Mungkin ini 'sedikit' telat tapi aku mau berterimakasih kepada para reader sekalian yang masih setia membaca Ficku ini, dari pembaca lama sampai pembaca yang baru.

Terimakasih juga kepada kalian-kalian yang selalu menyempatkan diri untuk singgah dan meninggalkan review diceritaku yang amburadul ini, khususnya orang-orang ini:

AhegaoDoublePeace, Genesis0417, Namikaze Hoshi, All-Die, Lucifer26, muhammad nf, Ari Putra Bakati, Ashira Namida, It's Cristiano Ronaldo, jaran, Yagami Eza Rizaldy, ShiroOkami87, Anggita, LoneWolf, Uzumaki121, Ren Azure Lucifer D Kanedy, LoneWolf jr, Ryan Hidayat, Genjeeeehhhh, mb4j1.

Dan tentunya terimakasih juga kepada kalian yang telah memfollow dan bahkan menambahkan Ficku ini kedalam list cerita favorit kalian, oh iya terimakasih juga kepada silent reader.

Sungguh, Fav, Foll dan Review baik dari kalian sangatlah berharga bagi keberlangsungan cerita ini.

Baiklah tanpa membuang waktu lagi, ayo kita mulai ceritanya!.

.

.

.

.

.

.

.

.


KHS Sidewalk, Monday at 19:53 pm.

Terlihat sepasang muda mudi tengah berjalan bergandengan tangan satu sama lain, perjalanan mereka itu dihiasi dengan canda tawa dan tidak lupa di wajah mereka juga terpatri rona bahagia yang sangat terlihat jelas bagi sepasang mata yang melihatnya.

Jika dilihat-lihat, mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat mesra. Siapakah mereka? Jawabannya tentu saja Naruto dan Ino, mereka kini sedang berjalan pulang setelah hampir seharian bermain di Karnaval keliling yang ada di Konoha.

Mereka berdua membuat dunia ini seakan-akan hanya milik mereka berdua saja dan yang lain hanya numpang, orang-orang yang melihat itu tentu saja berasumsi kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, tapi sayangnya mereka salah. Yaa setidaknya tidak untuk saat ini.

Mereka berdua kini tengah berjalan di trotoar jalan yang menuju ke wilayah KHS Boys maupun KHS Girls yang letaknya saling bersebelahan, Kenapa? karena Naruto ingin mengantar Ino pulang ke asramanya yang ada diKHS Girls karena sebentar lagi gerbang sekolah akan ditutup.

Ia tadi diberitahu oleh Ino kalau KHS Girls memiliki peraturan jam malam yang batasnya sebentar lagi akan berakhir, yakni jam delapan malam.

Tapi mereka tetap saja berjalan dengan kecepatan normal, karena setidaknya mereka masih ingin menikmati akhir-akhir dari masa 'kencan' mereka yang sebentar lagi akan berakhir ini, kira-kira seperti itulah yang dipikirkan oleh Ino.

.

.

.

.

.

Dalam perjalanannya itu, Naruto kembali mengingat kejadian tadi ketika ia dan Ino bertemu di Konoha Arcade, dan saat itu juga Shikamaru tiba-tiba menghilang entah kemana sehingga hanya menyisakan Ino saja yang menemaninya.

Mereka berdua sempat memainkan beberapa permainan di sana, setelah itu mereka berdua pun memutuskan untuk segera pergi ke Karnaval keliling.

Naruto dan Ino pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke tempat yang dimaksud, perjalanan mereka itu dihiasi oleh canda tawa dari mereka berdua, dengan Naruto sebagai si pencerita dan Ino sebagai si pendengar, dan oh iya Ino juga lah yang tertawa paling banyak.

Ino selalu dibuat tertawa ketika mendengar cerita lucu dan aneh dari Naruto.

Contohnya, cerita ketika Naruto saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SMP, Naruto pernah berkelahi melawan segerombolan monyet gunung saat dia dan keluarganya pergi liburan ke kuil Arashiyama yang berada di Kyoto, Naruto tentu berhasil menghajar para monyet itu dan membuat monyet-monyet itu lari terpontang-panting.

Beberapa saat kemudian, entah karena apa segerombolan monyet itu datang dan tiba-tiba membawakan Naruto makanan yang diberikan oleh pengunjung Kuil tersebut, dan herannya lagi monyet-monyet itu tidak melakukannya sekali, tapi berkali-kali.

Ino kemudian memberitahu Naruto kalau monyet-monyet itu sudah menganggap Naruto sebagai Raja mereka, itulah kenapa mereka selalu membawakan Naruto makanan.

Ino kembali tertawa dengan keras ketika mencoba membayangkan hal itu.

Naruto hanya bisa menggaruk pipinya malu ketika mendengar Ino menertawakannya , tapi di sisi lain, Naruto juga merasa senang karena ia bisa membuat sahabat kecilnya bisa tertawa lepas seperti itu.

Beberapa menit berlalu, Naruto dan Ino akhirnya sampai di tujuan mereka.

Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua pun langsung melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke dalam tempat itu, akan tetapi langkah mereka dihentikan oleh seseorang yang tiba-tiba muncul dan langsung menghalangi jalan mereka, usut punya usut, ternyata orang itu adalah pemilik dari Karnaval keliling ini.

Dan pemilik tempat itu ternyata masih mengenali wajah Naruto, bocah SMP yang dulu pernah menghancurkan salah satu wahana penghasil uang terbanyaknya di tempat ini, yakni wahana Rumah hantu.

Pemilik karnaval itu pun tentunya melarang Naruto dan Ino untuk memasuki tempat tersebut dengan berdalih kalau Naruto akan menghancurkan lagi wahana miliknya.

Naruto yang mendengar itu pun langsung membujuk pemiliknya dan mencoba mengeluarkan kemampuan terbaiknya, yakni meyakinkan seseorang dengan perkataannya.

Beberapa menit berlalu, mereka pun mendapatkan sebuah kesepakatan yang berisi kalau Naruto dan 'pacarnya' boleh masuk dan menaiki semua wahana yang ada di sini kecuali Rumah hantu, karena pekerjanya di sana masih trauma dengan kehadiran Naruto.

Hal itu tentu membuat Naruto bersyukur karena boleh menaiki hampir semua wahana yang ada di sini dan Naruto juga bersyukur karena ia dan Ino dilarang untuk memasuki wahana yang bisa membuat sisi kerennya hilang di hadapan Ino.

Berbeda dengan Naruto, Ino malah menunjukan reaksi berbeda ketika mendengar hal itu, ia pun dibuat merengut kesal karena kesempatannya untuk memeluk Naruto secara cuma-cuma menjadi hilang karena mereka dilarang untuk memasuki wahana Rumah Hantu, wahana yang sudah sejak tadi menjadi incarannya untuk bermesraan dengan Naruto.

Beberapa jam telah berlalu, Naruto dan Ino telah merasakan semua wahana yang ada di situ kecuali Kincir ria dan Rumah hantu tentunya.

Karena mereka berdua sudah sepakat kalau mereka akan membuat Kincir ria ini sebagai penutup dari kegiatan 'kencan' mereka.

Dan di sini lah mereka, duduk bersampingan dengan tangan yang saling bertautan di dalam sebuah kabin dari Kincir ria yang sedang mereka naiki.

Ketika posisi mereka berada di atas, mereka pun dapat menyaksikan keindahan yang disajikan oleh kota Konoha pada sore hari lewat jendela kaca yang ada pada kabin dari Kincir ria yang mereka naiki, hal itu pun sontak membuat Naruto dan Ino sama-sama berdecak kagum.

Bersamaan dengan itu, Ino secara perlahan-lahan menempelkan tubuhnya kepada Naruto, sehingga membuat Naruto bisa merasakan payudara Ino yang empuk tengah menekan erat di lengannya.

Naruto yang merasakan itu membuat wajahnya secara otomatis berubah menjadi merah dan juga sekaligus membuatnya menjadi salah tingkah.

Sedangkan Ino yang melihat Naruto seperti itu hanya terkikik geli, maksudku kapan lagi kau bisa menggoda Naruto seperti ini?.

Hahh mereka benar-benar terlihat sebagai sepasang kekasih yang sangat imut.

Mereka berdua pun turun dari Kincir ria tersebut, seketika mereka mendapatkan tatapan iri dari pemuda pemudi yang melihat kedekatan mereka berdua.

Para cewek menginginkan Naruto yang saat ini terlihat sangat tampan dan sangat maskulin, dan juga sangat gentle kepada Ino, lihat saja, Naruto memperlakukan Ino seperti tuan putri.

Bagi mereka, Naruto saat ini benar-benar terlihat seperti seorang pangeran berkuda putih yang ada di pada dongeng-dongeng yang sering mereka baca.

Berbeda dengan para cewek, para cowok juga tidak mau kalah, mereka juga menginginkan Ino yang saat ini benar-benar terlihat sangat cantik dan sangat mempesona bagaikan seorang model cantik yang sedang naik daun.

Para cowok yang melihat itu pun tidak bisa untuk tidak menyumpahi Naruto, mereka benar-benar merasa iri!.

Mereka serasa ingin menghajar Naruto karena berhasil mendapatkan perempuan secantik Ino sebagai 'kekasihnya'.

Tapi semua hal itu mereka urungkan ketika mereka kembali mengingat kalau Naruto berhasil menghajar seorang pencopet yang ada di situ ketika Naruto dan Ino baru saja mau menaiki Kincir ria tersebut.

Saat itu, Naruto yang melihat pencopet itu langsung segera berlari mengejarnya, tidak sulit bagi Naruto untuk menggapai pencopet tersebut karena Naruto memiliki lari yang sangat cepat.

Setelah berhasil menggapai pencopet itu, Naruto tanpa kompromi langsung mengajar pencopet itu dengan melesatkan sebuah Overhand kanan andalannya, pukulannya itu pun berhasil membuat pencopet tersebut terlempar jauh ke belakang dan juga berhasil membuat pencopet itu pingsan hanya dengan satu pukulan saja! Ingat, satu pukulan saja!.

Para cowok yang melihat kejadian itu seketika menegukan ludah mereka secara kasar, sedangkan para cewek yang melihat itu bersorak gembira, mereka benar-benar terkesima.

Tidak hanya tampan, Naruto juga adalah cowok keren yang juga tentunya sangat kuat!.

Kambali ke Naruto dan Ino, entah kenapa saat mereka mau berjalan keluar dari area Kincir ria tersebut, tiba-tiba para cewek yang ada di situ langsung mendekati dan mengerubungi Naruto.

Ino yang merasakan alarm bahaya langsung sesegera mungkin memeluk lengan Naruto dengan erat, menandakan Naruto hanya 'miliknya seorang', Naruto yang diperlakukan seperti itu hanya bisa terkejut dan menjadi salah tingkah.

