Naruto © Masashi Kishimoto
4 Minutes of Cold Desember © Nunnallyy
Sasuke Uchiha & Hyuuga Hinata
OOC, Typo, AU.
What is Love?
Bunyi air terdengar begitu jelas. Sasuke memandang dirinya di depan cermin. Ibunya telah pulang tadi pagi, dan Sasuke yang bertanggung jawab untuk mengantarkannya sampai bandara.
Pria itu melihat lingkar hitam di bawah matanya. Sial. Semalam ia gagal terlelap. Tanya ibunya juga gagal ia jawab.
Ia mencuci muka, menata rambutnya, dan siap pergi dengan sebuah kemeja, untuk bertemu Sakura.
Pukul sebelas lewat lima, kegiatannya mengaitkan kancing di tangan kanan terinterupsi. Semula ia kira panggilan tidak tahu etika itu dari Sakura, nyatanya itu dari klien-nya.
"Ya?"
Setengah jam berlalu, Sasuke melapisi kemejanya dengan jas armani berwarna navy. Meeting mendadak, padahal ia sudah mengosongkan jadwal hari ini untuk menemui Sakura.
Etika pengusaha adalah tidak memainkan alat komunikasi ketika tengah berbincang dengan perusahaan relasi. Meeting berlangsung lancar, tetapi memakan waktu di luar perkiraan. Tentang Uchiha yang melebarkan sayap di bisnis kesehatan. Boleh juga isi kepala Tuan Madara. Meski sudah kepala enam, otaknya masih saja brilian.
Di tangan Sasuke, Uchiha untuk pertama kalinya membuka diri pada dunia. Entah ayahnya akan bangga atau malah murka. Semua tergantung hasilnya nanti.
Sasuke tidak pernah menduga, jika ketika dihidupkan, smartphonenya akan sangat berisik dengan notifikasi pesan dan beberapa panggilan gagal terjawab. Semua nama mengarah pada nona Musim Semi.
Sasuke hanya membacanya, tanpa membalas. Sebab setelah ini tujuannya adalah bertemu Sakura di apartemennya. Tidak menduga jika hal ini akan menjadi soal yang besar.
Ketika Sasuke membuka apartemen kekasihnya, ia menemukan Sakura tengah bersila di atas tempat tidurnya.
Mereka memang sudah seperti tidak memiliki privasi. Apartemen Sakura adalah apartemennya juga, begitupun sebaliknya. Mereka memegang masing-masing kunci apartemen, dan bebas keluar masuk dengan atau tanpa ijin pemiliknya.
Sasuke melihat rambut permen karet yang diikat asal, dan tatapan Sakura yang sangat mengintimidasinya. Ada jejak air mata, mata sembab, dan ujung hidung yang memerah.
Sasuke berlagak seperti tidak punya salah. Sebab ia merasa bahwa tindakkannya sudah benar dan semua belum melampaui batasnya. Sasuke membuka jasnya, kemudian menyimpannya di atas tempat tidur King Size milik Sakura. Gadis itu mengawasinya, membatu dengan setiap tindak tanduk sang Uchiha muda.
"Kau tidak bisa memilih prioritasmu!"
Sakura dan meledak-ledak adalah dua hal yang melekat. Sasuke melonggarkan dasinya, menjatuhkan diri pada sofa tunggal di ujung ruangan.
"Kau menghilang Sasuke, ada apa ini."
"Aku ada meeting mendadak."
Sakura menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kau seharusnya paham mana yang harus kau batalkan."
"Ya aku paham."
"Dan kau membatalkan rencana kita?!"
Otak Sasuke panas sejak meeting tadi. Sakura ingin membuatnya mendidih atau bagaimana. Pria itu memijat pelipisnya.
"Dengar Sasuke, pertemuan tadi siang begitu penting."
"Sepenting apa?" Sasuke jengah. Meeting jelas lebih penting.
Tidakkah Sakura sadari jika semua itu juga demi dirinya sendiri? Restu Fugaku memang harus dibeli dengan karir yang mentereng.
Sakura melangkah gontai. Sepasang kakinya yang tanpa alas menggesek permadani meledu dengan dramatis. "Sepenting apa katamu?"
Sakura mengikis jarak di antara mereka. Memandang Sasuke dengan hidung kembang kempis. Matanya menyimpan air yang siap jatuh mengikuti gravitasi.
"Sepenting apa? MEREKA ORANG TUAKU!"
Sepasang onyx berkilat datar. Satu dari beberapa hal yang Sasuke benci adalah diteriaki.
"Mereka meluangkan waktu demi mengurusi kita, dan kau malah menghindar!"
"Mengurusi?" ulang Sasuke, "Apanya yang harus diurusi?" balasnya sengit. "Dan siapa yang menghindar?"
