Name: The Birth of Human Faction
Author: FCI. Arcana-paisen
Genre: Romance and Adventure
Rating: M
Pair: Naruto Uzumaki x Arturia Pendragon, Shirou Emiya x Rin Tohsaka, Kurama x Yasaka(For now)
AN: Buat pembaca The Birth of Human Faction yang terhormat. Mohon maaf kalau fic ini akan saya remake. Kenapa? Apa karena stuck di The Rise of Human Faction? Bisa dibilang gitu tapi pas ane baca, jujur ada banyak scene yang mengganjal. Kaya di fic ini si Eileen gabung sama Alvarez karena dia di cuci otaknya sama si August, padahal di fic one-shot yang ane buat, dia bergabung untuk membalas dendamnya pada Ishgar yang menurutnya sudah mengambil orang-orang yang penting dalam hidupnya.
Chapter 2. You Are Worthy
Naruto saat ini sedang mengamati musuhnya dengan seksama. Dia tahu kalau musuhnya ini cukup kuat dan tidak bisa diremehkan. Bahkan dia bisa mengeluarkan berbagai jenis pedang dari teknik Gate miliknya. Tapi Gilgamesh lawannya ini mempunyai kelemahan fatal, kesombongan dan keangkuhannya yang luar biasa.
"Jangan hanya menghindar saja kau brengsek!" Teriak Gilgamesh yang frustasi karena serangannya hanya bisa menembus tubuh Naruto karena dia menggunakan kemampuan Jikukan Ido milik Sharingan Obito "Lawan aku dengan jantan layaknya seorang pria."
"Oke."
Naruto pun melemparkan dua kunai miliknya ke arah Gilgamesh yang hanya mendengus dan mementalkan pedang Naruto dengan salah satu harta miliknya.
"Hanya itu..."
Gilgamesh dan yang lain dibuat terkejut saat melihat Naruto menghilang dengan cepat dan muncul di salah satu kunai yang telah dipentalkan oleh Gilgamesh. Naruto kemudian membuat sebuah bola berukuran sedang di tangannya dan dia akan menggunakan kesempatan itu untuk mengalahkan Gilgamesh.
'Sial!'
"Rasengan!"
Gilgamesh menahan Rasengan Naruto dengan salah satu pusakanya. Meskipun pusaka itu hancur berkeping-keping karena kuatnya serangan Rasengan milik Naruto. Meskipun Gilgamesh masih sedikit selamat karena zirah emas miliknya berhasil menahan sedikit sepak terjang Rasengan milik Naruto dan hanya membuatnya terlempar ke belakang dengan keras saja.
Gilgamesh pun bangkit dan menghusap darah yang keluar dari mulutnya dan berucap layaknya seorang maniak "Menarik, sungguh menarik. Ada salah satu manusia rendahan yang bisa memaksaku untuk menggunakan Balance Breaker milikku, EA: Sword of Rupture. Kalau begitu saksikanlah pedangku ini mengambil nyawamu dan berdiamlah di neraka, MAELSTROM!"
Tapi saat dia akan menggunakan Balance Breaker dari Gate of Babylon miliknya, meluncurlah anak panah yang terlihat seperti sebuah pedang dengan kecepatan tinggi, dan kemudian anak panah itu menancap pada tubuh Gilgamesh yang sudah tidak terlindungi zirah emas miliknya yang sebagian memang sudah hancur karena Rasengan milik Naruto.
"Emiya! Sialan kau, ugh..."
"Sekarang, Maelstrom-san!" Ucap sosok bernama Emiya yang dengan sukses-nya menembakkan anak panahnya yang bernama Caladbolg.
Naruto membuat Rasenshuriken di tangannya, mengejutkan semua orang terutama Gilgamesh. Setelah itu dia pun melemparkannya pada Gilgamesh, dan menimbulkan ledakan energi dan angin yang mulai membuat angin puyuh skala kecil dan membuat Arturia, Emiya dan salah satu gadis yang bersama dengan mereka hampir saja terlempar karena dahsyatnya hembusan angin dari Rasenshuriken milik Naruto.
Setelah itu Emiya maju ke hadapan Naruto dan berkata "Apa kita berdua berhasil?"
"Sepertinya belum, Emiya-san." Balas Naruto yang terlihat menatap tajam pada tempat dimana Gilgamesh terkoyak-koyak oleh Rasenshuriken miliknya. Entah kenapa, dia merasa Gilgamesh masih bisa bertahan dari salah satu teknik pamungkasnya itu, meskipun teknik itu sudah semakin diasahnya selama 1 tahun belakangan ini. Bahkan dia bisa menggunakan Rasenshuriken hanya dengan satu tangan tanpa bantuan klon dengan chakra Senjutsu dan chakra Bijuu yang ada di dalam dirinya.
Dan benar dugaan Naruto. Walaupun zirah emas Gilgamesh telah hancur total, tapi dia masih hidup. Meskipun dia saat ini kelihatan kesulitan untuk berdiri. Di samping-nya juga ada anjing yang memiliki ukuran besar seperti Akamaru dan dia terlihat menatap tajam Naruto. Mungkin karena dia tahu kalau Naruto adalah penyebab masternya terluka parah saat ini.
"Terima kasih karena telah menolongku, Enkidu." Ucap Gilgamesh yang terlihat memeluk erat Enkidu. Kemudian dia menatap tajam Naruto dan berkata "Kau beruntung karena aku tidak bisa mengeluarkan EA karena perbuatan Emiya, Maelstrom. Tapi kau lihat saja nanti, saat kita bertarung lagi, aku akan mengeluarkan EA dan membunuhmu dan Emiya dengan itu. Sampai jumpa dimana kau akan menyetujui tawaranku untuk menjadi istriku, Arturia Pendragon."
