REEEEEEAAAAAAADDDDDEEEEEERRRRRSSSSSSSSS!

Halo, Readers yang Author banggakan!

Bagaimana kabar kalian?

Author harap kalian baik – baik saja~

Yoi, Author membawakan chapter baru nih~

Author berterimakasih pada kalian yang masih dengan setia menunggu up terbaru~

Maap kalau chapter sebelumnya pendek

Dan juga maap kalau upnya kayak siput berjalan...

Ya udahlah daripada tambah panjang intro yang kurang berfaedah ini

Kuy silahkan baca~

"Waduh": Berbicara

'Asem...': Membatin atau berfikir


"Sebenarnya Atok tidak ingin mengatakan ini pada kalian. Tapi melihat pertikaian kalian, sepertinya Atok harus memberitahukan kalian lebih cepat. Kalian tahu dengan kondisi tubuh Ice yang tidak bisa menormalkan suhu tubuhnya sendirikan? Mudah letih, lelah, dan mengantuk. Dokter pernah mendiagnosis kalau otak Thorn tidak akan berkembang. Otak Thorn mengalami masalah dalam pertumbuhan watak. Dokter mengatakan bahwa Thorn akan berpikir layaknya anak – anak selama dia hidup. Kedua orang tua kalian tidak tinggal diam. Mereka mencari cara agar Thorn bisa hidup layaknya anak biasanya. Setelah melakukan terapi dua tahun di negara jauh sana otak Thorn mengalami perkembangan pesat bahkan dokter harus mengatakan itu sebagai suatu keajaiban."

Tok Aba terseyum bahagia saat diagnosis dokter berkata bahwa Thorn akan tumbuh seperti anak pada umumnya ya alias normal. Namun wajahnya kembali muram. Awalnya ketiga kakak tidak percaya bahwa mereka hampir kehilangan adik pada saat mereka masih kecil. Untung saja itu bisa diatasi. Nah sekarang ke masalah Solar.

"Solar mengalami cacat mata. Mata Solar mengalami kelainan dimana ia tidak bisa melihat dengan normal. Kata Dokter matanya tidak bisa menerima sinar dengan baik, membuatnya melihat setengah dengan apa yang kita lihat"

"Maksudnya gimana Tok?"

Taufan tidak mengerti, menurutnya cacat itu baik – baik saja.

"Bisa dikatakan Solar itu setengah buta, Taufan. Solar hanya bisa melihat benda berjarak 1 meter darinya. Selebihnya dia tidak bisa melihat. Kacamata visor yang sering dipakainya itu membantunya untuk melihat. Sampai saat ini dokter tidak bisa menyembuhkannya"

Semuanya terdiam tanpa suara. Taufan teringat dengan aksi jahilnya bersama dengan Thorn dan Blaze mengambil kacamata Solar. Saat itu mereka tertawa melihat sang adik mencoba mencari keberadaan mereka dan kacamatanya.

'Ya Tuhan, apa yang pada saat itu aku lakukan?'

Taufan merasa bersalah, menertawai penderitaan adiknya sendiri.

'Kakak macam apa aku ini?'

"Tapi Tok, Solar masih bisa melakukan kegiatan yang kami lakukan. Layaknya orang normal!" Halilintar masih tak percaya dengan rahasia yang diungkapakan oleh kakeknya.

"Tuhan itu maha adil, Halilintar. Ia yang memberikan kekurangan dan Ia juga yang memberikan kelebihan. Dokter pernah mengetes suatu hal pada Solar dan dia menemukan bahwa Solar punya daya ingat yang sangat luar biasa, jauh dikatakan normal. Solar mempunyai kelebihan dimana ia bisa mengingat sesuatu dengan sangat jelas bahkan saat ingatan itu sudah menjadi puluhan tahun lamanya. Kata dokter itu Hyper-hyper apa dah tuh"

"Hyperthymesia... atau ingatan otobiografi super"

"Nah yah itu... sepertinya Hali tetep suka membaca ya?"

Tok Aba menyempatkan dirinya ntuk menyanjung si sulung yang membuat si penerima sanjungan malu – malu catty. Ketiga remaja kagum, ternyata Solar itu terlahir dengan kemampuan luar biasa.

"Maksudnya Atok, Solar bisa melakukan semuanya selama ini berkat ingatannya?"

"Iya"

Gempa speechless dengan jawaban Tok Aba. Well keajaiban itu memang ada.

