Ada banyak hal yang berputar dalam kepala Luhan sekarang dan hal yang paling menganggunya –jika bisa disebut menganggu adalah gejolak perasaan pada seseorang. Luhan bukannya tidak tahu kapan perasaan itu mulai tumbuh atau lebih tepatnya berganti sebab sejak dulu ia sudah menaruh perasaannya tepat pada tempatnya. Pria itu adalah seseorang yang sudah ia kasihi bahkan sejak awal pertemuan mereka hingga tidak alasan baginya untuk merasa semuanya salah. Namun setelah apa yang terjadi diantara mereka, apa yang telah mereka lalui bersama selama hampir tiga tahun belakangan ini bahkan perasaan itu bukannya memudar atau menghilang tapi semakin kuat dan terasa. Luhan yakin ia bukanlah seorang playgirl yang mampu menyukai dan menaruh hatinya dengan cepat kepada orang lain, tapi ini bukanlah orang asing.

Luhan mengenalnya dengan sangat baik, terlalu baik malah dan itu membuat Luhan semakin ragu.

Pria itu berbeda, Luhan yakin ia bahkan tidak mungkin mempunyai perasaan yang sama dengannya namun ia juga bukan gadis yang tak mengerti arti bahasa tubuh yang dilakukan seseorang padanya.

Orang itu menaruh sesuatu yang berbeda padanya.

Dan sialnya, Luhan menyukai sesuatu itu.

.

.

U' R'

Chapter 8 :

Going Crazy

Cast:

Lu Han, Se Hun

EXO Members

Romance, Angst, a little bit Humor and Drama

This is genderswitch.

.

.

"Kau yakin?"

Baekhyun bertanya sekali lagi pada El yang sudah bersiap di depan pintu keberangkatan. Pria itu, entah bagaiaman Baekhyun harus menggambarkannya lagi. Setelah semalaman menangis di bahunya dan membuatnya melupakan tugas-tugasnya, ia kemudian memaksa Baekhyun untuk turut ikut bersamanya pergi ke suatu tempat. Benar-benar memaksa. Bahkan rayuan Baekhyun yang mengatakan akan menghubungi Sehun saja untuk menemaninya tidak berpengaruh sama sekali hingga berakhirlah mereka berdua di pintu keberangkatan penerbangan pagi ini. Anggap saja El adalah orang kebanyakan uang sehingga ia membiayai perjalanan Baekhyun hari ini lengkap dengan pakaian yang akan dipakai gadis itu nantinya.

"Percaya saja padaku. Semua keperluanmu akan terpenuhi." Setelah memberikan tiketnya untuk diperiksa, El menggandeng tangan Baekhyun untuk segera berjalan di sebelahnya. Ia takut saja si seksi itu akan pergi menghilang atau nekat kabur mengingat bagaimana tingkah Baekhyun selama ini. Sementara Baekhyun, gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah sambil terus direcoki Sehun yang sejak tadi sudah mengomeli dirinya melalui pesan singkat. Laki-laki itu bahkan mengiriminya pesan suara yang berisi ocehannya karena Baekhyun pergi tanpa pesan apapun dan membawa El pergi. Memangnya orang gila mana yang mau dengan sukarela membawa kabur manusia bernama EL? Baekhyun masih punya otak yang berguna dengan sangat baik dan mengajak EL kabur bukanlah hal yang normal. Kalau saja Sehun tahu kalau ide ini lahir dari otak kekasihnya pasti ia sudah akan berlarian ke bandara dan menahan mereka pergi. Tapi sampai detik dimana ia dan EL duduk di bangku mereka, Baekhyun tidak mendapati sosok heroik seperti di drama-drama muncul untuk menyelamatkan hidupnya.

Sedikit banyak Baekhyun berharap Sehun muncul.

"Sehun tidak akan datang. Liburan kali ini hanya untukku dan untukmu." Seakan mengerti isi pikiran Baekhyun, El menunjukkan ponselnya yang sudah mati total sementara ia segera mengambil ponsel gadis itu dan mematikannya.

"Jangan gila El, aku masih harus kuliah dan ini bukan liburan!"