Melihat Gilgamesh pergi dengan Enkidu, Arturia hanya mendengus dan berkata "Dalam mimpimu, Gilgamesh."
"Sepertinya semuanya sudah selesai. Kalau begitu aku pamit dulu, Arturia-san, Emiya-san, dan err—"
"Namaku Rin. Rin Tohsaka."
"Kalau begitu, aku mohon pamit dulu semuanya. Aku pendatang baru, jadi aku harus segera mencari penginapan sebelum hari menjelang malam." Ucap Naruto dan kemudian dia merasakan kalau tangannya terlihat dipegang oleh Arturia, menahannya untuk tidak bisa melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga "Arturia-san, bisa kau lepas tanganku."
"Maaf, Maelstrom-san. Tapi sebelum kau pergi, bisakah kau ikut dengan kami dan makan bersama kami. Aku harus membalas kebaikanmu karena telah mengurus pria brengsek itu."
"Kau tidak perlu repot-repot, Arturia-san. Aku sudah makan sebelum aku sampai di Vatikan tadi."
"Aku memaksa, Maelstrom-san."
Melihat tatapan tajam Arturia, Naruto serasa merinding dan membatin 'Ada apa dengan kaum hawa sebenarnya? Aku ini Naruto Uzumaki. Sosok yang telah mengalahkan Sasuke dan Kaguya sekaligus bertahan hidup dari serangan Madara, Obito, dan Great Red. Tapi kenapa hanya dengan tatapan tajam mereka, aku bisa merinding seperti ini? Pantas saja tou-chan yang terkenal sebagai salah satu Hokage tercepat dan terkuat di Konoha sangat takut pada kaa-chan.'
"Baiklah, bimbing jalannya Arturia-san." Balas Naruto yang telah menghela nafas frustasi dan kemudian dia melanjutkan "Dan kalian bertiga tidak perlu memanggilku Maelstrom. Nama asliku adalah Naruto Uzumaki, panggil saja aku Naruto."
Mendengar nama asli Naruto, membuat hati Arturia terasa hangat dan semburat merah telah muncul di kedua pipinya. Emiya yang melihat itu hanya menyeringai dan menjabat tangan Naruto dan berkata "Kalau begitu kau juga jangan panggil aku Emiya, Naruto-san. Panggil aku Shirou."
"Hahahaha, tentu saja Shirou-san."
Mereka bertiga pun makan di restoran langganan Rin, Shirou dan Arturia. Mereka juga berbicara tentang banyak hal, terutama pekerjaan mereka sebagai Exorcist. Tapi, walaupun mereka sudah menceritakan semuanya, Naruto masih merahasiakan jati dirinya karena di dunia yang dia tinggali sekarang tidaklah sama seperti Elemental Nation. Tidak ada yang namanya shinobi yang bisa menggunakan chakra, yang ada hanyalah Youkai seperti Yasaka yang bisa menggunakan chakra dan energi bernama Youki. Yang dia katakan hanyalah status dia sebagai yatim piatu sekaligus pelajar yang telah lulus dari universitas sastra di Tokyo, Jepang. Saat sedang berbincang, Naruto merasakan aura yang cukup kuat dari pedang yang dibawa Arturia dan itu membuat Arturia menghentikan acara makannya.
"Kenapa kau memperhatikan pedangku seperti itu, Naruto-san?"
"Maaf, kalau aku lancang Arturia-san. Tapi aku sungguh tertarik dengan pedangmu, karena aku bisa merasakan aura yang cukup kuat dari pedangmu." Balas Naruto yang telah meminum minumannya.
"Pedang yang aku gunakan ini adalah Excalibur." Balas Arturia yang terlihat meremas gelas yang dia pegang "Pedang suci yang dulunya dimiliki oleh leluhurku, Arthur Pendragon yang juga merupakan inspirasi nama untuk adik kembarku."
"Jadi ini milikmu kan? Karena dari yang aku dengar darimu kalau kau adalah pewarisnya?" Tanya Naruto dan membuat Rin dan Shirou terkejut karena Naruto senekat itu menanyakan hal yang bisa dibilang sensitif itu pada Arturia.
"Pedang ini tidak bisa dibilang milikku, tapi milik gereja." Balas Arturia yang kemudian melanjutkan "Dulu leluhurku meminjamkan pedangnya pada Tuhan dalam Great War dalam perangnya, tapi pedang itu hancur dan lalu fraksi malaikat membuat ketujuh pedang baru dari pecahan Excalibur yang asli. Aku saat ini sedang memegang salah satunya, Excalibur Destruction. Tapi aku dan adik kembarku bisa menggunakan semua pedang Excalibur yang lain, meskipun dia lebih suka menggunakan pedang lama leluhurku yang bernama Caliburn."
"Kau selalu menyebut tentang adik kembarmu, tapi dimana dia? Tidak mungkin dia hanya diam saja dan membiarkanmu melawan Gilgamesh sendirian bersamaan dengan Rin-san dan Shirou-san."
Shirou ingin menolong Arturia dan meminta Naruto untuk tidak menanyakan hal yang bisa dibilang cukup sensitif pada Arturia. Dia tahu menghilangnya adik kembar dan adik kecilnya membuat Arturia down selama beberapa tahun belakangan ini. Dan karena itu, dia tidak ingin Naruto membuka luka lama sahabatnya itu lagi.
