"Hai Baekkie, apa kabar?"

Hanya satu sapaan dan semua hancur begitu saja. Baekhyun sama sekali tidak menyangka jika hatinya selemah dan serapuh itu, dapat luluh hanya dengan satu sapaan sederhana yang tidak berarti apa-apa. Lebih dari sekedar wajahnya yang masih sama seperti apa yang selama ini ia ingat, senyum pria itu juga tidak berubah sama sekali, baik dari segi bentuknya hingga dampaknya. Debaran itu masih ada bahkan diam-diam Baekhyun sangat bersyukur atas pengendalian dirinya yang hebat karena mampu menahan tubuhnya untuk tidak berlari ke arah pria itu dan memeluknya atau memukulnya mungkin karena telah meninggalkan luka tak kasat mata atas hati dan perasannya.

"Wah, sepertinya kalian sudah bertemu. Nah Chanyeol perkenalkan ini Baekhyun sahabatnya Sehun di Korea yang juga menjadi incaranku sekarang, dan Baekhyun ini Chanyeol, sepupuku." Perkataan El jelas membuat Baekhyun ingin memukuli entah siapapun itu sekarang, mengutuk takdir yang digariskan untuknya, mengapa dunia dan lingkarang hidupnya sangat kecil?

Mantan kekasih sahabatmu adalah sepupu dari mantanmu. Bagus.

Permainan apalagi yang harus dimainkannya kali ini?

.

.

U' R'

Chapter 8 :

Barriers

Cast:

Lu Han, Se Hun

EXO Members

Romance, Angst, a little bit Humor and Drama

This is genderswitch.

.

.

Luhan tidak pernah segugup ini sebelumnya saat hendak bertemu dengan orang lain, bahkan ketika ia harus menemani Baekhyun atau Sehun bertemu dengan narasumber untuk tugas-tugas mereka, Luhan selalu menjadi gadis yang paling tenang daripada kedua sahabatnya tersebut. Namun entah mengapa hari ini semua rasa percaya diri, keberanian hingga ketenangan yang selama ini menjadi nilai tambah dalam dirinya hilang begitu saja. Pertemuan itu sebenarnya sangat sederhana, hanya pertemuan dua belah pihak yang telah lama tidak bertemu di sebuah kedai kopi yang cukup ternama. Rasa rindu memang sempat hadir ketika dirinya dan orang itu saling bertukar pesan bahkan terbesit juga keinginan untuk saling bertemu melepaskan rindu yang melanda. Namun mengapa setelah sepuluh menit berlalu, Luhan sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Ia masih duduk dengan perasaan ragu di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari kedai kopi tersebut.

Seorang wanita yang cukup berumur duduk dengan tenang di dekat jendela, secangkir kopi beraroma americano menemani wanita tersebut. Sesekali Luhan melihat bagaimana wanita itu mencoba mengecek ponselnya untuk kemudian melihat sekitar sebelum akhirnya memilih untuk mengesap pahit sang kopi. Jauh dalam sudut hati kecilnya, Luhan tidak dapat berbohong atas perasaan rindu yang merebak disana. Ingin rasanya ia keluar dari mobil untuk kemudian berlari ke arah wanita tersebut, memeluknya, menumpahkan segala rasa rindu yang memenuhi hatinya. Namun apa daya, luka tak kasat mata itu kemudian hadir mengiringi semuanya. Berkali-kali bahkan ribuan kali Luhan selalu menanamkan dalam hati dan pikirannya jika apa yang telah terjadi padanya bukanlah kesalahan wanita itu atau siapapun juga melainkan hanya pria itu seorang. Namun sekuat apapun Luhan berusaha, perasaan marah dan kecewa itu tetap saja datang memeluk hatinya yang rapuh.

