Readers!
Akhirnya kita bisa berjumpa lagi
Author berterimakasih kepada kalian yang telah setia menunggu up terbaru
Mohon maaf baru muncul sekarang karena ada suatu kejadian yang membuat Author harus rebahan dulu
Yak, Kalian pada gemes kan sama pemainnya?
Penasarankan gimana reaksinya kakak Solar kan?
Kuy lanjut baca
Author bukan pemilik Boboiboy
"Apa maumu?" : berbicara
'Tuh kan': membantin/berfikir
'Solar' 'dirinya' : Solar dari dimensi alternatif
Solar : Solar yang menjadi anggota TAPOPS
Gempa tersenyum, membelai rambut Solar dan melihat ekpresi tenang di wajahnya. Seperti mimpi yang sangat tidak mungkin, ia melihat Solar tidur sambil memeluknya. Uuuhhhhh rasanya hangat, seneng gimana gitu bercampur aduk layaknya keramaian kehidupannya memiliki kembaran yang rada nggak jelas semua. Gempa memegang pipi adeknya merasakan panas menjalar dari sana, panas yang kurang normal menurutnya.
'Hm...? kok panas? Dokter tadi ngomong kalau suhu tubuhnya naik, kening yang terluka mesti di kompres'
Gempa masih mengingat perkataan dokter, ia memandang Solar.
'Duh dek, anda tidur nyenyak banget mana bisa aku tega membangunkanmu'
Gempa mulai bimbang untuk menindak lanjuti rencananya nanti. Taufan ingin sekali mengabadikan momen itu. Menurutnya adegan itu sangat harus dianjurkan untuk diabadikan, mana mungkin bakal terjadi lagi. Taufan dalam diam mengambil beberapa foto tanpa bersuara, macam maling profesional.
"Loh pak kok berhenti disini?"
"Ada plang mas dilarang lewat, jalan sedang diperbaiki"
Yak, tiga orang itu melihat dengan jelas plang ditengah jalan yang memberikan peringatan ada perbaikan jalan. Sungguh tidak mengenakkan momen yang indah ini. Tidak ada pilihan lain selain berjalan menuju rumah Atok karena tidak ada jalan yang bisa dilalui mobil, sementara perbaikan jalan itu meliputi perempatan yang lumayan ramai, apalagi sekarang sudah menjelang petang. Rumah Tok Aba agak jauh dari tempat mereka diturunkan, jadi ya dinikmati sajalah.
"Kita jalan Gem"
"Ya udahlah, mau gimana lagi. Sol, bangun"
Gempa mengguncang sedikit tubuh Solar supaya si empu pemilik tubuh bangun. Solar terbangun dari alam mimpi.
'Padahal tadi mimpiku pas seru – serunya '
Mencopot kacamata visornya untuk mengucek mata memandang kaca mobil untuk melihat tampang 'handsome'nya.
'Hm, masih sama. Masih keliatan kece diku'
Mengangguk senang, sebelum sadar ada yang tidak beres.
'Ya Tuhan! Kemana mata silverku yang keren dan indah!'
Ternyata yang tidak beres adalah warna matanya. Warna mata Solar yang semula silver kini berubah menjadi cokelat sama dengan warna mata Gempa. Tunggu dulu kalau dipikir – pikir warna mata Gempa tidak cokelat melainkan keemasan dan warna mata Taufan itu sebiru lautan.
'Sumpah beneran! Kok bisa mataku berubah warna! Apa masih ada sangkut pautnya dengan berpindah dimensi? Atau jangan – jangan nanti pas aku menggunakan kekuatanku warna mataku bakal ikut berubah? Ini harus dibuktikan! Kalau tidak popularitasku bakal menurun!"
Baru juga berpikir begitu, kepalanya menolak dengan ide baru. Terlalu banyak yang dipikirkan menambah beban pikiran Solar. Beban pikiran aja sudar berat banget apalagi beban hidup. Tidak bisa dibayangkan segimana beratnya. Kenyataannya, walaupun Solar sudah tepar tadi, kepalanya masih kerasa cenat – cenut. Karena terlalu merenungi keanehan yang sering terjadi padanya, Solar sampai lupa dengan untuk apa ia dibangunkan oleh Gempa tadi. Secara tiba – tiba tanpa sepengetahuan Solar, Gempa menggendongnya.
"Eh Kak!"
Tentu aja Solar kaget. Solar nggak menyangka kalau Gempa bakal kuat menggendongnya.
