"Berita pagi ini, masyarakat kota Tokyo sedang bersiap-siap untuk melihat fenomena yang terjadi setiap seratus tahun sekali."
Embusan angin pagi masih terasa dingin, mengingat musim dingin baru saja berakhir. Mengganti putihnya salju dengan hijaunya rerumputan, dan indahnya kuncup bunga sakura. Kelopak bunga gugur, terbawa angin, lalu jatuh pada genangan air di sebuah mangkuk berukuran sedang.
Tidak lama, sejulur tangan putih dengan jemari lentik, mengambil kelopak sakura. Pemiliknya menatap lekat benda berwarna merah muda sambil tersenyum manis. Dihembuskannya kelopak sakura, kembali terbawa angin keluar jendela.
"Tepat pada tanggal xx di bulan April. Seluruh dunia mendapatkan kesempatan untuk melihat kembali fenomena Super Blue Blood Moon, tak terkecuali Jepang."
Desisan pada panci dengan uap mengepul mengalihkan atensi sang gadis. Rambut biru gelap terurai panjang, terlihat lembut saat dibelai angin pagi. Tangannya menggenggam pisau sebelum dengan lihai memotong bahan makanan. Gerakannya luwes dan anggun, ketika menyiapkan dua buah kotak bekal makan siang.
Semua gadis itu kerjakan tanpa memudarkan senyum manisnya. Ketika kedua iris ametis lembut memandang hasil masakannya,—satu buah bento dengan wajah perempuan berambut hitam dan sebuah lagi berwajah laki-laki dengan tiga garis di kedua pipinya— senyuman kian mengembang dengan rona merah di kedua pipi.
"Pemandangan langka bertepatan di hari yang sama, di mana puncaknya bunga sakura bermekaran. Seluruh masyarakat Jepang tidak sabar untuk menikmati Hanami ditemani gerhana bulan merah dimalam hari."
Hinata melepaskan celemek yang melekat di tubuh mungilnya. Ia segera merapikan kotak bento dan menaruhnya di dalam lunch bag berwarna soft violet. Setelahnya gadis itu mematikan televisi, kemudian langkah kecil bertalu menuju kamar di lantai dua. Hinata segera berganti baju, Dress tanpa lengan dengan panjang selutut berwarna putih dihiasi renda di ujungnya menjadi pilihan hari ini. Sebuah cardigan berwarna dust pink dan sepatu flat shoes senada menjadi pelengkap, sebelum ia berangkat ke kampus.
...
Universitas Kajian Asing Tokyo, atau disingkat UKAT adalah salah satu dari lima universitas terkemuka dalam bidang bahasa asing, hubungan internasional, dan kajian asing di Jepang. Kampus yang memiliki lembaga pendidikan tertua ini, telah dipindahkan ke Fuchu Jepang sejak tahun 2000. Sebuah perguruan tinggi berstatus elit, tempat di mana Hyuuga Hinata belajar selama hampir tiga tahun.
Pintu mobil keluaran Jepang berwarna hitam terbuka setelah menepi. Hinata keluar dan tersenyum tipis pada seorang pria paruh baya yang telah mengantarnya. Pria bermata perak itu sudah menjadi pengasuhnya sedari kecil.
"Terima kasih sudah mengantarku, Kou-san."
"Tidak masalah, Hinata-sama. Semoga hari anda menyenangkan," usai membalas senyum putri dari majikannya, Kou mulai melajukan mobilnya keluar area kampus.
Hinata mulai melangkah memasuki gedung bertingkat di depannya. Selama gadis itu melangkah, hampir seluruh pelajar mencuri pandang ke arahnya, terutama kaum adam. Mereka semua jelas memasang raut kagum yang kentara, mengingat Hinata adalah salah satu orang berpengaruh, dengan latar belakang keluarga maupun kemampuan individual yang tidak perlu diragukan lagi.
Putri sulung Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hikari kini telah tumbuh menjadi seorang gadis anggun, tanpa menghilangkan keluguan dan keramahannya. Gadis manis dengan penampilan serta kemampuan berada di atas rata-rata. Hinata bagaikan seorang putri dari dunia dongeng di dunia nyata.
Terlebih gadis itu memiliki seorang pria tampan menjadi tunangannya. Seorang pewaris dari salah satu kerajaan bisnis, Namikaze Naruto. Siapa yang tidak mengenali mereka berdua, terutama ketika sang tunangan adalah dosen magang di tempat Hinata belajar. Ketika mereka berdiri berdampingan, keduanya seperti sebuah maha karya tidak ternilai.
