READERSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS!
MWEHEHEHEHEHEHEHEHEHHEHEHE!
Ketemu lagi dengan aing si Author~
OwO mana rupa kalian ma Readers?~
Maapkan hamba ini yang baru bisa up sekarang QwQ
Mengmaap ya...
Makasih loh ya dikasih santet cinta...
Makasih udah ngelike fanfic ini~
Dan mengmaap lagi jikalau masih terasa pendek
Anyway~ Author kesini membawakan sebuah chapter~
Nyeheq~
Monggo dibaca~
Boboiboy milik Monsta
"Pertinyiinnyi lih yi!": berbicara
'Eta terangkanlah hati ini...' : berfikir/membatin
Enjoy~
Pertanyaan Ice sukses membuat kedua orang yang mendengarkannya diam seribu bahasa. Mereka sedang berusaha mengingat – ingat sebuah kejadian yang bisa membuat si bungsu berubah sangat drastis. Terbesit sebuah ingatan dalam benak Ice yang menurutnya sebagai titik balik perubahan perilaku si bungsu.
"Bentar ... apa kalian pernah mendengar Solar meminta sesuatu?" Tanya Ice.
"Huh?" Thorn dengan polos menoleh ke arah Ice.
"Ya kalik gegara nggak pernah dibeliin, jadi emo kek gitu dia?" Blaze menimpali, menurutnya sangat tidak cool jika Solar berubah sifat gegara apa yang diinginkannya tak pernah terturuti.
"Oh ayolah... aku tanya betul – betul nihhh" Ice terlalu capek meladeni pertanyaan kakaknya yang terkesan meledek.
'...Ah, ini masalah...' Yup Ice akhirnya menemukan faktor pertama tanpa dia harus berpusing memikirkannya.
"Setahu yang otak jahilku pernah pikirkan... kayaknya sih nggak pernah. Tapi... wait, kok dia punya segelanya?!" Giliran Blaze yang merasa ada kejanggalan dengan si adeknya yang terakhir. Ice hanya mengedikkan bahunya karena dari dulu kerjaannya hanya menjadi putri salju.
"Aku tahu kak!" si dedek terakhir nomor dua mengacungkan tangannya bak ingin menjawab pertanyaan ibu guru yang membuat kedua kakaknya terkaget.
"... tolong jantungku cuman satu..." Ice meraba dadanya.
"Please... jangan ngagetin! Aku masih mau ngerjain Bang Hali ama Ice!..." wah ternyata ada yang minta dibogem nih rupa – rupanya...
"Apa yang barusan kau cakap Kak?~" si adek nomor lima dari tujuh kembaran menampol kakaknya dengan sangat tidak sans.
"ADUH!" terdengarlah rintihan bin bahenol dari mulut ember Blaze.
"Pantes banget nggak ada yang mau ngespill rahasia ke kakak, wong mulut kakak ember"
"Woy!" Blaze berteriak, memegang pipinya yang terkena tamparan penuh kasih dari Ice.
"KAK!" Si moe yang dikacangpun akhirnya menjiwit paha masing – masing kakaknya.
"Ouch!" keduanya kini meraba – raba bekas jiwitan si adek moe.
"Oke oke... mangga dilanjutkan"
"Monggo, bang... monggo..." Ice membenarkan.
"Yelah tuh"
"Jadi ... pas itu Solar minta untuk dibelikan mainan ke Kak Hali, Kak Taufan, dan Kak Gempa tapi mereka pada sibuk sendiri. Kak Hali saat itu marah sampai membentak Solar. Jadinya Solar nangis dan nggak berani deket – deket ama Kak Hali lagi" Thorn bingung segala yang diinginkannya pasti akan dikabulkan, tapi pada saat giliran Solar seperti tidak bisa sama sekali. Bukankah Solar yang terlahir terakhir yang seharusnya diutamakan? Dia kan yang paling bungsu. Thorn malah sering befikir kalau saudara – saudaranya menganggapnya lah yang bungsu. Padahal yang lahir duluan adalah Thorn daripada Solar.
"Bagai si bungsu yang tak dihiraukan..." Blaze dan Ice terkejut saat mendengar informasi ini.
"Oh tidak"
"Kenapa?" Blaze takut kalau sakit Ice kambuh beneran.
