Gedung Sekolah KHS Boys - Kelas 2A, Saturday at 4:27 pm.
Di hari yang sama, ketika Naruto dan Shikamaru 'membantai' 40 orang anggota RWK.
Terlihat 2 orang yang memandang takjub ke arah gerbang sekolah yang tadinya digunakan sebagai 'arena bertarung' oleh Naruto dan Shikamaru yang baru saja selesai bertarung melawan 40 orang anggota dari kelompok geng motor Red Wheel Konoha (RWK).
"Nee Itachi kurasa ada hal yang lebih menarik dari si pucat itu" ujar senang seorang pemuda bertubuh lebih tinggi dari orang yang ia ajak bicara di sebelahnya.
"Kupikir juga seperti itu Shisui, sekarang aku tak ragu untuk mengeluarkan si pucat itu dari rencana yang telah kubuat" balas pemuda yang diketahui bernama Itachi itu sambil memejamkan matanya disertai senyum simpul yang menghiasi wajahnya.
"Karena kurasa aku telah mendapatkan yang lebih dari si pucat itu maupun si pemenang Freshmen War tahun ini" tambah Itachi sambil membuka matanya, menunjukan tatapan yang dingin.
"Maa kurasa dengan tambahan 3 orang yang kuat seperti Sasuke-kun, Shika-kun dan Baka Naru, Uchiha Empire akan berjaya melampaui Uchiha Empire Generasi pertama maupun dari Generasi Emas" balas Shisui sambil menunjukan senyum percaya dirinya.
"Ah tidak lupa ada juga Chōji-kun! Aku menjadi semakin yakin kalau generasi kita akan benar-benar melampaui generasi yang sebelum-sebelumnya!" tambah Shisui.
"Hn tentu saja" tanpa sadar, Itachi menunjukan Evil smirknya.
'Dengan begini, aku bisa dengan mudah menghancurkan Akatsuki, terutama orang menjauhkanku dengan Izumi itu!' batin Itachi yang masih tersenyum mengerikan.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kelas yang terbuka secara paksa, membuat Itachi dan Shisui mau tak mau menoleh ke sumber suara tersebut.
*Srek*
Seorang pria bertopeng orange bermotif spiral masuk sambil menyeret seorang pemuda berkulit pucat di belakangnya yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri.
"Rencana kita akan sedikit berubah, karena anak ini tetap masuk Uchiha Empire, dan juga kurasa 2 anak itu akan terus ku pantau, karena salah satu dari mereka lumayan susah untuk diajak kerjasama" ujar si Pria bertopeng sambil meletakan pemuda yang tadi diseretnya ke hadapan Itachi.
"Tapi tenang saja, aku tidak mentolerir penolakan kedua! Jika anak itu masih menolak, akan ku hancurkan kepalanya!" tambah Tobi sambil menunjukan sorot mata yang mengerikan di balik topengnya tersebut.
Mendengar hal itu, Itachi semakin melebarkan senyumnya yang mengerikan.
"Kheh, kau kejam seperti biasanya, Tobi-san!" Itachi memandang Tobi dengan Evil smirknya.
'O-Nii, Itachi, semenjak kejadian itu, kalian mulai berubah' batin Shisui sambil memandang Tobi dan Itachi dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tapi itu tidak perlu, karena aku dan Shisui bisa mengajak mereka dengan cara yang baik-baik, lagipula mereka itu sudah seperti adik bagi kami" Itachi menghilangkan Evil smirknya. Tobi yang mendengar itu hanya mengangguk.
"Shisui, urus anak ini" Itachi kemudian berjalan meninggalkan kelas bersama Tobi. Shisui hanya bisa menghela nafas setelah dua orang tersebut menghilang dari pandangannya.
"Hahh, tahun ini semakin rumit saja, tapi pertama-tama aku harus membawa anak ini ke Rumah Sakit, kalau tidak salah hidungnya patah, mengingat pertarungan yang dia lakukan tadi melawan si pemenang Freshmen War itu selalu mengincar hidungnya" gumam Shisui panjang lebar sambil mengingat-ingat pertarungan yang tadi pagi ia saksikan.
Setelah itu ia langsung mengangkat tubuh anak tersebut dan menaikkanya ke bahu kanannya, kemudian ia bergegas meninggalkan kelas tersebut menuju ke Rumah Sakit.
.
.
.
.
.
.
.
.
Konoha Hospital, Saturday at 4:50 pm.
Kini Shisui sedang duduk bersidekap dada di ruang UGD Rumah Sakit, sambil melihat perawat-perawat cantik yang sedang berlalu lalang di depannya dengan ekspresi datar.
'Yeah, akhirnya aku bisa cuci mata juga, setelah sekian lama terjebak di sekolah yang hanya berisi lelaki yang tidak beradab itu' batin Shisui yang melihat ke arah salah satu anggota tubuh dari perawat di depannya.
'Wow yang sana pantatnya besar sekali' tambah Shisui yang masih memasang ekspresi datarnya, sehingga orang-orang yang melihatnya tak berpikir macam-macam karena ekspresinya yang sangat datar bagaikan 'tembok' itu.
Hahh dasar mesum muka tembok!.
Tepat di sebelah Shisui, ada orang yang tadi Shisui gendong yang kini sedang terbaring pingsan di atas ranjang UGD dan masih tidak sadarkan diri.
Kepala pemuda tersebut terlihat dibaluti oleh lilitan perban yang memerah di bagian depan kepalanya, tidak lupa di bagian hidungnya juga ditutupi oleh kapas besar yang dililit menggunakan 3 buah plaster secara horizontal sebagai alat perekatnya, dan juga ada beberapa plaster lain yang menghiasi wajahnya yang lebam.
"Ugh, dimana ini?" gumam orang tersebut sambil mencoba bangkit dari acara berbaringnya.
Shisui yang mendengar itu langsung menatap pemuda pucat tersebut, memastikan kalau orang tersebut memang sudah sadar.
"Yo, bagaimana tidurmu Gakki? Apakah nyenyak?" Shisui memasang wajah ramah.
"K- kau! Pria bertopeng!" balas pemuda tersebut kepada Shisui dengan wajah yang terkejut dan langsung memasang posisi siaga, guna melindungi dirinya dari orang yang dia kira Pria bertopeng itu.
Shisui yang mendengar itu pun heran, karena ia tidak menduga akan mendapatkan respon seperti ini.
"Oy oy, tenanglah mari kita bicarakan ini dengan baik-baik" sergah Shisui mencoba menenangkan pemuda tersebut yang masih memasang posisi siaganya.
"Hahh baiklah, kenalkan namaku Uchiha Shisui, aku lah yang membawamu ke sini. Dan juga aku sama sekali tak memakai topeng, lihat!" ujar Shisui sambil menunjuk-nunjuk wajahnya tersebut.
Pemuda pucat yang melihat itu hanya memasang wajah keheranan, kemudian dia mulai merilekskan posisinya.
"Terimakasih telah menolongku dan maafkan aku karena telah merepotkanmu, itupun jika yang kau katakan itu benar, Uchiha-san" balas pemuda pucat yang sudah tidak memasang posisi siaga lagi, ia kembali duduk di atas kasurnya dengan tenang, akan tetapi ia tetap mempertahankan sikap waspadanya kepada Shisui.
"Oh iya namaku Shimura Sai, aku mau bertanya, bagaimana kau bisa menolongku? Apa kau kenal dengan Pria bertopeng itu Uchiha-san?" tambah Sai menatap Shisui penasaran.
"Hm itu, ah aku menemukanmu tengah pingsan di koridor sekolah, jadi aku langsung saja menyelamatkanmu!" jawab Shisui dengan 'sedikit' berbohong kepada Sai.
"Dan juga soal Pria bertopeng, dia murid KHS sama seperti kita dan dia juga adalah Petinggi dari sebuah Fraksi besar di KHS yang bernama Uchiha Empire, sama sepertiku" jelas Shisui sambil menunjuk dirinya dengan bangga, selang beberapa detik kemudian dia langsung membulatkan matanya dan reflek menutup mulutnya.
'Ups sial aku keceplosan!' Shisui merutuki mulut embernya.
