Asap tebal menguar di udara setelah beberapa kali dihembuskan kasar. Di ruangan bebas merokok, Naruto duduk di atas sofa, menikmati sebatang nikotin guna melepas penat. Kedua matanya terpejam, tidak lama kemudian terbuka, lalu ia mengerang pelan. Istirahatnya terusik akibat getaran ponsel di sakut celana. Pemuda berumur dua puluh lima tahun itu, hampir berdecak saat melihat nama yang berkedip di layar.

"Ada apa, Bu?"

"Malam ini kau tidak ada acara?"

"Tidak ada—"

"Kebetulan sekali!" seruan dari seberang telpon, membuat Naruto reflek menjauhkan ponsel dari telinga. "Kau pergi ajak Hinata-chan hanami nanti malam, ada gerhana bulan merah, lho! pasti romantis."

"Ibu...," Naruto ingin mengerang frustasi. Sudut pelipisnya sudah berkedut menyakitkan. "Aku memang tidak ada acara, tapi bukan berarti ada waktu untuk pergi melihat bunga sakura. Sebentar lagi ujian semester dan aku harus menyiapkan materinya dari sekarang."

Naruto tidak berbohong, dimejanya sudah penuh dengan buku materi. Terlebih ia baru saja menolak Hinata, menegaskan perasaannya. Tidak mungkin ia mengajaknya keluar setelah hal itu. Bagaimana jika Hinata mengira kalau ia mengajaknya berkencan? akan semakin sulit nantinya untuk membatalkan perjodohan ini.

"Kau bisa menyiapkannya besok. Fenomena purnama merah itu hanya terjadi ratusan tahun sekali, dan sekarang bertepatan pula dengan puncaknya bunga sakura bermekaran. Ini pemandangan langka, Naruto."

"Bunga sakura tetap mekar di bulan April, dan bulan hanya berubah warna dari putih ke merah. Tidak ada yang special."

Suara decakan terdengar sebelum Kushina kembali berujar. "Kau ini guru sastra, tapi sama sekali tidak memiliki sisi romantis!"

"Guru sastra bukan berarti harus romantis, Bu."

"Berhentilah membantah setiap perkataanku, bocah nakal!"

Naruto hanya membalasnya dengan tawa pelan. Namun tawanya hilang, begitu mendengar perkataan Kushina.

"Kau yakin tetap tidak mau pergi, meskipun jatah ramen dan segala fasilitasmu akan Ibu tahan?"

"Aku masih bisa membeli ramen dengan kartu kredit-ku." Naruto mencoba berujar dengan nada santai, meski sebenarnya ia mulai was-was. "Dan aku masih memiliki uang di rekeningku untuk kebutuhanku selama beberapa bulan."

"Dan apa kau lupa, kalau baru kemarin semua kartu kredit dan kartu atm-mu, Ibu sita?"

Kedua iris biru laut itu membola, ketika ingatan saat ia memberikan dompet berisi sumber kebutuhannya, pada seorang wanita berambut merah berstatus 'ibu kandung'. Naruto segera merogoh saku celananya dan membuka dompet kulitnya, hanya untuk menemukan secuil debu di sana.

"Jangan lupa, Ibu titip salam untuk calon menantuku!"

Pemuda itu membiarkan ponsel pintarnya tergeletak di atas meja, usai panggilan terputus. Naruto sama sekali tidak menyadari keanehan dari sikap Kushina yang meminta barang-barangnya. Wanita paruh baya itu sudah mengambil satu langkah untuk mengancam bila menolak permintaannya. Naruto mengacak-acak rambut pendeknya dengan gemas. Bagaimana bisa diumurnya yang sudah matang ini, dirinya masih saja tertipu oleh ibu kandungnya sendiri.

...

Suara dering ponsel tergeletak di atas nakas terdengar nyaring. Dari arah kamar mandi, Hinata baru saja selesai mandi, segera mengambil ponselnya. Kedua irisnya berbinar saat mendapati nama Naruto. Tanpa berlama-lama, Hinata menjawab telpon.

"Ha-halo?"

"Hinata, ini aku Naruto."

