Naruto © Masashi Kishimoto
4 Minutes of Cold Desember © Nunnallyy
Hyuuga Hinata & Sasuke Uchiha
Chapter 2: Who's
Namanya Hinata.
Sasuke berbasa-basi tentang sebuah pesta, bertanya apakah Hinata bersedia untuk mengisi acaranya. Seperti dalam dugaan, gadis itu menolak dengan sopan.
"Aku tidak mengambil pekerjaan seperti itu, maafkan aku, Tuan."
Gadis ini tidak dibayar.
Entah mengapa anggapan itu hinggap di dalam kepala Uchiha muda.
Dari gelagatnya, Hinata bukanlah penyanyi profesional. Amatir juga bukan. Hinata bernyanyi karena ia mau.
Keesokan harinya ia berkunjung lagi, Hinata juga di tempatnya. Menyanyikan dua buah lagu sejak Sasuke datang, salah satunya lagu yang kemarin Sasuke dengar.
Setelah selesai, gadis itu melengos ke belakang. Tidak kembali lagi sampai Sasuke memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya lagi Sasuke datang. Hinata tidak ia temukan sampai siang. Padahal sebelumnya di jam yang sama Hinata ada menyanyikan sebuah nada dengan indahnya.
Besoknya lagi, tetap sama.
Dua hari Sasuke ditelan kesibukan. Saat ia kembali untuk melihat, Hinata tidak juga ia temukan.
Membenarkan posisi letak jas armani yang Sasuke kenakan. Ia terbatuk sebentar sebelum bertanya pada bartender yang tengah menuangkan minuman.
"Hinata ke mana?"
Yang ditanya malah menaikkan sebelah alisnya.
"Dia tidak datang."
Jawabannya tidak membantu.
"Ke mana?"
Sasuke mengulang dengan nada yang lebih tajam.
"Kalau soal itu aku tidak tahu."
Sasuke hendak mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
"Tunggu-tunggu jangan suap aku lagi."
Sekarang giliran Sasuke yang menaikkan sebelah alisnya.
"Kemarin Hinata memarahiku karena menerima 'hadiah' darimu."
"Dia tahu?"
"Kuharap tidak. Tapi sepertinya iya."
Sasuke benar-benar terpikat. Gadis cerdas yang peka terhadap kondisi yang tengah ia hadapi.
"Jadi ke mana dia?"
"Sudah kubilang aku tidak tahu."
Sasuke tidak merasa dibohongi, jadi pertanyaannya ia ganti menjadi:
"Apakah dia selalu seperti ini? "
Bartender itu melirik gelas vodka yang ada di hadapannya, lalu menatap ke dalam matanya.
"Ya."
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Dia bukan penyanyi tetap?"
"Kau sangat ingin tahu?"
Sasuke memasang wajah datar dengan tatapan yang sangat-sangat mematikan.
"He...hei aku hanya bercanda!"
Berdalih bahwa itu hanya gurauan demi sebuah keamanan, Sasuke bisa membacanya.
"Dia bernyanyi jika dia mau."
"Kenapa seperti itu?"
"Kalau yang ini aku benar-benar tidak tahu."
"Tidak ada pengganti?"
"Hinata tidak suka itu. Makanya kami lebih memilih memutar musik lewat kaset jika Hinata tidak bernyanyi."
Kesimpulannya adalah: Hinata pemilik tempat bernama Lupin ini.
"Kau tertarik padanya?"
Sasuke diam. Lawan bicara kembali meneruskan.
"Bukan hanya kau, banyak sekali yang tertarik pada Hinata."
"Mereka dapat?"
Kiba menaikkan bahunya, lengkap dengan lengkung bibir yang menyebalkan di mata Sasuke. "Hinata menolak. Ya tentu saja. Lagi pula dia sudah bertunangan."
Entah disengaja atau tidak, nada suara pada kata terakhir yang diucapkan Kiba terdengar menyebalkan. Tidak mau menjadi orang sentimentil, Sasuke mengabaikannya.
Setelah membayar dengan nominal yang banyak dilebihkan, Sasuke pulang.
.
.
.
.
Di apartemenya, Sakura sudah duduk manis bersama teh hitam dan majalah fashion. Belakangan gadis itu sering sekali pulang dan pergi ke kediamannya sesuka hati. Sasuke tidak keberatan, toh sebentar lagi Sakura akan menetap bersamanya.
Beberapa bulan setelah menikah mereka akan pindah pada suatu rumah yang saat ini pembangunannya masih 50 persen saja.
