Doumo Arigatou Gozaimasu mina- san sudah dibaca. Huhu terharu sekali. Aku akan tetap semangat demi kalian. Silahkan dinikmati ya lanjutannya.
@vivibi makasih sudah mereview chapter 8 dan setia buat menunggu lanjutannya.
@snow iya nih. Aku akan berusaha update terus. Semangatt!
Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruTen
Author: Nona Romes
Genre : Romance dan Sedikit Humor
Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie
Chapter 9
Tenten melihat uluran tangan Naruto. Bagaikan terhipnotis, Tenten membalas uluran tangan tersebut. Tenten berusaha menyembunyikan gurat merah di kedua pipinya. Naruto senang, padahal Tenten belum menjawab atau menerima perasaannya. Mereka berdua pun keluar tanpa melepaskan genggaman satu sama lain.
"Nah itu mereka" Tunjuk Hinata kepada dua orang yang baru saja keluar dari dalam ruangan bioskop. Sasuke yang berada di sampingnya ikut menatap arah telunjuk Hinata. Mereka berdua tersenyum gembira melihat pemandangan yang tidak biasa. Yaitu Tenten dan Naruto yang berpegangan tangan tanpa menyadari kedua orang ini yang sedang menatap mereka senang.
"Heiii" Teriak Hinata. Tenten dan Naruto otomatis mencari arah suara. Buru-buru Tenten melepaskan genggaman tangan Naruto dengan kasar. Naruto cengo.
"A-aah kalian berdua di sini ternyata" kata Tenten dengan gugup. Takut jika Hinata sadar akan kejadian tadi, karena bukan rahasia lagi kalau sahabatnya itu menyukai Naruto. Tenten sekarang ingat bahwa ada perasaan yang harus dijaga, ia ingat baru saja 'ditembak' oleh Naruto dan sangat khawatir jika Hinata tau akan hal tersebut pasti akan membuat persahabatannya canggung atau parahnya lagi hancur. Tenten sangat kesal sekarang, seharusnya ia bisa lebih tegas dengan Naruto dan langsung menolak saat itu juga. Tapi Tenten tidak bisa dan terlambat menyadarinya. Melihat Tenten yang melamun dan terlihat murung, Hinata paham betul apa yang dipikirkan sahabatnya itu.
"Aku dengar ada restoran di bawah. Bagaimana kalau kita makan di sana. Aku sangat lapar Sasuke~" Rengek Hinata memecah keheningan. Tenten kaget. Terlebih dengan perkataan Hinata serta nada bicaranya. Terlebih lagi dia merengek kepada Sasuke, bukan kepada Naruto. Tidak seperti biasanya. Tenten ingin bertanya tapi keburu ditarik oleh Hinata. Naruto dan Sasuke mengikuti kedua gadis itu dari belakang.
Sekarang mereka duduk di kursi yang memang tersedia untuk 4 orang. Di samping Tenten tentu saja Naruto dan Hinata serta Sasuke yang berada di depannya. Hinata memesan 4 burger dan satu set ayam goreng yang enak untuk dimakan bersama. Tenten masih bengong melihat kedua orang di depannya sejak kapan terlihat akrab sekali. Yang Tenten tahu Hinata suka sekali menempel kepada Naruto, apa karna dia melihat kejadian saat Naruto menggenggam tangannya? Apa Hinata keluar karena dia marah dan cemburu, kemudian Sasuke sadar dan menyusul Hinata untuk menenangkannya? Batin Tenten. Tenten frustasi. Melihat itu, Hinata membuka suara.
"Tenten, aku mau mengaku sesuatu padamu, tidak! Lebih tepatnya kami bertiga ingin mengakuinya tapi kau jangan marah yah. Aku mohonn!!" Pinta Hinata sambil kedua tangannya ia rapatkan ke depan tanda meminta ampun.
"Hah?" Tanya Tenten kebingungan. Hinata mulai menjelaskan, yang lain mendengarkan.