Mencoba menarik nafas untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya, Luhan memutuskan untuk keluar dari mobil dan menyelesaikan semuanya. Apapun, segalanya yang telah hadir dalam hidupnya tentu saja ada alasan yang masuk akal di sana dan pertemuannya kali ini dengan wanita itu Luhan yakini Tuhan mempunyai alasan yang tepat mengapa semuanya harus berjalan dalam garis hidupnya. Pilihan itu memang ada dua, menolak dan menerima namun sebelum pilihan itu hadir Luhan telah melemparkan dirinya dalam kubuangan menerima maka tidak ada kata mundur di sana. Tidak ada gemerincing lonceng tanda pintu terbuka, hanya suara kendaraan yang terdengar lebih jelas dari sebelumnya membuat para pelanggan mengarahkan pandangan mereka ke pintu masuk. Luhan berdiri di sana dengan segala kesakitan dan rasa kecewa ia mencoba berjalan perlahan ke arah wanita yang sejak tadi telah menunggunya. Perlahan langkah kaki kecilnya telah membawa Luhan berdiri di depan meja yang hanya berjarak sekitar dua meja dari sudut kafe. Berusaha untuk mengumpulkan suaranya agar tidak terdengar aneh, sebuah pelukan hangat merengkuh tubuhnya bahkan sebelum Luhan sempat mengeluarkan suaranya.

"Sayang, bibi sangat merindukanmu,"

Aku juga bi, aku juga.

Sudah kukatakan bukan, disudut hatinya yang kecil Luhan menyimpan rasa rindu pada wanita yang tengah memeluknya sekarang, maka jangan tanyakan mengapa tangan mungilnya kini membalas pelukan wanita yang menyebut dirinya Bibi tersebut, menumpahkan kesakitan dengan air mata yang mengalir begitu saja dari kedua matanya. Mereka, dua orang tanpa dendam dan amarah namun harus merasakan kesakitan serta kecewa berkepanjangan. Kepercayaan yang di rusak dan dihancurkan begitu saja oleh seseorang yang mungkin pernah menjadi bagian dari hidup masing-masing. Kesayangan yang tak lagi menyejukkan membuat keduanya saling menumpahkan perasaan terdalamnya bersamaan.

Hari ini, Luhan untuk pertama kalinya bertemu lagi dengan wanita yang pernah ikut menggendong Kris saat kecil serta merawatnya, Yen Yuan adik perempuan dari ibu laki-laki itu.

Pelukan itu tak terasa begitu erat dan mengharukan meskipun isak tangis berderai di sana. Luhan dan Yuan sama-sama tidak pernah menyimpan perasaan benci sedikitpun, bahkan diawal pertemuan mereka Yuan telah menaruh banyak pengharapan pada gadis bermata rusa tersebut. Telah banyak rencana dan angan yang ia gantungkan atas Luhan, terkadang bayangan keluarga kecil yang manis dan harmonis tergambar begitu jelas di benaknya. Bagaimana sosok Kris yang tegas dan nakal dapat takluk di bawah kuasa tangan lembut seorang Luhan dan menciptakan bayi-bayi kecil nan lucu. Semua terlalu bahagia bahkan untuk di bayangkan sehingga semua luluh lantah begitu saja. Yuan tidak pernah mempunyai sedikitpun pemikiran buruk atas keponakan yang pernah tertidur dengan lelap dalam gendongannya. Ia bahkan tidak pernah menghadirkan segala macam bentuk pemikiran jahat atas anak tersebut, namun apa daya. Bayi kecil suci itu telah tumbuh besar dalam kehidupan yang kejam. Semua orang mungkin berhak menghakimi apa yang telah Kris lakukan pada Luhan, perselingkuhan yang begitu hina. Namun mereka tetap saja tidak tahu mengapa Kris dapat terbentuk menjadi sedemikian brengseknya sekarang.

Laki-laki itu telah lahir dalam kutukan keluarga yang tak akan pernah berakhir. Bibit mendua itu telah hadir bahkan sejak umur pernikahan kedua orang tua Kris tak sampai lima tahun. Laki-laki yang seharusnya menjadi pahlawan baginya, sejak awal adalah penjahat sejati dalam hidupnya. Kris adalah korban dari garis keturunan yang sangat kurang ajar menghukumnya menjadikannya seorang mata keranjang. Yuan mungkin hanya 'orang luar' yang harus tahan setiap ibu Kris mendatanginya dengan air mata karena perlakuan pria yang ia sebut suami itu padanya. Sejak dulu, sejak Kris masih bisa ia buai dalam gendongannya, Yuan menyimpan semua rasa kecewa dan sedihnya atas apa yang menimpa keluarga kakaknya tersebut. Ibu Kris bukanlah wanita nakal yang gemar belanja atau bermain pria, ia hanya wanita biasa, seorang pekerja keras dan penyayang keluarga. Entah dosa apa yang pernah ia lakukan dalam hidupnya dulu sehingga mendapatkan pasangan hidup seperti suaminya sekarang. Bukan satu atau dua kali Yuan menyarankan perpisahan diatas keduanya, namun lagi-lagi rasa cinta sang kakak kepada suami dan anaknya menjadi alasan mengapa ia bertahan.

