Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruTen
Author: Nona Romes
Genre : Romance dan Sedikit Humor
Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie
Chapter 5
Jam telah menunjukkan pukul 19.00.
Tenten seharusnya sudah pulang jam segini tapi ia masih ada 'hutang' yang harus dilunasi. Tugas lain yang diberikan Hinata padanya. Ini semua gara-gara ia menceritakan pada Hinata akan pindah ke tim produksi. Tentu saja Hinata kesal karena temannya akan meninggalkan dia seorang diri sebagai wanita di tim kreatif. Tenten lalu berjanji akan mengerjakan semua tugas-tugas Hinata asal dia tidak marah lagi pada Tenten. Hinata luluh kemudian memberikan tugas mencari materi foto dan video untuk VT. Padahal itukan tugas Hinata bukan tugasnya. Alhasil Hinata dengan riang gembira karena bisa pulang cepat meninggalkan dia seorang diri.
"Eeh Shikamaru kau mau kemana?" Teriak Tenten kepada Shikamaru yang sudah melewatinya. Otomatis Shikamaru berhenti dan menoleh padanya.
"Aah sungguh merepotkan. Aku pulang duluan ya?" ucap Shikamaru malas. Tanpa menunggu jawaban Tenten ia langsung pergi.
"Eerr tega sekali sih dia aku ditinggalin!" ucap Tenten melihat Shikamaru yang sudah hilang dari pandangannya. Tenten kemudian melanjutkan apa yang telah dia mulai. 'semangat! semangat!' batinnya.
.
.
"Naruto bisa tolong ambilkan itu?" Mohon Sakura sambil menunjukkan apa yang dia minta ambilkan. Ternyata sedari tadi setelah makan Naruto hanya duduk-duduk saja memainkan hpnya tanpa melirik orang yang berlalu lalang melewati. Baik ibunya maupun Sakura. Melihat Sakura yang sedang kesulitan ingin mengambil mangkuk yang berada di dalam kabinet yang cukup tinggi pun tidak. Sehingga terpaksa meminta tolong kepada Naruto, tidak mungkin kan ia meminta tolong kepada Kushina yang sedang sibuk dengan supnya.
"Aah tentu" Naruto meletakkan ponselnya. Menghampiri Sakura yang masih berdiri di sana. Tanpa kesulitan Naruto mengambil mangkuk tersebut dengan kedua tangannya. Sakura hanya melihat entah terpesona atau tidak yang jelas ada semburat di sana, di kedua pipi Sakura.
"Taruh dimana?" Tanya Naruto.
"Di sini saja" Sakura menuju meja diikuti Naruto. (Pada model kitchen set island ada meja besar yang diletakkan di tengah. Jadi bukan meja makan ya)
"Terima kasih" ucap Sakura lembut.
"Apa kau membutuhkan yang lain?" Tanya Naruto pada Sakura. Sakura menggeleng.
"Baiklah kalau begitu" Naruto kembali ke tempatnya semula.
"Astagaa~ aku lupa membeli buah-buahan!" Kata Kushina yang sukses membuat kedua orang selain dirinya menoleh kepada Kushina.
"Aku akan menyuruh Ibuku membelinya saat ke sini nanti Oba-chan" kata Sakura mendadak.
"Tidak-tidak Sakura aku tidak ingin merepotkan. Mereka kan tamu." Ucap Kushina.
"Biar aku saja yang beli" Tiba-tiba Naruto bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu Naruto!" sergah ibunya.
"Bawa Sakura bersamamu. Kau bahkan tidak tahu buah yang rasanya manis atau tidak. Sakura minta bantuannya ya?" Mohon Kushina.
"Aku akan ikut Oba-chan" Jawab Sakura dengan penuh semangat. Kemudian mengikuti Naruto.
"Rencanaku berhasil! Hihi untung saja tadi aku tidak beli" gumam Kushina licik.
.
.
"Apa ada supermarket yang buka jam segini?" Tanya Naruto pada Sakura yang berada di kursi samping pengemudi.
"Hmm sepertinya ada Konbini yang menjual buah-buahan masih buka jam segini. Kita ke Lawsin Store 1000 ya. Kau tahu kan?" Tanya Sakura.
'Tentu saja tahu itukan dekat tempat kerja Tenten' batin Naruto.