Berkat perlakuan dari Ino tersebut membuat para cewek yang mengerubungi mereka merengut kesal, mereka dibuat tidak berdaya dengan status yang dimiliki oleh Naruto saat ini, yakni memiliki seorang 'kekasih'.

Naruto dan Ino akhirnya melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti.

Mereka berdua pun berniat untuk mengakhiri 'kencan' mereka dengan makan di restoran ramen andalan Naruto, yap Restoran Ichiraku.

Well, mereka benar-benar kelaparan setelah semua hal yang tadi mereka lakukan, jadi ya tentu saja mereka akan mengisi perut mereka yang sejak tadi meraung dan meminta untuk diberikan asupan makanan.

Saat memasuki tempat favorit Naruto, mereka berdua pun sontak digoda oleh Teuchi sang pemilik tempat itu.

Wajah Ino langsung memerah malu ketika mendengar perkataan dari Teuchi yang mengatakan kalau ia adalah perempuan yang cocok untuk Naruto.

Di sisi lain, Naruto tidak terlalu menggubris perkataan dari Teuchi dan lebih memilih untuk memfokuskan dirinya kepada ramen jumbonya, ya seperti biasa, ia memakan ramennya itu bak orang kesetanan.

Hahh dasar kuning tidak peka.

Ino yang melihat itu sempat menggembungkan pipinya kesal, tak lama setelah itu ia pun mendesah pasrah dan menggelengkan kepalanya pelan.

Hahh bagaimana pun juga, Naruto itu adalah seorang maniak ramen sejati, jadi tidak ada gunanya berdebat dengannya saat ini, lagi pula Ino juga sudah kelaparan jadi ia tidak mau membuang sisa tenaganya untuk berdebat.

Dengan gerakan simpel, Ino mematahkan sumpitnya, dan tanpa membuang waktu lagi, ia pun langsung memakan ramennya yang sejak tadi belum ia sentuh itu.

"Selamat makan~".

.

.

.

.

.

"Hari ini sangat menyenangkan! Terimakasih karena sudah mau menemaniku Ino-chan!" Naruto memberikan senyum manis kepada Ino yang berjalan tepat di sampingnya, menatap wajah Ino yang entah kenapa terlihat sangat cantik ketika terkena cahaya rembulan.

"Seharusnya aku yang bilang itu Naru-kun! Terimakasih karena sudah mengajakku jalan, aku benar-benar senang hari ini" Ino membalas senyuman Naruto, tidak lupa Ino juga semakin mengeratkan pegangan tangannya ke tangan kokoh Naruto.

Naruto yang melihat itu semakin melebarkan senyumannya, ternyata Ino juga bisa bersikap manis dan perhatian seperti ini kepadanya, sahabat kecilnya ini benar-benar berubah menjadi perempuan yang sangat anggun dan tentunya sangat menawan.

Berbeda saat mereka kecil dulu, Ino yang dulu benar-benar galak dan tidak memiliki keanggunan sama sekali di dirinya, Ino juga saat itu tidak terlalu peduli kepada Shikamaru, Chouji dan dirinya yang notabenenya adalah sahabat kecilnya. Oh iya kecuali sahabatnya yang lain yakni Sasuke.

Naruto kembali mengingat kalau dipikiran Ino itu hanya ada Sasuke dan Sasuke saja. Naruto kemudian menghelakan nafas, setelah dipikir-pikir, sepertinya ada yang salah dengan sahabat kecilnya ini.

"Ino-chan, aku lupa memberitahumu kalau Sasuke sudah kembali ke Konoha, Sasuke juga bersekolah di KHS Boys, sama sepertiku, Shika dan juga Chouji" perkataan dari Naruto seketika membuat Ino mengentikan langkahnya sehingga membuat Naruto juga ikut berhenti, Naruto kemudian menatap Ino dengan tatapan heran.

"Terus kenapa?" Naruto semakin dibuat heran ketika mendengar suara Ino yang tadi terdengar ceria kini berubah datar.

Ino kemudian menundukan wajahnya.

'Sudah kuduga, ada yang salah dengan Ino, ia biasanya akan sangat antusias ketika mendengar nama Sasuke'.

"Apa kau lupa kalau Sasuke adalah salah satu sahabat kita? Dan juga, bukannya kau menyukai-"

*Cup*

Perkataan Naruto seketika terhenti ketika Ino mengecup pipinya.

"Kuharap itu menjawab pertanyaanmu, Naru-kun" Ino mengedipkan matanya, kemudian ia berjalan meninggalkan Naruto yang kini diam mematung di tempatnya.

'A- apa yang kulakukan?! Kenapa aku tiba-tiba menciumnya? Dan untuk apa kedipan tadi? Astaga, ini benar-benar memalukan, Naru-kun tidak boleh melihatku seperti ini!' wajah Ino kini memerah bagaikan sebuah tomat.

Ino benar-benar malu dan juga salah tingkah dengan perbuatannya sendiri, ia tadi sempat mencoba menutupi rasa malunya itu dengan cara mengedipkan matanya kepada Naruto, tapi hal itu malah membuatnya menjadi semakin malu dan sekarang ingin mengubur wajahnya ke tanah.

Naruto memegangi pipinya yang barusan dicium, ia mencoba memahami situasi saat ini.

Baru saja Naruto akan terbang ke alam pikirannya, tiba-tiba muncul segerombolan pemotor yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Ino yang sepertinya sedang tidak memperhatikan jalannya, Naruto yang melihat itu dengan sigap berlari ke arah Ino, mencoba menyelamatkan sahabat kecilnya itu.

*Brum* *Brum*

*Grab*

"Kyaa!" Naruto berhasil menarik tangan Ino, akan tetapi ia gagal mempertahankan keseimbangannya sehingga membuat mereka berdua kini terjatuh ke sisi trotoar jalan dengan posisi Ino yang berada di atasnya.

"Apa kau tidak apa Ino-chan?!" Naruto menatap khawatir Ino yang kini terpaku menatapnya.

'N- Naru-kun menyelamatkanku lagi' Ino langsung menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Naruto, kemudian ia menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto.

"Hahh syukurlah, aku tidak akan memaafkan diriku jika kau sampai terluka" Naruto langsung memeluk erat tubuh Ino, tidak lupa ia juga mengelus-elus rambut Ino dengan perlahan.

'Dasar pemotor sialan!' Naruto kemudian menatap belakang jaket dari pemotor yang tadi melintas itu.

'Ban yang terbakar, RWK?! Apa yang mereka lakukan di wilayah KHS?'.


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"I'm the King"

Desclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto

Created by: Holocaust

Genre: Action, comedy, school, martial arts, slice of life, etc.

Pairing: No pair for today my friend!.

Warning: Typo berantakan , Alternative Universe, OOC, NoMagic, NoChakra, Just a regular human! and many more.

Summary: Naruto telah menjadi Raja Freshmen, Masalah barupun muncul ketika para Senior di kota Konoha sedang mengalami kekosongan, tiba-tiba para Freshmen dari Sekolah tetangga melakukan serangannya kepada murid KHS sehingga hal tersebut berhasil memicu terjadinya perang besar.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


Sebelumnya. . .

Inuzuka Industrial High - Parking Lot, Monday at 19:20 pm.

Tempat parkir Sekolah Industri Inuzuka benar-benar dipenuhi oleh lautan manusia yang jumlahnya sepertinya mencapai angka 200 orang, orang-orang itu memakai jaket kulit hitam yang memiliki pola yang serupa di bagian belakang jaket mereka.

Pola tersebut bergambar sebuah ban motor yang terbakar oleh api merah yang membara, di atas logo itu juga memiliki sebuah tulisan yang bertuliskan Red Wheel Konoha,

Geng motor itu tentunya ditemani oleh motor-motor mereka yang totalnya kira-kira berjumlah kurang lebih dari seratus unit motor yang memenuhi tempat itu.

"Dosu, apa kau punya informasi mengenai letak dari para Freshmen KHS itu?" Kimimaro membuka suaranya, ia kini berada di atas sebuah motor hitam kesayangannya. Tatapan tajamnya kini beralih ke Dosu yang berada tidak jauh dari dirinya.

"Tentu saja Kimimaro-san, aku bahkan punya jadwal mereka semua" Dosu menundukan pandangannya, tidak berani menatap Kimimaro yang tengah marah.

"Kalau begitu tunggu apalagi?" Kimimaro melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Oy kalian para Freshmen! Dengarkan apa yang akan dikatakan oleh Dosu!" Kidomaru kini yang mengambil alih, para Freshmen yang dimaksud pun langsung mengalihkan perhatian mereka ke Dosu.

"Baiklah, kalau begitu langsung saja, aku akan memberitahukan jadwal para petinggi Freshmen KHS yang telah aku kumpulkan selama 2 bulan ini" Dosu kembali mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas kecilnya.

"Kita mulai dari Shimura Sai, selama 2 bulan ini dia dan pengikutnya selalu bersama dengan Uchiha Itachi dan juga Uchiha Shisui, di malam hari Sai beserta 4 pengikutnya selalu diajak untuk berkumpul di tempat bermain billiard yang letaknya berada di dekat Taman Konoha".

Kimimaro yang mendengar itu segera membentuk 50 orang pasukan yang akan menyerbu tempat billiard itu, pasukan itu terdiri dari 50 orang Sophomore RWK.

"Selanjutnya Aburame Shino, aku mendengar kalau dia dan Inuzuka Kiba sedang merencanakan sesuatu dan sepertinya mereka akan berkumpul di kafe langganan keluarga Inuzuka yang letaknya berada di dekat jembatan penyebrangan ke area sekolah Shika Commerce, nama kafe itu adalah Black Rascal Café".

Sakon dan Ukon saling menatap ketika mendengar nama rival mereka, mereka kemudian menganggukan kepala mereka.

"Shino dan Kiba biar kami yang urus!" Ukon membuka suara dan diikuti oleh anggukan dari kakaknya.

Dosu menatap Sakon dan Ukon dengan pandangan serius.

"Baiklah, kalau begitu bawalah beberapa anggota kita, karena kudengar semua pengikut mereka juga akan ikut ke dalam pertemuan itu" Sakon dan Ukon yang mendengar itu hanya memberikan jempol mereka, di wajah mereka kini mengembang senyuman sadis.

Duo kembar itu kemudian mengumpulkan anggota mereka, Sakon dengan 29 orang Freshmen dan Ukon dengan 19 orang Freshmen .

Mereka tidak mau membawa semua anggota mereka, karena sisa anggota mereka itu akan digunakan oleh rekan-rekan mereka yang lain untuk menyerang petinggi KHS yang lain.

"Bakilah ayo kita lanjut!" Dosu kembali menarik perhatian murid-murid yang ada di situ.

"Hyūga Neji, dia dan para pengikutnya sepertinya akan berkumpul di kafe milik keluarga Hyūga, letak kafe itu berada di samping sebuah gedung sekolah baru yang jaraknya tidak jauh dari Shika Commerce" .