Yuan bisa apa selain menangis dan berdoa? Memohon agar Kris dilindungi dari seluruh nafas jahannam yang ayahnya tularkan padanya. Memohon agar Kris dapat menjadi satu-satunya pria yang setia dan tidak lagi menyakiti wanita sehingga tidak ada lagi wanita seperti kakaknya tercipta. Namun, sedalam-dalamnya doa Yuan pada Tuhan, ternyata belum bisa menangkal garis keturunan yang ada. Kris menanggung semuanya, sejak masih kecil hingga ia dewasa seperti sekarang. Apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya membentuk Kris menjadi pria pecinta wanita yang sialan.

Sementara Luhan adalah korban dari hasil bidikan buaya, menciptakan kumpulan kesakitan dan luka. Luhan lahir dan tumbuh bersama keluarga yang bisa disebut idaman. Ayah dan ibunya saling menicntai satu sama lain, kasih sayangnya melimpah, kehidupan yang sangat indah. Hubungan percintaannya mungkin tidak semulus hidupnya, ada kalanya ia mengalami penolakan atau cinta bertepuk sebelah tangan namun semua tidak sebanding dengan pengkhianatan yang Kris lakukan padanya. Bukan karena Kris adalah seseorang yang mengambil mahkotanya namun lebih kepada kepercayaannya yang diludahi begitu saja oleh pria itu. Semudah ia menggoda tubuh Luhan dan membuat gadis itu berbaring pasrah di bawah gairahnya, semudah itu juga ia menghancurkan kepercayaan Luhan atasnya. Kalimat hati dan perasaan yang hancur sudah tidak cukup lagi untuk menggambarkan apa yang Luhan alami sekarang. Ia butuh tidak hanya sekedar waktu, ia butuh sesuatu yang dapat menguatkannya kembali, menata hidupnya satu demi satu di atas kepingan kepercayaannya yang telah hancur tak berbekas.

Perlahan Yuan mengurai pelukannya mengusap lembut wajah Luhan yang telah basah dengan air mata. Ia bahkan tak sanggup untuk menahan dirinya memeluk Luhan kembali demi memberinya rasa percaya dan perlindungan. Gadis itu terlalu rapuh untuk dibiarkan sendirian, ia terlalu berharga untuk di sakiti dan dicampakkan. Yuan seakan masuk ke dalam mesin waktu, kembali pada masa di mana sang kakak terluka atas perlakuan suaminya dulu.

"Maafkan bibi sayang, aku tidak tahu harus bagaimana menahan semua perasaan ini padamu." Luhan hanya mengangguk menggenggam tangan Yuan yang merangkum wajahnya lembut. Ia juga tidak tahu harus bagaimana menahan semua perasaan yang memenuhi hatinya sejak awal semua ini terjadi. Luhan memang butuh Sehun untuk menenangkannya, membuatnya aman dan terjaga. Ia bahkan butuh Baekhyun untuk membantunya melampiaskan seluruh amarahnya kepada Kris namun jauh dari semuanya Luhan butuh Yuan sebagai seorang wanita yang dapat memeluknya layaknya seorang ibu. Hidup jauh dari orang tua membuat Luhan begitu menyayangi Yuan yang hadir menempatkan dirinya sebagai ibu pengganti baginya. Dan dari semua usaha yang telah ia lakukan, inilah yang Luhan butuhkan. Rasa aman dari seorang ibu merengkuh tubuhnya, membuatnya tenang dan nyaman dari semua kejutan yang akan datang nantinya.

"Duduklah dulu tenangkan dirimu. Astaga bahkan saat menangis kau tetap saja cantik." Perkataannya barusan berhasil membuat Luhan tersenyum atasnya. Yuan memang tidak bisa menahan dirinya untuk memuji Luhan lagi dan lagi. Ia kemudian menemani Luhan untuk membersihkan wajahnya dari air mata, membuatnya lebih segar dari sebelumnya. Setelahnya mereka hanya saling menatap satu sama lain dan tertawa begitu saja.

