Chap 11 dah update ni. Gomen ya menunggu lagi. Mohon berikan terus reviewnya ye guys biar aku tambah semangat Hahayy~ Kalo gitu balas review duluh

@vivibi arigatou dukungannya. Aku bakal terus semangat dan berusaha menyelesaikan fanfic ini sampe happy ending. Happy ending gak yaa kira-kira? Wkwk~ enjoy nee baca chapter 11nya dan jangan lupa baca Fanfic ku yang lain juga

@Hitsugaya No Ookami Terima kasih yaa sudah mau membaca cerita abal-abal dari Author. Moga pas di hati deh Hehe~.

Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.

.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruTen

Author: Nona Romes

Genre : Romance dan Sedikit Humor

Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie

Chapter 11

"Aku menyukaimu, Naruto"

.

.

Normal POV

Pernyataan cinta dari Sakura membuat Naruto diam membisu. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja tiada angin, tiada hujan Sakura bilang suka padanya. Naruto tidak menyangka sebelumnya karena ia menganggap hubungannya dengan Sakura hanya sebatas sahabat masa kecil. Naruto kira selama ini, perasaan Sakura sama seperti dirinya, tapi ternyata apa yang dikatakan Sasuke benar. Sakura menyukai Naruto. Sakura menatapnya dalam, Naruto balik menatap Sakura tidak percaya. Mereka berdua saling terdiam dan tatap menatap untuk beberapa saat. Naruto kemudian berusaha berpikir jernih dan memikirkan apa yang baru saja dia dengar harus dia katakan jawabannya kepada Sakura dengan logis.

"Sakura. Begini..." Naruto berusaha menjelaskan dari apa yang dia rasakan saat ini. Sakura memperhatikan.

"Aku sudah punya pacar" terang Naruto pada Sakura tanpa banyak basa basi. Bagaimana pun Naruto harus jujur pada Sakura. Tidak ada alasan bagi Naruto untuk menyembunyikan hubungannya dengan Tenten, kejam memang, tapi harus dia lakukan. Dapat Naruto lihat mata Sakura menyiratkan kesedihan. Naruto tidak tahu apa alasan Sakura menyukainya. Padahal semenjak berkuliah, hubungan mereka begitu jauh, begitu renggang sampai-sampai seperti orang yang sudah tidak saling mengenal. Sakura pergi ke London bahkan tanpa pamit padanya, Naruto pun cuek saja karena memang karakternya yang seperti itu. Beda saat dengan Tenten, Naruto tidak bisa mengabaikan gadis itu dari dulu. Cuek pada Tenten sama saja seperti siksaan baginya.

"Maaf Sakura jika pernyataanku tidak sesuai dengan harapanmu. Aku mencintai wanita lain dan wanita itu adalah Tenten. Kau pernah bertemu dengannya" kata Naruto pada Sakura sedikit tidak enak.

"Aku sudah tahu Naruto" jawab Sakura berusaha tersenyum. Senyum pahit yang dipaksaan menyiratkan kesedihan.

"Aku tahu kau menyukai orang lain dan aku tahu orang itu adalah Tenten. Tapi jangan khawatir Naruto aku tidak apa-apa, aku lega bisa menyatakan perasaan ini padamu. Itu sudah cukup bagi ku" kata Sakura berusaha tegar.

"Maafkan aku Sakura" Sakura menggeleng.

"Aku yang harusnya minta maaf Naruto karena mendadak bilang ini padamu" terang Sakura. Ia kemudian berdiri mengambil tasnya yang ia taruh di sandaran kursi kemudian menatap Naruto yang masih terduduk.

"Baiklah kalau begitu aku pulang Naruto. Terima kasih kau sudah mau menemuiku" pamit Sakura dengan masih tersenyum pilu. Naruto berdiri dengan maksud mengantar Sakura ke bawah.

"Tidak usah mengantarku Naruto, kau lanjutkan saja aktivitas mu. Sampai jumpa" Sakura kemudian melengos dan dengan cepat pergi. Naruto masih berdiri di tempatnya saat ini, ia hanya bisa melihat Sakura pergi. Kemudian setelah Sakura hilang dari penglihatannya, dia terduduk lemas, mengambil handphonenya yang berada di saku celana dan mengetikkan sesuatu.

