U' R'

Chapter 6 :

Story Of My Life

Cast:

Lu Han, Se Hun

EXO Members

Romance, Angst, a little bit Humor and Drama

This is Genderswitch. For Hunhan Indonesia Big Event

.

.

.

Mari tarik ulur semuanya kebelakang jauh sebelum kita bermain dengan masa depan Luhan dan Sehun beserta antek-antek mereka. Mari kita berjalan mundur untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan sang tokoh utama pria, Sehun. Oh Sehun. Anak ketiga dari tiga bersaudara yang keduanya merupakan perempuan. Jauh sebelum mengikrarkan diri sebagai kekasih EL –yang juga seorang laki-laki, Sehun merupakan pria normal yang mencintai wanita dengan segala keindahannya. Sehun tidak tahu bagaimana semua itu bermula pada hidupnya yang sempurna. Hadir sebagai anak terakhir juga sebagai putra kebanggaan keluarga bermarga OH tersebut tentu saja membuat Sehun kecil selalu mengecap apa yang namanya kebahagiaan tanpa batas. Kakak perempuan yang begitu menyayanginya dan selalu mengandalkannya menjadikan Sehun terlahir dengan pribadi yang ramah dan kuat secara bersamaan. Kehadirannya mampu membuat keadaan sekitar menjadi menyenangkan dan bersahabat ditambah dengan pekerjaan orang tua yang berhasil membuat Sehun dan kedua kakaknya tidak pernah mengalami apa yang dinamakan kesulitan.

Semua berjalan terlalu mulus dan membahagiakan. Usia yang masih muda bahkan Sehun sudah mampu merasakan getaran manis bernama cinta. Gadis manis yang menjadi kakak kelasnya sewaktu sekolah dasar menjadi orang beruntung tersebut. Bermodal cerita dari sang ayah tentang kenangan masa muda beliau dengan sang bunda, Sehun membuang rasa malunya dan mengatakan semua perasaan manisnya kepada gadis tersebut. Sekali lagi walau dengan usaha yang lumayan menguras keringat dan jantung yang hampir mati, Sehun berhasil menyatakan perasaanya meskipun ia tidak berniat menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya. Tujuan Sehun kala itu hanya ingin membuat kakak cantik itu tahu bahwa ada seorang adik kelas bermata sipit yang menyukainya dan syukurlah gadis itu memahami pemikiran imut Sehun. Mereka berakhir menjadi teman dekat hingga sang kakak lulus sekolah.

Perputaran waktu terus berjalan tak peduli bagaimana kita melaluinya dan dunia memang hanya diisi dengan benda fana yang akan berakhir cepat atau lambat tanpa disadari. Semua bermula ketika sang ayah itu meregang nyawa di tempat baringannya dengan tenangnya di hadapan ibu dan kedua kakak perempuannya. Entah mengapa meskipun hatinya sakit melihat sang ayah sudah kembali ke dunia sebenarnya namun rasa kecewa dan marah itu tidak bisa Sehun sembunyikan dari dirinya. Ia ingin sekali memaki ayahnya untuk membuat pria itu sadar dan kembali membangun asa yang telah mereka berdua janjikan. Sehun ingin mengumpati sang ayah agar pria itu teringat dengan janji mereka untuk membangun rumah pohon di belakang rumah, bermain sepak bola dan melakukan perkemahan bersama. Sehun menaruh harapannya tinggi di sana dan sang ayah menjatuhkannya dengan tidak kembali lagi membuka mata setelah semalam mereka berjanji untuk saling menjaga satu sama lain –janji laki-laki.

Hari itu, semua orang menangisi kepergian mendiang ayahnya bahkan sang ibu beberapa kali sempat tak sadarkan diri namun tidak dengan Sehun. Air matanya terasa kering bersama dengan rasa cintanya pada sang ayah yang menguap begitu saja hilang tak berbekas. Minggu depan adalah hari bahagianya, ia akan lulus dari sekolah dasar dan menjadi seorang pelajar menengah pertama namun yang ia dapatkan malah kepergian seorang bapak tanpa permisi. Mungkin sejak hari itu ia begitu membenci ayahnya walau sebenarnya semua itu hanya kamuflase atas perasaan kehilangannya yang mendalam.