"Aku benar-benar merindukanmu bi, sungguh."

"Jangan tanyakan bagaimana keadaanku. Pamanmu mungkin sudah tidak kuat menahan ocehanku karena rindu padamu." Gelak tawa Yuan saat mengatakannya membuat Luhan turut mengulas senyumnya.

Keheningan yang datang membuat Luhan yakin jika wanita di hadapannya sekarang tengah mengirimkan permintaan maaf tak hingga padanya. Tatapannya yang berubah menjadi sendu menambah keyakinan Luhan atas pemikirannya.

Maafkan aku Luhan,

Ia mengambil inisatif untuk mengelus tangan Yuan yang ada dalam genggamannya untuk kemudian berbisik lirih mengatakan 'jangan minta maaf padaku' diiringi dengan air mata yang mengalir begitu saja dari kedua matanya. Luhan tidak tahu sejak kapan ia menjadi sangat perasa dari sebelumnya, perasaannya menjadi begitu sensitif dan ia sangat mudah menangis bahkan untuk hal-hal remeh semata. Melihat wanita yang telah ia anggap seperti ibu sendiri itu mengucapkan maaf atas kesalahan yang bahkan bukan berasal dari darah dagingnya membuat Luhan tersayat. Ia memang mengutuk semua yang Kris lakukan semuanya tanpa terkecuali, bagaimana dengan biadapnya pria itu melemparkannya keluar begitu saja dari kehidupan sempurnanya hanya berlandaskan rasa bosan dan kalimat murahan 'kau terlalu sempurna untukku' membuat Luhan tidak pernah tanggung mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya untuk pria itu. Namun lebih dari semua yang Kris lakukan padanya, kehadiran Yixing dalam kisah cintanya dengan Kris, bagaimana gadis itu dengan mudah mengganti posisinya di samping Kris membuat Luhan merasa tertampar dua kali di atas lukanya yang masih berdarah. Gadis itu adalah sumber segalanya kalau Luhan boleh egois namun sekali lagi hati kecilnya berteriak ini semua terjadi atas dirinya yang penuh kekurangan dalam menangangi Kris. Hati, perasaan bahkan tubuhnya belum cukup untuk mendampingi pria itu.

Di atas seluruh kesakitannya, air mata Yuan dan permintaan maaf wanita itu adalah siraman air keras bagi hati Luhan yang masih meradang.

Kalau ada tokoh yang harus menghamba atas permintaan maafnya bukanlah Yuan ataupun ibu dari Kris melainkan pria sialan dan gadis tidak tahu diuntung itu.

"Bi, berhentilah." Luhan berusaha keras untuk tidak tersedak air matanya sendiri saat menenangkan Yuan yang sudah bersimpah air mata. Wanita itu benar-benar menangis mengeluarkan suara pilu yang menyayat hatinya, memohon ampunan bahkan untuk kesalahan yang bukan miliknya.

"Sayang.. aku, aku.."

"Berhentilah. Ini semua bukan salahmu bi. Kumohon." Luhan menggenggam erat jemari Yuan yang terasa sangat dingin di tangannya.

"Lu, aku. Hiks... hiks.. maafkan aku.. hiks.."

"Aku tidak akan mau menemui bibi lagi kalau bibi masih meminta maaf begitu. Aku bersungguh-sungguh." Mungkin, sedikit ancaman bisa membuat Yuan berhenti maka biarkan mereka berdua menenangkan diri atas segalanya.

Lima belas menit, baik Yuan maupun Luhan keduanya membutuhkan waktu setidaknya lima belas menit untuk dapat menenangkan diri mereka dari isak tangis dan duka yang sebenarnya masih sangat terasa. Yuan kembali mengingat tujuannya menghubungi Luhan dan nekat mengajak gadis itu bertemu hari ini, tentu saja bukan untuk saling menangis bersama melainkan untuk tujuan lain. Sementara dari sisi Luhan, gadis itu tentu saja memiliki tujuannya sendiri saat ia menyetujui permintaan Yuan untuk bertemu. Bukan untuk saling melempar tatapan sendu melainkan untuk menyelesaikan semuanya. Mungkin dimulai dengan menjaga hubungan antara dirinya dan Yuan yang terjalin begitu saja. Selebihnya Luhan hanya butuh ketenangan untuk hatinya, tidak lebih dan tidak kurang –tanpa dendam tentunya.