"Pertama-tama aku ingin mengakui, bahwa aku dan Sasuke selama ini berpacaran. Sudah 4 bulan sih tepatnya. Gomen! Nggak memberitahumu. Alasannya biar Naruto yang beritahu" Lirik Hinata dan Tenten bersamaan kepada Naruto, Naruto pasrah. Kemudian Hinata melanjutkan.
"Sebenarnya saat kau biasa ajak aku makan siang, aku diam-diam makan siang dengan Sasuke. Gomen! Aku sebenarnya menyukai Sasuke, bukan Naruto. Tapi aku tidak bisa memberitahumu secepatnya. Gomen! Padahal kau sahabatku" Kata Hinata lirih menjelaskan. Tenten menghembuskan nafas dan melirik Naruto.
"Aku ingin penjelasan darimu Naruto" tegas Tenten. Naruto kemudian membetulkan posisi duduknya dan mulai menjelaskan.
"Maafkan aku Ten. Alasan Hinata menyembunyikan hubungannya dengan Sasuke atas permintaanku. Aku juga menyuruh Hinata memata-mataimu dan menempel pada ku seolah-olah dia menyukai ku itu semua atas suruhanku" jelas Naruto, kemudian melanjutkan "Aku ingin kamu jadi milik ku Ten dengan bantuan Hinata dan Sasuke juga, aku minta maaf pada kalian" Terang Naruto sambil menatap Sasuke dan Hinata bergantian, keduanya mengangguk.
"Tanpa mereka aku nggak akan bisa sejauh ini Ten. Saat kau makan siang sendiri, Hinata selalu memberitahuku untuk menemanimu. Mungkin ini kesempatan baik, pikirku Ten. Kesempatan baik agar kau sedikit demi sedikit membuka hatimu untukku. Saat kau hampir diserang perampok, kalau saja Hinata nggak menghubungi ku, aku mungkin nggak punya kesempatan untuk melindungimu. Jangan marah pada mereka Ten, harusnya kau marah saja padaku" Jelas Naruto. Semua diam, termasuk Tenten.
"Aku masih sangat bingung. Kalau kau menyukaiku, kenapa tidak memberitahuku dari awal? Kenapa harus membawa-bawa sahabatku. Atau hubungan mereka. Aku seperti orang bodoh" Naruto hanya diam tidak berani menjawab.
"Kenapa kau tidak memberitahuku Naruto?" Tanya Tenten lagi. Belum sempat Naruto menjawab Tenten sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Maafkan aku, aku mungkin butuh waktu sendiri. Aku akan duluan saja" Pinta Tenten kemudian bergegas keluar. Melihat itu Naruto mengejarnya.
"Argh hancur sudah! Bagaimana ini Sasuke? Haruskah kita menyusul mereka?" Tanya Hinata dengan panik kemudian berdiri.
"Aku harus menyuruh mereka membungkus makanan kita, kita akan menyusul mereka" lanjutnya.
"Sudah diam saja di sini sayang. Kau hanya akan mengganggu mereka berdua. Mereka butuh waktu untuk bicara. Biarkan saja" Terang Sasuke pada Hinata. Kemudian Hinata duduk kembali menuruti perkataan kekasihnya.
"Baiklah. Aku hanya khawatir pada Tenten" kata Hinata pasrah.
.
.
.
Tenten POV
Gila. Ini gila. Aku sangat bingung sekarang harus bagaimana. Sangat canggung di sana. Terlebih mengetahui fakta Naruto menyukaiku sampai sebegitunya? Maksudku sampai membawa-bawa sahabatku Hinata, bahkan menyuruhnya seolah-olah tertarik dengan Naruto? Untuk apa coba? Supaya aku cemburu? Ah Kami- Sama, aku bisa gila memikirkannya saja. Aku ingin berlari saja rasanya, tapi saat kakiku mulai melangkah, seseorang meraih tanganku. Genggamannya sangat kuat mencengkramku, seperti tidak ingin melepasnya. Aku berhenti dan berbalik ke arah orang itu. Aku sudah tau siapa, tidak perlu ku katakan lagi.