"Sore ini aku akan bertemu dengan Ino."
Sasuke berusaha mengingat, si pirang dengan body layaknya barbie. Ino. Gadis kopian kekasihnya. Memiliki tatanan rambut norak dan suara melengking. Oh ia tidak akan lupa kesan pertama saat Sakura mengenalkan ia pada wanita itu.
"Ya Tuhan Sakura! Dia tampan sekali! Kau dapat dari mana?"
Dengan suara menggelegar membuat pejalan kaki sejenak terhenti, menatap ke arah mereka bertiga yang dihadiahi tatapan nyalang miliknya dan rona merah kekasihnya. Mereka disatukan sama dengan kegilaan tanpa ujung. Jika bersama mereka, ketenangan hanyalah angan-angan.
"Bukankah ia bekerja di klinik?" tanya Sasuke.
"Entahlah. Dia bilang lebih nyaman di rumah sakit."
"Tapi sore ini kita harus bertemu dengan Nona Haku." Sakura merengut.
"Siapa dia?" Sasuke berteriak dari arah dapur. Mengambil satu botol air mineral dingin dan sebuah gelas. Ia duduk di depan Sakura dan dihadiahi tatapan tidak suka.
"Dia yang akan menangani prewedding kita, Sasuke. Kita sudah beberapa kali bertemu."
Sasuke meneguk minumannya dengan rakus. Lalu menanggalkan jasnya di sandaran kursi.
"Cobalah mengingat nama-nama orang dengan baik."
Sasuke menatap langit-langit.
"Jadi bagaimana?" tanya Sasuke pasrah.
"Kita bertemu Ino, lalu Haku."
Itu artinya ia dilibatkan. Sasuke menatap Sakura, hendak melayangkan penolakan namun gadis itu lebih dulu menyela.
"Pertemuan mereka tidak bisa ditukar. Jangan khawatir, jaraknya berdekatan kok."
Itu masalahnya.
Jika begitu, itu artinya ia harus selalu mengekor pada gadisnya.
Sasuke mengusap wajahnya gusar. Dulu Sakura adalah gadis yang mandiri. Ia kuat, dia bisa melakukan apapun sendiri, ia tidak takut apapun. Itulah alasan Sasuke menjadikan Sakura kekasihnya. Tapi setelah bersama Sasuke, gadis itu menjadi sangat bergantung padanya.
Memang benar itu pernikahan mereka berdua, tetapi jika dari pagi sampai detik ini Sakura punya waktu luang yang banyak, mengapa tidak ia pakai untuk menyelesaikan semuanya sendiri?
"Si Ino itu, kapan dia akan menikah?"
Agar gadis barbie itu punya alasan untuk tidak selalu bertemu dengan Sakura. Agar gadisnya tidak semakin berisik dengan terus bersosialisasi dengan kawan baiknya itu.
"Entahlah, dia masih patah hati dengan Tuan Polisi."
"Yang mana?"
Sakura berdecak. Lantas bangkit dari posisi duduknya. Sebelum benar-benar berlalu dari ruangan itu, ia menyilangkan kedua tangan dan menatap Sasuke bosan seraya berujar.
"Selain mengingat nama, coba pula ingat setiap aku bercerita. Aku jadi berpikir jika kau tidak pernah mendengarkan aku."
Memang tidak.
Sakura terlalu banyak berbicara tentang berbagai hal. Kehidupannya, orang tuanya, sahabatnya, mantan kekasih sahabatnya, dan beberapa jajaran orang asing yang sebenarnya tidak perlu diseret ke dalam perbincangan mereka. Membuat Sasuke lebih memilih pura-pura mendengarkan daripada kesulitan mencerna setiap kata dengan isi kepalanya yang selalu mendadak pas-pasan.
"Kau makan dulu ya? Masih ada dua jam sebelum pertemuan."
Jika ia bisa, maka ia ingin memilih untuk tidur saja.
Namun jelas Sakura akan sangat marah jika masakannya tidak ia sentuh sama sekali.
Mendengar bunyi teplon yang beradu dengan dudukan kompor membuat Sasuke lemas. Ia membaringkan diri di sofa. Berharap kantuk tidak segera menjemputnya. Padahal yang terjadi malah sebaliknya.
Dua jam kemudian mobilnya penuh dengan suara Sakura yang misuh-misuh tentang sikapnya.
