Naruto © Masashi Kishimoto
MELLIFLUOUS © Nunnallyy
Sasuke Uchiha & Hyuuga Hinata
OOC, Typo, AU.
Chapter 3
Ia tidak sadar.
Tahu-tahu sudah berdiri dan memanggil nama seorang wanita yang tadi melintas di hadapannya.
"Hinata!"
Entah mendapat keberanian dari mana. Sasuke, yang semula duduk santai di kursi tunggu, melesat menghampiri Hinata yang berjalan ke arah pintu keluar.
Bahunya yang tegap naik turun, obsidian bertemu pandang dengan sepasang pearl yang menawan. Persetan dengan keadaan, cahaya dari bola lampu semakin membuat Hinata terlihat berkilau. Sasuke menjadi orang dungu yang gagu. Sulit terlepas, mungkin juga karena separuh keinginannya enggan melepas pandang dari mata yang menjabarkan tanya.
Sasuke tidak juga membuka suara, maka Hinata yang berinisiatif mendahuluinya.
"Ya Sasuke-san?"
Ia ingat namanya.
Hinata mengingat namanya!
Hinata menyibak rambutnya ke belakang, wujud ungkapan verbal bahwa ia merasa tidak nyaman.
"Ada apa?"
Masih Hinata yang berbicara.
"Aku hanya menyapa."
Tidak tidak.
Bahkan suara yang memanggilnya keluar tanpa ia sadar. Jangankan menyapa, setengah berlari mengejar Hinata saja Sasuke tidak sadar jika itu diperintahkan oleh otaknya.
Semuanya terasa pas. Seperti ada tombol otomatis yang ditekan, membuat Sasuke malakukan gerakan-gerakan di luar nalar. Sasuke tidak bisa menjabarkan jawaban yang lebih normal. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Hinata tersenyum canggung. Matanya menatap ubin dan sekeliling. Menghindari sepasang mata yang mencuri warna jelaga, yang terus menatapnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Hinata memeluk dirinya sendiri dengan sebelah tangan. Lalu tersenyum hambar sebelum melontarkan sebuah jawaban.
"Aku ada perlu."
"Kau tidak sedang sakit, 'kan?"
Sasuke benar-benar merutuki pertanyaannya. Terkadang logikanya berjalan terlalu cepat, memunculkan spekulasi yang kadang membuatnya penat. Malam hari, gadis ringkih, di rumah sakit. Bagaimana ia bisa berpikiran baik?
Hinata membelalakkan matanya, kemudian menatap ujung flat shoes yang dikenakannya. Berwarna coklat tua dengan sebuah pita di bagian depannya. "Tidak kok. Aku sehat."
Bahu Sasuke turun, menjabarkan kelegaan yang tidak bisa dilihat oleh Hinata.
"Sasuke-san sendiri apa yang dilakukan di sini?"
Layaknya eufoni, sikap Hinata dan kebaikkan yang terselip dalam setiap kata pada suaranya membuat Sasuke ingin hidup abadi. Bersama gadis itu tentunnya.
"Mengantar ibuku."
Hinata membulatkan mulutnya tanpa suara.
Hening kembali menyergap mereka.
Ada satu orang pemuda yang melewati mereka. Suara langkahnya tidak bisa menggapai indra pendengaran Sasuke uang mendadak tuli. Tapi tidak untuk mendengar nafas Hinata yang tenang.
"Ibu Sasuke-san sakit?"
Sikap Hinata jika terus seperti ini akan segera melenyapkan kewarasan dalam diri sang Uchiha. Menjadi penjahat dan menculiknya dirasa bukanlah sebuat dosa.
"Begitulah."
"Ibu Sasuke-san pasti sembuh, tenang saja."
Ambigu.
Antara memberikan semangat atau secara tidak langsung tengah membanggakan pelayanan rumah sakit ini, dan Hyuuga-sensei .
Namun melihat senyuman Hinata yang tulus membuat Sasuke lekas menghilangkan pikiran negatif tentang gadis itu. Sasuke tidak hanya melihat senyuman melengkung pada bibir tipis yang dipulas gincu berwarna kelopak mawar itu. Tetapi sepasang mata Hinata juga melakukan hal yang sama.