"Mangkanya jangan banyak direnungi tuh hidup, kan tambah berbeban"
Timpal Taufan saat melihat si adek serius banget mikir. Sungguh kata – kata filosofis banget keluar dari tukang pembuat onar. Solar tidak pernah menyangka kalau si Taufan bisa ngomong begituan.
"Wih berbobot banget omongan anda, dapet darimana?"
Gempa juga ikut tersenyak mendengar tuturan Taufan.
"Dapet dari rahmat Tuhan yang Maha Esa"
"Kesel aku nanyak"
Solar mengangguk menyetujui omongan Gempa.
"Kak Gem, ngomong dulu napa kalau Solar mau diangkat! kaget tahu nggak tadi! Ku kira ada apaan!"
"Eheh, maaf habis kamu ngelamun kok serius amat"
Ucap Gempa merasa tidak bersalah.
"Gem, nggak ada kursi roda nih"
Taufan basa – basi nggak berguna.
"Ya digendonglah Kak, udah tahu ada alternatif yang lain"
"Ya kan cuman ngomong aja diku"
"Mending aku jalan aja deh kakak, aku bisa jalan kok"
Solar sudah tidak mau mendengar obrolan tidak karuan kedua kakaknya.
"Eh ya jangan dong, nanti kamu jatuh lagi kayak tadi pagi gimana?"
Reflek Taufan menjawab berkat kejadian dirumah sakit.
"Itukan tadi solar nggak nyoba pelan – pelan!"
"Ah, yang bener. Nanti kalau linglung gimana? Mau kuanter kerumah sakit lagi?"
Ancam Gempa. Merungutlah wajah Solar saat tahu kalau kedua kakaknya ini bersekongkol untuk melawan solusinya. Solar yakin seyakin – yakinnya kalau ia bisa jalan dengan baik.
"Gini aja deh kamu pilih digendong atau balik kerumah sakit? hmmmm pilih yang mana?"
Muncul ide jahil dibenak Taufan. Sebenarnya Taufan itu kepo kenapa Solar itu nggak suka di rumah sakit. Mungkin dia akan menanyakannya lain hari.
"Oke! Solar maunya digendong sama Kak Ufan! Tapi kak Ufan nggak boleh minta tolong ke Kak Gempa, gimana Kak berani? Solar nggak berat amat kok"
Kini giliran Solar yang ingin menjahili taufan. Seyum miris menampakkan diri di wajah Solar. Sepertinya tabiat 'Solar' yang mereka kenal mulai keluar, tapi si adek masih menggunakan wajah comel itu membuat Taufan merasa tertantang untuk menuntaskan misinya.
"Okeh! kamu ku gendong tapi jangan salahin aku ya!"
Taufan pun menggendong Solar dengan gaya bridal style , membuat Solar merona merah malu. Taufan tertawa saat melihat ekspresi muka adeknya sedang Gempa terkekeh melihat tingkah laku keduanya. Mereka hampir melupakan abang gocar yang dengan setia masih menunggu bayarannya sambil menghapus air mata bahagia?. Gempa berada paling belakang karena harus membayar abang go car dan menyusul Taufan yang sudah sedari tadi berjalan.
"Gila, Sol kamu kurus banget. Kayak orang nggak pernah dikasih makan"
Taufan merasa beban Solar emang bener nggak berat amat.
"Ey! emang berat Solar segini lah! mintanya berapa?!"
Protes Solar nggak terima dibilang kurus.
"Gem nih anak butuh asupan makanan yang bergizi"
"Aku nggak kekurangan gizi Kak!"
Taufan semakin memanas – manasi amarah adiknya.
"Tenang nanti kuberikan dia makanan 4 sehat 5 sempurna"
Gempa ikut saja dengan permainan Taufan.
"Kak!"
Solar nggak percaya kalau Gempa ikut – ikutan menjahilinya.
"Sip Gem!"
Taufan terseyum penuh kemenangan saat Gempa berada di pihaknya.
"Yang bener, Kak!"
Tawa Taufan dan Gempa menggema di jalan yang hampir sepi itu. Jalan itu lenggang karena hari sudah mau masuk petang. Ini baru kali pertama bagi kedua kakak itu tertawa lepas mengenai adek bungsu mereka. Mereka tidak habis pikir kalau adik mereka yang terkenal dengan otak jeniusnya masih susah merawat diri sendiri. Yah, begitulah obrolan gak jelas mereka sepanjang perjalanan pulang.
Dan sampailah mereka di depan pintu pagar rumah Tok Aba.