"Baiklah kita ke sana. Pasang sabuk pengamanmu yang erat ya. Kita akan melaju" kata Naruto basi. Sakura hanya tersenyum sambil ia pasang seatbeltnya seperti biasa.
Di perjalanan tidak ada yang berbicara. Karena terasa canggung, Sakura iseng bertanya.
"Naruto, apa kau tidak penasaran?"
"Tentang?" Naruto pura-pura tidak mengerti.
"Kenapa tidak menghubungimu selama ini, atau kenapa aku tidak memberitahumu bahwa aku akan pergi ke London" Jawab Sakura.
"Hmm memangnya kenapa?" Tanya Naruto singkat tanpa melirik Sakura atau melihatnya. Ia tidak mau lagi kejadian kemarin terulang. Yaitu hampir menabrak seseorang, Tenten pula orangnya.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana" Terang Sakura bingung. Haruskah dia to the point atau basa-basi dulu. Dia melirik Naruto yang sepertinya tidak akan memberi respon terlihat dari caranya menyetir yang terlalu fokus.
"Yang jelas aku menyesal tidak memberitahumu" Gumam Sakura.
"Apa katamu aku tidak dengar?" Tanya Naruto.
"Hmm tidak apa-apa" Jawab Sakura menggelengkan kepala.
"Jelaskan saja" Pinta Naruto. Sakura kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Oya kau sepertinya akrab sekali dengan gadis yang kemarin?"
"Siapa? Maksudmu Tenten?"
"Iya, Tenten" Jawab Sakura tidak bersemangat.
"Yaah tidak seakrab kita waktu dulu siih" Jawab Naruto tidak yakin. Sakura blusing.
"Dia temanku dan rival sekaligus, tapi aku tidak menganggap dia musuh. Entah kenapa dia saja yang selalu kasar kepadaku. Dia menanggapku menyebalkan sepertinya. Gadis ituu.."
"Kita sudah sampai" Tunjuk Sakura refleks, menghentikan cerita Naruto. Tidak tahu kenapa ia tidak ingin mendengar lanjutan dari cerita itu dan minimarket menyelamatkannya. Naruto menuju ke arah minimarket yang berada di depan mata mereka. Naruto kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan minimarket tersebut. Sakura keluar dan Naruto mengikutinya dari belakang. Mereka berdua lalu mencari area buah-buahan.
'Besar juga tempatnya tidak seperti minimarket pada umumnya' batin Naruto.
"Mau beli buah apa Naruto?" Tanya Sakura. Mereka berdua sekarang sudah berada di area buah-buahan. Naruto hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau saja yang pilih Sakura" Kata Naruto menyerahkan keputusan memilih buah-buahan kepada Sakura. Ia sendiri tidak yakin buah apa yang diinginkan ibunya sebagai pencuci mulut. Sakura berpikir sebentar kemudian menyusuri area buah-buahan tersebut. Setelah ia dapat melihat buah yang ia cari, ia menarik-narik Naruto bermaksud agar Naruto mengikutinya. Mereka sampai di area semangka. Sakura sibuk memilih-milih sedangkan Naruto hanya berdiri melihat sekeliling tidak tertarik untuk ikut membantu.
"Ah Naruto kita lupa membawa keranjang. Bisa kau ambilkan?" Pinta Sakura.
"Tentu" Naruto kemudian kembali ke depan untuk mengambil keranjang. Sambil berjalan, ia melihat sekeliling. Hanya ada beberapa orang pelanggan yang terlihat masih memilih-milih barang serta karyawan yang sibuk menyusun sepertinya minuman kaleng. Ia kemudian mengambil keranjang yang ada di samping dekat pintu masuk, setelah itu ia kembali sambil bersiul-siul menenteng keranjang yang ada di tangannya, serta pandangannya ia telusuri ke koridor-koridor yang ada di supermarket tersebut sekedar iseng. Tiba-tiba ia berhenti kemudian berjalan mundur perlahan. Ia kemudian tersenyum melihat orang yang sangat ia kenali, orang tersebut menoleh.
"Naruto???" Tanya Tenten tak percaya. Kemudian melanjutkan, "Eeerrr sebal deh!! Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali sih bertemu kamu? Bosan tahu!"