'Aku merindukanmu'

Send~

.

.

Pagi ini Naruto tidak turun kerja, ia disuruh ibunya ke rumah untuk menemani berbelanja keperluan rumah tangga, karena saat ini siapa lagi kalau bukan dia yang diharapkan oleh Kushina. Minato? Pagi-pagi sudah pergi untuk rapat dengan para Investor perusahaannya. Naruto berada di depan pintu apartemennya, menatap ke pintu sebelah yang terasa masih kosong belum ada tanda-tanda peghuninya datang. Ia menghela nafas. Sudah dua minggu ini Tenten belum juga mengabarinya. Ia bingung, ditelepon gak diangkat, disms juga gak dibalas. Sudah pasti Naruto khawatir, ia menduga bahwa Tenten pastilah marah padanya atas kejadian waktu itu. Naruto menyesal karena tangannya tidak bisa dikontrol, andai saja waktu dapat diputar ia pasti menahan nafsu bejatnya itu. Sungguh sangat menyiksa bagi Naruto merindukan Tenten. Ia sudah berusaha mencari Tenten dengan menanyai Hinata, tapi Hinata berkata bahwa Tenten juga mengabaikan sms atau teleponnya. Hingga akhirnya Naruto pasrah dan hanya bisa menunggu saja.

" Ohayou ibu" Sapa Naruto pada ibunya yang sedang mencuci piring dan mencium pelipis ibunya tersebut.

" Ohayou. Sarapan dulu Naruto" suruh ibunya pada Naruto yang baru saja datang untuk menyantap sarapan yang kebetulan memang baru saja ibunya sajikan. Naruto langsung duduk di kursi menghadap sajian tersebut. Sudah lama rasanya tidak makan masakan ibunya sendiri, ia rindu. Setelah selesai mencuci piring Kushina menyendokkan nasi ke mangkuk dan memberikannya pada Naruto tidak lupa ia sendokkan juga untuk dirinya sendiri.

" Itadakimasu~" Mereka berdua pun melahap makanan yang ada didepan mata sambil berbincang-bincang kecil.

"Naruto, kau sudah ajak jalan-jalan Sakura belum? Atau ajak dia ke cafemu itu?" tanya Kushina. Naruto mengernyitkan dahi tanda tak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan Kushina yang hampir membuatnya tidak selera.

"Belum bu. Tapi beberapa hari yang lalu dia mengunjungi ku di cafe" jawab Naruto sambil memasukkan telur gulung ke mulutnya. Kushina terbelalak, wajahnya berbinar.

"Benarkahh?? Wahh anak ku sudah ada kemajuan. Ibu senang mendengarnya" kata Kushina lagi. Naruto ingin sekali bilang bahwa ia sudah berpacaran sekarang dan menyuruh Kushina berhenti menjodoh-jodohkannya lagi dengan Sakura. Tapi karena ia akan menemani Kushina berbelanja, ia urungkan niat tersebut. Ia tidak ingin sepanjang jalan dimusuhi oleh ibunya ini. Naruto kemudian berdiri dan menghentikan sarapannya.

"Terima kasih makanannya" ucap Naruto.

"Kau makan sedikit sekali?" tanya ibunya.

"Sebelum ke sini aku sudah makan bu" kata Naruto beralasan padahal ia sudah tidak berselera karena pembahasan Kushina.

"Kalau ibu sudah siap panggil saja ya. Aku mau tidur sebentar" ucap Naruto kemudian naik ke atas menuju kamarnya dan merebahkan diri di kasur empuk miliknya itu.

.

.

Naruto dan Kushina masih berkeliling untuk melihat-lihat isi dalam mall. Kushina menggelayutkan tangannya di lengan kiri Naruto, di tangan kanannya memegang satu tas belanjaan berisi satu set alat makan yang sudah mereka beli tadi. Saat akan berbelok menuju toko yang ingin Kushina tuju, suara yang tidak asing memanggil mereka berdua.