'Rumah ini tidak ada bedanya dari luar'
Menurut Solar dari sudut padangnya.
"Gem, cepetan bukain nih pager. Lama – lama tanganku kram"
Taufan mulai merasakan tangannya pegal.
"Tadi katanya enteng?"
"Ternyata lama – lama kamu berat juga sol"
"Ya, maap"
Solar merasa kasihan pada Taufan, hanya sedikit kasihan.
"Nggak papa kok, toh aku sendiri yang nerima tantanganmu"
"Udah ayok cepetan masuk udah petang nih"
Gempa mengisyaratkan Taufan untuk segera masuk
"Kuylah"
Diketuklah pintu oleh Gempa sambil mengucapkan salam. Solar menyiapkan mentalnya untuk bertemu kakaknya yang lain dari dunia ini, ia berharap keberadaanya di dunia ini tidak akan memberikan suatu efek yang berarti. Barang kali keberadaannya di dunia akan mempercepat datangnya malapetaka, kan mana ada yang tahu selain yang diatas. Yang membuka pintu itu ternyata si penyuka hijau, Thorn.
"Iya, sia-"
Thorn kaget saat melihat kakak bernomor urut tiga berada di ambang pintu. Tentulah membuat rasa penasarannya bergejolak.
"Loh Kak Gempa? Bukannya kakak menjaga Solar ya?"
Tanya Thorn dengan polos sambil memiringkan kepalanya berlagak comel.
"Lah ini dibelakang ku"
Bergeserlah Gempa menampakkan Taufan yang sedang menggendong Solar.
"Um... Halo Kak Thorn, apa kabar?"
Ucap Solar sambil melambaikan tangannya. Sungguh pertanyaan itu menggelitik telinga Taufan yang sekarang tengah bersusah payah untuk tidak tertawa. Beda lagi reaksi Thorn yang melihat Solar sadar dari komanya. Ia berlari dan melompat memeluk Solar yang masih digendong oleh Taufan dengan kuat.
"Solar!"
"Woah!"
Na'as sekali, Taufan yang sedang menggendong tak kuat menahan tambahan beban dan akhirnya terjatuh. Untung jatuhnya duduk, entah bagaimana nasib Solar nanti yang baru saja keluar rumah sakit masak masuk lagi?. Teriakan Thorn terdengar sampai seantero rumah membuat penghuni didalamnya pada keluar semua. Mereka tengah terperangah melihat si adik keenam memeluk si adek bungsu.
"Solar?!"
Teriakan si kembaran lain, bisa menandingi suporter sepak bola di stadion, alias rame.
"Ka-k se-sak"
Ucap Solar terbata bata. Gempa yang melihat ini menegur Thorn.
"Thorn cukup jangan dipeluk terus!"
Thorn langsung melepas pelukannya. Solar melihat banyak kunang – kunang dan cahaya putih di ujung penglihatannya.
"Sol! Jangan pergi ke cahaya putih!"
Thorn sambil mengguncang tubuh Solar yang membuat si empu pemilik tubuh merasa ini adalah akhir hidupnya.
"Astaga Thorn, berhenti! Kalau kau begitu terus lama – lama Solar harus dibawa kerumah sakit lagi!"
Ucapan Ice menyadarkan saudaranya yang lain untuk bergegas menghentikan acara guncang – mengguncangsi adek keenam.
"Aduh"
Solar merintih, memegang kepalanya.
'Sejak kapan Kak Thorn jadi bar – bar macam begini? Setahuku kak Thorn cuman punya lugu aja?'
"Sol kamu nggak papa?"
"Aku nggak papa Kak Upan, cuman pusing aja"
Sontak kalimat yang dilontarkan Solar membuat 4 kembaran lainnya menatap Solar tidak percaya. Solar melihat berbagai ekspresi yang berbeda – beda, mulai dari Blaze yang menggap – menggap kayak ikan keluar dari air, terus Thorn yang sepertinya udah pingsan duluan dengan senyum gaje, sampai yang biasanya cool kayak Halilintar dan Ice terbelalak speechless. Satu detik, satu menit, sampai 5 menit berlalu, tapi semuanya masih tetap diam. Hingga suara ketawa dari Taufan dan Gempa menyadarkan mereka ke bumi lagi. Mungkin tadi raga mereka terhempas ke langit nan tinggi terus terkena gaya gravitasi jadinya jatuh lagi ke tubuh.
"Ini pasti rencanamu kan Taufan! Kau ingin manjahili kami!"