"Jadi, kalian teman? Tapi kenapa kau menolongku? Apa ini salah satu siasat kalian agar aku bergabung dengan Fraksi kalian?" tanya Sai secara beruntun kepada Shisui dengan menatapnya dingin.
"Hahh makasih mulut yang tidak bisa diajak kerja sama! Sepertinya aku harus jujur" gumam Shisui sambil menghela nafas.
"Hahh kau benar, lebih tepatnya kami itu 'rekan', aku menolongmu karena ini permintaan langsung dari Ketuaku, lalu soal siasat kami atau semacamnya, kau juga benar" jawab Shisui dengan tenang dengan sedikit penekanan ketika menyebutkan kata rekan.
"Maafkan aku tapi kau harus bergabung dengan kami, ini demi keselamatanmu sendiri, kau tahu?" Shisui mulai berdiri dan berjalan ke arah pintu UGD.
'Kheh sialan, kenapa aku sial sekali?!' batin Sai frustrasi mengingat beberapa jam belakangan ini selalu merugikan dirinya, mulai dari kekalahannya melawan Kiba, penganiyaan sepihak dari anggota Akatsuki yang berwajah mirip ikan hiu, dan yang terakhir menghadapi Pria bertopeng yang entah mengapa terlihat amat sangat mengerikan baginya.
Shisui kembali menatap Sai sebelum sepenuhnya ia meninggalkan tempat tersebut.
"Oh iya, kau hanya memiliki 2 opsi. Yakni yang pertama, kau bergabung dengan kami, lalu yang kedua, kau boleh membuat Fraksi lain dengan syarat, kelompokmu harus berada di bawah aliansi kami".
"Kuharap kau mengerti, oh iya dan satu hal lagi, ketika kau bergabung dengan kami, kau harus terus menjaga jarakmu dengan Pria bertopeng itu. . ." Shisui sengaja menggantung perkataannya.
"Dia berbahaya!" tambah Shisui, kemudian ia pun berjalan meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Sai sendirian.
Sai yang mendengar perkataan Shisui, membuatnya kembali mengingat peristiwa di koridor tadi sore.
.
.
.
.
.
.
.
.
Koridor Sekolah, Saturday at 4:02 pm.
"Ah halo, Nomor 2! Bagaimana harimu? Apakah menyenangkan?" ujar seseorang yang mengenakan topeng orange bermotif spiral yakni Tobi dengan suara yang cempreng kepada Sai yang terlihat babak belur, yang hidungnya dihiasi oleh bercak darah dan tak lupa ada sebuah kapas yang menghiasi salah satu lubang hidungnya demi menyumbat agar darah tidak lagi keluar.
Sai yang baru saja mau keluar dari gedung sekolah melalui pintu samping, seketika menghentikan langkahnya ketika melihat ada orang yang mengajaknya bicara.
"Huh? Maaf kau siapa?" balas Sai memasang wajah bingung melihat seorang menggunakan topeng aneh yang dengan semangat menyapanya ini.
"Ah aku Tobi si anak baik hihihi, salam kenal!" balas Tobi dengan nada cemprengnya.
"Tobi-san ya? Aku Sai, Shimura Sai, salam kenal juga, Tobi-san!" balas Sai dengan senyum palsu andalannya.
"Sai nee, apa kau sudah memiliki Fraksi atau semacamnya?" tanya Tobi dengan semangatnya.
"Iya sepertinya begitu, Tobi-san" balas Sai kalem disertai dengan senyum andalannya yang mengihiasi wajahnya yang babak belur itu.
"Wah benarkah? Jumlah anggotanya berapa orang? Apa mereka kuat?" tanya Tobi lagi yang mulai mendekati Sai.
"Cuman beberapa orang, sebenarnya kami baru saja membuatnya, dan kurasa kekuatannya bisa bersaing untuk Freshmen tahun ini" balas Sai yang masih mempertahankan senyum andalannya.
"Heh, kalau begitu kau bubarkan saja Fraksi kecilmu dan bergabung denganku, bagaimana? Kau maukan bergabung dengan Fraksiku? Teman-temanku sangat kuat seperti makhluk buas loh?" ujar Tobi bersemangat sambil memasang pose memberitahu kepada Sai.
"Maaf aku tidak bisa, aku tidak mau mengkhianati temanku, Tobi-san".
"Ehh ja- jadi kau menolak ajakanku? Kau tahu, kau bisa selamat dari ancaman Fraksi besar lainnya loh, seperti Akatsuki dan Fraksi-fraksi lainnya, jadi apa kau merubah pikiranmu? aku tidak akan bertanya untuk ketiga kalinya lohh~!" Tobi mencoba meyakinkan Sai lagi.
Bagaimanapun juga, kekuatan Sai tidak bisa untuk dia abaikan, terlebih lagi kekuatan Uchiha Empire masih kalah dibanding Akatsuki, jadi mau tidak mau Tobi harus membuat Sai masuk ke dalam Fraksinya.
"Maaf tapi aku tetap pada pilihanku, aku menolak ajakanmu, maaf Tobi-san" tolak Sai halus.
"Heh kalau begitu tidak ada pilihan lain!".
*Syut* *Grep*
Dalam satu kedipan mata, Tobi tiba-tiba merangsek maju dan meremas kepala Sai. Sai tentu saja terkejut melihat kecepatan orang ini, ia hanya bisa mematung diam dan merasakan sakit yang tiba-tiba menjulur dari kepalanya yang menjalar ke suluruh tubuhnya.
"Maa, sayang sekali tapi aku tidak menerima penolakan" ujar Tobi yang suaranya kini berubah menjadi berat.
"Jadi, katakan, kalau kau ingin bergabung dengan Uchiha Empire! Jika tidak, maka kepalamu akan ku hancurkan!" Tobi semakin mengeratkan cengkeraman tangannya.
"Guhh, Pe- persetan denganmu!" Sai kemudian berusaha melepaskan genggaman Tobi yang tiap detik semakin erat di kepalanya.
"Kheh, bukan itu jawaban yang ku inginkan sialan!" dengan penuh amarah, Tobi langsung membanting kepala Sai ke lantai koridor dengan keras sehingga membuat Sai seketika pingsan, tidak lupa terlihat ada sedikit darah yang mengalir di jidatnya.
Beberapa saat setelah kejadian itu, terdengar gemuruh yang lumayan keras dari arah gerbang sekolah, sepertinya sedang terjadi sebuah perkelahian.
"Hehh, ini semakin menarik saja, kurasa merekrut mereka berdua dan ditambah bocah ini akan membuat tujuanku akan cepat tercapai" gumam Tobi yang tatapannya tak lepas dari pertarungan tersebut, ia kemudian meninggalkan Sai yang sudah mulai kehilangan kesadarannya tersebut tapi ia masih bisa mendengar perkataan si Pria bertopeng itu walaupun samar.
Tidak lama kemudian, perlahan-lahan kesadarannya sedikit demi sedikit mulai menipis dan pada akhirnya ia harus kembali kehilangan kesadarannya lantaran rasa sakit di kepalanya yang diperolehnya bisa dibilang 'Extreme'.
'Sialan!'.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"I'm the King!"
Desclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto
Created by: Holocaust
Genre: Action, comedy, school, martial arts, slice of life, etc
Pairing: no pair for today my friend.
Warning: Typo berantakan , Alternative Universe, OOC, NoMagic, NoChakra, Just a regular human! and many more.
Summary: Konoha Highschool (Boys) sekolah berandalan nomor 1 di Jepang yang dalam sejarahnya belum ada yang bisa menaklukan sekolah itu karena kekuatan murid-muridnya bisa dibilang setara satu sama lain. Dengan tekad yang kuat, Naruto berkeinginan untuk menjadi orang pertama yang menguasai KHS Boys, mampukah dia?.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kediaman Senju - Lantai 2, Sunday at 6:59 am.
Terlihat seorang pemuda berambut kuning alias Naruto kini sedang tertidur pulas di atas kasurnya dengan posisi nungging? Tidak lupa mulutnya mengeluarkan air liur yang menandakan kalau tidurnya itu 'nyenyak', dan terkadang ia sesekali mengigau.
