Terlihat sekumpulan orang-orang yang terkapar tidak sadarkan diri dan hanya menyisakan 2 orang saja yang masih berdiri dan masih dalam keadaan sadar di tempat itu.

Wajah kedua orang itu terlihat babak belur dan juga terlihat bercak darah yang berada di wajah dan seragam mereka masing-masing, mereka kini menatap satu sama lain dengan penuh kebencian.

"Ghuh, Hei Sai bagaimana kalau kita membuat taruhan?" Kiba menatap main-main ke arah Sai yang masih berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya.

"Hahh hahh, aku tak berniat melakukan taruhan dari seseorang yang lebih lemah dariku" balas Sai yang terengah-engah dan sama sekali tidak melepaskan tatapan matanya dari gerak-gerik Kiba, yang saat ini kelihatannya sedikit kewalahan untuk menahan dirinya agar tidak jatuh.

"Kheh, kau sama saja seperti dulu, terlalu percaya diri" Kiba tersenyum miring.

"Dan juga aku jauh lebih kuat dari kau, jadi camkan itu di dalam kepalamu, sialan!" ujar Kiba setengah berteriak.

"Terserah, sepertinya akan kusudahi pertarungan ini, Neji-san sudah terlalu lama menungguku" ujar Sai kembali memasang gestur Judonya.

"Kheh, Neji si anak manja itu? Wahh aku terkejut, kau sekarang sudah jadi bawahannya, kukira kau berdiri sendiri! Hahaha sepertinya kau sudah melemah, rivalku?!" Kiba tertawa sinis ketika mendengar ucapan Sai, tidak lupa ia juga mencoba untuk memprovokasi lawannya itu.

"Baiklah akan kutunjukkan perbedaan kekuatan kita yang sekarang, pecundang!" tambah Kiba yang tiba-tiba maju untuk memberikan serangannya. Sai yang melihat itu semakin mengokohkan kuda-kudanya.

*Syut*

Sebuah tendangan lurus dari Kiba dengan cepat mengarah ke wajah Sai, tidak mau terkena tendangan begitu saja, Sai pun memiringkan kepalanya ke kiri sambil menyiapkan sebuah serangan balasan.

Kiba yang melihat tendangannya hanya mengenai angin pun mendecih kesal, ketika kaki Kiba mendarat. Sai sudah menyiapkan sebuah counter menggunakan tangan kirinya dengan berencana melakukan sebuah pukulan Hook yang mengincar rahang kanan Kiba

*Tak*

Alangkah terkejutnya, pukulannya itu berhasil dibelokkan oleh Kiba sehingga pukulannya itu hanya mengenai udara kosong. Kiba sudah menduga kalau Sai akan melancarkan serangan tersebut sehingga ia dapat dengan mudah membelokan pukulan Sai yang ia rasa 'lambat' tersebut.

Tidak mau membuang waktu, Kiba kembali membuat Sai terkejut dengan melesatkan pukulan bertubi-tubi yang mengenai rusuk, perut dan pipi Sai dengan telak sehingga rentetan pukulan dari Kiba itu berhasil membuat Sai memuntahkan air liur bercampur darah dari mulutnya!.

*Bugh* *Bugh* *Bugh*

"Dan ini yang terakhir bangsat!" teriak Kiba sambil melakukan tendangan Roundhouse Kick yang mengincar kepala Sai.

*Dugh*

Tendangan dari Kiba berhasil mengenai Sai dengan telak sehingga membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang, hal itu sontak membuat Kiba terkejut karena rivalnya itu masih belum bisa dijatuhkan padahal ia sudah menggunakan tendangan andalannya dengan sepenuh tenaganya.

"Hahahaha, benar-benar cuma kau yang bisa membuat darahku mendidih Kiba!" wajah Sai yang biasa dihiasi dengan senyum palsu kini berubah 180 derajat, kini senyuman mengerikan terpatri di wajah pucatnya.

Sai kemudian mengubah kuda-kudanya, ia tak lagi memakai gestur Judonya itu, ia sekarang hanya berdiri tegap dan terlihat tanpa pertahanan sama sekali, hal itu membuat gerak geriknya tidak dapat dibaca oleh Kiba.

Dengan gerakan cepat, Sai langsung berlari ke arah Kiba yang terlihat sedang mengambil nafas.

Kiba yang melihat itu pun langsung bersiap untuk melayangkan serangannya ke wajah Sai, tidak lupa ia juga memprediksi serangan macam apa yang akan Sai lancarkan ke arahnya.