"Kau ini bagaimana, kita sudah telat dan kau malah memutar untuk mengisi bahan bakar. Memangnya dari tadi kau ke mana saja? 'Kan bisa sebelum pulang ke rumah."
Kesabarannya benar-benar diuji.
Setelah dibangunkan dengan cara kasar, ia harus dipaksa makan hidangan yang seketika melenyapkan selera makannya.
Sakura mendadak dungu. Masakannya yang biasa-biasa saja mendadak sangat tidak enak. Gadis itu yang menungguinya makan dengan tangan bersilang benar-benar membuatnya ingin melenyapkan diri. Mengapa calon istrinya menjadi berlipat-lipat lebih menyebalkan dari sebelum-sebelumnya?
Dari pada menanggapi, Sasuke lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Itulah caraya untuk mengalah dan tidak memperpanjang masalah.
Di lantai lima belas ia menemukan Ino sudah duduk dengan wajah ditekuk. Benar saja, ketika Sakura dan ia tiba, telinganya kembali terkontaminasi oleh ocehan wanita yang kecepatannya patut diacungi jempol. Suaranya nyaring. Inilah yang membuatnya membenci pertemuan dengan gadis pirang bermarga Yamanaka.
Maka Sasuke pamit ke toilet ketika pramusaji selesai mencatat pesanan untuk tiga orang. Meninggalkan Sakura yang memasang muka simpati dan Ino yang tengah berkeluh-kesah mencurahkan isi hati.
Setengah jam ia baru kembali.
Pesanan sudah tiba, dan Ino juga Sakura sudah mulai makan tanpa dirinya. Ekspresi keduanya cerah, dan Ino berceloteh tentang seseorang yang terpaksa harus didengarnya.
"Namanya Hyuuga Neji-sensei."
"Biar kutebak. Pasti ia kepala rumah sakit tempat kau bekerja itu 'kan?"
"Ya!" jawab gadis pirang dengan sangat antusias.
Sasuke baru mulai dengan suapan pertamanya. Ia memasukkan satu potong tenderloin yang terasa sangat juicy di mulutnya. Beruntung di tengah kesuraman senja masih ada yang bisa ia nikmati.
"Dia sangat tampan sekali Sakura~"
"Nanti kenalkan padaku ya?"
Eksprsinya berubah masam. Ino menyimpan alat makannya, ia berpangku dagu dan menatap Sakura lurus ke dalam manik jamrudnya yang menawan.
"Dia tidak memedulikanku."
"APA?"
Memalukan.
Dengan volume suara di atas normal Sakura memekik tidak karuan. Mencuri perhatian beberapa pelanggan yang menatap ke arah mereka tajam. Merasa terganggu.
"Jangan menyerah. Karena kau adalah Ino!"
Seperti sebuah orasi pembakar semangat, kedua mata Ino yang semula berkabut kini berganti menjadi sangat bersinar. Suasana hati wanita benar-benar semudah itu bisa dibolak-balikan.
Sasuke selesai lebih cepat, Sakura tidak menghabiskan makanannya. Mereka pamit pada Ino yang menolak untuk segera pulang.
"Masih ingin di sini."
Sakura lalu berbicara lagi meski ia sudah berdiri. Seorang wanita memang benar-benar membutuhkan waktu yang lama untuk menuntaskan suatu pertemuan. Entah apa yang mereka bicarakan sampai pada akhirnya Ino duduk di kursi penumpang, Sakura membatalkan temu dengan Haku, dan Sasuke terdampar di basement Rumah Sakit sendirian. Tentu setelah ia menolak ajakan Sakura untuk masuk ke dalam demi mengantar Ino yang entah punya keperluan apa sampai menyeret dirinya. Seharusnya ini penting, kalau tidak Sasuke akan mencoret nama Ino dalam kepalanya.
Sekitar tujuh menit waktu yang terambil untuk menunggu, Sasuke tidak memiliki kegiatan selain diam. Membiarkan diri dengan posisi bersandar hanya mengundang rasa kantuk datang. Ia ingin kopi, tapi tahu benar bahwa ini di parkiran. Tertutup di paling bawah dari bagian rumah sakit elite yang cukup terkenal. Milik swasta dan berdasarkan apa yang ia dengar, pemiliknya begitu loyal pada setiap tenaga medisnya. Pantas saja Ino lebih memilih ini ketimbang klinik kecantikkan di persimpangan jalan yang selalu sepi peminat.