"Satu dua tinju! Hahaha" sambil menggerakan tinjunya ke udara.
Tak lama kemudian terdengarlah suara khas dari jam weker yang sangat nyaring di sebelahnya.
*Kriiing* *Bugh*
"Huah!" teriak Naruto yang terbangun kaget, hal itu membuatnya secara tidak sengaja terjatuh dari ranjangnya, dengan posisi kepala yang berada di bawah, dan bagian tubuh lainnya masih berada di ranjangnya.
"Hoam, hahh tidak bisakah kau membangunkanku dengan suara yang lembut, jam wekerku sayang?" Naruto menatap jam wekernya dengan tatapan sayu.
"Hoam, kurasa jogging di hari yang indah ini tidaklah buruk" gumam Naruto, ia kemudian menuju ke westafel kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, guna membersihkan wajahnya.
Beberapa menit kemudian, Naruto memutuskan untuk mengganti pakaiannya, ia pun mengeluarkan pakaian dan aksesoris olahraganya dari dalam lemari.
Naruto kemudian memutuskan untuk memakai Headband biru dongker yang berguna untuk menahan helaian rambut pirangnya agar nanti ketika ia berjogging rambutnya itu tidak menghalangi pandangannya.
Kemudian ia memakai celana Jogger yang juga berwarna biru dongker sebetis berlogo centang berwarna putih (Nike) di bagian sisi kirinya, tentunya setelah ia menutupi 'kintamanya' dengan sempak berwarna senada dengan Jogger pantsnya itu.
Setelah itu, Naruto kemudian menggunakan T-Shirt berwarna jingga yang bertuliskan 'Eat Ramen and Die like a Men!' yang berwarna senada dengan Headband dan Jogger pantsnya itu.
Untuk aksesoris lainnya, ia kemudian memakai Sweatband yang lagi berwarna biru dongker di kedua pergelangan tangannya.
Dan untuk sentuhan yang terakhir, ia memakai sepatu yang kombinasi warna antara biru dan jingga yang juga tercetak logo centang berwarna putih (Nike) pada kedua sisinya, tentunya setelah ia menggunakan kaos kakinya yang berwana senada dengan celananya.
Setelah ia selesai berpakaian, Naruto kemudian turun ke lantai 1.
"Pagi, paman Jiraiya yang mesum dan pagi juga bibi Tsunade yang cantik!" seru Naruto kepada 2 orang yang posisinya bebeda, yakni orang yang dipanggil Jiraiya itu sedang sedang duduk dan membaca koran pagi langganannya, dan satunya lagi yakni Tsunade tengah sibuk memasak sarapan pagi sambil bersenandung ria.
"Pagi Baka Gakki/ Naru-chan" balas mereka berdua sambil tersenyum.
"Eh Naru-chan? Kau mau kemana? Tumben kau bernyawa di hari minggu ini?" tanya Tsunade sambil membawa sarapan yang tadi ia masak, yakni 8 onigiri dan 4 mangkuk sup Miso.
Sederhana memang tapi bagi Naruto dan Jiraiya itu adalah makanan terenak se-Konoha(?) tentunya setelah ramen.
"Iya, tidak biasanya kau terlihat bersemangat di hari minggu, Baka Gakki" ujar Jiraiya yang sudah menyimpan korannya di sebelah piring yang di atasnya terdapat beberapa onigiri.
"Selamat makan!" Jiraiya mulai melahap beberapa onigiri, lalu setelah itu ia kembali ke acara membaca korannya yang sempat tertunda itu.
"Maa, kurasa berjogging sebentar di pagi yang cerah ini tidak buruk, oh iya aku harus bergegas sebelum mataharinya mulai tinggi. Kalau begitu aku pergi dulu ya!" ujar Naruto dengan bersemangat kemudian ia berlari-lari kecil meninggalkan ruang makan tersebut.
"Eh Naru-chan! Kau tidak sarapan dulu?" ujar Tsunade yang sudah mendudukan pantatnya di kursi miliknya. Tak lama kemudian Naruto kembali dan mengambil 2 onigiri sambil berlari-lari kecil.
"Bagaimana dengan sup misonya Naru-chan" ujar Tsunade yang hanya bisa tersenyum melihat kelakuan keponakannya yang unik itu.
"Sup misonya simpankan saja untukku bibi! Pulang nanti aku makan kok, shishishi, kalau begitu aku pergi lagi!" balas Naruto dengan bersemangat, kemudian ia pun pergi dari ruang makan tersebut.
"Iya hati-hati" balas Jiraiya dan Tsunade dengan kompak.
"Hahh, anak itu selalu bersemangat nee, Sayang?" ujar Tsunade yang masih tersenyum dan hanya dibalas anggukan oleh Jiraiya yang memakan sup misonya dengan lahap, tak lupa ia sesekali mengeluarkan lidahnya karena kepanasan.
"Nawaki-chan belum bangun?" Tsunade kembali membuka suaranya.
"Biarkan saja, anak kita itu sangat kelelahan setelah semalaman penuh mengecek berkasnya untuk mendaftar di SMP" Jiraiya kembali memakan sup miso panasnya. Menghiraukan fakta bahwa anak bungsu mereka itu masih tidur dengan nyenyak di pagi hari yang cerah ini.
Tsunade yang mendengar itu hanya mengangguk paham. Ia kemudian mengambil sendok yang ada di dekatnya dan berniat untuk segera menikmati sup miso yang telah ia buat itu.
"Selamat makan!" satu sendok sup miso pun masuk ke dalam mulut Tsunade dengan mulus.
"Hmm, agak manis".
.
.
.
.
.
.
.
.
Konoha Park, Sunday at 8:27 am.
Terlihat sesosok manusia yang sedang duduk bersandar di bangku Taman Konoha sambil sesekali menguap malas.
"Hoam, kenapa aku mengiyakan ajakan si Baka itu? Mendokuse" yap siapa lagi kalau bukan Shikamaru.
Dia saat ini benar-benar terlihat sangat mengantuk. Lihat saja, di mata sayunya itu dipenuhi oleh lingkaran hitam yang membuatnya terlihat seperti panda, ditambah lagi ia seperti kehilangan raganya dari dalam tubuhnya sehingga hal itu membuatnya terlihat seperti mayat hidup.
Oh iya soal pakaian, Shikamaru hari ini berpenampilan beda dari hari biasa. Dia yang biasanya menguncir rambutnya, hari ini ia biarkan rambutnya itu tergerai dan tidak lupa untuk menyisirnya ke belakang, biar tidak menghalangi pandangan katanya.
Ia hari ini memakai T-Shirt berwarna hijau tua bergaris-garis hitam. Kemudian untuk celana, ia memakai Jogger pants berwarna hitam yang memiliki 3 garis vertikal di masing-masing sisinya (Adidas). Lalu yang terakhir, ia memakai sepatu hijau tua yang berlogo sama dengan Jogger pants yang ia kenakan (Adidas), ya cukup tampan lah.
Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pelaku pemanggilan dari ritual isi tenaganya tersebut (baca: tidur), yang tidak lain tidak bukan si Monster kuning alias Naruto yang kini sedang berlari dengan semangat mengitari Konoha Park yang terbilang sangat luas ini.
"Staminanya sebesar apa sih? Ini sudah putaran ke 13 nya, apa dia tidak capek?" gumam Shikamaru yang sudah kecapekan setelah berlari sebanyak setengah putaran, sebenarnya ia tidak capek sih, tapi malas!.
"Hoam mendokuse, kenapa aku harus memikirkannya? Mendingan aku tidur" Shikamaru pun mulai berbaring di bangku yang ia duduki tersebut, mengiharaukan tatatapan aneh dari orang-orang yang berlalu-lalang di tempat itu.
Hahh tidak tertolong memang.
Beralih ke Naruto. Ia kali ini sudah menyelesaikan putaran ke 14 nya.
"Yosh 1 putaran lagi aku akan berhenti sejenak" gumam Naruto yang semangatnya masih terpancar dari dirinya itu, yang otomatis membuat orang lain yang melihatnya ikut bersemangat juga.