Sasuke terpana.
Hinata benar-benar minta diculik rupanya.
"Sasuke?"
Jika ibunya tidak segera tiba, tidak ada jaminan bagi Hinata untuk bisa pulang tanpa ditahan lebih lama.
"Siapa dia?"
Mikoto menatap anak bungsunya, lalu beralih pada Hinata yang membungkuk sopan. Gadis itu tersenyum membuat Mikoto melakukan hal yang sama, dengan refleks tentunya.
"Hinata. Senang bertemu dengan anda."
Mikoto terlihat bingung, Hinata masih tersenyum dan Sasuke masih terpikat.
Mereka mengobrol singkat, tentang rumah sakit, tentang pengobatan, dan segala hal yang hanya bisa dilihat dari sudut pandang perempuan.
Lalu ia berpamitan dengan dalih sudah terlalu malam. Mikoto meminta maaf dan Hinata terlihat merasa sangat tidak enak.
Lalu mereka berpisah setelah ucapan selamat tinggal. Sasuke tidak banyak dilibatkan, tetapi ia tidak keberatan karena hadiahnya adalah kebahagiaan.
"Gadis Hyuuga itu pasti akan menjadi dokter yang sangat cantik. Dia juga sepertinya cerdas."
Di mobil ibunya membuka topik yang membuat hati Sasuke sedikit tercubit.
"Hyuuga?"
"Iya, Hinata Hyuuga."
Padahal dari obrolan tadi, Sasuke menyimak semuanya dan tidak ada satu kalimatpun yang menyinggung perkara marga.
"Ibu bisa tahu hanya dengan melihat matanya."
Detik itu, Sasuke merasa menjadi manusia paling dungu. Mengapa ia baru sadar akan hal itu?
"Dokter?" Sasuke kembali bertanya tentang kalimat panjang ibunya.
"Iya. Kau tahu 'kan bisnis keluarga Hyuuga berkecimpung di dunia kesehatan?"
Dari awal memang ia sudah merasa ada yang janggal.
"Ibu suka padanya?"
Mikoto melihat lampu-lampu jalan yang seperti bergerak maju di luar. Hening beberapa saat sebelum Mikoto membalas.
"Siapapun yang melihatnya akan menyukainya. Kau juga 'kan?"
Sasuke hampir saja menginjak pedal rem jika saja otaknya tidak cepat-cepat mengambil kendali. Melalui kaca spion panjang yang tergantung di bagian atas ia melihat Mikoto yang masih enggan melepaskan pandangan dari jalanan.
"Tidak bisa. Kau sudah punya Sakura." Ungkap Mikoto tegas.
Sasuke ingin berdecih. Ia tidak suka dihakimi. Ibunya seperti tengah merobek kebahagiaan serupa layar yang baru saja ia bentangkan. Moodnya memang gampang rusak.
Mikoto meninju lengan Sasuke
"Ibu bercanda." Lantas tertawa hambar.
Sasuke tahu kalau kata-kata yang pertama dari hati datangnya. Makanya ia diam tidak menanggapi, moodnya sudah terlanjur hancur sejak tadi.
.
.
.
.
Uchiha memang kaya.
Menjadi raja dan duduk di undakkan pertama dalam perekonomian Negara. Ayahnya yang terbaik jika masalah bisnis, tapi tidak untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis. Beruntung sang Ibu mau mendidik buah hatinya dengan sepenuh hati, sehingga ia dan kakaknya bisa tumbuh menjadi saudara yang saling menyayangi.
Saat Sasuke kecil baru bisa mengingat, mungkin yang paling berkesan –dan susah lupa, adalah ingatannya di usia tiga tahun. Ia meniup lilin dengan linangan air mata, berkali-kali bertanya. "Ibu, ayah mana?" yang hanya dijawab dengan senyum Mikoto yang itu-itu saja. Mungkin jika ia besar sedikit, ia bisa mengartikan senyuman Mikoto yang bermakna duka.
Usianya dua tahun setengah, kakaknya menginjak 6 tahun saat ia dan keluarga kecilnya diboyong menuju Roma.