"Ada apa Kak Ice?"
"Wah... bisa aja Solar trauma... mungkin juga kena child abuse"
"Trauma?"
"Gini deh, bayangkan saja jika orang yang kau sayangi tidak mau membagi waktunya dengan mu dan malah memarahi dan mencacimu bukankah itu menimbulkan rasa takut serta sakit hati?" Ice menjelaskan. Blaze dan Thorn terbelalak mulai paham
"Ini yang terjadi dengan Solar. Solar mengharapkan sesuatu dari kita, atau lebih tepatnya menginginkan perhatian kita, tapi kita malah mencampakkan dia lalu memperlakukan dia layaknya orang asing... Nggak perlu otak jenius untuk menyimpulkan kalau dia kesal atau mungkin membenci kita" Mereka tahu dan sadar pada saat mereka kecil dan berenjak menuju remaja, Solar bukanlah anak yang pandai dalam bergaul. Hanya baru – baru menginjak SMA ini si penyuka matematika gemar tebar pesona menjadi pusat perhatian semua orang. Itupun masa anak – anak mereka dipenuhi oleh aksi pembulian yang nggak perlu dijelaskan dampak apa yang diberikan ke mereka. Contoh saja Halilintar dan Blaze, mereka sering adu jotos dengan para pembuli karena mereka pernah menjadi korbannya.
"Aduh pikiranku tidak enak"
"Tumben mikir..." Ice menyeletuk yang dibalas dengan dengusan kesal dari Blaze.
"Apa selama ini Solar berpikir bahwa dia hanya beban untuk kita? Atau mungkin dia mengira kita tidak menyukai dia?" Thorn berasumsi.
"Wait, jangan – jangan itulah mengapa dia ketus, arogan, dingin pada kita semua?" kesimpulan mulai muncul dibenak Blaze
"Dia takut hatinya tersakiti lagi" ucapan Ice menyudahi sesi tanya jawab mereka. Ketiganya terdiam saat menyadari semua perilaku adik mereka yang kelewat batas itu. Perkara hati itu memang susah, apalagi hati yang tersakiti. Hati Solar sakit, karena tidak mendapatkan perlakuan yang dia harapkan. Membuatnya memiliki emosi yang negatif pada semua hal. Kakak macam apa mereka ini? Butuh adik mereka kecelakaan baru manyadari hal seperti ini.
"Apa kita harus menunggu salah satu dari kita bertemu dengan ibu baru menyadari ini?" nada ketus Ice muncul kembali.
"Ya Tuhan... kakak macam apa aku ini?" isakan kembali terbuat dari mulut Thorn.
"Bukan kau saja Thorn, kami semua" Ice memandang Solar dan mengelus pelan rambutnya.
"Mengapa Solar tidak mau memberi tahu Thorn? Thorn kan yang paling dekat dengan Solar!"
"Justru kau sekarang malah lebih dekat dengan Kak Blaze dan Kak Upan serta tumbuhanmu" Thorn tertegun, perkataan Ice sangat nyelekit.
"Aku juga salah. Terlalu memikirkan tidur tanpa tahu situasi rumah"
"Setidaknya kita menyadari ini semua sebelum terlambat" Tumben Blaze menjadi sedikit bijak. Sedikit loh ya.
"Thorn harus minta maaf ke Solar karena tidak peka"
"Sepertinya kita semua harus minta maaf ke Solar deh Thorn"
"Lagi pula wajar kalau kita tidak peka. Solar itu orang yang sangat pintar dalam mengontrol ekspresinya jadi tidak apa kok Thorn bukan sepenuhnya salahmu" Ice memberi pukpuk.
"Thorn berjanji akan menjadi kakak yang baik untuk Solar!" Si moe tiba – tiba saja membulatkan tekadnya yang menguar bagai api mengangetkan kedua orang disampingnya.
"Yosh, aku setuju denganmu Thorn!" Blaze ikut tersulut.
"Setidaknya kita harus memanjakan adik kita yang paling bungsu ini" Ice tersenyum simpul, banyak hal yang udah dipikirkan dalam benaknya agar Solar memafkan mereka. Terdengar erangan dari bawah membuat penasaran.
"Lah? inikan suaranya Bang Gledek?"