Naruto membawaku ke parkiran mobil. Kuikuti dengan sedikit malas, aku sudah lelah bertanya dan aku bingung juga. Ia membukakan pintu tanpa berkata apa-apa. Aku masuk dan duduk saja. Ia kemudian menuju posisinya dan duduk di kursi pengemudi. Melajukan mobil Toyota C-HRnya yang entah kemana. Di dalam mobil, dia tetap diam tanpa sepatah kata apapun. Aku ikut diam sambil pandangan kuarahkan ke luar mobil melihat pemandangan. Kalau kalian pikir aku akan menangis sesegukan, tentu saja tidak. Untuk apa? Yang ada aku hanya bingung. Bingung dengan tingkah Naruto yang aku tidak tahu dia benar suka padaku atau tidak. Jika tidak, mengapa dia melibatkan Hinata dan baru kusadari juga aku sangat sering berada didekatnya beberapa bulan ini, seperti sengaja mendekatiku. Aku kemudian memberanikan diri menatapnya kesal. Entah mendapat keberanian darimana mengingat dalam bioskop tadi aku sangat malu dibuatnya, kupukul lengannya keras-keras.
"Awww..!!" Teriaknya. Rasakannn! Batinku. Dia menoleh tapi tidak berani marah. Dia diam saja berusaha fokus untuk menyetir. Aku kemudian kembali memandang keluar jendela mobil. Tidak lama kemudian kami sampai di sebuah taman dekat sungai. Kami tidak keluar dari mobil, rasanya malas. Naruto mungkin melihatku tidak beranjak, jadi dia ikutan.
Aku memandangi sungai sangat lama. Tidak ingin berbicara. Naruto keluar untuk beberapa saat. Aku tidak ingin melihatnya jadi aku hanya mendengar dari suara atau gerakan saat ia membuka atau menutup mobil. Pipi ku dingin. Ia menyodorkan ice cream dengan stik yang masih terbungkus tepat ke pipiku. Aku menoleh dan menatapnya tajam. Dia pura-pura tidak melihat. Sambil tersenyum ia membukakan ice cream itu dan memberikannya padaku. Aku masih menatapnya tajam tidak tahu harus berkata apa. Ia meraih tanganku dan memaksaku menerima ice cream itu tanpa berkata-kata. Hanya senyuman yang terpatri di wajahnya.
"Apa sekarang kau menyogokku agar mau berbaikan denganmu?" tanyaku dengan tidak ramah.
"Anggap saja ini sogokan agar kau menerima perasaanku. Bagaimana?" dia balik bertanya sambil tersenyum. Entah mengapa aku lagi-lagi terhipnotis dengan senyumnya itu. Buru-buru aku sadar diri. Kemudian dia melanjutkan.
"Sebenarnya aku menyukaimu sudah sangat lama, tapi aku tidak punya keberanian dan belum siap mendengar penolakan darimu" terang Naruto.
"Memangnya sekarang kau tidak takut apah kalau aku menolakmu? Bukannya sama saja dulu atau sekarang jika aku menolakmu kau akan tetap sakit hati" cecar Tenten menohok.
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi Ten. Karena saat ini, apapun keputusanmu aku sudah siap" kami saling berpandangan. Aku menatapnya lama.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik
Ice cream yang mencair dan ku pegang jatuh. Yang tandanya aku harus segera menjawab perasaannya. Aku sudah berpikir. Aku juga tidak mau menunda-nunda jawabannya. Toh untuk apa?
"Baiklah" Jawabku singkat. Ku lihat dia bereaksi sangat senang. Aku melanjutkan.
"Tapi aku akan melihat kau serius atau tidak denganku. Karna saat ini aku sangat bingung. Jangan mengharap apa-apa dariku. Aku akan lihat apa aku juga menyukaimu. Aku sudah lama tidak berpacaran, jadi anggap saja ini kesepakatan. Mengerti?" Dia mengangguk senang sambil tersenyum lebar, tidak tau mengapa aku juga ikut tersenyum. Kulihat dia tambah senang, tidak sadar atau bagaimana dengan jawaban ambigu dariku. Aku lalu memikirkan dua orang yang tiba-tiba kutinggal di restoran bioskop tadi.