Satu tahun ia menetap di sana, setiap malam ia menangis merengek ingin bertemu Kakek Madara. Entah ia yang beruntung, atau doanya yang didengar Kami-sama, satu tahun terasa sangat menyiksa, kembali ke Jepang adalah kebahagiaan yang sulit didefinisikan dengan kata.
Saat ulang tahun yang ketiga, ada kue berbentuk mobil balap berwarna biru yang dihiasi beberapa lilin kecil yang sulit padam dan lilin besar berwarna merah berbentuk angka tiga.
Itachi kecil bersemangat meniup terompet berwarna emas, Mikoto bernyanyi dengan lembut dan Sasuke mengalami masalah dengan ingus, sebab setengah jam sebelum pesta kecil ini dilangsungkan ia menangis meminta eksistensi sang Ayah yang tidak bisa meninggalkan pekerjannya.
Ayahnya, Fugaku Uchiha memang lebih dekat dengan sang Kakak. Itachi muda sudah digembleng pendidikan yang cukup menguras tenaga. Tuntutannya adalah menjadi sempurna, dan Sasuke yang nomor dua.
Itachi harus bisa, Sasuke juga seperti itu sebenarnya, tetapi jika Sasuke memang tidak bisa ya tidak masalah. Ia hanya nomor dua.
Sasuke tahu itu, tetapi kegagalan adalah hal yang paling dibencinya. Sehingga dua laki-laki ini tumbuh menjadi sosok yang sempurna. Tidak hanya rupa yang memang sudah memesona dari kodratnya, tetapi kemampuan mereka tidak main-main unggulnya.
Itachi lulus kuliah hanya tiga tahun saja. Sebagian berpikir bahwa pria itu bermain dengan uang dan sogokan agar bisa lulus cepat dengan hasil hebat. Tetapi, Itachi memang keras bahkan pada dirinya sendiri. Belajar setiap malam, menyelesaikan tugas akhir tanpa jeda yang cukup panjang. Hasilnya memang setara dengan usaha yang terus dilakoninya.
Sasuke juga sama. Hanya saja si bungsu tidak terlalu diekspos media.
Sedikit kecewa banyak untungnya. Sebab Sasuke sangat mencintai privasi.
Baginya dan Itachi, mimpi sudah menunggu untuk direalisasikan jauh sebelum kelahiran mereka direncanakan. Nenek moyang mereka cukup pintar untuk tetap menjaga darah murni Uchiha dengan terus menikahkan dengan sesama marga. Itachi adalah pewaris utama, tugasnya adalah menjadi yang terbaik dan menjadi nomor satu agar perusahaan mereka tidak turun level.
Itachi berhasil.
Sekali lagi, Sasuke diciptakan sebagai cadangan bila mana Itachi gagal. Padahal Itachi dan kegagalan adalah dua hal yang tidak akan pernah bisa disatukan.
Di usia dua puluh tiga Itachi sudah memegang seperempat anak perusaah milik Uchiha. Suatu pencapaian yang mendapat decak kagum dari semua kalangan dan bisa menyumpal mulut petinggi Uchiha yang agak meragukan kemampuan anak-anak Fugaku.
Beruntung Sasuke banyak menghabiskan waktu dengan sang Ibu, sikap besar hati wanita itu benar-benar turun kepada Sasuke.
Santai saja.
Itachi yang terlalu bersinar membuatnya tidak terlihat.
Sekali lagi, Sasuke sangat mencintai privasi. Hadiahnya adalah kebebasan dengan siapa ia menjalin hubungan.
Sakura Haruno.
Masih dari kalangan bangsawan Jepang, tetapi marganya berada jauh beberapa puluh undakkan dari posisi Uchiha.
Sasuke mengenalnya sejak masuk sekolah menengah pertama.
Fisiknya lumayan, sikapnya yang berisik membuat Sasuke membencinya dengan sepenuh hati. Di perguruan tinggi mereka bertemu lagi. Bukan masalah, sampai Sakura mendobrak pertahannya.
'Mau bagaimana lagi? Jalani saja.' Itu pikirannya, sederhana.
Sakura puluhan kali memberikan sinyal agar hubungan mereka melangkah lebih dari sekedar teman. Sasuke menembaknya dan Sakura bahagia.