Tak jauh dari situ, terlihat seorang pemuda tampan berwajah stoic yang dibingkai dengan rambut hitam yang agak panjang di kedua sisi wajahnya, yang di bagian poni rambutnya itu sengaja ia ikat ke atas agar saat ia berlari pandangannya tidak terhalangi oleh poninya yang agak panjang tersebut.
Oh iya, rambut belakang orang itu mirip seperti rambut dari Ozora Tsubasa, tokoh utama dari serial anime Captain Tsubasa.
Bicara soal penampilan, pemuda tersebut hanya menggunakan pakaian yang simple. Yakni dengan memakai T-Shirt hitam yang memiliki logo seekor hewan yang meloncat berwarna merah di bagian dada kirinya (Puma).
Kemudian ia mengenakan Sweatband hitam yang tersemat di tangan kirinya, lalu ia mengenakan celana pendek berwarna hitam yang memiliki satu strip merah kedua sisinya, dan yang terakhir, sepatu yang ia pakai juga berwarna hitam dan memiliki logo sama dengan T- Shirtnya yang ia kenakan (Puma).
"Hahh, senang rasanya kembali di tempat ini, bagaimana kabar kalian Usuratonkachi, Putri tidur, dan juga Chōji si anak sehat (baca: gendut)?" ujar pemuda tersebut sambil tersenyum, senyuman yang secara tidak sadar membuat lawan jenisnya dari berbagai kalangan umur yang berada di dekatnya memunculkan semburat tipis di kedua pipi mereka, akibat memandangnya yang tengah tersenyum.
"Saa, mari lihat seberapa banyak putaran yang bisa aku lakukan" pemuda tersebut pun mulai berlari dengan senyum yang masih melekat di wajah tampannya, hal itu lagi-lagi membuat lawan jenisnya merona hebat.
Tak jauh dari pemuda itu, kini terlihat Naruto yang telah menyelesaikan putaran ke 15 nya, ia kemudian menuju ke arah bangku yang Shikamaru tempati.
Melihat Shikamaru yang sedang tertidur, membuat Naruto mau tak mau memperlihatkan senyum jahatnya, kemudian ia mengeluarkan spidol dari saku celananya. Setelah itu, ia pun mendekati Shikamaru yang tengah tertidur dengan nyenyak itu dengan jalan mengendap-endap.
"Shishishi, sedia spidol sebelum berpergian!" Naruto kemudian membuka penutup spidolnya dan berniat 'menghias'' wajah Shikamaru. Akan tetapi, seketika niatnya itu terhenti ketika merasakan sebuah tepukan di bahunya.
*Puk*
"Lama tidak bertemu, Kapten!" ujar pelaku tersebut sambil tersenyum lebar ketika orang yang ditepuk menolehkan ke arahnya.
"Ka- kau!. . ." ujar Naruto dengan kata yang sedikit menggantung, terkejut sambil menunjuk wajah orang yang menepuk pundaknya, pemuda yang melihat reaksi Naruto pun semakin melebarkan senyumannya.
"Siapa ya?".
*Hening*
"Ck orang tidak waras, hus hus pergi sana, apa kau tidak lihat kalau aku sedang sibuk?" Naruto pun mengusir pemuda tersebut yang kini senyum di wajahnya mulai luntur.
Menghiraukan itu, Naruto memutuskan untuk kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, yakni 'menghias' wajah Shikamaru yang rohnya sedang pergi entah kemana.
Mendengar dirinya diusir, membuat pemuda yang tadi di wajahnya menampakan senyuman yang mempesona kini berubah 180 derajat, dia kini menunjukan wajah yang amat-teramat kesal kepada Naruto yang berkata seenak dengkulnya, yang berkata kalau pria tampan sepertinya adalah orang tidak waras? Hell No!.
"Grr, sialan kau! Masa kau lupa denganku? Aku sahabat kecilmu bersama si Putri tidur itu dan juga si Chōji si anak sehat itu! Masa kau melupakanku sih?!" ujar pemuda tersebut dengan ekspresi kesal sambil menunjuk-nunjuk wajah Naruto yang masih memasang wajah bodohnya (baca: berpikir) mengingat sesuatu.
Mendengar seseorang berbicara dengan nada yang keras di dekatnya mau tak mau membuat Shikamaru membuka matanya, ia terkejut sehingga ia secara tak sadar melebarkan kedua mata sayunya, terkejut ketika melihat sosok sahabat kecilnya yang lama ia tidak ketemu sedang berdebat dengan Naruto.
"Ah namamu, Kawarimi Shinosuke? Benarkan shishishi".
"Ck, dasar Usuratonkachi! Kau masih sama seperti dulu ya?! Benar-benar menyebalkan! Itu salah bego!".
"Ah kalau begitu Sasugay? Atau Sasuchi? Kau tahu, aku sangat mahir dalam hal ini, shishishi".
"Grr, kau mau ku pukul hah!?".
"Uchiha Sasuke! Kau Sasuke kan?!" potong Shikamaru yang sudah berdiri dari posisi berbaringnya tanpa disadari oleh kedua makhluk yang sedang berdebat itu.
"Kheh akhirnya kau ingat juga, Baka Naruto!" ujar Sasuke menutup matanya sambil memegang kepalanya, membenarkan perkataan yang ia kira berasal dari Naruto.
"Kheh, bukan aku yang bilang tapi si, eh! Kau sudah bangun!" Naruto kaget setelah melihat mangsanya yang ternyata sudah berdiri dari tempat berbaringnya, yang saat ini tengah menatap penasaran ke arah pemuda yang bernama Sasuke itu.
'Cih, ini semua gara-gara si Sasuke itu, dia menggagalkan misi balas dendamku!' batin Naruto kesal.
'Eh tunggu, Sasuke? Ah dia Sasuke si pantat ayam!' tambah Naruto yang awalnya memasang wajah kesal berubah menjadi berbinar setelah ingatan tentang Sasuke masuk ke dalam otak kecilnya.
Dan dengan gerakan yang cepat, Naruto menerjang ke arah Sasuke yang masih memegangi kepalanya dan sambil menutup matanya itu.
"Uwoo, Sasuke Teme! Lama tidak bertemu huhuhuu" Naruto dengan cepat memiting leher Sasuke sambil menangis sesenggukan.
Sasuke yang berada dalam pitingan Naruto pun mencoba melepaskan pitingan tersebut dengan tergesa-gesa, karena ia tahu betul seberapa kuat pitingan si Monster kuning yang satu ini.
Tentu saja dia tahu, karena sewaktu kecil dulu ketika mereka berempat (Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Chōji) masih kelas 5 SD, mereka pernah terlibat masalah dengan seorang murid dari SMP Kyoto. Peristiwa yang membuat pitingan Naruto melegenda di kalangan anak SD di sekitar tempat tinggal mereka sampai kalangan anak SMP di Kyoto.
.
.
.
.
.
5 Tahun lalu. . .
Ia mengingat sore hari itu dimana mereka berempat tengah berjalan pulang ke rumah mereka masing-masing, mereka berjalan dengan santai tidak lupa diselingi dengan canda tawa khas anak SD yang masih ingusan.
Namun tiba-tiba, dalam perjalanan mereka itu Naruto tidak memperhatikan jalannya sehingga membuatnya dengan tidak sengaja menyenggol seorang anak SMP yang seragamnya kelihatannya berasal dari SMP Kyoto yang kebetulan tengah berjalan berlawanan arah ke arah mereka berempat.
Anak SMP yang disenggol oleh Naruto pun tidak terima dan tentu saja tidak akan membiarkan mereka melewatinya dengan mudah, anak SMP itu memberikan syarat kepada mereka berempat, jika mereka mau meninggalkan tempat itu maka mereka harus memberikan uang saku mereka terlebih dahulu.
Naruto yang mendengar itu hanya cuek bebek, kemudian ia mengajak yang lainnya untuk tetap melanjutkan perjalanan mereka.