" Obaa-san!! Naruto!!" panggil si empunya suara. Mereka berdua pun menoleh berbarengan, ternyata yang memanggil adalah Sakura.

"Sakura, kebetulan sekali" sambut ibunya sambil cipika cipiki.

"Kau sendirian?" tanya Kushina lagi.

"Iya obaa-san aku baru selesai belanja dan mau pulang. Ternyata bertemu kalian berdua di sini" kata Sakura dengan nada manja kepada Kushina. Matanya melirik Naruto yang suskes membuatnya agak sedikit canggung bertemu pria itu. Kushina melihat Sakura yang menenteng banyak sekali tas belanjaan di tangan mungilnya, yang lain ia taruh di lengan. Terlintas sebuah ide di kepala Kushina.

"Kalau begitu Naruto kau antar Sakura pulang, kasian dia" perintah ibunya. Naruto kaget.

"Apa? Terus ibu bagaimana?" tanya Naruto.

"Aah kau tidak usah mengkhawatirkan ibu, ibu kan bisa nyupir sendiri. Kau bawa mobil kan Sakura?" tanya Kushina. Sakura mengangguk.

"Sana!!" tepuk Kushina pada pundak Naruto. Naruto tidak bisa menolak, terpaksa menuruti walau sebenarnya malas. Naruto memberikan kunci mobilnya pada Kushina dan otomatis mengambil tas belanjaan yang berada di tangan Sakura. Sakura sedikit senang. Kemudian Kushina memberikan tas belanjaan yang sedari tadi ia pegang ke Sakura, Sakura menyambutnya.

"Ini hadiah kecil untuk ibumu" kata Kushina. Sakura kembali tersenyum. Naruto kaget karena ia kira ibunya membeli set alat makan itu untuknya. Kushina menatap Naruto dengan penuh arti. Naruto hanya geleng-geleng kepala lalu berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa mengeluarkan kata-kata.

"Terima kasih oba-san" ucap Sakura meninggalkan Kushina untuk menyusul Naruto. Kushina melambaikan tangan dan berucap dalam hati,

'Yes! misi kali ini berhasil lagi'

.

.

Di dalam mobil.

"Bagaimana kabar Tenten?" Sakura mencoba bertanya memecah keheningan karena suasana yang agak canggung bersama Naruto sangat ia benci sekali.

"Baik" jawab Naruto singkat yang sukses membuat suasana menjadi canggung lagi. Sakura berusaha mencairkan suasana dengan memikirkan pertanyaan selanjutnya yang pasti membuat perasaannya sakit. Karena penasaran Sakura bertanya lagi.

"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya hingga menyukainya Naruto?"

"Ceritanya agak panjang. Tapi pertama kali kami bertemu saat kuliah dan saat itu juga aku menyukainya"

Deg..

Sakit sekali. Dada Sakura terasa perih, ingin sekali menangis tapi ia tahan karena memalukan jika Naruto tahu ia sesakit itu. Sakura menatap lurus ke depan, ia tahu akan jadi seperti ini bila bertanya lagi. Baginya Naruto bukan hanya sebatas sahabat masa kecil, tapi cinta pertamanya.

"Apa kau sangat menyukainya?" tanyanya lagi. Naruto agak tidak enak menjawab. Ia diam sejenak sembari fokus memperhatikan lampu merah yang menyala di perempatan.

"Aku sangat menyukainya Sakura. Walau kata-kataku ini bisa dibilang lebay hehe~ tapi aku rela mati untuknya" jawab Naruto mantap. Naruto menjawab tanpa keraguan, padahal ia tahu Sakura pasti tidak merasa nyaman. Ia tidak bisa tidak mengutarakan bagaimana bucinnya ia dengan Tenten. Pantas saja Sasuke berkata bahwa Naruto tidak peka, karena memang begitulah dia. Cuek terhadap orang lain dan tidak berperasaan, seolah olah sikapnya yang manis, hanya ia tunjukkan ke Tenten dan hanya untuk Tenten. Sakura berusaha tersenyum dan menegarkan hati.