Kemudian ia kembali didesak untuk bertemu orang tuanya.
"Orang tuaku selalu bertanya, kenapa kau tidak mampir setelah selesai dengan kencan kita?"
Memang benar, Sasuke selalu menurunkan Sakura di depan rumahnya, lalu pergi begitu saja.
Ia pikir tidak masalah, tapi itu hanya pikirannya saja.
"Bagaimana kalau satu setengah tahun dari sekarang, kau setuju 'kan Sasuke?" pinta Tuan Haruno, lebih terdengar seperti tuntutan daripada permintaan.
Ia harus menyanggupi, kalau tidak, Sakura akan pergi.
"Aku akan menikahi Sakura," ungkapnya tegas di depan kedua orang tuanya. Setelah ia mengobrol serius dengan pihak keluarga Sakura yang memintanya untuk segera mempersunting si gadis musim semi.
Kedua mata Mikoto berbinar. Cucu adalah impian wanita itu.
Namun, tidak boleh melangkahi Itachi.
Terlalu ditundukkan oleh masalah kedudukan membuat Itachi hampir melupakan kodratnya sebagai manusia. Ia tidak pernah terlihat tertarik pada seorang wanita.
Saat usia Sasuke 23 tahun, untuk pertama kalinya ia melihat Itachi menggandeng seorang perempuan dari kalangan Uchiha. Cantik, tapi di mata Sasuke gadis itu tidak menarik.
Izumi Uchiha.
Sasuke berpikir jika Itachi tidak benar-benar jatuh cinta, menipulasi tetua dan taktik perusahaan agar saham tidak jatuh pada pihak lain. Pernikahan yang dilandasi politik, seperti semua saudaranya, seperti ayah dan ibunya. Beruntung mereka semua bisa menemukan cinta dari penikahan yang memaksa mereka.
Tetapi Sasuke salah.
Itachi benar-benar jatuh cinta.
Dan wanita bernama Izumi itu cinta pertama dan kelak menjadi cinta terakhir kakaknya. Hal yang langka ketika dua Uchiha disatukan demi kepentingan klan dan mereka menemukan cinta yang tumbuh sebelum dialangsungkannya pernikahan.
Tiga tahun berlalu, saat perisapan pernikahannya dan Sakura sudah menginjak setengahnya perempatnya, sebuah kepahitan menjemput kakaknya.
Izumi adalah boneka.
Bukan dalam arti yang sebenarnya. Melaikan gadis itu adalah sebuah alat, benar-benar alat untuk merusak kewarasan Itachi.
Musuh itu terlahir bukan dari pihak yang jauh-jauh kok, melainkan dari pihak terdekat. Dan pelaku dari semua kekacauan ini adalah anggota klan Uchiha sendiri.
Tujuannya hanya satu, memecah anak perusahaan yang dipegang oleh Itachi menjadi beberapa bagian kecil. Jika sudah begitu, akan semakin udah untuk menghasut anak-anak perusahaan ini dan kemudian kemungkinan terbesarnya mereka akan membelot dan memutus kontrak kerja sama dengan keluarga Uchiha Fugaku.
Masalah utama bisa diatasi.
Kekacuan ini cepat dicium oleh Fugaku dan kaki tangannya.
Semua bisa terselesaikan tanpa menemukan masalah yang berarti.
Tetapi tidak dengan kewarasan Itachi.
Sakit hati karena merasa telah dikhianati membuat pria tampan itu melarikan diri.
Bukankah sudah jelas? Jika Itachi adalah orang yang keras, bahkan pada dirinya sendiri.
Sasuke tahu jika kakaknya itu merasa sangat malu. Karena Itachi tidak bisa mencium aroma kebohongan dari sebuah strategi yang melibatkan dirinya. Sasuke tahu dengan baik alasan utamanya, cinta yang telah merantai Itachi untuk menjadi buta dan tuli.
Itachi pergi ke Roma.
Menenangkan diri, katanya.
Tetapi lebih dari itu semua, Sasuke tahu dengan baik Itachi tidak akan kembali.
Inilah yang menyebabkan kesehatan Mikoto turun drastis. Imbas yang lainnya adalah kehidupan Sasuke yang ikut terekspos. Membuat segalanya menjadi semakin sulit.
