Yuhuuuuuuuu, readers tercinta, Author akhirnya nongol

Jadi gini Author membawa chapter baru

Author sangat berterimakasih pada readers yang berkutat dengan fanfic ini

Author terhura!

Yak, maaf jika chapter pertama nanggung dan kerasa kayak digantung dikarenakan kesengajaan Author

Author juga meminta maaf jikala penulisan dalam fanfic ini agak berputar – putar kayak layangan yang putus

Bagi kalian yang menunggu kedatangan para pemain, bersabarlah wahai saudara – saudara sekalian

Boboiboy milik Monsta

"Apa!": berbicara

'Nggak mungkin': membatin/berpikir

'Solar' 'Dirinya': Solar dimensi alternatif

Solar: Solar yang menjadi anggota Tapops


Ingin rasanya Solar menangis meratapi nasib. Jam kuasa ada disisinya tapi dimensinya telah tertukar. Mengapa ia selalu mangalami kesialan disaat melakukan eksperimennya.

'Ya, Tuhan kesalahan apa yang telah kulakukan hingga menerima karma seperti ini?'

Berhenti berpikir tentang bagaimana mencari arah jalan pulang, fokus Solar lebih kepada reaksi kakaknya terhadap tindakan yang dilakukannya. Dalam benaknya Solar masih memikirkan perkataan kakaknya yang terkesan kasar itu.

'Nggak mungkinkan diriku didunia ini sekasar itu terhadap mereka?'

Oh ayolah, Solar yang notabenenya kelihatan cool dan sok jago begini, masih manja dengan Gempa. Ia tidak bisa memungkiri kelembutan kakak ketiganya itu. Masalahnya, jika kakak – kakaknya ini benar berarti 'dirinya' tidak pernah mengucapkan kakak kepada kembarannya yang lain. Atau jangan – jangan 'dirinya' punya perilaku lebih buruk lagi dari pada Solar. Arogan sih nggak papa tapi kalau ditambah dengan narsis, sombong, angkuh, kepedean, ketus, dan suka sarcas. Waduh, ini nih bencana besar untuk tingkat kedurhakaan yang pernah ia capai. Gini – gini walau wajah cuek dengan kalem yang dibuat, Solar itu tipe orang yang sayang banget sama kakaknya. Mendapat predikat menjadi adek bungsu itu menjadikan dia sebagai pusat perhatian oleh kakak – kakaknya. Tapi kalau 'Solar' didunia ini beneran sama dengan asumsinya, pantas saja reaksi kakaknya pada shocked. Solar kan adik penyayang, ia sudah terbiasa memanggil mereka dengan sebutan 'Kak', 'Abang', atau 'Bang'.

'Apalah yang dilakukan diriku di dunia ini?'

Solar baru sadar kalau kedua orang disampingnya tak berkutik menatapnya dengan sangat serius. Solar merasa takut ditatap seperti itu.

"Aku... kecelakaan?"

Mencoba membuat percakapaan biar nggak canggung.

"Iya, Sol. Kamu habis kecelakaan. Penyebab kecelakaannya masih diselidiki oleh polisi"

Taufan angkat bicara.

"Kamu koma selama 4 hari. Kami sangat khawatir, bahkan Thorn menangis histeris saat tahu berita ini. Apa kamu mengingat kejadian itu?"

Gempa mulai cemas kalau Solar itu beneran mengalami amnesia.

"Aku tidak mengingat apapun"

Ini jawaban jujur Solar lontarkan. Sungguh ia tidak mengingat sekecilpun tentang kecelakaan yang terjadi.

'Wait a second, jika aku disini lalu diriku didunia ini mana yah?'

Pertanyaan ini membuat jantung Solar kerasa mau copot. Jika memang fix 'Solar' kecelakaan ada banyak kemungkinan yang terjadi. Pertama, Solar lebih kuat dan dominan dari 'dirinya' di dunia ini maka jiwa Solar mengalahkan jiwa 'dirinya' yang lebih lemah. Kedua, 'Solar' dari dunia ini berada di suatu tempat yang berdekatan dengan celah waktu atau ruang antar dimensi. Ketiga, kemungkinan yang terakhir ini membuatnya merinding. Bisa jadi 'Solar' di dimensi ini telah me-.

'Ya, Lord. Jangan sampai pilihan ketiga. Bagaimana aku menjelaskannya kepada mereka nanti?'

