Hai, Readers~

Jumpa lagi dengan Author disini

Gimana hari kalian?

Author harap menyenangkan

Yey, Author membawakan chapter niehhhhhhhhhh

Pada seneng kan~ UwU

Boboiboy milik Monsta

Dah sana baca

"Suka suka diku dong": berbicara

'Etdalah...': membatin/berpikir

Enjoy


Seperti hari – hari biasa pada umumnya, Gempa terbangun dari mimpi anehnya. Iya, mimpi aneh dimana dalam mimpinya adeknya paling terakhir adalah alien yang menyamar jadi manusia dan ingin memakan mereka, sungguh nggak masuk akal.

'Absurd bener mimpiku'

Okeh, balik lagi ke topik pembicaraan yang mana muka Gempa ada bekas air terjunnya...ups? Gempa sudah terbiasa menjadi yang pertama untuk bangun, mungkin tidak untuk hari ini.

"Loh Atok? Sudah bangun?" ucapnya sambil menyiapkan teko air dan beberapa perlengkapan untuk membuat sarapan.

"Halah, Atok kan tiap hari bangun pagi"

'Eh? Ku kira semakin tua umur semakin ingin rebahannya... ternyata nggak toh' ya begitulah pemikiran ngawur Gempa yang masih korep belom cuci muka.

"Bangunkan saudaramu sana, biar Atok yang mulai"

Gempa beranjak membangunkan kembarannya yang lain. Kini dia depan kamar Ice yang di bagi dengan Solar.

"Awwwwwwwwww~"

Siapa sih yang nggak bakal gemez disuguhi pemandangan greget di depannya. Mau tahu? Jadi tuh gini, itu loh si Gledek ama si Bensin bobok dengan muka polozz sambil pelukan kek teletubies~ awwww masa sih kalian yang baca nggak greget?~

"Astaga, nikmat apa yang telah ku dustakan padamu ya Tuhan..." mengusap air matanya sangking terharu, Gempa memfoto keduanya dan akan mengabadikan foto ini disebuah buku yang diam – diam menyimpan foto imoet bin ucul dari seluruh saudaranya.

Gempa menghela nafas lega saat melihat kondisi Solar membaik.

"Kak, ngapain?"

Ingin rasanya Gempa berteriak lalu memukul Ice menggunakan teplon sakti yang selalu ada entah darimana, tapi ia urungkan karena adegan didepannya terlalu indah dan ia masih merasa bersalah atas kejadian kemaren

"Ice, jangan membuatku terkena serangan jantung!"

"Habis Kak Gempa sih berdiri disitu sambil cengar – cengir nggak jelas. Ku kira kakak udah kerasukan virusnya si Trio Sengklek"

"Yang perlu dipertanyakan itu kok tumben kamu udah bangun?"

"Tidur terus salah, bangun pagi salah, mau kakak apa sih?"

"Udah jawab aja mang, sebelum kesabaran saya kadaluarsa"

"Sabar kak masih pagi. Aku udah bangun daritadi karena kepingin lihat adegan ini" Ice harus mengakui kalau Halilintar dan Solar seperti ini lebih keliatan kakak beradiknya.

"Jadi kamu setuju kalau ini sangat indah?" Gempa malah terhura.

"Udah kak, aku mau kebawah nggak mau jadi nyamuk disini" Ice memilih untuk meninggalkan Gempa dan tidak menjawab pertanyaan yang terkesan menjebak itu. Mengapa? Karena dia juga pengen digituin dong. Sedang si Gempa sendiri bingung harus bagaimana dirinya membangunkan si Gledek tanpa harus membangunkan si Surya.

"Abang bangun" Gempa mencubit badan Halilintar yang masih asik tidur. Beberapa upaya sudah Gempa lakukan. Karena pagi sudah mau kehilangan waktunya akhirnya Gempa menyiapkan teplonnya bersiap – siap untuk menampol. Merasakan hawa – hawa yang tidak enak alhasil Halilintar terbangun dan melototi Gempa.

"Kamu niat bangunin atau bunuh orang sih?!"

"Niat bangunin... dengan cara ku sendiri~"

"Stop, masih pagi jan yandere"

"Ih siapa coba yang yandere"

Sedang Solar yang pura – pura masih tidur, ngeri – ngeri sedap merasakan aura yang tadi dikeluarkan Gempa.

'Anjrit! Serem oyy! Sejak kapan Kak Gempa jadi psiko gini?!'

"Bolos boleh nggak?"

"Anda nantang maut kena silatnya Atok?"

"Nggak mau, tapi siapa yang bakal jaga Solar?"

"Solar, bisa jaga diri kok Kak"

Kedua kakak hampir mau mentung Solar.

"Solar! Jangan ngagetin orang! Cukup Ice aja yang ngagetin aku!"

"Untung gua kagak jatuh dari dipan, bisa benjol dahi"

"Eheq maaf" padahal memang niatnya ingin mengagetkan mereka berdua.

"Apa kau baik – baik saja?" Gempa mulai menginspeksi keadaan Solar diikuti oleh Halilintar.

'Vuset nggak usah diglare juga Bang, aku kan jadi takut' Solar terdiam.

"Kenapa Sol? Dada mu sakit? sesak?"

"Kepala pusing? Demam atau-..."

Sebelum kedua kakaknya tambah panik Solar memotong mereka.