"Pasti kena jurus maut dari Tok Aba nih"
"Loh Atok sudah sampai kah?"
"Sudah Thorn, bahkan melihat aksi perkelahian trio Abang kita tuh"
"Loh, kelahi? Kok Thorn nggak diajak!?"
"Ikut berantem gitu?"
"Nggak lah ikut jadi penonton.." dengan polosnya Thorn menjawab membuat kedua kakaknya ingin banget noel.
"Hadeh"
"Oh ya kak, tadi Thorn denger teriakan... itu siapa yang teriak?" Ice tersipu malu sadar kalau yang sedang dipertanyakan itu dirinya
"Nih orangnya disampingku. Abang lu yang mukanya ngeselin ini meledak gegara Abang trio bukannya ngurus Solar, malah bikin onar... cobak aja aku rekam, bakal jadi kenang – kenangan." Kini mereka mendengar rintihan Halilintar yang lumayan keras.
"Mampos lo"
"Kapok mu kapan"
"Heee bukannya kasihan malah mampusin" Thorn sebagai adek yang baik dan moe mengingatkan kakaknya untuk tidak berucap seperti itu pada kakak mereka yang paling tua.
"Biarin"
"Itulah cari gara – gara sama orang sakit, kan kualat" Ice dah nggak nahan ucapan savagenya. Ketiga kembaran pada urutan belakang mendengar deretan anak tangga dipijaki beberapa orang. Mereka terdiam seperti tahu siapa yang akan datang
"Dari suara – suaranya... kayaknya si Trio Tua nih" Blaze menempelkan telinganya ke lantai.
"Trio Tua?" Thorn bertanya. Dia nggak paham siapa trio tua. Tak lama pintupun dibuka oleh Gempa. Wajahnya penuh dengan air mata. Lalu muncul Taufan dengan matanya yang merah terlihat habis nangis disusul oleh Halilintar yang tampangnya kayak orang habis kena puting beliung ditambah telinga merah. Thorn merasa kasihan dengan Gempa. Kakaknya yang satu ini telah menjadi panutannya. Melihat si kakak ketiga menangis membuat Thorn ikut mewek juga. Ketiga adik bertatapan dengan ketiga kakak. Mereka terdiam menilai satu sama lain. Berpikir apakah mereka patut untuk memberi contoh atau diikuti. Tidak ada yang mau membuka omongan. Ketiga kakak melihat kondisi Solar yang kini tak sadarkan diri.
'Benar – benar kakak tak bertanggung jawab kami' Gempa menyayangkan perilakunya. Dia ingin menuju Solar sebelum dihadang oleh Ice yang diikuti Thorn. Tindakan ini membuat Gempa serasa tidak dipercayai lagi oleh adik – adiknya. Saudaranya yang kecil tidak mengizinkannya mendekat. Mungkin saja Solar tidak menyukainya. Melihat ini Taufan dan Halilintar tahu persis kalau Ice masih memegang amarahnya.
"Maaf" satu kata dari si Sulung membuatnya mendapatkan perhatian ketiganya. Yak kata itu sukses membuat suasana yang semula seperti acara uji nyali menjadi tambah mencekam.
'Wut de hek?' Batin Blaze tiba – tiba meriang mendengar kata sakral keluar dari kakaknya yang paling tua nan jutek itu. Semuanya kaget saat mendengar kata maaf dari Halilintar, karena kakak sulung mereka ini jarang sekali mengatakan kata itu, kalau pun iya itu pasti suruhan dari Tok Aba.
"Huh?"
"Maaf karena perlakuan kami yang tidak mencerminkan kakak pada kalian yang membutuhkan bimbingan kami" Gempa tertunduk malu dengan sikapnya.
"Maaf, karena pemikiran egois kami yang tak mau tahu menahu tentang apa yang kalian sangat butuhkan" Taufan menatap ketiga adik terkecil mereka. Trio kecil diam tak bersuara. Mereka bingung harus berkata apa.
"Maaf, karena selalu menjadi pembuat onar di setiap saat" Ice dan Thorn menatap Blaze yang membuka mulutnya. Mereka bingung mengapa nih bocah sengklek nomor dua sehabis beliung tanpa ada angin dan hujan minta maaf.
