Maaf updatenya lama ya guys. Karena kesibukan dengan pekerjaan senin sampe jumat jadi lupa kalo ada fanfic yang perlu dilanjutin huhu~
@Chipuyyou wkwk~ pokoknya kawal terus deh sampe halal. Waah terima kasih yaa sudah dibaca, terima kasih juga atas reviewnya selama ini. Author termotivasi karena kamu selalu setia pantengin fic abal-abal ini. Semangatin author terus yaa Vivibi yang udah berganti jadi Chipuyyou dengan reviewmu, aku akan berusaha menyelesaikan cerita ini. Ganbatte!!
@koukyosei okey siap! Dah dilanjut yaa.. Hehe~
Setiap manusia pasti butuh cinta. Cinta kepada orangtua maupun pasangannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak butuh cinta? Hanya orang gila kan? Tetapi, wanita yang satu ini tidak gila. Ia hanya gila pada pekerjaannya dan menomor sekiankan masalah cinta. Baginya cinta hanya sebuah rasa yang tidak berpengaruh dalam hidupnya, yang hanya merugikan dirinya. Ia adalah Tenten tanpa marga dan dia tidak butuh CINTA.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruTen
Author: Nona Romes
Genre : Romance dan Sedikit Humor
Warning: Typo, OOC, Crack Pairing, Alur Maju Mundur, Newbie
Chapter 12
Tenten melajukan mobilnya sangat kencang. Tanpa disadari lampu kuning menyala di sana, tak lama berubah menjadi merah. Kalau saja dia tidak mendengar suara klakson bus dari arah berlawanan, mungkin dia bakal menerobos lampu merah tersebut dan berakhir ditilang. Untung saja Tenten sempat mengerem sampai-sampai bannya berdecit, untung saja tidak ada orang yang menyeberang di depannya, dan untung saja mobil yang berhenti di lampu merah hanya mobilnya sendiri, kalau tidak selesailah! mungkin ada kecelakaan beruntun menimpanya. Artinya kami-sama masih sayang padanya. Berkali-kali Tenten menghembuskan nafas entah mengapa. Rambutnya yang ditutup hoodie kini berantakan. Tujuan dan rencana yang ia buat hancur berantakan. Bukannya mendapat ketenangan dan kekuatan agar besok ia dapat bekerja kembali dan mempersiapkan hati untuk bertemu Naruto lagi, ia malah mendapati Naruto bersama wanita lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sakura.
Awalnya setelah selesai beberes rumah, ia berkendara menuju supermarket untuk membeli kebutuhan dapurnya terutama kulkas yang sudah lama kosong tidak ada isinya. Kebetulan supermarket tersebut berdekatan dengan taman yang biasa ia dan Naruto kunjungi, ia berpikir sekalian saja mencari angin guna merefresh otaknya yang sudah sedikit berantakan. Ia jadi ingin menghubungi Naruto untuk berbaikan tapi tunggu saat sampai di sana saja begitu pikirnya. Kemudian ia yang dengan santainya berjalan sendirian menikmati angin malam malah mendapati kekasihnya duduk bersama wanita lain, di mana wanita tersebut terlihat senang begitu pula Naruto yang tersenyum. Walau samar-samar Tenten lihat, tapi tetap saja kekasihnya itu tersenyum. Padahal Tenten baru saja ingin menghubungi pria tersebut dan mengajaknya bertemu, tapi malah melihat kenyataan pahit dan berakhir membuatnya tekanan batin.