"Anggap saja kau sedang berlibur sebelum ujian akhir." Senyum El yang sebenarnya manis itu semakin lama semakin membuat Baekhyun gatal untuk mencakar wajanya.

"Ini bukan liburan! Ini penculikan namanya!"

"Penculikan yang romantis hihi." Setelahnya Baekhyun sengaja mengigit El untuk dapat mengambil ponselnya dan mengaktifkannya kembali untuk sekedar mendengarkan musik dari sana. Itu lebih baik daripada menanggapi ocehan tidak jelas El yang sudah pasti membuatnya merinding.

Tersenyum melihat tingkah Baekhyun, El membiarkan gadis itu larut dalam dunianya sendiri. Menggumam sambil menggerakkan tubuhnya sedikit mengikuti irama lagu yang sedang terputar dari ponselnya. Diam-diam El bersyukur ia bisa mengenal gadis menggemaskan disebelahnya ini. Baekhyun memang bukan tipikal gadis manis yang mampu menarik perhatian pria dengan kedipan mata saja, Baekhyun berbeda. Ketimbang Luhan yang jelas-jelas terlahir sebagai seorang primadona, Baekhyun lahir sebagai putri yang rindu alam bebas. Anggap saja El sudah sinting berani berpikir demikian tentang sahabat kekasihnya tersebut namun ia yakin ada sosok putri yang tertidur di dalam diri seorang Byun Baekhyun dan niatnya membawa Baekhyun pergi hari ini adalah untuk membangunkan putri itu.

Anggap saja rasa terima kasihnya kepada semua perhatian yang secara tak sadar Baekhyun berikan padanya walau gadis itu bermulut kejam namun tingkahnya selalu manis.

Orang itu pasti bisa membangunkanmu Baek, aku yakin.

EL sudah siap untuk mengakui dosanya di depan Baekhyun jika itu yang harus ia lakukan demi membangunkan sisi lain gadis itu. Ia siap untuk melukai hatinya sekali lagi, meludahi harga dirinya sekali lagi, mengemis, mengiba, membuat dirinya hina lagi dan lagi semua demi Baekhyun. Ada perasaan yang kuat setiap ia melihat Baekhyun dan semakin hari ia semakin yakin akan keputusannya. Sejak awal ia memutuskan untuk mendekatkan dirinya dengan gadis itu, EL sudah bersumpah untuk menyentuh lagi masa lalunya yang sempat ia buang. Semua karena Baekhyun sangat mengingatkannya pada orang itu.

"Aku mengantuk, kita masih menunggu berapa lama lagi?" Suara Baekhyun dan sentuhan gadis itu pada lengannya membuat El kembali sadar dari pemikirannya tentang masa lalu. Ia meraih tangan Baekhyun, membawanya ke dalam genggamannya, "Tidurlah. Aku masih kuat kok untuk sekedar menggendong sampai ke dalam pesawat nanti." Dan Berakhir dengan pukulan Baekhyun di kepalanya karena ucapannya barusan.

"Menggelikan!"

.

.

Luhan tidak bisa berhenti tersenyum melihat Sehun yang terus menerus menggerutu akibat tingkah El dan Baekhyun atau lebih tepatnya El. Pria itu sejak tadi tak hentinya mengomeli ponselnya yang tak punya dosa apapun itu, menyumpahinya sampai membantingnya tanpa dosa. Luhan tahu Sehun kesal dengan El yang membawa pergi Baekhyun mendadak tanpa memberitahukannya sementara Baekhyun malah asik mematikan ponselnya tanpa peduli betapa pusingnya Sehun disini. Pria itu terlalu menyayangi Baekhyun selayaknya adik sementara EL tentu saja ia khawatir karena pria itu adalah kekasihnya. Bagaimana denganmu Luhan, bagaimana rasa sayang Sehun padamu, sebatas teman dekat atau lebih dari itu?