"Kalau kau tidak mau menjawab, tidak apa-apa Arturia-san. Aku tidak memaksamu. Kehilangan saudaramu pasti masih memberatkan hatimu kan?"
Arturia, Rin, dan Shirou terlihat terkejut atas perkataan Naruto yang bisa menebak dengan tepat apa yang saat ini sedang dirasakan Arturia. Arturia yang awalnya terdiam, kemudian berkata "Bagaimana bisa kau—"
"Kesedihan di wajahmu yang menunjukkan semuanya Arturia-san." Balas Naruto yang kemudian melanjutkan "Sebagai seorang Exorcist, aku tahu kau sangat mempercayai pihak gereja. Tapi sebagai kakak, ada perasaan kecil di hatimu yang menduga kalau menghilangnya saudaramu itu karena perbuatan mereka. Karena mereka ingin memiliki Excalibur sendiri tanpa ada pihak keturunan asli dari Yang Mulia Raja Arthur Pendragon mengklaim pedang suci itu sebagai milik mereka."
Arturia hanya bisa terdiam dan kemudian Naruto berkata "Terima kasih atas jamuan makan dari kalian. Kalau begitu aku pamit dulu."
Melihat Naruto akan pergi, Arthuria terlihat tidak bisa menahan dirinya untuk berkata "Apa kita bisa bertemu lagi, Naruto-san?"
"Kalau kita ditakdirkan untuk bertemu kembali... Aku yakin kita bisa bertemu untuk kedua kali bahkan seterusnya, Arturia-san."
Wajah Arturia merona saat melihat senyuman Naruto kepada dirinya. Sedangkan dengan Shirou dan Rin, mereka cukup terkejut kalau temannya yang selalu serius dan terlihat tidak tertarik sama sekali dengan urusan percintaan dan hanya berfokus menemukan kedua adiknya bisa bertingkah layaknya gadis normal pada umumnya.
Sedangkan dengan Naruto, di luar restoran dia melihat seorang pemuda berwarna rambut kuning keemasan dan mata berwarna hijau. Dia juga menggunakan jaket panjang berwarna hitam dan topi fedora berwarna coklat.
Saat Naruto mengamati kekuataannya, dia cukup terkejut saat mengetahui aura dari sosok pemuda di hadapannya ini sungguh besar. Memang tidak bisa dibandingkan dengan para Bijuu atau Great Red. Tapi aura-nya melebihi Gilgamesh berkali-kali lipat 'Aura ini... Pengguna Longinus kah? Aku harus hati-hati pada orang ini.'
"Aku cukup terkejut kalau The Golden Reaper yang cukup legendaris di Jepang bisa berada di hadapanku seperti ini. Terlebih kau lebih muda dari perkiraanku. Aku bahkan bisa menduga kau seumuran dengan Arturia, Shirou dan Rin."
Naruto cukup terkejut saat mendengar sosok itu menyebutkan julukan barunya yang dia dapatkan di Kyoto karena dia menghabisi banyak iblis liar di Kyoto dengan Hiraishin no Jutsu miliknya, membuatnya menatap tajam sosok di hadapannya dan berkata dengan dingin "Siapa kau?"
"Oh, maaf kalau aku lancang." Balas pemuda itu dan kemudian dia melanjutkan "Perkenalkan. Aku adalah salah satu Exorcist dari Vatikan. Aku juga merupakan superior dari 3 bocah manis itu. Namaku Dulio Gesualdo. Salam kenal, Golden Reaper-san."
'Hmm, jadi dia pemilik dari [Zenith Tempest]? Aku bisa saja melawannya, tapi aku masih kurang informasi mengenai dia dan Sacred Gear-nya.' Batin Naruto dan kemudian dia berkata "Jadi ada urusan apa seorang Exorcist terkuat Vatikan dengan manusia biasa-biasa saja sepertiku?"
"Aku ingin kau bergabung menjadi seorang Exorcist dalam tim-ku yang terdiri dari Shirou, Arturia dan Rin."
Naruto terlihat menaikkan alis-nya karena permintaan Dulio itu "Untuk apa aku melakukan itu? Tidak ada untungnya aku melakukan hal itu."
"Aku bisa memberikan kau rumah yang paling nyaman di seluruh kota Vatikan dan aku akan membiayai apa saja yang kau butuhkan saat kau berada disini."
"Kenapa kau melakukan sampai sejauh ini untukku, Dulio-san? Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
"Aku khawatir pada Arturia." Balas Dulio terus terang dan kemudian dia melanjutkan "Aku mengganggap dia, Arthur, dan adik kecil mereka yang bernama Le Fay seperti anakku sendiri. Aku tahu Arturia mencurigai salah satu petinggi gereja sebagai biang keladi menghilangnya Arthur dan Le Fay. Aku juga mencurigai salah satu dari mereka, tapi aku khawatir kalau Arturia akan melewati batasnya dan aku tidak bisa melindungi-nya."
"Jadi kau ingin aku mengawasi dan menjaganya begitu?"
Melihat Naruto terlihat menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya, dia pun menggangguk saat mendengar dedukasi Naruto "Begitulah..."
Naruto yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas karena kesal dirinya diminta untuk menjadi seorang baby sitter bagi Arturia dan berkata "Aku tidak masalah dengan itu. Lagipula aku masih punya cukup waktu untuk berada di dalam kota ini."
"Oh begitu" Balas Dulio yang melanjutkan "Jadi apa yang dilakukan The Golden Reaper sampai-sampai kau jauh dari rumahmu seperti ini?"
