YOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO, Readers terhormat!

Jumpa lagi dengan Author

Nyehehehehehe, pada nungguin kan? Kan? Kan?

Author cuman lewat dan mau nempelin nih chapter baru

Penasaran?

Baca kuy

Boboiboy milik Monsta

"Healah, setan" : berbicara

'Utang mana lagi ini?' : membatin/berfikir

Enjoy~


"Huuu... Huuu... apa salah dan dosaku, sayang?"

Mungkin kalian yang membaca sekarang mempunyai opini untuk bernyanyi ria dengan kutipan diatas, tapi sayangnya tidak disetujui oleh makhluk poloz satu ini.

"Sayang, sayang, rambut lu ijo!"

Semua orang menatap nanar Thorn yang habis berkata diluar konteks kepolosannya, kecuali Gopal.

"Salah kau banyak Nut" Gopal seenak jidatnya yang luas kek lapangan bola berkomentar. "Kau ada utang ke aku belom bayar"

"Oy itukan kau yang sering utang ke Tok Aba" Si maniak lobak merah nggak kalah nyelekitnya berkomentar.

"Dah jan banyak bacot kalian, jadi nggak kita nyate nih makhluk?" Halilintar dah siap dengan pedangnya.

"Atau dipepes?" Gempa dengan sarung tangan tanahnya mau geprek Nut, tak lupa Thorn siap dengan cabe dan Blaze sebagai kompornya.

"Eh bentar! Aku belom siap ambil daun pisang di kebun T.A.P.O.P.S!" Taufan terbang keluar mencari bahan buat masak.

"Perlu dicuci dulu kan? Nih banyak air" Ice dah stand by bawak air.

"Tolong, diku ini dari kembaran!" Nut merengek ke Ying.

"Ey! Kalian ini, nak masak kok tak ajak – ajak?!" Ying malah memanas – manasi.

Yaya dan Koko Ci bersweatdrop barengan.

"Dahlah tuh, mari kita dengarkan penjelasan makhluk malang ini"

"Terima kasih, Komandan Koko Ci. Saya terhuraaaaaa" Nut memayun mayunkan bibirnya berharap yang lain juga ikut luluh, tapi nyatanya mereka malah pingin banget nampol nih makhluk.

"Jadi tuh, aku kan pintar dan rada songong..."

Ingin rasanya semua orang yang berkumpul ngeroyok nih alien berjamaah. Untungnya masih sabar. Eh keknya dah nggak sabar pingin ngelakuin.

Lirikan tajam dari si kembaran menghentikan flexing Nut yang berujung nyawa terancam.

Lirikan penuh kasihan (dari mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah) membuat Nut mewek.

Mungkin hari ini nasib Nut bener – bener apes, kasihan sekali nih makhluk. Dah hampir kena sabetan pedang, hampir digoreng, dibekuin, dipenyet, mau dijadiin makanan tumbuhan, abis itu mau dicuci pakai tornado. Kurang merana apa lagi coba?

"Ampun kak, bang, kang, mas, dek, om, paman, apalah itu. Aku nggak buat salah... aku hanya ikut – ikutan saja" ucap Nut ketakutan duduk bersimpuh dihadapan semua orang, seperti akan di pasung. Si Moe lah yang menggeret Nut untuk bertemu dengan yang lainnya. Saat teman – teman yang lain melihat Thorn, mereka buru – buru menjauh karena Thorn menampakkan senyumnya.

"Nyembelih nih alien dosa nggak sih?"

"Nggak bang sembelih aja!" Taufan menghalalkan Halilintar untuk melakukan tindakannya segera.

"Huwwwwwwwwwwaaaaaaaaaaa tolongggggggg hiks"

"Lebih baik kau jelaskan, apa yang terjadi dengan Solar sebelum kesabaranku menghilang" Ice dengan nada dingin memandang Nut seperti akan menjadikannya sasaran panas es.

Pedang Halilintar dan Cakram Api dengan senang hati mendekati Nut yang malang. Ditambah lagi tepukan mematikan Gempa dan Akar Duri yang siap memilitnya jikalau nih makhluk mau kabur.