"Anak itu bagianku" Kidomaru kembali bersuara, Dosu yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya, Kidomaru kemudian mengumpulkan 8 orang Sophomore untuk menemaninya menyerang Neji yang tadi pagi baru saja menelan kekalahannya dari Naruto.

Bagi Kidomaru, Ini adalah waktu yang tepat untuk membalaskan dendamnya kepada Neji.

"Kita berpindah ke para petinggi dari Fraksi ACE".

"Rock Lee, orang ini tiap hari setelah sepulang sekolah akan berlatih bersama Might Guy, mereka biasa berlatih di Gym dekat Taman Konoha" Dosu menghentikan bicaranya sejenak, melihat reaksi dari teman-teman Freshmennya yang sepertinya berebutan untuk menghajar murid dari Guy itu.

"Tapi ingat, kita tidak bisa asal menyerangnya, karena pasti seorang Might Guy akan membantunya dan hal itu tentunya akan merepotkan kita, karena kita tahu sendiri kalau si Green Beast itu memiliki kekuatan setara dengan 100 orang!" Dosu kembali melanjutkan perkataannya, mereka yang tadi berebutan kini diam membisu.

"Aku yang akan mengurus anak itu dan Guy" perhatian mereka semua langsung beralih ke pemimpin mereka, yakni Kimimaro.

Dosu yang melihat itu hanya bisa menganggukan kepalanya lagi, tidak berani menyela keputusan dari pemimpinnya.

"Aku yang akan menemani Kimimaro-san" seperti sebuah angin sejuk, Jirobo datang dan meredakan tensi yang sempat menjadi buruk, jujur saja mereka yang ada di situ ingin mencegah pemimpin mereka untuk pergi sendirian.

Walaupun Kimimaro orang yang sangat kuat, akan tetapi pemimpin mereka itu masih belum bisa menyaingi kekuatan dari Might Guy seorang diri.

Mendengar itu membuat Dosu menghela nafas lega.

"Baiklah, kita berpindah ke petinggi selanjutnya, Uchiha Sasuke, si bungsu Uchiha itu memiliki jadwal latihan di hari selasa, kamis dan sabtu di sasana beladiri milik keluarganya, dengan artian hari ini ia libur, tapi kurasa ia akan tetap berlatih di hari senin ini karena entah kenapa belakangan ini ia selalu menambah porsi latihannya" Dosu sempat melihat kerlingan mata dari Zaku.

Zaku adalah teman sekelas Sasuke saat SMP dulu, Zaku membenci Sasuke karena orang itu dengan mudahnya berhasil mengalahkan Hyūga Neji ketika ia baru pindah ke SMP Konoha. Bisa dibilang Zaku iri dengan pencapaian dari seorang Uchiha Sasuke itu.

"Aku dan Zaku yang akan berjaga di tempat itu" ujar Dosu.

Zaku yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Dosu, well ia pernah mendengar cerita kalau Dosu pernah dihajar habis-habisan oleh Sasuke ketika perang antar SMP-SMA terjadi Di Jepang beberapa bulan lalu, jadi ia berasumsi kalau Dosu mengajaknya bekerja sama untuk mengalahkan Sasuke, Zaku kemudian memberikan Dosu senyum miring.

"Kemudian untuk dua petinggi ACE yang tersisa dan Ketuanya. Jujur saja, aku sama sekali tidak mengetahui jadwal dari mereka bertiga, karena aku baru saja mendapatkan nama mereka bertiga sehingga aku tidak sempat untuk menganalisis jadwal mereka bertiga, semuanya aku benar-benar minta maaf!" Dosu kemudian menundukan tubuhnya.

*Puk*

"Kau tidak perlu minta maaf, informasimu itu sudah lebih dari cukup sobat!" Sakon menepuk pundak Dosu.

"Tersisa para Sophomore, berkat informasi dari Dosu, kita sudah mengetahui dimana letak Itachi dan Shisui, sekarang tersisa Izumo-Kotetsu, Dokan dan tentunya Tobi" Kidomaru kembali bersuara.

"Kalau tidak salah ingat, Izumo dan Kotetsu beserta para pengikutnya selalu berkumpul di kafe Rumble yang ada di dekat KHS Boys" Jibachi yang sejak tadi diam kini bersuara ketika mendengar nama rival mereka.

Jibachi sebenarnya ingin menawarkan dirinya dan kakaknya untuk mengurus Izumo dan Kotetsu, akan tetapi mereka dipastikan akan kalah dengan kondisi tubuh mereka yang seperti ini.

"Dokan, jika diingat-ingat orang itu bersama pengikutnya selalu pergi ke Ichiraku Ramen untuk makan malam sebelum mereka pergi bermain di Konoha Arkade" Jirobo sebenarnya ingin mengurus rivalnya ini, akan tetapi ia tadi sudah berjanji kepada pengikutnya kalau ia akan membantu Kimimaro untuk mengalahkan Guy.

"Hm tersisa Tobi, Kido bagaimana menurutmu soal letak orang ini?" Kimimaro menatap Wakilnya yang tengah berdiri di sampingnya.

"'Hm Tobi ya? Bagaimana kalau kita pencar saja orang-orang kita untuk mencarinya? Dan jika salah satu dari mereka menemukan orang itu, maka mereka harus sesegera menelepon kita dan memberitahukan kita dimana letak orang itu berada, kemudian kita akan datang dan langsung menghajar orang yang bernama Tobi itu, bagaimana? Apa kau setuju, Kimimaro-san?".

"Aku setuju, baiklah langsung saja, 50 orang yang tadi aku bentuk, kalian semua sudah tahu siapa yang harus kalian hajar kan?" Kimimaro sedikit mengeraskan suaranya.

"SIAP IYA PAK!" Kimimaro yang mendengar itu mengangguk puas.

"Kalau begitu pisahkan diri kalian dari kerumunan" 50 orang itu kemudian memisahkan diri mereka menuju ke arah sebelah kiri dari tempat parkir itu, setelah itu mereka langsung berbaris dengan rapi.

Kimimaro sengaja memerintahkan mereka untuk memisahkan diri mereka dengan tujuan supaya ia bisa mengetahui jumlah pasti dari orang yang akan ia gunakan untuk menyerang nanti.

"Sakon, Ukon kalian dan pasukan kalian segera pisahkan diri kalian dari gerombolan" Sakon dan Ukon yang mendegar itu segera melakukan apa yang Ketuanya minta.

Sakon bersama 29 pengikutnya segera berbaris di sebelah pasukan yang pertama berbaris di sana, diikuti oleh Ukon bersama 19 pengikutnya yang berbaris di sebelah kakaknya.

"100 orang huh?" Jirobo menghitung jumlah pasukan yang berbaris dengan rapi itu. 100 orang pasukan itu terdiri dari 50 orang Sophomore dan 50 orang Freshmen.

"Tersisa 100 lagi yang masih belum memiliki tugas" Jirobo kembali bersuara. Kimimaro yang mendengar itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah anggotanya yang tersisa.

"Kidomaru kau juga, pisahkan dirimu dan pasukanmu yang akan kau bawa" Kidomaru yang mendengar perintah Kimimaro segera memisahkan diri mereka, Kidomaru dan 8 pengikutnya menuju ke sebelah kanan dari area tempat parkir tersebut, Dosu dan Zaku yang melihat itu berinisiatif untuk memisahkan diri mereka juga.

"Dosu, Zaku, apa kalian yakin tidak mau menambah pasukan kalian?" perkataan dari Kimimaro membuat langkah Dosu dan Zaku terhenti, raut wajah Kimimaro terlihat cemas ketika Dosu dan Zaku ingin melawan Uchiha Sasuke.

'Kenapa Kimimaro-san terlihat cemas begitu?' batin Kidomaru yang menyadari raut wajah Kimimaro hanya mengerutkan keningnya bingung.

"Tidak Kimimaro-san, kami berdua hanya akan mengecek tempat itu saja, kami berdua juga akan tetap siaga jika saja kalian membutuhkan bantuan kami" Zaku menjawabnya dengan lugas.

"Baiklah kalau begitu, Yoroi, Misumi, bagaimana dengan kalian?".

"Aku dan Yoroi meminta setidaknya 8 orang Freshmen, apa itu boleh Kimimaro-san?" Misumi yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Tentu saja, tapi kenapa sedikit sekali? Apa kalian yakin tidak mau menambahnya?".

"Tidak Kimimaro-san, itu sudah cukup" kali ini Yoroi yang membalas pertanyaan Kimimaro.

"Aku mengerti, kalau begitu kalian segeralah berbaris bersama Dosu dan Zaku" Yoroi dan Misumi beserta 8 orang pasukannya langsung berbaris di sebelah Dosu, Zaku dan Kidomaru. Sehingga membuat pasukan yang ada di sisi kanan kini berjumlah 21 orang, pasukan itu terdiri dari 9 orang Sophomore dan 12 orang Freshmen.

Kini tersisa 79 orang lagi yang belum membentuk pasukan, orang-orang itu termasuk Kimimaro, Jirobo, Kurobachi dan Jibachi.

"Baiklah 75 orang yang tersisa, aku akan memecah kalian menjadi 3 kelompok untuk memburu orang yang bernama Tobi, dengan 25 orang di masing-masing kelompok tersebut, apa kalian mengerti?!"

"SIAP IYA PAK!".

"Bagus, ingatlah, orang yang bernama Tobi itu memakai topeng orange dsn memiliki motif spiral di atasnya, jangan lupakan itu!" sambung Kimimaro.

"SIAP IYA PAK!".

"Kalau begitu segera pisahkan diri kalian dan segeralah berbaris di samping pasukan Kidomaru!" 3 kelompok pasukan tersebut segera menuju tempat yang dimaksud.

"Yang terakhir, Aku dan Jirobo akan menyisir area sekitar Taman Konoha!" Jirobo yang mendengar itu segera menaiki motornya.

Di sisi lain, Kurobachi yang mendengar itu mengelus dadanya lega, ia benar-benar bersyukur karena tidak diberi tugas apa-apa.

Berbeda dengan adiknya, Jibachi.

"Tunggu Kimimaro-san, begaimana denganku dan kakakku? Apa yang harus kami lakukan untuk membantu?" Jibachi kembali membuka suaranya, bagaimana bisa Pemimpinnya ini melupakan ia dan kakaknya?.

Pertanyaan dari Jibachi langsung dihadiahi tatapan tajam oleh kakaknya sendiri yakni Kurobachi, Kurobachi benar-benar kesal kepada adiknya yang tidak mau diam, tidak tahukah Jibachi kalau dia baru saja menciptakan sebuah perang besar?.

"Kuro, Jiba, kalian tidak perlu ikut penyerangan kali ini, kalian harus memulihkan diri kalian terlebih dahulu, lagipula aku tadi sudah memerintahkan Dosu dan Zaku untuk mengantar kalian pulang" Kimimaro menatap datar ke arah Duo Kamizuru itu.