"Aku hanya berlibur setelah Kyoto agak damai karena perang sipil yang terjadi disana karena ada yang pro dan kontra pada keputusan Yasaka-san memilih Kurama-san sebagai pemimpin Youkai yang baru." Balas Naruto yang kemudian melanjutkan "Entah apa masalahnya. Mungkin para pria yang menginginkan Yasaka-san untuk mereka tiduri merasa tersaingi pada Kurama-san dan membuat banyak dari mereka membelot."
Dulio hanya menggangguk mengerti karena perkataan Naruto dan kemudian dia melanjutkan "Kalau begitu, ayo ikut aku. Akan aku tunjukkan tempat tinggalmu selama kau berada disini, Golden Re—Maksudku, Naruto-san."
Naruto hanya menghela nafas karena kesal Dulio terus saja memanggilnya dengan julukannya di Kyoto dan memutuskan untuk mengikuti Dulio. Saat sampai Naruto cukup terkejut saat melihat rumah yang diberikan oleh Dulio. Dia beranggapan kalau rumahnya yang akan ditinggalinya itu biasa-biasa saja atau mengingatkannya pada apartemen yang dia pakai untuk tinggal di Konoha. Tapi Naruto bisa lihat, rumah ini terlalu besar. Bahkan mempunyai 3 lantai dan juga rumah itu mempunyai taman dengan pepohonan yang rindau dan asri. Rumah itu juga memiliki kolam renang.
"Jadi bagaimana? Kau menyukainya?"
Naruto yang mendengar itu hanya bisa berkata "Menurutku kau terlalu berlebihan, Dulio-san."
"Berlebihan apa-nya? Menurutku ini masih biasa-biasa saja."
Naruto pun menghela nafas panjang dan membatin 'Dia gila...'
"Kalau begitu, ini kuncinya Naruto-san. Jangan lupa kau harus datang ke tempatku besok." Ucap Dulio yang melemparkan sebuah kunci rumah yang kemudian di tangkap oleh Naruto.
Melihat Dulio pergi, Naruto langsung menuju ke tempat yang dipilihnya sebagai kamarnya. Setelah itu, dia mulai rebahan dan mulai merenggangkan otot-ototnya karena pertarungannya melawan Gilgamesh barusan.
Krinngg
Krinngg
Krinngg
Melihat itu adalah telepon dari mantan partner-nya, Naruto pun menganggkatnya dan berkata "Ada apa, Kurama? Kenapa kau meneleponku?"
"Jadi bagaimana, kau sudah sampai?"
"Tentu saja sudah. Aku baru sampai barusan."
"Jadi aku tanya, Naruto. Apa kau mendapatkan masalah saat kau berada disana?"
"..."
Naruto terdiam dan tidak berkata apa-apa, dan dia bisa dengar suara dari Shukaku yang menggema dari telepon yang dia pakai. Sepertinya si rakun ini sedang berkunjung ke rumah kakak dan kakak iparnya itu "Tch, sepertinya aku kalah darimu dan yang lain, baka-aniki."
"Salahmu sendiri bertaruh kalau Naruto tidak akan mendapatkan masalah saat dia sampai di Vatikan." Balas Kurama yang terlihat mendengus pada Shukaku, membuatnya kesal "Dia itu magnet-nya masalah, Shukaku. Bahkan yang lain pun memilih untuk bertaruh kalau Naruto akan mendapatkan masalah disana."
Naruto yang mendengar itu alis-nya berkedut kesal dan dia pun berkata "Aku tidak percaya ini! Kalian semua menjadikanku sebagai taruhan!"
Kurama yang mendengar itu hanya terkekeh dan membuat partnernya itu dongkol. Tapi kemudian raut wajah dia berubah menjadi serius "Jadi apa yang terjadi disana, sampai-sampai kau terlibat dalam masalah seperti ini gaki?"
"Tidak banyak. Hanya membantu tiga orang Exorcist melawan pria jomblo yang gila dan arogan." Jawab Naruto dengan santai.
"Hmm, sepertinya ada yang kau sembunyikan dariku gaki." Ucap Kurama dan kemudian dia melanjutkan "Tapi terserah kau sajalah. Apapun yang kau lakukan disana, berhati-hatilah."
"Aku mengerti, Kurama. Arigatou..."
Setelah Kurama memutuskan hubungan telepon mereka, Naruto pun memutuskan untuk tidur karena dia sudah berjanji pada Dulio kalau dia akan pergi menemui dia. Setelah pagi tiba, Naruto mulai membersihkan dirinya, berpakaian, dan membuat makanan untuk dirinya sendiri. Saat sampai, dia melihat Dulio telah bersama dengan Arturia, Rin dan Shirou yang seperti tengah membicarakan sesuatu.
"Jadi, danchou. Kenapa kau memanggil kami pagi-pagi begini?"
Mendengar pertanyaan Shirou, Dulio pun menjawab "Untuk menjawab pertanyaanmu, Shirou. Aku merekrut satu orang lagi untuk menjadi anggota dalam tim kita."
"Apa dia kuat?"
"Ya Rin. Dia sangat kuat. Dia cukup terkenal di Kyoto karena dedikasinya mengalahkan pihak pemberontak yang tidak setuju pemimpin lama mereka memimpin pemimpin baru yang mereka nilai kurang berpengalaman. Dia bisa membunuh ratusan bahkan ribuanYoukai dalam beberapa detik saja."
"Kalau begitu, siapa orang itu danchou?" Tanya Arturia yang entah kenapa berharap kalau orang yang dimaksud Dulio adalah Naruto. Apalagi saat dia mengingat kecepatan sekaligus teknik teleportasi Naruto saat dia melawan Gilgamesh.
