Naruto © Masashi Kishimoto
4 Minutes of Cold Desember © Nunnallyy
Sasuke Uchiha & Hyuuga Hinata
OOC, Typo, AU.
Chapter 5: Girls in the Night
Klik!
Pintu apartemen di lantai 89 itu terbuka, menampilkan seorang perempuan dengan sepatu boots coklat tua sebatas lutut. Ujung rambut panjangnya yang digerai menyentuh permukaan meja yang terbuat dari kayu oak. Kuku-kuku jarinya yang dicat mengkilat –yang terlihat begitu feminism– bertumpu pada tepian meja. Di atas meja itu ada bunga bakung layu dan chrysanthemum yang–seharusnya berwarna kuning– telah berubah warna menjadi coklat mengerikan.
Selama perempuan itu melepas alas kakinya, ia mengamati vas bunga dari keramik cina dengan seksama. Airnya keruh. Membuat pertanyaan muncul dalam kepala; 'Memangnya sudah selama itu aku tidak berkunjung ke tempat ini?'
Kedua tangannya yang lentik meletakkan sepasang boots yang semula ia kenakan di undakan paling atas dalam rak sepatu. Memilih alas kaki beledu dengan motif kepala kelinci berwarna samudera.
"Kau lama sekali, Nona," ujar pemuda bertato segitiga di kedua pipinya, tanpa melihat ke arahnya.
Perempuan itu masih berjalan, melewati pria misterius berkacamata hitam di tengah ruangan yang tengah bermain dengan serangga kesayangan. Menuju pintu di sayap kanan.
"Kau mau menginap?" teriak Kiba.
Perempuan itu tidak menjawab. Tertelan di balik pintu dengan ukiran rumit untuk beberapa saat. Sebelum keluar dengan rambut yang telah dicepol asal tanpa ikatan.
"Terlihat sibuk sekali."
Tidak menanggapi, ia kini mulai sibuk dengan smartphone-nya dan duduk di samping pemuda berisik yang sibuk dengan game tembak menembak di tangannya.
"Menurutmu, lebih baik daffodil atau suzuran?"
Ada dua orang dalam ruangan, sedangkan kata –mu di akhir kalimat tidak singkron dengan keadaan.
Setelah hening dan memiliki keyakinan jika Shino tidak akan menanggapi, Kiba berujar, "Aku tidak mengerti soal bunga, Hinata. Sejak awal itu sudah menjadi tugasmu, bukan? Tapi kurasa daffodil terdengar segar."
"Aku masih ingin mempertahankan bunga krisan kuning, sih," ucap Hinata tanpa menatap Kiba.
Shino tidak lagi bermain dengan serangganya, tiga makhluk dalam satu ruangan sama sibuk dengan gawai masing-masing. Ruangan yang difungsikan sebagai ruang tengah itu memiliki sofa berwarna putih, di tengahnya ada permadani yang dihadiahkan oleh Shino ketika pemuda itu pergi ke Austria, menutupi lantai kayu yang mengkilat.
"Aku memilih suzuran," tukas Hinata, dan ia tidak lagi bermain dengan smartphone-nya.
Kiba mengusap wajahnya, terlihat frustasi atas dua kemungkinan; game, atau Hinata. Kemudian pemuda itu melemparkan smartphone keluaran terbaru ke sofa di seberangnya.
"Kalian mau teh?"
Kiba membuat kepalanya menatap langit-langit, matanya terpejam. "Buat saja untukmu sendiri. Aku dan Shino akan meminum vodka nanti."
Hinata beranjak lagi. Ia menjadi satu-satunya makhluk yang terlihat paling tidak bisa diam di antara yang lainnya.
Pertama-tama Hinata berdiri di depan kabinet, kemudian ia memilih satu buah mug dengan tulisan romaji dan emoji berwarna merah muda. Hinata berjinjit ketika ia mengintip apa saja yang disimpan di dalam lemari gantung. Ada beberapa toples berisi pasta, kopi, dan teh. Hinata menutupnya kembali. Kemudian tujuannya adalah lemari pendingin. Gadis itu sedang ingin teh celup dibandingkan teh bubuk.
Memasak air sebentar, kemudian menuangkannya pada gelas. Dari tempatnya berdiri, Hinata bisa melihat ke ruang tengah. Di mana Kiba dan Shino duduk bersila di permadani. Terlibat pembicaraan kecil yang bisa membuat hati Hinata hangat, lebih baik daripada segelas teh.