"T- tapi-".

"Terimakasih atas pengertiannya Kimimaro-san!" Kurobachi langsung memotong perkataan adiknya, Kurobachi langsung menundukan kepalanya, tidak lupa ia juga memaksa adiknya itu untuk mengikuti gestur tubuhnya.

Kimimaro yang melihat itu tentu menyuruh mereka berdua untuk mengangkat kepala mereka, kemudian Kimimaro memberikan isyarat kepada Dosu dan Zaku lewat sorot matanya.

Dosu dan Zaku yang melihat itu mengangguk paham, Dosu kemudian membantu Kurobachi untuk berjalan ke arah motornya dan kemudian Zaku juga membantu Jibachi untuk berjalan menuju motor dari Kurobachi.

Dosu dan Zaku pun segera pergi untuk membawa dua bersaudara itu pulang, dengan Dosu yang membonceng Kurobachi dan Zaku yang membonceng Jibachi.

"SEMUANYA, KALIAN SEMUA SUDAH TAHU APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN BUKAN?!" teriakan dari Kimimaro berhasil menarik kembali perhatian semua pasukannya yang tadi sempat teralihkan oleh Duo Kamizuru.

"SIAP IYA PAK!".

"KALAU BEGITU KALIAN SEMUA NAIKLAH KE MOTOR KALIAN, DAN MARILAH KITA HANCURKAN MURID-MURID DARI SEKOLAH SAMPAH ITU! DEMI HARGA DIRI RWK!".

"DEMI RWK!" Mereka semua pun langsung bergegas menaiki motor mereka masing-masing tanpa terkecuali. Kemudian mereka menghidupkan mesin motor mereka secara serempak.

*Brum* *Brum*

Kimimaro yang melihat itu berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyembunyikan senyum bengisnya.

"Berpencar!".

"HA'I!" satu kata dari Kimimaro itu membuat semua pasukan RWK bergerak menuju tujuan mereka masing-masing.

Sekarang hanya tersisa Kimimaro dan Jirobo saja yang masih berada di tempat itu.

"Ayo hancurkan mereka, Jirobo!" Kimimaro kemudian langsung menstarterkan motornya, hal itu tentu diikuti oleh Jirobo yang kini terlihat sangat bersemangat.

"OU!" Jirobo menjawabnya dengan semangat yang membara, Kimimaro yang mendengar itu langsung melajukan motornya, dengan Jirobo yang mengikut di belakangnya.

'Sebentar lagi kalian semua akan hancur!' Kimimaro kini sudah tidak bisa lagi untuk menahan senyum bengis di wajahnya, wajah Kimimaro yang biasa terlihat kalem, kini berubah menjadi sangat mengerikan.

'Binasalah kalian KHS!'.

.

.

.

.

.

.

.

.


Konoha Park Sidewalk, Monday at 19:28 pm.

"Hahh, entah kenapa latihan tambahan yang diberikan Guy-sensei terasa seperti acara bersih-bersih saja" Lee tengah berjalan dengan lemas, ia merasa kelelahan setelah melakukan latihan tambahan yang diberikan Guy kepadanya.

"Tapi itu tidak mengapa, karena itu kulakukan demi masa muda!" Lee yang tadi berjalan dengan lemas kini berubah semangat.

Lee cukup lelah setelah membantu Guy dan ia kini baru saja pulang dari rumah senseinya itu, Guy tadi mmemberikanya sebuah latihan tambahan yakni menyuruh Lee untuk membersihkan kandang ayam milik Guy yang sudah hampir dua bulan ini tidak pernah dibersihkan.

Hahh, ada-ada saja.

Mumpung Lee masih berada di pusat kota, ia pun berniat untuk mengisi perutnya yang kosong, ia kemudian berjalan menuju ke sebuah tempat makan yang paling terkenal di kota ini, yakni Restoran Ramen Ichiraku.

Dalam perjalanannya itu, ia tiba-tiba mendapati sosok yang ia kenali yang berjalan tidak jauh di depannya.

"Sai-kun?!" Lee melambaikan tangannya kepada pemuda pucat yang sepertinya berjalan ke arah yang sama dengannya.

Sai yang merasa namanya dipanggil segera menghentikan langkahnya, kemudian ia membalikan tubuhnya, penasaran dengan orang yang baru saja memanggil namanya.

"Lee-kun? Lama tidak berjumpa!" Sai melihat salah satu teman SMPnya itu segera mengeluarkan senyum palsu andalannya.

Lee yang melihat itu langsung berlari mendekatinya, kemudian ia berhenti tepat di hadapan Sai.

"Sai-kun, apa kabar?" Lee mencoba berbasa basi kepada mantan Bossnya saat SMP dulu.

"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" tentunya memasang senyum palsu.

"Aku juga baik-baik saja. By the way, apa benar kalau kau dan pengikutmu adalah anggota Uchiha Empire?" Lee menatapnya penasaran.

"Kurasa itu bukan rahasia umum lagi bukan?" masih setia dengan senyum palsunya.

"Yes! sudah kuduga, terus kau ini dari mana dan mau kemana, Sai-kun?".

"Ah aku hanya pergi untuk mengisi perutku, lalu setelah ini aku akan kembali ke tempat Itachi-san, Shisui-san dan tentunya teman-temanku yang saat ini sedang bermain billiard di sebelah sana!" Sai menunjuk sebuah tempat yang lumayan jauh dan berada di seberang sisi taman.

"Woah, apa benar kalau kau dan pengikutmu sering nongkrong dengan petinggi UE itu?" Lee kelihatan bersemangat, ini hebat! Mantan Bossnya berkumpul bersama orang-orang kuat!.

"Iya itu benar, oh iya kau sekarang sudah menjadi petinggi ACE bukan? Bagaimana rasanya menjadi petinggi dari Fraksi Freshmen terkuat di sekolah kita?" Sai kali ini yang menatap Lee dengan tatapan penasaran, ia ingin tahu apa orang-orang di sana semengerikan yang ia pikir?.

"Tentu saja aku merasa senang! Tapi apa kau tahu? Orang-orang di sana itu aneh-aneh semua! Mulai dari Chouji-san yang sering bolak balik ke kamar mandi tiap pagi, kemudian ada Shika-san yang selalu tertidur tiap 15 menit sekali, lalu ada Sasuke-san yang selalu menjahili Shika-san dan Chouji-san, dan yang terakhir. . . ,-

- Naruto-san, Hahh aku tidak mau mengingat orang itu, di antara nama-nama orang yang ku sebut tadi, dialah orang yang paling aneh dan paling absurd!".

Sai yang mendengar itu tanpa sadar tersenyum simpul, sepertinya ia sudah salah menilai orang-orang itu, ia sempat berpikir kalau para petinggi ACE itu adalah sekumpulan Monster Freshmen yang kejam dan haus darah. Hahh syukurlah.

"Tapi bukannya itu cocok untukmu? Kau kan aneh juga" Sai kembali tersenyum palsu.

"Ugh, kau masih ceplas ceplos seperti biasa ya, Sai-kun" Lee menangis bombay karena dibilang aneh oleh salah satu orang yang ia hormati itu.

Tapi jika dipikir-pikir perkataan Sai benar juga sih.

"Hehe maaf-maaf" Sai tetap memasang senyum palsunya.

'Apakah Sai-kun tidak sadar kalau dia juga orang aneh?'' batin Lee sweatdrop ketika melihat Sai tertawa dengan tetap mempertahankan senyum palsunya.

"Oh iya Sai-kun, bagaimana denganmu? Bagaimana perasaanmu ketika kau menjadi anggota dari Fraksi terkuat kedua di sekolah kita?" Lee kembali menatap Sai, ia bisa melihat raut wajah Sai kini berubah murung.

"Aku juga senang. . ." pandangan Sai menerawang jauh.

"Kau tahu Lee-kun? Aku merindukan masa SMPku dulu, aku merasa kalau saat itu semuanya lebih mudah bagiku dibanding yang sekarang" Sai kembali mengingat dimasa ketika ia direkrut secara paksa oleh orang yang bernama Tobi, ia saat itu benar-benar tidak berikan pilihan sama sekali.

Hal itu juga lah membuatnya harus dijauhi oleh 'sahabatnya' yakni Hyūga Neji, ia dituduh sebagai pengkhianat karena ia lebih memilih bergabung ke dalam Fraksi UE dan meninggalkan rencana yang telah mereka buat.

Tapi Sai tetap bersyukur, setelah ia masuk UE, Itachi dan Shisui selama ini sangat baik kepadanya dan pada pengikutnya, hal itulah yang membuatnya tetap betah di Fraksi UE dua bulan belakangan ini.

Tapi tetap saja, ketika orang yang bernama Tobi muncul di pertemuan UE, ia kembali merasakan hal yang tidak mengenakan yang membuatnya selalu ingin menjauh dari orang itu.

Dengan kata lain, Sai takut kepada orang yang bernama Tobi itu.

"Hm? Apa maksudmu Sai-kun?" Lee menatap heran Sai, ia merasakan seperti ada hal yang disembunyikan oleh mantan Bossnya ini.

"A- ah bukan apa-apa" Sai kembali memasang senyum palsunya.

"Hmm mencurigakan, oh iya apa kau mau makan ramen di Ichiraku?" Lee menunjuk tempat yang ia maksud, jarak mereka dan tempat itu tidak lebih dari 100 meter.

"Iya, apa kau mau ke sana juga?".

"Ya! Kalau begitu ayo kita sama-sama pergi ke sana!".

"Kalau begitu ayo!".

*Brum* *Brum*

Baru saja mereka melangkahkan kaki mereka, tiba-tiba 5 motor menghalangi jalan mereka, setiap motor itu masing-masing dinaiki oleh 2 orang, dengan kata lain, 10 orang kini menghadang jalan mereka.

"Lama tidak bertemu Boss!" Misumi turun dari motornya, hal itu diikuti oleh anggota yang ia bonceng.

"Kau juga, lama tidak bertemu Rock Lee!" Yoroi juga ikut turun dari motornya, semua anggota mereka kini semua ikut turun dari motor mereka, orang-orang itu kemudian menyebar mengelilingi Sai dan Lee yang kini memasang sikap siaga.

"Misumi, Yoroi, ada apa ini?" Sai menatap kedua anak buahnya ketika SMP, Sai bisa merasakan kalau ia dan Lee sebentar lagi akan diserang oleh dua orang ini bersama anggota mereka.

"Hahaha! Kami cuma mau memberikan salam perkenalan dari Ketua kami yang baru!" Misumi tertawa sinis, sedikit lagi ia dan Yoroi akan menghajar mantan Bossnya ini (Sai).

Jujur saja, ia dan Yoroi tidak pernah menyukai Sai, mereka saat SMP dulu hanya berpura-pura menjadi pengikutnya saja, mereka berdua juga lah yang sering mengadu domba Sai dan Kiba.