Tenten jadi teringat saat ia baru saja pulang dari stasiun kereta api menuju kantornya kemarin. Saat itu lampu merah, ia sangat mengantuk dan tentu saja rasa ingin menguap tak tertahankan lagi. Di tengah-tengah menguap, ia menoleh ke sebelah kanan, mendapati ternyata wanita yang berada di dalam mobil sebelah kanannya terlihat familiar. Wanita tersebut memang tidak menoleh ke arahnya, tapi dia seperti pernah melihat wanita tersebut yang tertawa-tawa seperti ada yang menggelitikinya. Saat wanita tersebut menarik kepalanya agak ke belakang, Tenten terkesiap, matanya ia kedipkan beberapa kali siapa tahu salah lihat. Tepat di sebelah wanita itu si pengemudi, pria yang sangatlah ia kenali menatap lurus ke depan lagi-lagi sambil tersenyum pula. Pria tersebut adalah Naruto kekasihnya, serta wanita di sampingnya yang tentu saja Tenten sudah ingat bernama Sakura.
Tenten berusaha stay cool dan berpikir positif, namanya juga teman dan butuh hiburan. Tapi memikirkan bahwa Sakura menyukai Naruto, bisa lain ceritanya. Bisa saja saat Tenten pergi, tumbuh benih-benih cinta yang awalnya tidak ada menjadi ada. Tapi buru-buru ia tepis lagi pikiran tersebut dan tetap berusaha berpikir positif, mungkin ingin menyelesaikan urusannya dengan Sakura yang kemarin pikirnya. Hingga Malam ini tadi saat lagi-lagi Tenten melihat mereka berduaan, Tenten menjadi marah. Ada rasa panas menjalari tubuhnya, terutama dada. Ia sudah berusaha untuk biasa saja, tapi kenyataannya tidak.
"Apa ini yang dinamakan cemburu?" Batin Tenten. Ia kemudian mengacak-acak rambutnya yang sudah tidak tertutup hoodie. Melihat lampu sudah berubah warna, ia melaju dengan diiringi kata-kata teriakan terakhir.
"Naruto brengseeeeekkk!!!"
.
.
"Jadi begitulah Sakura ceritanya" Naruto menceritakan dari awal sampai akhir tentang Tenten yang dua minggu ini sulit sekali dihubungi serta kesalahan yang ia buat waktu itu yang membuat Naruto jadi merasa bersalah. Walau Naruto sangat canggung dan malu menceritakannya, tapi Naruto tidak dapat menahan kekesalan dan kesedihan yang perlu ia tumpahkan itu. Mungkin dengan menceritakannya ke Sakura, Naruto mendapat solusi yang bagus. Beda dengan Sasuke yang hanya menertawakannya saja saat bercerita, ingin bercerita pada Hinata, ia tahu pasti Hinata akan membela Tenten dan menyalahkannya karena terlalu agresif, yang ada dia bakal tambah frustasi lagi.
"Hmm.. begitu. Kau harus bersabar saat ini Naruto mungkin Tenten butuh sendiri dulu. Mungkin dia agak shock dan marah padamu. Maaf aku katakan ini, sepertinya Tenten agak egois" kata Sakura yang membuat Naruto sedikit tersinggung.
"Egois? Contohnya?" tanya Naruto penasaran dengan pernyataan Sakura barusan.
"Tanpa kabar" Sakura menatap Naruto kemudian melanjutkan.
"Ya. Saat kau beberapa kali menghubunginya, ia mengabaikan mu dan lebih mementingkan egonya sendiri yang saat itu sedang kesal. Harusnya ia tahu kau mengkhawatirkannya tapi dia sama sekali tidak mengkhawatirkan mu. Kenapa? karena wanita niscaya hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau mengerti perasaan pasangannya. Saat dia egois, dia akan melupakan semuanya. Tentangmu atau kejadian saat itu. Kalau dia tidak egois, dia akan berusaha memperbaiki masalah dan akan menghubungimu walau sedang sibuk sekalipun. Maaf Naruto aku agak emosi" Terang Sakura merasa tidak enak karena sadar sudah blak-blakan.
"Tidak apa-apa Sakura. Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa tidak menghubungiku" jawab Naruto sedih.
"Terlepas dari alasan apapun, dia seharusnya tidak membuatmu menunggu dan menyakiti perasaanmu seperti ini Naruto. Kau seharusnya bisa sedikit lebih tegar" kata Sakura kesal dan berusaha menyemangati Naruto.