"Lu," Luhan hanya menatap Yuan penuh tanya dengan mata rusanya yang berbinar cantik. Yuan benar-benar mengutuk Kris yang buta dengan nafsu sampai-sampai melepaskan gadis seperti Luhan begitu saja. Ia kemudian menarik tangan Luhan dan menggenggamnya lembut. Yuan harus bisa mengungkapkan tujuannya sebelum terlambat.

"Ada apa bi?" Terlihat Yuan menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya wanita itu menatap Luhan dengan senyum keibuannya.

"Sayang, sejujurnya tidak hanya aku yang benar-benar menginginkanmu menjadi bagian dari keluarga Wu, tapi kakakku juga menginginkan hal yang serupa." Luhan tidak tahu jika ia sedang berusaha menelan batu atau apalah itu sampai ia merasa ingin muntah karenanya. Hal-hal yang seperti ini tentu saja dapat menganggu proses pemulihan hati dan perasaannya. Luhan tidak bodoh untuk mengerti siapa yang disebut kakak oleh Yuan barusan. Ia adalah ibu kandung dari Kris.

"Kris sudah punya wanita lain Bi, aku tidak sejahat itu untuk menghancurkan kebahagiannya."

Maafkan aku Baekhyun harus bermulut manis di hadapan wanita ini, jangan umpati aku dari jauh ya.

"Kebahagian Kris hanya datang darimu sayang," Luhan menggeleng mendengar ucapan Yuan barusan. Bisakah ia berkata kasar sekarang? Bagaimana bisa Yuan mengatakan jika kebahagiaan Kris adalah dirinya jika pria itu sendiri yang membuangnya? Kebahagiaan dari sisi apa?

"Kebahagiaan yang seperti apa bi? Kita tentu saja tidak akan berpisah seperti ini jika memang Kris bahagia denganku." Kebahagiaan karena telah menjadi orang pertama yang meniduriku? Aku ini bukan pelacur.

"Anak itu hanya buta dengan nafsunya, ia tidak melihat seberapa baiknya pengaruhmu atas hidupnya. Kris, selama menjalin hubungan denganmu ia menjadi Kris yang dulu. Si kecil yang bahagia. Ia menjadi Kris kesayanganku, Kris yang periang, Kris yang penyanyang." Yuan memang hampir menangis saat mengatakannya namun Luhan sudah berdarah ditempat saat mendengarnya. Periang? Penyayang? Ingatkan Luhan untuk tidak memuntahkan semua perlakukan kasar Kris saat pria itu sedang cemburu buta padanya. Ingatkan Luhan untuk tidak mengeluarkan amarahnya atas sifat Kris yang mudah marah saat ia tidak mau melayaninya.

Pengaruh baik? Mengapa setelah dipikir ulang Luhan seperti hanya dimanfaatkan? Kalau saat menjadi kekasihnya saja Luhan harus menanggung perlakuan Kris yang kurang ajar, lalu bagaimana saat mereka menikah nanti? Apa Luhan harus rela Kris memperlakukannya seperti budak seks begitu?

"Sayang, coba kau pikirkan lagi. Apakah kalian memang benar-benar tidak bisa bersama lagi? Tunggulah Kris satu atau dua bulan lagi, ia dan gadis barunya pasti akan segera berakhir dan-"

"Tidak. Aku pastikan ia dan Yixing akan menikah. Bagiku Kris memang yang pertama namun ia bukanlah yang terakhir. Ia hanya masa laluku dan tidak akan pernah menjadi masa depanku. Maafkan aku Bi, kurasa Baekhyun sedang mengomel di ruang tamuku sekarang, aku pergi dulu." Luhan menarik tangannya perlahan dari genggaman Yuan. Ia segera mengemasi barangnya untuk kemudian pergi dari tempat itu sekarang tanpa memandang Yuan yang masih terdiam mendengar ucapannya barusan. Yuan masih tetap diam saat Luhan memeluknya tanda pamit dan pergi dari hadapannya. Tangan wanita itu gemetar melihat apa yang baru saja terjadi. Luhan, gadis itu telah memastikan bahwa semua mimpinya dan kakaknya telah musnah tanpa ada kesempatan untuk diperbaiki. Luhan bahkan memastikan jika Kris dan Yixing –gadis tidak tau malu itu akan menjadi sepasang suami istri kelak. Luhan melepaskan tangannya seaakan gadis itu melepaskan semua hubungan mereka.