"Kami anggota RWK akan membalas semua perbuatan kalian kepada senpai kami yang tadi kalian keroyok itu!" Yoroi membunyikan jari-jari tangannya.

'RWK?! Dan mengeroyok senpai mereka? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!' Lee menatap bingung orang-orang yang mengelilinginya dan Sai ini.

Lee bisa melihat kalau di antara mereka ada yang membawa pipa besi dan ada juga yang membawa tongkat baseball.

Jujur saja, Lee masih tidak mengerti dengan apa yang coba disampaikan oleh orang-orang dari RWK ini.

"SEMUANYA SERANG MEREKA BERDUA!" Misumi langsung memerintahkan semua anggota yang ia bawa untuk menyerang Sai dan Lee.

"OU!" Mereka semua pun menerjang ke arah Sai dan Lee.

*Syut* *Syut* *Duak*

Sai dan Lee berhasil menghindari ayunan benda tumpul yang di arahkan ke kepala mereka. Sai juga berhasil memberikan counter kepada orang yang memukulnya, Sai melesatkan sebuah pukulan lurus yang mengenai rahang orang itu, orang itu pun langsung terjatuh dan secara tidak langsung meninggalkan celah yang lumayan besar untuk Sai dan Lee gunakan untuk kabur.

"Lee lewat sini!" Sai langsung berlari melewati celah yang ia buat.

"Iya!" Lee mengekor di belakangnya, mereka kini menuju sebuah gang yang berada tidak jauh dari tempat mereka.

Mereka tidak bodoh untuk memilih berlari di jalan raya, karena sudah pasti mereka akan mudah ditangkap oleh lawan mereka yang menggunakan motor mereka.

"Kejar mereka! Jangan sampai lolos!" Misumi kembali memerintahkan anggotanya.

Mereka pun segera berlari mengejar Sai dan Lee yang menuju ke arah gang yang dimaksud.

"Ah sial!" ternyata gang yang mereka gunakan untuk melarikan diri itu buntu.

"Sekarang kalian tidak bisa kemana-mana lagi! Hahaha!" Misumi-Yoroi bersama anggotanya kini memenuhi jalan keluar gang yang menjadi tempat pelarian mereka.

Sai dan Lee yang melihat itu mendesah pasrah.

"Hahh tidak ada cara lain, Lee-kun mohon bantuannya" Sai memasang kuda-kuda Judonya.

"Tentu saja Sai-kun!" Lee memasang kuda-kuda Taekwondonya. Misumi yang melihat itu tertawa lepas.

"SEMUANYA HANCURKAN MEREKA!" Misumi kembali memerintahkan anggotanya.

"HAAAAAA!" Mereka semua maju menerjang ke arah Sai dan Lee yang sudah bersiap menerima serangan dari anggota RWK itu.

'Sial!'.

.

.

.

.

.

.

.

.


Uchiha Boxing - Kick Boxing Center, Monday at 19:30 pm.

"Hahh hari ini benar-benar melelahkan" Sasuke baru saja keluar dari sasana tempat ia selalu berlatih.

"Apa si Putri tidur dan si Usuratonkachi itu sudah pulang ya? Hahh aku menyesal karena tidak ikut bersama mereka berdua!" Sasuke kemudian berjalan dengan santai, matanya terkunci pada sebuah mesin penjual minuman.

Ia langsung memasukan uang 150 yen-nya ke dalam mesin tersebut, kemudian Sasuke menekan tombol yang bertuliskan air mineral.

Tidak lama kemudian air mineral itu keluar dari mesin penjual otomatis tersebut, setelah mengambil air mineralnya, Sasuke kemudian mencari tempat duduk yang ada di sekitarnya untuk ia duduki.

Ia selalu ingat pesan ibunya yang mengatakan kalau minum duduk itu jauh lebih baik daripada minum berdiri.

Setelah mendapatkan bangku yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri, Sasuke pun langsung menuju bangku tersebut dan langsung mendudukan pantatnya.

Tanpa mau membuang waktu lagi, Sasuke kemudian membuka penutup botol itu dan sesegera mungkin meneguk isinya.

Air mineral yang segar itu pun meluncur dengan bebas ke dalam kerongkongannya yang tadi sempat kering akibat latihan yang berat.

*Glug*

"Ahh, enaknya~".

*Brum*

"Dapat kau Uchiha Sasuke!" Sasuke langsung mengalihkan pandangan ke arah suara tersebut, ia pun mendapati Dosu dan Zaku yang saling berboncengan.

Zaku kemudian turun dari bangku penumpang, di sisi lain, Dosu segera memarkirkan motornya tidak jauh dari tempat Sasuke.

"Hm? Apa aku mengenal kalian?" Sasuke kemudian memasukan air mineralnya ke dalam tas tempat ia menyimpan perlengkapan untuk latihannya, Sasuke juga dapat merasakan kalau sepertinya perkelahian akan segera terjadi.

"Jangan pura-pura lupa! Aku Zaku teman sekelasmu dulu di SMP Konoha!" Zaku membunyikan tangannya.

Ia bersumpah kalau ia akan menghajar Sasuke sampai membuatnya babak belur, dan mengambil popularitas yang seharusnya ia miliki.

"Dan aku Dosu, orang yang pernah kau hajar sampai membuatku sekarat!" Dosu meregangkan tubuhnya.

Tidak hanya Zaku, Dosu juga sudah bersumpah kalau ia akan membalas semua perbuatan Sasuke kepadanya.

"Kami di sini akan menghajarmu, bangsat!" ucap Dosu dan Zaku secara bersamaan.

"Zaku dan Dosu huh? Aku mengingat kalian" Sasuke menatap remeh ke arah mereka berdua.

'Sial! aku masih sangat kelelahan, tidak bisakah mereka mengajakku untuk berkelahi besok?' batin Sasuke.

Sasuke kemudian meletakkan tasnya itu di atas bangku yang tadi ia duduki, ia lalu mendirikan tubuhnya.

Setelah itu, Sasuke kembali menatap remeh ke arah Dosu dan Zaku yang kini tengah memelototinya, tatapan mereka berdua itu seakan-akan berkata kalau mereka ingin membunuh Sasuke di tempat.

"Baiklah, kalau begitu tunggu apa lagi?" Sasuke memasang stance tinjunya.

Zaku dan Dosu yang melihat itu segera maju menyerang Sasuke.

"ORRYAAAA!".

.

.

.

.

.

.

.

.


Black Rascal Café, Monday at 19:32 pm.

"Kemana Shino?" Kiba menatap pengikutnya yang berada di sampingnya, tidak lupa untuk sesekali menghisap rokok yang ada di tangannya, ia kini sedang duduk santai di atas sofa mewah yang dimiliki oleh kafe langganannya ini.

"Shino-san mengatakan kalau dia dan anggotanya sebentar lagi akan sampai di sini, Kiba-san".

"Kalau begitu kalian bersantailah lebih dulu sebelum Shino dan pengikutnya datang!".

"Siap Kiba-san" mereka yang mendengar itu langsung memisahkan diri mereka.

Beberapa dari mereka pun segera mangambil tempat duduk yang tidak jauh dari sofa yang diduduki oleh Kiba, dan ada juga dari mereka yang keluar untuk sekadar menghirup udara segar.

Beralih ke Kiba, ia kini tengah mengingat kejadian tadi pagi setelah Naruto mengalahkan Neji.

Kiba yang melihat itu segera mengambil tindakan dengan datang ke kelas 1A dan langsung menawarkan Shino, sang mantan wakilnya di SMP untuk beraliansi dengan Geng Red Fangnya.

Shino hanya mengatakan kalau ia akan memikirkannya terlebih dahulu dan akan memberitahukan jawabannya malam ini (sekarang), Kiba yang mendengar itu hanya mengangguk paham.

Kiba tidak mau bersikap egois, karena bagaimana pun juga, Kiba dan Shino sempat bersitegang ketika di akhir masa SMP mereka, hal itu juga lah yang membuat Shino memilih untuk mundur dari kursi wakil pimpinan Kiba ketika SMP.

*Prank*

Tiba-tiba salah satu anggota dari Kiba menabrak pintu kaca sehingga membuat pintu tersebut pecah, orang-orang yang berada di situ seketika menatap ke arah pintu yang pecah tersebut.

Dan apa yang Kiba dapati ternyata orang yang menabrak pintu kaca itu adalah pengikutnya, terlebih lagi pelipis dari pengikutnya itu mengeluarkan darah, sepertinya pelipis pengikutnya itu baru saja dihantam menggunakan benda tumpul oleh seseorang

"Inuzuka Kiba, keluar kau!" Kiba mendapati Sakon yang muncul sambil menenteng sebuah pipa besi di pundaknya.

Ketika mata mereka bertemu, Sakon langsung memberikan Kiba senyuman sadisnya, hal itu sontak membuat Kiba kini menatapnya marah.

Sakon yang melihat itu berusaha untuk semakin membuat marah Kiba, ia kemudian menginjak dada anak buah Kiba yang ia pukul tadi.

"Angkat kaki kotormu dari anak buahku, bangsat!" Kiba menendang meja yang ada di depannya.

"Kalau mau berkelahi, maka berkelahilah di luar!" pemilik tempat itu akhirnya datang ketika mendengar suara ribut-ribut yang terjadi di kafe miliknya.

"Kiba-kun, akan ku masukan biaya kerusakan ini ke dalam rekening ayahmu!" pemilik tersebut menatap Kiba datar.

"Maafkan aku, Fu-san" Kiba kemudian menundukan kepalanya kepada sahabat ayahnya itu, orang yang dipanggil Fu itu hanya mengangguk mengerti.

"Ayo selesaikan ini di luar Sakon!" Sakon yang mendegar itu tersenyum puas, ia lalu mengangkat kakinya dari anak buah Kiba yang ia injak.

Sakon kemudian berjalan keluar diikuti oleh Kiba dan pengikutnya di belakangnya, tidak lupa Kiba juga sempat membantu anak buahnya yang dipukul tadi untuk kembali berdiri, Kiba berjanji kalau ia akan membalaskan darah yang keluar dari pelilpis anak buahnya itu.

Dua puluh meter dari kafe Black Rascal, Kiba beserta 19 pengikutnya kini tengah berhadapan dengan Sakon yang berdiri sejauh sepuluh meter dari tempat mereka berdiri, yang hanya seorang diri.

"Jadi kau menantangku satu lawan satu huh?!" Kiba langsung menarik kesimpulan, karena dalam kamus tidak tertulis dari anak nakal, kalau seorang pemimpin mendatangi pemimpin geng yang sedang bersama dengan anak buahnya hanya seorang diri saja, maka otomatis pemimpin geng itu akan bertarung satu lawan satu melawan pemimpin yang datang seorang diri itu.

"Tidak tidak, aku datang ke sini untuk menghancurkan kalian semua!" Sakon menatap remeh Kiba.