"Orang yang dimaksud oleh Dulio-san adalah aku, Arturia-san." Balas Naruto yang keluar dari tempat persembunyiannya dan itu membuat Arturia salah tingkah karena barusan dia memang sedang memikirkan shinobi berambut pirang ini "Sudah aku bilang kalau kita sudah ditakdirkan untuk bertemu kembali, maka kita akan dipertemukan kembali kan?"
Wajah Arturia memerah dengan hebat karena teringat perkataan Naruto kemarin. Sedangkan dengan Rin, dia masih belum percaya pada Naruto meskipun dia kemarin telah menolong pacar dan sahabatnya "Jadi apa niatan-mu sebenarnya untuk bergabung sebagai seorang Exorcist, Naruto-san?"
"Bisa dibilang aku melakukan ini karena aku tidak ingin kejadian yang terjadi pada kedua orang tua angkatku, terjadi pada orang lain." Balas Naruto yang menceritakan kebohongam tentang dirinya yang diasuh oleh suami istri baik hati setelah kematian kedua orang tua-nya, tapi sayangnya kebahagian mereka tidak berlangsung lama karena kedua orang tua angkat Naruto terbunuh oleh iblis liar "Apa jawabanku sudah cukup untuk membuatmu puas, Tohsaka-sama?"
Rin terlihat kesal saat mendengar kata-kata Naruto yang terlihat sedang memprovokasi dirinya. Melihat itu, Naruto berkata "Tapi tenang saja, aku tidak akan merencanakan hal yang buruk pada kalian."
Setelah itu, Dulio menerima telepon dari seseorang. Saat dia menutup teleponnya, dia pun menghela nafas dan berkata "Ada iblis liar yang membuat ulah di dekat perbatasan. Mari kita bergerak, tim."
Naruto, Arturia, Shirou dan Rin langsung memasuki mobil milik Dulio. Setelah beberapa lama, menempuh perjalanan. Naruto pun meminta Dulio untuk menghentikan mobilnya saat melihat target mereka, dan dia pun berkata "Jadi itu adalah target kita kan?"
"Sepertinya begitu. Tapi berhati-hatilah, karena iblis liar ini sudah lama menjadi iblis liar dan menyerap banyak energi negatif di sekitarnya, dia lebih kuat daripada iblis liar yang bisa kita hadapi sebelumnya."
Mereka pun mulai bersiap dan Dulio pun berkata pada Naruto "Kau tidak terlihat khawatir."
"Aku sudah melawan banyak musuh yang lebih berbahaya daripada dia." Balas Naruto yang mengingat dimana dirinya melawan Madara, Obito dan Kaguya "Jangan remehkan aku..."
Mereka kecuali Dulio dan Naruto pun melawan iblis liar yang itu dan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Melihat Naruto terlihat meremehkannya, iblis liar yang ternyata bernama Verweill itu pun menyerang Naruto tapi dia berhasil membuat salah satu tangannya putus dengan kunai miliknya yang telah dimasukkan chakra Fuuton.
"Kau bisa saja menghabisiku dengan mudah, sama seperti pengguna Longinus itu. Tapi kenapa kau?"
"Karena aku bukan karakter utama di pertarungan ini. Tapi mereka..." Ucap Naruto saat menjauhi Arveil dan tubuhnya ditembak oleh Caladbolg milik Shirou dan dia juga diserang oleh Rin dan juga Arturia "Aku hanya akan membantu mereka saja dan melihat perkembangan mereka ke depan."
"Brengsek kalian semua!"
Arveil kemudian mementalkan semuanya dengan ledakan energinya, meskipun itu tidak berefek pada Naruto yang menggunakan chakra di kakinya. Membuatnya tidak terlempar seperti yang lain. Setelah itu, Dulio mulai masuk ke dalam arena pertarungan dan berkata "Aku mempunyai firasat buruk tentang ini."
Naruto dan Dulio melihat Verweill yang mulai meminum sebuah botol dengan cairan berwarna hitam dan mereka bertiga dengan Arthuria, Rin dan Shirou harus dibuat terkejut saat melihat tubuh Verweill mulai membesar dan kekuatannya bertambah berkali-kali lipat.
"Apa ini termasuk normal, Dulio-san?"
"Tidak juga." Balas Dulio yang menghindari serangan dari Verweill dan mengeluarkan pedang suci-nya "Berhati-hatilah, kalian semua! Dia sudah bertambah kuat sekarang."
"Apa boleh buat. Sepertinya aku akan meminjam kekuatan matamu sekali lagi kawan." Ucap Naruto yang membuka kacamata buatan Shukaku yang berfungsi untuk menyembunyikan mata Sharingan miliknya.
'Jadi ini salah satu kekuatanmu, Golden Reaper. Mata merah yang memiliki aura kebencian yang cukup tinggi. Tapi aku percaya kau bisa menggunakannya dengan baik.' Batin Dulio yang mengeluarkan Sacred Gear-nya, [Zenith Tempest].
"Susanoo!"
Monster humanoid dengan tinggi yang tidak kalah dari monster jelmaan dari Verweill muncul di dan terlihatlah Naruto berada dalam sebuah kristal di atas dahi dari monster besar itu. Naruto yang telah menggunakan salah satu teknik terkuat Doujutsu Sharingan yaitu Susanoo langsung mengambil Rin, Arturia, Shirou dan Dulio dengan tangan Susanoo miliknya dan membawanya ke kristal tempat dia berada.
"Jadi apa rencanamu, Dulio-san?"