Pernikahannya harus dibekukan.
Masalahnya adalah perannya sebagai pemeran pengganti sudah dimulai, dan Sakura bukanlah keturunan Uchiha. Yang terakhirlah yang menyebabkan Fugaku sampai detik ini belum pernah mau bertatap muka dengan calon menantunya.
"Kau mau makan?"
Sasuke melirik jam dinding di ruangan sebelah, sudah hampir tengah malam. Ide gila jika mengisi perut di jam-jam yang rawan.
"Aku mau tidur sebentar lagi."
Mikoto dengan satu gelas teh darjeeling ikut mendudukan diri di sofa. Letaknya berseberangan dengan Sasuke yang merebahkan diri dengan lengan sebagai bantalan.
"Mau teh?"
Sasuke menggeleng.
Ia tidak suka teh. Ibunya tahu dan penawaran itu hanya basa-basi klasik yang sering dilontarkan.
"Itachi sedang apa ya?"
Sasuke bersumpah, setelah ibunya pulang ia akan menghilangkan fotonya dan Itachi dengan ekspresi datar dari dinding. Sebab ibunya yang mendapat topik yang menyesakkan itu mengakar dari sebuah foto sialan.
"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan baka aniki."
Sasuke mencuri pandang pada ibunya yang tengah melengkungkan sebuah senyuman hambar. "Tidak bisa begitu, sebesar apapun kau dan Itachi sekarang, kalian tetap bayi kecilku yang perlu perlindungan."
Sasuke memejamkan mata. Puluhan kali sudah ia mendengar ungkapan itu.
Ketika Sasuke membuka mata, ia menangkap ekspresi Mikoto benar-benar berbeda sangat jauh dari sebelumnya. Pada dasarnya Uchiha memenag diguratkan oleh takdir memiliki aura kuat yang mengerikan. Madara dan Fugaku adalah ahlinya, bahkan Itachi saja sudah bisa menguasainya. Dulu ia sulit percaya jika Mikoto juga bisa menjadi sehitam itu, tetapi ibunya juga seorang Uchiha yang tidak bisa menyalahi kodratnya.
Sasuke mengerti, seorang ibu masih menganggap anaknya seorang bayi sebesar apapun wujudnya saat ini. Dan siapapun tidak akan pernah membiarkan bayi disakiti. Mikoto menyaksikan sendiri bagaimana bayi kesayangannya disiksa dengan begitu begisnya oleh sebuah manipulasi.
Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk. Ia membenarkan kerah kemejanya yang kusut.
Mikoto menyesap tehnya dengan tenang, kemudian sejurus kemudian wanita itu menatap Sasuke dengan sepasang obsidian yang tajam.
"Seorang Uchiha tidak dilahirkan untuk jatuh cinta. Mereka hanya boleh menemukan cinta setelah dinikahkan dengan bangsanya, atau tidak sama sekali."
Yang semula dikira anugrah ternyata adalah musibah.
Jika tahu akan berakhir begini, ia akan menjadi orang pertama yang meninju wajah para tetua sialan yang sudah menyodorkan gadis ke depan seorang Itachi Uchiha yang tidak pernah mengenal cinta.
"Jadi Sasuke, apa kau mencintai Sakura?"
.
.
.
.
つづく
.
.
.
.
"Aku mencintai Nuna bu."
.
a/n : Banyak benang yang harus diusut. Mohon bersabar ya, karena sepertinya cerita ini akan sangat panjang dan lama selesainya *Ojigi*
I feel so good today!
Oiya selain kuliah aku juga punya kesibukkan lain, yaitu menulis novel dan mengajar privat bahasa Jepang. Saat ini aku benar-benar lagi mumet sama tugas besar kuliah, jadi melarikan diri dengan menulis. Karena katanya menulis juga efektik sebagai terapi jiwa. Yosh! Mohon maaf jika waktu update fict ini cenderung random!
Sampai bertemu di chapter depan!
.
Nunnallyy, 10 Mei 2018
.
Yas ini reapload dengan beberapa rombakan. Semoga kalian suka ya! (20210922)