Kepala Solar bertambah pusing dengan maksud keberadaannya di dimensi ini. Yang pasti Solar harus menemukan keberadaan 'dirinya' yang lain. Ini bukanlah dimensi yang ia tahu yang bisa dengan serta merta Solar terobos. Untung saja jam kuasanya loyal. Tanpa kuasanya, bagaimana cara Solar menyelesaikan perkara dimensi ini.

"Oy, Sol. Jangan melamun terus. Nanti dikagetin sama mbak kunti baru tahu rasa"

Taufan menyenggol bahu Solar supaya si pemilik tubuh sadar dari pemikirannya. Giliran Taufan yang disikut oleh Gempa karena main – main sentuh. Gempa tahu betul kalau Solar tidak suka disentuh.

"Gah! Kak Taufan! Solar masih sayang jantung lah! Eh...Maaf Kak. Banyak sekali yang sedang kupikirkan. Solar beneran tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian kemarin"

Solar tersenyum ramah ke arah Taufan dan Gempa. Keduanya saling tatap menatap seperti lomba tatap mata yang pemenangnya bakal di kasih uang Rp. 100.000. Ini pertama kali bagi mereka untuk mendengarkan perkataan maaf keluar dari mulut yang biasanya mengeluarkan ucapan rusuh penarik minat atlet baku hantam. Adik bungsu mereka berkata maaf di depan wajah mereka, membuat mereka kelewat bingung dengan tingkah laku Solar yang sekarang.

'Apakah ini sebuah kebetulan yang ajaib?'

'Atau ini pertanda yang sangat amat buruk?'

Batin mereka bersenandung tak yakin.

'Apa amnesia ini adalah jalan yang terbaik?'

Solar tidak memperhatikan bagaimana Taufan dan Gempa sedang kalut dengan pemikiran mereka sendiri. Jujur saja Solar paling tidak suka dengan suasana di rumah sakit, menurutnya hawa disini lebih dekat dengan pemakaman. Hiii, seram. Dia ingin cepat pergi dari sini kerumah Tok Aba bertemu dengan yang lainnya, barang kali ia bakal ketemu dengan Ochobot. Itupun kalau spekulasinya tentang Ochobot tidak ada di dunia ini benar yang entah mengapa spekulasinya itu tidak akan pernah salah.

"Kak... ayo balik kerumah, Solar nggak seneng disini"

Solar menampakkan ekspresi sedihnya supaya kakaknya mau diajak pulang. Taufan terhenyak melihat Solar yang biasanya dingin, merengek minta pulang kayak anak sd yang minta jajan.

"Tapi kan kamu baru sadar Sol"

"Nanti kalau ada apa – apa gimana? Kita bakal tambah cemas"

Kedua kakak kaget bukan main saat adik mereka dengan seenak jidat ngomong minta pulang. Padahal nih anak baru aja sadar, minta di buat tidur lagi nih kelihatannya.

"Solar nggak mau disini Kak... Solar maunya pulang! Solar mau ketemu dengan yang lainnya! Solar merasa tertekan disini... hiks ...hiks"

Lah si duo dibuat kalang kabut memandang si adik yang mulai menangis. Solar harus menurunkan harga dirinya agar kakaknya ini mau menuruti permintaannya.

'Harga diriku...hiks..'

"Oke oke, baiklah. Aku tanyakan dulu kedokter. Kalau dokter memberi mandat boleh, kita pulang. Kalau sebaliknya kamu akan tetap disini sampai dokter memperbolehkan. Setuju?"

Solar mengangguk ikut perintah Gempa. Gempa mencari sang dokter yang seharusnya mereka lakukan sedari tadi, sejak Solar baru sadar.

"Haish, kamu itu, yang lain bisa kesini nanti. Pentingkan kesehatanmu dulu Sol. Lagipula kenapa keburu main pulang aja? Kamu baru aja bangun"

Taufan penasaran.

"Solar sudah banyak ngerepotin Kak Taufan dan Kak Gempa, jadi Solar tidak mau menambah beban kakak – kakak yang lain"

Ucapan Solar sukses membuat Taufan terdiam seribu bahasa, kalau boleh milih Taufan lebih suka dengan perilaku adiknya yang sekarang. Adiknya ini kelihatan lebih comel dan menggemaskan ketimbang dengan tampangnya yang dulu. Ingin rasanya Taufan mencubit pipi gembul adiknya ini. Tapi melihat kondisi Solar, Taufan tidak tega. Ia memilih untuk mengelus kepala adiknya perlahan takut kena kening Solar yang masih dibalut dengan perban.