Nut meneguk ludahnya. Pemikirannya dah muter kemana – mana. Dia tidak pernah menyangka kalau hari ini bisa jadi akhir hidupnya.

"Anuu... itu...tadi...ehmmmmmm" Nut tidak tahu harus berkata apa dia terlalu ketakutan saat enam mata mendelik ke dirinya.

'... ya lord tolong hambamu ini...' Nut udah komat kamit didalam hati menunggu seseorang yang berhati mulia mau menyelamatkannya dari para macan yang kelaparan.

"Dah lah tuh Boboiboy!" Koko Ci mengambil alih. Mata Nut berbinar saat sang komandan menolongnya. Harapannya menjulang selebar galaksi.

"Bagaimana bisa kita mau interogasi dia jika kalian sudah menusuk dia dengan tatapan kalian? Dipasung aja kan enak" hancur sudah harapan Nut saat mendengar kelanjutan kalimat yang tertunda tadi. Koko Ci tidak tahu bahwa dia sudah mem'break' (menghancurkan) kokoro salah satu anggota tersayangnya.

"... atau kalian mau kusiram air biar tenang?" Kokoci meminta untuk para kembaran mendinginkan otak mereka dulu. Sebenernya tinggal minta Ice untuk menyiram mereka saja, Koko Ci dah menghemat persedian air T.A.P.O.P.S untuk 2 bulan kedepan.

Pelit amat kau komandan -_-

"Saya udah punya kuasa air... jadi nggak butuh disiram" nah tersindir kan yang punya kuasa air. Ice mengambil nafas dalam dalam. Seharusnya dia yang paling kalem dari semua kembarannya tapi sepertinya ikatan anak kembar membuatnya merasakan apa yang dirasakan yang lainnya. Panik, marah, dan kesal... atau ini perasaan si bungsu yang menghilang entah kemana? Who knows? kembar yang lain mengikuti contoh Ice dan menjadi agak tenang.

"Mulakan" alhasil sidang pun dimulai dengan Nut sebagai pelaku dan korban yang masih belum ditemukan.

"Jadi begini... saya punya ide super duper hyper extremely-..."

"Mohon intronya diperpendek, atau kau ingin kena tamparan golem tanah?"

"Eemmmm... oke. Jadi tuh begini, sebagai sesama pemilik otak encer dan jenius, saya dan Solar punya ide untuk membuat mesin melihat alternate dimensi atau dimensi paralel atau dimensi lain atau..."

"Bisa nggak sih yang simpel? Maksudnya yang bisa masuk ke otak aing ini! Dah ngepul please!" Blaze heboh sendiri karena nggak paham dengan yang dimaksud.

"Mangkanya punya otak itu terdidik sedikit dong"

"Kayak otak lu terdidik aja, Pal. Otak lu kan sebelas dua belas ama si kompor"

"Meh sini mulut kau tuh Pang, Gopal" si pemilik kuasa api lagi ditahan ama si pemilik kuasa air.

"Aku tuh capek, jadi cepetan jelasinnya sebelom nih stasiun kujadikan kastil Elsa"

"OwO boleh tuh Kak Ice, Thornie pingin maen didalem kastilnya Elsa"

"Tolong fokus ke topik pembicaraan" si hijabers pink berusaha mencairkan suasana yang mulai panas kembali.

"Ekhem, jadi tuh untuk membuktikan dimensi lain ada... kami membuat projek besar bernama 'Situ punya paralel atau kagak?'.." Taufan menyela "Nama projek aneh banget" disambung dengan Gempa yang menyumpel mulut Taufan menggunakan daun pisang yang dibawanya tadi.

"... nah udah berjalan kira kira 2 bulan. Malam kemaren, kami menemukan sebuah penemuan besar! Ada dimensi yang hampir sama dengan yang kita punya. Girang nggak girang nggak?! Girang dong kami!" Nut ketawa gajel.

"Dah rada nih alien" Ying berfikir kalau temen – temennya nggak ada yang beres.