Ketika Sai sudah berada di depannya, Kiba langsung melayangkan sebuah pukulan lurus ke arah wajah Sai, tapi alangkah terkejutnya, target yang menjadi incarannya tiba-tiba saja menjatuhkan tubuhnya.

Kiba yang melihat lawannya sengaja menjatuhkan tubuhnya hanya menatap bingung, apakah benar pukulannya sudah mengenai Sai? Sungguh tangannya sama sekali belum merasakan adanya kontak fisik dengan wajah babak belur Sai, jadi kenapa lawannya ini tiba-tiba terjatuh?.

Sai yang sengaja menjatuhkan tubuhnya pun kemudian mengaitkan kedua kakinya dengan kedua kaki Kiba.

Sai melakukan gerakan menggunting ke arah kedua kaki tersebut dan memaksa badan Kiba yang berdiri di depannya mulai kehilangan keseimbangannya dan kemudian didetik selanjutnya, Kiba berhasil dibuat terjatuh ke belakang.

Sai melakukan sebuah gerakan dari Judo yang bernama Kani Basami, atau biasa dikenal dengan nama Flying Scissor.

Melihat gerakannya berhasil, Sai kemudian melanjutkan serangannya, ia mengangkat kaki kanannya dan kemudian didetik selanjutnya ia menghantamkan tumit kaki yang ia angkat itu ke ulu hati Kiba yang tengah terbaring di dekatnya.

*Dugh*

"Guhk?!".

Sai kembali melancarkan serangannya, ia kemudian meraih tangan kiri Kiba yang terbebas, lalu dengan cepat ia langsung mengunci pergelangan tangan Kiba.

Sai kembali melakukan gerakan dari Judo yang bernama Ude Hishigi Juji Gatame atau biasa dikenal dengan nama Armbar.

"Menyerah atau patah?!" tanya Sai yang masih setia memasang senyum mengerikannya, tidak lupa untuk semakin mengeratkan kunciannya pada tangan kiri Kiba.

"Ughh! Menyerah heh? Dalam mimpimu bajingan!" ujar Kiba berusaha melepaskan kuncian tersebut.

Sai yang mendengar jawaban itu semakin melebarkan senyumnya, dengan sedikit hentakan, tangan kiri tersebut pun mengeluarkan bunyi 'patah' yang terdengar lumayan keras.

*Krak*

"AAAHK!" teriak Kiba ketika ia merasakan rasa sakit luar biasa yang berasal dari tangan kirinya yang baru saja 'dipatahkan' oleh Sai.

Setelah 'mematahkan' tangan Kiba, Sai kemudian berdiri dan langsung menginjak-injak wajah Kiba yang masih shock dan masih mengerang kesakitan, Kiba yang sedang dalam keadaan yang buruk pun berusaha untuk tetap melindungi wajahnya dengan hanya menggunakan satu tangannya saja.

"RASAKAN INI BANGSAT!" Sai dengan kejinya menginjak-injak wajah Kiba tanpa rasa kasihan.

Beberapa detik kemudian, Kiba mulai kehabisan tenaga akibat terus menerus dihantam oleh serangan bertubi-tubi dari Sai, tetapi ia tetap tidak mau menyerah, dengan cepat ia menggulingkan tubuhnya ke samping, dan rupanya hal itu berhasil membuatnya menghindari serangan bertubi-tubi dari Sai.

Melihat Kiba yang berhasil menghindar dari injakannya membuat Sai benar-benar tidak mau untuk membiarkan Kiba lepas walau sekedar untuk mengambil nafas. Lihat saja! dia mengangkat paksa Kiba dan kemudian memberikan pukulan keras ke arah perut dan wajah Kiba yang membuat Kiba harus kembali terdorong ke samping.

Yakin akan menang, Sai kembali maju dan melayangkan sebuah pukulan lurus ke wajah Kiba yang saat ini sama sekali terlihat tidak berniat untuk menghindari pukulannya itu.

*Tap*

"Kau pikir dengan pukulan ini bisa mengalahkanku hah?!" ujar Kiba setelah menangkap pukulan yang bisa dibilang keras tersebut, Kiba kemudian menarik Sai mendekat ke arahnya, dan kembali menyundul hidung Sai yang terlihat patah itu.

*Duak*

"Ugh!" Sai kembali terjatuh sambil memegangi hidung patahnya yang kembali mengeluarkan darah segar.

'Sialan, bagaimana mungkin dia masih bisa melawan setelah terkena semua seranganku? Sekuat apa sebenarnya kau Kiba?' Sai benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, ia kemudian kembali membersihkan hidungnya menggunakan lengan gakurannya.

