Tom, aku takut.
Takut akan apa? Kupikir kau sedang di kereta?
Iya, tetapi keretanya berhenti. Semua sangat dingin, Tom. Aku takut dan sedih, dan aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Aku juga merasakannya. Semacam perasaan tidak berdaya.
Iya. Apa yang sedang terjadi?
Luna, keluarkan tongkat sihirmu.
Kenapa? Ada apa?
Dementor. Ada beberapa dementor di dekat sana.
Kenapa?
Aku tidak tahu. Kau sudah mengeluarkan tongkat sihirmu?
Sudah.
Pikirkan sesuatu yang menyenangkan. Pikiran paling bahagia yang kau punya.
Aku tidak bisa. Aku merasa sangat sedih, Tom. Aku tidak bisa berhenti gemetar.
Bayangkan Ibumu.
Iya. Aku mengingatnya berada di ambang kematian. Ia berada di sana, tepat di depanku. Kemudian Ia pergi begitu saja. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.
Pikirkan sesuatu yang membahagiakan, Luna.
Ayah sangat sedih. Dia selalu menangis setelahnya. Ayah pikir aku tidak melihatnya, tetapi aku tahu. Aku tahu dia menangis.
Jangan pikirkan hal itu. Pikirkan saat yang lebih jauh lagi. Pikirkan tentang Ia ketika Ibumu masih hidup. Mengajarimu tentang semua makhluk-makhluk itu. Pikirkan tentang Ibumu saat Ia mengajarimu bernyanyi.
Aku sangat merindukannya, Tom.
Aku tahu, Luna. Aku juga merasakannya, tetapi kau harus melawan hal itu. Pikirkan tentang Ibumu. Pikiran yang membahagiakan.
Ia membawaku untuk mencari Mossy Nymph di dalam hutan saat usiaku lima tahun. Ketika aku ingin melihat lebih jauh ke dalam sungai, aku tergelincir batu sampai tercebur ke dalam sungai. Ia kemudian ikut melompat dan mengubah semuanya menjadi acara berenang bersama. Kami banyak sekali tertawa.
Ya. Itu dia. Pikirkan hal itu! Pegang erat-erat. Biarkan pikiran tadi menenggelamkan semua yang lain. Pikirkan memori itu saja. Perasaan itu. Dorong semuanya ke dalam jari-jarimu dan melalui tongkat sihirmu. Kemudian aku membutuhkanmu untuk berteriak, Luna. Teriakkan Expecto Patronum! Teriakkan dengan semua tenaga yang kau punya.
Aku tidak bisa. Aku sangat takut.
Bayangkan Ibumu, Luna. Bayangkan semua Nymph yang kau cari. Sungai-nya. Bayangkan tawa Ibumu, kemudian bawa semua hal tersebut ke dalam tongkat sihirmu dan teriakkan untukku. Aku tahu aku sudah memberikanmu arahan-arahan palsu tentang matra sebelumnya, tetapi kau harus mempercayaiku kali ini. Bisakah kau melakukannya?
Akan kucoba.
Lakukanlah Luna. Carilah perasaan bahagia itu dan teriakkan. Sekarang!
...
Luna?
Ini bekerja. Mereka beranjak pergi. Aku... aku merasa dinginnya mulai hilang.
Aku juga. Kerja bagus, Luna
Aku mendengar suara-suara di luar ruangan. Orang-orang menangis.
Sekarang apa yang sedang terjadi? Apa mereka masih ada di kereta? Luna?
...
Tom?
Luna? Apa yang terjadi? Kau berhenti merespon.
Beberapa murid lain datang untuk bersembunyi di ruanganku setelah aku merapalkan mantra tadi. Sepertinya mereka merasa bahwa di sini lebih aman.
Masuk akal.
Mereka bertanya dari mana aku belajar mantra itu.
Lalu apa yang kau katakan?
Aku bilang kalau aku mempelajarinya dari sebuah buku.
Kau tidak berbohong.
Tetapi itu juga tidak benar-benar jujur.
Aku yakin sedikit tipuan bisa dimaafkan pada saat-saat seperti ini.
Aku tidak sempat berterimakasih tadi.
Well, mendapati makhluk seperti tadi di dekatku cukup membuatku kerepotan. Aku tidak bisa menangkal mereka sendiri, jadi aku harus mengandalkanmu untuk melakukannya.
Tentu saja. Ini bukan karena kamu khawatir padaku atau semacamnya.
Bukan sama sekali.
Karena kamu hanyalah sebuah buku harian yang tidak punya hati.
Tepat.
Terima kasih, Tom.
Hush, gadis kecil.
Sepertinya aku akan pergi tidur. Aku masih merasa sangat sedih.
Makanlah beberapa coklat. Itu akan membantu.
Bukan karena kamu peduli atau semacamnya.
Tidurlah, Luna.
Selamat malam, Tom. Mimpi indah.
Kau juga.
