Ini adalah sepercik kisah ntah berantah dari pasangan kesayangan kita, siapa lagi kalau bukan Sehun dan si cantik Luhan. Mari lupakan sejenak bagaimana masalah hidup –percintaan keduanya yang terlampau sulit untuk dimengerti. Cerita mereka tak banyak berubah, hanya keduanya yang semakin dekat satu dengan lainnya lebih dari biasanya. Memang terkadang ada si cerewet Baekhyun tapi tetap intensitas keduanya lebih intim.

Jika Luhan sudah tak bertuan, lantas apakah hatinya masih meragu pada cinta kasih yang Sehun limpahkan padanya?

Lalu, bagaimana dengan Sehun?

Apakah ia lupa jika ada seseorang yang masih menunggunya, membuka kedua tangan untuk sekedar memberikan pelukan selamat datang dan usapan selamat tidur?

.

.

.

U' R'

Special Chapter :

Bye My First

Cast:

Lu Han, Se Hun

EXO Members

Romance, Angst, a little bit Humor and Drama

This is genderswitch.

.

.

Pagi itu seperti biasa setelah bangun dan membuka mata maka hal pertama yang akan Sehun lakukan adalah mengecek gawainya. Entah peduli dengan keadaan tubuhnya yang masih terbalut selimut atau wajah menahan kantuk pagi hari, ia harus mengecek gawainya segera.

Beberapa pesan masuk ke dalamnya. Tak berniat sama sekali untuk membuka semuanya hanya membalas beberapa yang penting seperti ocehan Baekhyun yang minta dijemput dan membelikannya sarapan atau pesan dari Luhan yang menanyakan apakah ia sudah bangun dan sarapan. Memilih untuk menggunakan panggilan telepon, Sehun menyalurkan rindunya.

"Halo," Suara Sehun yang serak membayangi telinga Luhan dan dihadiahi kekehan lembut si cantik.

"Ku tebak kau pasti baru bangun." Tersenyum bodoh sambil mengusap wajahnya sekali, itu yang Sehun lakukan. Ia sempat merenggangkan tubuhnya untuk kemudian kembali bertukar sapa.

"Ya, dan aku belum sarapan." Sehun bisa dengan kicauan burung di pagi hari yang menyenangkan namun suara tawa Luhan adalah nyanyian keindahan. Oh pria ini memuja.

"Mandilah. Aku akan ke sana untuk mengantarkan sarapan lalu kita akan menjemput nona Byun segera." Tak menunggu dua kali perintah Sehun segera menutup panggilannya setelah meminta Luhan memberikannya ciuman jarak jauh.

Pagi yang menyenangkan ya Oh Sehun?

Begitu indah dan menyenangkan hingga ia lupa jika biasanya ada seseorang yang menunggu di balik pintu kamar dengan satu gelas susu dan satu lapis roti gandum dengan selai cokelat?

.

.

Luhan tersenyum begitu mendapati Sehun duduk dengan tenang di meja makannya. Senyum tak lepas dari wajah tampannya membuat Luhan memerah karena malu. Bukannya ia tidak menyadari jika Sehun memperhatikan setiap gerakan yang ia lakukan sejak tadi. Iya, sejak ia membuka pintu apartemen dan mempersilahkan pria itu masuk. Sehun memutuskan untuk melakukan sarapan di apartemen Luhan daripada gadis itu yang mengantarkan makanan ke tempatnya. Lagipula dari sini akan lebih dekat dengan tempat tinggal Baekhyun.

"Perhatikan matamu Tuan Oh. Ini bahkan belum jam delapan." Luhan berkata sambil menuangkan susu putih ke gelas mereka berdua.

Sehun tidak menjawab perkataan Luhan, ia masih tetap memperhatikan gadis itu keluar masuk dapur. Ia tak mengerti mengapa baru sekarang Tuhan menunjukkan betapa indahnya ciptaanNya yang berwujud perempuan itu. Mengapa tak sedari dulu saja Tuhan mempertemukannya dengan Luhan, si cantik yang anggun ini?