Menurut Blaze, ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan kata maaf. Saat inilah saat dimana mereka mengakui kesalahan.
"Maafkan Thorn. Thorn tahu Thorn sering merepotkan kalian semua. Mulai saat ini Thorn akan berusaha untuk tidak menjadi beban" Thorn merasa apa yang dilakukannya selalu menyusahkan orang lain maka dari itu ia sering berkebun dan bermain dengan Blaze, kalau dipikir – pikir ia jarang sekali bermain dan mengobrol dengan Solar.
"Kau bukan beban Thorn. Kamu adalah saudara yang kami cintai" Gempa berbicara pelan. Thorn yang mendengar itu memeluk Gempa erat.
"Maaf atas apa yang aku katakan tadi. Aku tidak ingin berkata seperti itu tapi melihat kalian berkelahi tentang hal konyol saat ada sesuatu yang lebih penting itu membuatku muak" Ucap Ice. Jujur saja, awalnya Ice biasa saja tapi mendengar perkataan Halilintar yang menyakitkan cukup membuatnya naik pitam.
"Aku tidak akan memaafkan kalian jika kalian belum mengatakan maaf pada Solar secara langsung" Ice masih memasang wajah dinginnya membuat ketiga kakak sedikit tertekan. Namun dari situ perlahan – lahan suasana menjadi agak ringan walaupun masih canggung. Ice dan Thorn membiarkan ketiga kakak mendekati kasur Solar. Gempa segera memeriksa kondisi adiknya. Dia melihat kompres handuk yang melekat dikepala Solar.
"Panas lagi?"
"Iya kak" Thorn menjawab.
"Udah dikasih obatnya?"
"Mana bisa dikasih kak, orangnya kan tepar" Ice memutar bola matanya.
"Nanti bangun disuruh minum Gem" Taufan mengambil alih sebelum adeknya mengeluarkan kata – kata sarkasnya.
'Gilakkkkk kata - kata sarkas Ice ngalahin punyanya Blaze...' Taufan menggeleng, kaget dengan kesamaan yang Ice dan Blaze punya. Gempa mengangguk mengiyakan usulan Taufan.
Hening menjalar sebelum benak jahil Blaze kumat. Dia masih tidak puas menjahili Halilintar.
"Eh Kak Upan tadi aing dengar teriakan dari bawah siapa yak?" Taufan yang mendengar Blaze masih memanggilnya kakak merasa lega.
'Blaze... ku terhura...' ingin rasanya Taufan mewek, hanya saja saat melihat kode yang tersiar di muka Blaze, ekspresinya berubah menjadi meringis sumringah.
'Wah cocok nih, Nyehehehehe pembalasan biar tahu rasa Kak Hali buat jaga tuh mulut'
"Loh kamu kedengeran?"
"Woh iya Kak! suaranya membahana nyaring sampek Ice tutup telinga dan Thorn terheran – heran" Thorn yang merasa dibicarakan ikut nimbrung karena dia salah satu anggota trio sengklek. Wajah datar Ice mulai menampakkan seringaiannya seperti paham kemana arah pembicaraan ini. Gempa bingung tak paham.
'Apa yang lu berdua rencanakan...' Halilintar merasakan kalau dua orang ini akan berulah sengklek.
"Beh, kalau kau mau tahu sini aku ada videonya" Ketiga adik yang pada saat kejadian tidak ada di TKP melihat adegan Halilintar yang kena serangan maut dari Tok Aba. Halilintar yang mendengar suaranya berusaha mengambil hp Taufan yang oleh empunya dilempar ke Blaze.
"BWAHAHAHAHAHAHA!" Si trio cilik terbahak – bahak melihat video yang diakhiri kata mampus berjamaah. Taufan ikut ketawa mendengar ucapan mereka. Gempa menghela nafas melihat ketegangan mulai mereda sedang Halilintar wajahnya memerah malu karena sedang menjadi bahan tertawaan oleh empat orang.
"Diem kalian!"
"Bweeehhhh~ biarin~" Blaze memancing amarah Halilintar. Gempa melihat raut wajah Solar.