"Aaargh aku harus bilang apa pada Hinata? Aku tidak sempat memberitahunya bahwa dia tidak perlu khawatir aku baik-baik saja sekarang" kataku. Naruto sambil mengambil tissue dan mengusapkan ke rokku yang terkena ice cream tadi. Tentu saja aku terkejut karna belum terbiasa berkata,
"Aku sudah hubungi mereka, tenang saja. Hinata pasti mengerti kau sedang shock. Jadi kalian berdua akan baik-baik saja besok" kata Naruto hangat. Ahh perut ku serasa digelitik, sangat aneh mendengar Naruto bisa berkata seperti itu dan memperlakukanku seperti ini. Apa sekarang aku senang? Aku juga belum tahu jawabannya.
"Oh ya pukulan tadi untuk apa?" Tanya Naruto iseng.
"Gomen. Tangan ku bergerak sendiri. Aku tidak tahu mengapa aku memukulmu" Sesalku. Naruto hanya bisa ngakak.
"Tidak apa-apa nona cepol. Anggap saja itu tanda kau memaafkan ku" kata Naruto masih tertawa. Aku hanya bisa bermanyun ria.
"Sekarang kita akan makan siang. Kau laparkan?" Tanya Naruto antusias. Aku hanya mengangguk.
"Setelah ini, bisa minta cium?" Tanya Naruto menggoda ku. Aku otomatis melayangkan pukulan lagi ke lengannya. Dia hanya tertawa, suka sekali mengisengiku. Aku melotot. Naruto kemudian menginjak gas dan kembali melajukan mobilnya.
Aku tidak menyangka bisa jadian dengan Naruto. Aku juga selama ini tidak pernah berpikir kemungkinan dia menyukaiku. Alasan dia menantangku sepertinya juga karna ini. Apa dia pindah ke sebelah apartemenku juga karena dia menyukaiku? Tidak tidak. Mungkin yang itu hanya kebetulan. Bisa saja setelah itu baru dia menyukaiku. Argh sangat banyak yang ingin kutanyakan padanya. Tapi aku harus bersabar. Yang harus kulakukan pertama tama adalah mencari tau apa dia serius menyukaiku dan aku bisa balik menyukainya, karena aku masih sangat bingung dengan perasaanku sendiri…. Kita lihat saja nanti, Naruto.
.
.
.
Normal POV
Minggu ini, minggu yang sibuk bagi Tenten. Ia harus kembali melanjutkan pekerjaannya. Minggu ini juga minggu dimana ia mulai berpacaran dengan si rambut nanas, Naruto. Hubungannya dengan Naruto tidak diketahui teman-teman yang lain, hanya Hinata dan Sasuke seorang yang tahu. Ia sudah menceritakan pada Hinata kejadian saat di mobil. Tentu saja Hinata heboh, memeluknya dan memberi selamat, tidak lupa ia menghubungi Sasuke yang ternyata sudah mengetahuinya dari Naruto.
Drtt..
Drtt..
Drtt..
Handphone Tenten bergetar cukup lama tanda bahwa ada yang menghubunginya. Ia melihat ke layar hp dan menjauhi kerumunan menuju luar tempat sepi.
"Moshi-moshi" jawabnya.
"Bisa tidak kau datang ke cafeku nanti sepulang kerja?" Tanya si penelpon di seberang sana.
"Cafemu? U-untuk apa?" Tanya Tenten balik kepada Naruto.
"Mengabulkan permintaanku. Kau lupa ya taruhan kita?"
"Heii!! Sebentar. Ku kira permintaanmu sudah terkabulkan" kata Tenten.
"Sudah! Jangan cerewet! Apa harus kujemput?" paksa Naruto.
"Tidak, tidak usah. Beri tahu saja lokasinya dimana. Aku akan datang sepulang kerja" omel Tenten.
"Baiklah aku tunggu nona cepol ku" jawab Naruto. Kemudian ia menutup telponnya. Tenten blushing dipanggil cepol ku. Sangat aneh rasanya mendengar sebutan itu dari Naruto. Mungkin belum terbiasa pikir Tenten. Tak lama setelah itu pesan dari Naruto masuk yang mengeshare lokasi dimana cafenya berada. Tenten kemudian menaruh hpnya di kantong celana dan kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
.