Larut dalam lamunannya akan perasaan Sehun padanya, Luhan tidak menyadari Sehun yang sejak tadi sudah beralih kegiatan menjadi memandanginya. Ia memilih untuk tetap diam tak menganggu Luhan dari lamunannya sebab ini adalah waktu yang sangat langka. Bagi Sehun sulit untuk bisa mendapatkan kesempatan memandangi Luhan tanpa ada gangguan seperti sekarang. Perlahan senyum itu terbit di wajah Sehun saat kedua matanya mendapati gadis itu mengubah-ubah ekspresi wajahnya. Benar-benar menggemaskan. Tak ada yang tahu dan paham betapa rapuh dan terlukanya Luhan sebenarnya jika hanya melihat dari tampilan luarnya saja dan Sehun bersyukur ia bisa memahami sisi terdalam gadis itu dengan sangat baik.

Perbincangannya dengan El beberapa waktu lalu tiba-tiba saja berputar masuk ke dalam ingatannya. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, Sehun telah meyakini sesuatu dalam dirinya bahwa ia telah menaruh perasaannya pada tempatnya. Tidak akan ada lagi kesalahan. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, Sehun merasa ia harus menyelesaikan apa yang telah ia bangun bersama El sejak dulu. Ia harus memutuskan akan menjadi apa hubungan mereka ke depannya, karena mereka memang sudah dipastikan tidak akan berakhir bahagia. Entah dirinya atau laki-laki itu salah satu dari mereka pasti akan lebih dulu menyadari kodrat mereka.

Dan ia yakin, ia telah menyadari kodratnya.

"Aku tahu kalau aku cantik tapi aku tidak tahu kalau itu bisa membuatmu terkesima begitu." Sehun benar-benar kembali ke dunia nyata bersamaan dengan sentuhan lembut Luhan di pipinya. Ya tuhan jangan tanya apa yang lagi yang sedang pria itu rasakan kalau bukan perasaan senang dengan berjuta kupu-kupu berterbangan disekitarnya. Terlalu romantis untuk ukuran seorang Oh Sehun namun itu adalah kenyataan.

"Maaf, aku hanya terlalu banyak pikiran." Dari kejauhan sekilas tingkah keduanya terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah asik memadu cinta di tengah hiruk pikuk kampus, tanpa sadar Sehun telah menggenggam jemari Luhan yang tadi menyentuh pipinya sementara gadis itu hanya diam dengan senyum manisnya. Hal yang jelas-jelas membuat seseorang yang duduk dua meja dari mereka tertawa kecil. Entah apa yang jelas ia merasa ikut masuk ke dalam kebahagiaan yang tanpa sadar kedua sejoli itu pancarkan.

"Zi? Ada yang lucu?" Hayoung yang baru saja datang merasa heran melihat Zitao yang sejak tadi senyum-senyum sendiri. Sedikit banyak ia khawatir dengan kejiwaan Zitao yang mungkin mulai sakit atau apalah karena kisah cintanya yang tidak mulus. Ini berbahaya bahkan lebih bahaya daripada hubungan Yixing dan Kris yang sudah sampai pada titik berpacaran. Hayoung membulatkan matanya seketika dan mulai memperhatikan sekitar hanya untuk memastikan jika tidak ada Yixing atau Kris bahkan keduanya berkeliaran diantara kampus. Ia tidak mau ambil resiko melihat Zitao kembali patah hati untuk kesekian kalinya hanya karena mendapati pujaan hatinya yang kembali menjalin kasih dengan orang lain atau bisa dikatakan sahabat sendiri?

Hayoung benar-benar memastikan jika tidak ada hawa-hawa Kris dan Yixing disekitar mereka, kalaupun ada ia akan berusaha sekuat tenaga untuk membawa Zitao pergi dari tempat itu entah kenapa pun selama itu tidak ada mereka. Dua kali matanya meneliti sekitar sambil sesekali melihat ke arah Zitao yang masih tersenyum tak jelas, Hayong yakin jika dua sejoli itu tidak ada di sekitar mereka dan memutuskan untuk duduk di depan Zitao. Gadis itu kemudian menggerakkan tangannya untuk membawa perhatian Zitao ke dunia nyata lagi atau paling tidak ia tidak lagi tersenyum tak jelas begitu.