Halilintar marah merasa dirinya di lecehkan dan masuk perangkap si kembarannya yang suka bikin orang sengsara. Serentak saudaranya yang lain yang tidak tahu kabar burung pun melirik dengan tajam kearah Taufan.
"Sumpah nggak lucu"
Seketika itu juga suasana menjadi sangat mencekam dan dingin.
'O-oh ini pasti berakhir buruk'
Solar mulai menebak apa yang akan terjadi. Dari omongan Halilintar saja, Solar bisa berimajinasi kalau 'Solar' yang ada diduniannya pasti melakukan sesuatu yang membuat si kakak sulung tidak menyukainya sama sekali.
"Ya nggak lah! Ngapain juga aku mau menjahili kalian pakai orang sakit nanti aku juga yang kena kuwalat! Tanya aja tuh ke Gempa, kalau nggak percaya!"
Taufan nggak terima jika dirinya dituduh sedang mengerjain saudaranya yang lain. Mereka beralih kearah Gempa yang mengangguk mengiyakan ucapan Taufan. Wajah Taufan udah kusut masih memegang si adek yang bertumpu padanya.
"Terus kenapa nih si sombong dan angkuh main – main manggil kakak hah!"
Bentak Halilintar yang tidak tinggal diam.
'Ouch, omonganmu sangat menyakitkan, kak'
Seperti panah yang langsung melesat ke hati Solar, rasanya sakit sekali mendengarkan perkataan itu dari sang kakak sulung yang selalu menjadi panutannya di dunianya.
"Emang aku gak boleh manggil kak Hali, kakak?"
Tanya Solar dengan pelan takut ama wajah hali yang super garang, memperlihatkan kebencian di sana.
'Ya, Lord. apa yang sebenarnya kau lakukan sih diriku!'
Saudara yang lain menatap ke arah Solar yang mukanya mulai menunduk. Perasaan mereka berkecamuk antara mengiyakan Hali dan menjawab Solar.
"Sejak kapan kau menjadi adekku, huh!"
Halilintar menjawab dengan nada yang datar dan sinis. Tentu saja ucapan itu membuat kaget semua yang mendengarkannya.
'Sungguh sebegitu bencinya kah Hali ama 'Solar'?'
Begitulah pemikiran mereka. Solar yang mendengar perkataan Hali yang diluar batas itu kaget dan membatu.
'Kak?'
Dia merasa bahwa hatinya seperti ditikam menggunakan pedang yang sakitnya melebih sakit dari pukulan yang diterimanya dari Kapten Vargoba dan lebih menusuk dari apapun yang pertama ia terima.
"KAK! Kak Hali nggak boleh berkata seperti itu! Gimana gimana pun Solar itu tetap adik kita!"
Taufan nggak terima mendengar perkataan sadis keluar dari Halilintar bahkan Gempa sudah ancang – ancang berani melawan perkataan Hali.
"Lagi pula paling dia hanya bercanda masuk rumah sakit agar followernya bertambah terus, agar kita terpuruk membayar kamar rumah sakit. Manggil kakak, huh! Pasti kau hanya ingin membuat kami keliatan bodoh dan menyebarkannya ke medsos. Bukankah itu yang sering kau lakukan?!"
Yang lain merasa kalau suasana berubah menjadi tak terkendali berusaha menenangkan.
"Udah Kak!"
Blaze berharap mereka tidak bertengkar di luar sini, karena banyak yang mulai tertarik untuk melihat adegan perkelahian yang mungkin bakal terjadi.
"Aku nggak tahu Kak kenapa aku bisa masuk rumah sakit. Aku juga nggak tahu kenapa Kak Hali sangat benci padaku. Maaf Kak, Maaf kan Solar jika Solar pernah berkata kasar, berbuat kasar sama Kak Hali dan semuanya"
Ucap Solar sambil berlari ke dalam rumah. Sungguh omongan Hali sangat menyakiti hatinya. Ia tidak bisa memandang muka Hali yang murka. Sebagai si bungsu yang selalu menarik perhatian, kakak – kakaknya selalu memberi support terbaik untuknya. Solar itu haus dengan kasih sayang dan saudaranya tahu betul. Mereka tanpa disuruh pun akan membagikan waktu mereka untuk Solar. Bahkan si sulung yang jutek mau menemaninya melakukan beberapa eksperimen yang ekstrem. Solar takut kalau Halilintar dan saudaranya yang lain benar – benar membencinya meskipun ini bukan dimensinya. Solar kuat itu semua berkat mereka. Solar mempercayakan semua pada saudaranya yang selalu menjaganya dibelakang maupun didepan. Jika mereka membencinya, untuk apa Solar terus berjuang?. Ice dan Thorn langsung mengekori Solar. Blaze tetap di luar melihat adu mulut yang sangat hebat mengenai si adek bungsu,.