"Hahh hahh, Oy Sai ayo kita tingkatkan levelnya! Aku sudah bosan bermain-main" ujar Kiba yang yang kesulitan bernafas, ia kemudian mendekati Sai sambil menyiapkan tinjunya. Melihat itu, Sai juga ikut berdiri dan mulai menyiapkan tinjunya, dengan sekali hentakan mereka berdua sama-sama melemparkan tinjunya.

"ORRAAAA/ ORRYAAA" teriak mereka berdua sambil melayangkan tinju mereka ke arah wajah masing-masing.


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"I'm the King"

Desclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto

Created by: Holocaust

Genre: Action, comedy, school, martial arts, slice of life, etc

Pairing: no pair for today my friend

Warning: Typo berantakan , Alternative Universe, OOC, NoMagic, NoChakra, Just a regular human! and many more

Summary: Konoha Highschool (Boys) sekolah berandalan nomor 1 di Jepang yang dalam sejarahnya belum ada yang bisa menaklukan sekolah itu karena kekuatan murid-muridnya bisa dibilang setara satu sama lain. Dengan tekad yang kuat, Naruto berkeinginan untuk menjadi orang pertama yang menguasai KHS Boys, mampukah dia?.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Tribun Kanan - Aula Sekolah lantai 2.

"Luar biasa, si gendut dan si kacamata itu imbang, padahal kukira si gendut itulah yang akan menang, kurasa tahun ini akan sangat menarik, un!" ujar pemuda berambut kuning dengan poni yang menutupi mata kirinya.

"Iya, mereka berdua lumayan kuat untuk anak kelas 1, kukira si kacamata itu yang akan menang, nyatanya mereka imbang, kurasa mereka berdua akan menjadi Pemimpin yang kuat untuk kelas mereka atau mungkin untuk angkatan mereka sendiri" ujar pemuda berambut emo berwarna merah dengan poni yang menutupi mata kanannya.

"Tapi kurasa bukan cuma mereka berdua saja yang kuat di situ" ujar pemuda bertubuh besar dengan bekas luka yang berbentuk seperti insang ikan yang berada di bawah kedua matanya.

"Kau benar Kisame-san, lihatlah di dekat podium sana Dei, Nagato-san!" ujar pemuda berambut merah jabrik sambil menunjuk ke arah podium dimana terdapat dua orang yang sedang jual beli pukulan satu sama lain.

"Ya dan kurasa mereka sudah mulai kelelahan, sepertinya kita akan segera melihat juara Freshmen War jilid 40 ini" ujar pemuda berambut jabrik berwarna orange dengan serius mengamati jalannya pertarungan tersebut.

"Nee Yahiko-san, mau taruhan?" ujar pemuda berambut jabrik berwarna merah kepada pemuda berambut jabrik berwarna orange yang diketahui bernama Yahiko tersebut.

"Ha? Kenapa kau tiba-tiba jadi seperti Kakuzu, Sasori?" balas Yahiko heran akan perubahan sifat teman pendeknya yang satu ini.

"Oy oy, aku mengajakmu taruhan karena mereka bertiga tidak mengajak ku, lihatlah! Mereka sudah memasang taruhan 1000 yen!" ujar Sasori sambil menunjuk dua orang yang sedang memasang taruhan, dan orang yang satunya lagi sebagai bandarnya.

"Hahh, aku heran dengan kalian semua, terutama kau Nagato! Kenapa kau malah menjadi bandarnya hahh?!" ujar Yahiko setengah berteriak.

"Hey Kisame manusia ikan! Uangmu kurang sialan!" ujar pemuda berambut kuning yang rambutnya menutupi mata kirinya.

"Hehh uangmu yang kelebihan Dei tai! Kita kan sepakat kalau 1000 yen, kenapa kau malah memasang 1100 yen?!" balas pemuda bernama Kisame tersebut.

"Oy, Deidara benar Kisame, uangmu kurang 100 yen" celetuk Nagato sambil memasukan uang taruhan mereka ke dalam saku celananya.

"Perasaan tadi kesepakatan 1000 yen deh, kenapa sekarang jadi 1100 yen?" gumam Kisame sambil memasang wajah berpikir.

"Terus 100 yen-nya buat apa?" tanya Kisame kepada Nagato dan Deidara.

"Tentu saja buatku lah! Kau pikir aku mau jadi bandar tanpa dibayar hah?!" balas Nagato dengan sengit menegaskan bahwa hal yang dikatakan olehnya itu benar(?).

"Cihh kalau begitu kembalikan saja uangku, dasar Wakil Ketua licik!" sambil mengambil semua uang yang berada di dalam saku celana Nagato,

"Oy ikan, kenapa kau mengambil semua uangnya, kan di situ juga ada uangku sialan!" ujar Deidara marah sambil memegangi kerah gakuran Kisame.