"Aku, Shirou, dan Rin dengan kemampuan kami akan menyerang dari jauh."
"Lalu bagaimana denganku, danchou?"
Mendengar pertanyaan Arturia, Dulio pun berkata "Kau tetap disini bersama dengan Naruto..."
Dulio, Rin dan Shirou langsung turun dan mulai serangan jarak jauh mereka masing-masing. Shirou dengan menggunakan Caladbolg miliknya, Dulio dengan Sacred Gear-nya dan Rin dengan orb miliknya yang bisa mengeluarkan sihir. Naruto juga bertarung dan menghajar, menebas salah satu tangan iblis liar raksasa itu. Sebenarnya Naruto bisa saja mengakhiri ini semua dengan menggunakan Kamui Raikiri dan Kamui Shuriken. Tapi menurutnya jika dia melakukan itu... Maka Rin, Shirou, dan Arturia tidak akan pernah bisa berkembang dan akan terus bergantung pada dirinya dan Dulio.
"Turunkan aku, Naruto-kun..."
Naruto yang mendengar perkataan Arturia terlihat terkejut sebelum tatapannya mulai mengeras dan berkata "Apa kau yakin dengan keputusanmu, Arturia?"
"Aku yakin..." Balas Arturia yang kemudian melanjutkan "Aku tidak bisa melihat saja kalian berempat bertarung melawan dia. Ada yang aku bisa lakukan, aku yakin."
"Baiklah. Aku percaya padamu..."
Naruto kemudian menurunkan Arturia dan saat dibawah Shirou terlihat menghampiri Arturia dan berkata dengan kesal "Kenapa kau turun ke bawah Arturia. Kau tidak bisa menggunakan serangan jarak jauh. Lebih baik kau diatas sana bersama Naruto."
"Aku tidak bisa membiarkan kalian bertarung sendiri dan hanya berdiam diri saja." Balas Arturia dan kemudian dia melanjutkan "Aku bukanlah seorang pengecut yang hanya bisa berdiri di belakang layar sana. Karena aku adalah seorang Exorcist dan juga pewaris asli dari Excalibur."
Shirou terdiam saat mendengarkan kata-kata Arturia. Kemudian Arturia melewati Shirou dan mengeluarkan pedang Excalibur Destruction miliknya dari sarung pedangnya 'Excalibur! Berikan aku kekuatan...'
Saat Arturia akan mengayunkan pedangnya ke arah Verweill, Verweill sudah terlebih dahulu menghujamkan tinju-nya ke arah Arturia. Arturia yang melihat itu langsung memblock serangan itu dengan pedangnya, tapi karena daya kekuatan pukulan Verweill begitu kuat, Arturia pun terpental dan menabrak pohon dengan keras, membuatnya memuntahkan banyak darah segar dari tubuhnya.
"Arturia! / Arturia-chan!"
Saat melihat Naruto yang sudah menon-aktifkan Susanoo miliknya dan pergi ke arahnya bersamaan dengan Shirou, Rin dan Dulio, pandangan Arturia pun mengabur dan nafas dan detak jantungnya sudah terasa tidak karuan, Arturia pun membatin 'A-Apa ini akhirku? Maafkan kakak karena tidak bisa menemukan kalian, Arthur, Le Fay. Maaf danchou, Rin, Shirou. Naruto-kun... Te—Terima kasih atas semuanya... A—Aku... Mencintaimu."
Mata Arturia pun tertutup sempurna dan itu adalah akhir bagi pewaris asli dari Excalibur selain adiknya.
-Unknown Place-
Mata Arturia terbuka dan terlihatlah di di tempat nan gelap dan sunyi 'Mungkinkah ini alam kematian? Jadi benar, kalau aku sudah—'
"Kau salah keturunanku. Kau belum mati." Ucap seseorang dalam kegelapan yang kemudian berkata "Setidaknya untuk saat ini."
"Siapa kau? Tunjukkan dirimu sekarang juga!" Teriak Arturia saat mengetahui bahwa dia tidak sendiri. Kemudian tempat itu berubah menjadi lebih terang dan terlihatlah sosok yang berbicara padanya tadi.
Dia adalah sosok pria yang memiliki postur tubuh yang tinggi dengan gaya rambut yang mengingatkannya pada sang adik kembar dan dia juga memiliki warna mata hijau seperti mereka. Pria itu juga terlihat memakai baju besi standar seorang ksatria. Bagian baju besi berwarna perak. Sedangkan bagian tuniknya berwarna biru. Dia juga memiliki tudung hitam putih yang menempel di bagian belakang bagian baju besi di lehernya.
"Arthur—Tidak kau bukan dia. Siapa kau? Jangan bilang kalau kau adalah—"
Mendengar pertanyaan Arthuria, pria itu tersenyum dan memotong perkataan Arturia "Kau memang benar, wahai keturunanku. Aku adalah leluhurmu. Arthur Pendragon, raja ksatria dari Camelot dan pemimpin dalam ksatria meja bundar sekaligus sosok yang dikhianati oleh Lancelot."
Arthuria cukup terkejut saat mengetahui sang leluhur berada di depannya saat ini. Kemudian dia terkekeh dan membuat sang leluhur bingung "Jadi aku benar-benar sudah mati, eh?"
"Apa yang membuatmu berkata seperti itu, wahai keturunanku?"
"Bukannya sudah jelas jiji..." Balas Arturia yang kemudian melanjutkan "Aku bisa bertemu denganmu yang sudah mati lama sekali. Kalau aku tidaklah mati, lalu dimana aku sekarang?"