Dengan posisinya yang menghadap kemudi, sudah beberapa orang yang melewati, datang dan pergi untuk memarkirkan mobil. Namun kali ini ada sosok yang pernah ia temui. Dari jauh postur tubunya terasa familiar, Sasuke memicing, seorang perempuan yang tidak asing, tapi itu bukan Sakura.
Dengan stiletto berwarna hitam –haknya terlalu tinggi kalau boleh Sasuke komentari, agak tidak cocok dengan kakinya yang ramping dan postur tubuhnya yang mungil.
Berbalut dress yang panjangnya melewati lutut. Ada pita berwarna peach yang melingkari pinggangnya. Dress tanpa lengan dengan sebuah mantel di tangan. Tangan gadis itu terulur, disusul bunyi yang membuat Sasuke terkejut. Bukan karena bunyi mobil singkat pertanda kunci pengaman terbuka, tapi karena suara yang itu bersumber dari sebuah mobil yang persis terparkir di samping mobilnya.
Bukan, itu hanya sedikit pengaruhnya, tapi dari sosok lain yang membuat kepalanya bekerja keras, kali ini ia ingin merekam dengan baik potret yang hampir ia lupa.
Ada keinginan lebih untuk sekedar mengingat, Sasuke nekat membuka kaca tempat duduk Sakura, hingga bisa ia lihat dengan jelas, sosok yang mengemudikan sebuah ferary berwarna putih. Berjalan dengan kecepatan normal. Dengan sebuah wangi yang terbawa udara, seperti ditinggalkan khusus untuknya.
Yang masih bisa Sasuke ingat sampai ia duduk menikmati makan siang di keesokan harinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ayah dan ibunya tinggal di Nagoya. Sedangkan ia ada di Kyoto, mengurusi anak perusahaan Ayahnya. Intensitas pertemuan dengan kedua orang tuanya terhitung jari dalam satu bulan, dan minggu ini adalah jadwal ibunya berkunjung, tanpa sang Ayah. Ia hendak menjemput ke Bandara, tetapi Ibunya bilang sudah dekat dengan apartemennya.
Saat itu Sakura meminta maaf karena tidak bisa segera bertemu dengan calon mertuanya. Sebab ia punya keperluan yang masih berkaitan dengan keluarganya. Ia harus mengurusi keperluan adiknya yang tengah menempuh pendidikan pasca sarjana di Tokyo.
Ibunya memang memberikan kabar yang begitu mendadak.
"Sakura cantik ya?"
Begitu wanita itu berujar. Sasuke menemukan sebuah senyuman di wajah Ibunya yang bebas dari kerutan. Mengikuti pandangan sang Ibu, ia ikut melihat potret dirinya dan Sakura yang dipajang norak di ruang tengah.
"Teh?"
Wanita bernama Mikoto itu tersenyum dan mengangguk. Sasuke melengos ke dapur, membiarkan Mikoto sendiri. Hanya perlu waktu kurang dari limat menit Sasuke sudah kembali. Tinggal sendiri membuatnya terbiasa untuk mandiri, jadi menyeduh teh atau kopi bukanlah hal sulit dan memakan waktu banyak.
"Jadi, pernikahan seperti apa yang kalian mau?"
Sakura menginginkan pernikahannya meriah di dalam gedung. Semua orang yang dikenalnya harus mendapat undangan. Semacam pesta besar-besaran.
Bagi Sasuke itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah kehidupan mereka setelah menikah nanti.
Sasuke jelas tidak setuju. Ia lebih senang pesta yang tidak terlalu besar, dan hanya orang-orang terdekat saja yang diundang.
Sakura tidak terima.
Lagi-lagi pilihan Sasuke hanya diam. Membiarkan arus waktu membawanya.
"Entahlah," jawab Sasuke malas.
"Kalian tidak terburu-buru 'kan?"
Sasuke tidak ingin mengecewakan ibunya, tapi kilatan memori tentang keluarga calon istrinya membuat Sasuke mendadak pening. Andai saja Sakura di sini, biar bukan cuma ia yang menghadapi tanya sang Ibu.
"Sasuke, kakakmu masih belum kembali."
Atmosfernya berubah, kedua manik obsidian milik ibunya berkaca-kaca.
"Ibu tidak tahu harus berbuat apalagi."
"Aku akan bicara padanya."
"Jangan, ibu tidak mau kalian bertengkar."
Sasuke diam, karena ia tidak bisa menjamin hal itu tidak akan terjadi. Berbohong hanya akan membuat hati ibunya bertambah bolong, membuat wanita itu merasa semakin sakit.