"Terserah aku, aku lagi marah kau tahu! Dan apa-apaan tatapanmu itu?! Kau mau ngajak berkelahi hahh?!" balas Kisame sambil meremas kepala Deidara, dan perkelahian antar kedua orang itu pun terjadi dengan Nagato sebagai wasitnya.

"Mereka mengabaikanku" ujar Yahiko frustrasi sambil dikelilingi background suram yang hanya diberikan tatapan aneh oleh Sasori.

"Hey lihat! Sepertinya ini akan segera berakhir, mereka akan melesatkan pukulan terakhir mereka" ujar Sasori meninggalkan Kisame, Deidara dan Nagato yang malah ikut bertarung ke dalam perkelahian antara Kisame dan Deidara, mereka bertiga saling mencekik satu sama lain.

Nagato mencekik Kisame, Kisame mencekik Deidara dan Deidara mencekik Nagato, oh iya tidak lupa ada Yahiko yang masih duduk murung di pojokan disertai background suram.

"Hey, apa kalian tidak mau lihat siapa pemenangnya?" Sasori menatap teman-temannya datar.

Mendengar Sasori kembali bersuara, mau tidak mau membuat mereka berempat yang sibuk dengan urusannya masing-masing berlari menuju ke tempat Sasori, kemudian mereka secara serempak mengalihkan pandangan mereka ke objek yang dimaksud Sasori, menyaksikan pertarungan itu dengan serius.

.

.

.

.

.

.

.

.


Tribun Kiri - Aula Sekolah lantai 2.

"Nee Itachi, kurasa ada baiknya kau mengajak si pucat itu masuk ke Fraksi kita" ujar Shisui yang pandangannya tak lepas dari pertarungan yang sengit itu.

"Kurasa kau benar, akan kupertimbangkan saranmu itu, kurasa dia cocok untuk menjadi partner bertarung dari Sasuke, Sasuke yang hebat dengan berkelahi atas, akan sangat cocok dengan si pucat itu yang sepertinya hebat berkelahi di area bawah" balas Itachi yang sama pandangannya tak lepas dari pertarungan tersebut.

"Jangan lupa ada Chōji juga, anak itu benar-benar mengerikan ketika dia mengamuk" tambah Itachi, perkataanya itu hanya diberi anggukan oleh Shisui.

"Dan inilah dia, pukulan penentu yang akan menunjukan siapa pemenang dari Freshmen war jilid 40 ini!" ujar Shisui sambil menyandarkan tangannya ke pembatas besi yang berada di lantai dua, dan juga ada Itachi yang bersidekap dada di sampingnya dengan memasang wajah serius.

.

.

.

.

.

*Bugh/ Bugh*

Terdengar dua bunyi pukulan yang sama kuatnya dari tangan yang berbeda, kedua pukulan kuat itu masing-masing mengenai telak rahang mereka berdua, mereka sama-sama tak bergeming dari tempat mereka berdiri. Beberapa detik kemudian, akhirnya mereka berdua pun sama-sama terjatuh.

*Brug* *Brug*

Akan tetapi, salah satu dari mereka masih bergerak dan kini tengah bersusah payah untuk berdiri dari posisi berbaringnya, dan orang itu ternyata Kiba.

Setelah beberapa kali terjatuh, Kiba pun akhirnya bisa mendirikan tubuhnya walaupun harus dengan bersusah payah, Kiba kemudian mencoba menghilangkan rasa pening yang ada di kepalanya.

Selang beberapa detik, Kiba kemudian berteriak dengan lantang, yang menandakan bahwa ialah pemenang dari Freshmen War jilid ke 40 ini, sekaligus membuatnya menjadi Raja Freshmen dari Konoha High School di tahun ini.

"RRRAAAAAHHHH!"

Beberapa detik kemudian, pintu aula tiba-tiba terbuka, dan memperlihatkan dua sosok orang yang memiliki ciri yang berbeda, yang satu berambut kuning yakni Naruto dan satunya lagi pemuda yang memiliki alis tebal, tentunya tidak lain tak bukan adalah Rock Lee yang memasang ekspresi heran.

"Apa kita terlambat? Kurasa pertarungannya telah berakhir" ujar Lee yang memasang ekspresi tak percaya melihat murid-murid KHS boys yang semuanya tergeletak tak sadarkan diri.