Ruang kelas tampak lenggang, mengingat masih ada waktu sekitar satu jam sebelum jam pertama dimulai. Hinata duduk di salah satu tempat bersebelahan dengan jendela besar. Kedua iris ametis memandang langit pagi sembari tersenyum tipis. Kemudian atensinya beralih pada pojok area, dimana tempat parkir kendaraan berada.
Gadis itu tengah menunggu kehadiran seseorang. Seorang pria yang telah lama mencuri hatinya hingga kini. Ketika sesosok pemuda berambut pirang cepak dengan kemeja biru tua melekat pas di tubuh atletisnya terlihat. Sudut bibir Hinata tertarik membentuk senyuman, ia mulai menopang dagu sambil menatap penuh damba pada laki-laki itu.
"Selamat pagi, Naruto-kun."
...
Waktu berjalan lambat, selalu seperti itu bagi Hinata. Materi-materi yang dijelaskan para dosen elit, hanya ia dengar sekenanya dan mencatat bila perlu. Semua cara penyampaian pengajar itu begitu kolot, membosankan, membuatnya mencoba menahan kantuk. Jika ia sampai tertidur di kelas, tentu sangat memalukan dan tidak sopan. Karena itulah, Hinata mencubit kedua pipi, berusaha agar tetap sadar.
Suara bel ke-tiga di pagi ini adalah penanda surgawi bagi Hinata. Bagaimana tidak, jika bel itu merupakan tanda bahwa kini giliran tunangannya yang akan mengajar di kelas. Hinata segera menyiapkan buku, juga menyempatkan diri untuk merapikan poni dan sedikit berkaca.
"Selamat pagi."
Suara berat sedikit serak itu menggema di ruang kelas. Menghentikan gerakan jemari Hinata menyisir poni. Perlahan rona merah mulai menyebar di kedua pipi gadis itu. Kedua iris ametis lembut bergulir, menaruh perhatian penuh pada sosok pemuda dengan kaki jenjang berbalut celana bahan hitam serta kemeja biru tua.
"Pagi juga, Naruto-kun."
Hinata tidak peduli, jika sapaan lembutnya tenggelam oleh sapaan penuh semangat teman sekelasnya. Gadis itu sudah bertopang dagu, memandang penuh minat pada senyum Naruto. Dosen magang menyapa anak didiknya dengan gurauan konyol, sengaja menghidupkan kembali semangat yang sempat padam. Hingga derai tawa terdengar menjadi awal kelas sastra dimulai.
Di Kyoto.
Sembilan puluh sembilan ribu orang.
Melihat bunga.
Bunga sakura mekar.
Sekarang, hari ini.
Di hari yang cerah.
Terlalu banyak.
Hal yang kukenang.
Bunga sakura.
Tiada bulan, tiada bunga.
Hanya minum sake.
Sendiri.
Suara berat sedikit serak itu terdengar, ketika Naruto membaca sebuah puisi dari buku yang ia pegang, sembari mengelilingi ruang kelas. Suara Naruto begitu nyaman didengar, hingga seakan membius pendengarnya. Usai membacakan puisi, dosen muda berbalik menatap anak didiknya sembari bersedekap.
"Ke-empat puisi tadi dituliskan oleh Matsuo Basho. Sekarang saya ingin salah satu dari kalian memberikan sedikit info mengenai sastrawan ini."
Hinata segera mengangkat tangannya. Kedua pasang iris berbeda warna itu bertemu, membuat salah satu jantung pemiliknya berdesir pelan. Naruto mengangguk singkat, memberi isyarat agar Hinata berdiri dan menjawab.
"Matsuo Basho lahir ditahun 1644 di Ueno, Provinsi Iga. Basho adalah penyair paling terkenal pada zaman Edo, dan dikenal sebagai master Haiku, Tuannya puisi pendek." Hinata berujar dengan suara jernih dan lembut.
Setelah menjawab, primadona kampus duduk tanpa lupa memberikan senyuman manis pada sang dosen. Pemuda itu membalasnya sekilas, kemudian kembali melanjutkan pelajarannya. Sementara Iris berwarna violet itu tidak hentinya mengalihkan atensi dari sosok Naruto.
...
"Ini untukmu, Naruto-kun."
Hinata memberikan bekal yang ia buat pagi tadi pada Naruto. Keduanya berada di taman belakang kampus. Tempat tidak terlalu ramai dengan dikelilingi bunga-bunga serta pepohonan rindang. Mereka duduk disalah satu bangku panjang berwarna putih.