"Aku senang akhirnya kau menemukan cintamu" ucapnya bohong.

"Kalau begitu aku siap mendengarkan keluh kesahmu Naruto. Jika kau merasa ada masalah atau apapun itu dengan Tenten ceritakan saja padaku. Masalah perasaanku padamu kau tidak usah khawatir, perasaan suka ini terbawa saat kita kecil jadi sebentar juga akan menghilang. Kau tenang saja" jelas Sakura lagi yang sebenarnya tidak bisa semudah itu perasaan sukanya hilang. Dia hanya ingin Naruto menjadi lebih dekat padanya, seperti saat dulu walau dengan keadaan yang berbeda. Ia rela mendengar Naruto bercerita tentang Tenten. Dengan menjadi teman curhat atau apapun itu, selama ia masih bisa dekat dengan Naruto sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan baginya untuk memiliki Naruto seutuhnya.

"Terima kasih Sakura. Mohon bantuannya" ucap Naruto sambil tersenyum manis.

Di rumah Sakura, Naruto menyempatkan untuk masuk karena tidak enak pada Sakura yang bersikeras ingin menghidangkan makanan untuknya. Kebetulan di rumah ada kedua orangtua Sakura dan kakak serta keponakannya, sangat ramai. Orangtua Sakura menyambut hangat kedatangan Naruto, kakak-kakak perempuan Sakura cekikikan khas saudara yang jahil dan heboh jika ada tamu berjenis kelamin laki-laki adiknya datang, yang membuat Naruto jadi canggung serta Sakura yang salah tingkah. Sudah lama Naruto tidak berkunjung ke rumah ini semenjak Kuliah dan suasananya terasa berbeda. Setelah makan serta mengobrol, Naruto pamit pulang. Sakura ingin mengantarnya ke rumah, tapi Naruto menolak dan bilang akan naik taksi saja. Jadi Sakura hanya mengantar sampai ke depan pintu.

"Kalau begitu aku pulang dulu Sakura kau masuklah" baru saja Naruto berbalik ingin melangkahkan kakinya meninggalkan rumah tersebut, Sakura menahan tangannya.

"Tunggu dulu Naruto. Apa kau besok ada rencana bersama Tenten?" tanya Sakura ragu. Naruto tidak langsung menjawab, tangannya ia garukkan ke belakang leher tanpa alasan.

"Hmm... tidak ada sih" jawab Naruto tidak yakin.

"Memangnya kenapa?" tanyanya balik.

"Aku ingin minta tolong. Bisa tidak kau temani aku ke perpustakaan? Aku agak tidak paham jalan walau ada gps sekalipun. Kau tahu saja kalau aku dulu tidak pandai melihat peta dan aku takut salah jalur juga. Tapi kalau kau sibuk tidak apa-apa kok Naruto" terang Sakura.

"Yaah.. aku ada waktu dari sore ke malam. Hubungi saja aku besok"

"Waaah terima kasih Naruto. Mohon bantuannya ya" kata Sakura dengan sangat antusias.

"Santai saja. Kalau begitu sampai besok" Naruto lalu pergi dengan buru-buru karena taksi yang ia pesan sudah tiba di depan sana beberapa menit yang lalu. Sakura melambaikan tangannya dan tersenyum senang berharap kegiatannya dengan Naruto besok berjalan dengan lancar.

.

.

Tenten merebahkan dirinya ke kasur dan membuang tasnya ke lantai dengan kasar. Ia sangat lelah hari ini, apalagi perjalanan dari desa Shirakawa ke Tokyo membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam di tambah kegiatannya di sana yang membutuhkan waktu 2 minggu untuk mensurvei lokasi serta membuat simulasi acara TVnya bersama tim sangat menguras tenaga. Tidak sampai di situ, setelah dari stasiun ia harus langsung ke kantor untuk membantu mengembalikan barang-barang yang mereka bawa ke Shirakawa. Sampai ia sendiri tidak sanggup menyetir mobil dan akhirnya meninggalkan mobilnya di kantor kemudian menebeng temannya untuk pulang. Maka di sinilah ia kembali ke apartemennya yang terasa kotor dan berdebu. Tapi ia tidak peduli, yang ia inginkan sekarang hanya tidur dan tidur seharian sampai besok. Tidak ada yang boleh mengganggunya seharian besok karena mereka diijinkan untuk berlibur sehari di rumah. Tenten memejamkan matanya untuk sesaat. Ia jadi teringat kembali kejadian di apartemen sebelah serta kejadian lain yang tidak ingin ia lihat, kemudian mengambil bantal dan membenamkan wajahnya di sana.