Suara berat pemuda itu seakan mentari hangat hingga membuat kedua pipi sang gadis merona. Padahal belum lama hatinya mendung, setelah menerima penolakan Naruto. Hatinya memang begitu mudah jika sudah menyangkut pria yang ia cintai. Hinata mengangguk tanpa sadar, ia kemudian bersandar di dinding sembari memainkan ujung rambut yang masih basah.

"Ti-tidak biasanya Naruto-kun menelpon, ada apa?"

"Sebenarnya Ibu memintaku untuk mengajakmu pergi Hanami malam ini. Apa kau ada waktu?"

Hinata melirik kalender yang bersandar manis di dinding kamar. Ia memerhatikan tanggal sebelum menggeleng pelan. "Sepertinya untuk tahun ini, keluargaku tidak membuat acara Hanami. Apa hanya keluarga Naruto-kun dan aku saja yang pergi?"

Jeda yang terjadi diantara mereka, membuat Hinata sempat menjauhkan ponsel pintarnya, mengira kalau sambungan telah terputus. Setelah suara deheman terdengar, barulah Naruto kembali bersuara.

"Hanya kita berdua."

"Apa?" Kedua kelopak mata itu mengerjap, Hinata menampilkan raut dungu, mengira kalau ia baru saja salah dengar. "Apa kau bilang tadi?"

"..., Hanya kita berdua yang pergi. Aku tunggu di depan rumahmu jam tujuh malam!" tanpa membiarkan Hinata merespon. Naruto mematikan sambungan telpon dengan cepat.

Suara telpon yang dimatikan seakan menjadi tanda bahwa semua bukanlah mimpi. Hinata menepuk pelan pipi gembilnya, berulang kali sampai akhirnya ia mencubit sendiri kedua pipi putihnya.

"Aw, sakit...," desisnya saat rasa perih menyerang. Kedua iris ametis itu perlahan melebar dan Hinata mulai melompat riang di atas kasur. "Ini bukan mimpi, ini bukan mimpi!"

Gadis berusia dua puluh tahun itu segera melompat dari atas ranjangnya. Ia berlari menuruni tangga dan segera memakai celemek begitu tiba di dapur. Manik ametis lembutnya melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima sore. Masih ada sekitar dua jam lagi sebelum Naruto menjemputnya dan Hinata masih sempat untuk membuat bekal untuk mereka piknik nanti malam.

Senyum Hinata merekah serupa bunga di musim panas. Sambil bersenandung pelan, gadis itu mulai menyiapkan bahan makanan dan mulai memasak. Sekitar satu jam setengah, dua buah kotak makanan telah tersaji dengan apiknya. Hinata berkacak pinggang, senyum puas terukir di wajahnya. Dan ketika ia melepaskan celemeknya, suara pintu geser mengalihkan atensinya.

"Kau sedang apa, Hinata?"

Seorang laki-laki dengan rambut coklat panjang yang dikuncir rendah terlihat. Masih mengenakan pakaian formal berwarna abu-abu, Neji memasuki ruang dapur. Senyum lembut diberikan oleh adik perempuannya, menyambut kakak laki-laki yang baru saja pulang.

"Sedang membuat bekal untuk pergi piknik." Jawab Hinata seraya menyodorkan segelas air tawar untuk Neji. "Naruto-kun mengajakku pergi Hanami nanti malam."

Neji tersenyum jahil, "Kencan?"

Wajahnya memanas mendengar godaan sang kakak. "Tidak, bukan! hanya melihat purnama merah dan duduk di bawah bunga sakura!"

Neji yang tengah minum, mendadak tersedak mendengarnya. Kedua iris senada adik perempuannya nampak melotot dan mengedar mencari sesuatu. Hinata menatap heran pada kakaknya yang mengecek ponsel dengan wajah memucat.

Rahang pemuda berusia tiga puluh tahun itu seketika mengeras, ia mendesis pelan. "Ternyata malam ini."

"Ada apa, Kak?"

Neji tak menjawab, ia malah lantas meremas kuat kedua pundak Hinata. Mengejutkan gadis itu ketika kakaknya menatapnya tegas dan lekat. "Jangan keluar dari rumah ini!" perintahnya dengan nada panik yang kentara.

