanya.

"Makanya punya pacar dobe!" Ejek Sasuke.

"Ya kau enak ya bicara seperti itu mentang-mentang punya."

"Hahaa~gomen. Aku juga mau pergi nih jemput my heart pakai mobil" ucap Sasuke OOC sambil pamer kunci mobil.

"Bilang dong dari tadi. Aku kira kau minta numpang lagi teme!"

"Haha baiklah kalau begitu aku duluan ya" ucap Sasuke sambil melambaikan tangan.

"Dasar teme! Baiklah sampai jumpa" ucap Naruto kemudian menuju mobilnya.

.

.

"Ibuuuu!!!" Teriak Naruto

"Bakaaa!! Ibu di dapuuuur.. Jangan teriak-teriak!!" Teriak Kushina. (Dia ngelarang Naruto teriak, tapi dia teriak juga kkkk)

Naruto tidak langsung menuju dapur. Ia memutuskan untuk naik dulu ke lantai atas. Dimana kamarnya berada.

"aah Lelahnya" Naruto melemparkan tubuhnya ke kasur. Kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Lama juga ia tidak berada di kamar ini. Kamar yang lebih besar daripada kamar yang berada di apartemennya. Tidak ada debu sama sekali. Ia menyadari pasti ibunya setiap hari membersihkan kamar ini.

"Ibu memang baik" Naruto bersyukur akan cinta ibunya yang tidak pernah lelah untuk membersihkan kamar ini berharap Naruto suatu saat kembali lagi.

"Sepertinya aku harus menyapanya" Naruto kemudian turun ke bawah.

"Ibu aku lapar" rengek Naruto pada ibunya.

"Eh Sakura?" ia terkejut mendapati Sakura berada di dapur bersama ibunya.

"Hai Naruto" Sapa Sakura singkat

"Makan saja yang ada di situ" Tunjuk ibunya ke meja makan. Ia sedikit heran karena dapur ini penuh dengan bahan makanan.

"Ada apa ini bu?" Tanya Naruto.

"Ah kau tidak tahu ya? Ibu memanggilmu ke sini karena kita akan makan bersama orangtua Sakura" Jelas ibunya yang masih sibuk memasak. Sakura sedang memotong-motong kentang dan wartel. Ia berencana membuat kare.

"Ooh.." Jawab Naruto singkat sambil ia mengambil sepertinya makanan sisa ibunya tadi siang, sup miso dan ikan panggang, tidak lupa ada sayur-sayuran di sana. Kemudian mengambil ikan panggang yang ia taruh di atas nasi dan menjejalkan ke mulutnya.

"itadakimasu" ucapnya.

To Be Continue..

Maaf ya aku gak terlalu tahu masalah pertelevisian jadi aku buat seadanya aja ya maaf kalo melenceng dari tugas sebenarnya ya? Okeh?

Lanjut???