Waktu terus berputar tanpa tahu diri meninggalkan siapapun yang tak bisa menggunakannya dengan bijaksana. Nampaknya ibu Sehun merupakan wanita yang bijaksana dengan memanfaatkan waktunya dengan sangat baik. Atau ia yang tidak tahu bagaimana ceritanya seorang pria yang mengaku teman ibunya duduk di rumah mereka dengan senyum brengseknya. Seingat Sehun ini sudah tiga kali pria itu datang ke rumahnya terhitung sejak tiga tahun kepergian ayahnya. Pria itu begitu besar dan tampak sempurna untuk ibunya yang kecil, di mata Sehun pria itu benar-benar sosok seorang ayah yang selama ini menghilang dari kehidupannya. Ia menyukai pria itu sebagai ayahnya bahkan kedua kakaknya pun telah bercerita jika mereka akan mempunyai ayah baru yaitu pria itu.

Sehun kecil memang sangat tampan untuk ukuran anak smp namun ia juga terlihat begitu menggemaskan. Kulitnya yang putih dengan mata kecil dan pipi yang bersemu merah membuat Sehun begitu memukau menyilaukan mata siapapun yang melihatnya. Termasuk seseorang yang sudah resmi menyandang status sebagai ayahnya tersebut.

Siang itu hari sabtu, Sehun baru saja kembali dari pelajaran tambahannya sebagai anak kelas tiga. Sedikit panas namun sanggup membuatnya berkeringat sangat banyak. Sehun mengayuh sepedanya dengan tenang untuk memberitahukan kepada ibunya jika ia sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan berharap bisa bermain game sepuasnya sepanjang hari mengingat kedua kakaknya sedang ikut sang ibu ke rumah nenek dan itu artinya ia bebas menguasai televisi di kamar atas. Yang Sehun tahu ayahnya adalah seorang pekerja kantoran biasa sehingga pria itu akan libur saat akhir pekan seperti sekarang dan tebakan Sehun benar. Ketika memasuki rumah ia mendapati sepatu sang ayah yang tersusun rapi di tempatnya dan sepasang sepatu lainnya. Bukan sepatu cantik seperti yang ibu dan kakaknya miliki namun sepatu laki-laki mirip dengan sepatunya. Dua pasang. Memutuskan untuk tidak terlalu peduli dengan siapa pemilik sepatu asing tersebut, Sehun segera masuk ke dalam rumah.

Niatnya ia ingin memanggil sang ayah untuk mengajaknya bermain game bersama atau paling tidak pergi keluar untuk makan siang bersama hilang ketika kaki kecilnya mendekati kamar orang tuanya, Sehun tertegun dengan apa yang ia saksikan. Ia tidak pernah tahu kegiatan apa yang tengah mereka berdua lakukan di atas tempat tidur ibunya. Pintu laknat yang terbuka sedikit memberikan akses yang cukup bagi Sehun untuk melihat semuanya dengan jelas. Semuanya tanpa sisa. Kedua manusia sama jenis itu bergumul, bergerak dengan kasar di atas tempat tidur ibunya dan mengeluarkan suara menjijikkan baginya. Entah mengapa begitu melihatnya Sehun merasa ingin berteriak menangis. Ia ingin sekali berteriak memanggil ayahnya yang entah ada dimana namun sialnya suara Sehun sama sekali tidak keluar. Ia ketakutan setengah mati begitu melihat siapa yang tengah berbuat tidak senonoh itu di kamar ibunya.

