Hola, Readers~
Ketemu lagi dengan Author
OwO makasih mau nungguin kelanjutan fanfic ini
Hayok kita mulakan!
Boboiboy milik Monsta
Alur milik Author
"Mau dibawa kemana hubungan kita?~": berkata
'Nanggung!' : berpikir/membatin
Enjoy~
"MANA SI CEBONG PUTIH?!"
Diikuti dengan kilatan merah menggelegar dan badai yang bergemuruh... yak begitulah teriakan yang terdengar dari markas besar T.A.P.O.P.S memekak telinga yang mendengarkannya. Semua makhluk hidup di Stasiun bingung, panik, dan ricuh. Bagaimana tidak? kembar Boboiboy seperti biasa membuat keonaran dengan tingkat yang lebih spektakuler. Biasanya yang onar cuman TTM tapi kali ini si kembar tujuh itu kompak melakukannya secara bersamaan. Dengan kesemewarutan luar biasa mereka yang memiliki paras sama itu hanya memikirkan satu hal. Hayo monggo ditebak~
Bagi kalian yang bertanya siapa yang berteriak dengan background mengerikan ala film horor tadi itu adalah Halilintar yang lagi kerasukan sebal, plus marah, plus khawatir karena si bungsu-yang-nggak-jelas-hidupnya itu masih belum ditemukan sejak tadi pagi. Tatapannya saja bisa membuat semua orang yang sedang berjalan langsung kabur entah kemana, apalagi ada yang berani bertanya pasti tuh penanya sudah bertemu dengan yang maha kuasa.
Oh sis and bro kepanikan Halilintar masih dalam takaran kewajaran, dah jangan tanyakan yang lain... Hah? kalian mau tahu? Jadi tuh...
Taufan mendatangkan Angin Topan di macam benda terhempas keatas lalu jatuh bagai hujan lokal yang dapat dipastikan membuat siapa saja dalam radiusnya kena penyakit kepala benjol.
"Woy turun lu, Monyet!"
Gempa tanpa sadar mengetuk lantai T.A.P.O.P.S menggunakan kakinya, stasiun dibuat berguncang olehnya. Ditambah lagi lantai yang penyok dan staglatit yang tiba – tiba bermunculan.
"Hadoy nih tempat kek pegunungan lama – lama"
Blaze berteriak memanggil nama Solar dengan beribu nama panggilan yang tidak karuan. Api membara disetiap langkahnya, melelehkan besi dan baja.
"Hahhhhhh, lantai T.A.P.O.P.S meleleh..."seorang remaja berhijab menghela nafas panjang.
Ice hanya diam. Ya, dia diam. Hanya menatap ruangannya bersama Solar. Tatapannya dingin. Ruangan itu juga ikut dingin. Satu ruangan membeku hanya dengan tatapannya saja.
"Hayoyoyo, tolong sapa aja stop si Kebo!"
Cafetaria penuh dengan tumbuhan menjalar. Thorn terisak dan tumbuhan kesayangannya, si memakan meja dan kursi lalu melemparkannya ke semua orang yang berani mendekati si Gemoy.
Total keseluruhan yang terjadi adalah KEKACAUAN!
Ochobot, si bola kuning yang bisa terbang, menatap datar sedatar datarnya kejadian yang terjadi. Dia sudah angkat tangan, terlalu lelah untuk menenangkan si mereka berusaha mencari Solar supaya kembar yang lain berhenti memporak – porandakan markas. Kan nggak lucu kalau Komandan Koko Ci datang terus melihat ini. Bisa – bisa didesertasi semua orang di dalam Stasiun. Sayangnya apa yang mereka cari nggak ketemu kek kutu yang sembunyi di rambut, susah cuy!
"Hoyyyyyyyy! Mana Solar wey!?"Gopal memegangi kepalanya, dah stress dia.
"Hancur lama – lama nih Stasiun!"Fang berusaha menghentikan Taufan dengan Bayangannya.
"Solar! Dimana lu?!"remaja berkamacata dengan kecepatannya memeriksa setiap ruangan.