"Ini sangat berat, untuk kakakmu."
Dan juga Ibu.
Beban yang terlalu berat itu tidak bisa ditopang oleh tubuh ibunya yang ringkih, sehingga wanita itu harus bolak-balik rumah sakit untuk memulihkan keadaan tubuhnya, atau setidaknya membuat pemilik tubuh merasa lebih baik.
Tanpa diketahui sang Ayah.
Alasan kerap kali Ibunya sering mengunjungi dirinya, di sisi untuk melepas rindu juga untuk menjalani pengobatan.
Sasuke yang selalu mengantar.
Seperti malam ini, setelah membuat janji temu dengan dokter, mereka lekas menuju rumah sakit di pusat kota Kyoto. Rumah sakit tempat Ino bekerja.
Ia duduk di ruang tunggu yang sepi ketika Ibunya berujar, "Neji-sensei sudah menunggu." Dan pergi meninggalkannya dengan langkah terburu-buru.
Iya.
Neji yang itu.
Neji yang membuat sahabat kekasihnya jatuh cinta.
Baik keluarganya ataupun Sakura tidak tahu kebiasaan rutin yang Sasuke dan ibunya lakukan jika mereka bertemu. Mereka berdua sepakat untuk bungkam dari dunia.
Sasuke menyimak tayangan di televisi yang tengah menyiarkan berita seputar dunia pendidikan. Tidak cukup menarik ketika yang dibahas hanya kurikulum kesetaraan dan tetek-bengeknya yang membuat Sasuke didera rasa bosan.
Resepsionis yang tersekat meja panjang itu sibuk dengan telepon dan buku pendaftaran. Saat ini tidak ada orang lain selain dirinya. Wajar saja ini sudah malam, hanya dokter-dokter tertentu saja yang bisa ditemui pada waktu seperti ini. Ibunya beruntung karena dokter elite sekelas Neji, yang sekaligus kepala rumah sakit ini mau ditemui pada malam hari. Setelah sebelumnya disibukkan dengan pasien yang membutuhkan bantuanya di waktu siang hari.
Dari arah kolidor yang panjang Sasuke bisa mendengar sebuah langkah konstan. Milik seorang perempuan. Sasuke menduga jika itu adalah ibunya, sebab arahnya sama dengan arah yang ibunya biasa lalui, menuju ruangan Neji-sensei.
Semakin lama langkahnya semakin mendekat.
Sasuke dengarkan dengan seksama. Yang beradu dengan lantai bukan suara wedges yang tadi ibunya kenakan.
Jadi ia duduk santai saja.
Sudut matanya menangkap siluet seorang perempuan. Seperti gerakan slow motion, perempuan itu berjalan melewatinya, dan ia mengikuti arahnya. Kepala dan matanya menatap lekat objek yang berlalu dengan balutan coat berwarna soft blue. Rambutnya tergerai, panjang sampai petrengahan punggung. Tanganya memegang sebuah tas dengan merk berkelas yang sama dengan milik ibunya. Jangan lupakan aroma lembut yang bisa membuatnya mabuk.
Sosok yang selama ini ia cari, lagi-lagi ditemuinya dengan tidak sengaja.
'Hinata.'
Sebenarnya apa yang tengah disiapkan takdir untuknya?
.
.
.
.
.
.
.
.
つづく
a/n : 2020 bagi saya benar-benar berat. Saya berterimakasih sekali kepada diri sendiri karena masih bisa bertahan di tahun yang penuh cobaan ini, mari kita rayakan! Banyak semoga untuk 2021 agar hal-hal baik berdatangan!
Terima kasih banyaaaak buat yang udah nungguin meski saya ilang timbul, hehe. Kesibukan di dunia nyata benar-benar merantai saya. Januari nanti saya sidang akhir! Mohon doanya ya.
Semoga kalian menyukai cerita ini *ojigi.
.
.
Pojok balasan review:
DianeGigant: Saya nggak mengerti, tapi saya berterimakasih banyak karena sudah membaca dan mereview.
asgppnlh: Terimakasih sudah menunggu, saya sudah kembali hihihi.
pinky lav145: Doa yang sama untuk kamu, terimakasih sudah membaca.
MadyaRaksa: Aku juga gatau siapa kamu, jadi mari berkenalan.
Frisky Sweet: Hai, terimakasih sambutannya, terimakasih sudah follow juga.
.
Nunnallyy, 31Desember 2020