.
.
Akhirnya pekerjaan untuk hari ini selesai, Tenten heran tumben sekali hari ini cepat pulang. Biasanya ia harus lembur guna ikut serta menyelesaikan sinopsis naskah dan skenario untuk syuting selanjutnya. Tenten melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 17.00.
"Aku akan pergi" batin Tenten. Kemudian menuju parkiran di lantai bawah.
.
.
.
Tenten tiba di depan café berarsitektur sederhana namun unik. Saat kemari, Tenten harus berjalan kaki mungkin hanya 3 menit dari tempatnya memarkirkan mobil. Kemudian Tenten masuk ke dalam, melihat sekeliling dengan terkesima. Saat kau datang, café ini terlihat kecil dengan pintu yang sempit. Tapi saat masuk ke dalam, ternyata sangat luas dan memanjang dengan fitur modern dan langit-langit yang berkubah membuat café ini terlihat anggun seolah-olah kau dibawa ke seratus tahun yang lalu. Ditambah lampu kuning keemasan yang efeknya membuat kau merasa hangat dan tenang sekedar ingin minum kopi dan menikmati suasananya. Café ini terdiri dari dua lantai dan ada tempat duduk juga di luar, di taman yang teduh di lantai satu. Di lantai dua, kau bisa melihat pemandangan apalagi saat malam hari. Sungguh indah.
Tepukan lembut pada bahu Tenten membuat ia kaget. Ia menoleh, ternyata kekasih yang baru kemarin ia pacari memandangnya sambil tersenyum. ( Author : Kenapa akhir-akhir ini Naruto tersenyum terus ya author buat? wkwk)
"Ayo ke sana" Ajak Naruto sambil memegang tangan Tenten. Mereka berdua menuju sebuah meja panjang yang terdiri dari meja barista, meja kasir di tengah, dan ada meja untuk berbagai macam roti serta cake yang cocok disantap dengan segelas kopi. Naruto masuk ke dalam tempat para barista dan membiarkan Tenten duduk di kursi yang sudah tersedia, yang memang di khususkan agar pengunjung dapat melihat para barista meracik kopi serta berbincang mengenai kopi yang mereka pesan. Sekarang Naruto berada dihadapan Tenten, seperti barista professional, ia mulai bersiap membuatkan Tenten kopi tanpa menanyai Tenten ingin kopi apa.
Tenten hanya diam menyaksikan kekasih barunya meracik kopi. Sudah lama ia tidak pernah ke café seperti ini, apalagi menikmati kopi yang disajikan oleh barista. Seperti nostalgia bagi Tenten, ia dibawa kembali ke saat Sasori senpai mengajaknya minum kopi. Tapi seumur hidup tidak pernah dibuatkan kopi seperti ini. Tiba-tiba Tenten tersenyum. Bukan karena ia masih memikirkan laki-laki yang beberapa tahun lalu pernah singgah dihidupnya tersebut, tetapi karena pertama kalinya ada seseorang yang melakukan hal seperti ini untuknya.
"Silahkan dinikmati" Naruto selesai membuatkan Tenten kopi dan meletakkannya di meja dengan hati-hati. Tenten dibuat terkejut oleh Naruto. Bagaimana tidak, di secangkir kopi tersebut Naruto melukis sebuah wajah kartun wanita dengan rambut cepol dua yang mirip Tenten. Lagi-lagi Tenten terkesima.
"Jangan dilihat saja. Ayo diminum" suruh Naruto. Dengan ragu ragu Tenten meraih gelas tersebut dan menyesapnya sedikit takut kalau lukisan di permukaan kopi tersebut rusak. Naruto tertawa.
"Dasar kau ini. Kenapa minumnya sedikit sekali?" goda Naruto yang pura-pura tidak tahu.
"Aku hanya sayang melihat ini. Terlalu cantik untuk ku rusak" jawab Tenten.
