Apa kucing bodoh itu kencing di atasku lagi?
Tom tidak bodoh.
Berhenti memanggilnya dengan nama itu!
Tetapi kan itu memang namanya.
Ah-ha jadi kau mengaku!
Maksudku, itu nama panggilannya. Atau setidaknya begitu caraku memanggilnya, jadi terbiasalah.
Ya. Apa Tom pipis di atasku lagi?
Tidak.
Lalu bau apa itu?
Air pipis.
Tadi kau bilang bukan!
Tidak. Aku bilang itu bukan Tom. Kali ini seekor tikus yang pipis di atasmu.
Tikus!? Kenapa kau menaruhku di dekat tikus-tikus? Bukankah aku sudah berada dalam bahaya yang cukup besar dari hewan-hewan imajinermu tanpa perlu kau taruh aku di tengah binatang-binatang nyata?
Aku tidak menyimpanmu di dekat tikus-tikus.
Lalu bagaimana caranya seekor tikus pipis di atasku?
Dia bukan tikus liar. Dia seekor peliharaan. Aku tadi sedang mengobrol dengan Ginny dan ternyata Ginny sedang mencari peliharaan tikus kakaknya, Scabbers. Dia sempat kabur dan merangkak masuk ke dalam tasku. Sayangnya, dia memutuskan bahwa tasku adalah tempat yang terbaik untuknya melegakan diri.
Itu menjijikan!
Bukan hanya kamu buku yang basah, tahu.
Aku berani bertaruh kalau hanya aku buku yang peduli.
Bisa jadi. Kelihatannya Ia juga menggerogotimu sedikit.
Mungkin kau harus mengenalkan tikus itu kepada Tom? Kucing itu bisa membuat dirinya berguna dan mengunyahnya sekalian.
Itu bukan sikap yang baik, Tom. Ia hanya tikus kecil yang tidak berbahaya. Ia tidak tahu apa yang Ia lakukan.
Aku tidak peduli. Aku benci tikus. Terutama mereka yang berani-beraninya mengunyahku.
Berhentilah bersikap dramatis.
Aku tidak bersikap dramatis.
Kamu bersikap begitu.
Tidak.
Kamu kekanakan sekali.
Aku tahu kau memang bocah, tetapi apakah aku?
Benarkah Tom? Seperti inikah caramu bersikap sekarang?
Oh, pergilah.
Baik. Hari yang indah.
Tikus tolol itu sebaiknya berdoa semoga tanganku tidak bisa menggapainya.
Tetapi kan kamu tidak punya tangan.
Kalau seperti ini terus, sepertinya aku tidak akan pernah punya tangan.
Dasar kekanakan.
