Chapter: Epilog


"Ini di mana?"

.

.

.

"Rasanya tenang sekali ..."

.

.

.

"Apa aku sudah mati?"

.

.

.

"Kenapa semudah itu kamu mengatakan jika dirimu sudah meninggal, Nak?" Aku mendengar suara kakek tua.

"Siapa?"

"Jika kamu berpikiran seperti itu, maka kamu bisa kehilangan hidupmu ..." ucap kakek itu.

"Siapa itu?"

"Buka matamu, Nak. Lihat dan rasakanlah kehangatan yang masih ada di dalam dirimu..."

Aku membuka mataku.

Seorang kakek sedang berdiri di hadapanku begitu aku membuka kedua mataku. Kakek itu tersenyum tipis kepadaku. Satu pertanyaan terbesit di benakku.

"Kakek siapa?"

Kakek itu tertawa, tapi hanya sebentar. Beliau mulai mendekatiku sambil berkata. "Akhirnya aku bisa berjumpa denganmu, Uzumaki Naruto ..."

Eh?

Mengerjap mata beberapa kali, aku menatap kakek itu bingung. Kenapa dia bisa mengenalku? Kakek itu tertawa lagi.

"Namaku, Hagoromo Otsutsuki ... Mungkin sebagian orang mengenalku dengan nama yang sering disebut - sebut sebagai Legenda Dunia Shinobi ..." ujarnya.

APA?!

Aku yakin sekali kalau wajahku saat ini menampilkan ekspresi terkejut. Apa dia bilang tadi? Legenda? Di dunia ini, hanya ada satu orang yang aku ketahui yang pantas menyandang julukan tersebut.

"A-apakah mungkin, anda ...?"

"Ya, kamu bisa memanggilku sebagai Pertapa Enam Jalan atau yang dikenal juga dengan sebutan Rikudo Sennin ..."

HEEEEE ...!

A-aku tidak tahu harus berkata apa.

Ini begitu mengejut kanku, tetapi hal yang beliau katakan selanjutnya lebih mengejutkanku kembali.

"Uzumaki Naruto ... Aku akan mengatakan ini padamu. Kamu adalah reinkarnasi dari dua anakku,ll Indra dan Ashura ..."

Eh ...

Apa?

.

.

.


"Hiks, kenapa?"

Di suatu medan pertempuran, mayat-mayat berserakan. Seorang gadis sedang menangis sambil memandangi seorang pemuda di pangkuannya. Gadis itu mengelus halus wajah pemuda itu.

"Kenapa Kakak harus melindungiku? Kenapa?" ucap Naruko lemah. Gadis pirang ini kembali meneteskan air mata sembari memandangi sosok kakaknya di pangkuannya. Kakaknya sudah pergi ...

"Hiks, Onii-chaan~! Kenapa Onii-chan pergi lagi? Padahal aku ingin sekali bertemu dengan Onii-chan, tapi kenapa? Kenapa harus begini?" ucap Naruko mengungkapkan semua isi hatinya, meski tahu, kata-katanya tidak akan didengar oleh kakaknya. Beberapa teman-teman tak jauh darinya, menatap prihatian Naruko.

Swing!

"!"

Trank!

"Naruko sadarlah!" teriak seorang perempuan terdengar di telinga Naruko membuat gadis berambut pirang menoleh ke sumber suara.

"Satsuki ..."

"Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati?" tanya Satsuki marah karena tadi Naruko hampir saja mati karena serangan musuh, jika Satsuki tidak datang cepat untuk menyelamatkannya.

"Berhentilah menangis! Apa kau ingin menyia-nyiakan usaha Naruto? Untuk apa Naruto menyelamatkanmu kalau kau malah mati disini!" ujar Satsuki dengan nada kuat.

"Ta-tapi, Satsuki ..." Narukp berusaha menyanggah.

"Aku tahu, Naruko ..."

"Aku tahu, aku tahu kalau kamu saat ini sedang terpukul karena kepergian Naruto." Begitu juga denganku lanjut Satsuki di dalam hati.

Tapi ..."

Naruko memandang punggung Satsuki

"Tapi ..."

"Satsuki?" Naruko melihat bahu Satsuki bergetar, tetapi setelahnya menghilang.

"Bangunlah, Naruko ... Jangan biarkan pengorbanan Naruto menjadi sia-sia, berhentilah menangis dan bangkitlah! Ayo kita akhiri perang ini ... perang yang sudah membuat orang yang kusayangi dan kucintai pergi dari sisiku ... untuk kedua kalinya dia pergi ..." Suara Satsuki agak bergetar seperti akan menangis. Gadis berambut hitam ini berusaha menahan dirinya untuk menangis. "Naruto, aku mencintaimu."

