Namanya, Namimaze Naruto. Seorang pemuda baik, berisik, dan cukup mandiri. Di sekolah, dia cukup terkenal akan kepintarannya, bukan dalam hal pelajaran, tapi dalam hal mencari perhatian dalam pertemanan.

... Tidak pintar dalam pelajaran, bukan berarti dia itu buruk dalam pelajaran. Nyatanya, dia pernah beberapa kali mendapat peringkat sepuluh besar ketika penilaian.

Di sekolah, hampir semua siswa-siswi disana mengenal Naruto, baik itu dari senior maupun junior. Sebagian, guru disana juga cukup akrab dengannya.

Tapi dibalik semua itu, tak ada seorang pun yang tahu sifat Naruto ketika dirumah.

Khususnya pada malam hari.

Naruto itu memiliki semacam phobia atau ketakutan akan kegelapan. Karena dulu, saat ia kecil pernah sekali terkunci di gudang rumahnya yang gelap. Dan, ketika dicari oleh orang tuanya, Naruto ditemukan dalam kondisi meringkuk sambil menangis ketakutan. Dan saat itulah rasa takut dan cemas akan kegelapan muncul.

Setiap malam, Naruto harus tidur dengan ditemani oleh cahaya lampu atau tidur bersama kedua orang tuanya.

Dulu ...

... hingga sekarang ...

Phobia Naruto tidak pernah hilang.

"Naruko, Naruko," panggil seorang pemuda pirang mengetuk pintu di depannya, ia memejamkan matanya sembari menunggu orang yang dipanggilnya membuka pintu.

Di rumah, selain orang tuanya, ada satu orang yang paling mengetahui phobia Naruto. Naruko Namikaze, adik satu-satunya Naruto yang masih berusia dua tahun lebih muda dari kakaknya. Setiap malam, Naruko selalu menemani kakaknya ketika akan tidur. Setelah kakaknya tidur dengan tenang, barulah Naruko kembali ke kamarnya.

Setiap malam

Seperti malam ini ...

... Kota Konoha sedang terjadi pemadaman listrik. Mengakibatkan seluruh kota menjadi gelap gulita. Dan ini menjadi salah satu situasi yang paling tidak disukai oleh anak pertama dari Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki. Pasalnya seluruh penerangan di rumahnya mati.

Pikiran Naruto langsung kalut, penyakit phobianya perlahan menguasainya. Dia mulai berlari keluar kamar, beberapa kali berbenturan, hanya untuk menemui satu-satu orang yang saat ini berada di rumah.

Kamar Naruko ...

Letak kamar adiknya berhadapan dengan kamar milik Naruto. Hal ini, memudahkan Naruto untuk pergi ke kamar adiknya.

Naruto masih memejamkan matanya, sebab rasa takut dan cemas sedang merasuki pikirannya. Naruto terus mengetuk pintu kamar didepannya, seraya memanggil nama adiknya.

"Hai, sebentar, Nii-chan~!" Suara feminim terdengar dari dalam kamar. Beberapa saat menunggu, pintu kamar terbuka—

—Dengan perasaan kalut yang sedari tadi menghantuinya, tanpa banyak bicara, Naruto langsung memeluk tubuh adiknya yang membuat si empu terkaget.

"Nii-chan!"

"A-Aku takut,Imouto."

Gadis berambut pirang itu tersenyum. Tangan kanan perlahan mengelus surai pirang kakaknya, mencoba menenangkan sang kakaknya yang tengah ketakutan.

"Hai, hai. Aku ada disini, Nii-chan," ucapnya halus. Naruko merasa gaun tidurnya basah, sepertinya kakaknya itu menangis. Perlahan, Naruko merasakan getaran pada tubuh kakaknya mulai menghilang, tampak kakaknya itu sudah mulai tenang.

"Sekarang bisa melepaskan pelukanmu, Nii-chan," pinta Naruko.

"Tidak, aku tidak mau!" kata Naruto menolak.

"Ta-tapi, bagaimana caranya Nii-chan tidur kalau Nii-chan terus memelukku?" ujar Naruko bingung.

Kakaknya diam.

"Kalo gitu, tidur bersamaku," ucap Naruto tiba-tiba. Hal ini membuat adiknya terkejut mendengarnya.

"Heee?"

"Ta-Tapi ..."

"A-aku mohon, Imouto," ucap Naruto didalam pelukan Naruko.

Ucapan Naruko terpotong dengan kalimat permohonan dari kakaknya. Karena tidak tega, Naruko menghela napas, ia pun menyetujui permintaan kakaknya.

"Hmm ... Baiklah."

"Tidur di kamarmu ...

"E-eh?"

0-0

Malam ini, orang tua mereka sedang kerja di luar kota. Hal ini, membuat rumahnya, hanya tersisa Naruto dan Naruko berdua.

Di kamar Naruko.

Sekarang, Naruko dan kakaknya tidur bersama seperti yang sudah ia sepakati sebelumnya. Naruto sudah tertidur pulas, berbeda dengan saudarinya yang masih terjaga dengan wajah merona.

Penyebabnya ...

... sang kakak yang tengah memeluk dirinya.

"M-mou, kalau begini, bagaimana caraku tidur," gerutunya.

Tak lama berselang, suara dering ponsel di sebelah Naruko berbunyi. Naruko mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya malam-malm

Dari; ibunda tercinta ...

Tangannya mulai menyentuh icon berwarna hijau.

"Moshi moshi, ada apa, Kaa-san?"

"Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan Naruto?" Terdengar suara wanita dengan nada khawatir.

"Aku baik-baik saja, Kaa-san."

"Lalu, bagaimana dengan kakakmu?"

Sesaat Naruko melirik kakaknya yang sudah bermimpi indah di sampingnya.

"Dia sudah tertidur pulas disampingku, Kaa-san," jawab Naruko seadanya.

"Apa?" Ibunya memekik pelan dibalik telepon.

"Tenang saja, Kaa-san. Aku tidak keberatan sama sekali kok," jelas Naruko berusaha menenangkan ibunya di sana.

"Hahh~ Ya sudah, kalau kamu bilang begitu," ucap ibunya lega, "jaa, ibu tutup dulu masih banyak yang harus ibu kerjakan disini. Besok siang, kami akan pulang."

"Oyasumi, sayang~"

"Oyasumi, Kaa-san."

Telepon pun terputus.

0-0

Waktu sudah sangat larut, perlahan rasa kantuk mulai menyerang Naruko. Kelopak matanya mulai mengatup perlahan. Mulutnya pun menguap. Dan setelah itu, Naruko mulai menyusul kakaknya untuk menyelam ke alam mimpi.

Oyasuminasai.