"Eh Tenten kebetulan sekali." Ucap Naruto sambil tersenyum. Karena Tenten sedang malas, lelah, letih, lesu, lembur pula, ia urung meneriak-riaki Naruto menyuruh pergi atau semacamnya.
"Kok kau ada di sini?" Tanya Tenten sambil tangannya sibuk mencari-cari barang yang ia cari. Baru kali ini Tenten bersikap lembut. Ia sendiri heran tapi dia buang jauh-jauh pikiran lain yang menghampiri otaknya.
"Yaah mencari buah-buahan saja. Cuma di sini yang buka" Jawab Naruto
"Ku pikir kau menguntit lagi" ucap Tenten santai. Kali ini dia menemukan apa yang ia cari dan memasukkannya ke keranjang.
"Hoi! Aku tidak pernah menguntit kau tahu" Jawab Naruto salah tingkah. "Kau belum pulang? Ini kan sudah jam setengah 8" Tanya Naruto sebelum Tenten nyerocos lagi. Ia tidak mau moment seperti ini hancur.
"Aku lembur." Jawab Tenten singkat.
"Lagi?" Tanya Naruto tak kalah singkat. Tenten kaget.
"Kau? Bagaimana bisa tahu aku sering lembur?" Tanya Tenten penasaran sambil mengerutkan alisnya ke arah Naruto.
"I-ituuuu….." Naruto bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Naruto kau di sini?" Tanya Sakura kemudian menghampiri Naruto.
'Untung Sakura datang' Batin Naruto lega. "Oh Sakura maaf kau pasti mencari ku ya? Hehe" tawa Naruto receh.
"Loh? Ada Tenten. Konbanwa Tenten-chan" Sapa Sakura.
"Konbanwa" Ucap Tenten singkat.
"Ayo Sakura kita kembali ke sana. Kalau begitu kami pergi dulu ya Nona Cepol Dua. Ayo" Ajak Naruto terburu-buru kepada Sakura, meninggalkan Tenten sendirian.
'Mencurigakan!' batin Tenten.
.
.
Naruto dan Sakura kali ini sudah berada di rumah. Begitupula sang tuan rumah, Minato Namikaze yang datang tidak lama setelah Naruto dan Sakura pergi membeli buah. Sebentar lagi orangtua Sakura datang, jadi Kushina dan Sakura menyiapkan meja makan.
"Maaf ya Sakura merepotkan. Kau kan harusnya menjadi tamu kami" Sesal Kushina.
"Tidak masalah Oba-chan. Aku sendiri yang ingin membantu" Ucap Sakura lembut. Mereka berdua kemudian melanjutkan persiapan sambil berbincang-bincang. Di lain sisi, di ruang keluarga rumah itu, Minato dan Naruto sedang menonton TV. Minato membuka pembicaraan.
"Naruto! Sepertinya Ibumu menyukai Sakura"
"Dari dulu kan Ibu memang menyukainya" Jawab Naruto singkat. Minato memutar kedua bola matanya.
"Maksud ayah Ibumu sepertinya ingin menjadikan Sakura sebagai menantunya" Terang ayahnya to the point.
"Apa???" Naruto tersentak.
"Ssst pelankan suaramu!" Ucap Minato.
"Ibu tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku bersama teman masa kecilku itu? Bukannya tidak bisa sih. Aku hanya tidak mau" Jelas Naruto kepada ayahnya.
"Tenanglah. Ibumu hanya khawatir kau jomblo terus" Ucap ayahnya
"Tapi ayaaah…" ucap Naruto tidak terima.
"Eh mereka datang" kata Minato sambil ia suruh anaknya agar bersikap tenang.
Ting.tong..
"Sepertinya itu mereka. Biar aku bukakan, Sakura kau tunggulah di sini" Kata Kushina.
"Baik Oba-chan" Sakura kemudian duduk di samping Naruto. Minato melirik Naruto. Naruto membuang muka. Ayahnya hanya tersenyum dikulum.
.
.
Kini mereka berada di dapur. Dengan meja makan jati berbentuk bundar, serta kursi yang pas sekali berjumlah 6. Naruto dan Sakura duduk bersebelahan. Sang nyonya tuan rumah menghidangkan kare buatan Sakura. Sakura ingin membantu tapi ditahan oleh Kushina. Minato dan orangtua Sakura berbincang-bincang ria. Naruto dan Sakura hanya mendengarkan, sesekali Sakura mencuri-curi pandang ke arah Naruto.