Melihat punggung tegap Satsuki yang tampak tegar membuat Naruko termotivasi. Rasa menggelora dalam dirinya kini mendominasi hatinya. Apa yang diucapkan Satsuki ada benarnya, Ia tidak boleh menyerah.

Menyeka bekas air mata ... Naruko perlahan menurunkan kepala kakaknya dari pangkuanya. Ia memandang wajah Naruto sebentar lalu tersenyum lirih. Naruko lantas bangun dan berdiri di sebelah Satsuki yang saat ini tengah menunggunya. "Arigatou, Satsuki ...

"Hn."

.

.

.


Swoos~

Duarr ... BLARRR!

BLARRRR! DUARRRR!

Macam-macam suara ledakan ... terdengar di beberapa sudut medan pertempuran, para Shinobi dengan semangat hidup berjuang mati-matian melawan makhluk-makhluk jadi-jadian yang berasal dari tubuh Juubi.

Tap. Tap. Haaaa!

"Rasakan ini! Futon: Chou Oodama Rasenshuriken!" Naruko dalam selimut chakra Kyuubi, melempar pisau angin bermata empat yang berputar di telapak tangannya. Jurusnya dengan hebat meratakan para monster jadi-jadian Juubi.

"Yosh! Semangat, Minna!"

Di ain sisi ...

Trang! Trang! Slab!

DUAR!

Satsuki dengan makhluk astral berwarna ungu yang melingkupinya, Susano'o, meluluhlantakan pasukan musuh, dengan satu sabetan pedang Susano'o-nya berhasil membunuh ratusan pasukan musuh.

Swush~ Tap.

Menapak di atas tanah. Susano'o pun menghilang, tanpa menunggu apa-apa, Satsuki langsung berlari kedepan dengan Kusanagi tergenggam di tangannya.

Bzzziiii!

Suara percikan ribuan burung mengalun merdu seraya Satsuki mengeluarkan jurusnya, petir berkilauan biru melapisi pedang Kusanagi, Sharingan-nya juga ikut aktif!

Satsuki mulai melakukan gerakan tebasan memutar beberapa kali ...

Dengan kecepatan kilat, Satsuki melewati makhluk-makhluk ciptaan Juubi yang entah kenapa tidak bergerak dan langsung terpotong-potong beberapa bagian ...

GROARRR! Groaaar!

"Inilah akibatnya karena sudah melawanku, Sialan! Tinggal kau seorang lagi, tunggu saja, MADARA!" ucap Satsuki, dengan tatapan dingin memandang sosok hitam yang berdiri di atas Juubi ...


"Hem ..." Madara tersenyum menyeringai dari atas, melihat pasukan Shinobi yang mulai gugur. "Aku pikir sudah saatnya aku memulai rencana ...

... Mugen Tsukuyomi."


Di tempat lain ...

Aura kuning menguar keluar dari tubuh seorang pemuda yang berada cukup jauh dari area medan perang. Tubuh pemuda itu mulai menandakan tanda akan bangun dan perlahan membuka iris mata Blue Shapire tajamnya.

Pemuda itu mengerjap beberapa kali ...

"Saatnya beraksi!"


"HAHAHAHAHAHAHA!"

Jauh di atas langit, melayang sosok pria berambut putih membawa tongkat hitam. Dialah, Uchiha Madara. Sang Legenda Uchiha tersebut saat ini dalam mode Rikudo Sennin sesaat menyerap Juubi ke dalam tubuhnya. "... Dengan kekuatan ini, tidak ada yang bisa mengentikan rencanaku untuk menguasai dunia ini ..."

Madara mengangkat tangannya, ribuan bola energi kecil berwarna hitam menumpuk satu sama lain membentuk sebuah bola hitam raksasa. Pria itu memadang seluruh Shinobi dibawahnya yang sedang ketakutan.

Menyeringai kejam. "Selamat tinggal ..."

Di sisi Naruko dan Satsuki ...

"Itu besar sekali," ungkap Naruko dengan mata melebar ...

"Madaraaa!" geram Satsuki, ia lalu memandang Naruko, "Naruko, ayo kita satukan kekuatan kita berdua ..."

"Baiklah!" Dan begitulah, Naruko dengan Chakra Kyuubi yang menguar keluar dari tubuhnya, membungkus dirinya dengan bentuk seekor Rubah Berekor Sembilan.

Sedangkan Satsuki, dengan Eternal Mangekyou Sharingan yang sudah aktif, dia mengeluarkan kerangka Susano'o lengkap dengan membawa panah ungu raksasa.

Keduanya mulai mempersiapkan jutsu (jurus) masing-masing ...

"Kita akhiri ini ..."

"Ayo!"