Pria itu berbalik, mengubah arah badannya yang sebelumnya membelakangi pintu menjadi melihat ke arah pintu sehingga Sehun bisa melihat wajah pria asing tersebut yang tampak memerah dengan mata terpejam. Tubuh pria itu bergerak statis begitu bersemangat dengan satu tangannya mencengkram kepala laki-laki yang satu lagi sementara tangannya yang lain memukul bagian belakang tubuh laki-laki tersebut. Entah apa mereka menyadari jika seorang anak 13 tahun menyaksikan perbuatan mereka namun Sehun yakin jika ia sedang menyaksikan tindakan perkembang biakan manusia secara homogen.

Dengan kaki gemetar Sehun melangkahkan kakinya menaiki tangga yang sialnya malah berujung dengan ia tersandung akibat ketakutan setengah mati. Ia sendiri juga bingung untuk apa ia takut padahal ia yakin ayahnya tidak mungkin melakukan hal demikian padanya dan yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari ayahnya dan menceritakan apa yang ia lihat siapa tahu sang ayah bisa menghentikan dua manusia tersebut. Memutuskan untuk mencari sang ayah di halaman belakang tanpa menganti pakaian, Sehun berlari secepat yang ia bisa dan sesunyi mungkin. Setelah memutari halaman hampir menangis ia berhasil menemukan sang ayah tengah duduk di ayunan belakang dengan sebuah majalah dan segelas minuman dingin.

"Ayah!"

Suara Sehun membuat Jaesuk menghentikan kegiatannya dan menarik Sehun untuk mendekat ke arahnya. Ia melihat bagaimana putra laki-lakinya tersebut sedang kesulitan mengatur nafas dan mencoba berbicara sesuatu padanya. Anak itu tampak ketakutan terlihat dari bagaimana ia berteriak memanggilnya barusan. Entah apa yang baru saja anak itu lihat atau alami namun yang ada di mata Jaesuk adalah,

Seksi.

Bagaimana Sehun berusaha menarik nafasnya dengan tenang, bagaimana kedua bahu bidang anak itu yang mulai terbentuk bergerak naik turun, bagaimana helaan nafasnya yang berat dan keringat yang mengalir dari pelipis hingga leher anak itu benar-benar membuat Jaesuk hilang akal. Jangan kira Jaesuk adalah pria normal yang hanya suka dada dan wanita, ia juga terkadang memuaskan nafsunya dengan beberapa pria cantik seperti kedua temannya yang ia yakin sedang bergumul panas dikamarnya. Sebenarnya sudah lama ia begitu tertarik dengan Sehun, namun ia tidak ingin gegabah dengan menunjukkan ketertarikannya pada anak tirinya tersebut. Ia harus bisa mengambil hati anak itu dan sepertinya usahanya berhasil.

Berpikir betapa menyenangkannya bermain dengan Sehun, Jaesuk memberikan Sehun minuman dinginnya yang tentu saja sudah berubah menjadi sesuatu nantinya. Ia pun turut mengusap punggung Sehun agar anak itu tenang dan bisa bernafas dengan lega. Setelahnya ia tinggal bermain peran sebagai ayah yang baik dan mendapatkan hadiahnya. Dimulai dengan telinganya yang berpura-pura mendengarkan aduan Sehun tentang orang asing yang asik bermain di kamar ibunya, Jaesuk memulai aksinya dengan mendekatkan dirinya kepada Sehun hingga mereka menempel sempurna. Memangku anak itu dengan sebelah tangannya ia lingkarkan ke pinggang Sehun dan sengaja bergerak menggoda. Sementara Sehun terus mengadu dengan sesekali bergerak resah akibat ulah Jaesuk pada tubuhnya.

"Ayah, jangan menggelitik pinggangku." Sehun berusaha menahan gerakan tangan Jaesuk pada pinggangnya yang malah mendapatkan sang ayah yang memainkan telinganya menggunakan hidungnya. Sehun bergidik geli berusaha menghindari gerakan aneh ayahnya sambil sesekali tertawa karena gerakan tangan Jaesuk di pinggangnya yang semakin menjadi.