"Terima kasih, Hinata." ucapnya dengan senyum tipis, "Kau tidak perlu membuat bekal setiap hari."
Hinata menggeleng pelan, lalu tersenyum tulus. "Tidak masalah, lagi pula aku senang bisa melakukannya."
Naruto menatap teman masa kecilnya lekat-lekat. Bagaimana caranya agar Hinata berhenti membuatkannya bekal? saat sekolah dulu, ia senang menerimanya, namun sekarang setelah semakin dewasa dan mengerti tentang perasaannya. Hati kecilnya mulai terbebani, ia tidak ingin memberikan harapan palsu pada tunangannya.
"Sudah lima belas tahun kita bersama," Naruto berujar lambat-lambat. Ini akan jadi kesekian kalinya ia berusaha memberi penolakan pada Hinata. Berharap kali ini gadis itu mau mendengarnya dan mundur dari ikatan ini. "Jadi aku tidak bisa memandangmu selain sebagai adik kecilku yang manis."
Gerakan tangan hendak membuka kotak makan siang itu berhenti. Hinata mencoba menepis rasa nyeri di sudut hati. Ia tersenyum, namun tidak berani menatap Naruto. Meski ia tahu, kepalanya sudah hampir bolong diperhatikan sampai begitu dalam.
"Aku tahu, Naruto-kun. Kau sudah pernah mengatakannya beberapa kali." Hinata tertawa pelan, kembali membuka kotak bekal dan menyapit telur gulung untuk disantap. "Bekal ini tidak ada hubungannya dengan ikatan kita."
"Jelas ada, Hinata!"
Bantahan itu begitu cepat, membuat hatinya tertohok dan telur gulung seakan tersangkut ditenggorokan. Hinata berdehem pelan, menegak teh dengan sikap sewajar mungkin. Namun sial, matanya sudah memanas dan ia ingin menangis.
"Aku tidak ingin kau terus-terusan mengharapkanku." Naruto menghela napas pelan, tanpa menyadari Hinata sudah terdiam di sampingnya. "Perjodohan ini adalah keegoisan orang tua kita, perasaanmu terhadapku memang adalah hak-mu. Tapi aku juga memiliki hak menolak, karena aku tidak bisa, Hinata."
Kesunyian melanda mereka berdua, Hinata sama sekali tidak menyahut. Gadis itu hanya diam, dengan wajah tertunduk. Merasa pembicaraan ini tidak akan ada artinya, Naruto beranjak dari duduknya. Ia menepuk pelan puncak kepala Hinata dan berkata. "Aku masih ada pekerjaan sampai malam, jadi pulanglah dengan Kou-san."
Saat pemuda pirang itu berniat pergi, ia merasa seseorang menahan tangannya. Ia berbalik dan mendapati Hinata memadangnya dengan tatapan sayu. Sorot mata Hinata agaknya membuat rasa sesal di hati Naruto. Menyesal karena telah melukai teman masa kecilnya, dan tidak mampu membalas perasaan tunangannya.
"A-apa sikapku membuatmu susah? aku tidak berharap kau suka padaku" Hinata tertunduk, seketika ia merasa munafik. Padahal hatinya menjerit, meminta Naruto balik menyukainya, berhenti menolaknya, namun disatu sisi. "Aku tidak ingin egois, tidak mau menuntut perasaanmu. AKu melakukan ini karena sayang, Naruto-kun."
Naruto berlutut sembari meremas pelan kedua tangan mungil Hinata. Ia akui dirinya bukanlah seorang laki-laki peka. Namun lima belas tahun bersama, dengan segala perhatian dan tatapan penuh kasih. Jelas cukup untuk membuatnya sadar bagaimana perasaan gadis ini padanya. Hinata bahkan bukan seorang pembohong yang baik.
Pemuda pirang itu menghela napas pelan, ia mengusap pipi putih Hinata. "Aku melakukan ini juga karena sayang. Kau pantas mendapatkan pria baik yang mencintaimu, tapi pria itu bukan aku."
Melepaskan tangannya, Naruto kemudian mengecup pelan kening Hinata. Setelahnya pemuda pirang itu memilih pergi, meninggalkan tunangannya sendiri, dan berharap gadis itu mau menuruti kata-katanya. Hinata menyentuh kening, air mata sudah berkumpul di pelupuk mata. Ia ingin menangis, tetapi yang terjadi malah suara tawa kecil yang keluar.
Hinata tertawa pelan, "Aku harus mencari kemana? Ketika pria yang bisa membuatku bahagia, malah memintaku mencari pria lain."
.
.
.
Continue...
.Follow
See you guys~