Senpo: Bijudama Rasenshuriken

Susano'o: Indra no Ya

Bola hitam bercampur Chakra Kyuubi berbentuk pusaran pisau mata empat dan Satu buah panah berpendar biru tua, kedua jurus itu melesat ke arah Madara berada.

Melihat kedua serangan itu ...

Madara tersenyum remeh. "Percuma saja ..." Ia kemudian melempar bola hitam raksasa ke arah dua jurus Naruko dan Satsuki. Senpo: Mugen Chakura no Kurodama! Ketiga jutsu itu mulai berdekatan dan ...

DUARRR ...!

... Meledak!

Dari ledakan tersebut, keluar bola hitam Raksasa milik Madara, sepertinya dua jurus Naruko dan Satsuki kalah beradu. Dua gadis berbeda warna rambut itu melebarkan matanya.

"A-apa?!"

"Tidak mungkin!"

Di sisi lain ...

... para Shinobi yang melihat itu tiba-tiba membuat tubuh mereka menjadi lemas. Mereka memandang bola energi raksasa berwarna hitam itu dengan ekspresi tidak percaya ...

Mereka pasrah.

"Bohong ..."

"I-ini tidak mungkin, 'kan?"

"Apa aku akan mati di sini?"

"Aku, aku tidak ingin mati ..."

... Sebagian panik dan sebagian lagi hanya tertunduk pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Perjuangan mereka selama ini terhenti di titik ini ... di titik di mana seluruh Shinobi akan dimusnahkan.

"Sial!" kesal Satsuki.

Sedangkan Naruko?

Naruko teesenyum sedih, melihat bola hitam raksasa di atasnya. "Gomen, Onii-chan~ Aku tidak bisa memenangkan perang ini untukmu ... Gomen, Kak," batin Naruko menunduk sedih. Dia bisa melihat bayang-bayang wajah kakaknya.

Semua Shinobi, Naruko, dan Satsuki sudah pasrah. Tidak ada harapan untuk menang.

Namun ...

Swush~!

... di tengah rasa pasrah akan kematian yang menghampiri semua orang ...

Blarrrrrr!

"Yare, yare ... Apa aku datang terlambat?"

... muncul sosok yang tidak terduga.

"K-kau!"

Mendengar suara Satsuki, Naruko mulai menaikan mukany. Dan yang terjadi adalah ... Dia melihat seorang pemuda dengan aura kuning dan rantai emas di fokus pandangnya. Iris mata biru Naruko melebar ... begitu mengenali sosok yang berdiri tak jauh di depannya itu.

"Naruto ... Onii-chan?"

Pemuda di depannya menoleh, "Aku sudah berjanji, bukan? Bahwa aku pasti akan melindungimu, Naruko. Tidak perduli dengan berapa banyak halang rintang yang aku lalui, aku lakukan ini demi dirimu. Karena aku ...

... Menyayangimu, Naruko."

Kedatangannya membuat harapan baru. Dia, Uzumaki Naruto, sang Reinkarnasi Ashura dan Indra, yang akan mengakhiri perang besar ini melawan Sang Rikudo Sennin Kedua ...

... Uchiha Madara


A/N:

Yap, seperti inilah endingnya. Walaupun yaa, ini masih belum lengkap sampai akhirnya. Begitu menggantung ya? Yap, ini hanya salah satu bagian (scene) chapter yang berjalan menuju akhir dari cerita ini.

Naruto: The Last Uzumaki.

Ada yang tahu?


.

.

.

Bonus Scene:

Naruto dan Satsuki

Setelah Madara dikalahkan ...

Brugh!

"Baka!" ucap gadis berambut hitam panjang memeluk pemuda berambut kuning yang terkaget karenanya.

"Sa-Satsuki?" Naruto terkejut.

"Dari mana saja kau selama ini?"

"Maaf, Satsuki." ..."

Satsuki menangis dipelukannya.

"... Aku mengkhawatirkanmu, Naruto. Saat aku mendengarmu dinyatakan menghilang. Aku sangat terpukul. Kau adalah temanku satu h satunya. Kau adalah orang yang sudah mewarnai hidupku. Kau menyebalkan, Naruto. Saat kau kembali, bukannya menemuiku kau malah pergi lagi ... Kau laki-laki yang sangat menyebalkan!" ucap Satsuki mengungkapkan seluruh isi hatinya sambil menangis di dada Naruto. "Apa kau tidak menyadari perasanku?"

"Gomen, Satsuki ..." ucap Naruto membalas pelukan Satsuki. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis berambut hitam itu.

Satsuki menenggelamkan wajahnya sembari mengeratkan pelukannya. Satsuki lalu mengeluarkan suara nan pelan.

"Naruto, Daisuki."