Namaku Naruto. Uzumaki Naruto. Anak satu-satunya dari keluarga kecil Uzumaki. Putra semata wayang dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina.
Memiliki keluarga yang cukup sederhana, aku hidup bahagia bersama dengan orang tuaku kedua. Ayahku yang memiliki sifat humoris dan ibuku yang sifatnya lemah lembut, tapi kadang galak juga.
Aku sangat bersyukur bisa bersama dengan mereka. Jika boleh, aku berharap bisa selalu bersama dengan mereka selamanya-selamanya.
Sungguh ...
Aku sangat mencintai keluargaku ini.
Namun, aku tahu.
Di dunia ini tidak ada yang abadi.
Tepat di usiaku genap enam tahun
Sang penghibur yang selalu mewarnai keluarga penuh dengan suasana gelak tawa, akhirnya meninggalkanku. Ya, siapa lagi kalau bukan ayahku, Namikaze Minato.
Ayahku, meninggal saat menyelamatkan seseorang dari penjahat.
Sebuah pukulan telak yang kudapat dan juga satu-satunya wanita di keluargaku, ibuku. Aku menangis menjadi-jadi saat tahu ayahku tidak dapat diselamatkan. Ibu yang saat itu bersamaku, berusaha menenangkanku. Walau aku tahu, ibu juga sedih dengan kepergian ayah. Tidak. Ibulah yang paling sedih. Namun, ibuku ini masih tetap tegar dan berusaha untuk menenangkan diriku.
Hari-hari telah berlalu.
Suasana keluarga yang biasanya sangat ramai dan hangat. Sekarang sudah hilang, menjadi sepi dan suram.
Satu tahun pun berlalu, ibuku memutuskan untuk menikah lagi. Dengan harapan bisa mengubah keluarga ini, walau ia tahu tidak akan seperti dulu.
Awalnya, aku menolak. Tapi saat ibuku mengatakan bahwa ia melakukan ini hanya untukku. Aku sudah tidak bisa menolaknya. Apalagi saat itu, beliau menangis. Aku tidak kuat melihatnya dan pada akhirnya, aku menyetujuinya.
Aku tidak suka melihat ibuku menangis dan tidak ingin membuatnya menangis lagi.
Beberapa hari pun berlalu dan Ibuku sudah resmi menikah. Aku kini mendapatkan keluarga baru.
Nama ayah baruku, Ryouiji Kazami. Seorang pengusaha yang ... yah bisa dikatakan cukup sukses di kota Kuoh. Oh ya, sekarang aku tinggal di kota Kuoh. Tempat tinggalku yang dulu, Tokyo, meski memiliki kenangan yang berharga. Aku sudah pindah karena alasan, tempat ayahku bekerja di kota Kuoh.
Ayahku, Ryouji Kazami. Memiliki sifat yang sedikit terbalik dengan ayahku dulu, Minato. Ayahku, Minato itu periang dan suka bercanda. Sedangkan ayah baruku, Ryouiji, ini memiliki sifat yang kalem dan tenang. Kadang ... dia juga bisa bercanda sih, walau agak garing.
Ayahku memiliki seorang putri, namanya Kazuki Kazami. Seorang gadis bersurai putih dan memiliki mata berwarna merah. Dia, dua tahun lebih tua dariku. Sekarang aku berumur sepuluh tahun dan Kazuki berumur dua belas tahun di atasku. Ini pertama kalinya, aku memiliki seorang Nee-san atau kakak.
Pas pertama kali bertemu Kazuki.
Aku berpikir, dia orangnya dingin. Karena, saat pertama kali bertemu dengannya, dia menatapku dengan sorot mata datar yang membuatku bergidik ngeri. Namun, setelah itu aku sedikit terpana, ketika melihat Kazuki tersenyum dan mengulurkan tangan kepadaku.
"Namaku, Kazuki. Mulai sekarang panggil aku Nee-san, Naruto-kun."
Itulah kata-kata yang diucapkan Kazuki kepadaku saat pertama kali bertemu.
Setelah beberapa bulan. Kazuki Kazami. Aku sudah tahu dengan kepribadiannya. Dia itu ... orangnya usil, sangat usil! Entah itu saat aku makan, mengerjakan PR, tidur, apalagi saat aku mandi. Dia itu selalu saja mengerjaiku. Hal itu, kadang membuatku kesal dan juga membuat semua bulu kudukku merinding
Namun, dibalik sifat usilnya itu. Kazuki itu orangnya pintar lho, dia cerdas, dan cukup serius bagiku. Sering kali, dia membantuku mengerjakan tugas pelajaran yang menurutku sangat menyusahkan, seperti; Matematika. Dia benar-benar sosok kakak yang hebat bagiku. Pintar dan yah, cukup cantik di mataku. Dia akan menjadi kakak yang sempurna di mataku. Andai sifat usilnya tidak ada.
Kringggg!
Suara jam weker berdering di suatu kamar.
Clek!
Suara jam weker berhenti berbunyi saat sang penghuni kamar mematikannya.
"Sudah pagi, ya?"
Ketika si penghuni kamar, yakni seorang remaja laki-laki, mulai beranjak ingin bangun. Ia merasakan sesuatu sedang melingkari tubuhnya.
"Hm? Apa ini?"
Ia merasa tangan kanannya menyentuh sesuatu. Sesuatu yang kenyal dan empuk.
Ini apa?
Saat ia menekan ...
"Mmm~!"
Seketika tubuh remaja laki-laki itu membeku. Seluruh bulu kuduknya berdiri tegak saat sebuah suara 'manja' seorang perempuan memasuki gendang telinganya.
"I-ini, jangan-jangan ..."
Dengan gerakan patah - patah, kepalanya bergerak kesamping.
Kedua kelopak matanya membulat tidak percaya. Saat ini, sesosok gadis bersurai putih tengah menatapnya tersenyum tertangkap di indra penglihatannya.
"Ka-Kazuki-nee ..." ucap remaja laki - laki itu dengan nada terbata-bata.
"Ohayou~ Naruto-kun! Apa tidurmu nyenyak?" Suara lembut menerpa telinganya dan membuat tubuhnya merinding. Terlebih lagi, saat Naruto melihat tangan kanannya memegang dua benda kenyal yang menjadi kebanggaan sosok disampingnya itu. Ya meski ditutupi dengan gaun putih yang dikenakan olehnya. Tapi tetap saja ... ia MEMEGANGNYA!
"Nn-nnee-sannn ..."
"Hmn~?"
Kazuki tersenyum manis ke arah Naruto.
"Ada apa, Naruto-kun?"
"Su-sudah aku bilang beberapa kali ..."
"Ya?"
"JANGAN PERNAH MASUK KE KAMARKU TANPA IZIN! KAZUKI-NEE NO BAKAAA!"
Teriak keras remaja laki - laki bernama Uzumaki Naruto yang kini telah berganti nama menjadi Naruto Kazami, dengan wajah merahnya, suaranya sampai menggema di seluruh kediaman Keluarga Kazami.
Sementara itu ...
Di meja makan. Dua sosok, pria dan wanita, tampak menghela napas saat mendengar teriakan dari Naruto tadi.
"Hahh~ Dasar."
© Grisaia no Kajitsu belongs to Shuu Hirose