Anak SMP yang melihatnya diacuhkan pun tiba-tiba menarik kerah baju Naruto dan tanpa kompromi langsung menghajar Naruto sampai membuatnya tersungkur ke tanah, belum sempat Sasuke dan lainnya bereaksi, Naruto sudah terlebih dahulu bangkit dan menerjang ke arah orang yang memukulnya tersebut dan hal itu sukses membuat Naruto dan anak SMP itu terjatuh ke tanah, dengan posisi Naruto yang berada tepat di atas anak SMP tersebut.
Dengan gerakan cepat, Naruto langsung melakukan kuncian yang bernama Arm Triangle Choke.
Beberapa detik kemudian, anak SMP yang berada dalam kuncian Naruto pun akhirnya tidak sadarkan diri akibat kuatnya pitingan dari Naruto yang menjepit lehernya itu.
Entah beruntung atau sial, ternyata ada orang lain yang menyaksikan pertarungan singkat tersebut, orang itu mendekati mereka dan kemudian memberi tahu kepada Naruto dan yang lainnya bahwa orang yang berhasil dikalahkan oleh Naruto itu adalah salah satu pemimpin dari SMP Kyoto, mendengar itu membuat mereka berempat terkejut bukan main.
Tidak lama setelah itu berita kekalahan salah satu pemimpin SMP Kyoto itu menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru Kyoto. Hal itu juga membuat nama dari si kecil Naruto menjadi nama yang paling dicari oleh semua anak SMP yang berada di Kyoto.
.
.
.
.
.
Sasuke dibuat bergidik ngeri ketika mengingat kembali hal itu.
Beralih ke masa yang sekarang, saat ini Sasuke sedang berusaha membuka mulutnya lebar-lebar, mencoba menarik oksigen untuk masuk ke dalam mulutnya, akan tetapi sekuat apapun dia mencoba, hal yang dilakukannya itu hanya berujung sia-sia, salahkan pitingan Naruto yang terlalu kuat melilit lehernya itu.
Pelan tapi pasti, Sasuke mulai kehilangan pasokan udara, dan kesadarannya juga mulai menipis akibat pitingan yang super kuat tersebut.
Shikamaru yang melihatnya hanya bisa memegang kepalanya pusing, ia kemudian dengan cepat langsung membantu Sasuke untuk melepaskan diri dari pitingan Naruto.
Hahh persahabatan yang indah.
"Oy Baka, lepaskan dia, kau mau dia mati?!" Shikamaru menarik lengan Naruto dengan sekuat tenaga.
"Guhh, ji- jitak kepalanya Shika!" ujar Sasuke yang mulai kehilangan nafasnya.
"Uwaa, berani-beraninya kau meninggalkan kami!" seakan-akan tuli dengan ucapan Shikamaru, Naruto malah semakin mengeratkan pitingannya itu kepada Sasuke, hal itu membuat Sasuke menguapkan mulutnya seperti ikan, berusaha menarik udara untuk masuk ke dalam mulutnya.
Hilang sudah wajah tampanmu Sasuke wahaha uhuk uhuk!.
Shikamaru sebenarnya hanya ingin menertawakan sahabat masa kecilnya itu karena ini adalah momen yang sangat langka baginya.
Akan tetapi Shikamaru harus mengurungkan niatnya tersebut dan sesegera mungkin membantu Sasuke untuk lepas dari pitingan Naruto, karena mau tidak mau dia harus bertindak cepat sebelum sahabatnya itu mati kehabisan nafas akibat pitingan super kuat dari si Monster kuning ini (Naruto).
*Duak*
"Aww, kenapa kau menjitakku Putri tidur sialan!".
*Duak* *Duak* *Bugh*
"Hahh hahh hahh, Kau mau membunuhku Hahh?!".
"Guhahh, oy apa-apaan kau ini?! Kenapa kau juga ikut memukuliku, Sasuke setan!" ujar Naruto yang sudah terduduk di atas tanah akibat terkena pukulan dari kedua sahabatnya itu, hal itu berhasil membuat 3 benjolan muncul di kepala Naruto, serta terlihat adanya sedikit bercak darah yang keluar dari hidungnya akibat pukulan dari Sasuke.
Well kalian tidak bisa menyalahkannya (Sasuke), dia cuma membela dirinya kau tahu?.
"Cih, itu salahmu tolol! Kenapa juga kau memitingku?" ujar Sasuke yang sudah kembali tenang.
"Hahh, bisakah sekali ini saja kau bersikap sesuai dengan umurmu, nee Baka Naru? Mendokuse" timpal Shikamaru dengan kata andalannya.
"Hehh, itu salahmu tahu! Kau meninggalkan kami tanpa memberitahu kami terlebih dahulu!" balas Naruto yang mencoba berdiri dan dibantu oleh kedua sahabatnya itu.
"Kau juga Shika, kau berbicara seperti kakek-kakek yang kehilangan sendal rematiknya!" Naruto yang mulai menceramahi kedua sahabat keparatnya itu, Naruto masih kesal kepada kedua sahabatnya yang selalu seenak jidatnya main hakim sendiri(?).
"Hahh terserah kau saja, ngomong-ngomong Sasuke, sejak kapan kau kembali? Apa kau ke sini cuma untuk liburan? Kurasa itu mustahil karena tahun ajaran baru telah dimulai" tanya Shikamaru menghiraukan omongan Naruto yang masih berlanjut tak lupa ia mengorek telinga kanannya menggunakan jari kelingkingnya.
"Aku baru tiba di Konoha dua hari yang lalu, dan untuk pertanyaan keduamu sepertinya kau sudah menjawabnya sendiri".
"Jadi kau bersekolah di sini?".
"Ya, tentu saja".
"Eh kau bersekolah di sini? Tapi di sekolah mana?" celetuk Naruto yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan kedua sahabatnya itu.
"Kuharap kau tidak masuk sekolah cewek untuk mencari cinta masa kecilmu itu, shishishi" tambah Naruto yang tak lupa dengan ketawa jahilnya.
"Sepertinya kau masih ingin merasakan 'Tangan Iblis' ini, nee Dobe?" ujar Sasuke dengan sedikit penekanan, ia menatap Naruto tajam dengan mata onyxnya, Naruto yang melihat itu hanya masa bodoh sambil mengupil tanpa sedikit pun terpengaruh dengan perkataan dari Sasuke.
Sasuke yang melihatnya hanya bisa sweatdrop. 'Aku penasaran apa yang terjadi selama aku pergi' batin Sasuke yang masih mempertahankan acara sweatdropnya.
"Bagaimana kalau kita membicarakan ini di tempat lain? Kau tahu? Aku sangat risih ditatap oleh gadis-gadis itu, mendokuse naa" bisik Shikamaru kepada Sasuke dengan wajah mengantuknya.
"Hn baiklah, ayo kita ke kedai paman Teuchi saja, oy Naruto kau mau makan ramen? Tenang saja kali ini aku yang traktir" Sasuke mengalihkan pandangannya kepada Naruto sambil tersenyum adem, hal itu sontak membuat para gadis yang berada di situ berteriak histeris akibat melihat senyum Sasuke yang katanya 'sangat manis' itu.
"KYAAAAA~".
"Tentu saja! Dengan senang hati, shishishi" ujar Naruto tanpa memperdulikan teriakan yang mengarah kepada mereka, lebih tepatnya kepada Sasuke dan Shikamaru.
"Paman Teuchi, kami datang!" Naruto pun beranjak dari tempat tersebut, meninggalkan Sasuke dan Shikamaru yang mulai dikerumuni para gadis yang berada di situ.
Salahkan Shikamaru yang juga ikut menunjukkan senyum manisnya ketika mendengar kata 'traktir' dari Sasuke. Ia tersenyum karena sejak tadi pagi dia belum merasakan yang namanya sarapan sama sekali, salahkan si Monster kuning itu yang selalu saja mengganggunya di pagi hari!.
'Hahh, mendokuse!' batin mereka berdua bersamaan sambil mencoba mencari celah dari para kerumunan gadis itu, well jika saja yang mengerumuni mereka para lelaki, maka sudah pasti wajah mereka akan bonyok semua, tapi masalahnya yang mengerumuni mereka itu para gadis! Lelaki sejati tidak boleh menyakiti mereka secara verba maupun fisik.
Sekali lagi, hahh mendokuse.