"Berisik ada orang sakit!" Spontan kalimat itu membuat saudaranya terdiam mendadak, sampai ada yang sangat lebay menutup mulut dan tidak bernafas, awas pingsan nak-
"Jangan guyon disini mending dibawa. Tok Aba dah masak tuh untuk kita" Gempa mengusir mereka dari kamar Ice, bahkan yang punya kamar pun ikut terusir. Setelah semua keluar, Gempa kembali mendekati ranjang Solar dan mencium kening si adek.
"Maaf kan kami Sol. Mimpi indah disana"
Makan malam mereka serasa agak hening. Walaupun tadi suasananya bisa dilelehkan oleh gelak tawa Taufan dan Blaze tapi yang namanya masalah sebegitu besarnya nggak mungkin kembali normal dengan cepat. Kegaduhan bagai suara gergaji mesin alias rame tidak tercipta malam itu. Tok Aba menghela nafas nikmat menyantap hidangannya sendiri, tidak memperdulikan para bocah. Maklum lah beliau datang kerumah itu maunya langsung makan, eh ternyata ada drama yang mengalahkan sinetron yang biasanya Tok Aba lihat. Melihat Atok mereka makan tanpa memperdulikan masalah yang ada akhirnya kembaran sepakat untuk menghentikan adu tatap mereka dengan piring. Mereka nggak mau makanan di meja habis dimakan kakek tercinta.
Ludes sudah masakan Tok Aba akibat sangking laparnya enam anak habis perang bacot petang tadi. Suasana pun makin lama makin hangat. Mereka berusaha untuk melupakan pertikaian yang baru saja terjadi. Ya gimana ya? Namanya juga remaja masih labil dengan emosi, yang penting tetap saling menyayangi. Si Trio Jahil mulai mempersiapkan rencana mereka untuk kejahilan yang akan mereka lakukan besok. Si Ice udah nempel di sofa sambil memegang remote dan mengganti siaran televisi. Gempa yang keatas melihat dan mengawasi kondisi Solar. Halilintar bingung mau ngapain. Si pemakai baju hitam ini masih memikirkan semua perkataan tadi. Ia pun memilih untuk pergi keatas menemani Gempa.
"Biarkan aku yang mengawasinya" Halilintar bervolunter untuk menjaga Solar.
Gempa kaget, tidak biasanya Kakak sulung mereka mau dengan sukacita menjaga solar musuh bebuyutannya.
"Kenapa kak? Aku juga bisa jaga solar"
"Kau sudah menjaganya dari beberapa hari yang lalu... Aku tahu Gem, kamu pasti capek" Halilintar melihat wajah panda Gempa.
"Tapi-"
"Nggak papa. Nanti kalau Solar bangun, aku suruh dia minum obat. Kalau panas, ku ganti kompresannya. Ku awasi dia kayak aku mengawasi maling..." Gempa bersweatdrop mendengar ini. "... Jadi tidurlah Gem. Kau lelah, kau butuh istirahat. Lagipula besok kita sekolah dan pasti ada bertumpuk – tumpuk kertas menunggumu diruang OSIS" si ketiga tertua memijat kepalanya.
"Tapi Kak Hali juga sekolah besok!"
"Aku sering begadang. Walaupun nggak sesering nih bocah. Jadi tidurlah! Atau kau mau ku buat pingsan baru tidur?" Gempa mengalah. Dia tidak mau kena sabetan Halilintar yang membuatnya tidur. Bisa – bisa tidurnya tidak nyenyak.
Perlahan kesadaran Solar kembali pada dunia realita. Solar memandang dinding rumah, masih mengumpulkan nyawanya dari tidurnya yang tidak enak. Masker oksigen yang membantunya bernafas ditarik paksa copot.
"Apa yang terjadi?" katanya lirih.
Duduk di kasur, si pemilik mata yang seharusnya silver itu meraba wajahnya bekas masker yang menempel tadi.
"Oh shit! Ada kerutan diwajahku!" pekiknya pelan saat merasakan lekukan aneh diwajahnya yang katanya setampan artis Korea. Kepalanya masih pusing sambil bercenat – cenut ria. Badannya panas bagai sedang di sauna. Butuh beberapa kali kedipan mata baru Solar teringat tentang apa yang sebenarnya terjadi saat melihat wajah kakaknya, Halilintar, yang tertidur di sebelah ranjangnya.