Kedua tangan Luhan terhenti begitu ia merasakan rengkuhan di pinggangnya. Punggungnya merapat dengan dada Sehun dan pria itu meletakan kepalanya pada perpotongan leher si cantik.

"Aku merindukanmu," gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Luhan.

Memilih untuk tak menjawabnya, ia mengelus lembut tangan Sehun yang semakin erat memeluk tubuhnya. Berusaha menyampaikan rasa yang ia juga rasakan pada sang pria melalui gerakannya.

"Aku benar-benar jatuh cinta padamu Luhan," Luhan merasakan bulu kuduknya meremang saat Sehun membisikkan kata cinta dengan suara rendahnya yang teredam di lehernya. Kecupan-kecupan kupu-kupu menyapa kulitnya membuat Luhan nyaris menggeram lemah.

"Sehun,"

"Katakan, katakan jika aku tak salah. Katakan jika aku tidak berdiri sendiri dengan perasaan ini Lu," Luhan masih berdiam tak bersuara meski ia semakin merasakan pelukan Sehun yang mengerat di tubuhnya. Ia yakin jika jantungnya yang berdebar ini bukan karena ia gugup akan perlakuan Sehun namun lebih kepada letupan perasaannya pada sang pria. Setelah satu persatu rahasia mereka terbuka dan masalah yang datang silih berganti, Luhan meyakini satu hal jika ia memang turut serta jatuh ke dalam pusara cinta Sehun.

Tanpa kata terucap lagi dan lagi, Luhan melepas rengkuhan Sehun pada tubuhnya dan berbalik menghadapnya. Melihat lebih dalam kearah mata yang kini menatapnya, melemparkan afeksi percintaan lembut nan panas, perlahan namun pasti. Keduanya tanpa sengaja terbawa arus untuk saling mendekat satu sama lain, saling menyentuh dan meraba, memberi kelembutan pada setiap sisi keduanya. Tatapan mereka masih terpaut satu dengan lainnya tanpa jeda bahkan helai nafas tak memberikan mereka batasan.

Dengan lirih Luhan berbisik, memanggil namanya sendu, "Sehun,"

Seakan sebuah panggilan untuk Sehun bergerak lebih tegas dari sebelumnya. Maka langkahnya pasti ia membawa Luhan dalam rengkuhannya sementara belah bibirnya perlahan mengecap rasa manis milik Luhan dengan pasti. Netra mereka menjadi sayu dan tertutup kabut nafsu. Di bawah alam sadarnya Sehun berteriak girang sebab ia berhasil menjatuhkan hatinya pada rasa yang benar, Luhan membalasnya dengan penuh keyakinan dan membuat Sehun semakin bahagia atasnya.

Kegilaan mereka semakin meracau, di atas perasaan yang tak tentu keduanya semakin menyatukan diri dalam balutan gerakan erotis nan panas. Dengan seluruh kekuatan dan cintanya ia mengangkat Luhan, menuntun gadis itu masuk pada gendongannya sementara si cantik dengan cerdasnya mengalungkan kaki dan lengannya pada leher dan pinggang sang pria.

"Lu,"geramannya rendah, lirih dan sendu namun sanggup membangkitkan sisi liar Luhan yang lama tertutup. Sejak ia dan Kris bukan lagi sepasang kekasih, kegiatan ranjangnya pun berhenti. Luhan bukan gadis yang gemas berbagi kegiatan dewasanya dengan sembarang orang namun untuk Sehun itu adalah pengecualian.

Bahkan jika hari ini, atau pagi ini Sehun membuatnya hamil maka Luhan tak akan ada rasa sesal sebab ia yakin atas perasaan keduanya yang sangat nyata.

Pagi itu sarapan keduanya berpindah menjadi gerakan panas nan erotis di atas meja makan. Susu putih yang beralih mengalir pada tubuhnya tak membuat Luhan merasa lengket atasnya. Ia hanya tersenyum ringan menahan dirinya untuk tidak terlalu aktif bersuara karena kegiatan Sehun pada tubuhnya.