Sakura menggeleng tidak percaya. "Tentu saja tanggal pernikahan kita? Apa kau lupa?!"
Sasuke menatap Sakura takjub. Kenapa calon istrinya sebebal ini. Di tengah kehidupannya yang berubah drastis, ketika ia menjadi pusat perhatian media, masih sempat-sempatnya Sakura mempermasalahkan itu. Padahal sudah ia utarakan berkali-kali jika pernikahan bukan prioritasnya saat ini.
Belakangan, Sakura lebih sering mendesaknya lagi.
"Usia kita sudah mau 25!"
Tidak masalah baginya. Menikah di usia empat puluhan juga tidak apa-apa. Ia punya rupa, harta, dan kedudukan. Masih banyak yang mau padanya sampai kapanpun dengan tiga hal itu.
Tetapi tidak bagi wanita, tidak bagi Sakura. Usia adalah segalanya. Menikah seperti kompetinsi dan ada masa kadaluarsanya.
Sakura tidak terlalu menarik, lumayan sih. Yang membuat Sasuke mau dengannya adalah sikap mandirinya dan Sakura adalah gadis tangguh.
Ternyata semua tidak sesederhana yang ia pikirkan ketika menembak Sakura.
Ia bangkit. Mengambil jas yang tersampir di atas tempat tidur Sakura. Dan menuntun kakinya menuju pintu utama.
"Mau kemana?! Apa kau sudah tidak mencintaiku?"
Brak!
Pintu terbanting menutup. Sasuke melangkah konstan di lorong. Sebelum benar-benar pergi, ia mendengar tangis histeris Sakura yang menyayat hatinya. Bagaimana pun juga, Sakura adalah kekasihnya. Semenyebalkan apapun sikapnya, Sakura masih bertahta di hatinya.
Alasan ia pergi, karena tidak mau semakin parah menyakiti hati perempuan itu. Sasuke bisa saja melakukan apapun. Bahkan memutuskan Sakura sekalipun. Ia hanya perlu menghilang untuk memulihkan segalanya. Tidakkah Sakura paham akan hal itu?
.
.
.
Pukul sebelas, Sasuke terlihat seperti manusia tidak waras. Memandang isi gelas. Memutar-mutarnya tidak beraturan. Sudah dua jam ia berada di sana, bahkan tanya dari Kiba tidak sedikitpun di gubrisnya. Ia sangat-sangat menginginkan kenikmatan dunia. Sialnya daya tahan tubuhnya terhadap alkohol sangat kuat, sehingga sulit baginya untuk bisa melayang meninggalkan beban.
Di tengah-tengah antara ia waras atau tidak, suara itu terdengar. Seperti fatamorgana di padang pasir. Kehadiran Hinata hanya ciptaan khayalan terliarnya. Tetapi, ketika lagu selesai dan mutiara itu memandang ke dalam matanya. Sasuke tahu, Hinata hadir tidak hanya di dalam kepalanya, tetapi nyata. Hinata akan pergi setelah lagu ke tiga, tetapi Kiba menahannya sambil mengajak bicara. Sasuke akan merusak suasana, tetapi ia tidak akan kuat melangkah. Berapa gelas vodka yang sudah ia minum? Tidak dihitung.
Kiba menunjuk dirinya dengan jempol tangan. Kemudian Hinata memandangnya.
Apa yang mereka bicarakan? Kepalanya panas menerka segala kemungkinan.
Sasuke tengah menatap Hinata, ketika eksistensi perempuan itu semakin besar melalui pandangannya. Makin besar dan membesar, dan Hinata yang cantik sudah mengambil posisi duduk di hadapannya. Memindahkan jas miliknya ke atas pangkuan Hinata.
Semuanya terjadi begitu cepat. Secepat Hinata mengambil perhatiannya saat pertemuan pertama mereka.
"Kau baik-baik saja?" Suara Hinata adalah candu paling bahaya bagi Uchiha muda.
"Sangat baik," jawabnya dengan suara serak.
"Kau mabuk."
"Mungkin ya. Mungkin juga tidak."
Hinata dengan rambut panjang yang terurai itu menjabarkan keindahan dunia. Sasuke tidak ingin melihat wujud bulan dengan mata telanjang, atau menjarah bintang dengan kedua tangan. Semua kilau yang ada di angkasa, sudah dimiliki oleh Hinata.
Gadis itu mengubah posisinya menjadi menghadap meja. Sasuke mendecih. Benci Hinata yang tidak lagi menatapnya. Sebuah isyarat membuat Kiba menyodorkan sebuah gelas.
"Kau yakin?" tanya pemuda itu khawatir.
Hinata tersenyum. Senyum yang membuat Sasuke seakan memiliki dunia di kedua tangannya.