'Kau seharusnya melupakan dia dan mulai menyukai ku Naruto. Percuma saja jika hanya kau yang mencintai dia, tapi dia tidak. Perempuan seperti itu aku tau tipenya tidak akan pernah mau percaya dengan laki-laki sepertimu atau pun cinta yang kau berikan padanya' kata Sakura dalam hati yang sebenarnya ingin ia ungkapkan sekarang juga, tapi mengingat kebucinan Naruto terhadap Tenten, serta posisinya yang ingin lebih dekat dengan Naruto, ia tidak ingin Naruto menganggapnya pengganggu. Tapi jauh di lubuk hati Sakura yang paling dalam sedalam lautan di laut, ia senang mendapat kepercayaan dari Naruto sekaligus senang atas apa yang terjadi antara Naruto dan Tenten saat ini yang tidak baik-baik saja. Dengan begitu kesempatannya untuk mendapatkan Naruto masihlah terbuka lebar. Karena dengan mendengarkan cerita Naruto saja, ia yakin Tenten bukanlah wanita yang mudah mencintai atau jatuh cinta seperti dirinya. Ia yakin menjalani hubungan dengan seseorang yang seperti itu hanya akan melelahkan saja dan tidak akan bertahan lama.
"Terima kasih Sakura" ucap Naruto berusaha tersenyum. Sakura berdiri dari tempatnya duduk dan menghadap ke Naruto.
"Baiklah kalau begitu, apa kau mau naik kapal itu. Ayo! aku yang bayar!" kata Sakura penuh semangat. Naruto hanya menatapnya sendu. Ia kemudian menarik-narik tangan Naruto agar ikut dengannya. Naruto berdiri, terpaksa mengiyakan dan mengikuti Sakura.
"Ayolah. Kau tidak akan menyesal Naruto. Pemandangannya indah" Kata Sakura lagi. Naruto hanya diam. Sakura yang tidak peduli Tetap menarik tangan Naruto sampai ke dermaga. Hatinya sangat berbunga-bunga karena Naruto tidak menolak. Setelah mengambil tiket, mereka berduapun menaiki kapal yang memang dikhususkan untuk pengunjung melihat-lihat area sungai itu serta keindahan di sekeliling sungai tersebut yang suasananya menampakkan kesan romantis, membuat Sakura makin senang dan berharap lebih terhadap pria di sampingnya itu.
.
.
Hinata sedari tadi duduk bengong di pantry kantornya dengan segelas kopi di tangan. Kiba yang lewat dan tidak sengaja melihat pemandangan tidak biasa ini mencoba mengisenginya. Ia diam-diam mendekati Hinata.
"Hoooiiiiiii!!!" teriaknya yang sukses membuat Hinata terperanjat dari duduknya.
"Apasihh kiba bakaaa!!!" marah Hinata yang ingin langsung memukul Kiba, tapi Kiba dengan sigap menghindar seperti refleks karena sudah terbiasa.
"Gak kenaaa~ Yeyeye~" olok kiba dengan wajah jelek yang dibuat-buat. Hinata hanya ber'Ihhh' ria tanda tak suka.
"Galak banget sih pagi-pagi" kata Kiba kemudian duduk dihadapan Hinata. Bersiap untuk mendengarkan sesuatu dari mulutnya. Karena Kiba tahu jika Hinata bermuram durja seperti ini, pasti secara otomatis Hinata akan menceritakan segala hal yang membuatnya kesal atau bad mood.
"Heh baka! Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Tapi kau jangan emberrr yah kalau tidak mau celaka!!" kata Hinata mengancam dengan mulut yang dimonyong-monyongin dan tangan yang menunjuk-nunjuk ke Kiba.
"Aku paham. Ada apa memangnya??"
.
.
.
"Haaaaaaahhhh?? Benarkahh??? Naruto dan Tenten?? Bukannya kau, dia..." teriak Kiba tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan dari sahabatnya itu. Hinata ikut kaget karena teriakan Kiba. Kemudian memukul belakang Kiba agar tersadar.