"Sehun," Panggilnya rendah membuat pria yang tengah mencumbu inti tubuhnya bangkit menatapnya. Tatapan yang Sehun berikan padanya bukan tatapan yang pernah ia dapatkan dari mantan kekasihnya, itu adalah tatapan pemujaan atasnya. Luhan membelai lembut mulai dari mata, hidup dan bibir sang pria membuat mereka tersenyum setelahnya.

"Yakinkan aku jika ini adalah jalannya Lu," Suara Sehun memang tak seserak dan serendah sebelumnya namun tetap terdengar seksi bagi Luhan. Gadis itu kemudian menarik Sehun untuk mencium bibirnya sebelum memberikan petuahnya, "Feel me with lovely and gently."

Untuk pertama kalinya Sehun membuktikan pada dirinya sendiri jika ia memang telah berbeda dari sebelumnya. Ia mampu memuaskan Luhan untuk lebih dari tiga kali putaran panas di berbagai tempat yang berbeda. Tak hanya meja makan, sofa atau kamar tidur si cantik yang menjadi saksinya.

Namun dua pasang telinga lainnya mendengar betapa panasnya mereka berdua.

Iya dua, sepasang milik Baekhyun dan sepasang milik dia.

.

.

Itu hanya satu dari sekian kejadian yang pernah terjadi dalam kehidupan Luhan dan Sehun. Mereka mungkin belum mengakui jika keduanya telah jatuh dalam perangkap perasaan yang sama. Terkadang keraguan itu muncul tanpa sebab membuat Luhan ragu untuk melangkah membuka lebih lagi hatinya namun tidak dengan Sehun. Laki-laki itu tampaknya telah memutuskan kepada siapa kelak ia akan berlabuh. Tidak seperti sebelumnya yang mengambang bebas, kini ia akan mematenkan perasaannya pada Luhan hingga tak bersisa.

Pertemuan keduanya terkadang begitu sederhana. Tanpa desahan atau gerakan erotis hanya saling bergandengan tangan atau melempar kecupan kupu-kupu.

Tanpa ragu bahkan di depan umum. Begitu manis dan romantis.

Namun sekali lagi, ini adalah tak hanya kisah hidup dua orang yang saling jatuh cinta. Masih ada tanggunan di masing-masing keduanya. Jika Luhan sudah tak bertuan, lantas apakah hatinya masih meragu pada cinta kasih yang Sehun limpahkan padanya? Sementara ia sudah dengan sukarela memberikan petunjuk atas hatinya?

Lalu, bagaimana dengan Sehun?

Apakah ia lupa jika ada seseorang yang masih menunggunya, membuka kedua tangan untuk sekedar memberikan pelukan selamat datang dan usapan selamat tidur? Sepiring roti gandum dan segelas susu putih itu kini tak lagi tersentuh.

"Sehun sudah berubah Baekhyun dan ia tidak menyadari itu. Ini adalah salahku." Ia tidak menangis, tidak. El sama sekali tidak menangis namun Baekhyun dapat merasakan kesedihan yang terlalu dalam dari setiap tutur katanya.

"Kalau begitu, selesaikan dan ucapkan selamat tinggal padanya. Itu lebih baik daripada menyakiti hatimu." Setelahnya, Baekhyun merasakan tubuhnya diremat dalam pelukan erat serta tangisan tak bersuara milik 'kekasih' Sehun.

.

.

Special Chapter – END

Hai! Selagi menyelesaikan chapter selanjutnya yang sudah entah berapa tahun tidak dibuka itu maka aku persembahkan satu chapter selingan sebagai pengantar dan pengingat bagaimana kisah Sehun-Luhan di sini ya.

Oh, terima kasih atas komentar kalian di 365 kemarin, gak nyangka masih ada yang baca ceritanya huhui! Kalau ada hal yang ingin kalian tanyakan bisa ke twitterku ya, aku sangaaaaaaat rewel di sana! See you soon.