"Zi,"

"Hmm?" Hayoung mendapati Zitao yang telah kembali kepada keadaan semula. Gadis itu tersenyum sembari memberikan perhatian padanya yang membuat Hayoung merasa semakin bersalah. Ia sebenarnya bingung apa sih yang pernah dilakukan sahabatnya tersebut di masa lalu sampai-sampai masalahnya begitu pelik dan menyakitkan. Semuanya terlihat begitu semangat mempermainkan hati gadis yang dikenal tomboy tersebut.

"Apa sih yang lucu?" tanya Hayoung sembari menahan dirinya untuk tidak menarik Zitao ke dalam pelukannya dan meminta pengampunan gadis itu.

"Tidak ada."

"Lalu mengapa kau tertawa sendiri daritadi? Menyeramkan tau." Hayoung tidak langsung mendapatkan jawaban dari pertanyaannya namun ia kembali mendapatkan senyum Zitao.

"Itu," Zitao mengarahkan telunjuknya ke arah Sehun dan Luhan yang sekarang sedang asik bercanda sambil sesekali terdengar umpatan Sehun, "Entah apa yang mereka lakukan padaku tapi hanya dengan melihat mereka tertawa saja sudah bisa membuatku ikut senang." Hayoung memutar tubuhnya untuk bisa melihat keadaan Sehun dan Luhan lebih baik dari sebelumnya yang kemudian tanpa sadar ikut tersenyum juga. Sahabatnya itu benar, entah apa yang mereka berdua lakukan sampai bisa membuatnya mau tak mau ikut bahagia juga.

"Young, kau tau tidak kalau aku berharap supaya mereka berdua bisa berakhir bahagia bersama. Sehun yang kembali normal dan Luhan yang menjadi pasangannya." Perkataan Zitao membuat Hayoung perlahan membalikkan tubuhnya untuk menghadap gadis itu yang sekarang tengah menatapnya lembut.

"Harus Luhan ya pasangannya? Kenapa tidak Baekhyun?"

Mata kucing Zitao membulat begitu mendengar pertanyaan Hayoung yang menurutnya bodoh tak tidak masuk akal. Baekhyun? Hei semua orang tahu jika Sehun dan Baekhyun itu adalah pasangan anjing dan kucing yang akan selalu berkelahi sampai kapapun juga. Satu-satunya manusia yang bisa melengkapi Sehun hanya gadis manis bermata rusa yang bernama Luhan bukan gadis berjiwa bebas selayaknya Byun Baekhyun. Setidaknya Zitao masih ingin hidup beberapa tahun lagi sehingga menyatukan Baekhyun dengan Sehun bukanlah hal yang baik untuk kelangsungan hidup dunia.

"Hayoung, ayo kita bertaruh. Hari ini aku memasang taruhan jika kelak Oh Sehun akan menikah dengan wanita dan wanita itu adalah Luhan."

.

.

Sudah sepuluh menit sejak mendarat Baekhyun tidak berhenti menggerutu meskipun sebenarnya dalam hati ia sangat terkagum-kagum dengan apa yang tersaji dihadapannya. Tidak ada yang indah sih sebenarnya, bukan pandang rumput yang begitu luas atau pegunungan yang sejuk melainkan hiruk pikuk kota metropolitan biasa namun tetap saja gedung-gedung tinggi yang menjulang itu berhasil membuat Baekhyun berdecak kagum. Ia memang bukan tipikal gadis pecinta alam yang suka dengan pepohonan melainkan gadis metroseksual penggemar gedung kembar. Baekhyun benar-benar punya jiwa gadis perancis yang suka berjalan dengan sepatu hak tinggi di tengah kota pada jam sibuk. Itu sebabnya sejak tadi ia sebenarnya merasa bahagia bisa menginjakkan kakinya di kota dengan julukan Big Apple tersebut.