Hinata memutar badan. Mereka kembali berhadapan. "Mau berbagi?" ujarnya seraya mengangkat sloki.
Sasuke menuangkan vodka ke gelas Hinata. Berusaha fokus disela kesadaran yang hampir hilang.
Hinata meneguknya dengan keanggunan. Tetapi terlihat begitu seksi di mata liar Sasuke Uchiha.
"Kau harus mencoba Diva Vodka," ucap Sasuke.
Hinata tersenyum separuh. "Boleh juga."
Sasuke menuangkan Vodka dengan takaran yang lebih sedikit dari sebelumnya. Ia menjaga kesadarannya. Jika tahu Hinata akan datang, ia tidak akan minum sebanyak ini.
"Kau sudah membagi minumanmu. Sekarang giliran ceritamu."
Hari ini penuh dengan ketidakterdugaan. Meeting mendadak, Sakura yang begitu murka, dan Hinata yang mendadak banyak terlibat. Sasuke tidak keberatan dirundung dua hal yang memusingkan kepala. Kini ia bersyukur punya 'scene' yang agak panjang bersama Hinata.
"Hinata, cinta itu ... apa?"
Hinata ibarat putri malu tersentuh jari. Langsung layu ketika kalimat itu keluar dari mulut sang Uchiha.
"Kau tidak akan puas jika aku berkata jujur. Maka, aku akan mengatakan ekspektasiku tentang hal magis yang disebut cinta itu."
Sasuke tidak membiarkan satu katapun yang Hinata ucapkan lolos.
"Silakan."
"Cintamu pada seseorang, akan membuat orang itu selalu ada di dalam dirimu. Di sini," Hinata menunjuk kepala. "Dan di sini." Kemudian hatinya.
"Cintamu pada seseorang, membuat orang itu hilir mudik di dalam kepalamu, kapanpun. Mau tidak mau. Kemudian orang itu akan merusak sistem tubuhmu. Membuat jantungmu seperti ingin meledak, perutmu dipenuhi kepakkan sayap kupu-kupu, dan aliran darahmu menjadi sangat cepat hanya dengan bersamanya, atau bahkan memikirkannya."
Hinata mengelus jas Uchiha muda, di antara sadar atau tidak. Namun, tindakannya tidak lolos dari mata elang Sasuke. Pemuda itu bersumpah, tidak akan mencuci jasnya.
"Ketika bertemu, dia adalah candu. Dan kau rela menukar duniamu demi dirinya. Kurang lebih begitu." Sepasang pearl memandangnya, Hinata punya bulu mata lebat dan tatapan hangat. "Bukan kekosongan."
Deg.
"Kau menanyakan hal yang kontradiksi dengan keadaanmu saat ini."
"Ya?" Dan Sasuke mengalami disorientasi.
"Sulit dipercaya, pria seusiamu baru menanyakan tentang cinta."
Sasuke diam, menimbang, kemudian berujar, "Ada dua wanita yang menanyakan padaku tentang hal itu. Aku tidak bisa menjawabnya."
Hinata tersenyum miring, "Kau terkenal di kalangan perempuan rupanya."
Sasuke menyeringai. Hinata tidak tahu kebenarannya.
"Semoga jawabanku membantu."
"Terimakasih, Hinata."
Gadis itu bangkit, masih memegang jas mahal milik Uchiha bungsu. "Terima kasih kembali, Uchiha. Kami menunggu kedatanganmu di lain waktu." Seraya membungkukkan badan.
Padahal, tadi Hinata begitu dekat seperti teman. Sekarang, wanita itu malah kembali ke mode normal. Menganggap Sasuke tidak lebih dari pelanggan.
Hinata tengah menyimpan jas Sasuke ke tempat asal, tetapi suara berat itu menginterupsinya.
"Boleh kuminta nomor ponselmu?"
Sasuke melihat Hinata membatu, kemudian wanita itu berbalik dan berkata, "Maaf, itu terlalu privasi."
Sasuke serasa dihantam ke dasar bumi. Sebelumnya ia belum pernah mengalami penolakkan seperti ini.
"Selamat malam. Senang berbicara denganmu."
Hinata pergi. Menjauh. Ditelan pintu. Hilang.
Malam ini, Hinata tidak hanya membuat ia membagi minuman dan ceritanya, tapi juga hatinya.
to be continued
A/N : Dedicated for van apel.
Saya berencana untuk mengupload cerita ini satu chapter perminggu. Tapi nggak bisa ngejanjiin harinya ya.
Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung dan mereview cerita ini. Saya membacanya dan mendoakan kalian semua, orang baik.
.
With Love, Nunaly 23 Januari 2019
.
Nunaly, 3 Oktober 2021
