Semuanya berbau biru. Juga sedikit tajam.

Apa?

Sejak kau merapalkan mantra yang terakhir. Semuanya berbau biru sekarang.

Tom, biru itu bukan bau. Tajam juga bukan.

Aku tahu, hanya saja...semuanya berbau biru dan tajam. Aku tidak menyukainya. Ini membuatku merinding.

Mungkin kita perlu lebih selektif lagi dalam memilih mantra yang akan kita coba selanjutnya?

Mungkin itu ide yang bagus. Lagipula darimana kau mendapat mantra barusan?

Oh. Itu mantra yang kubuat sendiri.

Sendiri?

Iya. Itu adalah hasil dari kombinasi...

STOP! Luna, aku sangat amat melarangmu untuk menciptakan mantramu sendiri.

Kenapa?

Ada beberapa alasan,

1. 1. Membuat mantra sendiri itu sulit dan bahkan penyihir yang terlatih juga disarankan untuk tidak melakukannya, untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

2. 2. Umurmu baru 11 tahun, jelas-jelas bukan seorang penyihir terlatih.

3. 3. Aku masih tidak yakin dengan kesehatan mentalmu.

4. 4. Karena aku tidak mau kau menggunakan mantra mencurigakan padaku.

Itu poin yang oke Tom, tetapi sepertinya kau sedikit berlebihan. Aku sudah pernah bereksperimen dengan mantra sebelumnya, aku sangat berhati-hati.

Bukan itu intinya. Bocah berumur sebelas tahun seharusnya tidak bermain dengan mantra yang belum pernah diuji sebelumnya!

Tetapi aku suka mencoba hal baru. Orangtuaku juga begitu. Ibuku mulai membuat mantra sejak Ia lebih muda dariku.

Dan lihatlah dimana dia sekarang! Dia meninggal! Bagaimana perasaan Ayahmu jika dia kehilanganmu karena alasan yang sama?!

...

Luna? Luna aku tahu kau masih di sana. Aku bisa merasakan kau menangis di atasku. Itu sedikit mengaburkan bau biru itu sebenarnya. Entah kenapa.

...

Aku minta maaf kalau ini membuatmu marah, tetapi ini benar. Menciptakan sendiri sebuah mantra itu berbahaya.

Aku tahu.

Aku tidak mau kau terluka.

Benarkah?

Tentu saja. Hanya kau yang aku punya sekarang.

Terimakasih, Tom.

Kau sudah merasa baikan?

Belum.

Ibumu dulu seperti apa?

Kenapa?

Tidak apa-apa. Mungkin kau ingin bercerita. Lagipula aku memang sebuah buku harian.

Aku sedang tidak ingin cerita.

Aku belum pernah bertemu dengan ibuku.

Oh? Aku ikut menyesal, Tom. Pasti rasanya sulit selama ini.

Kurasa. Setidaknya tidak pernah mengetahui berarti aku tidak bisa benar-benar merindukannya. Aku tidak tahu rasanya kehilangan orangtua.

Rasanya buruk sekali.

Aku ikut menyesal. Setidaknya kau masih punya Ayahmu, kurasa itu sedikit melegakan...dan dia punya kau.

Iya. Aku...aku tidak pernah berpikir kalau aku akan menyakiti diriku sendiri. Kalau mungkin aku akan meninggalkan Ayah sendirian.

Tidak apa-apa. Kematian bukanlah topik yang biasa dipikirkan anak-anak normal. Meskipun aku menggunakan kata 'normal' dengan cukup longgar.

Kurasa bukan.

Rasanya pasti asyik. Bisa pergi mencoba hal baru dan tidak terbebani oleh rasa takut dan kekhawatiran. Aku tidak yakin pernah merasa sebebas itu. Aku selalu takut akan kematian.

Benarkah? Kenapa?

Aku tidak begitu mengerti kenapa. Aku hanya...seperti itu.

Kedengarannya stress sekali. Tidak bisa rileks dan menikmati dunia di sekelilingmu.

Aku tidak pernah terpikir untuk melakukannya. Aku selalu terlalu fokus dalam kehidupan itu sendiri. Pertarungannya. Perjuangannya.

Menurutku, siapapun yang melihat dunia hanya sebagai sebuah pertarungan dan perjuangan, mungkin sedang melakukan sesuatu yang salah. Ibuku selalu mengajarkanku bahwa kehidupan adalah anugerah. Setiap momennya harus dihayati.

Ibuku mengajarkanku sebaliknya.

Bukannya kamu bilang kalau kamu belum pernah bertemu ibumu?

Memang, tetapi aku tahu ceritanya. Ia dikucilkan dan keluarganya melakukan kekerasan padanya. Dijauhi oleh pria yang Ia cintai. Dianggap sampah oleh masyarakat. Hal terakhir yang Ia lakukan dalam hidup adalah membawaku ke tempat yang aman sebelum dia mati. Terkadang aku berpikir kalau...mungkin di dunia ini, hanya aku satu-satunya orang yang menyayangi dia. Dan dia bahkan tidak hidup untuk mendengarku mengatakannya.

Tom, aku sangat menyesal. Itu buruk sekali.

Ya, dan itulah pelajaran yang Ia berikan padaku. Ia mengajarkanku bahwa hidup itu kejam, kemudian kau mati.

Hidup adalah anugerah, Tom. Itu adalah hadiah darinya untukmu. Menurutku, Ia ingin agar kamu menikmatinya.

Kau berpikir begitu?

Iya, dan aku berpikir kalau kita berhutang pada Ibu kita masing-masing untuk menikmati sisa hidup kita sampai kita puas.

Sepertinya begitu. Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan menciptakan mantra sendiri lagi?

Aku janji.

Bagus. Sekarang carikan mantra siap pakai yang bisa menyingkirkan rasa lonceng berdering.