'Apa sih yang salah?'
Sebenarnya ia masih bingung dengan masalah inti pertikaian ini.
'Bukannya bagus kalau si Solar itu sadar dari perbuatan salahnya, lalu mengapa Kak Hali mengungkit itu?'
Walaupun Blaze bukanlah orang yang pintar sekali, tapi ia tahu sekarang ini tidak tepat untuk membahas masalah mengenai 'Solar'.
"KAK! APA KAKAK UDAH NGGAK PUNYA HATI LAGI!"
"Bukan begitu caranya, kak!"
Taufan dan Gempa tidak habis pikir dengan ucapan si kakak sulung, mengapa mereka harus membahas ini saat Solar baru bangun dari komanya sih! Apalagi ucapan hali yang menurut mereka udah kelewatan.
"MAUMU GIMANA!? AKU SUDAH MUAK DENGANNYA! DIA SELALU MEMBUAT KITA SENGSARA!"
Adu mulut sengit pun terjadi dan Blaze bingung harus menghentikan mereka dengan bagaimana
"Kak tenang!"
Ucapan Blaze tidak digubris sama sekali oleh ketiga kakaknya. Pertengkaran malah berubah tambah sengit.
'Astaga, apa yang harus aku lakukan?'
'Jangan dibawa ke hati, dia bukan kakakku yang asli! Tapi... tapi... tetap saja rasanya sakit sekali'
Solar merapal ucapan itu di dalam hatinya, hingga ia tidak bisa menahan lagi. Air mata mulai membasahi pipinya, semuanya terasa sakit. Hatinya, kepalanya, dan seluruh tubuhnya. Solar tidak akan menyangka kalau di dunia ini 'Solar' tidak memiliki masalah, eh ternyata 'dia' yang membuat masalah didunia ini. Entah mungkin akibat shock atau apa Solar merasa lemas. Seketika tubuhnya yang baru saja bangun dari koma itu roboh di tangga terakhir menimbulkan suara yang cukup keras.
"Aw...hiks..sniff..."
Nafas Solar mulai tersenggal – senggal, tubuhnya mulai berkeringat dingin. Solar tahu ini ciri – ciri kalau tubuh akan shut down. Ia tahu tapi tidak bisa mencegahnya. Solar tidak bisa lagi menahan beban lelah tubuhnya dan mental yang dialaminya. Matanya sudah mulai memburam karena pasokan oksigen mengurangi daya konsentrasi.
"Maaf kak.."
Thorn dan Ice yang mendengar suara dentuman yang keras segera ke atas. Mereka menemukan si adek yang pingsan.
"Solar!"
Ice langsung membalikkan badan Solar. Ia melihat Solar susah bernafas.
"Sol!"
Ice mengguncang Solar yang masih setengah sadar.
"Solar kumohon tetap sadar!"
Panik mulai melanda Thorn saat melihat kondisi Solar yang memburuk. Ia berusaha menenangkan Solar yang masih terisak. Berusaha menyadarkannya ke dunia realita.
"Apa yang dikatakan Kak Hali itu nggak bener, Sol! Thorn sayang sama Solar jadi Solar harus kuat untuk Thorn!"
Ajaibnya perkataan Thorn tadi sedikit menenangkan si adek bungsu. Kini Solar terlihat lebih pucat dan masih terisak dengan nafas yang tidak beraturan.
"Tenang sol, aku juga sayang sama kamu jadi jangan pingsan ya? Thorn bawa Solar kekamarnya aku mau kebawah meminta obat Solar dari Kak Gempa. Jaga dia baik – baik"
Ucap Ice tegas ke Thorn yang masih panik. Thorn mengangguk melupakan rasa paniknya. Ice membantu Thorn membopong Solar.
'Sebenarnya apa sih yang dipikirin Kak Hali sampai punya niatan untuk mengatakan hal itu saat kondisi Solar masih seperti ini!'
Dalam benak Ice ingin menjitak kepala si sulung. Ia berlari kebawah menuju depan rumah dan melihat sebuah adegan yang mengejutkan. Taufan, Halilintar, dan Gempa mulai bertengkar dengan Blaze yang kewalahan menenangkan mereka. Wah ini nih sudah diluar ambang batas kesabaran Ice yang biasanya tenang.