"Tapi mengapa kita tidak tahu hal ini?"

Taufan kembali bertanya.

"Sebab Solar tidak ingin membebani kalian semua. Katanya, semenjak ibu meninggal dan ayah kalian pergi jauh. Solar berkata kepada Atok bahwa kalian semua berubah dan ia tidak tahu harus bagaimana"

Mereka terdiam dan hanya bisa menatap lantai. Ini adalah rahasia yang cukup membuat yang lain merasa terkhianati maupun merasa bodoh dengan apa yang selama ini mereka lakukan.

"Apa itu yang menyebabkan kami jarang melihat Thorn dan Solar semasa kecil? Karena mereka butuh terapi dan pengobatan?"

Mereka tidak butuh jawaban ya dari Atok. Mata Atok sudah memberikan mereka jawaban. Mereka terdiam lama sebelum Taufan kembali membuka mulutnya.

"Oh... Jadi itulah mengapa Atok tidak pernah memarahi Solar? itulah mengapa Solar selalu berkata dan bertindak kasar? Karena hanya itu yang bisa Solar lakukan untuk mengatasi segala frustasi dan kesedihannya? Pantas sih kalau Ice ngomong kita kakak yang tidak becus merawat adek"

Taufan tersenyum miris tersadar atas semua yang terjadi.

"Padahal kami sudah berjanji kepada ibu untuk menjaga dan menyayangi adik – adik kita, tapi kita tidak tahu hal yang seperti ini... benar – benar ibu bakal membunuh kita diakhirat"

Gempa merasa berdosa dengan semua yang terjadi. Halilintar hanya terdiam, dia hampir lupa dengan janji yang dibuatnya dengan mendiang ibu.

"Sebenarnya bukan salah kalian. Kalian sedang tumbuh dewasa. Lagi pula fokus kalian pada saat itu ke Ice dan ibu kalian yang sering sakit. Solar sudah paham bahwa matanya cacat sejak ia sering dibawa ayah kalian kedokter mata. Solar tidak mempermasalahkan matanya toh ia masih bisa melihat dengan bantuan kacamatanya"

Betapa tabahnya kau adek bungsu sungguh minta diberikan pelukan penuh kehangatan.

"Terkadang Atok sangat khawatir setiap kali tahu kalau Solar pulang sendirian apalagi saat menjelang petang. Atok tahu Solar punya kelebihan, tapi namanya kekurangan pasti menjadi kendala dan benar saja terjadi. Solar pada saat itu menitip pesan ke Atok bahwa ia pulang agak sore dan harus Atok akui, Atok kecewa sama kalian semua. Salah seorang dari kalian tidak bisa menunggunya sampai selesai melakukan kegiatannya. Lalu kabar Solar kecelakaan membuat Atok takut bukan kepayang. Kalian tahu? Yang memberi tahu kabar itu adalah Fang yang kebetulan melihat insiden di sana. Ia segera menelepon Atok mengatakan kalau Solar kecelakaan dan sedang dilarikan di rumah sakit. Atok tidak berharap banyak tapi tolonglah jangan bikin jantung Atok cepat copot"

Ucap Tok Aba sambil memegang dadanya yang kemarin sempat berhenti bernafas. Siapa coba yang nggak kaget menerima kabar bahwa salah satu anggota keluarganya menjadi korban insiden kecelakaan. Ketiga atau keenam kembaran tidak pernah menanyakan siapa orang yang memberi tahu Tok Aba atau pun menanyakan bagaimana bisa Solar kecelakaan. Karena pada saat kejadian mereka semua kebetulan ada kegiatan masing – masing dan sempat bersiteru dengan si bungsu. Itupun mereka tahu tentang kabar tidak mengenakkan itu saat rumah dalam keadaan sepi tak berpenghuni. Kian bertambah bersalah mereka bertiga yang duduk mendengar rahasia yang tengah dibongkar oleh sang kakek.

"Bukan maksud Atok menyalahkan ini kepada kalian bertiga, tapi menurut Atok kalian bertigalah yang paling dewasa diantara ketujuh kembaran. Atok hanya ingin kalian untuk lebih menyayangi keempat adek kalian, lebih perhatian pada mereka. Solar bukanlah satu – satunya yang sering curhat dengan Atok"

Ucapan itu menuai ekpresi yang beragam dari ketiga tertua.