"Apa ini lelucon? Apa kau kira bisa menghancurkan kami seorang diri?" semua anak buah Kiba tertawa mendengar perkataan Sakon, apa orang ini bodoh?.

"Seorang diri? Ah aku salah, maksudku aku dan anak buahku akan menghancurkan kalian semua!" ujar Sakon.

Tiba-tiba anak buah Sakon muncul dari berbagai arah, dan mengepung Kiba beserta pengikutnya.

Ada juga beberapa dari anak buah Sakon yang membawa benda tumpul sebagai senjata mereka, anak buah dari Sakon itu pun langsung menghajar Kiba beserta anak buahnya tanpa rasa bersalah.

*Dugh* *Dugh* *Dugh*

"AAAAAHK!" teriak kesakitan dari anak buah Kiba.

"HAHAHAHA, RASAKAN ITU BANGSAT!" suara tertawa Sakon terdengar sangat keras.

Kiba yang mendengar itu mendecih kesal, beberapa serangan kejutan dari anak buah Sakon berhasil mengenai wajah dan tubuhnya, Kiba dengan cepat memberikan perlawanan sebelum ia menjadi samsak bagi anak buah Sakon.

*Bugh* *Bugh*

Kiba berhasil keluar dari kerumunan yang menyerangnya, setelah berhasil keluar, Kiba kini dapat melihat kalau semua anak buahnya dihajar habis-habisan oleh anak buah Sakon, bahkan ada beberapa dari anak buahnya yang mengeluarkan darah segar dari kepalanya!.

"AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUA!" Kiba yang melihat itu berteriak marah, ia langsung berlari ke dalam kerumunan itu untuk membantu anak buahnya.

Baru saja Kiba mau melemparkan pukulannya, tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat di rahangnya sehingga membuat Kiba harus kehilangan keseimbangannya.

*Bugh*

"Ugh!".

Orang yang menghajarnya itu ternyata adalah Sakon.

Sakon yang melihat targetnya kelihangan keseimbangan langsung kembali melanjutkan serangannya.

Ia kemudian memberikan Kiba pukulan bertubi-tubi yang mendarat di wajah dan perutnya dengan sangat telak.

*Bugh* *Bugh* *Bugh*

Kenapa ia tidak menghajar Kiba menggunakan pipa besi yang tadi ia bawa? Simpel saja, karena ia ingin menghajar Kiba dengan kedua tangannya sendiri!.

"Hahaha! Kau bagianku Kiba!" Sakon kembali melacarkan serangannya, ia menarik kaki kanannya ke belakang, dan berniat memberikan tendangan ke arah belakang telinga Kiba.

*Swung* *Duak*

"Ugh?!".

Tendangan dari Sakon luput dari target, tanpa Sakon sangka, Kiba ternyata melakukan counter berupa tendangan akrobatik sambil menggulingkan badan ke depan.

Ya! Kiba bisa melakukan tendangan walaupun berada dalam posisi yang kurang menguntungkan seperti itu, tendangan Kiba itu berhasil menghantam belakang telinga Sakon, dan berhasil membuatnya terjatuh.

Tendangan yang dilakukan Kiba itu bernama, Rolling Thunder Kick!.

Kiba kemudian langsung mendirikan tubuhnya, kemudian dengan cepat ia menendang wajah Sakon yang mencoba bangkit, Sakon yang melihat itu langsung melakukan tendangan sapuan kepada tumpuan kaki dari Kiba.

*Dugh*

Kali ini tendangan Kiba yang meleset, dan tendangan Sakon lah yang berhasil mengenai target.

Kiba yang terkena tendangan itu langsung jatuh terduduk, dengan refleksnya yang cepat, Kiba dengan cepat berguling ke belakang, menjaga jarak dari Sakon yang juga masih terduduk.

"Lincah seperti biasanya huh, Inu?" Sakon menatap Kiba dengan senyum main-mainnya.

"Ck, diam kau manusia curang bangsat!" Kiba menatap marah kepada Sakon.

"Salahkan dirimu dan pengikutmu yang tidak siap dengan seranganku, Baka!"

"Tch, berbicaralah sesukamu, karena Shino sebentar lagi akan datang bersama anak buahnya untuk membantuku!".

"Apa kau yakin dengan itu? Coba tebak, apa ada yang kurang di sini?".

Kiba yang mendengar itu segera menyadari sesuatu, saudara kembar dari Sakon tidak ada bersamanya, dengan kata lain. . .

"Jangan bilang kalau adikmu itu menyerang Shino juga?!" Kiba menatap tajam Sakon yang kini sudah berdiri dari duduknya.

"Kau benar! Kau tahu? Tidak hanya kau dan Shino saja yang kami serang, tapi semua murid-murid KHS! Ya, SEMUANYA!" senyum sinis Sakon semakin melebar ketika membayangkan semua murid KHS akan rata malam ini.

Kiba yang mendengar itu mendecih kesal, ia kemudian mendirikan tubuhnya, tatapan tajamnya masih belum lepas dari Sakon yang masih memasang senyum sadis di wajahnya.

'Sial! Shino, bertahanlah!'

.

.

.

.

.

.

.

.


Shika Commerce Overpass, Monday at 19:33 pm.

Terlihat sepuluh orang yang baru saja menuruni jembatan penyeberangan yang menuju ke wilayah dari Shika Commerce, mereka kini sedang berbincang satu sama lain.

"Seratus meter lagi kita akan sampai di tempat yang dimaksud oleh Kiba-san itu, Shino-san" Shino yang mendengar itu mendesah pasrah.

Sialan kenapa si Kiba itu, kenapa dia memilih tempat yang jauh sih? Kenapa tidak di kafe Rumble saja tempat ia dan pengikutnya biasa berkumpul?.

Kurang lebih seperti itulah pikiran dari seorang Shino.

*Brum* *Duak*

Shino yang sedang asyik dengan pikirannya sendiri tiba-tiba diserang dari belakang, dan membuat sisi kepalanya harus terkena hantaman dari sebuah pipa besi dengan cukup keras sehingga membuat kepalanya kini mengeluarkan darah segar.

Hal itu sekaligus membuatnya jatuh terduduk dan secara refleks memegangi kepalanya yang berdarah.

"SHINO-SAN?!" pengikutnya langsung membantu Shino berdiri.

Bersamaan dengan itu, orang yang memukul pemimpinnya itu menghentikan motornya, tidak lama setelah itu muncul rombongan geng motor yang langsung mengepung mereka.

"Yo Shino, bagaimana? Apa kau suka hadiah yang baru saja kuberikan itu? Hahaha!" Ukon berjalan mendekati Shino yang kini sepenuhnya sudah mendirikan tubuhnya, tetapi sialnya, pening di kepalanya masih ia rasakan sehingga membuatnya sedikit oleng.

"Ukon?!" Shino menatap tajam Ukon di balik kacamata hitam yang selalu ia kenakan.

"Oh ayolah kau masih saja memakai kacamata hitam itu walaupun ini sudah malam? Selera berpakaianmu itu cukup aneh kau tahu?" Ukon mengolok-olok Shino.

"Katakan itu pada dirimu sendiri, kau pikir dengan bertelanjang dada seperti itu bisa membuatmu lebih keren dariku? Jangan membual!" Shino kemudian meminta pengikutnya untuk melepaskan pegangan mereka.

"Ck, peduli setan!" Ukon menatap Shino tidak suka.

"Mana Sakon? kau tidak akan bisa mengalahkanku tanpa bantuan dari kembaranmu itu" Shino mencoba menggali informasi dari lawannya ini, karena bagi Shino, ini benar-benar aneh jika kau mendapati Ukon yang bergerak sendiri tanpa bantuan sang kakak.

"Kau tidak perlu mencarinya, kakakku itu sedang menghajar Bossmu itu sampai sekarat!" Ukon menatap remeh Shino.

Shino yang mendengar itu langsung meremas tinjunya dengan kuat.

'Ukon menyerangku, dan Sakon menyerang Kiba? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?'.

"Kau tidak perlu memikirkannya, cepat atau lambat Sakon akan datang ke sini dan akanmenyaksikanku menghancurkamu beserta pengikutmu itu".

"Ayolah, kau dan kakakmu itu tidak bisa mengalahkanku dan juga Kiba, jadi berhentilah membual!" Shino kini sudah menyiapkan kuda-kuda Karatenya.

Pengikut Shino yang melihat itu langsung menyiapkan diri mereka juga, karena mereka tidak akan lolos sebelum mereka mengalahkan pasukan yang memiliki jumlah dua kali lipat lebih banyak dari jumlah mereka saat ini.

"Semuanya hancurkan mereka! Dan tinggalkan si kacamata itu untukku" Ukon berlari menuju ke arah Shino.

"YAAAA!" anak buah dari Ukon yang mendengar itu segera turun dari motor yang telah mereka parkirkan, kemudian mereka pun maju dan berlari ke arah pengikut Shino.

"SEMUANYA AYO KITA KALAHKAN MEREKA!" Shino berteriak ke arah pengikutnya.

Setelah itu, ia kemudian berlari menuju ke arah Ukon.

"YEAH!" hal itu juga diikuti oleh pengikutnya yang juga ikut berlari menuju pasukan dari Ukon.

Dengan begitu, peperangan di bawah jembatan penyeberangan Shika Commerce pun dimulai.

.

.

.

.

.

.

.

.


Hyūga Café, Monday at 19:36 pm.

Neji bersama dengan 14 orang pengikutnya baru saja keluar dari kafe milik keluarganya.

Terlihat ada beberapa plester yang kini menghiasi wajah Neji, plester itu digunakan untuk menutupi luka-luka yang ia dapatkan tadi pagi setelah bertarung melawan Naruto, sang Raja Freshmen KHS.

Di perjalanannya itu, ia selalu terbayang-bayang pertarungannya tadi ketika melawan Naruto.

Semua kemampuan dan pengalaman bertarungnya seakan-akan tidak berguna melawan si kuning itu, ia benar-benar dibuat frustrasi ketika melawan orang itu, ia bahkan sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya tapi tetap saja, ia tidak bisa berbuat apa-apa kepada si Namikaze itu.

Berbanding terbalik dengan si kuning itu, si Namikaze itu bahkan masih belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.

'Bangsat!' batin Neji frustrasi.

'Neji-san' Shigure menatap iba ke arah Bossnya, bagaimana pun juga, ini (melawan Naruto) adalah kekalahan terburuk dari Bossnya itu, Bossnya itu benar-benar kalah segala-galanya ketika melawan sang Raja Freshmen mereka.

*Brum* *Brum*

Setelah berjalan sejauh 50 meter dari kafe milik keluarganya, tiba--tiba Neji beserta pengikutnya dihadang oleh 4 motor yang masing-masing memiliki boncengan, pemotor itu kini memutar-mutari Neji beserta dengan pengikutnya, seakan-seakan mereka adalah mangsa yang empuk bagi mereka.

Tiba-tiba salah satu dari motor itu mendekat ke arah Shigure dan kemudian.