"Ayah, hihi. Ini geli kumohon hentikan." Bolehkah kita katakan jika Sehun kecil benar-benar malang? Otak polosnya hanya berpikiran baik akan semua tindakan sang ayah yang ia kira sedang mengajaknya bermain untuk melupakan apa yang baru saja ia saksikan. Tidak pernah terpikirkan dalam pikiran Sehun jika yang sedang ayahnya lakukan adalah menyalurkan hasrat seksualnya yang terpendam sekian lama. Semakin banyak Sehun bergerak maka semakin keras juga tanda kelelakian pria tersebut. Berbekal Sehun yang lemas karena banyak tertawa, Jaesuk menggendong Sehun dengan mudahnya dan membawa anak itu menuju kamarnya –kamar Sehun sendiri. Ia sengaja tidak menurunkan Sehun ketika mengunci pintu, tetap berakting 'tertawa' layaknya ayah dan jagoannya yang sedang bercengkram hingga dengan santainya ia membaringkan Sehun di atas tempat tidur putra tirinya tersebut.

Sehun masih asik tertawa sambil sesekali berusaha membuat dirinya bernafas dengan baik sementara Jaesuk sudah terdiam terpesona menatap putra tirinya berbaring pasrah dibawahnya. Perlahan namun pasti jari-jari panjang dan besarnya yang kasar mulai mengusap pipi mungil Sehun yang memerah akibat terlalu banyak tertawa, kedua matanya memperhatikan Sehun dengan seksama mulai dari kedua mata si tampan meluncur ke hidungnya dan turun menuju bibir mungilnya yang tipis. Anggap saja Jaesuk mulai kehabisan kesabaran saat Sehun mulai membalas tatapannya dengan heran. Apa yang dilihat ayahnya dari wajahnya, apa yang membuat sang ayah terasa berbeda namun Sehun sama sekali tidak mengerti yang terjadi.

"Ay-"

Perkataan Sehun terputus begitu saja saat Jaesuk menyapukan bibirnya diatas bibir mungilnya. Bergerak, menghisap si kenyal yang hampir mirip marshmellow itu dengan penuh gerakan menuntut. Bukannya ia tidak merasakan bagaimana Sehun meronta dibawah kungkungannya namun rasa manis bibir putra tirinya tersebut membuatnya mabuk. Ia kemudian menarik kedua tangan Sehun dan menahannya di atas kepala anak itu. Setelah yakin anak itu tenang ia kemudian melepaskannya dan semakin memperdalam kegiatan bejadnya tersebut. Jika Sehun tidak mengigit bibirnya, mungkin anak itu sudah meregang nyawa akibat kehabisan nafas dan Jaesuk tidak akan pernah melepaskan ciumannya pada bibir si mungil. Melihat putranya menatapnya dengan tatapan ketakutan bercampur amarah, Jaesuk memulai lagi peran busuknya. Alih-alih meminta maaf atas perbuatannya ia malah mempengaruhi Sehun untuk mengikuti permainannya.

"Aku tidak bisa bernafas ayah!"

"Hahaha. Maafkan ayah ok manis, sekarang ayo kita bermain permainan seru." Sehun memang sudah sekolah menengah pertama, ia juga sudah dapat pelajaran tentang reproduksi namun yang tidak ia dapati dari sekolahnya adalah pelajaran bagaimana membedakan orang jahat dengan orang baik dan Sehun masuk perangkap dengan sangat mudah. Hanya mendengar kata-kata permainan yang ada di dalam otak Sehun adalah kegiatan menyenangkan yang akan ia lakukan berdua bersama sang ayah yang tentu saja akan membuat kedua kakaknya merasa iri dan itu membuatnya tak ragu untuk mengaggukkan kepalanya ditambah dengan mata berbinar senang menyetujui ajakan sang ayah.

Oh Sehun yang malang, kau masuk ke dalam lubang neraka sayang.