Maafkan aku Bi, tapi tidak ada kata kembali bahkan untuk kisah yang sama kedua kalinya. Bukan hanya karena kesalahan keponakanmu padaku tapi hatiku yang memang sudah tidak lagi mengarah padanya. Ia telah berlabuh pada satu tempat dan itu bukan Kris.

.

.

.

Siang itu Zitao memang berniat untuk menemui dosennya dalam rangka melakukan konsultasi atas tugas kelompoknya. Ia telah datang dengan segenap perasaan tidak enak karena ada banyak yang harus ia dan kelompoknya lakukan sebagai bentuk perbaikan atas tugas mereka. Untuk itu ia sudah menyiapkan hati dan telinganya untuk mendengar ocehan panjang nan menyebalkan yang akan dosennya berikan pada mereka dan Zitao sebenarnya sudah kebal atas semua ocehan semacam itu, terbiasa aktif dalam organisasi membuatnya tahan banting untuk urusan seperti ini. Namun satu hal yang tidak pernah ia persiapkan seumur hidupnya sampai sekarang adalah bagaimana hatinya menerima kenyataan jika pria pujaannya telah menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri.

Diatas rasa kecewa dan kesalnya dulu pada Luhan, tidak ada rasa kecewa yang lebih dalam singgah di hati seorang Zitao selain melihat bagaimana jemari mungil Yixing diapit mesra melingkupi kelima jari milik Kris. Mereka seakan ditakdirkan memang untuk bersama bahkan gadis sekelas Luhan bukanlah halangan yang berarti. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menunjukkan kesakitan dan kecewanya pada pasangan baru tersebut kepada dunia luar, orang lain cukup tahu ia dan Yixing berseteru namun tidak sampai merusak persahabatan mereka.

Benarkah?

Sekuat itukah persahabat yang ia bangun bersama dengan gadis mungil itu?

Jika iya, lalu beginikah bentuk persahabatan itu? Saling melukai satu sama lain?

"Hai Xing!" Jika ada penghargaan kepada penipu nomor satu maka berikanlah penghargaan itu kepada Zitao sekarang. Mata kucingnya menyipit membentuk lengkungan lucu nan menggemaskan, senyumnya juga masih sama, masih manis seperti biasanya. Ia bahkan merengkuh tubuh Yixing erat seakan melunturkan prasangka buruk orang-orang atas persahabatan mereka yang sudah sampai diujung tanduk.

Persetan dengan orang lain, ini masalahku dan gadis biadap ini maka biarkan aku menjadi aktris yang baik satu kali lagi.

Sumpah itu terucap dan Zitao mencoba sekali lagi melemparkan senyumnya pada Kris yang terpaku ke arahnya. Mata memang jendela hati dan Zitao tidak buta atas tatapan yang diberikan Kris padanya. Pria sialan yang melambungkan hatinya lalu melemparnya sejauh mungkin, membantingnya sekeras mungkin dan terakhir meludah diatas semua kepingan luka yang tengah membalutnya. Anggap saja Zitao memang keras kepala atau bodoh –terserahlah tapi jika boleh berkata jujur, kata maaf itu masih bisa terucap olehnya selama Kris, iya selama Kris –orang yang masih menjadi pemilik hatinya meminta maaf padanya.

Cintanya benar-benar murni, tulus tak berbekas. Ia tidak pernah berpikir jika ketika ia menjatuhkan hatinya pada seseorang maka orang itu dengan sukarela menampik hatinya.

"Hai Kris, apakabar?"

Basa basi busuk! Kau memang aktris terbaik Zitao, terbaik yang terbaik.