"Ya kurasa begitu dan kurasa orang itulah yang menjadi pemenangnya" ujar Naruto yang biasanya selalu memasang wajah lugu berubah menjadi serius ketika melihat Kiba yang berdiri dengan bersusah payah mempertahankan keseimbangannya.

Tak lama kemudian, orang yang ditatap pun berbalik menatap mereka berdua.

"Hah hah hah, masih ada dua lagi heh? Kalau begitu sekalian saja ku kalahkan kalian berdua" ujar Kiba dengan suara serak sambil berjalan terseok-seok mendekati tempat dimana Naruto dan Lee berdiri.

"Bagaimana ini Naruto-san, kita tak mungkin memukul orang yang sekarat!" bisik Lee kepada Naruto yang memasang posisi siaga.

"Tentu saja bodoh! Laki-laki sejati tidak akan pernah melawan seorang yang sedang tidak dalam kondisi sempurnanya!" ujar Naruto dengan percaya diri dengan tetap memasang posisi siaganya, Lee yang mendengar perkataan Naruto pun tersenyum sambil memasang posisi siaganya juga.

"Ready or not, here I come!" ujar Kiba dengan bersusah payah berjalan ke arah mereka berdua, ketika sampai, Kiba langsung melayangkan pukulan lurus yang mengarah ke wajah Naruto.

Naruto menghindari pukulan itu dengan mudah, sehingga membuat pukulan tersebut hanya lewat begitu saja di samping kepalanya. Setelah hal itu terjadi, Kiba yang pukulannya meleset pun akhirnya terjatuh akibat kelelahan yang dikarenakan oleh pertarungan sengit yang tadi telah ia alami yang tentunya sangat menguras tenaganya itu, tapi sebelum tubuhnya menyentuh lantai aula yang dingin, Naruto dengan sigap menangkap tubuhnya.

*Grab*

"Fyuhh hampir saja" Naruto kemudian menyandarkan Kiba di bahunya.

"Jadi orang ini pemenang pertarungan ini? Oy Lim apa kau tahu nama orang ini?" tanya Naruto kepada Lee.

"Ah iya, orang ini bernama Inuzuka Kiba, Boss dari SMP Nishizawa, rival dari sekolahku yakni SMP Nakagawa, Kiba-san terkenal dengan kelincahannya dan ia juga adalah anak dari pemilik Inuzuka Industrial High. Dan untuk ke 16 kalinya, namaku bukan Lim tapi Lee!" jelas Lee panjang lebar dan menaikan nada bicaranya di akhir perkataannya.

"Hoo jadi begitu ya? Tapi kenapa dia tidak sekolah saja di sekolah milik ayahnya ya? Kurasa Inuzuka Industrial High itu lumayan keren" gumam Naruto sambil memasang wajah berpikir.

"Kalau begitu bantu aku bawa dia ke UKS, karena dia butuh pertolongan secepatnya" ujar Naruto kepada Lee setelah melihat ada yang aneh dengan tangan kiri Kiba.

"Apa kau tahu dimana ruang UKSnya?" tambah Naruto.

"Iya tentu saja, biar kutunjukan jalannya!" ujar Lee dengan penuh semangat.

"Baiklah kalau begitu, aku mengandalkanmu Cecil!" Naruto berjalan pergi dengan membopong Kiba di bahunya, meninggalkan Lee sendirian.

"Hoy namaku Lee, Rock Lee! Lagipula Lee dan Cecil itu beda jauh! Hahh, ini sudah yang ke 17 kalinya kau tahu?!" balas Lee dengan suara yang keras dan terdengar nada frustrasi di akhirnya.

"Oy mau kemana kau? Bukannya aku yang seharusnya berjalan di depan? Oy Naruto-san, tunggu!" tambah Lee sambil berlari meninggalkan aula dan mengejar Naruto yang saat ini berjalan ke arah empang sekolah? Entahlah.

Hahh ada-ada saja kelakuan tokoh utama kita yang satu ini.

.

.

.

.

.

.

.

.


Tribun Kiri - Aula Sekolah lantai 2.

"Sepertinya prediksiku salah, kukira si pucat itu yang akan menang. Jadi apa kita tetap akan merekrutnya sesuai rencana kita tadi?" tanya Shisui sambil menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas.

"Rencana tak berubah, dia tetap masuk ke dalam Fraksi kita" ujar Itachi santai. Selang beberapa detik, terlihatlah lima orang dengan pin awan merah di masing-masing kerah gakuran mereka berjalan mendekati tempat Itachi dan Shisui berdiri sejak tadi.

"Well well well, apa yang kita dapat di sini? Sophomore yang sok jago heh" Deidara menatap Itachi sinis.