"Diam bodohh. Kau berisikk!! Seperti itulah faktanya. Tidak ada pertanyaan lain!" omelnya.
"Itaai~ " kiba hanya bisa mengusap-usap kepalanya yang dipukul Hinata. Mereka berdua kembali bisik-bisik.
"Jadi bagaimana menurutmu? Apa yang bisa kulakukan sebagai sahabat? Aku pusing tahu melihat mereka berdua begitu!" tanya Hinata meminta saran Kiba.
"Hmm.. Apa yaaa?" Kiba berusaha berpikir keras. Lima menit kemudian,
"Bagaimana kalau..." baru saja Kiba ingin memberikan ide, tiba-tiba Hinata menyela.
"Ahaaa!! Aku punya ide. Sebentar" timpal Hinata yang sukses membuat Kiba cengo'
"Hoi-hoi! Ngapain kau tanya aku sih tadi?" tanya Kiba ketus yang dihadiahi death glare oleh Hinata. Kemudian mengambil handphonenya dan menjauhi Kiba.
"Moshi-moshi. Sayang!!"
.
.
Hinata dan Sasuke saling pandang. Hawa-hawa yang tidak mengenakkan dari kedua orang di samping mereka masing-masing membuat ketakutan. Hinata menyenggol-nyenggol kaki Sasuke yang berada di hadapannya. Alisnya ia gerak-gerakkan ke atas, sesekali matanya melirik ke samping. Istilah mata bisa berbicara memang benar adanya tapi hanya berlaku antara dua sejoli ini Hinata dan Sasuke. Seperti sekarang ini contohnya.
Mata Hinata : 'bagaimana ini? Kau bicaralah ke mereka'
Mata Sasuke : 'tidak kau sajalah'
Mata Hinata : 'kau saja sayang!'
Mata Sasuke : 'kau saja'
Berakhir dengan tendangan dari Hinata yang agaknya meleset.
"Ehemm. Begini Tenten, Naruto. Kalian ingin pesan apa?" Tanya Hinata sambil tersenyum lebar membuat sasuke menepuk dahinya tanda frustasi, karena bukannya to the point malah berbasa basi dahulu. Hinata tertunduk menyesal. Akhirnya Sasuke saja yang berbicara.
"Hei kalian berdua. Jika kalian begini terus yakin bisa bahagia? Apa dengan berdiam diri saja semua masalah akan selesai? Jika kalian berpacaran, kalian harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini berdua. Aku dan Hinata ingin kalian berbaikan sekarang juga!!" tegas Sasuke tanpa basa-basi lagi. Naruto dan Tenten hanya diam saja memasang muka kesal. Ternyata ini yang Hinata rencanakan, membawa Tenten dengan rayuan untuk makan siang padahal diam-diam ingin mempertemukannya dengan Naruto. Begitu pula Sasuke yang disuruh oleh Hinata membawa Naruto, yang tanpa Naruto sadari membawanya ke Tenten tanpa dia tahu Tenten ternyata sudah pulang. Yang lebih menyakitkannya lagi Tenten tidak memberitahunya, itu yang rupanya membuat Naruto sedikit kesal.
"Apa kalian mau begini terus hahh!!??" bentak Sasuke yang tidak mendengar jawaban dari keduanya. Teriakan Sasuke cukup membuat Hinata kaget ternyata pemuda sedingin Sasuke bisa setegas ini juga serta dua orang wanita yang sedang minum kopi hampir memuncratkan kopinya karena teriakan Sasuke yang cukup keras tersebut.
"Bisa kalian tinggalkan kami berdua?" Tanya Naruto dengan tatapan serius, tapi tatapannya hanya ke Tenten dan Tenten mengalihkan pandangannya ke luar jendela tanda malas. Sasuke kemudian berdiri dan mengambil tangan Hinata. Hinata hanya melongo menatapnya seperti orang linglung.