Tidak tahu permainan macam apa yang baru saja ia dan ayahnya lakukan yang jelas seluruh badannya sekarang sakit. Terlebih pada tubuh bagian bawahnya, organ vitalnya dan pantatnya yang terasa seakan melepuh. Sehun yang malang tidak punya lagi tenaga untuk sekedar membalikkan tubuhnya untuk melihat wajah pria brengsek yang sudah melakukan tindakan menyakitkan padanya. Ia bahkan tidak punya tenaga bahkan untuk mengeluarkan air mata kesakitan atas apa yang telah menyerang tubuhnya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah ayahnya –jika masih bisa disebut demikian padanya, yang ia pahami sang ayah mengajaknya bermain dan kemudian ia menuruti semua peraturan yang ayahnya tentukan pada permainan mereka. Walau heran dengan semua peraturan yang terdengar aneh ditelinganya namun Sehun tetap menurut ketika sang ayah menyuruhnya membuka pakaian sambil menikmati ciuman yang diberikan ayahnya pada bibirnya. Ia juga tetap diam ketika sang ayah memintanya membuka celana dan pakaian dalamnya kemudian berbaring dengan tenang sementara pria itu menciumi tubuhnya, bermain dengan 'belalai'nya bahkan ia menuruti permintaan ayahnya untuk tetap meredam tangisannya saat pria itu memasukkan 'belalai' miliknya ke dalam pantat Sehun. Tubuhnya terasa terbelah, ia mengerang kesakitan namun sekuat tenaganya Sehun menahan semuanya hanya karena iming-iming kemenangan yang ayahnya katakan jika Sehun tidak merengek atau menangis selama permainan mereka berlangsung. Satu hentakan, dua hentakan tiga empat dan hentakan-hentakannya semakin mengantarkan Sehun pada rasa sakit yang semakin menjadi-jadi namun ia tetap berusaha diam meskipun bibirnya sudah mulai berdarah dan air matanya tak berhenti mengalir. Sehun pikir ketika sang ayah mengeram dan menyemprotkan sesuatu ke dalam tubuhnya itu artinya permaina mereka selesai dan ia menang namun ternyata ia salah. Permainan itu terus berlanjut dengan pergerakan yang sama hingga yang terakhir membuat dirinya hampir mati rasa. Permainan itu selesai ketika sang ayah lagi-lagi menyemburkan sesuatu dari belalainya dan mencium bibirnya puas. Meninggalkan Sehun begitu saja.

Inikah permainan yang dimaksud ayah? Jika benar aku tidak akan pernah bermain lagi dengan ayah sampai kapanpun.

Semua hanya permulaan. Awalnya Sehun ingin mengadukan semuanya pada sang ibu namun melihat binar kebahagiaan yang selalu terpancar pada wajah wanita itu membuat Sehuh menahan semuanya sendiri. Sejak kejadian hari itu ia selalu mendapatkan sang ayah tersenyum mesum padanya membuat Sehun menutup diri dari keluarganya. Meskipun kedua kakaknya bertanya ada apa dengannya bahkan sang ibu juga menanyakan perubahannya, Sehun kembali menjadi normal lagi atau berusaha untuk kembali normal lagi saat malam itu sang ayah menghampirinya dan mengancam akan melakukan hal yang serupa dengan kedua kakaknya yang cantik sampai mereka mengandung anaknya jika Sehun masih bertindak layaknya banci, menghindar seperti sekarang dan Sehun masih hati untuk sekedar berlaku egois pada kedua kakaknya.

Mungkin Jaesuk memang keturunan iblis yang entah bagaimana caranya bisa berteman dengan ayah kandungnya dan dekat dengan ibunya. Pria brengsek yang sempurna. Setidaknya itulah yang selalu Sehun tanamkan dalam hati dan pikirannya saat ia sudah beranjak semakin besar. Ia bahkan berusaha belajar beladiri untuk sekedar melawan ayahnya jika pria itu sewaktu-waktu kembali gila ingin memperkosanya.

Namun Sehun tetaplah Sehun.

Oh Sehun si kecil yang malang.