"Ih, nggak percaya? Selama ini Atok jadi tempat curhat keempat adikmu itu. Blaze, Ice, Thorn dan tentu saja Solar, merindukan kasih sayang saudara mereka yang tertua"

Taufan dan Gempa berusaha untuk tidak menangis lagi. Mereka sudah menghabiskan dua kotak tisu dalam kurun waktu satu jam dan kini akan menghabiskan yang kedua. Halilintar fokusnya masih pada Tok Aba. Dia mungkin tidak menangis tapi dalam benaknya dia berusaha untuk tetap tegar. Biasalah si tsundere ini hanya mau menangis pas tidak ada orang sama sekali.

"Nih Atok kasih bocoran tentang adik – adik kalian. Blaze dan Ice sangat dekat, mereka akan membantu satu sama lain jika menginginkan sesuatu. Thorn itu langsung to the point selalu memerlukan bantuan saat menginginkan sesuatu. Sedang Solar memilih untuk diam dan memikirkan caranya sendiri agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Blaze dan Ice sering mengawasi Thorn dan berusaha untuk mengawasi Solar. Menurut Blaze, sangat susah untuk mengawasi Solar yang notabenenya lebih terbuka dari Halilintar saat dengan orang lain tapi jika bersama kalian dia bisa sangat tertutup. Blaze itu mudah tertekan. Itu yang menyebabkan dia mudah emosian. Ice lebih memilih untuk mengalah disemua perkelahian. Thorn dekat dengan Solar tapi tidak sedekat dengan tumbuhannya yang sering menjadi penyalur curhatan hatinya. Solar lebih memilih untuk memberikan komentar pahit agar semua orang menjaga jarak darinya. Membaca dan mengawasi sekitarnya adalah salah satu kebiasaan Solar"

Ketiganya terperangah saat mendengar penjelasan Tok Aba tentang adik mereka yang lain. Mereka tidak menyangka kalau Atok menjadi tempat curahan rahasia para adik – adik tecinta. Gempa dan Taufan yang merasa paling dekat dengan kembar empat itu, tak pernah mendengar keluh kesah si adek – adek. Halilintar tak bisa berkata apa – apa dari tadi. Pikirannya kalut dengan semua penjelasan yang dilontarkan sang kakek.

"Atok tak pernah mengatakan ini karena Atok paham, bahwa kalian semua sedang tumbuh. Sedang menginginkan kebebasan untuk melakukan berbagai hal. Atok juga mengira ada saatnya kalian juga akan mengerti sendiri... tapi melihat pertengkaran kalian, membuat Atok berpikir inilah saat yang tepat untuk memberitahu kalian bertiga"

Tok Aba sebenarnya tidak ingin mengatakan itu, dia sudah berjanji kepada keempat cucunya untuk tidak mengumbar rahasia mereka. Namun mau bagaimana lagi? Si kakek nampaknya sudah sangat tua untuk membawa rahasia yang terlalu banyak, apalagi melihat tingkah laku tiga dari empat kembaran yang paling muda. Mereka senang sekali membuat kepala Tok Aba pusing.

"Tok, Taufan... Taufan tak pernah tahu dengan hal ini. Taufan kira... semuanya baik – baik saja"

"Tu lah. Kalian tidak peka"

Ouch, ketiga kembaran pertama merasa tertohok di hati. Sebegitu nggak pekanya kah mereka(?).

"... Aku kakak sulung yang tidak becus"

Sekian lama~ ?Halilintar terdiam~ dalam samudera rasa bersalah, si sulung akhirnya ikut angkat bicara.

"Kak..."

"Selama ini, aku hanya memikirkan kegiatan ini dan tugas itu. Beasiswa ini, dan terlalu berambisi untuk mendapatkan perguruan tinggi yang ku inginkan... sampai – sampai tak pernah memikirkan kalian."

Harus Halilintar akui,dia merasa sangat egois dengan semua ini. Dia serta Gempa dan Taufan sudah masuk kelas 2 SMA dan beberapa tahun lagi akan memijaki dunia perkuliahan. Dia terlalu serius memikirkan masa depannya sampai melupakan adik – adiknya.

'Bukankah masa depanku, masa depan mereka juga?... mengapa aku terlalu ambisius?'

"Maafkan aku Gempa, Taufan"

Halilintar menatap kedua adiknya.