"Ssstttt! Maka dari itu si manusia-yang-katanya-handsome itu langsung memberikan titik koordinat pada tempat itu menggunakan kuasanya.." saat ucapan ini terlontar beberapa kembaran menggeram kesal karena paham dimana sumber dari semua masalah "... dan saya sebagai makhluk yang masih waras nggak kek dia, belom sempat menghentikan Solar. Si dia malah ngomong 'santuy everything will be fine' dan kalian tahu kan sekarang orangnya menghilang..."Nut menjelaskan sebisanya dengan nada yang memelas dan memberikan kesan bahwa semua ini bukan salahnya tapi setengahnya ditanggung Solar.

Terdiamlah para makhluk penghuni ruangan itu.

"OwO? Lalu bagaimana bisa kalian menemukan dimensi lain yang hampir sama?" ucap Thorn yang polos

"Itupun hanya sebuah kebetulan dari sekian miliar keberuntungan. Si Pertamax kek main lotre terus tiba – tiba nemu aja. Katanya dia merasa ditarik pada sesuatu" Nut menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia juga bingung penjelasan si bensin kek gimana malam kemaren.

"Kenapa sih adek kita yang satu itu pasti berakhir na'as dengan eksperimennya?!" Taufan mendesah capek. Padahal bukan dia aja yang ngurus tuh bocah. Ada enam orang lainnya!

"...bisa nggak sih tuh cebong nggak bikin perkara seheboh ini?!" Halilintar yang esmosi meluapkan kemarahannya. Aliran listrik dah keluar akibat jengkelnya dia dengan si bungsu. Untungnya masih belom ada korban yang kena setrum.

"Astaga... baru juga nggak diawasi sudah bikin perkara" Gempa megang kepalanya yang mulai berkedut.

"Terus si Swag sekarang dimana?" tanya Fang

"Ya jelas di dimensi lainlah! Kan udah dijelasin!" giliran Blaze yang membentak. Lah tumben nih anak konek otaknya?

"Mungkin maksud Fang itu di dimensi mana Solar berada sekarang?" Koko Ci ikut nimbrung, untung saja Laksamana Tarung sedang tidak ada di station... bisa – bisa tambah heboh. Tapi emang bener sih penemuan mereka berdua membuatnya penasaran.

Semua mata kembali pada Nut.

"Ahhhhh... hahaha kalok itu aku tidak tahu... cuman Solar yang tahu..." Nut tertawa hambar.

Semua yang mendengar itu serasa mau jitak nih makhluk.

"kalau Solar menggunakan teori berganti tempat...misalnya dia terlempar ke dimensi lain, seharusnya 'Solar' dari dimensi itu ada disini! tapi dimana dia?" tanya Ochobot yang sedari tadi diam karena merasa ada yang janggal.

"Lah iya... bener juga omongan situ" Nut baru sadar dengan omongan Ochobot. Merasa sedikit tercerahkan dengan penjelasan simpel tadi.

"Spekulasiku sih, pertama Solar ama Solar berada di ruang antar waktu dan nggak bisa keluar dari situ. Spekulasi kedua Solar kesasar ke dimensi lain yang tidak ada dirinya. Dan yang terakhir... kemungkinan, Solar dari dimensi lain itu hilang atau... meninggal" semua orang terdiam mendengar ucapan Nut.

"Aku nggak akan percaya" Ice berucap dengan nadal final.

"Nggak mungkin!" Kali ini amarah Blaze benar – benar tersulut.

"Mana ada adek lebih dulu pergi daripada kakaknya!" Halilintar tidak akan mau menerima kenyataan bahwa salah satu adeknya tidak ada. Tidak. Tidak akan pernah.

"Kemungkinannya ada..." sepertinya itu malah membuat naik pitam kembaran yang belom bersuara.

"Cukup. Apa kita bisa kesana?" Koko Ci mengambil alih.

"Ummmmmmmmmm, jangan marah okeh... portalnya rusak... hehehehe" Nut mundur langkah seribu.

Dan terjadi lagi~ stasiun T.A.P.O.P.S terguncang kembali.

"NNNUUUUUUUUUUTTTTTTTTTTTTT!"


Bersambung

Mari kita doakan Nut tenang dialam sana

Sampai jumpa lagi~