Halilintar tertidur dengan posisi tangannya menopang dagu. Ini baru pertama kali bagi Solar melihat kakak sulungnya tertidur dengan pose seperti itu.
"Hebat juga Kak Hali bisa tidur macam ini... pas banget jadi bahan blackmail~" Solar terkekeh evil mendapatkan bahan meme an untuk saudaranya di dimensinya. Si bungsu melirik ke seberang tempat tidurnya, melihat Ice yang tertidur nyenyak dengan dengkuran keras keluar dari mulutnya.
"... nyatanya walaupun berbeda dimensi yang namanya ngoroknya Kak Ice itu berisik" sebenarnya, Ice tidur itu persis kayak orang mati. Tapi, kalau sudah terlalu lelah beh sound buat pernikahan kalah. Biasanya kalau begini, kembar yang lain siap dengan sumpelan kuping mereka yang berakhir kena teriakan Gempa yang menggelegar di pagi hari. Solar bisa memaklumi, Ice pasti capek habis lomba pita suara tadi. Menghapus pemikiran yang berseliweran kesana – sini, Solar lebih memfokuskan pikirannya dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini (mumpung situasi mendukung)
'Apa yang terjadi dengan diriku? Apa yang telah diriku lakukan hingga para kakak ku yang nggak jelas bisa membencinya sebegitu benci? Dimana sih kau?!" tidak ada yang menjawab pertanyaan. Tersangka yang Solar jadikan suspect masih entah bagaimana kabarnya. Jujur saja si remaja rada narsis ini paling tidak suka membuat onar, karena kerjaan pembuat onar sudah diambil alih oleh Trio Sengklek. Tapi kalau jadinya begini dan lebih parah dari Trio Sengklek, Solar harus menemukan penyebabnya. Solar ingin langsung saja kembali kedunianya dan memeluk manja Gempa karena habis dimarahi oleh Halilintar. Dia hanya bisa berkesimpulan pasti ada alasan mengapa ia bisa disini.
'... hatiku masih nyelekit gegara Bang Gledek... ini kalok nggak dibales nggak bakal lega' dan ya Solar masih mempunyai urusan yang belum selesai dengan si sulung. Dia tidak bisa membayangkan jika itu adalah para kakaknya yang dari dunianya yang berbicara seperti itu, Solar tak bisa membayangkannya. Merekalah tujuannya. Mereka juga tiang – tiang yang menopang semua kewarasannya. Jika satu saja dari mereka menghilang, Solar berjanji akan menghabisi orang yang berani – beraninya melakukan itu. Dia tahu kakak – kakaknya yang lain pasti melakukan hal yang sama.
Si pemegang kuasa cahaya ingin sekali memberikan penghargaan pada dirinya karena bisa memusuhi saudaranya sendiri. Solar itu bukan tipe orang yang bakal bisa ngomong tidak jika berurusan dengan saudaranya, itulah mengapa ia sering kena prank oleh trio sengklek. Sering membantu mama memasak saat tak ada penelitian alias gabut. Suka menyiram bunga dan bercocok tanam dengan Kak Hijau. Berlatih pedang dengan Kak Kilat adalah sebuah keharusan, kalau tidak bisa – bisa dia kena setrum. Ikut tidur bareng dengan Kak Molor. Dia juga menjandi tempat keluh kesah Kak Bara Api. Sebagai gantinya mereka akan siap jika Solar meminta mereka menjadi kelinci percobaan yaaaaa, walaupun dengan setengah hati. Pokoknya Solar menyayangi mereka. Solar tahu sebagai anak terakhir, kakak – kakaknya selalu melindunginya. Segimanapun Solar menolak bantuan mereka, ketika ada musuh, mereka yang selalu memastikan dirinya ditempat yang paling aman. Maka dari itu saat si Surya mendengarkan perkataan si Guntur petang tadi rasanya seperti kasih sayang yang saudaranya berikan padanya itu terlihat bohongan. Solar bukan tipe orang yang dengan cepat terkena tipu daya, tapi sekali Solar tidak mempercayai sesuatu dia tidak akan memberikan kesempatan, itu prinsipnya.
Mata abunya kembali meneteskan air mata mengenang kenangan manis yang dia dan saudaranya lakukan.
'Apa mungkin keluarga ini kurang kebahagiaan? Kemana semua kebahagiaan itu?'
