Desa Amegakure

Di puncak tertinggi Desa Hujan ...

Sring! Blarrr!

Sebuah cahaya kuning melesat cepat dan meledakkan salah satu sisi Menara Tertinggi di Amegakure itu. Tampak sebuah lubang cukup besar menganga disertai dengan asap-asap hitam membumbung tinggi ke udara

Di satu sisi desa ...

"Hei, apa kau mendengar sesuatu?"

... para penduduk desa Amegakure, baik yang berada di luar ruangan maupun di dalam ruangan, tampak mendengar suara sebuah dentuman besar.

"Apa itu tadi?"

"Suara yang cukup keras."

"Apa kalian juga mendengarnya?"

"Iya ..."

"A-apa desa kita sedang diserang?"

..."

Meski diredam oleh air hujan, suara ledakan tadi sampai terdengar ke telinga penduduk desa. Beberapa penduduk desa tampak sedikit panik. Namun setelahnya, mereka tenang kembali. Hal ini karena mereka tahu saat ini desa masih aman-aman saja. Dibuktikan dengan tidak ada tanda-tanda alarm bahaya berbunyi.

... Ya, walaupun begitu, mereka masih belum tahu suara tadi itu suara apa.


Tap.

"Siapa kau?"

Sambil memegang sebuah kunai, perempuan berambut biru itu melindungi pria berambut merah tua di belakangnya. Dengan waspada, perempuan itu dengan tajam menatap sesosok pemuda berambut hitam di hadapannya.

"Dia berbahaya ..." batin pria di belakang perempuan itu.

"Namaku, Menma. Tujuanku datang ke sini adalah untuk bergabung dengan organisasi kalian ..." Sosok menghentikan ucapannya. Tak lama setelahnya, dia melanjutkan kalimatnya diikuti oleh suara guntur hujan yang menggelegar dengan kilat terang di belakang sosok pemuda itu.

"... Akatsuki."

.

.

.


Di tepi danau ...

Tap ...Tap ...

Terdengar suara derap kaki.

Tap.

Seorang pria berjubah hitam dengan corak awan merah, berdiri tegap di samping pemuda laki-laki yang sedang duduk di tepi danau. Tanpa mengalihkan pandangannya, pria itu membuka pembicaraan dengan pemuda itu.

"Tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini," ungkap pria itu.

Pemuda di sebelahnya itu, tertawa kecil mendengarnya. "Apa ini mengejutkanmu, senior? Ya, senior harusnya sudah tahu, kalau dunia ini penuh dengan kejutan ..."

"Ya. Ini cukup mengejutkanku," jawab pria itu.

"Oh sokka?"

Dan pembicaraan pun terhenti sampai di sana. Membuat suasana menjadi sunyi. Keduanya sibuk dengan dunia masing-masing. Sang pria yang terdiam dengan berbagai pemikiran di benaknya dan si pemuda yang tengah duduk santai dengan mata terpejam.

"Apa kau yakin dengan ini?"

Pertanyaan yang cukup ambigu. Namun, masih dimengerti oleh si pemuda, dia menjawabnya dengan suara santai. "Ya."

"Kau mungkin akan bertemu dengannya, tapi dalam situasi yang sedikit berbeda ..."

"Aku tahu itu, senior. Aku tahu. Namun, kupikir itu tidak masalah, jika ini deminya, aku rela melakukan ini meski harus membuat kami bertemu sebagai musuh ..." jawab si pemuda dengan santai.

"Kau kakak yang buruk, Naruto ..."

"Katakan itu pada dirimu, Itachi-senpai ..."

.

.

.


.

Di suatu tempat yang gelap ...

Terdapat sepuluh sosok, delapan di antara bertubuh transparan. Mereka berdiri di masing-masing jari dari sebuah patung besar yang saat ini tengah menghisap Chakra Merah yang keluar dari seonggok tubuh seorang pemuda berambut merah.

"Sepertinya ada yang mengikuti kalian, Deidara, Sasori," ucap sesosok pria transparan yang memiliki mata dengan pola riak.

"Heh, Bodoh!"

"Dasar teledor!"

"Apa? Siapa yang mengikuti kami, un? Apa dia? Tidak. Aku pikir dia sudah mati, un," ungkap pria berambut kuning.

"Sepertinya bukan, aku yakin dia sudah mati. Mungkin ini dari tim penyelamat, karena orang yang kita culik ini adalah seorang Kazekage," ucap sesosok bertubuh besar. "Apa perlu kami yang membereskannya?

"Itu tidak perlu. Kalian berdua sangat dibutuhkan di sini. Chakra dari delapan orang tidak akan cukup untuk mempertahankan segelnya. Jadi, aku akan mengirim anggota kesebelas kita," jelas sosok itu.

Semua menoleh ke sisi kiri, mereka melirik seorang pemuda dengan tubuh transpara yang sedang bersandar di tepi tembok dengan mata terpejam. Anggota Kesebelas yang selalu menjadi penonton ketika waktu ritual pengeluaran Bijuu sedang berlangsung.

Menma ...

"Aku serahkan mereka padamu, Menma."

"Yokai, Taichou ..." sahut Menma dengan tubuh transparannya yang Perlahan akan memudar dan lenyap seketika.


Di sebuah pohon ...

"Umm ..."

Seorang pemuda dengan rambut gelap mulai membuka matanya. Nama pemuda itu, Menma. Saat ini dirinya sedang berada duduk bersila di bawah pohon besar ... Menma mulai mengangkat tubuhnya dan berdiri.