"Jadi maksudmu kau cantik ya karna aku menggambarmu di situ?" goda Naruto lagi.
"A-apa maksudmu sihh? Bukan begitu" Jawab Tenten sedikit malu. Naruto hanya tersenyum kemudian mengambil beberapa roti lalu ia keluar dan duduk di samping Tenten.
"Aku baru tau kau mengelola kafe"
"Tentu saja. Kau kan tidak mau tau denganku biasanya" sindir Naruto sambil tersenyum. Tenten cuman bisa manyun.
"Sebenarnya sejak lulus SMA aku sudah merencanakan untuk membuka usaha ini kecil-kecilan. Tentu bukan aku sendiri yang mengelola, awalnya bersama beberapa temanku yang lain. Tapi entah kenapa mereka satu persatu menyerah saat café ini hampir bangkrut. Mungkin mereka juga ingin fokus kuliah atau melakukan hal lain, aku tidak tahu. Aku juga waktu itu hampir menyerah, tapi melihat kegigihan satu orang teman barista ku, kau lihat orang yang memakai kacamata di atas kepala itu?" Tunjuk Naruto kepada seseorang yang sedang meracik kopi untuk pelanggannya. Tenten mengikuti jari Naruto dan melihat dengan seksama.
"Namanya Shino. Seumuran dengan kita, dialah yang menyuruhku tetap melanjutkan café ini dan menyemangati ku, kemudian aku putuskan untuk pelan-pelan memulai kembali dan tanpa menyerah, meminjam tabungan orangtua ku, bahkan Shino mengijinkan aku membuka café di garasi milik keluarganya. Atas usaha dan kerja keras semua orang yang membantuku, akhirnya di sinilah kami sekarang." Tenten lagi-lagi terkesima. Tidak menyangka Naruto segigih itu. Orang yang selama ini ia lihat jahil dan semena-mena di dekatnya, ternyata mempunyai jiwa yang sangat gigih dan kuat diusia muda. Ia sendiri saja hampir menyerah saat berkuliah berikut dengan masalah-masalah lainnya. Melihat Naruto, membuatnya menyesal tidak sedewasa Naruto waktu masih muda dulu. Tiba-tiba rasa itu muncul, rasa ingin lebih mengenal Naruto. Mendadak Tenten penasaran dengan kehidupan maupun karakteristik Naruto seperti apa, ia heran kenapa saat itu mereka tidak bisa sedekat ini berbincang maupun berinteraksi.
"Ayo ke taman" ajak Naruto memecah lamunan Tenten. Tenten mengiyakan. Kemudian Naruto membawakan kopi dan roti milik Tenten. Jam menunjukkan pukul 18.00 yang artinya sebentar lagi akan gelap. Kali ini mereka duduk di meja bundar yang hanya ada dua kursi di sana. Naruto menaruh kopi dan roti di hadapan Tenten yang sedari tadi sudah duduk. Kemudian Naruto berjalan menghampiri tanaman dekat pohon pinus dan ia petik bunganya lalu memberikan pada Tenten. Tenten lagi-lagi bengong dan berkata.
"Apa-apaan sih kau sok romantis?" Cecar Tenten, tapi tetap mengambil bunga tersebut dari tangan Naruto. Naruto tersenyum kemudian duduk berhadapan dengan Tenten.
"Kau tau nggak? Bunga yang kamu pegang itu melambangkan apa?" Tanya Naruto kepada Tenten. Tenten memperhatikan bunga berukuran kecil tersebut, namun tumbuh berkelompok sehinggat terlihat besar. yang berawarna sangat cantik, ungu muda. Tenten menggelengkan kepala.
"Nama bunga yang kau pegang itu adalah ajisai. Dulu, seorang kaisar memberi bunga tersebut kepada keluarga kekasihnya sebagai permohonan maaf karena pernah melakukan kesalahan. Ini menjadikan bunga ajisai digunakan untuk mengekspresikan rasa bersalah dan dijadikan hadiah permintaan maaf" Jelas Naruto.