"Tunggu saja kau Narutoooooooo!!" teriaknya dalam benaman bantal yang tidak menimbulkan suara keras sedikitpun.

Naruto merinding. Tiba-tiba saja hawa dingin menerpanya padahal sekarang ia tidak menghidupkan AC dan hanya menonton TV sambil memakan chips kesukaannya di dalam kamar. Ia memutuskan malam ini tidur di rumah orangtuanya karena jika dia kembali ke apartemen, suasana sepi dan sunyi akan membuatnya makin frustasi dan makin membuatnya merasa sendirian. Padahal memang sendirian sih, cuman situasinya saja berbeda karena yang ia inginkan setidaknya dia tidak perlu merasa risau dan tidak ingin mengawasi terus kamar tetangganya sekaligus kekasih, yang tidak tahu pasti pulangnya kapan. Ia tidak ingin menyiksa diri sendiri.

Naruto mengambil handphone yang sedari sore tadi tak dia sentuh, membukanya dan mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak. Yang dia lihat nihil hanya ada chat-chat grub yang beratus banyaknya tak pernah dia buka. Ia kemudian melihat kontak Tenten dan ingin memencet 'panggil', tapi dia urungkan dan langsung menyingkirkan handphone tersebut yang ia geletakkan begitu saja di dekat toples chips kesukaannya. Ia lalu bangkit berdiri, merebahkan diri ke kasur dan menarik selimut tebalnya.

"Hangat" katanya dari dalam selimut tersebut.

.

.

Naruto telah selesai bekerja dan sekarang ia berlari menuju lobi menggunakan tangga darurat. Ia memilih tidak menggunakan lift karena sepertinya ia ingin mengurangi stres dengan mengeluarkan keringat dan muncullah idenya untuk ke bawah menggunakan tangga saja sekalian berolahraga. Pikirannya saat ini sedang kacau, hari ini juga sama Tenten tidak ada menghubunginya. Ia juga tidak ingin menghubungi Tenten, berharap apa yang dia lakukan memicu agar Tenten menghubungi duluan tapi nyatanya tidak. Hinata ditanya juga jawabannya sama, Tenten juga tidak membalas pesannya. Apakah efek bucinnya pada Tenten sehingga ia rasanya tidak tenang sedikitpun?

Sekarang ia sudah sampai di lobi. Ternyata ada yang sudah menunggunya, Sakura melambaikan tangan kemudian Naruto menghampirinya dengan keringat bercucuran sampai membasahi kemejanya.

"Sakura apa kau bisa menungguku sebentar di sini? Sepertinya aku harus mandi dulu"

"Apa kau akan mandi di sini?"

"Ya begitulah, aku tidak mau bolak-balik rumah atau apartemen. Kita langsung saja dari sini karena rutenya lebih dekat. Kau tidak keberatan kan?"

"Oh tidak kok. Aku akan menunggu di situ. Kau santai saja" kata Sakura menunjuk cafe milik kantor di sebelah kiri lobi.

"Baiklah aku tidak akan lama" kata Naruto kemudian berlari ke arah kamar mandi pegawai.

.

.