"Kau berada di dimensi yang dibuat oleh sihir dari Merlin." Balas Arthur yang kemudian melanjutkan "Kau bisa bilang aku menaruh jiwaku di pedang Excalibur dan menuntun keturunanku untuk bisa menggunakan kekuatan penuh. Jiwaku inu juga akan menentukan apakah kau layak dan pantas untuk menggunakan kekuatan sejati Excalibur atau tidak."
"Kalau aku belum mati, lalu bagaimana dengan tubuhku yang asli?"
"Kau tenang saja, wahai keturunanku." Balas Arthur yang melanjutkan "Saat ini tubuhmu yang asli tengah dirawat dan dilindungi dengan sepenuh hati oleh seseorang berambut kuning pirang yang sepertinya sangat penting di hati-mu, wahai keturunanku."
Wajah Arturia merona dengan hebat saat menyadari kalau sosok yang dimaksud Arthur ternyata adalah Naruto. Sedangkan dengan Arthur, dia hanya bisa tersenyum saat melihat ekspresi wajah salah satu dari keturunannya itu.
"Kalau begitu kenapa kau membawaku kesini, jiji?" Tanya Arturia.
"Aku membawamu kesini karena aku ingin menilai bahwa dirimu pantas untuk menggunakan kekuatan penuh Excalibur. Sama seperti adikmu yang bernama sama denganku itu, meskipun dia lebih suka menggunakan pedang lamaku yang aku tidak tahu bagaimana caranya dia memperbaiki pedang itu." Balas Arthur yang mengeluarkan Excalibur miliknya dan menempelkan ujung pedangnya di atas kepala Arturia "Kau memang mempunyai rasa kebencian yang mendalam pada pihak gereja karena Tuhan telah menghancurkan pedang suci milik kita dan kemudian anak buah dari beliau mengklaim pedang kita sebagai miliknya sendiri sama seperti adik kembarmu itu. Tapi melihat keinginanmu untuk menjadi kuat demi menemukan saudara-saudarimu kembali dan melindungi orang-orang yang kau sayangi... Maka aku menganggapmu pantas untuk menggunakan kekuatan penuh Excalibur! Sadarlah, fokuskan kekuatanmu pada Excalibur dan suarakan nama pedang kita dengan lantang! Hapuskanlah para pendosa di muka bumi ini dengan energi suci Excalibur."
Arturia pun tersadar dan tiba-tiba saja Naruto memeluknya dan membuat wajahnya memerah dan salah tingkah 'Na-Naruto-kun...'
"Syukurlah kau tidak apa-apa, Arturia." Balas Naruto yang mendekatkan wajah Arturia ke dadanya. Naruto memang bisa menyembunyikan ekspresinya. Tapi Dulio dan yang lain tahu kalau apa yang terjadi pada Arturia telah membuat Naruto cemas dan khawatir.
Arturia yang wajahnya semakin memerah, mulai menjauh dari pelukan Naruto dan kemudian dia bertanya pada Dulio "Jadi bagaimana, danchou?"
"Monster itu benar-benar bertambah kuat. Serangan kami seperti tidak ada apa-apanya lagi." Balas Dulio yang melanjutkan "Naruto dengan teknik monster raksasa miliknya yang bernama Susanoo itu mungkin punya kesempatan untuk menang. Tapi dia sedang fokus untuk menyembuhkan dan melindungimu dari serangannya, jadi aku tidak bisa berharap banyak padanya. Shirou entah kenapa tidak bisa menggunakan Unlimited Blade Works lagi setelah pertarungan dia dengan Gilgamesh untuk yang pertama kali. Orb milik Rin juga tidak efektif. Sepertinya tidak ada pilihan lagi. Aku akan menggunakan Balance Breaker."
"Kau tidak perlu melakukan itu, danchou." Balas Arturia yang kemudian melanjutkan "Serahkan itu padaku."
Hal itu membuat yang lain terkejut, terutama Naruto "Jangan bercanda, Arturia! Apa kau tidak ingat apa yang terjadi padamu barusan? Serahkan ini padaku. Karena kondisimu sudah membaik, sudah saatnya aku mengakhiri ini dengan Susanoo."
"Kau percaya padaku kan, Naruto-kun?"
Naruto menatap mata Arturia yang memancarkan kepercayaan diri yang cukup tinggi. Dan hal itu membuatnya mengalah dan berkata "Baiklah, aku percaya padamu. Tapi tetap berhati-hatilah."
"Terima kasih, Naruto-kun. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kepercayaanmu ini." Ucap Arturia yang telah menyalurkan energinya ke Excalibur Destruction miliknya, membuat pedang itu memancarkan aura berwarna kuning yang cukup menyilaukan mata.
Dulio yang melihat itu hanya bisa menatap Arturia dan berkata "Arturia, kau—"
Tapi perkataan Dulio tidak terjawab Arturia karena Verweill mulai bergerak dengan memberikan hasrat membunuh yang cukup besar pada Arturia. Arturia yang melihat itu hanya mengangkat pedang miliknya ke udara dengan kedua tangannya dan berkata "Membaralah Excalibur! Bakarlah pendosa di hadapan kita berdua dengan energi suci milikmu, EX—CALIBUUUURRR!"
Saat Arturia menghunuskan pedangnya, keluarlah sebuah ombak berwarna kuning keemasan yang mengarah ke arah Verweill dan mementalkannya beberapa ratus meter dan membakarnya sampai menjadi abu. Setelah itu, Arturia terlihat kehabisan nafas dan berkata "Huff, huff... A-Apa aku berhasil?"