"Baiklah jangan buat kami ikut campur lagi dengan permasalahan kalian. Kalian sudah cukup tua untuk masalah seperti ini, jadi tolong dewasalah!" tegas Sasuke kemudian pergi dengan Hinata yang hanya bisa pasrah ditarik oleh Sasuke. Melihat mereka berdua sudah menjauh, Naruto memulai pembicaraan.
"Bagaimana kabarmu?" Tenten hanya diam dan tidak menjawab. Naruto dengan berbesar hati sabar kemudian bertanya lagi berusaha untuk tidak marah.
"Maaf yang waktu itu. Aku menyesal" katanya lagi. Tenten kembali cuek saja seolah-olah hanya dia sendiri di sana tidak ada orang lain di hadapannya.
"Aku mohon berbicaralah. Apa kau sangat marah jika aku ingin menyentuh pacarku sendiri?" tanyanya to the point. Tenten menoleh padanya, matanya merah tanda sedang menahan emosi seperti ingin menerkam orang yang ada di depannya ini.
"Maaf aku salah bicara. Maksudku kau bahkan tidak mengatakan apapun sebelum berangkat, lalu kamu tidak mau membalas sms atau mengangkat telepon ku. Aku sangat butuh penjelasan darimu Ten aku mohon" Tenten memejamkan matanya sesaat berusaha meredakan emosinya sendiri agar tidak berteriak dan marah-marah seperti orang lain yang sedang tersulut emosi.
Baginya masalah waktu itu bukan masalah besar. Dia hanya kaget karena pertama kalinya merasakan sensasi tersebut. Jelas saja waktu bersama Sasori dia tidak pernah disentuh seperti itu. Mereka hanya akan berciuman jika bertemu, karena komitmen Tenten sangat teguh sekali dan Sasori tidak keberatan.Waktu itu, jika dia tidak sadar Naruto ingin menyentuh dadanya, ia takut mereka berdua akan melakukan 'itu' dan dia ingin meminta maaf juga, menyesal karena bersikap kekanakan dan tidak berusaha menghubungi dan lebih memilih untuk ikut sibuk bersama timnya. Tapi mengingat Naruto sudah 'kegep' olehnya dua kali, membuat ia jadi emosi lagi dan melupakan niat awalnya yang ingin berbaikan kemarin.
"Oh iya gapapa kok. Kalau begitu aku duluan ya" Naruto menarik tangan Tenten yang akan beranjak dari duduknya.
"Aku butuh penjelasan. Apa kau marah waktu itu?" tanya Naruto lagi. Tenten menepis tangan Naruto dan terpaksa kembali memposisikan duduknya.
"Tidak aku tidak marah. Aku hanya terkejut" jawab Tenten sekenanya.
"Jadi kenapa kau tidak membalas pesan ku atau menghubungi ku?" serang Naruto.
"Maaf aku sibuk sekali sampai tidak sempat meladeni mu. Sudah yah" Naruto mulai tersulut emosi mendengar jawaban Tenten yang seperti tidak ikhlas begitu. Tenten buru-buru keluar dari cafe tersebut. Naruto mengejarnya, lalu saat Tenten masuk mobil, Naruto mengikuti dan langsung duduk di kursi sebelahnya.
"A..Apa-apaan sih kau?" Tanya tenten marah. Naruto mulai gedek.
"Aku sama sekali tidak dapat penjelasan darimu. Kau kenapa sih? Kalau ada sesuatu yang mengganjal hatimu bilang saja" cecar Naruto.
"Tidak ada sama sekali yang mengganjal tuh. Aku baik-baik saja" jawab Tenten dengan kejutekannya.
"Lalu jika kau baik-baik saja kenapa lari? Ini tidak menyelesaikan masalah. Yang aku tau berpacaran itu kalau ada masalah atau sedang bertengkar, saling minta maaf, memaafkan, dan kembali baikan. Lalu kenapa aku sangat tidak puas atas jawabanmu tadi walau kau sudah bilang tidak apa apa? Seperti tidak ada niat berbaikan saja" jelas Naruto yang sedikit ngegas.