"Emm, nggak Kak. Solar oke, cuman..."

"Cuman apa?! Cepet ngomongnya!" Gempa dan Halilintar ngomong bersamaan.

"Kakak kok belum siap – siap berangkat sekolah? Nanti Atok-.."

"Gempa! Halilintar!" bak memiliki indra keenam Tok Aba memanggil cucunya yang belom turun dari atas.

'Baru juga mau diomongin...' ketiganya membatin. Duo kakak keluar dengan tergesa –gesa sedang Solar yang melihatnya terkekeh geli. Kini fokus Solar beralih melihat isi kamarnya.

'Tidak ada yang beda' Dia melihat bingkaian foto kebersamaan mereka yang berbeda dari yang ada di ingatannya.

"Aku tidak pernah tahu foto ini" Solar mengambil figura itu dan melihat wajah dirinya.

'Tidak ada perbedaan, tapi mata itu terlalu gelap. Apa yang terjadi padamu diriku? Entah mengapa aku mempunya firasat buruk'

"Solar nggak sarapan kah?" Seseorang berkata di belakanngnya membuat si Lampu hampir saja mengeluarkan sinarannya.

"Kak Thorn! Ketuk pintu dulu napa!?"

"OwO? sowwyyyy, habis pintunya ke buka"

'Apa Solar benar – benar lupa dengan Thorn?' seluruh isi rumah diberitahu oleh Taufan dan Gempa kalau Solar memiliki kemungkinan lupa ingatan. Thorn merasa gundah saat melihat kembarannya berperilaku tak seperti biasanya. Bukan maksud dia tidak menyukainya, malah sebaliknya. Thorn sangat sangat menyukai Solar yang ini.

"Iya kak, ini juga mau kebawah..."

"Mau Thorn gendong kah?" Solar melirik kearah Thorn dengan tatapan jangan-bercanda-body-pendek-kek-gitu-mau-gendong-gua-ya-nggak-dong-harga-diri .

Mereka turun kebawah dengan Thorn yang sedikit depresot abis dapet tatapan Solar dan berkumpul dengan kembaran lainnya.

"Pagi, Tok" Tok Aba sama dengan yang lainnya kemaren, terkesima sebelum menjawab dengan seyuman.

"Pagi juga, Solar. Bagaimana kondisimu?"

"Sudah enakan, Tok. Solar boleh ikut sekolah?"

Serentak saja berbagai penolakan meluncur dari kembaran yang lain, membuat Solar kena semprotan penuh makna dari kedelapan orang yang mengelilinginya.

'Oh tidak wajahku yang cakep!'

"Kau tuh ya, suka nekat aja!" mata Halilintar menyipit angker.

"Hiisssss mau kuanter ke RS lagi!?" Taufan tersenyum tapi nggak ikhlas.

"Baru juga kemaren dateng terus pingsan!" Gempa menyentil kening Solar.

"Nanti kalok kumat gimana!?" Blaze bercecak kesal.

"Mohon kesadarannya" Ice menatap datar.

"Hiks, Thorn nggak mau Solar kenapa – napa..." lah yang ini malah udah mewek duluan.

'Aku tuh dah kenapa – napa bang...'

"Istirahat dulu lah. Jangan memaksakan diri. Atok dengar kau baru sadar kemaren dan langsung pulang. Bukankah lebih baik jika kamu membiarkan tubuhmu berinteraksi lagi setelah kejadian kemaren?" para kembaran mengangguk mengiyakan ucapan Atok.

"Baik, Tok" Solar meneguk ludah melihat Tok Aba mengeluarkan tatapan sengitnya.

'Nyawaku merasa terancam... sejak kapan Atok bisa semengerikan ini?!'

"Tok, kami pamit kesekolah dulu. Jangan maksakan diri Sol!" Gempa berucap sambil mengambil tasnya.

"Awas kalok nggak ada dirumah, bakal ku kerjai bareng Blaze dan Thorn" Taufan mengobrak – ngabrik rambut Solar diikuti oleh Blaze yang merangkulnya dan Thorn yang memeluknya.

"B-berat..."

Ice hanya menatapnya, tapi Solar sudah tahu apa yang bakal dia sampaikan.

"Awas nanti pas kami dateng nggak ada, bakal ku sekap kau" setelah berucap yang lebih ke mengancam itu, mereka akhirnya pergi.

'Eh? Mengapa tiba – tiba mereka kek gitu? Bukannya kemaren mereka kayak mau perang dengan ku? Apa yang kulewatkan? Seharusnya kupasang cip gosip untuk menangkap pembicaraan mereka'

Setelah urusan rumah beres kini giliran Tok Aba yang pamit.

"Maaf ya, Sol. Atok nak pergi ke kedai dulu"

"Nggak papa, Tok. Mau Solar temani?" Solar menampakkan wajah – wajah melasnya yang pingin dilemparin piring.

"Kan tadi Atok bilang apa?" Senyum indah sekali terpatri kembali dan lagi – lagi bro, Solar bergidik ngeri.

"Iya, Tok. Solar bakal dirumah. Peace"

"Bagus, nanti Atok balik kerumah beberapa jam kedepan"

Kini tinggal si narsis seorang yang berada dirumah.

"Rumah ini menjadi milikku! BWAHAHAHAHAHAHA! Saatnya operasi geledah kamar dilaksanakan!"


Bersambung~

OwO? Gimana?

See you again desu!