*Duak*

"Akh?!".

Penumpang dari motor tersebut menghantamkan tongkat baseball ke kepala Shigure, Shigure yang terkena hantaman tersebut otomatis mengeluarkan darah yang cukup banyak dari kepalanya.

"Shigure?!" Neji menatap Shigure yang kini terjatuh memegangi kepalanya yang berdarah.

"A- aku tidak apa Neji-san!" balas Shigure yang mencoba menekan pendarahan yang ada di kepalanya, ia kemudian membuka baju kaosnya dan segera mengikatkannya di kepalanya.

*Brum*

"Yo, Hyūga!" kini datang sebuah motor lagi, keempat motor yang tadi memutari Neji dan pasukannya kini berhenti di belakang orang tersebut.

"Kidomaru?!" Neji menatap sinis orang yang baru datang itu.

"Hahaha apa kabar Neji? Kau tahu, aku datang ke sini untuk menghancurkanmu!" Kidomaru kemudian turun dari motornya hal itu diikuti oleh pasukannya, 4 dari 8 orang pasukannya membawa benda tumpul, 2 orang memegang balok kayu, dan 2 orang lagi masing-masing memegang pipa besi dan tongkat baseball.

"Heh, jadi seperti ini caramu balas dendam? Tidak heran kalau kau tidak pernah memenangkan kejuaraan Judo, kau itu orang yang licik dan kotor!" Neji menatap nyalang ke arah Kidomaru.

Pengikut Neji kini berdiri bersiaga di belakang Neji, tidak lupa Shigure juga sudah ikut berdiri dan segera mengambil posisi di sebelah Neji.

"Hahaha peduli setan! Ini pertarungan jalanan bung! Ini bukan kejuaraan tolol yang memiliki peraturan yang sama tololnya!" Kidomaru tertawa mengejek.

Ia tidak peduli, ia boleh saja kalah dari Neji dalam kejuaraan bodoh itu, tapi ia tidak akan kalah dari Neji dalam pertarungan jalanan!.

"Heh, jadi apa yang akan kau lakukan? Kau tahukan kalau kau dan pasukanmu lebih sedikit dibandingkan denganku?" Neji menatap remeh Kidomaru, ia tahu kalau pengikutnya ini sudah sepenuhnya siap jika harus berkelahi di sini, mereka tidak takut walau hanya menggunakan tangan kosong saja.

"Ini bukan masalah kuantitas, tapi kualitas! Akan kutunjukan padamu perbedaan antara kedua hal itu!" Kidomaru kini memasang kuda-kuda Judonya, begitu juga dengan pengikutnya.

"Kalau begitu tunggu apa lagi?" melihat itu, Neji juga memasang kuda-kuda Judonya.

"Anak-anak, tinggalkan si gondrong itu untukku, sisanya terserah kalian!" Kidomaru berlari ke arah Neji.

"YAAAA!" pengikut Kidomaru maju menyerang.

"Kalian semua! Inilah saatnya untuk menunjukan perkembangan kalian selama dua bulan ini, buat mereka semua binasa!" Neji tidak mau kalah, ia juga berlari menerjang ke arah Kidomaru.

"HA'I!" pengikut Neji juga ikut maju.

"ORRYAAAA!" kedua kubu tersebut pun saling bertabrakan, mereka pun langsung menghajar satu sama lain, begitu juga dengan pemimpin mereka, yakni Neji dan Kidomaru.

.

.

.

.

.

.

.

.


Rumble Café, Monday at 19:40 pm.

Di tempat itu terlihat Izumo-Kotetsu bersama dengan 8 pengikutnya yang sedang asyik nongkrong.

Tanpa mereka sadari, tiba-tiba kafe yang mereka tempati itu dipenuhi oleh 25 orang yang menggunakan jaket dengan pola dan tulisan yang sama, jaket yang bertuliskan Red Wheel Konoha.

Yap, 25 orang itu adalah pasukan pemburu Tobi yang tadi dibentuk oleh Kimimaro.

"Ah sial!" Kotetsu berdiri dari duduknya, ia terlihat terburu-buru.

"Kau mau kemana Kotetsu?" Izumo menatap heran ke arah sobatnya itu.

"Aku mau kencing, kau jangan coba-coba meninum minumanku lagi, Izumo siala-"

*Prank*

"Akh!".

"Kotetsu!" tiba-tiba sebuah sebuah gelas minuman menghantam kepala Kotetsu dari belakang dan hal itu otomatis membuat kepalanya mengeluarkan darah segar.

Izumo yang melihat itu langsung berdiri untuk melihat siapa pelaku yang memukul sahabatnya itu, dan ternyata pelakunya adalah salah satu anggota dari geng RWK.

Bersamaan dengan itu juga, pasukan RWK yang lain langsung menyerang mereka yang masih belum mengerti dengan apa yang barusan saja terjadi.

Orang-orang RWK itu pun langsung menghajar Izumo bersama 8 pengikutnya yang masih kelihatan bingung, Kotetsu yang kepalanya tadi dipukul memakai gelas minuman juga kini tengah dikeroyok oleh orang-orang itu.

'Si- sial!'

.

.

.

.

.

.

.

.


Ichiraku Ramen Restaurant, Monday at 19:40 pm.

"Hahh kenyangnya!" Dokan mengelus perutnya yang terllihat penuh.

Well, dia baru saja menghabiskan 5 mangkuk ramen jumbo, ia tidak sendiri, ia makan ditemani oleh pengikutnya yang berjumlah 4 orang.

Dokan dan 4 pengikut setianya itu memang selalu makan di tempat ini, bisa dibilang kalau ini sudah menjadi kewajiban bagi mereka sebelum mereka bermain game arkade sampai larut malam.

"Terimakasih atas makanannya paman Teuchi!" ucap mereka serempak, mereka kemudian berjalan keluar dari restoran ramen terenak di kota ini.

"Yaa, datang lagi ya!" Teuchi melambaikan tangannya, bisa dibilang Dokan dan keempat temannya itu termasuk pelanggan setianya.

Sama seperti Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Chouji yang sedari kecil selalu makan di sini sebelum tempat ini menjadi sebuah restoran besar seperti ini, tempat ini dulunya hanyalah sebuah kedai yang berukuran kecil.

Teuchi kembali teringat 4 sahabat serangkai itu, ah Teuchi kembali mengingat kalau tadi Naruto dan 'pacarnya' sempat singgah di sini untuk makan, katanya mereka baru saja selesai berkeliling di Karnaval keliling yang saat ini sedanf singgah di kota ini

Teuchi secara tidak sadar dibuat terseyum lebar ketika mengingat hal itu.

"Hahh, Naruto sudah besar rupanya, sekarang sisa Sasuke, Shikamaru dan Chouji, kapan ya mereka membawa pacar mereka kemari?" ujar Teuchi menerawang jauh.

"Ada apa, Tou-san?" ujar seorang perempuan yang tengah membawa mangkuk bekas ramen. Ia berhenti sejenak dan melihati ayahnya yang sedang tersenyum-senyum sendiri.

"Ah, tidak ada apa-apa, Ayame" Ayame yang mendengar itu hanya mengangguk paham, ia kemudian kembali berjalan menuju ke westafel untuk mencuci mangkuk yang ada di tangannya.

Beralih ke Dokan dan pengikutnya, mereka yang baru keluar dari Ichiraku, segera bergegas menuju ke Konoha Arcade.

*Duak*

"AHK?!".

Tapi tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seseorang yang memukul salah satu dari mereka menggunakan balok kayu dari belakang.

Hal itu sukses membuat mereka membalikan tubuh mereka, dan apa yang mereka dapati ternyata ada sekitar 25 orang pasukan dari geng RWK yang kini tengah menggempur mereka berlima.

Orang-orang itu adalah pasukan pemburu Tobi nomor 2, orang-orang itu sedang berpatroli di sekitar area Taman Konoha.

Berkat informasi dari Jirobo, mereka dapat mengetahui kalau Dokan dan pengikutnya ini sering berkeliaran di sekitar area ini, jadi mereka memutuskan untuk membereskan Dokan dan pengikutnya terlebih dahulu sebelum mereka melakukan tugas utama mereka, yakni mencari Tobi.

*Bugh* *Bugh* *Bugh*

Rentetan pukulan dan tendangan bersarang di sekujur tubuh Dokan dan pengikutnya.

Tidak hanya itu, mereka juga bahkan merasakan hantaman benda tumpul yang bersarang di kepala dan tubuh mereka.

Dokan dan pengikutnya itu dipukul layaknya binatang oleh pasukan RWK yang terus menerus menghajar mereka tanpa henti.

"T- Tolong!".

.

.

.

.

.

.

.

.


Konoha Family Billiard, Monday at 19:40 pm.

"Sepertinya aku menang lagi, Shisui" Itachi tersenyum simpul menatap Shisui yang berada di sampingnya.

"Hahh memang bukan hari beruntungku, baiklah selamat untuk kemenanganmu Itachi" Shisui melipat tangannya didepan dadanya.

"Hm? Kenapa tiba-tiba kau berubah sopan seperti ini, nee sepupu?" Itachi yang mendengar itu langsung merangkul pundak Shisui yang lebih tinggi dari dirinya.

"Ck, terserah kau sialan!" Shisui melepaskan rangkulan tangan Itachi, Itachi yang melihat itu hanya tertawa pelan.

Hahh sepupunya ini benar-benar lucu, padahal tadi Shisui selalu mengejeknya ketika mereka bermain tadi, dan lihatlah dia sekarang, dia tiba-tiba berubah menjadi sopan seperti ini.

"Oh iya, Sai tadi pergi kemana?" Shisui bertanya kepada anggota Sai yang juga baru saja selesai bermain billiard di sebelahnya.

"Kata Sai-san tadi dia mau pergi keluar untuk makan di Ichiraku, Shisui-san" salah satu dari mereka menjawab dengan lugas.

"Hm begitu, apa kalian sudah selesai? Aku lapar, bagaimana kalau kita ikut makan di Ichiraku juga?" tanya Shisui.

"Iya ayo, Shisui-san" Shisui dan Itachi yang mendengar itu kini bergegas membereskan barang-barang mereka, hal itu diikuti juga oleh anggota mereka yang berjumlah empat orang itu.

"Tapi bayarkan hehe" empat orang anggotanya itu tiba-tiba terjatuh ketika mendengar perkataan Shisui.

Mereka kemudian membuka dompet mereka, melihat apakah uang mereka cukup untuk membayarkan makan Wakil Ketua mereka itu.

"Tenang saja aku yang akan traktir" Itachi tersenyum simpul, mereka yang mendengar itu langsung tersenyum lebar, hahh Ketua mereka ini benar-benar baik!.

Mereka kemudian berjalan keluar dari tempat tersebut.

Namun baru beberapa meter mereka berjalan keluar dari tempat itu, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh segerombolan geng motor yang sepertinya sudah menunggu mereka sejak tadi.