"Wah lihat di sana! ada diskon besar-besaran!" seru Shikamaru mencoba mengalihkan perhatian para gadis yang mengerumuninya.
'Hahh, mana mungkin mereka percaya, diskon di Taman terbuka hijau seperti ini? Apa si Baka ini serius? Sepertinya otakmu mulai geser nee, Shika!' batin Sasuke dengan wajah frustrasi melihat kerumunan para gadis yang semakin menjepitnya itu.
"Hah mana mana?".
*Dong*
"Be. . . berhasil?!".
"Oy Sasuke, kenapa kau melamun! cepat lari bodoh!".
"Eh i- iya".
Dan akhirnya mereka berdua pun berhasil melepaskan diri dari fans dadakan mereka itu.
"Hehh, ga ada diskon, eh mereka kemana?!".
"Bukannya tadi mereka di sini?".
"Apa mereka hantu?".
"Ga mungkin, mana ada hantu tampan seperti mereka berdua".
"Iya juga ya?".
"Atau mungkin mereka berdua anggota Boyband yang baru mau debut?".
Dan blablabla, ga penting tahu! Oke oke, kita beralih kepada seseorang yang tengah duduk manis yang sedang ditemani oleh tiga mangkuk bekas ramen yang sepertinya sudah ia habiskan dan sekarang ia sedang memakan ramen ke empatnya itu. Yap, siapa lagi kalau bukan Naruto.
*Slurp*
"Ahh~".
"Kemana mereka? Kok lama sekali? Meh masa bodoh, yang penting aku kenyang".
Hahh kenyang sih kenyang, tapi siapa yang akan bayar kalau Sasuke tidak datang?.
*Srek* *Kring*
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang terbuka dengan keras sehingga membuat pelanggan yang berada di situ mengalihkan pandangan mereka kepada pelaku pembuka pintu tersebut, masuklah 2 orang pelaku tersebut dengan tergesa-gesa, mereka kini tengah mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya akibat melakukan maraton dadakan yang baru saja mereka lakukan.
"Selamat datang~, loh Sasuke dan Shikamaru rupanya, lama tidak bertemu Gakki!" Teuchi tersenyum senang menyambut mereka berdua yang merupakan pelangganan setianya ketika mereka masih SD dulu.
"Lama tidak bertemu juga paman!" Sasuke dan Shikamaru yang disapa oleh Teuchi memberikan senyuman hangat mereka, Teuchi yang melihat itu hanya mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
Melihat itu, Sasuke dan Shikamaru hanya memberikan jempol mereka sebagai jawaban, karena saat ini mereka masih mencoba mengatur nafas mereka.
"Hahh hahh, untung otakku cerdas, jadi kita bisa melepaskan diri dari mereka!" ujar Shikamaru sambil melangkah masuk ke dalam restoran tersebut.
"Hahh hahh, kau benar, ini akan berbeda jika aku terjebak dengan si Idiot itu!" Sasuke hanya mengiyakan perkataan Shikamaru, kemudian ia menatap ke sekeliling untuk mencari keberadaan Naruto yang tadi meninggalkan mereka di Taman.
"Ah yo, Putri tidur, Pantat ayam! Ayo ke sini sebelum ramen kalian aku makan".
*Slurp*
"Grr dasar tidak tahu diri!".
"Hahh mendokuse".
"Selamat makan" tanpa berbasa-basi lagi, mereka berdua pun ikut duduk di sebelah Naruto dan langsung menyantap ramen mereka yang telah dipesan oleh Naruto dengan seenak jidatnya ketika ia tadi baru sampai.
Mereka pun menikmati ramen mereka dengan khidmat tanpa ada perbincangan yang berarti.
.
.
.
.
.
"Hahh, kenyangnya~!" ujar mereka bertiga kompak.
"Fuh, ramen di pagi hari memang yang terbaik!".
"Yoi kau benar Naruto, tak kusangka makan ramen di pagi hari memang yang terbaik".
"Tch, sialan kalian berdua, kalian tidak pernah makan ya? Apa-apaan 16 mangkuk itu hah?!" celetuk Sasuke kesal kepada Naruto dan Shikamaru yang mengelus-elus perutnya bagai ibu hamil (baca: kenyang) sambil bersendawa sesekali.
"Makasih my bro, aku benar-benar kelaparan kau tahu? Salahkan si Idiot ini yang selalu menggangguku di pagi hari" ujar Shikamaru sambil menunjuk Naruto yang hanya membalasnya dengan cengiran lebarnya.
"Yoi, Thank you bro" sahut Naruto memasang wajah yang tidak bersalah.
"Hahh lupakan saja".
"Oh iya, bagaimana kalau selanjutnya kita ke rumah Choji? Kurasa mengejutkannya dengan kedatanganmu akan membuatnya menjadi 'sedikit bertambah sehat', bagaimana Sasuke?" ujar Naruto menatap Sasuke main-main.
"Dan membuat dompetku yang tipis ini menjadi kosong? Ogah!" Sasuke kemudian berdiri dari tempat duduknya, tentunya setelah ia menghabiskan air mineralnya terlebih dahulu.
"Hoam, bagaimana kalau kita ke rumahmu dan berbincang soal kedatanganmu ini, hm?" celetuk Shikamaru.
"Dan juga aku mau bertanya suatu hal kepada kak Itachi" tambah Shikamaru yang ikut berdiri dari duduknya bersamaan dengan Naruto.
"Hn, baiklah" Sasuke hanya bisa menyetujui perkataan Shikamaru. Setelah selesai dengan urusan mereka, mereka bertiga pun berjalan ke arah pintu keluar dari restoran tersebut, tidak lupa untuk membayar makanan mereka kepada sang pemilik restoran, yakni Teuchi.
"Paman Teuchi, terima kasih banyak ya!" seru mereka bertiga secara bersamaan.
"Iya, sama-sama Gakki! Datang lagi ya! Oh iya, lain kali jangan lupa bawa Chōji juga ya!".
"Pastinya!".
*Srek*
.
.
.
.
.
.
.
.
Konoha Park Sidewalk, Sunday at 10:12 am.
Terlihat seorang pemuda berambut mangkok tengah berjalan dengan semangatnya sambil menenteng sebuah kantong plastik yang berisikan buah-buahan, hal itu mengindikasikan kalau dia akan menjenguk seseorang yang sakit.
"Aku tidak menyangka Guy-Senpai dikalahkan, sepertinya itu tidak mungkin deh, apa mungkin dia dikeroyok?" Gumam pemuda tersebut sambil menerka-nerka apa yang terjadi kepada seniornya tersebut.
Tak jauh dari pemuda tersebut, terlihat 3 orang yang berjalan ke arahnya, mereka bertiga terlihat sedang berbincang-bincang sambil sesekali tertawa akibat lelucon yang dilontarkan dari pemuda berambut kuning alias Naruto.
"Naa naa, apa kalian ingat kentang goreng milik Chōji yang saat itu aku gunakan menjadi penyumbat hidungku waktu aku disuruh membersihkan toilet milik kakek Hiruzen?" ujar Naruto antusias yang dibalas anggukan oleh Shikamaru dan Sasuke.
"Setelah aku membersihkan toilet kakek Hiruzen, aku langsung meletakan kentang goreng itu ke tempat semula".
"Dan apa kalian tahu? Chōji memakan semuanya dengan sangat lahap! Kurasa aku akan memasukan Chōji di Guinness book, dan memberikannya nama Chōji The Booger Eater!" (Chōji si pemakan upil).
"Hahaha, jika Chōji tahu, kau akan di Suplex olehnya!".
"Hahahaha, siapkan punggungmu Dobe! Karena aku akan memberitahunya!".
"Shishishi, jangan dong!" balas Naruto yang hanya menunjukan cengiran andalannya.
"Eh bukankah itu si Alis tebal?" tambah Naruto sambil menunjuk seseorang yang sedang berbicara sendiri seperti orang gila.
"Yoo, Lemon! Apa kabar?" Naruto langsung mengagetkan Lee yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Uwaa, huhh ternyata kau Naruto-san, Shikamaru-san. Aku baik-baik saja, hehe" balas Lee sambil mengacungkan jempolnya tidak lupa disertai dengan gigi putihnya yang bersinar terang.