"Ya, kau berhasil." Balas Dulio yang menepuk bahu Arturia "Kau berhasil menghancurkan pendosa itu dan juga selamat. Karena kau telah berhasil membuka kekuatan penuh Excalibur."
"Ba—Bagaimana kau bisa tahu, danchou?"
"Aku tidak hanya melihat kejadian ini sekali, Arturia." Balas Dulio yang melanjutkan "Adikmu, Arthur... Juga melakukan hal yang sama sepertimu, sebelum dia dan Le Fay menghilang."
'Benar juga. Jiji mengatakan kalau Arthur juga berhasil melewati penilaian dari beliau.'
"Kalau begitu, misi kita sudah berhasil tim. Saatnya kita kembali dan melaporkan hasil misi kita."
Mendengar perkataan Dulio, Arturia pun berkata "Bisakah kalian kecuali Naruto-kun pergi terlebih dahulu, danchou? Ada hal yang ingin aku bicarakan pada Naruto-kun."
Pada awalnya Dulio menaikkan alisnya atas permintaan anak angkatnya itu, tapi kemudian dia menarik Rin dan Shirou menjauh dari Naruto dan Arturia "Tentu saja. Apapun untuk putriku."
"Arigatou, tou-san." Balas Arturia dan itu membuat Dulio senang bukan main. Karena baru kali ini saja, Arturia memanggilnya dengan sebutan ayah. Karena, walaupun dia sudah menjadi ayah angkat bagi Le Fay, Arthur dan Arturia... Tapi hanya Le Fay saja yang memanggil dia sebagai ayah. Sedangkan Arthur dan Arturia selalu memanggilnya danchou atau Dulio-san seolah dirinya itu orang asing.
"Jadi apa yang kau ingin bicarakan denganku Arturia?"
Cup
Naruto terkejut saat bibirnya dikecup oleh Arturia. Kemudian dia menatap tajam Arturia dan berkata "Apa-apaan yang kau lakukan ini, Arturia-san?"
Arturia merasa bersalah karena merasa Naruto tidak menyukai ciuman yang dia lakukan bahkan dia tidak pernah menganggapnya sebagai gadis yang dicintainya "Maaf, kalau perbuatanku membuatmu marah dan kecewa, Naruto-kun. Aku hanya ingin berterima kasih atas semua bantuanmu dan karena kau telah mempercayaiku. Aku ingin mengatakan kalau aku mencintaimu, Naruto-kun. Tapi sepertinya hal ini masih terlalu cepat untuk kita."
"Aku minta maaf kalau sikapku membuatku kecewa, Arturia-san. Hanya saja... Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Menurutku ini masih terlalu cepat. Kalau aku boleh jujur, aku juga mempunyai rasa tertarik padamu Arturia-san. Tapi kita baru saja dua hari bertemu. Tidakkah kau pikir, kita harus mengenal satu sama lain lebih banyak lagi. Lagipula aku hanya sementara saja bergabung di tim kalian dan membantu Dulio-san. Jadi aku takut kalau hubungan kita akan berakhir begitu saja setelah kita berdua berbeda arah dan tujuan."
"Aku mengerti Naruto-san."
Naruto bisa melihat Arturia terlihat kecewa karena jawabannya, tapi kemudian dia berkata "Bagaimana kalau besok, kita pergi makan berdua dan mengenal satu sama lain. Mungkin saja kalau kita berdua semakin dekat, aku bisa berubah pikiran dan akan menetap disini. Bersamamu..."
Arturia yang digenggam tangannya oleh Naruto terlihat tersenyum dan berkata "Ide-mu bagus juga, Naruto-kun. Aku akan mengajakmu ke restoran favoritku dan kedua adikku. Mungkin setelah kesana, kita berdua akan bertambah dekat."
Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum sambil memeluk Arturia dan mengagumi kecantikan gadis Exorcist di depannya 'Sepertinya tinggal disini, tidak buruk juga. Aku juga penasaran, akan dibawa kemana hubungan kita oleh suratan takdir yang membimbing kita, Arturia-chan.'
-To Be Continued-
Review:
Hollow Heart Albion:
Ini opini pribadi apa orang-orang. Ane sebagai author juga reader suka baca juga kok Naruto x Saber dan fic mereka gak bisa dibilang recehan. Dan soal Gilgay, apa dia pernah make kemampuannya buat battle? Teman sesama author ane pernah bilang kalau dia make itu kemampuan cuma buat judi doang, jadi dia selalu memang dalam judi. Lagian Gilgay itu sosoknya arogan. Lu kira dia sudi buang-buang waktu make kemampuannya buat nyari tahu tentang musuhnya kalo dia bisa pake EA sampe musuhnya mampus.
mr0karam:
Why should I doing that. Is not like Naruto is weaker without it. Beside, Naruto is not a Fallen Angel which is advanced enough to take someone Sacred Gear like what Raynare did to Asia.
Dimas Kurosaki:
Harusnya sih bisa. Tapi FFN apk ane lagi bangsat. Keluar sendiri dan pas mau login lagi pake VPN malah gak bisa.
2B x 9S:
Itu mah urusan si Dradlos, bukan ane. Ane bikin main story, dia versi readingnya.
Arturia Uzumaki:
Mau gimana lagi, semua chara itu entar ada porsi pentingnya kaya di versi original. Makanya ane bakal bawa mereka balik lagi. Kalaupun ane gak make semuanya, Eileen sama Erza otomatis masuk. Soalnya Eileen itu disini ibu tiri Naruto sedangkan Erza saudari tiri Naruto.