"Gausah cerewet dehh. Oke fine aku salah sudah mengabaikan mu waktu itu dan nggak menghubungimu selama dua minggu. Tapi sadar gak sih apa yang sudah kamu lakukan selama aku gak ada?" sekarang Tenten yang balik bertanya.
"Memangnya apasih?" tanya Naruto bingung.
"Yaah sudahlah kau tidak akan mengerti" jawab Tenten lagi.
"Apa? Bagaimana aku bisa mengerti kau saja tidak mau memberitahuku. Yang aku tahu selama kau tidak ada, aku selalu berusaha menghubungimu dan kamu tidak!" kata Naruto tegas.
"Halahh kau tidak akan mengertilahh. Sudah sana keluar jangan ganggu aku!" usir Tenten menyuruh Naruto untuk keluar dari dalam mobilnya.
"Tidak. Aku tidak akan keluar sebelum kau memberitahuku memang apa yang aku lakukan selama ini menurutmu?"
"Sudahlah aku lagi malas bertengkar denganmu!" kata Tenten dengan nada tinggi.
"Apa? Kita sudah bertengkar dari tadi bodoh!" kata Naruto lagi yang tak kalah tinggi nada bicaranya.
"Apa? Apa barusan kau menyebutku bodoh hah??" tanya Tenten yang agak emosi mendengar kekasihnya dengan tega menyebut dia dengan kata bodoh.
"Ma-maaf aku salah bicara. Tolong beritahu aku" pinta Naruto memelas.
"Kau saja menyebut ku bodoh kok!" Tenten yang disebut bodoh tadi tidak terima. Naruto mulai tersulut emosi lagi.
"Dimana-mana orang baru pacaran itu harmonis. Kenapa kita baru saja beberapa minggu lalu jadian sudah bertengkar seperti ini ya?" sindirnya.
"Ya kau juga yang mulai!" kata Tenten ngegas.
"Lah kok aku? Sudah-sudah sekarang beritahu aku ada apa sih sebenarnya? Memang kau menganggap dua minggu ini aku kemana? Seharusnya aku yang bertanya begitu kan?"
"Ahhh sudah aku pusiiiiing.. Keluar sana aku butuh waktu sendiri!!" teriak Tenten sambil tangannya ia pukul-pukulkan ke setir mobil.
"Memang yah perempuan! Dasar egoiss. Benar saja kata Sakura kau itu egoiss!!" Naruto yang mulai sangat marah mengeluarkan statementnya yang menusuk hati Tenten, kemudian Naruto keluar dari dalam mobil Tenten dan menutup pintu mobil dengan keras.
"A-apa kau bilang??? Aku egoisss??? Heii jangan lari kau!!" Teriak Tenten pada Naruto. Naruto cuek saja dan terus berjalan. Tenten yang tidak puas kemudian keluar dari mobil dan berteriak sekali lagi.
"Heeeeiii kau dengar aku tidak? Kau memang cari mati yahh! Pergi saja sana sama selingkuhanmu!!" Tenten yang kesal kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu tak kalah keras. Naruto yang samar mendengar kata 'selingkuhan' dari mulut Tenten berbalik menghampirinya.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Memang siapa selingkuhanku?" tanyanya dari luar mobil tepat di samping Tenten. Tenten hanya diam berusaha menstabilkan emosinya.
"Woyy buka!!" perintah Naruto sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil Tenten.
"Tidak. Tidak akannn!!" jawab Tenten dari dalam tanpa Naruto dengar apa yang telah dikatakan wanitanya itu.
"Apa katamu? Ho-hoiiii!!" Tenten yang masih kesal mulai menghidupkan mobilnya dan pergi dari sana. Naruto hanya pasrah melihat dan berdecak kesal.
"Astagaaaa.. tunggu saja kau cepoll! Aku akan menyelesaikan ini!!"
To be Continue..