"Eh bukannya ini Uchiha Sasuke?! Apa kalian berteman?" tambah Lee dengan wajah terkejut sambil menunjuk ke arah Sasuke yang berdiri tepat di sebelah Naruto.
"Nee Lin Dan, kau bodoh atau kau pura-pura tidak tahu? Dia itu sahabat kecilku tahu!" balas Naruto dengan santainya sambil menopang kepalanya menggunakan kedua tangan yang ia letakan di belakang kepalanya tersebut.
"Hehh kalian sahabatan? tapi kenapa kemarin saat aku menyebutkan namanya kau tidak menunjukkan reaksi apa-apa?" tanya Lee sambil memasang wajah heran dan bingung.
"Dan juga untuk ke 26 kalinya, namaku bukan Lin Dan tapi Lee! Rock Lee!" tambah Lee dengan emosi yang meluap-luap.
"Hahh sampai berapa kali pun kau memberitahunya dia akan tetap salah memanggil namamu, entah sengaja atau tidak, dia memang sering begitu. Aku saja yang berteman dengannya sejak bayi kadang-kadang ia masih salah memanggil namaku, hoam mendokuse" celetuk Shikamaru panjang lebar dengan nada malasnya dan disertai dengan menguap dengan tidak etis di bagian akhir perkataannya.
"Hahh, jangankan kau, aku saja berteman dengannya sejak masih berada di dalam perut ibu kami masing-masing pun dia lupakan! Bahkan tadi dia memanggilku orang tidak waras!" Sasuke menatap Naruto dengan wajah frustrasi, semua perkataan mereka tentu saja hanya diabaikan oleh Naruto, si kuning itu kini sedang asik mengupil sambil menyentilnya ke sembarang arah.
Mulai dari etalase toko, tiang lampu jalanan, bahkan sampai ke wajah seorang Salesman yang sedang membagikan brosur ke orang-orang yang melintasi jalan tersebut. Hal itu tentu membuat orang-orang yang melintasi jalan itu menatap Naruto aneh.
Shikamaru, Sasuke dan juga Lee dan hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan aneh dari 'anak ajaib' ini sambil membatin.
'Sumpah aku tidak mengenalnya'.
"Shishishi, ngomong-ngomong kau mau kemana Alis tebal?" tanya Naruto dengan wajah lugunya, menghiraukan kejadian yang baru saja ia lakukan.
"Hm, aku mau menjenguk kakak seperguruan Kung Fu ku di Konoha Hospital!" balas Lee yang kembali bersemangat.
"Hn, kau belajar Kung Fu? Well itu cukup langka" celetuk Sasuke.
"Hehehe terimakasih, hehe" balas Lee malu akibat pujian dari Sasuke sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hoo jadi itu sebabnya kau dinamakan Jackie Chan? Hm itu cukup masuk akal juga" timpal Naruto dengan memasang pose berpikir.
"Hahh dan untuk ke 27 kalinya! Namaku Rock Lee! Bukan Jackie Chan! lagipula itu beda jauh sialan!" balas Lee kesal karena namanya selalu 'diperkosa' oleh Naruto, dan perkataannya lagi-lagi hanya diabaikan saja oleh Naruto yang masih memasang pose berpikirnya.
"Oh iya, aku mau bertanya sesuatu! Kemarin sore siapa yang membuatku pingsan? Dan juga kenapa wajahku terlihat sangat mengerikan seperti dicoret-coret oleh seseorang ketika aku sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri? Apakah kau yang melakukan semua itu Naruto-san?!" tanya Lee secara beruntun dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
"Ups aku ketahuan, Shishishi" Naruto hanya tertawa tanpa adanya rasa bersalah.
*Duak*
"Rasakan itu sialan! Berkat kau aku jadi bahan tertawaan orang-orang di stasiun kereta!" ujar Lee dengan amat sangat kesal sambil mengingat-ingat kejadian yang ia alami kemarin, tentunya setelah ia menjitak Naruto yang membuatnya tersungkur ke tanah.
"Kalau aku jadi kau aku akan langsung meminta maaf, nee Alis tebal" celetuk Sasuke yang sudah menjauh dari tempat kejadian tersebut sambil menarik Shikamaru yang sejak tadi sudah tidak bersuara karena sudah ketiduran(?). Well tidak ada yang mengajaknya berbicara mungkin.
"Huh, apa maksudmu, Sasuke-san?" tanya Lee bingung yang sudah bisa mengendalikan emosinya yang tadi sempat meluap-luap.
"Tuh" balas Sasuke sambil menunjuk menggunakan dagunya ke arah Naruto yang perlahan-lahan berdiri di belakang Lee.
"Mati Kau!"
"GUHAAHH!".
Naruto menendang punggung Lee dengan kuat sehingga membuatnya terjungkal ke depan, kemudian Naruto langsung menindih punggung Lee sambil menarik kedua kaki Lee ke belakang menggunakan kedua tangannya dengan sangat kuat.
"Akan kubuat kakimu terpisah dari tubuhmu Alis tebal, Hahaha!" ujar Naruto kesetanan sambil mengeratkan pegangannya.
"Guhahh, tap tap, aku menyerah maafkan aku Naruto-san!" ujar Lee sambil memukul-mukul tanah, menirukan gaya pegulat yang mengaku kalah ketika di submission oleh lawannya(?).
*Krak*
"GAAHHH!".
"Hahh, si Idiot itu sangat sensitif jika kepalanya dipukul, yang boleh bermain jitak-jitakan seperti itu hanya orang terdekatnya saja kau tahu?" gumam Sasuke yang memandang iba ke arah Lee yang sedang dikunci pergerakannya oleh Naruto dengan menggunakan teknik yang ia namakan Walls of Naruto?. (referensi: Walls of Jericho).
Saran yang bagus tapi kurasa itu sudah terlambat Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
.
Konoha Hospital, Sunday at 10:45 am.
Terlihat 4 orang dengan posisi yang berbeda-beda, ada Shikamaru yang menguap sambil membantu Lee yang kesusahan berjalan di sampingnya, salahkan lah si Monster kuning yang tadi mengamuk itu.
Kemudian ada Sasuke yang membawakan kantung plastik Lee yang tadi sempat terjatuh di jalanan yang juga diakibatkan oleh si Monster kuning itu.
Lalu yang terakhir, si biang kerok yakni Naruto, ia kini sedang berjalan dengan santai dan mengadahkan kepalanya ke atas, sambil bersiul membawakan lagu tripaloski Russian hard bass?.
"Hoam mendokuse, kenapa kau selalu bertindak kekanakan, nee Baka Naru?" celetuk Shikamaru menatap Naruto bosan.
"Heh, memangnya kau tahu kejadiannya, Putri tidur?" ujar Naruto dengan wajah masa bodohnya.
"Kau tahu? Dia tadi menjitak kepalaku sampai-sampai membuatnya benjol seperti ini! Lihat!" tambah Naruto yang tadinya raut wajahnya menunjukan masa bodoh kini berubah menjadi kesal sambil menunjukan benjolan di kepalanya yang berbentuk seperti bakpao(?).
Shikamaru dan Sasuke yang melihat itu hanya sweatdrop.
"Tadi aku terbawa emosi Naruto-san! Maafkan aku ya?" celetuk Lee dengan ekspresi menyesal kepada Naruto yang sedang kesal.
"Hmph, baiklah aku maafkan!" Naruto yang tadi menunjukan raut kesal kini berubah, ia kini kembali menunjukan cengiran khasnya.
"Shishishi, aku juga minta maaf Lee, karena sudah marah dengan hal sepele seperti itu!" tambah Naruto tersenyum tulus, kemudian ia pun berlari meninggalkan teman-temannya itu dan menuju ke dalam Rumah Sakit.
"Aku tidak menyangka kalau orang bego sepertimu bisa mengamuk, nee Dobe" timpal Sasuke santai sambil membawa kantong plastik yang tadi Lee bawa, Naruto yang mendengarnya hanya menghiraukan saja dan tetap melanjutkan larinya yang sempat tertunda itu, membuat kedua sahabatnya yang melihatnya hanya bisa menghelakan nafas.