"Memang kau salah apa padaku sampai-sampai memberikan bunga ini?" Tanya Tenten penasaran. Naruto tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Aku belum selesai nona. Bunga ajisai juga melambangkan kebahagiaan atau perasaan tulus dan cinta sejati. Aku memberikan bunga itu untuk merayakan cinta kasih yang tulus padamu dan mendoakan hubungan kita agar langgeng selalu. Bagaimana? Apa kau setuju?" Naruto suka sekali membuat pipi Tenten memerah. Saat ini dia malu sekali karena Naruto bisa berkata manis seperti ini padanya.
"Apa kau penjual bunga? Bisa tahu maknanya." Naruto tertawa mendengar pertanyaan Tenten.
"Kalau aku wanita, aku akan menjualnya" Canda Naruto kemudian melanjutkan.
"Tidak, tidak. Aku mendengarnya dari ibu, dia suka sekali dengan tanaman ini. Di rumah saja hanya dipenuhi bunga ajisai. Jadi dia juga yang menanam di sini. Kalau kau bertemu dia hati-hati. Dia itu galak sama seperti kau." Canda Naruto lagi sambil terbahak. Tenten auto manyun, ingin melempar bunga yang berada ditangannya tapi sayang.
"Oh ya. Waktu itu, waktu kau ajak aku makan dan aku menolak bahkan langsung pergi, apakah mereka tidak marah?" Tanya Tenten lagi penasaran kemudian melanjutkan.
"Sebenarnya aku tidak enak menolak, tapi karna aku malu terlebih itu kau, aku tidak mau berlama-lama jadi aku pergi saja. Tapi setelahnya aku kepikiran. Apa tindakan ku itu sopan?" Tanya Tenten menundukkan kepala.
"Tentu saja tidak. Mereka baik saja kok kau tidak perlu khawatir" Sebenarnya Naruto tidak cukup jujur atas pernyataannya, ia sadar bahwa Kushina terlihat tidak suka pada Tenten dan marah saat itu. Tapi Naruto juga tidak ingin membuat Tenten khawatir karna mereka baru saja berpacaran. Untuk urusan Kushina ia akan menyelesaikan nanti dan saat sudah tepat ia akan memperkenalkan Tenten sebagai pacarnya.
"Ah syukurlah aku lega" Jawab Tenten kembali sumringah.
"Ahh benar katanya kau memanggil ku ke sini karena taruhan kita. Memangnya apa yang mau kau minta? Jangan yang aneh-aneh ya" Tanya Tenten dengan ragu.
"Akhir pekan nanti kau sibuk tidak?" Tanya Naruto antusias.
"Hmm.. sepertinya sih tidak. Kenapa?" Tanya Tenten balik.
"Aku ingin kemping denganmu. Itu permintaanku"
"Apa? Kemping? Aku tidak pernah kemping sebelumnya. Aku juga tidak tau harus membawa dan mempersiapkan apa" cecar Tenten.
"Gampang. Kau hanya perlu menyiapkan pakaian atau jaket. Selebihnya aku. Dan ingat jangan pakai pakaian yang tidak sesuai ya?" Suruh Naruto.
"Hei.Hei kau kira aku tidak tahu dengan hal yang sederhana seperti itu? Baka!" Omel Tenten berkacak pinggang. Naruto tertawa.
"Apa kau akan membawa ku mendaki juga? Kaki ku sudah tua. Aku tidak sanggup dengan hal yang seperti itu. Dan apa kita akan menginap juga? Jangan macam-macam dengan ku oke?" Cecar Tenten lagi dengan pertanyaan.
"Tidak. Kau tenang saja ikut saja dengan ku. Dan aku tidak akan kurang ajar denganmu oke?" Terang Naruto.
"Oke baiklah kalau begitu deal!!" Naruto dan Tenten kemudian bersalaman dan tertawa satu sama lain. Malam itu mereka habiskan dengan bersenda gurau sambil menikmati kopi latte yang hangat dengan suasana yang nyaman. Mereka tidak tahu ada seseorang yang diam-diam memperhatikan dari jauh. Merasa kesal, orang itu kemudian berbalik pergi dan meninggalkan café dengan hati yang galau.
To be continue..