"E-eh? A-apa maksudmu, Kak?"

Neji tidak menyahut, ia malah memanggil Kou berulang kali sampai pria itu datang. Tanpa memedulikan Hinata dan Hikari yang baru saja datang, ia memerintahkan Ajudan Hyuuga untuk menutup semua jendela dan pintu mansion. Setelah itu sang pewaris segera menarik adik perempuannya ke lantai dua.

"Lepas, Kak! Sebenarnya ada apa? kenapa tiba-tiba menutup semua jendela dan pintu? kenapa aku tidak boleh keluar rumah?"

Rentetan pertanyaan Hinata seakan hanyalah angin lalu. Neji menghiraukannya, ia masih terus menarik gadis itu untuk kembali ke kamar. Setelah Hinata berada di kamar, pria itu segera menghampiri jendela kamar adiknya, lalu mengunci dan menutup tirai agar bulan yang sudah nampak, tak telihat dari dalam.

"Kak Neji!" sentakan kali ini lebih tegas, dan menuntut.

Seruan Hinata berhasil merebut atensi ametis Hyuuga Neji. Keduanya saling pandang, seakan mencoba untuk menyampaikan pertanyaan dalam benak masing-masing lewat tatapan. Sampai akhirnya, Neji menghembuskan napas berat, ia mengusap pipi Hinata penuh kasih.

"Adikku, tolong turuti kata-kataku kali ini." Suara berat Neji terdengar lambat-lambat, "Untuk hari ini saja, untuk malam ini saja. Tolong, jangan keluar rumah dan jangan pernah menatap langsung gerhana bulan!"

Kedua iris ametis lembut itu terlihat sayu dan menatap Hinata penuh harap. "kakakberharap padamu, untuk kali ini saja, Hinata. Jangan menatap bulan purnama merah!"

Sejujurnya Hinata ingin bertanya, mengapa tatapan sang kakak tersirat kecemasan. Seakan dunia akan berakhir jika ia tidak memedulikan permintaannya. Hinata meremas kedua jemari mungilnya, ingin menolak, mengingat mungkin ini akan jadi kali pertama dan terakhir Naruto mengundangnya pergi keluar.

Namun lidahnya kelu, tak sanggup membantah permintaan sang kakak yang terlihat begitu sendu. Pada akhirnya Hinata hanya bisa mengangguk pasrah. Merelakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali, hanya untuk mendapatkan menenangkan kekalutan Neji.

"Terima kasih, Hinata, terima kasih!"

Hinata berusaha tersenyum, mencoba untuk terlihat baik-baik saja dan membalas pelukan Neji. kedua iris violet melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sebentar lagi Naruto akan sampai di depan gerbang rumahnya, dan Hinata terpaksa harus memulangkan sang pemuda.

...

[Hei, aku sudah di depan gerbang. –Naruto-]

Hinata menaruh ponsel pintarnya dan menunduk lesu. Sudah hampir lima menit, gadis itu mencoba untuk mengirim pesan. Namun dirinya sama sekali tidak sanggup untuk meminta Naruto pulang. Bagaimanapun, hatinya masih menginginkan pergi bersama sang pujaan hati.

Setelah beberapa kali memutari kamar tidurnya dengan gelisah. Gadis bermata bulan menatap jendela dengan penuh tekad. Ia segera mengganti bajunya dengan pakaian sederhana, lalu membuka jendela. Hinata menjulurkan kepalanya, menatap ke bawah yang terlihat terjal dari kamar.

"Selama aku tidak melihat gerhana, semua akan baik-baik saja! Aku hanya perlu melihat wajah tampan Naruto-kun sepanjang malam. Ya, dengan begitu aku tidak melanggar janjiku pada Kak Neji dan tetap pergi kencan bersama Naruto-kun. Ya, itu ide bagus. Ayo kita lakukan Hyuuga Hinata!"

Namun gadis itu mendesah pelan, nyalinya agak ciut ketika kembali melihat ke bawah. "Aku tidak akan patah tulang saat jatuh nanti, kan?"

.

.

.

Continue...

.Follow

See you guys~