Tanpa sadar, Hinata tersenyum simpul. Ia jadi ingat masa-masa di mana mereka sepakat untuk membagi tiga uang sewa apartemen ini. Sebenarnya, Hinata bisa saja membayar uang sewa untuk tiga tahun ke depan dengan uangnya sendiri, tetapi apartemen ini bukan untuk pribadi, melainkan basecamp mereka bertiga. Shino dan Kiba menolak, jelas karena perkara harga diri.
Agak susah meyakinkan dua orang ini jika tunangannya tidak akan membuat mereka mati muda. Shino dan Kiba adalah temannya di masa SMA. Mereka tidak pernah meresmikan geng yang diciptakan mereka, tetapi ke mana-mana selalu bertiga.
Selalu ada saat-saat di mana Hinata memeluk sahabatnya dengan erat, berterima kasih dengan sangat karena sudah mau Hinata injak.
Jika diibaratkan, Kiba dan Shino adalah tangga yang membawa Hinata pada mimpinya sejak Sekolah Dasar.
"Karin mengundurkan diri, ah perempuan itu. Memangnya dia pikir bekerja di tempat lain akan seenak bekerja bersama kita."
"Kita berada di sini memang untuk membicarakan penggantinya," ucap Shino.
Sepasang mutiara milik Hinata berkedip innocent pada dua sahabatnya. Tangan kanannya memegang sepotong pizza combo yang tadi dipesannya lewat jasa pesan-antar, Hinata tengah mengunyah paperoni dengan saus tobacco pelan-pelan.
"Dan penggantinya?"
"Shion."
"Gadis yang kau bilang sangat mirip denganku itu?"
"Sebenarnya ada dua, Shion dan Sara."
"Dan kau memilih Shion?" tanya Hinata pada Kiba.
"Ya, karena dia mirip denganmu."
"Sesederhana itu?"
"Ya, sesederhana itu."
"Kiba terlalu terobsesi denganmu, Hinata."
"Oi tidak ada yang seperti itu."
Hinata tergelak dalam tawanya. Memang mustahil jika persahabatan antara dua gender yang berlawanan tidak terlibat dalam romansa. Bisa dua-duanya, atau salah satu pihak saja. Hinata tahu jika Kiba tertarik padanya, hanya saja Hinata sudah sangat menyayangi Kiba melebihi pacar. Kiba terlalu berarti, dan statusnya adalah sahabat. Tidak ada negosiasi untuk menjadikannya lebih tinggi.
"Kudengar Sara lebih banyak bicara. Tidak cocok dengan Kiba, tetapi cocok dengan Shino. Bagaimana kalau kita pilih dua-duanya saja?"
"Jangan terbawa suasana, Hinata. Sesuai yang kita sepakati, hanya ada satu," ujar Shino.
Hinata tersenyum. Eksistensi Shino di antara ia dan Kiba adalah kombinasi yang pas. Shino yang paling dewasa bisa meredam sifat kekanakkan Hinata dan menekan emosi Kiba yang meledak-ledak. "Kau benar."
Hinata mengalap tangannya dengan tisu, kemudian meraih gawai berisi agenda rapat malam ini di samping tubuhnya.
"Kasus satu selesai, kemudian kita masuk pada yang kedua. Tentang renovasi." Hinata menscroll halaman kerjanya. "Aku keberatan."
"Pelanggan akan bosan, dan lari ke tempat lain yang lebih ideal dan kekinian." Kiba sama keberatannya dengan Hinata.
Memang benar, sejak café itu didirikan, belum pernah tersentuh sedikitpun renovasi. Posisi kursi, meja, bahkan deretan gelas yang dipamerkan juga tetap begitu-begitu saja.
"Lalu menurutmu, Lupin harus menjadi seperti apa, Kiba-kun?" Namun Hinata keberatan jika yang Kiba maksud adalah kesan kuno yang ditampilkan café itu.
"Lebih colorfull."
"Norak," ucap Shino.
Hinata menautkan kedua alisnya.
"Aku keberatan," ujar Hinata seraya membenarkan posisi duduknya, "Kau jangan lupa jika sejak awal café ini didirikan, sasarannya adalah semua kalangan."
Hinata menyembunyikan kekecewaan dalam senyumannya.
Rapat informal berakhir pukul sebelas malam. Menelurkan dua keputusan yang sudah final; penyanyi pengganti Karin adalah Shion, dan café tidak akan direnovasi.
Hinata memutar-mutar gelasnya yang terisi moctail racikan Kiba. Sebenarnya akan lebih enak jika Diva Vodka, tetapi ia tidak bisa. Ia harus menyetir malam ini.