"Na- Naruto-san? Huhuhuu~".
"Oy Alis tebal, kenapa kau menangis? Mendokuse".
"Hn, apa kau menangis karena kakimu diinjak oleh si Putri tidur ini?" timpal Sasuke sambil menunjuk ke arah kaki Lee yang diinjak oleh Shikamaru, Shikamaru yang melihatnya langsung mengangkat kakinya dan tidak lupa mengatakan 'maaf telah menginjak kakimu'.
"Huhuhu, bu- bukan cuma itu".
"Terus karena apa lagi hm?".
"Hoam mendokuse naa".
"I- ini karena, Naruto-san memanggil namaku dengan benar untuk pertama kalinya!".
*Dong*
Shikamaru dan Sasuke yang mendengar alasan aneh itu hanya bisa cengo dan juga membuat mereka kembali ber-sweatdrop ria.
'Sesederhana itu kah? Dasar aneh!' batin mereka yang lagi-lagi secara bersamaan.
Kemudian mereka bertiga ikut masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut dan mendapati Naruto yang kini sedang merayu perawat yang ada di sana.
Mereka bertiga yang melihat itu lagi-lagi berhasil dibuat sweatdrop, menyaksikan apa yang diperbuat oleh 'anak ajaib' yang satu ini.
"Shishishi, Gu-chan kau tahu? Aku baru pindah ke sini loh".
"Memangnya kamu berasal darimana Naru-kun?".
"Aku berasal dari Inggris! Apa kau mau aku rayu menggunakan bahasa Inggris" tanya Naruto sambil memegang kedua tangan si perawat yang name tagnya bertuliskan Guren itu, perkataan Naruto pun hanya dibalas anggukan saja olehnya.
*Puk*
"Ehm".
Naruto yang merasakan bahunya ditepuk pun dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah si pelaku, guna mencari tahu siapa yang berani menganggunya dari acara rayu-rayuannya kepada perawat cantik yang ada di depannya ini.
"Tch dasar penganggu, hus hus pergi sana!".
"Kheh, kau datang ke sini sebenarnya mau apa hah?! Bukannya tadi kau bilang mau menemani Lee untuk bertemu Senpainya? Mendokuse".
"Hahh Idiot yang tidak bisa diandalkan".
"Oy oy, aku cuma mencari hiburan tahu? Lagipula tadi aku bilang cuma mau mengantarkannya saja, jadi kurasa tugas kita sudah selesai di sini, dasar penganggu!" Naruto menatap kedua sahabatnya kesal.
Lee yang melihat kejadian itu pun tidak ambil pusing, ia segera menanyakan dimana ruangan senpainya berada kepada Guren yang sedang melamun menatap wajah Sasuke dan Shikamaru.
Well dia sama seperti gadis lainnya yang suka dengan lelaki tampan, kau tahu?.
"Ahem, nona perawat? Apa kau bisa memberitahuku dimana ruangan yang ditempati oleh Might Guy, murid dari Shika Commerce?" tanya Lee yang mendekati Guren yang masih melamun dan di wajahnya kini terlihat semburat merah yang menghiasinya, entah apa yang ia lamunkan.
"Ah eh? I- Iya, biar aku cek dulu" jawab Guren gelagapan.
"Ah ini dia Might Guy, dia berada di ruangan Lotus 9, ruangannya berada di paling ujung barat, tepatnya di samping ruang ICU" tambah Guren setelah mengecek daftar pasien yang berada di Rumah Sakit tersebut.
"Terima kasih, kalau begitu aku akan langsung ke sana saja" ujar Lee yang langsung meninggalkan 3 orang absurd yang sekarang sedang asyik memiting satu sama lain tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Lee kemudian meninggalkan tempat itu tanpa memberi tahu mereka terlebih dahulu, tentunya setelah dia mengambil kantung plastiknya yang berada di dekat Sasuke.
Di sisi lain, terlihat Guren yang dibuat sweatdrop ketika menyaksikan 3 pemuda tampan yang sempat mencuri perhatiannya kini tengah memiting satu sama lain, dia pun menghela nafas panjang.
'Hahh ganteng ganteng gesrek, untung saja kalian tampan'.
"Oy tunggu dulu Baka Naru! Lee kemana?!" ujar Shikamaru sambil memiting Naruto.
"Nuoo, Kau tidak bisa menipuku Putri tidur! Alis tebal kan ada di. . ." balas Naruto yang semakin menguatkan pitingannya tersebut, kemudian ia mengedarkan pandangannya.
"Eh dia kemana?" tambah Naruto sambil memasang wajah bingung.
'Ugh sialan! Kenapa selalu aku yang dipiting oleh si tolol ini! Bisa-bisa aku mati!' batin Sasuke frustrasi karena dia sebenarnya tidak mau ikut campur dengan urusan mereka berdua, tapi sayangnya si Monster kuning ini lagi-lagi menariknya juga untuk masuk ke dalam acara piting-pitingan mereka tersebut.
"O- oy Dobe, bi- bisa kau lepaskan dulu? Ugh sial!" ujar Sasuke yang sudah mulai kesulitan bernafas.
"Hm? Oh oke" jawab Naruto santai sambil melepaskan kunciannya kepada Sasuke, dan hal itu diikuti oleh Shikamaru yang juga ikut melepaskan pitingannya kepada Naruto.
*Inhale*
"Huah, kenapa kau selalu mengincarku hahh?! Kan Shikamaru yang memitingmu! Kenapa kau malah memitingku?!" ujar Sasuke yang dengan rakus menghirup udara yang berada di sekitarnya, sambil men-deathglare Naruto.
"Hmph, aku masih dendam kau tahu? Dan oh iya kemana si Alis tebal? Apa dia ninja bisa mengilang" balas Naruto sengit kepada Sasuke, kemudian berubah menjadi raut wajah bingung memikirkan Lee yang tiba-tiba menghilang.
"Entahlah, hey ayo kita pergi, lagipula tujuan kita sudah selesai di sini" celetuk Shikamaru berjalan meninggalkan mereka berdua tanpa menoleh sedikit pun.
"Hn, lagipula di sini membosankan" timpal Sasuke meninggalkan Naruto sendirian yang masih melamun.
"Hm aku harus belajar dari Lee supaya aku bisa menyelinap sepuasnya di ruang ganti para gadis shishishi, benarkan Shika? Teme? Eh kok ga ada?" gumam Naruto dengan memasang wajah cabulnya sambil menanyakan pendapat kedua sahabatnya yang sudah sejak tadi meninggalkannya.
"Sial mereka sudah mempelajarinya juga! Aku tidak boleh kalah, kalau begitu sampai jumpa lagi Gu-chan yang cantik, nanti kapan-kapan aku ke sini lagi, oke?!" tambah Naruto tidak lupa memberikan senyuman menawannya kepada Guren yang hanya dibalas anggukan saja olehnya.
Tapi jangan salah, wajah Guren berhasil dibuat merona akibat melihat senyuman manis dari Naruto, tidak lupa ia juga memasang wajah cengonya ketika melihat ke-absurdan yang dikakukan oleh ketiga pemuda tampan yang baru saja ia temui hari ini.
'Hahh untung kalian tampan'.
Tanpa menunggu respon dari Guren, Naruto langsung berlari keluar dari Rumah Sakit dan mengejar kedua sahabatnya yang masih belum terlalu jauh dari dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue~.
Well itulah dia chapter 4, kurasa chapter selanjutnya akan dipenuhi dengan action, karena chapter-chapter selanjutnya akan menceritakan tentang bagaimana Naruto dan yang lain menguasai kelas mereka masing-masing.
Tidak lupa di chapter depan juga bisa kupastikan kalau sebuah Fraksi pertama dari dari anak kelas 1 akan segera terbentuk.
Mungkin itu saja yang bisa kusampaikan, semoga cerita yang kubuat ini bisa membuat kalian semua terhibur dan semoga kita bisa bertemu lagi di chapter-chapter selanjutnya.
Baiklah kalau begitu.
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Sekian dan Terimakasih~.