"Iya deh, terserah kamu"

Tak lama Dokter dan Gempa datang. Sang Dokter langsung menghampiri pasiennya. Ia memeriksa dengan teliti keadaan Solar. Solar membiarkan dirinya diperiksa, lagi pula lebih cepat lebih baik. Solar ingin sekali cepat – cepat balik kerumah Tok Aba supaya ia bisa merenungkan semua teori yang ada di kepalanya. Serasa mau meledak saja kepalanya ini.

"Bagaimana, Dok?"

"Kondisi adik Solar mulai membaik, sampai – sampai membuat saya kebingungan"

'Hoh, pasif skill regenarasi sudah bekerja toh'

Solar tersenyum penuh semangat.

"Tubuhnya mulai pulih. Tubuh adik Solar sudah mulai membiasakan diri untuk menopang kembali aktivitas tubuhnya. Menurut saya sebaiknya adik Solar menginap sehari lagi disini. Tapi kalau kalian ingin membawanya pulang dan merawat jalan pasien juga tidak apa. Selama pasien juga sanggup, bagaiamana adik Solar?"

"Saya merasa baikan kok Dok"

"Iya sekarang kau merasa baik karena tubuhmu baru terbangun dari tidur panjang, tapi kau tidak akan tahu setelahnya. Jangan memaksakan diri oke, tubuhmu belum pulih seutuhnya masih membiasakan diri apalagi habis kecelakaan. Jangan melakukan aktivitas yang berat, kalau adik maksa nanti kondisimu tambah drop. Mungkin nanti dek Solar akan merasakan lemas, pusing, dan meriang mendadak, itu reaksi tubuh untuk menyesuaikan tubuh jadi jangan panik"

Solar mengangguk saja, mengiyakan penjelasan dokter yang kelewat panjang. Toh, regenarasinya sudah mulai memulihkan kembali tubuhnya. Dokter beralih ke penjaga Solar. Dokter menjelaskan sedetail mungkin apa saja yang harus mereka lakukan selama merawat jalan Solar. Sebenarnya Solar ikut menguping ucapan Dokter, tapi fokusnya masih pada apa yang akan ia lakukan saat berada di rumah nanti. Solar harus mempertimbangkan reaksi kakaknya yang lain dirumah. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Solar kebingungan harus melakukan apa. Terbesit pikiran jahil untuk bertindak seperti yah biasanya dan melihat reaksi mereka semua.

'Daripada aku tambah pusing tujuh keliling mending lakukan aja kayak biasanya. Seru nih ngeliat ekspresi mereka nanti, puas betul'

Senyum jahil nampak di muka Solar. Taufan yang kebetulan lihat bergidik ngeri.

'Wah kumat nih'

Setelah 'perdebatan' panjang antara Gempa dan Dokter yang ditonton oleh Taufan dan Solar, akhirnya Solar bisa cabut dari tempat itu.

"Ayo, Sol pulang. Dokter udah ngomong clear nih"

Ucap Gempa bermaksud untuk Solar mempersiapkan diri. Gempa meninggalkan Taufan dan Solar untuk mengambil kursi roda.

"Kuy, balik!"

Dengan semangat sentausa Solar menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan tanpa coba – coba langsung main berdiri. Harap jangan dicontoh tingkah laku Solar ini. Kenyataannya berdiri dengan tiba – tiba disaat kamu baru terbangun dari koma selama 4 hari bukanlah ide yang bagus. Kakinya tak memiliki stamina ditambah dengan kepala yang cenat – cenut bukan main membuatnya hampir ambruk. Jika bukan Taufan yang menangkapnya pasti Solar sudah bermesraan dengan si putih lantai. Dia tidak ingin first kissnya diambil oleh benda yang selalu diinjak orang.

'Hampir banget!'

"Astaga, Sol! Dokter kan udah bilang pelan – pelan. Kamu tuh terlalu bersemangat tapi nggak dibarengin sama kondisi. Sabar napa, Gempa masih ngambil kursi roda"

Taufan berkata sambil menggendong Solar, menempatkannya kembali pada kasur. Kayak barang aja ditaruh

"Hadeuh, kepalaku kumat"

Memegang kepalanya untuk meredakan rasa sakit.

"Ada apa nih?"

Gempa baru nongol dari pencariannya.

"Ini loh, Solar main berdiri aja hampir jatuh tadi"

Taufan menjelaskan dengan sangat jujur. Beneran deh, Solar mau nampol nih kakaknya yang seneng bikin orang greget.

"Heleh, baru aja diomongin sama dokternya. Percaya nggak percaya aku yakin kamu bakal lari nanti"

Gempa menghela nafas sambil menepuk pelan kepala adiknya yang punya sifat keras kepala. Well, walaupun gen keras kepala itu mendarah daging pada mereka semua yang diberikan oleh ayah mereka, tapi ya jangan keras banget sampai nggak bisa diomongin.