Pria itu hanya tersenyum mengangguk tanda ia baik-baik saja. Entah disengaja ataupun tidak ia mengangkat genggaman tangannya dan Yixing lalu menciumnya yang menyebabkan gadis dalam genggamannya tersipu malu. Satu persatu adegan yang tersaji di hadapannya terekam dengan sangat baik oleh kedua mata kucingnya tanpa melewatkan satu adegan pun. Bagaimana tatapan cinta itu terarah dari mata Kris kepada Yixing dan bagaimana gadis itu tersipu dengan semua perlakuan Kris padanya. Ah, beginikah cinta? Penderitaan tiada akhir? Tatapan sendu itu terpancar begitu saja dari keuda matanya yang ternyata dapat Kris baca dengan baik.

Maafkan aku Zi, tapi kurasa ini yang terbaik.

Tidak mau berlama-lama melihat pasangan pencabut nyawanya, Zitao kembali memasang wajah 'sok' cerianya –yang juga dapat Kris lihat dengan sangat baik.

"Kalian ingin bertemu dengan dosen ya? Konsultasi tugas juga?" Tanyanya dengan nada kelewat tenang. Matanya menangkap bagaimana Kris berjalan di samping Yixing sambil menggenggam tangannya erat. Sesekali jari panjang Kris mengelus permukaan tangan Yixing, menariknya ke dalam saku jaket pria itu. Seketika Zitao merasa dirinya terhempas begitu saja pada waktu ia tak sengaja bertemu Kris dan Luhan. Kala itu ia sedang terburu-buru untuk menuju kelasnya dan tak sengaja ia berpapasan dengan pasangan kekasih tersebut. Diam-diam gadis bermarga Huang tersebut tersenyum kecut mengingat betapa dulu ia sangat mengutuk Luhan, bahkan sempat menyumpah serapahinya dan sekarang sepertinya ia memang ditakdirkan untuk terus menyumpahi pria bernama Kris dan seluruh hidupnya.

Menyedihkan, apa kau memang hidup untuk ku sumpahi sampai mati Kris?

"Iya, tugas minggu lalu benar-benar menguras tenagaku. Aku dan Kris masih bingung dengan.." Suara Yixing hanya terdengar samar-samar di telinga Zitao, bahkan ia sama sekali tidak mendengar apapun yang Yixing katakan setelahnya karena otaknya terus saja mengeluarkan umpatan-umpatan pada gadis yang masih berstatus sahabatnya itu. Sebagai bentuk penghargaan atas jawaban panjangnya, Zitao hanya mengangguk sambil sesekali menimpali perkataannya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu sebagai tanda basa-basi belaka. Sebelum semua semakin tidak terkendali, Zitao benar-benar bersyukur dosen yang ia tunggu terlihat berjalan ke arah mereka dan masuk ke dalam ruangan khusus para pengajar. Seperti mukzijat dimana seorang Zitao benar-benar bahagia hanya dengan melihat dosen tersebut di depan matanya. Kadang hal buruk ternyata bisa mendatangkan hal baik, sama halnya dengan apa yang Zitao alami. Daripada berlama-lama bersama pasangan iblis tersebut, ia lebih baik menghabiskan waktu dan telinganya mendengarkan ocehan sang dosen atas tugas kelompoknya.

Aku memang aktris yang baik tapi maafkan aku terlalu muak untuk sekedar mendengar suaramu. Hal yang terbayang olehku hanya bagaimana bibirmu dengan mudahnya mengeluarkan desahan menjijikkan. Maafkan aku.

.

.

.

TBC

Haaai! Maafkan aku yang tidak memperbarui cerita ini setelah setahun lebih hehe. Sampai sejauh ini para tokoh dalam cerita ini telah menemui ujung kisah hidupnya masing-masing hehe (masih ingatkan kalau cerita ini aku ambil dari kisah hidup beberapa teman dekatku).

Aku butuh sekitar enam bulan untuk bisa menuliskan part ini, setelah dipikirkan matang-matang jadinya Cuma segini, pendek ya? Kurasa belum cukup sih buat mengobati satu tahun vakum atas ff ini hehe. Tapi sepertinya mulai bulan ini aku akan kembali melanjutkan ff ini, sebab dibawah tuntutan proposal penelitian, aku perlu sesuatu untuk melatih gaya penulisanku lagi hihi.

Oia, kalau ada masukan dan saran, kalian bisa langsung DM aku di IG atau twitterku yaaaak.

Selamat menikmati yaaa.