"Seperti yang diharapkan darimu, Senior pecundang yang kalah melawan Sophomore walaupun sudah main keroyokan!" bukan Itachi yang membalas tapi Shisui, tidak lupa dengan menggunakan sedikit nada mengejek yang tersemat di akhir katanya.

"Apa katamu brengsek?! Kau mau berkelahi hahh?!" ujar Deidara marah dan bersiap melayangkan tinjunya.

"Dei, tenanglah!" ujar Yahiko dengan nada serius, Deidara yang mendengarnya berubah menjadi tenang, namun ia tetap tak melepaskan tatapan marahnya kepada Shisui.

"Maafkan Deidara, nee Shisui-kun" ujar Nagato dengan tenang, Shisui yang mendengarnya hanya mendecih kesal.

"Oh iya, aku dengar tadi kalian mau merekrut si pucat itu heh? Maaf saja, tapi dia adalah rekrutan kami, tapi kalian bisa mengambil si pemenang itu. Bagaimana, apa kalian setuju?" ujar manusia ikan alias Kisame sambil menunjukan gigi runcingnya mencoba mengintimidasi sobat lamanya, yakni Itachi.

"Maaf Kisame-san, tapi si pucat itu bagianku, dan juga aku tidak tertarik dengan Raja Freshmen itu" jawab Itachi dengan tenang.

Kedua kelompok tersebut pun sama-sama men-deathglare satu sama lain, mencoba saling menebar ancaman.

"Baiklah kalau begitu, berhubung aku tidak ingin ada pertumpahan darah di sini, maka kita lihat saja siapa yang akan dipilih oleh nomor 2 itu, apakah itu Akatsuki ataukah Uchiha Empire, bukan begitu Itachi?" ujar Yahiko tersenyum simpul sambil meninggalkan tempat tersebut bersama rekan-rekannya.

"Hahh, kau dengar itu Itachi? Kurasa ini akan sulit jika Akatsuki sudah mulai ikut campur dalam urusan ini" ujar Shisui bernafas lega setelah kepergian orang terkuat KHS saat ini yakni Yahiko.

"Seperti kataku tadi, kita tetap akan melakukannya, ayo pergi" balas Itachi sambil meninggalkan tempat tersebut ke arah yang berlawanan dari anggota Akatsuki.

.

.

.

.

.

.

.

.


Ruang UKS

Terlihat tiga orang yang sedang bercengkrama dan seorang lagi yang sedang terbaring di ranjang UKS tidak sadarkan diri.

"Fufufu, kenapa rambutmu berwarna kuning Naru-kun? Apa kau blasteran, atau kau hanya mewarnai rambutmu itu?" tanya seorang wanita imut berambut hitam yang membingkai wajah imutnya, kedua bola matanya berwarna hijau zamrud dan memiliki 'boing-boing' yang bisa dikatakan cukup besar yang ditutupi oleh baju lab putih miliknya.

"Tentu saja aku blasteran, yaa bisa dibilang begitu, soalnya ayahku adalah setengah orang Inggris dan setengah orang Jepang, lalu ibuku adalah orang Jepang asli" balas Naruto spontan dengan senyum manisnya yang berhasil membuat perempuan di depannya merona.

"Wahh berarti kau 25% orang Inggris dong?" balas Shizuka dengan memasang raut wajah yang manis dan tak lupa pipinya yang merona membuat manisnya semakin bertambah.

"Bukan 25% Sensei, tapi aku 1/4 orang Inggris" jawab Naruto sambil memasang pose memberitahu.

Shizuka dan Lee yang mendengarnya hanya bisa ber-sweatdrop ria.

"B- bukannya itu sama saja Naru-kun?" tanya Shizuka yang tadinya wajahnya merona manis kini berubah bingung disertai dengan sweatdropnya yang cukup besar yang turun dari dahinya

"Ehh benarkah? Maaf maaf, shishishi" ujar Naruto tanpa ekspresi bersalah menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

'Ya Tuhan, ini orang begonya tidak tertolong' batin Lee yang sedari tadi diam menatap Naruto dengan wajah putus asa.

"Anu Shizuka-sensei, Naruto-san, sepertinya aku harus melihat keadaan Inuzuka-san dulu deh, sepertinya dia sebentar lagi akan siuman" ujar Lee yang tiba-tiba berdiri, hal itu hanya dibalas anggukan oleh Shizuka dan lambaian tangan saja oleh Naruto.

'Berlama-lama disitu bisa buat IQ-ku yang jongkok jadi tengkurap!' batin Lee sambil meninggalkan tempat itu.

Setelah kepergian Lee, Naruto semakin gencar bertanya.