"Iya deh, Solar salah"

Solar mengalah dengan muka cemberut. Kedua kakak terdiam kembali mendengar penuturan Solar. Tentu Solar mengetahui dari reaksi mereka, 'dirinya' dari dunia ini pasti tidak pernah mau menerima kesalahannya. Wih bener – bener arogan banget 'dirinya'.

"Eeeuuuuuiihhhh, imutnya nggak ketolongan pingin cubit. Habis ini Thorn punya saingan uy"

Taufan gemes melihat Solar. Gempa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakak keduanya yang sedang mencubiti pipi Solar.

"Sakit kak! Pipi Solar yang tembem ini jangan dibikin merah, nanti kalau gantengnya Solar hilang gimana?"

"Betuah punya adik"

"Sini, anda minta dijitak ya?"

"Ampun kak, nggak mau"

Taufan makin gencar mencubit pipi Solar.

"Ini jadi nggak pulangnya? kalau nggak jadi mau kubalikin nih kursi"

Gempa mulai keluar ruangan.

"Mau!"

"Ya nggak mungkin kan aku mau membatalkan abang go-carnya yang udah nungguin kita dari tadi"

"Apa?!"

Beneran deh, Taufan kelewat jahil sama orang, kena karma baru tahu dia.


Di sepanjang jalan kenangan ralat maksudnya perjalanan pulang otak Solar masih memikirkan dengan teori – teori yang kian lama menumpuk. Biasalah resiko punya otak jenius kayak begini. Sumpah kedengeran songong banget. Solar sangat membutuhkan yang namanya kertas dan pulpen untuk menulis semua teori ini sebelum nanti kepalanya bertambah penat dan meledak, membuatnya mabuk pikiran selama beberapa hari. Kan nggak lucu orang mati gegara kebanyakan pikiran yang nggak jelas juga sumbernya. Lagipula mana sih Hpnya atau jangan – jangan hpnya ikut menjadi korban kecelakaan.

'Semoga kamu tenang dialam sana, Hp. Coba ada kamu masalah ini bisa dipecahkan dengan cepat. Huhuhuhuhuhu'

Gempa yang berada disamping Solar, menatap silih bergantian melihat adiknya yang biasanya suka mengambil foto disetiap waktu dan tempat ini diam tak berkutik.

'Solar pasti sedih Hp-nya rusak dan semua memori fotonya hilang atau mungkin kepalanya sakit sekali sampai membuat Solar terdiam?'

"Sol?"

Solar yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh

"Iya kak?"

Gempa tersenyum suka saat mendengar panggilan baru yang Solar berikan ke dia dan Taufan. Rasanya enak sekali didengar. Taufan yang berada di depan bersama sang sopir mendengar ini, dia tidak bisa menunggu bagaimana reaksi yang lainnya nanti saat bertemu Solar.

'Gimana reaksi mereka ya? pasti shocked'

Taufan tertawa receh berimajinasi tentang reaksi kembaran yang lain.

"Kamu capek, Sol?"

Tanya Gempa khawatir.

"Nggak kok kak"

Sepertinya di semua dimensi yang namanya Gempa ini memanglah mempunyai sifat ke ibuan yang hebat.

'Ini my Mom!'

Teriak batin Solar syukur karena sifat kakaknya yang satu ini tidak berubah dengan yang ada di dimensinya. Kalau Taufan mah, sebelas duabelas.

"Kalau capek sini rebahin tubuhmu masih lama kok sampai kita ke rumah"

Solar sangat tergoda untuk mengiyakan ajakan Gempa. Lagipula kepalanya nggak bisa diajak kompromi nih. Haruskah Solar meminum obat O****** untuk menghilangkan rasa sakit. Kok kayaknya dia korban iklan ya?

'Ada apa dengan kepala ku? padahal aku sudah tidur lama 4 hari, masak kurang? Apa ini efek dari berpindah dimensi?'

Ego Solar itu tinggi, ia tidak ingin menampakkan bahwa ia lemah. Tapi dikarenakan situasi yang tidak mendukung akhirnya solar mengalah. Ia merebahkan tubuhnya di pelukan hangat sang kakak.

"Maaf Kak kalok berat"

"Nggak papa, udah tidur sana nanti aku bangunin"

Dilihatnya sang adek yang mulai mendengkur pelan.


Sampai sini dulu chapternya

Author out!

See ya!