Setengah jam sudah berlalu, Naruto keluar dari kamar mandi menenteng tas totebagnya yang berisi baju kotor. Wajahnya sudah tidak lepek seperti tadi, walau rambutnya masih acak-acakkan karena ia tidak membawa pomade dan hanya nebeng sisir kantor yang ada di kamar mandi tadi, yang ia sisir apa adanya dan masih sedikit berantakan. Mungkin sengaja agar terlihat garang bukan culun. Gayanya sudah keren, sekeren aktor jepang dengan kaos putih serta kardigan import yang menutupi hampir sebagian kaos tersebut. Serta jeans hitam yang menutupi betis kekarnya tapi tidak terlalu kekar. Sepatunya masih dengan chelsea boots hitam andalannya yang sering ia pakai untuk bekerja. Berjalan menghampiri Sakura yang duduk santai menunggunya di cafe samping lobi tadi. Sakura yang melihat Naruto berjalan ke arahnya langsung blushing terpesona, ingin rasanya ia langsung berlari dan memeluk pria tersebut, tapi apa daya ia harus menjaga sikap dan sadar bahwa Naruto bukan pacarnya.

"Maaf! Kau pasti lama menunggu ya?" tanya Naruto panik. Sakura menggeleng.

"Tidak apa-apa kok"

"Jadi, ayo kita berangkat sekarang" ajak Naruto. Mereka berduapun jalan beriringan menuju parkiran.

.

.

Sakura telah selesai memilih-milih buku kemudian pergi untuk meminjamnya. Naruto hanya mengikuti Sakura, tidak berniat untuk melihat-lihat atau bahkan meminjam buku juga. Sebenarnya Sakura mengajak Naruto sekalian untuk mengenang masa-masa saat mereka SMP dan SMA dulu yang sering sekali nongkrong di perpustakaan walau bukan perpustakaan yang mereka datangi saat ini tapi cukup untuk Sakura mengingat lagi kenangan indahnya dulu bersama Naruto. Tapi tidak dengan Naruto, ia hanya mengikuti kemana Sakura pergi. Sesekali melihat judul-judul pada buku yang mereka lewati tapi tidak berniat menyentuhnya. Sakura heran, padahal dahulu Naruto yang paling antusias membaca buku, bahkan ia bisa berlama-lama di perpustakaan hanya untuk menyelesaikan satu buku saja dalam beberapa jam.

Sakura selesai meminjam buku, kemudian mereka berdua keluar dari perpustakaan tersebut menuju mobil yang Naruto parkir di depan. Sakura tidak ingin cepat-cepat pulang, ia ingin lebih lama lagi bersama Naruto.

"Naruto!" panggil Sakura. Sang empunya nama menoleh.

"Apa kau tahu tempat yang bagus untuk melihat pemandangan malam?" tanya Sakura sedikit ragu. Naruto langsung mengingat tempat yang biasa Tenten dan ia kunjungi.

"Odaibe seaside park. Kau mau ke sana?" tanya Naruto balik. Sakura mengangguk antusias.

"Baiklah" jawab Naruto singkat dan melanjutkan langkah kakinya yang cepat menuju mobil. Sakura mengikuti dari belakang dengan sangat riang.

.

.

"Waaaahh indahnya. Aku menyesal tidak pernah ke sini" kata Sakura takjub dengan pemandangan di depan matanya tersebut. Naruto duduk di kursi, tapi bukan kursi yang biasanya ia duduki bersama Tenten. Sakura masih takjub, ia berdiri di dekat pagar sambil berWow ria.

"Lihatlah di sana Naruto" tunjuk Sakura ke sebuah kapal dengan lampu-lampu kuning yang indah dan ditumpangi oleh segelintir orang, berada di pinggir sungai.

"Apa kita bisa naik juga? tapi sayang sekali mereka sudah jalan" kata Sakura kecewa. Naruto hanya tersenyum, tapi tidak seantusias Sakura. Sakura tahu Naruto sedang tidak mood sekarang, ia menyadari itu kemudian menghampiri Naruto dan duduk di sampingnya.

"Kau kenapa Naruto? Bisa ceritakan padaku?" tanya Sakura pelan. Naruto hanya diam menatap kosong ke sungai.

"Naruto dengarlah, kan aku sudah bilang aku akan menjadi teman curhatmu. Aku siap mendengar apapun itu darimu" kata Sakura meyakinkan Naruto. Naruto menatap Sakura sendu dan mulai berbicara.

"Sebenarnya..."

To be Continue..