"Maafkan aku juga Kak Hali. Aku tidak bermaksud berkata yang jelek tadi. Aku tidak bermaksud untuk membuat kerusuhan, tapi situasi selalu memaksaku membuat kerusuhan. Tapi aku beneran tidak melakukan kejahilan untuk kejadian yang tadi! Serius nih! ... Maafkan aku juga Gem. Kamu selalu yang menjadi penengah saat kami bertengkar atau saat aku berbuat usil ke kembaran kita yang lain. Pasti susah mengatur semuanya"

Taufan memasang senyum sedih. Dia tidak akan mengira kalau pulang dari rumah sakit bakal ada sesi baku hantam dan sesi curhat.

"Maafkan aku juga. Aku terlalu fokus pada kegiatanku sendiri sampai melupakan keadaan yang dirumah. Terlalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dan terlalu mengejar nilai hingga melupakan saudara sendiri"

Gempa menunduk malu. Sebagai yang paling neutral sifatnya, dia yang selalu menjadi penengah disegala huru hara kehidupan bertujuh. Kesibukan sekolah membuatnya lupa dengan hal yang ada di rumah. Setelah ketiganya meluapkan penyesalan mereka, akhirnya mereka tersenyum saat mendengarkan permintaan maaf yang telah dimaafkan. Tok Aba lega melihat ketiga kembaran tertua berbaikan, tinggal empat lagi yang belum.

"Nah, sekarang bisa jelaskan kenapa kok Solar bisa dirumah dan pingsan hm?"

Tok Aba memperlihatkan senyumnya yang beh manis banget sampai – sampai ketiga cucu bermarga boboiboy meneguk ludah takut.

'Mampus... aku kena jeweran maut dari Atok'

Halilintar komat kamit dalam hati berharap kalau orang disampingnya nggak bakal ngelapor. Gempa dan Taufan melirik kearah Halilintar yang udah berkucuran keringat dingin. Gempa menjelaskan kronologi kejadian adu bacot petang tadi.

"Jadi gini Tok..."

Gempa menjelaskan semua dari A sampai Z. Tok Aba manggut – manggut mendengarkan cerita Gempa

"Boboiboy Halilintar bin Amato! Kamu pilih dibanting pakai silat Atok yang legendaris atau telingamu dijewer pakai jurus bara Api?!"

"...Kalok nggak kedua – duanya?"

Tok Aba hanya memberikan senyuman simple.

" ADAWWWWWWWWWWWWW! Ampun Tok! Hali salah!"

Teriakan membahana Halilintar berdengung seantero rumah. Dilatar belakang aksi penjeweran Halilintar, Gempa dan Taufan berusaha menahan tawa. Si Taufan merekam video untuk dibagikan ke kembar yang lain.

"Mantap nih video!"

Setelah puas menjewer si sulung yang tengah memegang kedua telinganya yang memerah semerah baju yang dikenakannya, Tok Aba kembali menasehati si kembar tertua.

"Atok tidak akan ikut campur dengan masalah ini. Jadi Atok harap, kalian semua bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, akur, dan tanpa lecet. Mengerti?"

Tok Aba sengaja menekankan kata mengerti supaya mereka bertiga tidak memperparah masalah yang sudah buruk.

"Ashiiap Tok!"

"Pintar. Sekarang Atok mau menyiapkan makanan dulu. Kalian bertiga pergi keatas pastikan kondisi Solar. Kalau terjadi apa – apa, bukan jeweran yang kalian dapat tapi silat Atok yang kalian terima"

Ketiganya dengan cepat beranjak keatas mendengar ancaman di balik omongon santai Atok mereka, sungguh mereka tidak ingin kena jurus silat Atok yang tidak pernah mereka dengar kebenarannya.


Skuy kita flashback sedikit banyak sebelum kejadian Halilintar dijewer dengan tidak elitnya. Setelah ditinggal Ice kebawah, Thorn segera mengambil handuk kecil dan baskom dari kamar mandi. Ia melihat kondisi Solar yang mukanya pucat, suhu mulai panas lagi, deru nafas yang tidak beraturan serta keringat yang mulai menetes. Banyak sekali gejalanya hingga membuat si imoet bingung harus ngapain duluan. Dengan pengetahuan yang ala kadarnya, Thorn menempelkan handuk basah ke dahi Solar dan mengelap keringat yang menetes. Solar sendiri diambang antara ketidak sadaran dan kesadaran. Solar dapat merasakan kakaknya menggenggam erat tangannya. Solar tidak ingin membuat khawatir kakaknya, tapi sepertinya ia malah membuat Thorn dan Ice jantungan. Dari arah luar, Thorn mendengar teriakan yang cukup keras. Kerasnya bahkan membuat Solar terlonjak sedikit.