Empat orang anggota dari Sai yang melihat itu memutuskan untuk memutar balik, akan tetapi mereka kembali mendapatkan anggota geng motor yang ternyata sudah menutup jalan mereka.

Itachi dan Shisui mengedarkan pandangan mereka ke sekitar. Sial, ternyata mereka sudah benar-benar dikepung dari segala arah!.

"Kurang lebih 50 orang" Itachi bergumam pelan.

"Apa maksudmu Itachi-san?" tanya salah satu anggota dari Sai.

"Jumlah total mereka" balas Itachi singkat.

"50 orang heh? Mereka meremehkan kita, nee Itachi!" Shisui tersenyum remeh, Itachi yang mendengar itu tertawa pelan dan menganggukkan kepalanya.

Berbanding terbalik dengan pengikut mereka, mereka berempat kini menatap horor ke arah Ketua dan Wakil ketua mereka.

'Hahh? 50 orang meremehkan katanya? Apa Shisui-san dan Itachi-san ini gila?!' batin mereka berempat secara bersaman.

"Ada urusan apa kalian mendatangi kami, RWK?" Itachi membuka suara.

"Kami datang untuk membunuh kalian! Karena tadi sore kalian telah mengeroyok Kurobachi-san dan Jibachi-san!" salah satu orang perwakilan dari geng motor itu membalas perkataan dari Itachi.

"Tadi sore? Jangan bercanda! Kami daritadi sudah bermain billiard di sini sejak kami pulang sekolah!" Shisui kali ini yang membalas, ia merasa marah karena mereka telah difitnah oleh orang-orang RWK ini, Shisui berpikir sepertinya ada yang mencoba mengadu domba mereka.

"Kau tidak usah berbohong! Kami punya buktinya sialan!" balas orang yang tadi.

"HAH?! JANGAN BERCANDA!" teriak Shisui marah.

"Shisui" Itachi menepuk pundak sepupunya, mencoba menenangkan Shisui.

"Kalian tahukan? Jika kalian menyerang kami maka perang besar akan terjadi?" Itachi kemudian menatap datar ke arah orang yang sejak tadi menjadi perwakilan dari 50 orang pasukan itu.

"Itu tidak masalah, karena kalian lah yang memulainya duluan!" balas orang itu lagi.

"Hahh tidak ada pilihan lain, kalian berempat bersiaplah, sekaranglah saat bagi kalian menunjukan hasil latihan kalian selama dua bulan ini" Itachi menatap empat anggotanya itu melalui sudut matanya

Mereka berempat yang mendengar itu mengangguk paham, dengan adanya Itachi dan Shisui di sisi mereka, mereka yakin kalau merekalah yang akan memenangkan pertarungan ini.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo berperang orang-orang jelek!" Anggota RWK terkejut ketika Shisui yang tadi diam kini berlari ke arah mereka seorang diri, orang ini benar-benar tidak ada takutnya.

*Dugh*

"Ukh!".

Shisui langsung melancarkan Dropkick yang berhasil mengenai orang yang sejak tadi berbicara kepada mereka, orang itu pun terlempar ke belakang akibat kerasnya tendangan yang mengenai jakunnya itu.

Orang-orang yang ada di belakangnya pun mau tidak mau harus menindih satu sama lain akibat tertabrak oleh tubuh orang itu.

Anggota RWK lain yang melihat itu tidak tinggal diam, mereka juga bergerak dan segera mengerumuni Itachi beserta anggotanya.

*Swung* *Bugh*

Satu pukulan dari Itachi berhasil membuat salah satu dari mereka langsung terjatuh pingsan.

Ya, Itachi baru saja mengeluarkan pukulan spesialnya, yakni Phantom Punch!.

Itachi kemudian berlari ke arah Shisui yang kini sedang menghantam orang-orang yang semakin gencar mengerumuninya, tentu saja ia berniat untuk membantu sepupunya itu.

Di sisi lain, empat orang pengikut dari Sai juga tidak mau kalah, mereka juga berhasil menghajar beberapa orang yang menyerang mereka, ya walaupun mereka banyak terkena pukulan, akan tetapi mereka bisa memberikan perlawanan yang sengit.

Itachi dan Shisui yang melihat pengikut mereka sedang kewalahan kini sesegera berlari menuju mereka, dengan tanpa berbasa-basi, Shisui berhasil menerbangkan setidaknya 3 orang yang mencoba menghalangi jalan mereka, kekuatan pukulan Shisui itu benar-benar mengerikan.

Di sisi lain, Itachi juga berhasil membuat pingsan beberapa orang yang mengahadangnya, ia benar-benar menggunakan akurasi pukulannya yang benar-benar sangat mengerikan itu.

Semua pukulan dari Itachi mendarat dengan mulus ke rahang orang-orang itu sehingga membuat mereka seketika langsung kehilangan kesadaran mereka, dan membuat mereka satu persatu berjatuhan menghantam tanah.

Dalam pertarungan itu, Itachi beserta kelompoknya sudah berhasil menjatuhkan kurang lebih 15 orang Sophomore RWK yang terus-terusan menyerang mereka

Beberapa serangan dari tangan kosong maupun benda tumpul satu persatu mulai bersarang di tubuh mereka, jika terus begini mereka akan benar-benar mati.

'Tidak ada pilihan lain!' batin Itachi.

"Shisui keluarkan semua kekuatanmu! Kali ini aku tidak akan menahanmu!" ujar Itachi yang kini sedang sibuk menghindar, menangkis dan mengcounter orang-orang RWK yang terus menerus mengerumuninya dan kelompoknya.

Walaupun keadaannya kurang menguntungkan, tetapi ia masih bisa menyempatkan dirinya untuk berbicara kepada Shisui yang berada di belakangnya.

Shisui juga sama sepertinya, ia sedang sibuk menghindar, menangkis dan mengcounter orang-orang yang menyerangnya.

Tidak lupa di sebelah kanan dan kirinya terdapat anak buah Sai yang kini sepertinya mulai kewalahan menahan serangan dari pasukan RWK yang terus menghujani mereka dengan serangan yang bertubi-tubi, hal itu pun berhasil membuat celah di pertahanan mereka.

Pasukan RWK yang melihat celah itu sesegera mungkin membentuk formasi andalan mereka, yakni Formasi Dinding.

*Swung* *Dugh*

Tendangan memutar dari Shisui berhasil membuat barisan yang mencoba menggunakan Formasi Dinding harus terpental ke berbagai arah, hal itu membuat Itachi beserta 4 pengikutnya yang tadi kewalahan bisa bernafas lega untuk sejenak, Shisui kemudian memberitahu mereka untuk tetap memunggungi satu sama lain.

"Baiklah, kalian sampah RWK bersiaplah, karena aku akan menghancurkan kalian semua!" Itachi yang mendengar itu tersenyum sinis.

Akhirnya, Shisui sang Monster Sophomore telah bangkit!.

.

.

.

.

.

.

.

.


Shika Commerce Riverbed, Monday at 19:50 pm.

"Hahh dimana sih orang yang bernama Tobi itu?" ujar salah seorang dari pasukan pemburu Tobi, orang itu sedang duduk di kursi penumpang.

Motor yang ia naiki itu berjalan memimpin gerombolan motor yang mengekor di belakangnya, bisa dibilang orang inilah yang menjadi pemimpin pasukan itu.

"Aku juga tidak tahu! Bagaimana kalau kita beristirahat sejenak? Kita sudah 30 menit mengelilingi kota ini!" ujar orang yang membonceng pemimpin pasukan itu.

"Baiklah, semuanya ayo kita beristirahat sejenak!" pemimpin pasukan itu memberikan perintah, pasukan yang mendengar itu langsung menghentikan laju motor mereka.

Pasukan Pemburu Tobi nomor 3 ini berpatroli di area dekat Shika Commerce, Pasukan Pemburu Tobi nomor 2 berpatroli di area Taman Kota, dan Pasukan Pemburu Tobi nomor 1 berpatroli di wilayah KHS.

Pasukan Pemburu Tobi (PPT) nomor 3 itu pun berhenti di tepi sungai dekat sekolah Shika Commerce.

Mereka kemudian langsung memarkirkan motor mereka dan tanpa membuang waktu lagi, mereka pun langsung duduk beristirahat di atas motor mereka masing-masing, namun ada juga yang berdiri sambil meregangkan tubuh mereka yang pegal itu.

"Sialan, si sialan Tobi ini meyusahkan saja!" pemimpin PPT 3 itu kemudian mengeluarkan sebuah bungkus rokok dan sebuah korek gas yang berada di saku jaketnya.

Ia kemudian menyodorkan sepuntung rokok kepada orang yang sejak tadi memboncengnya, akan tetapi tawarannya itu ditolak karena ternyata orang yang memboncengnya ini memiliki penyakit asma.

Pemimpin pasukan yang melihat itu mengangguk paham, ia kemudian berjalan sedikit menjauh dari pemboncengnya itu.

Setelah merasa cukup jauh, sang pemimpin pasukan itu langsung memantik korek gas yang tadi ia keluarkan dari saku jaketnya, berniat untuk membakar rokok yang sudah sejak tadi ia jepit di mulutnya.

*Chk* *Chk*

"Sial koreknya macet!" pemimpin pasukan itu mencoba mengguncangkan korek gasnya.

*Ctak*

Tiba-tiba muncul sebuah tangan yang menyodorkan sebuah korek api yang menyala, pemimpin pasukan yang melihat itu pun langsung mendongakkan kepalanya, ingin melihat siapa orang yang menyodorkannya korek api yang menyala kepadanya.

"Hey! mencariku?" ujar orang itu dengan nada yang terdengar ceria bak seorang anak kecil.

"K- Kau?!".

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue~.

Alhamdulillah akhirnya chapter ini selesai juga, ingat ini masih part 1 jadi mohon untuk bersabar!.

Aku mau cerita sedikit, sebenarnya beberapa hari ini aku memikirkan untuk Discontinue, karena jujur aku merasa kalau cerita yang kutulis dengan susah payah ini seperti tidak terlalu diperhatikan oleh pembaca yang ada di sini.

Tapi ketika aku kembali melihat review baik dari kalian yang ada di fic ini, aku langsung memutuskan untuk melanjutkan fic ini, ya setidaknya sampai Arc KHS vs RWK ini selesai.

Di fic I'm the King! Year 1 yang kutulis ini memiliki 3 Arc besar, dan satu Arc Finale, semua garis besar di tiap Arc itu sudah selesai kutulis.

Oh iya mungkin setelah Arc ini selesai, aku mungkin akan hiatus dulu untuk beberapa saat, tapi semoga saja itu tidak terjadi.

Well, mungkin itu saja dariku, aku berdoa semoga kita bisa diberi kesehatan dan semoga kita bisa kembali dipertemukan lagi di masa yang mendatang. Baiklah kalau begitu.

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sekian dan Terimakasih~.