Semua terjadi begitu cepat bahkan sebelum ia bisa melayangkan satu pukulan ke wajahnya bejad ayahnya –bahkan Sehun tak sudi menyebutnya ayah sampai hembusan nafas terakhirnya kelak. Pria itu menarik tangannya yang baru saja pulang bimbingan belajar malam itu membawa keluar rumah tanpa sempat melepas sepatu. Sehun paham kemana arah pria itu membawanya dan saat ia hampir memukul kepala si mesum, pria brengsek itu berbalik dan mengatakan ancaman seumur hidupnya, "Kalau kau berani melawanku, ucapkan selamat tinggal pada ibumu tercinta dan masa depan cerah kedua kakakmu yang cantik." Maka malam itu setelah kelelahan melawan pukulan yang diterima dari sekitar empat orang yang mengaku teman-teman ayahnya, Sehun harus pasrah ketika salah satu dari pria itu memukul tepat diulu hatinya sehingga membuatnya kesulitan bernafas. Saat kritis itu terjadi, pria bejad lainnya mendekatinya dan memberikan minuman yang membuatnya mati rasa. Tidak ada yang bisa ia lakukan bahkan ketika tangan-tangan setan mereka membuka paksa kemeja sekolahnya, mulut-mulut brengsek itu menciumi seluruh tubuhnya bahkan ia sama sekali tidak bisa mengelak saat salah satu dari mereka membuka paksa celana panjangnya. Tangan setan itu kemudian merambati bagian bawah tubuhnya sambil sesekali berbisik kata-kata iblis yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Sehun itu laki-laki bukan perempuan! Ia masih punya harga diri meskipun sudah terinjka-injak seperti sekarang. Berusaha sekuat tenaga untuk bisa menggerakkan tubuhnya yang ada gerakan yang ia hasilkan malah memancing gairah pria yang sudah menggerayangi tubuhnya. Mungkin tubuhnya memang mati rasa, tapi Sehun masih sadar. Telinganya masih bisa mendengar kalimat-kalimat bejad yang mereka lontarkan tentang tubuhnya, telinganya masih menangkap dengan jelas bagaimana mereka mengeluarkan suara menjijikkan setiap berhasil menjamahnya dan yang jelas ia masih ingat dengan sangat baik bagaimana mereka memaksakan diri untuk menyatu dengannya. Sekali, dua kali, hingga berkali kali benda itu keluar dan masuk ke dalam tubuhnya membuat Sehun agak terbiasa meskipun ia tetap merasa kesakitan dan juga hina. Manusia-manusia brengsek itu terus menyetubuhinya, memperlakukan Sehun layaknya pelacur jalanan yang bebas dijamah siapa saja. Hal terakhir yang Sehun ingat adalah ayahnya yang tertawa sambil mengatakan, "Kita berpesta malam ini!".

Jangan tanya apa yang sekarang Sehun rasakan. Jika bisa ia ingin menggali kubur ayah kandungnya dan ikut membenamkan diri disana. Sebesar apa sekarang harga diri yang sejak dulu ia tanamnkan tidak ada apa-apanya lagi sekarang. Semua karena pria brengsek iblis jahanam yang sudah mengotorinya dengan sadis tanpa cela. Sehun rusak. Apa ia masih punya muka untuk sekedar melihat wajah sumringah ibunya nanti? Untuk membalas candaan kakak-kakaknya? Atau untuk sekedar menghadap keluarga besarnya yang sangat menjunjung tinggi kehormatan? Lebih baik mati menjadi gelandangan daripada harus berpura-pura tegar seperti sedia kala. Maka berbekal uang tabungan yang sudah ia kumpulkan sejak kecil –ajaran sederhana sang ayah kandung, Sehun bertekad untuk keluar dari rumah yang sudah memberikannya pelajaran hidup, kebahagiaan dan kesakitan. Membawa semua perlengkapan diri dan barang-barang yang ia butuhkan, Sehun meninggalkan selembar surat sederhana dan sebuah surat tanda penerimaan mahasiswa di meja makan tempat biasa ibunya meletakan piring makannya.

Aku diterima di universitas S. Doakan aku ibu.

Oh Sehun.