"Silahkan dinikmati" kata Kushina kepada semuanya. Ia sekarang sudah duduk di antara Minato dan Naruto. Semuanya menurut dan memakan hidangan yang ada di depan masing-masing. Banyak sekali yang dihidangkan oleh Kushina dan Sakura diantaranya kare, sup miso, ikan bakar, tempura, salad bayam, dan tamagoyaki.
"Euumm oishi" Ucap ibu Sakura, Mebuki.
"Kau benar" sambung ayahnya, Kizashi. Yang kembali menyantap kare buatan anaknya.
"Wow Sakura kau berhasil. Kare buatanmu memang enak" Ucap Kushina.
"Terima kasih Oba-chan" Ucap Sakura tersipu malu.
"Kau sudah bisa menjadi istri kalau begini. Benar kan Naruto?" Tanya Minato pada Naruto yang hampir saja membuat Naruto menyeburkan makanannya. Sakura blushing. Kushina, Mebuki dan Kizashi hanya tertawa.
"ah iya ayah!" Jawab Naruto singkat sambil menatap ayahnya tajam. Kemudian melanjutkan makannya.
.
.
22.15
"Akhirnyaaa selesai juga" ucap Tenten pada dirinya sendiri. Ia selesai membereskan mejanya. Sekarang meja itu kosong, hanya ada komputer di sana. Besok ia harus pindah meninggalkan ruang ini. Ia berjalan pelan mengelilingi ruangan tersebut, berhenti tepat di meja Hinata. Ia pasti merindukan sahabat satu-satunya itu. Pasti tidak ada lagi suara cerewet pagi-pagi menghampiri telinganya. Tapi tak apa batinnya karena masih satu kantor, masih bisa bertemu untuk makan siang atau sekedar menyapa.
Jetrek..
Tiba-tiba saja lampu ruangan mati. Entah ruangan ini saja, atau seluruh gedung yang mati. Gelap tidak ada yang terlihat. Tumben sekali ada pemadaman pada gedung ini, batinnya. Tenten mengeluarkan ponsel yang berada dalam saku celana jeansnya.
"ah masih sisa sedikit" Ia hidupkan flashlight hpnya yang hampir mati, mengambil tas serta jaketnya yang masih berada di meja kerjanya. Setelah itu ia ingin segera keluar. Ia lupa kalau pintu kantor mereka tidak bisa terbuka jika lampu sedang mati.
"Aarh sial" Tenten kemudian menghubungi Hinata bermaksud meminta nomor telepon security yang menjaga kantor mereka.
Tuut..tuut.tuuut..
Tidak ada jawaban. Tenten menelepon sekali lagi.
Tuut..tuuut..tuuutt..
Masih tidak ada jawaban.
Tuut..tuut.. mati! Ya, ponselnya mati sekarang. Betapa sialnya Tenten. Ia merutuk pada diri sendiri karena tidak mengisi daya ponselnya tadi.
"Aah bodohnya aku terjebak di sini! Apa boleh buat tunggu sajalah paling sebentar lagi hidup!" Tenten kembali menuju mejanya berharap lampu segera menyala, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berpikir positif agar tidak bergelut dengan ketakutan.
.
.
Semua orang di rumah Naruto sedang menikmati semangka serta buah-buahan yang tadi dibeli Naruto dan Sakura di ruang keluarga sambil berbincang-bincang ria. Naruto dan Sakura berada di dapur. Membereskan sisa makanan mereka serta mencuci piring. Naruto menawarkan diri untuk membantu ibunya, tapi Sakura dengan sigap menyuruh Kushina beristirahat. Jadi di sinilah mereka berdua, mencuci piring-piring kotor.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Sakura membuka pembicaraan.
"Bagus, sangat menyenangkan bekerja di sana" Jawab Naruto.
"Kata ibumu kau membuka bisnis minuman ya?" Tanya Sakura lagi penasaran.
"Hmm café juga, apa kau sudah pernah ke sana?" Tanya Naruto balik.
"Belum siih hehe Aku menunggu kau yang mengajakku ke sana" Kata Sakura malu.