"BERHENTI KALIAN SEMUA!"
Teriak ice dengan lantang plus nada dingin. Ya, magrib ini terjadi adu debat yang hebat hingga membuat tetangga sebelah merasa terusik. Bagaimana tidak si kembar tertua sedang adu mulut yang mulai ke perkelahian adu jotos. Blaze sudah angkat tangan tidak bisa menandingi pertikaian yang mulai tambah memanas. Lalu dengan tiba – tiba mereka mendengar teriakan lantang dari dalam rumah. Semua menoleh kearah Ice termasuk tetangga yang mulai bergosip ria. Untuk kali kedua mereka terkaget. Ice yang biasanya kalem, tenang, dan penurut, sekarang berdiri di depan pintu rumah dengan wajah marah sekaligus kesal terbesit di matanya. Mungkin hari ini bukan hari yang baik bagi mereka semua.
'Mampus ice marah'
Bisik Blaze dalam hati. Hanya Blaze, orang yang pernah tahu segimana hebatnya kalau Ice sedang marah. Harap tutup telinga anda, karena ucapan Ice sangat sadis se sadis mak cik sebelah kalau sudah angkat bicara.
"KAKAK APA KALIAN SEMUA GAK PUNYA PIKIRAN! INI SUDAH MAU MALEM! KITA MEMBUAT KERIBUTAN! TERUS SOLAR SEKARANG SESAK DAN MAU PINGSAN, SEDANG KALIAN DISINI BERKELAHI! KAKAK MACAM APA SIH KALIAN! TIDAK BECUS MERAWAT ADEK KITA YANG PALING BUNGSU! KAK HALI ! DITARUH MANA SIH PIKIRAN KAK HALI! KAK HALI PIKIR KAMI SEMUA NGGAK MERASA SEPERTI KAK HALI! YA KAMI JUGA LAH! TAPI LIHAT, SOLAR SUDAH MAU BERUBAH,KAK! SOLAR BARU SAJA KELUAR DARI RUMAH SAKIT. BARU BANGUN KAK DARI KOMA. TERUS KAKAK MALAH LANGSUNG NYEROCOS TANPA PIKIR! APA BEDANYA KAKAK DENGAN 'MEREKA' HUH! SEHARUSNYA KAK HALI MALU! SOLAR MAU BERUBAH, TAPI KAK HALI TETAP SAJA SEPERTI INI! SUDAH CUKUP DENGAN SEMUA INI!"
Ice ngomong tadi tanpa jeda, wajahnya sangat merah. Ia menarik nafas dalam – dalam, karena nggak sempat ngambil nafas banyak tadi. Ice melihat ketiga kakak tertua terdiam seribu bahasa, bahkan Taufan dan Gempa kelihatan syok berat. Blaze yang tahu bener karakter salah satu kembarannya hanya menatap ice dengan tegang. Akhirnya semua uneg – uneg yang tertimbun di hati Ice keluar semua tanpa beban, tanpa sensor. Gempa merasa ingin menangis saat dibilang bahwa ia adalah kakak yang tidak becus merawat saudaranya. Taufan terkesima takut dengan karakter Ice yang baru ini dia ketahui sedang Halilintar merasa seperti ditampar di wajah. Ucapan Ice menyadarkannya dari keegoisan yang sempat melahap rasa kasih sayangnya pada saudaranya.
'Apa yang baru saja aku katakan?'
Ia tidak pernah tahu menahu dengan keluh kesah dari adik – adiknya yang lain. Halilintar tidak terlalu memikirkan perasaan mereka. Ia hanya selalu berpikir bahwa tanggung jawabnya adalah untuk melindungi mereka itu saja. Tapi ia telah gagal melakukan hal itu. Suasana hening melanda, mereka mendengar hiruk pikuk bisikan tetangga yang bisa membuat kuping panas dan gatal.
"Ehem"
Kelima boboiboy menoleh kearah pemilik suara dan menemukan Tok Aba sedang berdiri di pintu pagar. Tok aba sudah sedaritadi melihat pertikaian itu, mulai dari awal sampai pada Ice yang berteriak. Sungguh Tok Aba tidak pernah menduga bahwa hari ini bakal terjadi pertengkaran hebat antara ketujuh kembaran yang biasanya mengurus kegiatan mereka sendiri – sendiri.
"Haish... hari yang kurang baik"
Bersambung
Yyeeeeeeeeeeeaaaaaaaahhhhhhhhhhh
Ketemu Author dichapter berikutnya
See you!