Halilintar kaget. Dia tidak seharusnya tertidur. Si doi sudah berjanjji pada Ice bahwa dia akan mengawasi Solar tapi malah ketiduran.
'Hah... hari ini sangat melelahkan...' Diliriknya adik yang seharusnya terbaring ternyata tengah terduduk dan tertunduk dengan isakan kecil sungguh Halilintar merasa sangat bersalah dengan apa yang ia katakan. Setelah dia mengulang kembali perkataan itu dipikirannya, Halilintar jadi ingin menepuk jidatnya. Nggak salah jika Gempa dan Taufan sangat marah padanya. Halilintar tidak ingin melihat adiknya menangis akibat ulahnya. Si jutek merasa sangat bodoh dan tak berperikehatian saat mengucapkan itu. Halilintar tahu, dia harus memperbaiki hubungan persaudaraan ke semua adeknya apalagi dengan Solar. Diraihnya pundak Solar lalu si sulung memeluk si bungsu. Solar kaget saat ada tangan yang memegang pundaknya. Jantungnya berdetak kencang sangking takut siapa yang Solar diputar perlahan lalu didekap oleh tangan yang sukanya menghajar orang. Baju merah terlihat didepannya dalam penerangan yang minim.
'... Wat de F?! Kak Hali memelukku?! Kesambet apa dia?!'
"Maaf. Maafkan aku. Aku tahu perkataanku tadi sangat menyakitkan. Maaf, aku tadi sangat kesal dan tidak paham dengan perubahan sikapmu. Aku tidak bermaksud berkata itu. Bagaimana pun juga, kau adalah adikku dan aku sebagai kakak akan selalu menjagamu" Entah harus kata apa yang Solar keluarkan, yang pasti batinnya yang semula merasa berat mulai berangsung enteng saat tahu kalau Halilintar tidak serta merta membencinya.
'Tapi aku tetep harus mengerjaimu, Kak... berani – beraninya kau...'
"Maafkan Solar, Kak. Solar tahu, Solar telah banyak membuat masalah dengan Kak Hali dan yang lainnya" Halilintar ber-hm ria mengiyakan perkataan Solar.
Lama mereka diam tak bersuara. Tidak tahu apalagi yang mau dibahas. Biasalah nih duo tipe orang males bacot masalah hati.
"Tidur sana"
'Yah kembali jutek, dahal tadi persis kayak Kak Mama'
"Kak, nggak tidur?"
"Nggak, jaga in kamu. Lagipula besok libur"
"Mmm Kak, besok Senin" Halilintar hanya berdehem malu.
"Lagipun begadang itu nggak baik"
"Tolong beritahukan kepada orang di depanku" Solar tersipu malu. Nyatanya kebiasaan tidak berubah sama sekali, sering jadi kelelawar.
"Bagaimana kalau kakak tidur dengan ku?"
"Huh?"
"Ibaratkan saja jika kakak tidur denganku aku akan memaafkan kakak" Halilintar menghela nafas keras saat mendengar permintaan Solar.
"Ayolah Kak~ Kak Hali sering bobok bareng ama Kak Gempa dan Kak Upan... masa sih bobok sama aku nggak boleh" Maunya sih menolak, tapi ini pertama kalinya Halilintar mendegar kata permintaan dari Solar tanpa ada nada sarcas yang tersembunyi dibaliknya. Apalagi ditambah puppy eyes yang mengarah padanya. Mana bisa Halilintar menolaknya.
Halilintar merebahkan tubuhnya di kasur Solar sedang Solar sedikir terkejut dengan perubahan sikap Halilintar.
'Ku kira bakal nolak... mungkin nih Guntur merasa bersalah dengan yang tadi?'
"Hm? Apa?"
Solar ikut merebahkan dirinya. Dia menatap mata cokelat yang seharusnya berwarna ruby di dunianya.
"Selamat tidur kak" Solar masih lelah jadi ia tertidur duluan. Halilintar melihat ekspresi tidur si bungsu yang terlihat lebih tenang.
"Maafkan aku Sol" katanya lirih. Mereka tertidur dengan dahi yang menyentuh.
Awwwwwwwww~
Brother-fluff bertebaran~
Tunggu kelanjutannya kay~
See you again desu~