.

.

Siang itu semua berjalan seperti biasa. Sehun tidak berbohong atas surat penerimaanya di universitas S tersebut lengkap dengan beasiswa yang ia dapatkan hanya saja ia memanipulasi tanggal masuk asrama yang sebenarnya tidak ada. Semua hanya akal-akalannya agar bisa keluar dari lubang neraka itu secepatnya tanpa banyak kebohongan dan ternyata Tuhan memberikan balasan atas perlakuannya. Tempatnya tinggal memang bukan tempat nyaman yang penuh fasilitas, hanya sebuah kamar kecil yang berada di atas toko roti sederhana tempat Sehun mencari uang. Bekerja full time di sana sampai ia masuk kuliah nanti, mengumpulkan uang demi memenuhi kebutuhannya dimasa mendatang.

Toko roti tempatnya bekerja tidak begitu ramai. Hanya beberapa pelanggan yang duduk sembari mengobrol riang ditemani beberapa potong roti dan minuman dingin beraneka rasa. Tidak ada yang menarik sih sebenarnya disana hanya saja Sehun merasa tertarik dengan seseorang yang duduk di dekat jendela sambil memainkan pensil menggunakan jemarinya. Dari sudut pandang Sehun, pria itu hanya pria biasa yang menarik. Kulitnya putih, wajah pria itu mungil dilengkapi dengan rambut potongan pendek yang manis. Astaga ia sudah mulai meragukan orientasi seksualnya.

Awalnya Sehun merasa baik-baik saja, mungkin hanya sebatas rasa kagum dengan orang sesama jeni dengannya karena bentuk mereka yang hampir feminim. Namun begitu pria itu membalikkan wajahnya dan sialnya mengarah kearahnya saat itu juga Sehun mulai merasakan ada yang tidak beres dalam dirinya. Sampai detik ini ia masih yakin jika ia memang menyukai wanita dengan segala bentuk keseksian mereka, kemolekan tubuh dan kenikmatannya walau ia sendiri belum pernah merasakan apa itu rasanya berhubungan intim dengan wanita. Namun sejak detik ini juga ia mulai meragukan mengapa detak jantungnya berdetak cepat seakan ia gugup atas tatapan pria itu. Dan semua itu masih belum seberapa sampai pria itu tiba-tiba melemparkan senyum kearahnya. Detik itu juga Sehun merasa ia sudah berubah menyimpang dari kodratnya.

Ia suka atas apa yang dilakukan pria itu.

Sehun berusaha untuk tetap tenang mengerjakan semua kegiatannya hari itu namun ia tetap tidak bisa menutupi rasa kecewanya begitu pria manis itu pergi meninggalkan toko roti. Bergegas untuk merapikan meja bekas pria itu, senyum Sehun terbit begitu saja ketika ia mendapati selembar kertas kecil bertuliskan nomor telepon pria itu. Ada banyak yang bergejolak dalam dirinya namun Sehun tetap mengambil kertas tersebut dan pergi kebelakang sambil mengeluarkan ponselnya. Mencatat nomor tersebut sambil meramalkan doa permintaan maaf atas apa yang sudah ia lakukan. Semoga tuhan tidak menghukumnya lebih jauh dari sekarang.

0361-xxx-xxx

EL :)

.

.

.

TBC

HALO!

Yang mau tahu gimana Sehun bisa like men ini awalnya yak. Oia, khusus buat chapter ini aku karang sendiri alias tidak berdasarkan cerita temenku yak. Soalnya temenku yang begitu itu gak ceritain awalnya kenapa dia bisa Like Men. Masih sabar kan yak nungguin Luhan bersatu dengan Sehun dan Baekhyun biar bisa ketemu Chanyeolnya lalalalala.

Terima kasih yaaaaaak masih setia membacanya haha. Padahal tadinya aku mau udahan aja lah ini cerita mau diapus buat diperbaiki Cuma ternyata masih ada yang review berarti masih ada yang baca walau sebiji dua biji. Makasih looooh.