"Jadi Shizuka-sensei, apa Ibu sudah memiliki pasangan?" tanya Naruto dengan memasang ekspresi penasaran.

"Ara ara, aku masih sendiri Naru-kun, dan juga kau tak perlu memanggilku Ibu atau semacamnya" jawab Shizuka tak lupa dengan ketawa menggodanya.

"Lagipula aku ini masih berumur 20 tahun loh~" tambah Shizuka sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Naruto.

"Uwoo, berarti bisa dibilang kalau Sensei sedang magang di sekolah ini ya? kalau begitu umur kita tidak beda jauh dong!" balas Naruto bersemangat dan hanya dibalas anggukan oleh Shizuka.

Kemudian acara rayu-rayuan Naruto pun berlanjut kepada Sensei imutnya itu, menghiraukan fakta bahwa masih ada 2 orang lain yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdua saling goda menggoda satu sama lain.

Di sisi lain dari UKS, Lee saat ini sedang duduk di sebelah Kiba yang terbaring pingsan di ranjang UKS, Lee rupanya masih mendengarkan percakapan NaruShizu, ia sesekali mengumpat kesal akibat cemburu melihat kedekatan kedua orang itu, ia benar-benar dibuat bingung, bagaimana bisa orang aneh seperti Naruto bisa dengan mudahnya membuat Sensei yang cantik nan imut itu merona seperti itu, ini tidak masuk akal!.

"Ugh, dimana aku?" Kiba mulai bersuara, ia kemudian mencoba bangkit dari tidurnya, Lee yang mendengar suara tersebutpun langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

"Anu Inuzuka-san, kata Shizuka-sensei kau tidak boleh langsung menggerakan tubuhmu dulu" jelas Lee kepada Kiba yang masih mencoba bangkit dan akhirnya terjatuh kembali.

"Ahk, sialan! sepertinya si Zombie itu benar-benar membuat tanganku 'patah' ugh, dan juga siapa kau? Apa aku mengenalmu?" tambah Kiba sambil memegangi tangan kirinya yang sudah dibalut oleh gips itu.

"Ahh apa kau lupa denganku Inuzuka-san?" tanya Lee heran.

"Hmm, ahh bukankah kau yang dulu pernah dijadikan samsak hidup dari si anak manja Neji itu? Rock Lee dari SMP Nakagawa kan?" ujar Kiba memastikan sambil mencoba meredakan rasa sakit di tangan kirinya.

"Uwoo 100 untukmu, tapi samsak hidup sepertinya berlebihan" balas Lee bersemangat sambil menunjukan jempol dan tak lupa gigi putihnya.

*Srek*

Gorden UKS dibuka oleh Naruto.

"Hoy tidak bisa kah kau tenang sedikit Lien? Eh rupanya kau sudah sadar Unko-kun? Hey Shizu-sensei, Unko-kun sudah sadar!" ujar Naruto yang awalnya marah tiba-tiba berubah menjadi antusias setelah melihat orang yang tadi pingsan sudah kembali sadar, tidak lupa ia memanggil guru yang menjaga UKS tersebut.

"Siapa lagi orang aneh ini? Dan juga namaku Kiba, bukan Unko sialan! Aduh duh persetan dengan rasa sakit ini" tentu saja Kiba tidak terima namanya diganti menjadi kotoran, siapa juga yang mau namanya diganti menjadi kotoran? Ia kemudian memegangi perutnya yang sakit akibat dari pertarungannya melawan Sai tadi, ditambah lagi ia berteriak-teriak kepada Naruto sehingga membuat sakit di perutnya tambah menjadi-jadi.

"Hahh, lama kelamaan kau akan terbiasa, orang ini otaknya miring, dia selalu saja salah menyebutkan nama. Dengar, namaku saja diganti jadi Lien, ini sudah yang ke 23 kalinya kau tahu?" jelas Lee sambil menunjukan wajah frustrasinya.

"Oh iya hampir lupa, Namaku Naruto, Namikaze Uzumaki Naruto, salam kenal" menyodorkan tangan kanannya, Kiba yang melihat itu dengan sigap menerima sodoran tangan itu.

"Aku Inuzuka Kiba, Kenapa bisa aku ada di sini?" Kiba kemudian melepaskan jabat tangannya, kemudian ia menatap Naruto penasaran.

"Apa kau lupa? Aku tadi orang yang mau kau pukul di aula tadi, tapi tiba-tiba kau langsung pingsan, jadi langsung saja kubawa kau ke ruang UKS ini, benarkan Liz?" jelas Naruto sambil merangkul leher Lee (mencekik), menunggu Lee untuk mengkonfirmasi perkataannya.