"Isshh mereka ini tidak tahukah ada orang sakit?!"

Timpal Thorn kesal. Solar yang setengah tidak sadar, tahu persis pemilik suara itu. Tak berapa lama suasana menjadi sepi. Thorn dengan setia menjaga Solar. Takut si adek tiba – tiba bangun dan kabur dari rumah akibat omongan Halilintar. Solar tertidur dengan beban dihatinya. Ice menaiki tangga menuju kamarnya yang di bagi dengan Solar. Ia melihat bahwa Thorn telah melakukan tugasnya dengan baik.

"Ah wait, jangan maen tutup aja!"

Blaze menyusul naik. Ia dapat mendengar kalau Tok Aba sudah memulai sesi interogasi dan ia tidak mau tahu. Ice memegang pundak Thorn.

"Bagaimana Solar?"

Ice bertanya. Blaze yang berada tepat dibelakangnya dapat melihat kondisi Solar.

"Solar panas kak"

Si penyuka hijau melapor ke kakaknya si penyuka plushie.

"Tenang Thorn, Solar itu orangnya kuat. Buktinya dia habis kecelakaan nggak kenapa – napa"

Okay, sepertinya Blaze harus memeriksa otaknya. Ya kalik, orang habis kecelakaan masuk rumah sakit dibilang nggak kenapa – napa.

"Ish, Kak Blaze bukan begitulah caranya memujuk orang. Orang masuk RS dibilang nggak kenapa – napa"

"Eh salahkah?"

Ingin rasanya Ice menjitak kakaknya ini. Ia memandang Solar yang masih sesak seperti membutuhkan oksigen.

"Kak, bantu aku merakit alat ini"

"Oke"

Dengan kompak duo berkebalikan watak, merakit masker oksigen. Mereka sering melalukan ini karena Ice sering asma. Ice dengan cekatan menempelkan masker oksigen ke muka Solar. Mereka merasa lega saat melihat Solar bernafas dengan normal lagi. Si kembar duduk sambil menjaga Solar.

"Tidak habis pikir aku"

Ice membuka obrolan.

"Hm?"

"Kak Hali bisa ngomong kayak gitu sama adik sendiri"

Ice masih kesal dengan kakak tertua mereka yang semenjak kematian bunda mereka sering memikirkan diri sendiri.

"Sans, Ice. Kita nggak mau kau tumbang juga, cukup Solar aja sekarang"

Blaze berusaha menenangkan Ice takut penyakitnya bisa kambuh lagi. Biasanya ini tugas Ice untuk menenangkan Blaze.

'Berasa kayak dunia terbalik'

Thorn terdiam. Dia merenungi ucapan Halilintar yang menyayat hati. Ice menuruti keinginan Blaze karena ia tidak ingin menjadi beban saat ada Solar yang masih harus diurus.

"Menurutku Solar nggak salah. Kita saja yang tidak bisa membagi waktu kita untuk Solar"

Terkadang ia sering melihat Solar duduk diam menatap kelangit dengan sendu seperti orang yang tidak punya tujuan hidup.

"Ya, aku tahu sih segimana sebelnya Kak hali dengan Solar. Tapi bukankah Solar mau berubah?"

Blaze tahu betul sifat Solar. Arogan, dingin, bergaul sama anak holkay, banyak penggemar dan sebagainya.

"Nah ituuu, kan bagus kalok Solar mau berubah!"

Thorn berpikiran kalau semua akan mulai membaik jika Solar mulai berubah.

"Padahal dulu nih bocil sering gua ajak main maling mangga punyak Om Watdefak"

Blaze mengingat masa kecil yang bahagia saat semuanya masih sangat indah.

"Ho'oh Aku sama Solar sering maling bunga tetangga juga"

Mata Thorn berbinar mengingat kenangan dimana mereka dikejar ama anjing garang pemilik rumah bunga mawar merah. Ice hanya menatap heran ke kedua kembarannya.

'Ya ampun, kecil – kecil udah main maling aja kalian'

Lah saat berfikir seperti itu sebuah pertanyaan muncul.

"Lalu mengapa Solar bisa seperti ini?"

"Maksud?"

"Jika memang apa yang kita ingat itu adalah Solar yang polos dan penurut. Lalu apa yang menyebabkan dia seperti ini sekarang?"


Bersambung~

UwU

Gimana?

Author out

See you again~