Berbeda dengan Baekhyun yang menggerutu namun diam-diam bahagia, El justru terlihat sangat menikmati kedatangannya di negara ini meskipun tetap saja ia merasa cukup khawatir dengan keadaan yang akan ia hadapi nantinya. Masih sangat hangat di dalam ingatannya bagaimana ia akhirnya memutuskan untuk pergi dari negara yang pernah menjadi saksi bisu kisah hidupnya yang tidak pernah indah seperti yang orang lain pikirkan. Ia membuang semua kemewahan dan kenikmatan yang melekat di tubuhnya hanya demi seseorang yang El sendiri sanksi orang itu mau melihatnya barang sedetik pun. Ia telah merelakan harga dirinya terbuang begitu saja, terinjak di hadapannya hanya demi orang itu. Sekarang, El terpaksa meludahi dirinya sekali lagi demi gadis yang sedang menggerutu cantik di sebelahnya. Jika ia harus pergi meninggalkan Sehun dan semua kenangan manis dengan pria itu maka satu orang yang sangat ingin ia bahagiakan adalah Baekhyun, bukan Sehun.

Alasan klasik, karena gadis itu berhasil masuk ke dasar hatinya dan membuatnya yakin jika inilah hikmah dari perjalanan cintanya dengan Sehun.

"Kau benar-benar penculik."El hanya tersenyum sambil kemudian merangkul Baekhyun untuk lebih mendekat ke arahnya. Ia lalu mendekatkan kepalanya ke arah telinga gadis itu dan berbisik, "Terima Kasih cantik," yang langsung di hadiahkan pukulan di perutnya.

"Laki-laki mesum!" Baekhyun berjalan cepat meninggalkan El yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Kalau biasanya ia takut Sehun kemasukan setan dan lantas berbuat yang tidak-tidak padanya, sekarang ketakutan itu semakin menjadi karena El malah lebih terlihat seperti penjahat kelamin yang kerasukan setan pedofil. Baekhyun benar-benar takut karena lama kelamaan suara tawa El semakin mirip dengan badut IT yang tempo hari ia dan Luhan tonton bersama.

Langkah Baekhyun terhenti begitu saja ketika ia sadar kalau tidak ada siapa-siapa yang bisa ia andalkan selain laki-laki sialan yang sejak tadi masih tertawa di belakangnya. El yang menyadari kekalahan Baekhyun lantas menarik tangan gadis itu dan membawanya ke parkiran untuk mengambil sewa mobil yang sudah ia pesan beberapa waktu lalu. El bersungguh-sungguh saat ia akan memenuhi semua kebutuhan Baekhyun bahkan ia sengaja membawa gadis itu ke tempat tinggal orang tua asuhnya dan memperkenalkan gadis itu selayaknya teman pada umumnya. Baekhyun hanya bisa tersenyum canggung mendapati keluarga asuh El yang berasal dari Amerika itu benar-benar berpikiran terbuka. Mereka tidak bertanya macam-macam seperti keluarganya saat ia membawa Sehun berkunjung. Paman Ed dan Bibi Sofie, mereka berdua benar-benar membuat Baekhyun merasa nyaman sesaat setelah ia memasuki rumah El.

"Istirahatlah, nanti malam kita akan jalan-jalan!" El mempersilahkan Baekhyun masuk ke kamarnya dulu. Gadis itu hanya mengangguk sambil memperhatikan suasana kamar yang tak jauh dengan kamar El di Korea, baik dari gradasi warna sampai susunan barang-barangnya. Setelah membalas perkataan El, Baekhyun lantas memulai petualangannya untuk melihat lebih lama lagi detail dari kamar laki-laki tersebut. Ada banyak buku, piagam dan foto-foto yang sangat menarik terpajang di kamar itu namun dari sekian banyak foto yang terpajang ada satu objek yang benar-benar membuat dahi Baekhyun berkerut. Itu hanya foto El dengan seorang pria yang terlihat sangat bahagia, namun bukan wajah El yang membuatnya penasaran meskipun di foto itu El tampak begitu senang dan senyumnya benar-benar tulus tapi wajah pria yang sedang bersamanya. Baekhyun perlahan mendekat sampai akhirnya ia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

Baekhyun memang pelupa namun ia tidak pernah lupa siapa yang sedang ia pandangi sekarang.

Pria itu adalah ia, laki-laki pertamanya.

.

.

TBC.

Laki-laki pertama Baekhyuuun? Cie ah~

Yang kemaren minta El jangans ama Baekhyun, tenang Baekhyun tetap dengan pasangannya kok hihi.