"Dimana terakhir kali kita menemuinya?" Yaya mencoba mengingat –ingat terakhir kali dia bertemu dengan Solar.
"Oh... kita bakal dihajar Laksamana Tarung.."Gopal pasrah dengan apa yang terjadi.
"Kita bakal dipasung di atap Stasiun ini ..." Mulut Fang dah berbusa duluan.
Terbukalah pintu utama memperlihatkan Kokoci yang baru sampai di markas tercintanya. Betapa kagetnya dia. Melihat stasiun yang dia banggakan, hancur bagai dihantam asteroid nyasar. Gopal, Fang, Yaya dan Ying menyambut Kokoci lalu terdiam ketakutan.
'Alamat death kita'seru para makhluk yang merasa jadi korban dari perbuatan kembaran.
Amarah tak terbendung, Kokoci berteriak sekencang toa bell space ship sampai – sampai kacamata hitam tersayang pecah.
"APA YANG TERJADI DISINI?!"
Untungnya para manusia bermarga Boboiboy berhenti merusak fasilitas dan menyadari bahwa nyawa mereka dalam bahaya.
'Alamak mati kita!' batin berteriak serempak, sungguh keajaiban kembaran!
Beberapa jam berlalu setelah kejadian yang tak mengenakkan menurut Koko Ci dan menakutkan menurut para kadet, mereka semua berkumpul di satu – satunya ruangan yang selamat dari amukan si kembaran. Para kadet duduk bersimpuh ala jepang membuat kaki mereka sakit dan kesemutan.
"(TvT) Owwwwieeee kaki Thornie sakit..."
Tidak ada yang berani menatap tatapan seram Koko Ci tanpa kacamata.
"Ehem, jadi bisa dijelaskan mengapa Stasiun kayak habis diserang perompak lalu di hujani oleh asteroid?" Koko Ci menghela nafas kasar berharap sekali saja tidak ada kekacauan di Stasiun.
"Ini semua salah mereka!" Fang, Gopal, Ying, dan Yaya melirik tajam kearah kembaran. Mereka yang dilirik malah santai bahkan Blaze masih sempat ngupil, oke yang lain menatap jijik. Gempa menjitak Blaze supaya fokus dan berhenti memberikan image jelek keluarga Tomato.
"Oh jadi kalian menyalahkan kami?' Halilintar menantang teman – temannya, masih marah doi.
Teammate si kembar memberi tatapan ya-iyalah-terus-siapa-lagi-anjir!
"Tidak ada yang memberitahu kami kalau Solar dapat misi" Ucap Gempa. Masalah adeknya yang paling terakhir itu sangat rawan. Solar itu pinter tapi teledor. Susah emang mentelengi anak satu itu.
"Hayya, tak tahu lah!" Ying berkata.
"Iya, aku tidak bertemu dengan Solar di dapur" yang lain bisa membayangkan apa yag Yaya lakukan disana dan mereka tidak mau sakit perut.
"Aku nggak nemu di toilet" mereka semua menatap datar ke arah Gopal. "Ehe, canda"
"Boboiboy, aku tahu persis kalau Solar nggak ada dan nggak ngambil misi" Fang menjelaskan.
"Terus kemana si maniak buku?!" Blaze berdecak, kesal karena tidurnya diganggu oleh Gempa dan Halilintar yang beragumen.
Mereka semua melirik ke Koko Ci yang menyeruput kopinya. Untungnya cawan kesayang Komandan kotak tidak ikut menjadi korban. Kalau iya... anggap sajalah kalian jadi umpan alien monster.
"Apa lihat –lihat? Kalian tahu kalau aku baru dateng disini dan melihat markas berserakan"
"Ya masak diculik... keknya impossible banget" Blaze mendengus.
"Emang ada yang mau nyulik dia?" Ice meminum es teh panasnya lalu melanjutkan "lagi pun, tadi malam aku melihatnya tidur kok"
"Lah terus?" Taufan menatap heran ke adeknya yang masih sempet bikin minuman. Cuman satu lagi! Kan dia haus juga!