Ia berdiri di depan dinding kaca yang memamerkan kota tempatnya tinggal. Apartemen ini terlalu tinggi untuk hunian tetap, tetapi karena ini hanya markas yang sesekali disinggahi, rasanya tidak begitu buruk. Hinata bisa melihat pantulan dirinya sendiri dengan rambut panjangnya. Hinata menilai tampilannya. Mungkin nanti ia akan memanjangkan poni-nya dan tidak lagi mengenakan rok tutu. Semua orang sering salah menduga jika ia masih SMA. Wajah dan tubuhnya sangat bagus menyembunyikan usia yang sebenarnya.
"Aku kecewa. Kau hanya terlalu merindukan aku, ya?"
Mutiaranya beralih pada seseorang yang mengisi tempat kosong di sisi kiri. Orang itu memasukkan satu tangan ke saku celana, tangan lain memegang sloki berisi Diva Vodka.
"Kau yang memaksaku masuk, tetapi kau yang seenaknya keluar masuk, jahat sekali." Pemuda itu selalu berbicara jujur ketika mereka berdua, apalagi dengan satu botol vodka di atas kabinet.
"Maafkan aku, Kiba-kun."
"Ya, ya, kau pemenangnya Hinata," ujar pemilik suara serak itu seraya mengacak surainya yang berwarna kobalt. Telapak tangan Kiba di puncak kepalanya terasa hangat.
"Kau akan menginap?"
"Kau tahu jawabanku."
"Ya, ya, kau sudah bertunangan tetapi gelagat kalian seperti suami istri," cibir Kiba. "Mau kuantar?"
Hinata tertawa singkat, "Kiba-kun tidak ingin melihat matahari lagi?"
Kiba tertawa sumbang, terdengar dipaksakan dan Hinata hanya diam. Kiba ikut diam, lalu hening menyelimuti mereka berdua.
"Uchiha itu, sepertinya tertarik padamu, ya?"
Hinata mengusap-usap sikutnya yang berlapis blazer. "Entahlah."
Mata Kiba memicing, terlihat tidak puas dengan jawaban Hinata. "Apa yang kau pikirkan tentangnya?"
Hinata menatap gelas yang isinya hampir kandas, sudah tidak berminat lagi. "Tidak ada. Aku tidak pernah memikirkan Uchiha-san."
Hinata pergi saat Kiba tidak bisa berpindah dari kabinet dan Shino sudah tenggelam dalam penelitiannya tentang saham.
"Besok akan ada orang yang mengantarkan bunga. Suruh dia sekalian menatanya." Itu adalah kalimat terakhir Hinata sebelum benar-benar pergi, untuk dua orang yang sangat asik dengan dunia mereka masing-masing.
Semula Sakura datang ke flat Ino untuk mengadu tentang hubungannya dengan Sasuke yang chaos menjelang pernikahan. Sakura sudah menyimpan satu bulatan besar transparan berisi sumpah serapah dan makian, ia juga akan menumpahkan air mata di bahu gadis blonde itu.
Sakura menekan bel di depan pintu bernomor 47. Bekali-kali dengan tidak sabar. Dan seseorang yang membuka pintu membuatnya menekan ego sampai ke inti bumi. Penampilan sahabatnya sangat kacau sekali.
"Neji-sensei sudah bertunangan."
Sakura duduk bersila di atas ranjang, emerald-nya memandang iba sahabatnya yang sejak tadi menangis sesenggukkan. Mata indahnya redup, ujung hidungnya memerah, dan suaranya serak.
Ino adalah gadis dengan kepercayaan diri tinggi. Ino bahkan tidak segan merebut kekasih orang jika belum terikat suatu hubungan resmi. Bukan hanya sulit, Ino juga seakan kehilangan sisi terbaiknya.
"Tenangkan dirimu, Ino."
Sakura tidak tahu harus berbuat apa. Ia datang untuk mengadu, tetapi nyatanya ia pihak yang menerima aduan. Ironi.
"Perempuan itu cantik. Rambutnya berkilau. Tidak itu bukan rambut, itu adalah kumpulan benang yang lembut. Matanya memancarkan kebaikan, dan senyumnya benar-benar memikat. Aku terpikat Sakura, dia benar-benar hebat!"
"Ino…"
Sakura semakin iba dengan Ino yang semakin kehilangan kontrol atas dirinya.
"Suaranya lembut dan setiap tutur katanya penuh perhitungan. Dia gadis berkelas, dan kaya raya."