"Naruto-san. Kumohon sekali saja kau mengucapkan namaku dengan benar, ini sudah yang ke 24 kalinya" balas Lee sambil menangis bombay dan Naruto mendengarnya cuma tersenyum acuh seperti biasa, ia kemudian melepaskan rangkulannya (cekikan) dari leher Lee.

"Oke berhubung kau sudah sadar, aku dan si Alis tebal ini akan pergi untuk mencari tahu dimana kelas kami berdua berada" ujar Naruto kali ini ia memberikan senyum simpulnya.

"Oh iya, apa kau mau aku carikan kelasmu juga? Supaya sekalian, shishishi" tambah Naruto tak lupa dengan ketawa khasnya. Kiba yang mendengarnya hanya memasang wajah bingung.

"Tidak, itu tidak perlu" tegas Kiba.

"Baiklah, oh iya kalau begitu sampai jumpa lagi Shizu-sensei yang cantik, dan juga cepat sembuh untukmu Kuso-kun!" ujar Naruto sambil meninggalkan UKS bersama Lee yang mengekor di belakangnya.

"Hoy namaku Kiba! Inuzuka Kiba, ingat itu sialan!" teriak Kiba kesal.

"Aduh duh duh persetan dengan rasa sakit ini" Kiba langsung reflek memegang perutnya yang sakit.

"Dan juga terimakasih" gumam Kiba pelan.

"Nee Inuzuka-kun, kurasa aku akan membersihkan lagi bekas luka di wajah mu. Lihat saja, darahnya keluar lagi" ujar Shizuka sambil mememberikan Kiba sebuah cermin kecil.

"Dan juga setelah ini kau harus ke Rumah sakit, untuk mengecek tangan kirimu yang saat ini dalam kondisi yang tidak baik itu" lanjut Shizuka sambil mengeluarkan senyum manisnya.

"A- ah ha'i, maaf sudah merepotkanmu Sensei" balas Kiba yang awalnya memasang muka garang berubah menjadi manis setelah melihat Shizuka-sensei tersenyum kepadanya.

Hahh dasar genit!.

.

.

.

.

.

Di lain tempat, terlihat seseorang yang sedang tidur berdiri di sebuah koridor sekolah, orang itu dilewati oleh beberapa orang yang menatapnya aneh dan tidak sedikit juga ada yang memfotonya yang sedang tidur berdiri itu.

"Hoam, hm? Dimana aku?" gumam pemuda tersebut setengah sadar.

"Oy Naruto kita dimana?" tanya pemuda tersebut kepada udara kosong(?). Sadar orang yang ditanya tak menjawab, orang itu kemudian menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari orang yang tadi ia ajak bicara.

"Sialan, dia meninggalkanku sendirian, awas saja kau Rubah sialan!" gumam pemuda tersebut alias Shikamaru sambil berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan raut wajah yang terlihat kurang bersahabat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue~.

Well itu dia chapter 2 yang menandakan berkhirnya Event Freshmen War, dan pemenang dari pertarungan tersebut adalah Inuzuka Kiba.

Ohiya sekali lagi aku ingin mengingatkanvkalau fic ini terinspirasi dari Manga Crows dan Crows x Worst.

Mulai dari latar sekolah yang persis seperti sekolah Suzuran, pembagian kelasnya yakni dengan menamai setiap kelas menggunakan alfabet, dari kelas A sampai kelas E, dan yang terakhir yakni tingkatan kelasnya yang juga aku ambil dari jagat Crows. Yaitu:

- Junior/ Freshmen sebutan untuk anak kelas 1

- Sophomore sebutan untuk anak kelas 2

- Senior sebutan untuk anak kelas 3.

Kemudian di chapter ini, akhirnya terkuak dari SMP mana Lee, Sai dan Kiba berasal.

Lee dan Sai berasal dari SMP Nakagawa.

Kiba berasal dari SMP Nishizawa.

Oh iya walaupun latar cerita ini sekolahnya mengambil latar sekolah Suzuran, akan tetapi aku membuatnya sedikit berbeda, yakni menambahkan sebuah tembok besar dan hutan lebat yang membatasi wilayah KHS boys dan KHS Girls.

Dan yang terakhir, bagi yang nanya genre fic ini yaoi atau bukan. Jawabannya adalah Bukan!.

Mungkin itu saja yang bisa kusampaikan, semoga cerita yang kubuat ini bisa membuat kalian semua terhibur dan semoga kita bisa bertemu lagi di chapter-chapter selanjutnya.

Baiklah kalau begitu.

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sekian dan Terimakasih~.