"Saate! Waktunya beraksi ..." ucapnya.

Dan ... menghilang.


Tap. Tap. Tap.

"Semuanya berhenti!" perintah seorang pria bersurai perak mengenakan masker di wajahnya, dia merasakan insting bahaya sedang menunggunya.

Tap.

"Ada apa, Kakashi-sensei?" tanya muridnya, Sakura Haruno.

Bukannya menjawab, pria bernama Kakashi itu hanya diam memandang lurus ke depan yang membuat kedua muridnya kebingungan. "Kakashi-sensei?"

"Tidak, ayo lanjutkan!" perintahnya kembali berlari diikuti oleh dua muridnya dan seorang nenek tua di belakangnya. Namun, ditengah-tengah perjalanan ...

Katon

"!" Kakashi tersentak.

Tap.

... Tiba-tiba terdengar sebuah suara.

"Semua menghindar!" perintah Kakashi.

Goukakyuu no Jutsu

Sebuah bola api berukuran raksasa muncul di depan mereka. Bola itu dengan cepat menyapu semua yang menghadangnya. Kakashi, Sakura, Naruko, dan Nenek Chiyo pun memilih untuk menghindar dengan cara melompat ke samping.

Blarrrr!

Bola api itu meledak.

Ledakannya cukup besar membuat keadaan sekitar terguncang dengan embusan anginnya yang cukup kencang.

"Oya, oya. Jadi, kalian bisa menghindarinya ternyata ..."

"Siapa?" Semua pandangan teralih ke sumber suara. Derap kaki terdengar diikuti dengan munculnya seorang pemuda berambut hitam mengenakan pakaian corak awan merah.

"Akatsuki," batin mereka berempat.

"D-dia ..."

"Maa, untuk saat ini kalian berhasil selamat juga berkat kehebatan dari Sang Ninja Peniru dari Konoha, Hatake Kakashi. Hm, hm, Padahal aku sudah menyembunyikan keberadaanku," ucap Menma tersenyum

"Ni-Nii-san ..."

Kakashi, Sakura, dan Chiyo menoleh ke arah Naruko yang matanya berkaca-kaca memadang wajah Menma.

Sedangkan Menma?

Menma memandang Naruko datar ...

Lalu setelahnya, dia tersenyum.

"Yare, yare. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Jinchuriki Kyuubi di sini. Harusnya Taichou memberitahuku tentang ini tadi," ungkap Menma tersenyum sambil memiringkan wajanhnya menatap Naruko.

Naruto menggeleng, berusaha menghilangkan pikiran anehnya tadi. "Sadar, Naruko. Sadar. Di-dia bukan kakakmu. Ka-ka-kakakmu ... Na-Naruto-Nii-chan su-sudah ... Ummm~" Naruko menggeleng cepat. Dia kemudian memandang serius sosok yang mengingatkannya pada kakaknya.

Sembari mengingatkan dirinya, bahwa sosok kakaknya sudah tidak ada ...

"Katakan di mana Gaara?!" Naruko bertanya dengan ekspresi tajam.

Mendengar hal itu, Menma tersenyum dengan wajah miring. "Are? Aku sepertinya melihat sesuatu dalam dirimu membara. Apa aku melewatkan sesuatu?" tanyanya.

Ting!

Swush~

Insting Menma tiba-tiba berbunyi, dengan gerakan lambat menoleh ke belakang dan melihat Kakashi keluar dari kabut asap entah dari mana asalnya dengan percikan listik biru di telapak tangan kanannya. "Chidori!"

Menma tersenyum dengan dengusan kecil. "Menyerang saat diriku sedang lengah, ya? Hm, Rencana yang cukup bagus, Kakashi-san. Tapi ..." Naruto lalu menyeringai.

TRANG!

Swuus~

"H-haa! A-apa itu?!" tanya Sakura terkejut.

"!" Kakashi terlonjak kaget, serangannya berhasil ditangkis. Chidori-nya tiba-tiba saja menghilang, Kakashi dengan cepat melompat menjauh ke belakang.

Tap. Kakashi lalu menatap sosok di depannya, ia melihat sebuah rantai emas melindunginya. "Rantai apa itu?"

"Oya, oya menyerang seseorang dari belakang itu bukan tindakan yang bagus, lho~" ucap Menma. Menma lalu melihat ke depan, "Hm." Dia melihat Sakura, Naruko dan Nenek Chiyo tengah mempersiapkan jutsu-nya. Ia kemudian kembali melirik Kakashi.

Menma mendengus. "Empat lawan satu, ya ..."

"Apa kau akan mengamuk, Naruto?" tanya seseorang dengan suara berat di pikiran Menma yang memanggilnya Naruto.. "Aku bisa meminjamkan kekuatanku padamu."

"Wah, terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, Kyuubi. Tapi tenang saja, aku tidak akan menggunakan kekuatanmu, aku bisa mengatasi mereka sendirian," ungkap Menma, dia lalu memandang langit dengan senyum tipis di wajahnya.

"Inilah jalan hidupku ..."


A/N:

Ini adalah salah satu scene yang ingin kubuat di proyek FanFiksiku dulu. Namun, yaa karena FanFiksinya terlalu berat (bagiku). Akhirnya FanFiksinya aku hapus. Aku publish scene ini di sini karena rasanya sayang banget kalo terus disimpan. Btw, nanti akan ada epilognya ...