Pantas saja Ino begitu kehilangan rasa percaya dirinya. Ternyata ia dihadapkan dengan orang yang kaya secara rupa dan materi.
Sakura memegang peran pasif ketika Ino semakin gila dengan racauannya. Sakura tahu jika Ino tidak butuh nasihat sebijak apapun saat ini. Yang dibutuhkan gadis itu hanya didengarkan. Dan Sakura cukup pintar untuk tidak membagi ceritanya. Setidaknya mungkin nanti.
Setelah tenang, mereka makan.
Sakura mati-matian memasak dengan cepat sebelum Ino berubah pikiran dan tidak mau makan. Di Flat milik Ino tidak ada yang bisa dimasak, Sakura tidak punya pilihan selain membuat nasi kepal.
Setelah makan, Ino terlihat lebih terkontrol. Memang benar, seseorang akan sangat sensitive ketika tengah dalam keadaan lapar.
"Malam itu, aku sengaja menunda jam pulangku." Ino membuka suara tentang kronologi kejadiannya.
Di depan mereka ada dua gelas ocha yang mengepulkan asap tipis. "Aku menunggu Neji-sensei, setidaknya aku berharap bisa pulang bersama sampai parkiran."
"Berjam-jam aku menunggu, sampai melebihi tengah malam, Neji-sensei baru keluar dari ruangannya. Kemudian… kemudian dia melewatiku, dan aku tidak sempat memanggilnya. Dia melangkah sangat cempat menuju suatu tempat."
Ino tersenyum getir, "Suatu tempat di mana seorang perempuan sempurna tengah menunggunya."
"Aku memanggilnya, aku mendekat, dan aku bertanya siapa perempuan itu." Ino menutup wajahnya dengan kedua tangan, "Kurasa nada bicaraku malam itu tidak terkontrol. Neji-sensei terlihat tidak suka, dan perempuan itu malah tersenyum ramah dan mengajak berkelan kepadaku. Sialan!"
"Dia memperkenalkan diri sebagai … sebagai tunangan Neji."
Ino menatap langit-langit. Berusaha menahan laju cairan bening di dalam mata. Namun gagal, dan itu menyakiti hati Sakura.
"Hatiku sakit sekali Sakura."
Sakura memeluk Ino.
Mereka benar-benar sudah lama bersahabat, dan ikatan emosional mereka juga sudah sangat mengerat. Namun, Sakura tidak pernah sedikitpun menduga jika lara yang ia rasa juga dirasakan sahabatnya. Meski dalam suatu kondisi dan pelaku yang berbeda. Ah, rasa sakit hati Sakura kini berlipat.
Pagi itu hujan. Sasuke benar-benar malas untuk bangun dari ranjang, baginya suara rintik hujan di pagi hari adalah lullaby. Ia akan tidur lagi jika tidak ingat memiliki kewajiban di Kantor utama. Ia tidak ingin mengundang murka ayahnya.
Sasuke mencuci muka, mengganti pakaian, dan mengunyah roti isi selai kacangnya dengan penuh kemalasan seraya memandang hujan dari dinding besar.
Ia mengumpat ketika paginya diganggu oleh bunyi bel di pintu depan. Sasuke mengutuk siapa saja yang ada di balik pintu. Di pagi hari yang hujan bukanlah ide yang baik untuk bertamu.
Sasuke memegang segelas kopi hitam di tangan kiri ketika tangan kanannya membuka knop pintu.
Sepasang matanya membulat.
Satu detik,
Dua detik,
Tiga detik,
Sasuke mengalami disorientasi.
Bagaimana tidak? Seseorang di hadapannya tidak ada dalam daftar tamu yang akan berkunjung ke apartemennya. Apalagi di hari yang tidak tepat seperti ini.
.
.
.
.
つづく
.
.
.
.
Siapa ya yang menjadi tamu Tuan Uchiha Sasuke?
A/N : Saya benar-benar membaca semua tulisan kalian di kotak review. Itulah alasan saya untuk kembali dan meneruskan cerita ini. Saya sangat terharu kalian menanyakan fict ini berkali-kali bahkan pada kotak review fict lain, terima kasih, ya? Maaf tidak bisa saya balas satu persatu, mungkin di chapter berikutnya bisa saya lakukan hal itu.
Terima kasih, saya sangat menyayangi kalian semua.
Mohon tuliskan komentar kalian di kolom review ya! ^^
.
Nunaly, 24 Mei 2022