"Pagi pagi udah kagak ada. Ku kira dia bareng sama kalian atau berbuat hal yang nyeleneh (bereskperimen) tapi kalian juga nanyak in dia, kan bingung saya" Ice menjawab dengan santuy.
"Terus siapa yang terakhir kali Solar temui?" Ochobot mencari keberadaan Solar lewat CCTV.
"Kenapa kamu semua ngumpul?" Papa Zola baru nongol sambil nyemil makanan.
"Kami sedang berbicara tentang Solar lah kapten"
"Oh Solar, bukannya terakhir kali sama Nut?
"Kenapa nggak ngomong dari tadi!"keenam kembaran berteriak bersamaan. Mereka merasa ketriggered saat Papa Zola mengabarkan dengan santuy tanpa rasa bersalah sama sekali. Lalu penelusuran dilanjutkan dengan meneriaki nama Nut. Mereka berpencar mencari si biang keladi yang membuat pagi mereka penuh dengan kekhawatiran.
"Saatnya menghunting alien berambut hijau dimulai~"
"Turut berduka cita dengan orang yang bernama Nut" Gopal menghapus air mata Cattus yang oleh si kucing tangannya dicakar.
"Miaw!"
"Aw!"
"Ayo cari Nut juga sebelum jadi pepes dia nanti" Ochobot terbang diikuti oleh teman – teman Boboiboy.
"Cepat temukan dia sebelum kembar enam itu menemukan Nut duluan! Dia satu - satunya teknisi yang kita punya kalau modar siapa yang bakal memperbaiki stasiun sama pesawat angkasa?!"Koko Ci berkomandan.
"Yailah saya kira komandan kasihan sama dia"
"Padahal pagi ini aku mau masak biskuit..."
Semua yang mendengar, bersyukur berjamaah kepada Solar karena telah menyelamatkan pagi mereka dari biskuit Yaya. Papa Zola yang mau makan nasi lemaknya pun terhenti karena ditarik oleh Gopal dan Fang.
"Wey! jangan tarik kebenaran dari makanan kebenaran yang sangat enak!" Alhasil dia juga harus melepaskan makanan terenak itu, kasihan.
Si terduga tersangka yang mereka cari kini sedang bersembunyi di tempat yang paling tidak terduga berharap nyawanya masih bisa diselamatkan oleh sang maha pencipta. Sebenarnya Nut itu sedari tadi melakukan segala cara mencari keberadaan Solar, tapi orang yang ditunggu – tunggu tidak muncul dan membuatnya memutar otak. Nut itu suka menggunakan kamera tersembunyi bahkan CCTV kalah canggih dengan kameranya. Namun meski menggunakan kamera kesayangannya pun keberadaan Solar nihil tidak ditemukan dimanapun. Alat pelacak juga tidak berguna. Samar – samar Nut bisa mendengar keributan menandakan bahwa para kakak dari orang yang mereka cari tengah memporak – porandakan stasiun, pastinya mencari dirinya.
"Mati aku" hanya pemikiran itu yang muncul dipikiran Nut yang masih mencoba berharap bisa menemukan Solar.
"Sol kamu dimana? Nyawaku terancam ini.." ucap Nut mengutak – ngatik laptopnya sambil menggigit jarinya karena sangking takutnya dia bertemu para kembaran.
"Alamat jadi pindang aku Sol..." Nut mulai membayangkan yang tidak – tidak tentang nasibnya yang sebentar lagi ditemukan oleh seseorang.
"*w* Akhirnya ketemu...eheq~" Nut mendengar bisikan malaikat pencabut nyawa di tempat persembunyiannya dan menemukan Thorn dengan senyumnya yang, oh sangat manis.
"HUUUUUUUUUUUWWWWWWWWWWWWWAAAAAAAAAAAA!" teriakan Nut menggelegar se antero stasiun T.A.P.O.P.S
Hayo tebak siapa yang dari tadi nggak muncul~
Apakah Nut bakal disate? Atau akan dipepes?
Nantikan kelanjutannya di Chapter berikutnya~
Sampai jumpa~