"Baiklah. Bagaimana denganmu? Kapan rencana kau mulai bekerja?" Tanya Naruto.
"Yah minggu depan aku sudah bisa bekerja di St. Agatha International Hospital" Jawab Sakura antusias.
"Wow kau pasti akan sangat-sangat sibuk nanti"
"Begitulah Naruto. Tapi kita masih bisa sering bertemu kan seperti dulu lagi?" Harap Sakura
"Tentu saja" kata Naruto singkat. Yang sukses membuat degup jantung Haruno Sakura berpacu.
Ddrt ddrrtt..
Naruto menuju meja besar di belakang mereka. Melepaskan sarung tangan cuci yang membungkus tangannya sedari tadi dan meraih ponsel yang ada di meja. Sakura masih melanjutkan acara cuci piring mereka. Dengan raut wajah kaget Naruto membuang kedua sarung tangan cucinya dan melepaskan apron yang melilit badannya. Tanpa babibu lagi, tanpa memberitahu Sakura, Naruto melesat pergi dengan terburu-buru. Sakura tentu saja kehilangan kata-kata bercampur bingung dengan sikap pemuda yang barusan meninggalkan dia.
"Ada apa dengan anak itu Sakura?" Tanya Kushina yang ikut bingung melihat anaknya yang tiba-tiba berlari keluar. Dan hanya pamit singkat kepada ayahnya dan yang lain di ruang keluarga.
"Aku juga tidak tahu Oba-chan, tiba-tiba saja ia pergi" kata Sakura bingung.
"Baiklah, tidak usah khawatir mungkin masalah kerjaan. Oba-chan akan membantumu. Ayo" kata Kushina menenangkan Sakura.
"Baiklah Oba-chan" ucap Sakura masih dengan raut wajah bingung.
.
.
Tenten POV
Mataku sekarang menutup sepenuhnya. Tapi aku tidak bisa tidur sama sekali. Sebenarnya aku sangat takut sekarang tapi aku yakinkan diri semua akan baik-baik saja. Tidak ada siapa-siapa dan apapun di sini yang aneh, hanya ada aku. Sekarang aku sedang duduk di kursiku, tapi kepalaku ada di meja. Dari tadi aku berusaha untuk tidur tapi tidak bisa. Yang ada aku malah menghayal yang macam-macam. Makanya aku tidak berani membuka mata lebar-lebar. Hanya sedikit, memastikan lampu sudah hidup atau belum. Menyebalkan, aku mohon tidurlah! Pintaku pada diri sendiri.
Oh tidak! Ini mimpi, imajinasi atau kenyataan?
Ada yang menyentuh punggungku! Aku takut sekaliiii. Kami-sama tolong akuu. Kenapa dari tadi tidak lepas? Oh tidak, apa itu tangan? apa bergerak ke bawah? Apapun itu! Aku harus bangun segera, harus!
"Aaaaarrgh!!" Teriak ku menepis semua ketakutan, yang pasti agar sesuatu yang menghinggapi punggungku tadi lepas. Ku buka mata perlahan berharap ini hanya mimpi. Aku terkejut, bersyukurlah terang rembulan dapat menyinari sampai ke gedung ini, jadi aku dapat melihat orang di depanku menatapku penuh hasrat. Ia lebih pendek sedikit dariku sekitar 160cm sepertinya, dari atas sampai bawah tertutup kain hitam. Yang bisa aku lihat hanya pada bagian mata yang menatapku tajam. Seperti ingin memangsaku! Di tangan kanan menenteng sesuatu seperti tas dan terlihat berat. Aku mulai gemetaran. Yang bisa kupikirkan saat ini adalah lari, jadi aku meraih apapun dibelakangku dan buukkk!! Seperti di film-film, tepat pada saat lampu menyala tiba-tiba bola kasti melayang tepat ke pelipis orang di depanku. Aku mengikuti darimana arah bola ini datang. Ternyata dari arah pintu yang tadi terkunci, seseorang di sana berlari ke arah orang di depanku bersiap menendang, aku terkejut tapi masih mematung di tempat yang sama.
"Berhenti! Berhenti!" Teriak dua orang security yang baru saja datang kepada si penendang. Yang ditendang mengaduh kesakitan. Security 1 menahan Naruto, sedangkan Security 2 menggiring orang yang ditendang tadi dan menahan tangannya, agar tidak kemana mana. Ya, yang melempar bola serta menendang penjahat tadi adalah Naruto. Orang yang selama ini aku benci setengah mati.
"Tenanglah dia sudah tertangkap" Kata security 1 pada Naruto. Naruto megap-megap, kembali bernafsu untuk menghajar orang tersebut. Security 2 membuka penutup wajah orang itu, aku tidak mengenalinya, begitupun yang lain. Yang berarti orang ini berniat jahat padaku, atau pada kantor ini, aku tidak tahu.
"Baiklah sekarang kau ikut aku ke bawah dan jelaskan semuanya!" kata security 2 kepada orang tersebut.
"Langsung saja bawa dia ke kantor polisi!" saran Naruto dengan emosi. Security 2 tidak menjawab dan langsung membawa orang itu bersamanya. Security 1 melepaskan Naruto dan meminta maaf pada ku. Aku tidak menjawab karena masih shock.
"Maafkan atas ketidaknyamanannya. Saya berjanji akan mengurus orang itu dengan benar" Security 2 menunduk dalam-dalam kemudian pergi mengikuti mereka yang sudah di depan. Tinggal Naruto dan aku saja yang berada di dalam sini. Kemudian aku terduduk lemas.
"Kau tidak apa???" Tanya Naruto sepertinya khawatir padaku. Aku menangguk.
"Ayoo!! kuantar kau pulang" Tawar Naruto. Aku hanya mengangguk lagi tanpa berbicara. Entah kenapa aku tidak menolak. Aku bisa saja menggeleng, tapi tidak kulakukan. Mungkin karena masih shock. Naruto menggengam lenganku, membantuku berdiri, tangan kanannya yang kosong kemudian mengambil tasku yang masih berada di atas meja. Sebenarnya aku tidak mau telihat lemas di depan Naruto, telebih kepada laki-laki. Tapi kejadian tadi sukses membuatku tidak bisa melakukan apa-apa. Karena aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya, pertama kali bagiku melihat orang seperti tadi. Kalau Naruto tidak datang, mungkin aku sudah dihabisi atau diperkosa oleh penjahat itu. Aku ngeri.
Sekarang kami sudah berada di dalam mobil Naruto, Naruto menyodorkan air mineral kepadaku, aku mengambilnya, setelah itu menyerahkan kembali kepadanya. Tidak ada yang berbicara setelahnya. Aku melirik Naruto yang sedang menyetir. Kemudian aku mulai mengantuk, aku bahkan lupa mengucapkan terima kasih. Setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.
.
.
"Nona Cepol Dua bangunlah"
Aku mendengar suara baritone yang memanggilku dengan lembut. Aku senyum sendiri sambil masih terpejam. Aku pasti bermimpi mendengar suara itu. Kemudian otakku tiba-tiba merefresh sendiri memori, mengingat kejadian-kejadian yang tadi malam. Sampai pada saat aku di tolong Naruto serta aku tidur di dalam mobilnya. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa. Aku membuka mata perlahan, mengerjap-erjapkan mataku, meyakinkan bahwa ini pasti masih di dalam mobil. Aku melihat orang di samping tempat tidurku. Aku melihat sekeliling. Ini bukan kamarku! Aku terduduk masih di atas kasur yang tidakku kenali. Aku menatapnya lagi. Berharap ini hanya mimpi belaka.
"Aah badanku sakit sekali. Kau tidak bisa diam yah kalau tidur" kata Naruto dengan santai disamping kasur ini, sambil ia gerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.
'Apa? Badannya sakit? Aku apa dia bilang?' batinku. Aku mulai tersadar, jangan-jangan dia?
Aku menatap ke bagian bawah lebih tepatnya dadaku, aku menutup mata tidak ingin melihat lebih lanjut. Kemudian cepat-cepat aku membalut tubuhku dengan selimut dan kembali menatapnya tajam bersiap menyumpah seperti biasa, tanpa babibu lagi aku berteriak padanya yang sedang menatapku biasa.
"Dasarr cabuuuuuuuuuuul!!!!!!!"
To be continue..
Maaf gak maksimal dalam pembuatannya. Masih belum pede karena masih pemula. Tolong dukung aku terus yaa..
